background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Terapi Akupunktur
untuk Pengidap Virus Hepatitis B
Fidelis Zaini, Mitzy, Dharma K. Widya
Bagian Akupunktur, RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Saat ini akupunktur m
PENDAHULUAN
Infeksi virus hepatitis B saat ini mulai merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang besar serta serius, karena selain
manifestasinya sebagai penyakit hepatitis virus B akut beserta
kompiikasinya, Lebih penting ialah dalam bentuknya sebagai
pengidap HBsAg kronik, yang dapat merupakan sumber pe-
nularan bagi lingkungannya
(1)
. Setiap tahun jumlah pengidap
makin bertambah, karena reservoir pengida
ABSTRAK
Pengidap virus hepatitis B merupakan masalah kesehatan, karena mempunyai pre-
valensi tinggi, terutama di Asia dan Afrika.
asih menjumpai banyak kendala. Peng-
ngobatan dengan interferon belum memuas-
ya proses pada pengidap virus hepatitis B
an mengusir faktor patogen.
p virus hepatitis B
yang
anya variasi yang besar, berkisar
dari 2­19%, menurut WHO termasuk dalam negara dengan
katagori prevalensi sedang sampai tinggi
(1)
.
Hasil pengobatan hepatitis B sampai saat ini masih menge-
cewakan, sebagian akan berlanjut ke taraf sirosis hati dan kanker
hati
(1)
. Vaksinasi memberikan harapan, tetapi dampaknya bagi
masyarakat baru akan terlihat sesudah puluhan tahun kemudian,
apalagi dengan biaya vaksinasi yang belum terjangkau oleh se-
bagian besar masyarakat kita.
emberikan harapan dalam terapi,
arena akupunktur dapat meregulasi imunitas tubuh, baik yang
pun yang non spesifik, sehingga akan meningkatkan
daya
edangkan di Indonesia sampai saat ini belum ada
pene
eksi tersebut, walaupun dia dapat menjadi sumber
penularan.
Pengertian ini sulit diterapkan untuk infeksi HBV, karena
sulit untuk memastikan ada atau tidaknya kelainan hati pada
seorang pengidap, tanpa melakukan suatu pemeriksaan yang
invasif (biopsi hati). Karena itu dibuat suatu definisi operasional
yang praktis pengidap virus hepatitis B yaitu adanya HBsAg
yang positif tanpa gejala, tanpa melihat ada atau tidaknya ke-
lainan hati
(4)
.
cukup besar merupakan wadah penularan yang terus menerus
untuk sekitarnya. Saat ini di seluruh dunia diperkirakan lebih
300 juta orang pengidap virus hepatitis B persisten, hampir 74%
(lebih dari 220 juta) pengidap virus hepatitis B bermukim di
negara-negara Asia . Di Indonesia prevalensi pengidap virus
hepatitis B memperlihatkan ad
(2)
k
spesifik mau
tahan tubuh, termasuk di dalamnya terhadap hepatitis B
(3)
.
Wang Xinyao dan Qiu Maoliang melakukan terapi aku-
punktur pada pengidap virus hepatitis B dengan hasil 72,86%
efektif
(3)
. S
litian mengenai hasil pengobatan dengan akupunktur pada
pengidap virus hepatitis B.
DEFINISI
Pengidap virus hepatitis B adalah individu yang terkena
infeksi virus hepatitis B (HBV), tetapi tidak menderita penyakit
hati akibat inf
Penanggulangan secara kedokteran barat
obatan masih bersifat suportif, sedangkan pe
kan, selain mahal dan banyak efek samping.
Akupunktur dapat mencegah berlanjutn
dengan cara menguatkan daya tahan tubuh d
m
Cermin Dunia Kedokteran No. 105, 1995 15
background image
ETIOLOGI
Virus hepatitis 8 tampak di bawah mikroskop elektron se-
bagai partikel dua lapis berukuran 42 nm yang disebut partikel
Dane. Lapisan luarvirus ini terdiri atas antigen,disingkat HBsAg.
Antigen permukaan ini membungkus bagian dalam virus yang
disebut partikel inti atau core. Partikel inti ini berukuran 27 nm
dan dalam darah selalu terbungkus oleh antigen permukaan.
Sedangkan antigen permukaan selain merupakan pembungkus
partikel inti, juga terdapat dalam bentuk lepas berupa partikel
bulat berukuran 22 nm dan partikel tubular yang berukuran
sama dengan panjang berkisar antara 50­250 nm
(5)
.
CARA PENULARAN
(2)
Penularan infeksi HBV dapat dengan pola horisontal mau-
pun vertikal.
