background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Gangguan Fungsi atau Perilaku
Seksual dan Penanggulangannya
LS. Chandra
Sanatorium Dharmawangsa Jakarta, Indonesia
PENDAHULUAN
Membicarakan hal ikhwal seksual sering menimbulkan
asosiasi pikiran tertentu yang merupakan dampak atau
konsekuensi/aspek psikososial perilaku seksual (penyeleweng-
an ekstramarital, seks premarital, seks sebelum waktunya dan
sebagainya ).
Di antara pelbagai jenis disfungsi seksual pada pria dan
wanita, yang paling umum adalah kesulitan ereksi (erectile
dysfunction), yaitu pria tidak dapat berereksi (mengalami ereksi
penis) atau bisa ereksi tapi lemah sehingga tidak dapat melaku-
kan coitus secara memadai dan mengakibatkan keluhan pada
wanita mitra seksnya. Usaha menyembuhkan gangguan/
disfungsi ini dapat mengatasi sebagian besar (tidak seluruh)
masalah yang dihadapi pasangan seks
(suami isteri). Salah satu
alasan menggunakan zat atau bahan/obat untuk fungsi seksual
adalah anggapan bahwa kemampuan/potensi seksual dapat
ditingkatkan dengan meminum obat/zat tersebut. Apa yang
dibahas dalam makalah ini mencakup hal ikhwal seks yang
berlaku segala umur tetapi terutama ditujukan untuk kelompok
individu yang mengalami kesulitan dalam menjalankan fungsi
seksual.
BATASAN
· Perilaku seksual adalah manifestasi aktivitas seksual
yang mencakup baik hubungan seks (intercourse; coitus;
cohabitatio) maupun masturbasi.
· Dorongan/Nafsu seksual adalah minat/niat seseorang
untuk memulai atau mengadakan hubungan intim (sexual
relationship).
· Kegairahan Seksual (Sexual Excitement) adalah respons
tubuh terhadap rangsangan seksual. Ada dua respons yang
mendasar yaitu myotonia (ketegangan otot yang meninggi)
dan vasocongestion (pengisian pembuluh darah dengan
cairan) terutama pada alat kelamin (Belliveau Richter,
1970).
· Disfungsi (psiko) seksual adalah gangguan respons fungsi
seksual. Pada pria : kegagalan yang menetap atau ber-
ulang, sebagian atau keseluruhan, untuk memperoleh dan
atau mempertahankan ereksi sampai terselesaikannya
aktivitas seksual. Pada wanita: kegagalan yang menetap
atau berulang, baik sebagian atau secara keseluruhan,
untuk memperoleh dan atau mempertahankan respons
lubrikasi vasokongesti sampai berakhirnya aktivitas
seksual.
Ada 6 jenis kelainan fungsi seksual (sexual dysfunction):
1. Sexual desire disorder
- Hypoactive sexual desire
- Sexual aversion disorder
- Hyperactive sexual desire
2. Sexual arousal disorder
- Erectile disorder (impotence)
- Frigidity, lack of vaginal lubrication
3. Orgasm disorder
- Premature,delayed or lack of ejaculation (pria)
- Anorgasmia (orgasmic dysfunction) (wanita)
4. Sexual pain disorder
- Vaginismus (wanita)
- Dispareunia (pria dan wanita)
5. Unspecified Sexual Dysfunction
- Orgasmic anhedonia
- Mastubatory pain
- Autoerotic asphyxiation
6. Lain-lain
- Postcoital dysphoria
- Nymphomania
Sekitar 70% disfungsi seksual (tak termasuk erectile
dysfunction disorder) disebabkan oleh faktor-faktor kejiwaan
(psikologis), terapi terutama berupa psikoterapi dan latihan
behavioral.Obat-obat hanya berperan fasilitatif atau adjunctive,
hanya digunakan pada kasus tertentu.
Organ seks manusia yang terlibat dalam hubungan intim
bukan hanya alat kelamin kedua jenis manusia (penis dan
vagina); penghayatan erotis melibatkan juga bagian atau organ
tubuh lain, bahkan yang fungsinya sangat berlainan sekalipun
(anus).
