background image
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
331
PENDAHULUAN
Dalam film ataupun buku, kita sering menemukan tokoh pemalas,
yang gemuk, mudah tertidur, mendengkur dan selalu absent
minded/clumsy. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun kita sering
menemui orang-orang seperti ini. Tidak jarang, karakter seperti
ini menjadi bahan tertawaan di lingkungan sahabat dan keluarga.
Padahal ini merupakan gambaran seorang penderita sleep apnea!
Manifestasi klinis seperti tersebut di atas, pada tahun 1956 oleh
para ahli respirasi dikenal sebagai Pickwickian Syndrome. Ini
merujuk pada karakter Joe si gendut dari tulisan Charles Dickens di
harian Pickwick. Tetapi, karena kurangnya perhatian pada segala
sesuatu yang berkaitan dengan tidur, pemeriksaan sleep study
pada pasien-pasien Pickwickian Syndrome baru dilakukan di
tahun 1970-an. Dari pengamatan selama tidur dengan menggu-
nakan alat polisomnografi (PSG), barulah diketahui bahwa pen-
derita Pickwickian Syndrome selain mendengkur, juga mengalami
henti nafas di saat tidur. Oleh karena itu Christian Guilleminault
menambahkan perekaman fungsi pernafasan pada pemerik-
saan PSG rutin.
(1)
Sebelumnya, semua penderita Excessive
Daytime Sleepiness (EDS) dianggap sebagai penderita narkolepsi.
Tetapi dengan karakteristik PSG yang baru, diketahui bahwa
banyak dari pasien narkolepsi tersebut ternyata menderita sleep
apnea. Karakteristik PSG memberikan gambaran baru bagi
penderita Excessive Daytime Sleepiness (EDS) yang sebelumnya
hanya dianggap sebagai penderita narkolepsi. Pada perkem-
bangan selanjutnya, istilah Pickwickian Syndrome ditinggalkan
dan diganti dengan Obstructive Sleep Apnea (OSA) yang diang-
gap lebih tepat.
Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan gangguan tidur yang
terutama ditandai dengan mendengkur dan kantuk berlebih;
(2)
dua gejala yang sering dijumpai namun jarang mendapatkan
perhatian. Masyarakat sudah terlanjur menganggap mendengkur
sebagai tidur lelap yang wajar, sehingga OSA seringkali tidak
terdiagnosis untuk diterapi dengan baik. Padahal OSA berhu-
bungan erat dengan hipertensi, penyakit jantung koroner, stroke,
hipertensi pulmoner, diabetes dan refluks gastroesophageal.
(3)
Andreas Prasadja, RPSGT, Maula N. Gaharu
Sleep Technologist, Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran, Jakarta
Dokter Spesialis Saraf RS St Elisabeth, Bekasi, Jakarta
Obstructive Sleep Apnea
PATOFISIOLOGI DAN GEJALA KLINIS
OSA disebabkan oleh menyempitnya saluran nafas atas secara
periodik saat tidur. Penyempitan ini bisa disebabkan oleh kelainan
struktur anatomis atau gangguan neuromuskular.
(4)
(Gb.1-3)
Saat inspirasi tekanan intraluminal akan meningkat mencipta-
kan sebuah suction reflex yang direspon oleh otot-otot dilator
saluran nafas sehingga jalan nafas tetap terbuka. Tonus otot-
otot ini akan melemah saat tidur; menyebabkan penyempitan
saluran nafas dan meningkatkan tahanan pada aliran udara.
Kelainan struktur anatomi yang menyempitkan saluran nafas
atas tentu akan memperberat penyempitan sehingga terjadi
penyumbatan saat tidur.
(5)
Saat terjadi sumbatan, kemoreseptor akan merespon keadaan
kadar CO
2
yang terlalu tinggi dengan mengirimkan sinyal untuk
bernafas.
(4)
Akibatnya otak akan terbangun sejenak (micro
arousal) tanpa disadari penderitanya. Proses ini akan memotong-
motong proses tidur. Tidur yang terpotong disertai kadar
oksigen yang rendah akan menyebabkan kantuk berlebih, bahkan
pada keadaan lanjut dapat menurunkan kemampuan mental
dan kognitif seseorang.
(6)
Sayang pengetahuan dan kepekaan masyarakat atas kesehatan
tidur masih amat rendah sehingga ketika berkunjung ke dokter,
mereka tidak dapat mengungkapkan keluhan secara tepat. Tak
heran jika OSA menjadi penyakit yang banyak diderita namun
kurang tereteksi oleh para pekerja kesehatan. Prevalensi OSA
di Amerika sekitar 5%(
7)
, yang sebagian besar tidak terdiagnosis;
sehingga angka morbiditas akibat OSA meningkat akibat gang-
guan kognitif maupun penyakit kardiovaskular yang terjadi.
