HASIL PENELITIAN
Lama Perawatan dan Komplikasi
Kuretasi Segera dan Tunda
pada Abortus Infeksiosus
I Ketut Suwiyoga, I Made Agus Supriatmaja
Sub-divisi Obstetri Sosial, Bagian Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar, Bali, Indonesia
ABSTRAK
Tujuan: Mengetahui perbedaan lama perawatan dan komplikasi antara kuretesi segera
dengan kuretasi tunda pada abortus infeksiosus.
Bahan dan Cara: Penelitian single blind randomized clinical trial dilakukan di Bagian
Obstetri dan Ginekologi RS Sanglah Denpasar selama tahun 2002. Sampel adalah pasien abortus
infeksiosus klinik yang. diberi antibiotika dan bersedia menjadi subjek penelitian, dipilih secara
consecutive. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok yaitu menjalani kuretasi segera atau 24 jam/bebas
panas setelah pemberian antibiotika standar penanganan di RS Sanglah Denpasar. Besar sampel
dihitung dengan rumus Pocock dan data penelitian diolah dengan SPSS-10 for Windows.
Dilakukan test homogenitas dengan Levent T test pada variabel besar uterus, suhu rektal, nadi, dan
kadar hemoglobin. Uji perbedaan waktu kuretasi memakai uji T dilanjutkan dengan Kolmogorov-
Smirnov Z, dan komplikasi dengan test Chi square.
Hasil: Sejumlah 64 consecutive samples dibagi dua yaitu 32 pasien kelompok perlakuan
dengan kuretasi segera dan 32 pasien kelompok kontrol dengan kuretasi tunda. Variabel besar
uterus, suhu rektal, nadi, dan kadar hemoglobin adalah homogen (p
> 0,05). Diperoleh rerata lama
perawatan pada kuretasi segera dan tunda masing-masing adalah 59,97 jam/2,89 hari dan 72,29
jam/3,43 hari. Kejadian komplikasi perdarahan dan perforasi uterus pada kedua kelompok berbeda
tidak bermakna (X
2
= 3,65; p
> 0,05) pada penanganan abortus infeksiosus.
Simpulan dan Saran: Pada kasus abortus infeksiosus, lama perawatan pada kuretasi segera
lebih pendek dibandingkan dengan lama perawatan kuretasi tunda (p
< 0,05) dan komplikasinya
tidak berbeda di antara kedua kelompok. Pada kasus abortus infeksiosus dapat dilakukan kuretasi
segera setelah pemberian antibiotika.
Kata kunci; kuretasi segera, kuretasi tunda, abortus infeksiosus.
PENDAHULUAN
Abortus infeksiosus adalah abortus yang disertai infeksi
organ ginekologi; merupakan salah satu penyebab kematian
ibu. Di Indonesia, abortus infeksiosus biasanya berawal
terutama dari aborsi pada kehamilan tidak dinginkan;
persentasenya satu di antara sepuluh abortus dengan risiko
kematian 57-59/100.000 kelahiran hidup; sebagian besar aborsi
dilakukan oleh tenaga tidak terlatih. Jadi, kontribusi unsafe
abortion terhadap kematian ibu adalah 10-20%. Kejadian
abortus infeksiosus di RS Sanglah Denpasar 7,59% dari seluruh
kasus abortus dan angka kematian ibunya 18/100.000 kelahiran
hidup.
(1,2)
Penanganan abortus infeksiosus masih kontroversial
terutama masalah pemberian antibiotik.
(3,4)
Ada yang menyatakan kuretasi dilakukan setelah 24 jam
pemberian antibitioka masif karena payung perlindungan
dianggap memadai. Sedangkan pendapat lain, kuretasi segera
pasca pemberian antibiotika untuk menghilangkan sumber
infeksi.
