background image
HASIL PENELITIAN
Status Penyakit Gigi Mulut dan
Perilaku Anak
terhadap Kesehatan Gigi
di Klinik Afia, Beji, Depok I
Yuyus. R
Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Pembangunan Kesehatan bertujuan meningkatkan kesadar-
an, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar
terwujud derajat kesehatan. Untuk mencapai tujuan tersebut di-
perlukan peningkatan sumber daya manusia serta kualitas hidup,
peningkatan kesejahteraan keluarga dan masyarakat serta mem-
pertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat.
Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral kesehatan
secara keseluruhan dan perihal hidup sehingga perlu dibudaya-
kan di seluruh lapisan masyarakat
(1)
.
Apabila masalah karies dibiarkan dan kecenderungan pe-
ningkatannya di masa mendatang tidak dicegah, dampaknya
akan sangat merugikan seluruh masyarakat. Akibat penyakit
karies antara lain : rasa sakit, gangguan fungsi kunyah yang
menghambat konsumsi makanan/nutrisi, gangguan kenyaman-
an berupa gangguan tidur, gangguan konsentrasi belajar dan
produktivitas kerja. hilangnya kesempatan menerjuni bidang
karier tertentu misalnya masuk ABRI, penerbang atau pra-
mugari, yang akhirnya mempengaruhi kualitas sumber daya
manusia
(2)
.
Survai Badan Litbangkes dan Dinas Kesehatan DKI pada
tahun 1993, dengan sampel 1000 anak balita di Posyandu di 5
Wilayah DKI menemukan, 85.9% gigi berlubang/karies, 20.3%
sering mengeluh sakit, 15.6% sering rewel/susah makan
(3)
.
Penyakit gigi dan mulut yang banyak diderita anak-anak
maupun dewasa adalah penyakit pada jaringan keras gigi yaitu
karies, yang dipengaruhi oleh konsumsi refined carbohydrate
seperti gula-gula/biskuit, makanan lunak tidak berserat, yang
bersifat kariogenik.
Tujuan WHO pada tahun 2000 untuk DMF-T pada usia 12
tahun kurang atau sama dengan 3
(4)
.
BAHAN DAN CARA
Data didapat dari laporan kasus klinik gigi AFIA daerah
Beji Depok 1 pada bulan Januari­Desember 1992. Jumlah yang
datang berobat 156 anak, terdiri 84 anak perempuan dan 72 anak
laki-laki yang diperiksa keadaan gigi dan mulutnya. Pemeriksa-
an dilakukan dengan kaca mulut dan sonde, anak diperiksa di
poliklinik gigi dan diterangi dengan lampu dental unit kemudian
dicatat pada kartu status keadaan gigi berlubang, gigi dicabut,
gigi ditambal, saku gusi, abses, yang terkena tetrasiklin, anomali
dentofasial. Perilaku diketahui melalui wawancara langsung
pada anak dan orang tua sebagai pendamping sewaktu datang
berobat, lalu dicatat pada formulir perawatan kesehatan gigi dari
UKGS. Anak dikelompokkan menjadi lima kelompok usia 4­6
tahun, 7­8 tahun, 9­10 tahun, 11­12 tahun dan 13­18 tahun
(5)
.
HASIL
Hasil pemeriksaan diketemukan beberapa penyakit gigi
yaitu karies gigi, gigi yang hilang, gigi ditambal, abses, saku
gusi, warna coklat/kuning terkena obat tetrasiklin, anomali
dentalfasial. (Tabel 1)
Pada kelompok umur 7­8 tahun karies di molar permanen
bawah, rata-rata DMFT 0.2, lebih banyak daripada molar atas
dengan rata-rata DMFT 0.04. Pada kelompok umur 9­10 tahun,
karies di molar permanen rahang atas rata-rata DMFT 0.05
sedangkan molar permanen bawah rata-rata DMFT 1.7, kelompok
umur 11­12 tahun rata-rata DMFT 2.3, pada molar rahang bawah
dan rata-rata DMFT 1.8 pada molar rahang atas. (Tabel 2)
Anak laki-laki yang mengikuti program sikat gigi sesuai
anjuran Depkesada 3 3,3% (Tabel 3) sedangkan anak perempuan
ada 34,5% dan yang lain-lain termasuk sikat gigi bangun pagi
dan setiap habis mandi, sil gigi sehabis mandi pagi dan sore,
baik pada anak laki-laki dan perempuan lebih 50-%.
Anak pria dan anak wanita semua mempunyai sikat gigi,
sikat gigi ni1ik sendiri pada anak pria 94,4% dan pada anak
wanita 04,0%, berarti yang punya sikat gigi, belum tentu milik
sendiri, satu sikat gigi dapat dipakai berganti-ganti (Tabel 4).