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
330
Pada tahun 2005 ada 162 kematian akibat stroke atau 16,4%,
dan 18,4% pada tahun 2006. Hal ini berarti ada kurang lebih
80% stroke survivors, atau sekitar 800 orang. Pada penelitian
faktor risiko, hipertensi dijumpai pada 71% kasus. Jumlah ini
sangat signifikan sebagai target program pengendalian tekanan
darah yang efektif. Bagaimana dengan kepatuhan terapi ?
Hasil observasi menunjukkan ketidakpatuhan dan kurang ter-
kendalinya hipertensi masih cukup tinggi. Bukti ilmiah secara
konsisten menunjukkan bahwa hipertensi yang tidak terkendali
merupakan faktor risiko stroke berulang. Penelitian epidemiologi
memperlihatkan bahwa hanya 70% populasi hipertensi di
Amerika Serikat yang mengetahui kondisi sakitnya, 60%
mendapat terapi, dan 34% terkendali hipertensinya (tekanan
darah < 140/90 mmHg).
Bukti penelitian klinis memperlihatkan bahwa beberapa obat
antihipertensi didukung oleh bukti penelitian klinik yang luas dengan
jumlah sampel yang besar. Obat-obat tersebut adalah perindopril,
losartan, dan ramipril. Pertimbangan biaya terapi tentu merupakan
hal yang harus dipertimbangkan untuk meningkatkan ketaatan
pasien berobat. Kami melakukan suatu model analisis pembiayaan
obat antihipertensi untuk prevensi stroke sekunder. Data harga
obat terakhir diperoleh dari pelacakan di www.mimsonline.com.
Hasil analisis pembiayaan obat dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Model pembiayaan obat untuk pengendalian tekanan darah
Hasil kajian di atas menunjukkan bahwa harga sebagian obat
yang didukung oleh bukti ilmiah uji klinik dengan jumlah sampel
yang besar relatif cukup tinggi.
PEMBAHASAN
Kajian di atas memperlihatkan besarnya masalah hipertensi
pasca stroke. Beberapa hal yang dapat disimpulkan: (1) hiper-
tensi merupakan faktor risiko stroke yang utama, dan akan mene-
tap pasca serangan stroke, (2) kemajuan teknologi kedokteran
akan meningkatkan jumlah stroke survivor, yang akan mening-
katkan pula jumlah pasien stroke dengan hipertensi, (3) bukti
ilmiah secara konsisten menunjukkan manfaat pengendalian
tekanan darah untuk mencegah serangan stroke ulang, (4) beberapa
uji klinik baru memperlihatkan hasil yang menjanjikan untuk
prevensi stroke ulang, (5) harga obat yang didukung uji klinik
skala besar masih relatif mahal, (6) perlu diskusi yang mendalam
dengan pasien untuk pengendalian tekanan darah dan pence-
gahan serangan stroke ulang. Pertimbangan keefektifan, keamanan,
dan keterjangkauan pasien harus didiskusikan dengan pasien.
Hal ini sesuai dengan komponen patient preferences dalam
komponen Evidence Based Medicine.
Nama produk Nama generik Bukti uji klinik Harga
Prexum
Perindopril
PROGRESS
4mg x 30's (Rp 215.000)
Triatec
Ramipril
HOPE
2.5mg x 60's (Rp 398.772)
5mg x 60's (Rp 629.640)
10mg x 30's (Rp 437.250)
Cozaar
Losartan
LIFE
50mg x 2 x 15's (Rp 266.000)
Natrilix SR
Indapamide
ALLHAT
1.5mg x 30's (Rp 107.000)
Pada beberapa uji klinik, pemberian obat antihipertensi dihubung-
kan dengan penurunan risiko stroke sebesar 35-40%. Penurunan
tekanan darah sistolik sebesar 12 mmHg selama 10 tahun akan
mencegah 1 kematian dari 11 pasien yang mendapat terapi obat
antihipertensi. Kombinasi penghambat ACE dan diuretika tipe
tiazid direkomendasikan untuk prevensi stroke sekunder
(8-14)
.
Bornstein dkk
(15)
melakukan kajian terhadap berbagai uji klinik
obat anti hipertensi untuk prevensi stroke. Hasil kajian menun-
jukkan ada beberapa obat yang didukung oleh uji klinik ber-
kualitas baik dan jumlah sampel yang besar, yaitu: (1) HOPE trial
(ramipril vs. placebo), (2) ALLHAT trial (CCB or/and Angiotensin-
Conventing Enzyme Inhibitors (ACE-Is) vs. diuretik), (3) LIFE
trial (losartan vs. atenolol), dan (4) PROGRESS trial (perindopril
or/and indapamide vs. plasebo).
SIMPULAN
Pengendalian tekanan darah pasca stroke merupakan hal yang
penting untuk mencegah serangan stroke ulang. Bukti uji klinik
menunjukkan pengendalian tekanan darah yang adekuat akan
menurunkan risiko serangan ulang dan komplikasi lain. Pertim-
bangan keefektifan, keamanan, dan ketejangkauan obat harus
didiskusikan secara seksama dengan pasien.