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005
14
background image
Rangkaian respons seksual ( Sexual Response Cycle ­ SRC)
Hal-hal yang terjadi saat seseorang mengalami bangkitan /
rangsang seksual (bergairah secara seksual) dan berperilaku
seksual secara umum melibatkan tahap-tahap sebagai berikut
(berlaku untuk segala umur) (Masters & Johnson, 1996):
· tahap istirahat (tidak terangsang)
· tahap rangsangan (excitement) melibatkan stimuli sensoris
· tahap plateau (pendataran)
· tahap orgasme: melibatkan ejakulasi, kontraksi otot
· tahap resolusi (mencakup pasca orgasme)
Dalam keadaan tidak terangsang, penis dalam keadaan
flaksid/ kendur, vagina dalam keadaan kering dan kendur juga.
Pada saat minat seksual timbul, karena stimuli/rangsangan
psikologis atau fisik, mulailah tahap rangsangan /excitement.
Pada pria maupun wanita ditandai dengan vasokongesti (ber-
tambahnya aliran darah ke genitalia-rongga panggul) dan
myotonia (meningkatnya ketegangan/tonus otot, terutama juga
di daerah genitalia). Vasokongesti dan myotonia merupakan
isyarat utama tahap excitement dan menyebabkan ereksi penis
pada pria serta basahnya vagina (vaginal sweating) dan ereksi
clitoris pada wanita (tidak selalu). Proses-proses ini biasanya
tidak berada di bawah kontrol kesadaran atau kemauan.
Memikirkan seks tidak selalu menimbulkan ereksi atau
basahnya vagina, begitu juga sebaliknya. Tidak selalu jelas apa
yang menyebabkan seseorang menjadi terangsang (bernafsu)
secara seksual. Kadang-kadang mudah diketahui seperti
melihat orang yang seksi/cantik/menggairahkan, melakukan
petting tetapi bisa juga tidak jelas. Apapun yang memulai,
kegairahan seksual hanya berlanjut jika stimuli psikologis dan
fisik menetap. Jika kegairahan meningkat, orang akan masuk
tahap plateau vasokongesti dan myotonia mendatar tetapi
minat seks tetap tinggi. Fase plateau dapat singkat atau lama
tergantung rangsangan dan dorongan seks individu, latihan
sosial dan konstitusi/tubuh orang itu. Sebagian orang meng-
inginkan orgasme secepatnya, yang lain dapat mengendalikan-
nya, yang lain lagi menginginkan plateau yang lama sekali.
Tahap orgasme relatif singkat saja. Ketegangan psikologis
dan otot dengan cepat meningkat, begitu juga aktivitas tubuh,
jantung dan pernapasan. Kemudian tiba-tiba terjadi pelepasan
/release ketegangan seks, disebut klimaks/orgasme. Orgasme
dapat dicetuskan secara psikologis (dengan fantasi) dan secara
somatik dengan stimulasi bagian tubuh tertentu, yang berbeda
bagi tiap orang, (biasanya penis, scrotum, testes pada pria dan
clitoris, vagina, uterus pada wanita). Tiap bagian tubuh
manusia dapat merupakan organ sexy. Daerah manapun yang
dirangsang, tempat utama kenikmatan adalah di otak, tempat
utama pelepasan adalah panggul. Pada pria orgasme biasanya
mencakup ejakulasi juga. Pada wanita dan remaja prapuber
tidak ada ejakulasi. Sesudah orgasme, pria biasanya segera
memasuki fase resolusi menjadi pasif dan tidak responsif, penis
mengalami detumescence, sering pria tertidur dalam fase ini.
Sebagian wanita juga mengalami seperti ini, tetapi sebagian
besar umumnya masih responsif secara seksual, bergairah dan
masuk ke dalam fase plateau lagi, orgasme lagi sehingga
terjadi orgasme multipel. Sesudah orgasme, baik pria maupun
wanita kembali (mengalami resolusi) ke fase istirahat.