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 15
background image
Tabel 1. Macam Penyakit di Klinik Gigi AFIA, Januari­Desember 1992
Pria Wanita
Jenis Penyakit Gigi
n n
Karies Dentis
Abses
Saku Gusi
Coklat/kuning pada gigi
Anomali DentoFasial
49
12
3
2
11
62
10
4
3
9
Tabel 2. Jumlah DMFT pada Kelompok Umur di Klinik Gigi AFIA,
Januari­Desember
1992
Kelompok Umur
N
Mean DMFT
4 - 6 tahun
7 - 8 tahun
9 - 10 tahun
11 - 12 tahun
13 - 18 tahun
54
57
20
11
14
2.7
3.2
3.4
2.1
2.8
Tabel 3. Perilaku Mengenal Waktu Sikat Gigi Januari­Desember 1992
Sesudah sarapan dan sesudah makan malam Lain-lain
N n
% n %
Laki-laki 72
24
33,3
48 66,7
Perempuan 84
29
34,5
55 65,5
Tabel 4. Jumlah anak dan % dalam perilaku mempunyai sikat gigi
Januari-Desember
1992
Punya sikat gigi
Milik sendiri
n
%
n
%
Laki-laki 72 100 68 94,4%
Perempuan 84 100 79 94,0%
PEMBAHASAN
Pada penelitian di JawaTengah(1985) 14,8% menyikat gigi
sesudah makan, 4,3% menyikat gigi sebelum tidur malam dan
13,6% menyikat gigi sesudah makan dan sebelum tidur, 67,3%
jawaban yang salah berdasarkan tahap UKGS. Jumlah anak
yang menyatakan lama sakit gigi dan lama tidak masuk sekolah
selama 1 hari ada 67,3%, berarti anak tidak menunggu beberapa
hari untuk pergi berobat
(7)
.
Hasil Survai Sosial Ekonomi Kesehatan tahun 1992, lapor-
an BPS dan Badan Litbang Kesehatan yang melakukan survai
Kesehatan Rumah Tangga dengan jumlah sampel 65.664 rumah
tangga di perkotaan dan pedesaan menunjukkan bahwa persen-
tase penduduk yang selama satu bulan yang lalu sakit gigi paling
tinggi di perkotaan Propinsi Kalimantan Tengah 7,46% dan yang
paling rendah di Propinsi Sulawesi Utara 1,98% dan di pedesa
an yang paling tinggi di Kalimantan Timur 7,57% yang paling
rendah di Propinsi Nusa Tenggara Barat 1,60%
(9)
.
Kesadaran dan perilaku masyarakat dalam mencari peng-
obatan masih rendah, dapat diukur dengan ratio tindakan pe-
nambalan berbanding pencabutan di puskesmas adalah 1:4
(9)
.
KESIMPULAN DAN SARAN
Persepsi masyarakat terhadap kesehatan gigi dan mulut
masih rendah, motivasi masyarakat untuk pergi berobat belum
sedini mungkin. Melihat besarnya angka karies gigi, usaha
preventif perlu ditingkatkan melalui penyuluhan di sekolah-
sekolah di PKK dan di Posyandu.
Tindakan kuratif perlu ditingkatkan terutama dalam ke-
giatan tumpatan/penambalan selain itu pendayagunaan guru/
dokter kecil perlu lebih dipertajam dengan petunjuk yang lebih
praktis dan UKGS (Usaha Kesehatan Gigi Sekolah). Perlu ada-
nya pembinaan yang sistematis agar kegiatan UKOS lebih sera-
gam dan lebih intensif, baik dan segi kualitas maupun kuantitas.
Penyuluhan kesehatan gigi pada orang dewasa terutama ibu-
ibu hamil/orangtua murid lebib ditingkatkan dan disarankan agar
mengutamakan makanan-makanan berserat yang lebih menarik
untuk anak-anak daripada makanan yang lunak bersifat karioge-
nik.
KEPUSTAKAAN
1. Sistim
Kesehatan
Nasional.
Departemen Kesehatan RI, 1982.
2.
Leimena SL. Kebijaksanaan Program Kesehatan Gigi dan Mulut
Masyarakat, Seminar Sehari tentang Peningkatan Pemanfaatan Sarana
Pelayanan Kesgig OIeh Masyarakat. Jakarta, 1994.
3. Andreas. Cara Pemeliharaan Gigi Yang Baik. Seminar Sehari Peningkatan
Pemanfaatan Sarana Pelayanan Kesgigi Oleh Masyarakal. Jakarta, 1994,
hal 17­21.
4. Towards a Better Oral Health Future. The Information Material Produced
by the Oral Health Unit, WHO Head Quarters, 1994; p 120­30.
5. Oral Health Survey, Basic Method, 2nd ed. WHO Geneva, 1977.
6. Buku Pedoman UKGS. Direktorat Kesehatan Gigi, Departemen Kesehatan
RI, 1992.
7. Kristanti. Survei Perilaku Kesehatan Gigi Anak SD di Daerah Jawa
Tengah, 1985.
8. Ratna. Survei Kesehatan Rumah Tangga Badan Litbangkes, Jakarta, 1986.
9. Hasil Survei Sosial Ekonomi Kesehatan. BPS dan Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, Jakarta, 1992.
It is the highest wisdom not to be always wise
(M. Opitz)
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996
16