DAFTAR PUSTAKA
American Heart Association, Heart Disease and Stroke Statistics. 2004 update.
American Heart Association (www.strokeaha.org)
Mant J, Wade D, Winner S. Health Care Need Assessment in Stroke, Oxford
Radcliffe Medical Press
Rothwell PM, Giles MF, Flossmann E et al. A Simple Score (ABCD) to identify
individuals at High Early Risk of Stroke after Transient Ischemic Attack. Lancet
2005; 366: 29-36
Eliasziw M, Kennedy J, Hill MD, Buchan AM. Early Risk of Stroke After Transient
Ischemic Attack in Patients with Internal Carotid Artery Disease, CMAJ 2004;170:
1105-9
Johnston SC, Rothwell PM, Nguyen-Huynh MN, et al. Validation and refinement of
scores to predict very early stroke risk after transient ischaemic attack. Lancet
2007;369:283­92.
Lamassa M, Di Carlo A, Pracucci G, Basile AM et.al. Characteristics, Outcome, and
Care of Stroke Associated with Atrial Fibrillation in Europe Data from a Multicenter
Multinational Hospital­Based Registry (The European Community Stroke Project).
Stroke 2001;32;392-8
Royal College of Physicians. National Clinical Guideline for Stroke, 2
nd
ed.
Intercollegiate Stroke Working Party, London, 2004
Neal B, MacMahon S, Chapman N. Effects of ACE inhibitors, calcium antagonists,
and other blood-pressure-lowering drugs: Results of prospectively designed
overviews of randomised trials. Blood Pressure Lowering Treatment Trialists'
Collaboration. Lancet 2000;356:1955-64
Dahlof B, Devereux RB, Kjeldsen SE et al. Cardiovascular morbidity and mortality in
the Losartan Intervention For Endpoint reduction in hypertension study (LIFE): A
randomised trial against atenolol. Lancet 2002;359:995-1003.
The ALLHAT Officers and Coordinators for the ALLHAT Collaborative Research
Group. Major outcomes in high-risk hypertensive patients randomized to angioten-
sinconverting enzyme inhibitor or calcium channel blocker vs diuretic: The
Antihypertensive and Lipid-Lowering Treatment to Prevent Heart Attack Trial
(ALLHAT). JAMA 2002;288:2981-97.
The Heart Outcomes Prevention Evaluation Study Investigators. Effects of an
angiotensin converting- enzyme inhibitor, ramipril, on cardiovascular events in
high-risk patients. N Engl J Med 2000;342:145-53.
PROGRESS Collaborative Group. Randomised trial of a perindopril-based blood-
pressure lowering regimen among 6,105 individuals with previous stroke or
transient ischaemic attack. Lancet 2001;358:1033-41.
Wing LMH, Reid CM, Ryan P et al. A comparison of outcomes with
angiotensinconverting-enzyme inhibitors and diuretics for hypertension in the
elderly. N Engl J Med. 2003;348:583-92.
Psaty BM, Smith NL, Siscovick DS et al. Health outcomes associated with
antihypertensive therapies used as first-line agents. A systematic review and meta-
analysis. JAMA 1997;277:739-45
Bornstein N, Silvestrelli G, Caso V, Arterial Hypertension and Stroke Prevention: an
update. Clin Exp Hypertens. 2006; 28 (3-4): 317-26
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
background image
T I N J A U A N P U S T A K A
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
332
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
333
Dari Gb.4 dapat dilihat bahwa hipertensi berkaitan erat dengan
OSA secara independen. Peppard dkk
(12)
menyatakan bahwa
sepertiga penderita hipertensi juga menderita OSA. Bahkan
laporan Joint National Committee on Prevention, Detection,
Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure menyebut-
kan sleep apnea sebagai penyebab hipertensi yang utama dan
dapat dikenali.
(13)
Sementara penelitian lain menunjukkan
bahwa perawatan OSA menggunakan CPAP dapat menu-
runkan tekanan darah secara bermakna.
(14)
DIAGNOSIS
Pemeriksaan menyeluruh yang meliputi anamnesis, riwayat
penyakit, riwayat tidur serta gaya hidup harus dilakukan untuk
mencari ciri-ciri OSA atau gangguan tidur lainnya. Keluhan
atau laporan dari pasangan tidur dianggap memiliki bobot
yang amat penting karena penderita tidak pernah menyadari
keadaan dirinya saat mendengkur.
(15)
Baku emas diagnosis gangguan tidur adalah pemeriksaan
polisomnografi (PSG) yang dilakukan sepanjang malam di
laboratorium tidur.