(5,6)
Jangka waktu kuretasi segera ini bervariasi; di RS
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006 11
Dr Soetomo adalah 3-6 jam, di RS Cipto Mangunkusumo
adalah 6 jam pasca pemberian antibotika. Beberapa klinik
melakukan kuretasi 24-48 jam pasca pemberian antibiotika, 3
hari bebas panas/7 hari pasca antibiotika jika demam tidak
turun.
(1,3,4)
Kuretasi segera lebih rasional daripada kuretasi
tunda sehubungan dengan pengeluaran jaringan nekrotik intra
uterus, evakuasi mikroba, mengurangi sumber inflamasi, dan
komplikasi lainnya.
(5-7)
Hal ini juga mempengaruhi lama
perawatan yang selanjutnya berakibat pada efisiensi dan
efektivitas serta keselamatan pasien.
(8)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan lama
perawatan dan komplikasi antara kuretasi segera dan tunda
pada abortus infeksiosus. Hasilnya diharapkan dapat dipakai
sebagai masukan untuk pengelolaan abortus infeksiosus dalam
upaya mencapai valid clinical conclusion.
BAHAN DAN CARA
Penelitian single blind randomized clinical trial dilakukan
di Bagian Obstetri dan Ginekologi RS Sanglah Denpasar.
Sampel adalah pasien abortus infeksiosus yang dirawat dan
menyetujui penelitian ini (informed consent) dan ditentukan
secara consecutive. Kelompok perlakuan adalah kuretasi segera
dan kontrol adalah kuretasi tunda seperti tatalaksana yang
sedang berlaku di RS Sanglah Denpasar. Dilakukan matching
faktor risiko besar uterus, suhu rektal, nadi, dan kadar
hemoglobin. Sampel dengan penyakit kronis lain dikeluarkan
dari penelitian.
Besar sampel dihitung dengan rumus Pocock untuk
kuantitatif yaitu:
Keterangan:
n = jumlah sampel.
µ1= rerata kelompok perlakuan.
µ2= rerata kelompok kontrol.
=perbedaan rerata antara µ1µ2.
f(
) dapat dilihat pada tabel.
Didapatkan, besar sampel untuk masing-masing kelompok
adalah 31,6 dibulatkan 32. Lama perawatan dihitung dalam
satuan jam/hari dan komplikasi adalah perdarahan profus/masif
saat kuretasi dan perforasi uterus. Pasien dinyatakan sembuh
sesuai dengan indikasi boleh pulang oleh dokter yang merawat
yaitu keluhan dan hasil laboratorium darah. Data dicatat pada
lembar penelitian, diolah dengan SPSS 10 for Windows.
Dilakukan uji T untuk lama perawatan dan uji X
2
untuk jenis
komplikasi. Hasil uji analisis disajikan dalam bentuk tabel dan
narasi.
Definisi operasional variabel
1.
Abortus infeksiosus adalah abortus dengan tanda-tanda
infeksi organ genitalis.
2.
Kuretasi segera adalah kuretasi segera setelah pemberian
antibiotika standar.
3.
Kuretasi tunda adalah kuretasi setelah bebas panas pasca
pemberian antibiotika standar.
4.
Lama perawatan adalah waktu dalam jam yang diperlukan
sampai pasien boleh pulang. Pasien dipulangkan apabila
keadaan umum baik, demam dan nyeri perut berkurang-
hilang, jumlah lekosit, laju endap darah, dan trombosit
darah tepi dalam batas normal.
5.
Besar uterus adalah tinggi fundus uteri saat pasien tiba di
RS Sanglah, setelah kandung kencing dikosongkan.
6.
Perdarahan adalah perdarahan lebih dari 500 ml selama 30
menit berturut-turut selama kuretasi atau perdarahan
merembes aktif.
7.
Perforasi adalah terjadinya perlukaan menembus seluruh
lapisan dinding uterus oleh sendok kuret.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sejumlah 64 pasien abortus infeksiosus sebagai sampel
yang dipilih secara consecutive, dibagi menjadi dua kelompok
yaitu 32 sebagai kelompok kasus kuretasi segera dan 32
sebagai kelompok kontrol kuretasi tunda sesuai protap Bagian
Obstetri dan Ginekologi RS Sanglah Denpasar.