Pola penularan horisontal dapat melalui dua jalur, yaitu:
1) Penularan melalui kulit
Virus hepatitis B tidak dapat menembus kulit yang utuh,
maka infeksi HBV melalui kulit hanya dapat terjadi melalui 2
cara, yaitu dengan ditembusnya kulit oleh tusukan jarum atan
alat lain yang tercemar bahan infektif, atau melalui kontak
antara bahan yang infektif dengan kulit yang sudah mengalami
perubahan/lesi.
2) Penularan melalui mukosa
Mukosa dapat menjadi port d'entre infeksi HBV, yaitu
melalui mulut, mata, hidung, saluran makan bagian bawah, alat
kelamin.
Pengidap HBsAg merupakan suatu kondisi yang infeksius
untuk lingkungan karena sekret tubuhnya juga mengandung
banyak partikel HBV yang infektif; saliva, semen, sekret vagina.
Dengan demikian kontak erat antara individu yang melibatkan
sekret-sekret tersebut, dapat menularkan infeksi HBV, misal
perawatan gigi, dan yang sangat penting secara epidemiologis
adalah penularan melalui hubungan seksual.
Pola penularan vertikal yaitu dari ibu hamil yang mengidap
infeksi HBV kepada bayi yang dilahirkan. Penularan infeksi
HBV terjadi saat proses persalinan oleh karena adanya kontak
atau paparan dengan sekret yang mengandung HBV (cairan
amnion, darah ibu, sekret vagina) pada kulit bayi dengan lesi
(abrasi) dan pada mukosa (konjungtiva); penularan mungkin
juga terjadi karena tertelannya cairan amnion yang mengandung
HBsAg oleh neonatus. Hanya sebagian kecil dari penularan
vertikal, 5­10%, terjadi pranatal, yaitu transpiasental (in-utero).
DIAGNOSIS
Ditemukan HBsAg positif pada darah penderita.
TERAPI
Sampai saat ini belum ditemukan pengobatan yang spesifik
untuk infeksi virus hepatitis B. Pengobatan umumnya bersifat
suportif. Terapi anti viral dengan pemberian interferon atau
adenin arabinosa masih dalam penelitian, hasilnya masih belum
memuaskan dan efek sampingnya banyak.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Wang Xinyao dan Qiu
Maoliang, pengidap virus hepatitis B dapat ditemukan dalam 3
tipe kelainan, yaitu
(3)
:
I) Insufisiensi limpa
Sedikit kelainan, berat badan normal atau sedikit gemuk,
lidah pucat dan besar, selaput lidah putih tipis atau tipis kotor,
nadi pelan atau pelan halus.
2) Insufisiensi limpa dengan reak panas
Sedikit kelainan, berat badan normal atau sedikit gemuk,
lidah merah muda atau sedikit merah, selaput lidah tipis kuning
atau kuning kotor, nadi halus dan licin atau lambat dan halus.
3) Defisiensi Yin
Tampak kemerahan di regio zygomatik, berat badan
sedikit kurang, lidah merah dan pecah, selaput lidah tipis dan
kering, nadi kecil dan halus atau kecil dan cepat.
Di samping itu, pada beberapa pengidap virus hepatitis B
tidak ditemukan kelainan baik dalam lidah, nadi maupun berat
badan.
Terapi yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan daya
tahan tubuh dan mengusir faktor patogen.
Titik utama yang dipakai adalah:
­ Cu San Li (III,36), metode penguatan dan moksibusi
­ Kuan Yen (XIII,4) atau Ci Hai (XIII,6), dengan moksibusi
­ Ta Cui (XIV, 14), metode penguatan perlemahan
­ San Jin Ciau (IV,6), metode penguatan perlemahan
Titik tambahan:
­ Sing Cien (XII,2), Yin Ling Cuen (IV,9) bila ada reak
panas, dengan metode perlemahan
­ Tai Si (V11I,3), dikuatkan bila ada defisiensi yin.
Jarum ditinggalkan 20­30 menit, dirangsang setiap 5 menit.
Serninggu 3 kali, lama pengobatan 3 bulan.
Hasil pengobatan setelah 3 bulan, keberhasilan mencapai
72,86%.
Penjaruman dan moksibusi Cu San Li (III,36) adalah untuk
menguatkan limpa dan lambung. Moksibusi Kuan Yen (XIII,4)
dan Ci Hai (XIII,6) untuk menguatkan ginjal serta memperkuat
primordial Ci. Penjaruman San Jin Ciao (IV,6) adalah untuk
membantu Cu San Li (III,36) menguatkan limpa dan lambung,
juga untuk menghilangkan reak dan meregulasi Ci dan Sie.
Penjaruman Ta Cui (XIV,14) adalah untuk memulihkan fungsi
meridian Yang. Dengan menguatkan limpa dan ginjal, member-
sihkan panas dan menghilangkan reak, membuat vital Ci
menang dan mengusir Ci jahat.