(16,17)
Standar PSG meliputi perekaman aliran
udara nafas, gerakan nafas, elektroensefalografi (EEG),
elektromiografi (EMG), elektrookulogrofi (EOG), elektrokardio-
grafi (ECG), saturasi oksigen dan posisi badan.
PSG terdiri dari 4 tipe.
(18)
Tipe pertama, merupakan PSG
lengkap; minimum terdiri dari 7 channels dalam laboratorium
dengan diamati oleh tenaga khusus sepanjang malam. Tipe
kedua juga merupakan PSG lengkap, tetapi pemeriksaannya
dilakukan di tempat tinggal pasien, tidak diawasi secara
langsung seperti tipe pertama. Tipe ketiga merupakan pemerik-
saan portable sleep apnea testing yang lebih dikenal dengan
sebutan perekaman kardio-respiratori. Sedangkan tipe keempat
hanya merekam aliran udara di hidung dan kadar oksigen.
American Academy of Sleep Medicine, mengakui pemeriksaan
Tipe 1 dan 3 sebagai pemeriksaan standar untuk mendiagnosis
OSA
(19)
, sementara Tipe 4 masih dianggap sebagai alat penya-
ring saja. Pada pemeriksaan tipe 3 harus ada tenaga berkualifikasi
khusus yang membaca serta menganalisis hasil pemeriksaan
secara manual, setara dengan pada tipe 1.
Dari pemeriksaan polisomnografi, dapat dilihat arsitektur tidur
pasien serta derajat keparahan OSA yang dinilai dengan Apnea-
Hypopnea Index (AHI). Selain itu kondisi pasien juga dapat
dinilai dari jumlah micro-arousals yang memotong proses tidur,
penurunan saturasi oksigen, denyut dan irama jantung, serta
durasi tiap episode henti nafas.
Diagnosis OSA harus berdasarkan pada PSG dan manifestasi
klinis.
(20)
Pasien dewasa biasanya mengeluhkan rasa kantuk
berlebih di siang hari, rasa kurang segar saat bangun tidur, cepat
lelah, insomnia, terbangun dengan rasa tersedak/ tercekik atau
keluhan dari pasangan yang merasa terganggu dengan suara
dengkuran. Jika pasien tersebut simptomatik, AHI>5 sudah
dianggap positif menderita OSA. Sedangkan pada pasien yang
tidak mempunyai keluhan apapun selain mendengkur, AHI>15
baru dianggap positif.
TATALAKSANA
Standar emas tatalaksana OSA adalah dengan menggunakan
nasal CPAP (Continuous Positive Airway Pressure)
(16)
. CPAP
memberikan udara bertekanan yang diharapkan akan membuka
sumbatan di orofaring, dengan demikian periode apnea tidak
terjadi
(2)
. Namun penggunaan alat ini mempunyai tantangan
tersendiri berupa proses adaptasi bagi penderita. Tidak jarang
penderita merasa kurang nyaman dengan tiupan udara ber-
tekanan maupun masker yang harus dikenakan sepanjang malam.
Belum lagi tanggapan keluarga dan lingkungan yang masih
asing dengan penggunaan alat tersebut. Kemajuan teknologi
seperti autotitration dan rancangan masker telah menciptakan
kenyamanan yang lebih baik bagi penderita; untuk itu diperlukan
masa trial tersendiri. Dalam masa ini kondisi penderita dan respon
terhadap alat direkam dan dianalisis untuk memilih alat, jenis
masker, efektifitas terapi dan tekanan yang akan digunakan.
Tak kalah penting, adalah edukasi bagi penderita serta lingku-
ngannya.
(21)
Tak jarang, yang terpenting dalam terapi justru
dukungan dari keluarga.
Pilihan terapi lainnya berupa pembedahan masih dalam perdebatan.
Teknik-teknik seperti Uvulopalatopharyngoplasty (UPPP), jaw
enhancement, glossectomy, tounge resection dan lain-lain,
masih terus dikembangkan. Dengan kemajuan teknologi pem-
bedahan yang semakin non-invasif, bukan tidak mungkin di masa
depan, pembedahan menjadi terapi primer bagi OSA.
(22)
SIMPULAN
Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan gangguan tidur
yang sudah lama dikenal. Namun manifestasi klinis yang sering
dianggap normal menyebabkan diagnosis OSA sering kali luput
dari perhatian. Kendati bermacam manifestasi klinis dapat
menjadi komorbiditas dari OSA, tatalaksana yang optimal belum
dilakukan dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Dement W. The Promise of Sleep. London: Pan Books 2001. p:167-193.
Sullivan CE, Issa FG. Obstructive sleep apnea in clinics. Chest Medicine
1985;6:633-650.
Collop N. The effect of obstructive sleep apnea on chronic medical disorders.
Cleve Clin J Med 2007;74(1): 72-78
Sullivan CE, Grunstein RR, Marrone O, Berthon-Jones M. Sleep apnea ­
pathophysiology: upper airway and control of breathing. In Guilleminault. C.