Keduanya mengalami relaksasi mental dan fisik, merasa
sejahtera. Banyak pria dan wanita merasakan kepuasan
psikologis atau relaksasi tanpa mencapai orgasme yang lain
merasa kecewa bila tanpa orgasme. Ada banyak variasi perilaku
pria dan wanita selama orgasme. Tidak ada yang lebih baik dari
yang lainnya.
PENGARUH OBAT TERHADAP FUNGSI / PERILAKU
SEKSUAL
Sudah berabad lamanya orang mencari obat/makanan yang
dapat meningkatkan/menambah/memperbaiki kemampuan atau
kenikmatan seksualnya ("obat kuat"). Beberapa zat/obat/
makanan telah disebut-sebut memiliki khasiat aphrodisiac
disebut sex enhancers tetapi perlu diketahui bahwa penggunaan
saat tertentu dapat justru mengakibatkan berkurangnya ke-
mampuan bahkan juga kenikmatan seksual, selain efek
samping lain. Penelitian-penelitian sampai hari ini belum dapat
menemukan obat yang dapat meningkatkan kemampuan
seksual seseorang, tanpa batas, bekerja pada siapa saja.
Penggunaan obat/zat untuk maksud ini tidak hanya pada orang-
orang dewasa saja tetapi sejalan dengan meluasnya gangguan
penggunaan zat, makin banyak dijumpai orang-orang muda,
remaja yang terlibat dalam eksperimen menggunakan obat-obat
untuk menunjang perilaku seksualnya, suatu hal yang
sebetulnya tidak wajar atau tidak diperlukan.
Penggunaan obat dalam kaitannya dengan perilaku seksual
manusia dapat terjadi dalam beberapa keadaan. Dalam keadaan
normal dapat dijumpai pada pria yang mulai lanjut usia, yang
fungsi dan kemampuan seksnya telah mulai berkurang/mundur,
misalnya minum kopi beberapa saat sebelum melakukan
aktivitas seksual dapat membantu meningkatkan kemampuan
seksualnya. Demikian juga beberapa zat/bahan lain yang
mengandung kafein (coklat, kakao). Mereka yang sering gugup
bila berhadapan dengan 1awan jenisnya dapat dibantu dengan
obat penenang dalam dosis tertentu, tetapi jika dosis ini
dilampaui maka yang terjadi justru kemunduran kemampuan.
Mereka yang kurang yakin mengenai kemampuan seksual-
nya, merasa rendah diri atau malu, kadang-kadang juga
menggunakan obat atau minuman beralkohol. Seorang wanita
yang menyadari perbuatannya adalah terlarang, tetapi tak
berdaya menolaknya, dapat meminum sejenis pi1 tidur untuk
membius dirinya sesaat sebelum berkencan, agar tidak
merasakan penderitaan (merasa tertekan karena malu)
ketika melakukan hubungan yang terlarang itu. Remaja
yang menga1ami hambatan atau penyimpangan dalam per-
kembangan psikoseksualnya dapat bereksperimentasi dengan
obat-obatan untuk mendapatkan perasaan mantap dalam hal
seksual. Seseorang yang dorongan seksnya terlalu besar
sehingga sulit dikendalikan kadang-kadang meminta per-
tolongan dokter untuk mendapatkan obat penekan nafsu seks.
Demikian juga isteri atau suami yang kewalahan melayani
permintaan teman hidupnya dalam hal seks, mungkin secara
diam-diam meminta pertolongan dokter atau dukun agar diberi
obat pelemah seks untuk partnernya itu. Obat-obat yang
digunakan bukan hanya yang tergolong dapat merangsang atau
menekan seks saja, melainkan juga obat yang sebetulnya untuk
penyakit jantung misalnya vasodi1atansia atau obat untuk
infeksi alat kemaluan, atau salep pelicin. Bahaya yang dapat
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 15
background image
timbul selain penyalahgunaan dan atau ketergantungan zat/
obat, dapat berupa efek samping obat yang dipakai (insomnia,
gastritis, impotensi, tekanan darah rendah, reaksi psikotik,
radang saluran kemih dan sebagainya).