Penelitian Chou Yufeng dkk
(6)
. memakai titik-titik yang
sama untuk menginduksi interferon pada lekosit darah tepi; se-
telah diakupunktur selama 1,5 bulan didapat peningkatan kadar
interferon, dan akan menurun secara perlahan setelah 3 bulan.
Pada penderita dengan peningkatan kadar interferon, juga di-
sertai penurunan titer HBsAg, sebagian menjadi negatif,
HBeAg positif menjadi negatif, dan HBeAb negatif menjadi
positif. Hal ini menunjukkan bahwa akupunktur dapat meng-
hambat duplikasi HBV.
Untuk mendapatkan hasil yang baik dengan kadar interferon
yang cukup tinggi harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) Ketepatan memilih titik sesuai dengan gejala dan kelainan
Cermin Dunia Kedokteran No. 105, 1995
16
background image
yang ditemukan.
2) Variasi dalam manipulasi jarum.
3) Istirahat yang cukup di selang waktu akupunktur.
PROGNOSIS
Prognosis pengidap virus hepatitis B sangat tergantung dari
kelainan histologis yang didapatkan padajaringan hati. Semakin
lama seseorang mengidap infeksi HBV maka semakin besar
kemungkinan untuk menderita penyakit hati kronik akibat in-
feksi HBV tersebut.
Penelitian menunjukkan bahwa 40% pengidap infeksi
HBV kronik yang dapat mencapai usia dewasa akan meninggal
akibat penyakit hati akibat HBV misalnya sirosis hati atau
kanker hati
(4)
.
PEMBICARAAN
Dalam kedokteran Barat, bila seorang menjadi pengidap
virus hepatitis B kronik, tidak ada gejala klinis yang dapat ter-
lihat sebelum terjadi penyakit hati kronik atau sainpai kanker
hati. Secara kedokteran Timur, pengidap HBV dapat ditemukan
dalam bentuk insufisiensi limpa, insufisiensi limpa dengan reak
panas atau defisiensi Yin.
Dalam kedokteran Barat terapi umumnya bersifat suportif,
karena sampai saat ini terapi dengan antiviral seperti interferon,
adenin arabinosa masih belum memuaskan. Secara kedokteran
Timur, Wang Xinyao dkk. melakukan terapi akupunktur dan
moksibusi pada pengidap virus hepatitis B dengan keberhasilan
72,86%. Chou Yufeng dkk. melakukan penelitian kadar inter-
feron pada pengidap virus hepatitis B; setelah diakupunktur
didapat peningkatan titer interferon disertai penurunan titer
HBsAg, HBeAg menjadi negatif dan BHeAb menjadi positif.
Dari hasil pembicaraan di atas dapat disimpulkan bahwa
terapi akupunktur dan moksibusi untuk pengidap virus hepatitis
B saat ini diharapkan dapat mencegah meluasnya pengidap virus
hepatitis B, juga untuk mencegah pengidap virus hepatitis B
berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati, mengingat peng-
obatan dengan interferon secara kedokteran Barat belum me-
muaskan selain mahal dan banyak efek sampingnya.
KEPUSTAKAAN
1. Sulaiman A. Infeksi virus hepatitis B, sirosis hati dan karsinoma hepato-
seluler. (Disertasi untuk memperoleh gelar Doktor dalam Ilmu Kedokteran
pada Sekolah Kedokteran Universitas Kobe). 1989; 1­4.
2. Rahardja H. Hepatitis B. Dalam: Sulaiman A, Daldiyono, Akbar N, Rani A.
Gastroenterologi Hepatologi. Jakarta: Infomedika, 1990; 265­66.
3. Wang X, Qiu M. Acupuncture and moxibustion in the treatment of Asympto-
matic hepatitis B virus carriers by strengthening the body resistance to
eliminate pathogenic factors : A clinical and experimental study. mt J Clin
Acup. 1991; 2(2): 117­25.
4. Soemohardjo S. Pengidap virus hepatitis B. Dalam: Sulaiman A, Daldiyono,
Akbar N, Rani A. Gastroenterologi Hepatologi. Jakarta: Infomedika, 1990;
29 1­93.
5. Suwognyo, Akbar N. Hepatitis virus B. Dalam: Soeparman. Ilmu penyakit
dalam. edisi kedua. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 1987; 593­601.
6. Chou Y, Tao M. Qiu M. Influence of acupuncture on the induction of inter-
feron by peripheral leucocytes of Asymptomatic hepatitis B virus carriers.
Int J Clin Acup. 1991; 2(3): 255­60.
Cermin Dunia Kedokteran No. 105, 1995 17