OSAS: Clinical Research and Treatment. New York. Raven Press 1990. p.49-69.
Boehlecke BA. OSAHS: Epidemiology and pathogenesis. Sleep Syllabus
2006. p.49-58.
Weaver TE, George CFP. Cognition and performance in patients with OSA. In
Kryger MH, Roth T, Dement W. Principle and Practice of Sleep Medicine 4
th
ed.
Philadelphia. Elsevier 2005. p.1023-33.
Young T, Peppard PE, Gottlieb DJ. Epidemiology of OSA: a population health
perspective. Am J Respir Crit Care Med 2002; 165:1217-39.
Atwood CW. Obstructive sleep apnea: clinical presentation. Sleep Syllabus
2006. p.44-8.
Punjabi NM, Beamer BA. Sleep apnea and metabolic dysfunction. In Kryger
MH, Roth T, Dement W. Principle and Practice of Sleep Medicine 4
th
ed.
Philadelphia. Elsevier 2005. p.1034-1039.
Resnick HE, Redline S, Shahar E, Gilpin A, Newman A, Walter R, Ewy GA,
Howard BV, Punjabi NM; Sleep Heart Health Study. Diabetes and sleep
disturbances: findings from the Sleep Heart Health Study. Diabetes Care 2003
Mar;26(3):702-9.
Bradley TD, Floras JS. Sleep apnea and heart failure: Part I: obstructive sleep
apnea. Circulation. 2003;107:1671-8.
Peppard PE, Young T, Palta M, Skatrud J. Prospective study of the association
between sleep-disordered breathing and hypertension. N Engl J Med
2000;342:1378-84.
Chobanian AV, Bakris GL, Black HR, et al. The seventh report of the Joint
National Committee on prevention, detection, evaluation, and treatment of
high blood pressure: the JNC 7 report. JAMA 2003; 289:2560-2572.
Becker HF, Jerrentrup A, Ploch T, Grote L, Penzel T, Sullivan CE, Peter JH.
Effect of nasal continuous positive airway pressure treatment on blood
pressure in patients with obstructive sleep apnea. Circulation 2003;107:68-73.
Ramsey R, Khanna A, Strohl KP. History and physical examination. In Kushida
CA. Obstructive sleep apnea: diagnosis and treatment. New York. Informa
healthcare 2007. p.1-20.
Phillips B, Kryger MH. Management of obstructive sleep apnea-hypopnea
syndrome: overview. In Kryger MH, Roth T, Dement W. Principle and Practice
of Sleep Medicine 4
th
ed. Philadelphia. Elsevier 2005. p.1109-1121.
Kushida CA, Littner MR, Morgenthaler T, Alessi CA, et.al. Practice parameters
for the indications for polysomnography and related procedure: an update for
2005. Sleep 2005;28: 499-519.
AASM Task Force. Sleep-related breathing disorders in adults: recommenda-
tions for syndrome definition and measurement techniques in clinical research.
Sleep 1999;22: 667-689.
Collop NA, Anderson WM, Boehlecke B, Claman D, GoldbergR, Gottlieb DJ,
Hudgel D, Sateia M, Schwab R. Clinical guidelines for the use of unattended
portable monitors in the diagnosis of obstructive sleep apnea in adult patients.
J Clin Sleep Med 2007;3(7):737-747.
American Academy of Sleep Medicine. International classification of sleep
disorders, 2
nd
ed. American Academy of Sleep Medicine 2005; 51-55.
Chervin RD, Theut S, Basseti C, Aldrich MS. Compliance with nasal CPAP can
be improved by simple interventions. Sleep 1997;20:284-289.
Powell NB, Riley RW, Guilleminault C. Surgical management of sleep-
disordered breathing. In Kryger MH, Roth T, Dement W. Principle and Practice
of Sleep Medicine 4
th
ed. Philadelphia. Elsevier 2005.p.1081-1097.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
Gejala-gejala lain yang dapat ditemukan pada pasien OSA:
(2,8)
1. Nyeri kepala di pagi hari
2. Nokturia
3. Tersedak atau rasa kehabisan nafas saat tidur
4. Kualitas tidur yang kurang nyenyak, sleep state mispercep-
tion, insomnia
5. Mulut terasa kering saat terbangun
6. Konsentrasi terganggu
7. Daya ingat menurun
8. Mudah marah, emosional
9. Depresi
10. Hipertensi
11. Nyeri dada di waktu malam
12. Kelebihan berat badan (obesitas)
13. Masalah seksual - Impotensi
14. Bentuk leher yang pendek namun besar
15. Kelainan kraniofasial, retrognathia
Dari sekian banyak gejala, biasanya penderita tidak pernah
mengaitkannya dengan kebiasaan tidur. Misalkan keluhan cepat
lelah dan sering berkemih di malam hari dikaitkan dengan
diabetes, padahal, hasil gula darah berada pada ambang batas
normal tertinggi. Kini telah diketahui bahwa kadar oksigen darah
yang fluktuatif dan periode microarousal yang berulang dapat
mengganggu sistem metabolik pasien OSA melalui aktivasi
sistem simpatis.