Dilakukan uji homogenitas variabel besar uterus, suhu
rektal, nadi, dan kadar hemoglobin. Didapatkan bahwa ke
empat faktor tersebut berbeda tidak bermakna antara ke dua
kelompok (p
> 0,05) (Tabel 1).
Tabel 1. Hasil uji Levent T test untuk besar uterus, suhu rektal, nadi, dan
kadar hemoglobin kedua kelompok.
Kuretasi segera
Kuretasi tunda
Rerata SD Rerata SD
p
Besar uterus
/kehamilan (minggu)
11,46 3,66 9,86 2,76 0,486
Suhu rektal (
0
C)
38,71 0,62 38,47 0,44 0,197
Nadi
(kali/menit)
103,71 8,50 99,46 8,00 0,115
Hemoglobin
(g/dL) 10,65 1,22 10,74 1,26 0,759
n= 2
2
x f (
)/(µ1-µ2)
2
Faktor yang mempengaruhi penanganan, komplikasi, dan
prognosis yaitu besar uterus, suhu rektal, nadi, dan hemoglobin
antara kedua kelompok adalah homogen (p>0,05) untuk semua
variabel tersebut. Selanjutnya, perbedaan lama perawatan pada
kelompok kuretasi segera dan kuretasi tunda dapat dilihat pada
Tabel 2.
Tabel 2. Hasil uji T tentang lama perawatan pada kuretasi segera dan
kuretasi tunda
Kuretasi segera
(n=32)
Kuretasi tunda
(n=32)
p
Rerata SD Rerata SD
Lama perawatan (jam)
59,97
3,83
72,29
11,52
0,000
Lama perawatan (hari)
2,89
0,40
3,43
0,50
0,007
Hasil uji T menunjukkan p=0,00 (df 68, 95%CI=8,22-
16,41) dan dengan Kolmogorov-Smirnov Z test diperoleh
1,673 (p=0,007). Jadi, lama perawatan baik dalam jam maupun
hari berbeda bermakna (p
< 0,05). Berarti pada abortus
infeksiosus lama perawatan pada kuretasi segera lebih pendek
daripada pada kuretasi tunda. Rerata perbedaannya adalah
12,36 jam. Pada penelitian Agus dan Mayun (1999), lama
perawatan abortus infeksiosus yang menjalani kuretasi segera
karena perdarahan aktif rata-rata 2,8 hari, sedangkan lama
perawatan abortus infeksiosus yang dikuret 6 jam setelah bebas
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006
12
demam adalah 3,3 hari; dan yang ditunda 12 jam bebas demam
adalah 3,6 hari.
(3)
Adhi dan Hartono juga mendapatkan pada
tindakan kuretasi 6 jam pertama lama demam dan lama
perawatan lebih pendek.
(1)
Demam dapat diakibatkan oleh endotoksin yang
dihasilkan oleh kuman Gram negatif, reaksi jaringan, reaksi
inflamasi/ekspresi IL-1 dan IL-6, trauma sel/jaringan. Sel yang
rusak ini mengeluarkan lisosom dan histamin; lisosom dapat
mengakibatkan kerusakan jaringan lebih hebat dan aktivasi
sekresi bradikinin. Bradikinin dan histamin dapat meng-
akibatkan vasodilatasi masif dan meningkatkan permeabilitas
kapiler dengan manifestasi klinis berupa demam.
(5,9)
Tindakan kuretasi segera juga bermanfaat karena dapat
mencegah perdarahan lebih banyak dan menghilangkan
jaringan nekrotik yang dapat sebagai media biakan
mikroorganisme. Dengan demikian, demam akan segera turun,
perdarahan dapat dikendalikan.