Ada sejumlah besar obat, baik yang harus diresepkan
maupun yang dapat dibeli bebas, mempunyai pengaruh
terhadap fungsi seksual manusia. Penelitian mengenai hal ini
masih amat terbatas sehingga tidak banyak diketahui tentang
peranan sesungguhnya obat-obat tersebut dalam pengaturan
fungsi seksual manusia.
Berikut daftar obat-obat nonpsikotropik atau nonpsiko-
aktif, yang dapat mempengaruhi fungsi seksual manusia.
A. Obat-obat Antihipertensi
Dapat menurunkan libido dan fungsi seks
1. Diuretika
- thiazide
- ethacrynic
acid
- furosemide
- spironolactone
2. Non-diuretika
- alpha-methy1dopa
- guanethidine
- hydralasine
- reserpine
- propranolol.
- nimodipin
- penghambat
ganglion:
pentolinium,mecamy1amine
B. Hormon
- androgen : testosteron
- anti
androgen:
estrogen
- cyprosterone
acetate
- medroxyprogesterone acetate/MPA
- kortikosteroid
- prednison,
- prednisolon
C. Psikotropika ( bahan psikoaktif)
1. Sedatif dan hipnotik
- Meprobamate : Medicar
®
- Benzodiazepin:
Chlordiazepoxide
(Librium
®
); Diaze -
pam (Valiurn
®
); Alprazolam; Clobazam dan
sebagainya)
- Barbiturat (Luminal
®
, Pentothal
®
, Nembutal
®
dan
sebagainya)
- Methaqualone
2. Antipsikotika
- Phenothiazine
(Largacti1
®,
Melleril
®
,Stelazine
®
)
- Haloperidol
(Haldol
®
, Serenace
®
)
- Monoamine-Oxidase Inhibitor (MAO-I): (Aurorix
®
)
- Tricyclic
Antidepressants
(TCAs)
- Lithium Carbonate (Priadel
®
; Theralite
®
)
- Anticholinergics (Cimetidine; Clofibrate; L-Dopa)
3. Alkohol/minuman beralkohol
4. Nikotin (tembakau, sigaret)
5. Marijuana (gelek, ganja, hasish, cimeng)
6. Opioid (heroin)
7. Amfetamin (MDMA, Ecstasy)
8. Kokain
9. Halusinogen (LSD/acid, mushroom)
SEKS DAN ALKOHOL
Alkohol dosis rendah dapat meningkatkan fungsi dan
perilaku seksual, tetapi dalam dosis tinggi dan lama akan
menimbulkan disfungsi seksual, bahkan kemandulan. Faktor
kepribadian atau kondisi mental mereka yang sedang dalam
suasana jiwa gembira, dengan minum alkohol akan bertambah
gembira, tetapi jika dalam suasana murung, malah akan makin
murung, fungsi seksnyapun akan makin buruk.
SEKS DAN NIKOTIN
Pada mereka yang tidak terbiasa merokok, mengisap rokok
sebelum coitus mungkin akan memperburuk fungsi/perilaku
seksualnya akibat intoksikasi nikotin. Banyak perokok meng-
isap rokok dulu sebelum melakukan hubungan intim karena
sudah terbiasa dan karena nikotin memberikan sedikit
rangsangan , sedikit menyegarkan (nikotin mempunyai sifat sti-
mulan).
SEKS DAN MARIJUANA
Pemakaian sekali-sekali mungkin dapat meningkatkan
fungsi seks dan fantasinya; dan seperti alkohol, bersifat
melancarkan (to facilitate). Penggunaan kronis, sama seperti
heroin/opioida akan menurunkan fungsi seks atau menyebab-
kan kemandulan karena menurunkan kadar hormon testosteron
dalam darah. Sebagian pemakai menceritakan kenikmatan seks
yang meninggi jika sebelum coitus mereka mengisap ganja.