(9)
Resnick dkk
(10)
lebih jauh menyebutkan
bahwa 58% penderita diabetes juga menderita OSA.
Efek kardiovaskular OSA merupakan bidang yang paling banyak
menarik perhatian saat ini. Sistem kardiovaskular terganggu
oleh beberapa faktor, antara lain hipoksemi, meningkatnya
tekanan intratorakal, dan aktivasi sistem saraf simpatis yang
semuanya merupakan akibat sleep apnea.
(11)
(Gb.4)
Gb.4. Ket.: OSA akan meningkatkan tekanan transmural pada ventrikel kiri (LV)
akibat terciptanya tekanan negatif intratorakal (Pit) dan meningkatnya tekanan
darah sistemik (Bp.) Tekanan darah sendiri meningkat akibat kondisi hipoksia,
micro arousal dan meningkatnya aktivitas sistem saraf simpatis (SNA.) Apnea
juga akan menekan efek penghambat aktivitas simpatis dari reseptor peregan-
gan paru, sehingga lebih meningkatkan lagi SNA. Kombinasi dari meningkat-
nya LV dan irama jantung (HR) akibat meningkatnya SNA, akan meningkatkan
kebutuhan O
2
, justru di saat suplai O
2
ke otot jantung berkurang. Keadaan ini
secara akut menyebabkan iskemi jantung dan aritmi, serta secara kronis
menyebabkan hipertrofi ventrikel kiri dan akhirnya menjadi payah jantung.
(11)
background image
T I N J A U A N P U S T A K A
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
332
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
333
Dari Gb.4 dapat dilihat bahwa hipertensi berkaitan erat dengan
OSA secara independen. Peppard dkk
(12)
menyatakan bahwa
sepertiga penderita hipertensi juga menderita OSA. Bahkan
laporan Joint National Committee on Prevention, Detection,
Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure menyebut-
kan sleep apnea sebagai penyebab hipertensi yang utama dan
dapat dikenali.
(13)
Sementara penelitian lain menunjukkan
bahwa perawatan OSA menggunakan CPAP dapat menu-
runkan tekanan darah secara bermakna.
(14)
DIAGNOSIS
Pemeriksaan menyeluruh yang meliputi anamnesis, riwayat
penyakit, riwayat tidur serta gaya hidup harus dilakukan untuk
mencari ciri-ciri OSA atau gangguan tidur lainnya. Keluhan
atau laporan dari pasangan tidur dianggap memiliki bobot
yang amat penting karena penderita tidak pernah menyadari
keadaan dirinya saat mendengkur.
(15)
Baku emas diagnosis gangguan tidur adalah pemeriksaan
polisomnografi (PSG) yang dilakukan sepanjang malam di
laboratorium tidur.
(16,17)
Standar PSG meliputi perekaman aliran
udara nafas, gerakan nafas, elektroensefalografi (EEG),
elektromiografi (EMG), elektrookulogrofi (EOG), elektrokardio-
grafi (ECG), saturasi oksigen dan posisi badan.
PSG terdiri dari 4 tipe.
(18)
Tipe pertama, merupakan PSG
lengkap; minimum terdiri dari 7 channels dalam laboratorium
dengan diamati oleh tenaga khusus sepanjang malam. Tipe
kedua juga merupakan PSG lengkap, tetapi pemeriksaannya
dilakukan di tempat tinggal pasien, tidak diawasi secara
langsung seperti tipe pertama. Tipe ketiga merupakan pemerik-
saan portable sleep apnea testing yang lebih dikenal dengan
sebutan perekaman kardio-respiratori. Sedangkan tipe keempat
hanya merekam aliran udara di hidung dan kadar oksigen.
American Academy of Sleep Medicine, mengakui pemeriksaan
Tipe 1 dan 3 sebagai pemeriksaan standar untuk mendiagnosis
OSA
(19)
, sementara Tipe 4 masih dianggap sebagai alat penya-
ring saja. Pada pemeriksaan tipe 3 harus ada tenaga berkualifikasi
khusus yang membaca serta menganalisis hasil pemeriksaan
secara manual, setara dengan pada tipe 1.
Dari pemeriksaan polisomnografi, dapat dilihat arsitektur tidur
pasien serta derajat keparahan OSA yang dinilai dengan Apnea-
Hypopnea Index (AHI). Selain itu kondisi pasien juga dapat
dinilai dari jumlah micro-arousals yang memotong proses tidur,
penurunan saturasi oksigen, denyut dan irama jantung, serta
durasi tiap episode henti nafas.
Diagnosis OSA harus berdasarkan pada PSG dan manifestasi
klinis.