(6,10,11)
Perforasi sebagai
komplikasi kuretasi pada abortus infeksiosus lebih sering
terjadi dibandingkan dengan pada yang bukan abortus
infeksiosus. Hal ini disebabkan oleh proses infeksi dan
inflamasi yang mengakibatkan kontraksi uterus lemah, dinding
uterus tipis, perdarahan lebih banyak. Akan tetapi dengan
prinsip kehati-hatian dan dengan memberikan uterotonika
selama prosedur kuretasi berlangsung maka komplikasi
perforasi dan perdarahan dapat dieliminasi.
(5,6)
Pada penelitian ini tidak ditemukan komplikasi perforasi.
Walaupun didapatkan komplikasi perdarahan lebih masif/aktif
selama kuretasi pada abortus infeksiosus, tetapi tidak berbeda
bermakna antara kuretasi segera dengan kuretasi tunda (X
2
=
0,94 p
>0,05).
Beberapa penelitian melaporkan komplikasi perforasi
uterus pada saat kuretasi sekitar 5-7%
(5,9)
terlebih lagi jika
miometriumnya relatif rapuh dan lunak risiko perforasi 2 kali
lebih besar dibandingkan dengan kuretasi pada bukan abortus
infeksiosus.
(3,9)
Hal ini dapat dicegah dan dikurangi dengan
pemberian uterotonika pre dan durante kuretasi.
KESIMPULAN
Pada penelitian randomized clinical trial single blind atas
64 abortus infeksiosus yang dibagi dua yaitu 32 kelompok
kasus dan 32 kelompok kontrol, didapatkan:
1.
Rerata lama perawatan pada kuretasi segera dan tunda
masing-masing adalah 59,97 jam/2,89 hari dan 72,29
jam/3,43 hari. Uji T menunjukkan perbedaan bermakna (p
< 0,05). Jadi lama perawatan kasus abortus infeksiosus
pada kuretasi segera lebih pendek dibandingkan dengan
lama perawatan pada kuretasi tunda.
2.
Tidak terdapat perbedaan bermakna dalam hal komplikasi
perdarahan antara kedua kelompok (X
2
= 0,94 p
> 0,05).
3.
Tidak terdapat perforasi uterus pada kedua kelompok.
KEPUSTAKAAN
1.
Adhi P, Hartono HS. Karakteristik abortus infeksiosus. Maj. Obstetr.
Ginekol..Indon. 1992; 20: 6-7.
2.
Samil RS. Abortus atas indikasi nonmedis. Simposium Etika Profesi
dalam Kesehatan Reproduksi, PIT POGI XI Semarang, 1999.
3.
Agus S, Mayun M. Abortus infeksiosus di RS Sanglah Denpasar tahun
1996-1998, Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unud/RS Sanglah
Denpasar, Penelitian Deskriptif, 1999.
4.
Max B. Septic Abortion In: Friedmann EA, Acker DB, Sachs BP,
Obstetrical Decision Making. 2
nd
ed. B.C Decker Inc,1998: 44-5.
5.
Richard HS. Handbook of Obstetrics 3
rd
ed. New York, Down State
Medical Centre, 1997: 3-6.
6.
Saifuddin AB, Adrianz G, Wiknjosastro GH, Waspodo D. Perdarahan
pada kehamilan muda. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Ed 2, Jakarta, 2001:145-52.
7.
Rosevear S. Bleeding in early pregnancy, In: High risk pregnancy
management option. London: WB Saunders Co, 4
th
ed. 2001:75-83.
8.
Kodim N. Abortus: determinan sosial yang bermuara pada dokter. Maj.
Obstetr. Ginekol. Indon. 1999; 23:130-4.
9.
Cunningham FG, Paul MC, Leveno KJ et al. Abortion. in: William
Obstetrics, 20
th
ed. Connecticut, Appleton and Lange, 2002: 579-601.
10.
Mangku G, Wiryana M. Penatalaksanaan syok septik, Lab/SMF
Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unud/RS Sanglah Denpasar, 1997.
11.
Rattu RB. Abortus provokatus kriminalis di RSU Manado. Naskah
Lengkap KOGI II Surabaya, 1973.
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006 13
Document Outline