Sebagian lagi tidak merasakan efek tersebut.
SEKS DAN OPIAT/OPIOIDA
Dosis rendah dan sekali-sekali dapat memperlambat
ejakulasi, dosis
tinggi dan kronis akan menyebabkan kemandul-
an dan penurunan fungsi seks karena menyebabkan penurunan
testosteron serum. Wanita pecandu banyak yang menggunakan
seks untuk mendapatkan uang pembeli heroin atau dimanfaat-
kan secara seksual oleh pria pengedar atau pacarnya yang
ketergantungan heroin.
SEKS DAN OBAT ANTIDEPRESAN
Obat-obat antidepresan dapat menyebabkan kesulitan
orgasme pada wanita dan kesulitan ejakulasi pada pria; yang
merupakan efek samping utama. Ini terjadi misalnya pada
antidepresan trisiklik seperti clomipramine, imipramine,
amitriptyline, dan lebih jarang oleh desipramine, amoxapine
dan nortriptyline. Untuk golongan MAO-I, tersering oleh
phenelzine. Pargyline, isocarboxazid dan tranylcypromine
kurang menyebabkan disfungsi seksual .
Untuk golongan antidepresan atipikal: trazodone me-
nyebabkan anorgasmia/inhibisi ejakulasi sertraline menyebab-
kan kelambatan ejakulasi, dan fluoxetine menyebabkan kesulit-
an orgasme atau orgasme spontan. Cyproheptadine dapat
memulihkan disfungsi ejakulasi/orgasme akibat antidepresan.
Antidepresan diperlukan dan efektif untuk disfungsi seksual
yang merupakan gejala depresi. Vilaxazine dan trazodone
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005
16
background image
dilaporkan lebih efektif daripada yang lainnya untuk mem-
perbaiki ereksi dan minat seksual pada pasien depresi.
Antidepresan juga efektif untuk sexual phobia dan
premature ejaculation. (yang terakhir ini memanfaatkan efek
samping antikholinergik) untuk ini yang tersering dipakai
adalah imipramine, walaupun yang lain juga bisa termasuk
MAO-Is. Clomipramine terkenal karena mempunyai efek
paradoksal : menginduksi atau menghambat orgasme wanita.
SEKS DAN LITHIUM
Laporan hanya sedikit terutama menurunkan dorongan
seks dan menyebabkan disfungsi ereksi.
SEKS DAN ANTIPSIKOTIKA
Efek antipsikotika terhadap fungsi seks sulit dipastikan,
karena beberapa faktor harus dipertimbangkan. Terhapuskan-
nya gejala psikotik dapat memperbaiki fungsi seks secara
keseluruhan. Pada pasien skizofrenia memang sudah terdapat
penurunan fungsi seksual sebelum onset psikosis. Efek sedatif
(dan berkurangnya mobilitas/pergerakan sebagai efek samping
ekstrapiramidal) cenderung mengurangi aktivitas /perilaku
seksual.
Kesulitan seksual yang paling sering ditimbulkan oleh obat
antipikotika adalah hambatan ejakuIasi yang paling parah oleh
Thioridazine (Melleril
®
) dan Chlorpromazine/CPZ (Largacti1
®
,
Promactil
®
). Chlorprothixene (Taractane
®
) dan Trif1uoperazine
(Stelazine
®
) kurang menyebabkan hambatan ejakulasi. CPZ
dapat menghapuskan kesulitan ejakulasi akibat thioridazine.
Begitu juga chlorprothixene dapat mengeliminir kesulitan
ejakulasi/orgasme akibat chlorpromazine. Trif1uoperazine
malah dapat menimbulkan ejakulasi spontan pada satu kasus.
Keterlambatan ejakulasi terjadi pada dosis rendah.
Hambatan ejakulasi total terlihat pada dosis thioridazine 25-
600 mg sehari.Tampaknya ada kesamaan di antara pria dan
wanita dalam hal efek samping fungsi seksual akibat medikasi
antipsikotika. Pada kebanyakan kasus, disfungsi seksual di-
alami satu sampai dua minggu sesudah medikasi antipsikotika
pada semua kasus, fungsi seksual kembali normal dalam ± 3
hari penghentian medikasi.