(20)
Pasien dewasa biasanya mengeluhkan rasa kantuk
berlebih di siang hari, rasa kurang segar saat bangun tidur, cepat
lelah, insomnia, terbangun dengan rasa tersedak/ tercekik atau
keluhan dari pasangan yang merasa terganggu dengan suara
dengkuran. Jika pasien tersebut simptomatik, AHI>5 sudah
dianggap positif menderita OSA. Sedangkan pada pasien yang
tidak mempunyai keluhan apapun selain mendengkur, AHI>15
baru dianggap positif.
TATALAKSANA
Standar emas tatalaksana OSA adalah dengan menggunakan
nasal CPAP (Continuous Positive Airway Pressure)
(16)
. CPAP
memberikan udara bertekanan yang diharapkan akan membuka
sumbatan di orofaring, dengan demikian periode apnea tidak
terjadi
(2)
. Namun penggunaan alat ini mempunyai tantangan
tersendiri berupa proses adaptasi bagi penderita. Tidak jarang
penderita merasa kurang nyaman dengan tiupan udara ber-
tekanan maupun masker yang harus dikenakan sepanjang malam.
Belum lagi tanggapan keluarga dan lingkungan yang masih
asing dengan penggunaan alat tersebut. Kemajuan teknologi
seperti autotitration dan rancangan masker telah menciptakan
kenyamanan yang lebih baik bagi penderita; untuk itu diperlukan
masa trial tersendiri. Dalam masa ini kondisi penderita dan respon
terhadap alat direkam dan dianalisis untuk memilih alat, jenis
masker, efektifitas terapi dan tekanan yang akan digunakan.
Tak kalah penting, adalah edukasi bagi penderita serta lingku-
ngannya.
(21)
Tak jarang, yang terpenting dalam terapi justru
dukungan dari keluarga.
Pilihan terapi lainnya berupa pembedahan masih dalam perdebatan.
Teknik-teknik seperti Uvulopalatopharyngoplasty (UPPP), jaw
enhancement, glossectomy, tounge resection dan lain-lain,
masih terus dikembangkan. Dengan kemajuan teknologi pem-
bedahan yang semakin non-invasif, bukan tidak mungkin di masa
depan, pembedahan menjadi terapi primer bagi OSA.
(22)
SIMPULAN
Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan gangguan tidur
yang sudah lama dikenal. Namun manifestasi klinis yang sering
dianggap normal menyebabkan diagnosis OSA sering kali luput
dari perhatian. Kendati bermacam manifestasi klinis dapat
menjadi komorbiditas dari OSA, tatalaksana yang optimal belum
dilakukan dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Dement W. The Promise of Sleep. London: Pan Books 2001. p:167-193.
Sullivan CE, Issa FG. Obstructive sleep apnea in clinics. Chest Medicine
1985;6:633-650.
Collop N. The effect of obstructive sleep apnea on chronic medical disorders.
Cleve Clin J Med 2007;74(1): 72-78
Sullivan CE, Grunstein RR, Marrone O, Berthon-Jones M. Sleep apnea ­
pathophysiology: upper airway and control of breathing. In Guilleminault. C.
OSAS: Clinical Research and Treatment. New York. Raven Press 1990. p.49-69.
Boehlecke BA. OSAHS: Epidemiology and pathogenesis. Sleep Syllabus
2006. p.49-58.
Weaver TE, George CFP. Cognition and performance in patients with OSA. In
Kryger MH, Roth T, Dement W. Principle and Practice of Sleep Medicine 4
th
ed.
Philadelphia. Elsevier 2005. p.1023-33.
Young T, Peppard PE, Gottlieb DJ. Epidemiology of OSA: a population health
perspective. Am J Respir Crit Care Med 2002; 165:1217-39.
Atwood CW. Obstructive sleep apnea: clinical presentation. Sleep Syllabus
2006. p.44-8.
Punjabi NM, Beamer BA. Sleep apnea and metabolic dysfunction. In Kryger
MH, Roth T, Dement W. Principle and Practice of Sleep Medicine 4
th
ed.
Philadelphia. Elsevier 2005. p.1034-1039.
Resnick HE, Redline S, Shahar E, Gilpin A, Newman A, Walter R, Ewy GA,
Howard BV, Punjabi NM; Sleep Heart Health Study. Diabetes and sleep
disturbances: findings from the Sleep Heart Health Study. Diabetes Care 2003
Mar;26(3):702-9.
Bradley TD, Floras JS. Sleep apnea and heart failure: Part I: obstructive sleep
apnea. Circulation. 2003;107:1671-8.
Peppard PE, Young T, Palta M, Skatrud J. Prospective study of the association
between sleep-disordered breathing and hypertension. N Engl J Med
2000;342:1378-84.