SEKS DAN STIMULANSIA DAN KOKAIN
Perlu dipertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut :
1. Pada pecandu amfetamin dapat dijumpai insidens yang
lebih tinggi kasus kepribadian antisosial, skizoid dan
paranoid (Ellinwood, 1967) juga cenderung terdapat
insidens problem identitas seksual yang lebih tinggi
(Mott,1972)
2. Perubahan-perubahan nafsu seks akibat penggunaan
amfetamin tampaknya berhubungan erat dengan penye-
suaian seksual (sexual adjustment) yang sudah ada :
a. Mereka
yang
sexually inhibited menga1ami pengurangan
inhibisi
b. Mereka yang terlibat praktek seksual atipikal mengalami
peningkatan perilaku (misal sadomasochisme dan incest
yang ekstrim).
Efek samping seksual stimulansia sangat bervariasi,
kadang-kadang agak saling bertentangan. Dapat terjadi
peningkatan dan penurunan nafsu seks, ereksi spontan dan
impotensi. Baik dosis dan lamanya pemakaian, cara pemakaian
(mode of use), riwayat kehidupan seks individu, setting sosial
dan bahkan harapan si pemakai merupakan faktor-faktor yang
menentukan. (Piemme,1976). Dosis rendah akan memper-
lancar, dosis tinggi akan menghambat perilaku seksual.
Berkurangnya inhibisi akibat pemakaian stimulansia dapat
meningkatkan dorongan seks dan kenikmatan. Euphoria dan
perasaan mengambang/melayang (floating sensation) akibat
pemakaian stimulansia dapat meningkatkan atau mengimitasi
pengalaman orgasme (Siegel, 1982a, Hollister , 1975). Baik
pemakai pria maupun wanita ternyata menunjukkan partisipasi
yang lebih sering dalam praktek-praktek seksual atipikal
(exhibitionisme, promiscuity, sado-masochism dan incest).
Efek samping seksual tersering : keter1ambatan atau
inhibisi ejakulasi. Tampaknya ada perbedaan mencolok dalam
sikap pria dan wanita pemakai stimulansia: para pemakai pria
berpandangan positif terhadap seks, sedangkan para pemakai
wanita lebih banyak berpandangan negatif dan tidak puas
(Ellinwood & Rockwell, 1975; Gossop, Stern, Connel 1974;
Greaves, 1972, Knapp, 1972).
SEKS DAN BUSPIRON (Buspar
®
)
Buspiron mernpengaruhi sistem neurotransimter seroto-
nergik, dopaminergik dan noradrenergik (McEvoy, 1990).
Pasien disfungsi seksual yang memperoleh buspiron maksi-
mum 60 mg/hari sampai 4 minggu menunjukkan perbaikan
fungsi seksual.
SEKS DAN FENFLURAMIN
Obat ini bersifat anti obesitas, anorektik dan mendepresi
SSP, meningkatkan pelepasan serotonin dan menghambat
ambilan kembali serotonin (McEvoy,1990). Dapat menurunkan
dorongan/nafsu seks pada dosis 120 mg/hari (Hughes, 1971)
dan 240 mg/hari (Sroule, 1971), mungkin karena efek samping-
nya (disforia, perut kembung, kramp perut, konstipasi dan
anxietas (O'Keane & Dinan, 1991). Impotensi dilaporkan oleh
Hollingsworth & Amatruda (1969). Stevenson & Solyom
(1990) melaporkan dua kasus dorongan seks meninggi (dosis
60 mg/hari) pada dosis 120 mg/hari pasien mengalami
preokupasi seks terus menerus, yang berkurang dan 1enyap
sesudah 7 hari penghentian obat ketika obat diberikan lagi,
libido meningkat lagi dalam 4 hari.
SEKS DAN LSD. (halusinogenik, serotonin agonist dan
antagonist, norepinephrine blocking, dopamine agonist.)
Pada pasien dengan kelainan psikoseksual, LSD 25-100
mcg. seminggu selama 2 bulan dapat meningkatkan fungsi
seksual (MacCal1um, 1968).
SEKS DAN ANKSIOLITIK
Bensodiazepin dapat bermanfaat untuk mendatangkan
keadaan relaks yang diperlukan untuk aktivitas seksual tetapi
juga dapat mengganggu respons seksual karena itu harus
diberikan secara hati-hati, dimulai dengan dosis rendah,
disesuaikan dengan kebutuhan dan dihentikan segera setelah
cara lain sudah dikuasai oleh pasien. Jika disfungsi seksual
rnerupakan bagian dari gangguan cemas, pemberian anti
anksietas harus menuruti prinsip pengobatan neurosis.
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 17
background image
Alprazolam yang dikenal bermanfaat untuk serangan panik
ternyata lebih efektif dibandingkan antianksietas lain untuk
mengurangi sexual phobia atau anticipatory anxiety selama
coitus.
SEKS DAN BARBITURAT
Barbiturat kadang-kadang digunakan o1eh sex therapist
untuk hipnosis agar mengatasi hambatan psikologis pasien
dalam hal seks. Harus ada informed consent dan hati-hati agar
terhindar dari tuntutan hukum. Kadang-kadang digunakan juga
pada kasus vaginismus untuk mendatangkan tidur sehingga
dapat dilakukan dilatasi vagina, tetapi jarang efektif dan dapat
menimbulkan trauma psikologis lebih lanjut.
PENUTUP
Walaupun telah ratusan tahun lamanya mencari dan meng-
gunakan obat atau bahan untuk meningkatkan potensi/
kemampuan seksual, masih sedikit data hasi1 penelitian yang
terkontrol baik dan objektif. Menggunakan obat-obatan untuk
maksud tersebut tanpa panduan dokter dapat mendatangkan
bahaya. Penanggulangan gangguan fungsi ereksi diharapkan
dapat membantu pasangan seks untuk melakukan coitus secara
memadai.
KEPUSTAKAAN
1.
Diamond M, Karlens A. Sexual Decisions. Boston: Little,Brown & Co.
1980.
2.
Kelodny RC. et al. Textbook of Sexual Medicine; Boston: Little Brown
& Co,1979.
3.
Williams G.MS. Management of Impotence. Medicine Digest 1991; 9 (6)
4. Meston CM, Gorzalka BE. Psychoactive Drugs and Human Sexual
Behavior: the role of serotonergic activity. J. Psychoactive Drugs 1992 ;
24(1).
5. Ng ML.Treatment of Functional Sexual Disorder, the role of drugs.
Med.Progr. 1994; 21(8)
LAMPIRAN:
BEBERAPA MEDIKASI UNTUK DISFUNGSI SEKSUAL
1. Untuk sexual desire disorders
-
Hyperactive desire : Thioridazine; CPZ; Cyprosterone
acetate; Medroxyprogesterone acetate (im)
- Hypoactive desire: 5 Testosterone (hanya untuk pria),
Ephedrine; Bromocriptine, Levodopa.
-
Sex phobia : Alprazolam (Xanax®)
2. Untuk sexual arousal disorders
- Erectile disorder: Viloxasin, Trazodone, Yohimbine;
Gonadotropin releasing hormone (inhaler), Prostaglandin
E (intracaversona1 )
- Vaginal dryness: estrogen pada menopause/ oophorectorny
3. Orgasmic disorders
-
Premature ejaculation : imipramine, thioridazine, phenoxy-
benzamine
-
Retarded ejaculation (anejaculation): ephedrine
-
Anorgasmia/orgasmic dysfunction: diazepam
4. Sexual pain disorder
-
Vaginismus/dyspareunia : diazepam
5. Lain-lain
- nymphomania/sex offenders : medroxyprogesterone
acetate im, cyproterone acetate
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005
18

Document Outline