Chobanian AV, Bakris GL, Black HR, et al. The seventh report of the Joint
National Committee on prevention, detection, evaluation, and treatment of
high blood pressure: the JNC 7 report. JAMA 2003; 289:2560-2572.
Becker HF, Jerrentrup A, Ploch T, Grote L, Penzel T, Sullivan CE, Peter JH.
Effect of nasal continuous positive airway pressure treatment on blood
pressure in patients with obstructive sleep apnea. Circulation 2003;107:68-73.
Ramsey R, Khanna A, Strohl KP. History and physical examination. In Kushida
CA. Obstructive sleep apnea: diagnosis and treatment. New York. Informa
healthcare 2007. p.1-20.
Phillips B, Kryger MH. Management of obstructive sleep apnea-hypopnea
syndrome: overview. In Kryger MH, Roth T, Dement W. Principle and Practice
of Sleep Medicine 4
th
ed. Philadelphia. Elsevier 2005. p.1109-1121.
Kushida CA, Littner MR, Morgenthaler T, Alessi CA, et.al. Practice parameters
for the indications for polysomnography and related procedure: an update for
2005. Sleep 2005;28: 499-519.
AASM Task Force. Sleep-related breathing disorders in adults: recommenda-
tions for syndrome definition and measurement techniques in clinical research.
Sleep 1999;22: 667-689.
Collop NA, Anderson WM, Boehlecke B, Claman D, GoldbergR, Gottlieb DJ,
Hudgel D, Sateia M, Schwab R. Clinical guidelines for the use of unattended
portable monitors in the diagnosis of obstructive sleep apnea in adult patients.
J Clin Sleep Med 2007;3(7):737-747.
American Academy of Sleep Medicine. International classification of sleep
disorders, 2
nd
ed. American Academy of Sleep Medicine 2005; 51-55.
Chervin RD, Theut S, Basseti C, Aldrich MS. Compliance with nasal CPAP can
be improved by simple interventions. Sleep 1997;20:284-289.
Powell NB, Riley RW, Guilleminault C. Surgical management of sleep-
disordered breathing. In Kryger MH, Roth T, Dement W. Principle and Practice
of Sleep Medicine 4
th
ed. Philadelphia. Elsevier 2005.p.1081-1097.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
Gejala-gejala lain yang dapat ditemukan pada pasien OSA:
(2,8)
1. Nyeri kepala di pagi hari
2. Nokturia
3. Tersedak atau rasa kehabisan nafas saat tidur
4. Kualitas tidur yang kurang nyenyak, sleep state mispercep-
tion, insomnia
5. Mulut terasa kering saat terbangun
6. Konsentrasi terganggu
7. Daya ingat menurun
8. Mudah marah, emosional
9. Depresi
10. Hipertensi
11. Nyeri dada di waktu malam
12. Kelebihan berat badan (obesitas)
13. Masalah seksual - Impotensi
14. Bentuk leher yang pendek namun besar
15. Kelainan kraniofasial, retrognathia
Dari sekian banyak gejala, biasanya penderita tidak pernah
mengaitkannya dengan kebiasaan tidur. Misalkan keluhan cepat
lelah dan sering berkemih di malam hari dikaitkan dengan
diabetes, padahal, hasil gula darah berada pada ambang batas
normal tertinggi. Kini telah diketahui bahwa kadar oksigen darah
yang fluktuatif dan periode microarousal yang berulang dapat
mengganggu sistem metabolik pasien OSA melalui aktivasi
sistem simpatis.
(9)
Resnick dkk
(10)
lebih jauh menyebutkan
bahwa 58% penderita diabetes juga menderita OSA.
Efek kardiovaskular OSA merupakan bidang yang paling banyak
menarik perhatian saat ini. Sistem kardiovaskular terganggu
oleh beberapa faktor, antara lain hipoksemi, meningkatnya
tekanan intratorakal, dan aktivasi sistem saraf simpatis yang
semuanya merupakan akibat sleep apnea.
(11)
(Gb.4)
Gb.4. Ket.: OSA akan meningkatkan tekanan transmural pada ventrikel kiri (LV)
akibat terciptanya tekanan negatif intratorakal (Pit) dan meningkatnya tekanan
darah sistemik (Bp.) Tekanan darah sendiri meningkat akibat kondisi hipoksia,
micro arousal dan meningkatnya aktivitas sistem saraf simpatis (SNA.) Apnea
juga akan menekan efek penghambat aktivitas simpatis dari reseptor peregan-
gan paru, sehingga lebih meningkatkan lagi SNA. Kombinasi dari meningkat-
nya LV dan irama jantung (HR) akibat meningkatnya SNA, akan meningkatkan
kebutuhan O
2
, justru di saat suplai O
2
ke otot jantung berkurang. Keadaan ini
secara akut menyebabkan iskemi jantung dan aritmi, serta secara kronis
menyebabkan hipertrofi ventrikel kiri dan akhirnya menjadi payah jantung.
(11)