TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Radioterapi dengan Partikel Nuklir
Mukhlis Akhadi
Pusat Standardisasi dan Penelitian Kesehatan Radiasi, Badan Tenaga Atom Narional Jakarta
PENDAHULUAN
Aplikasi teknik nuklir dalam bidang kedokteran terus
menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu. Pemanfaatan
teknik nuklir ini meliputi tindakan-lindakan radiodiagnosis,
radioterapi dan kedokteran nuklir. Ketigajenis kegiatan tersebut
umumnya menggunakan sumber radiasi yang spesifikasi fisik-
nya berbeda-beda. Ada dua jenis somber radiasi, yaitu sumber
terbungkus dan sumberterbuka. Radiasi dari sumber terbungkus
digunakan dalam radioterapi untuk pengobatan tumor yang
bersarang di dalam tubuh. Sedang radiasi dari sumber terbuka
digunakan dalam kegiatan kedokteran nuklir untuk tujuan
diagnosis, terapi dan panditian medik. Thlisan ini hanya akan
membahas tentang aplikasi teknik nuklir untuk tujuan terapi.
Penggunaan radiasi pengion untuk tujuan terapi dikenal
dengan sebutan radioterapi. Radiui ini dapat dipakai untuk
terapi kanker jenis tertentu yang bersarang di dalam tubuh
manusia. Tentu saja tidak semua jenis kanker dapat diobati
dengan teknik radioterapi karena keterbatasan radiasi dalam
membunuh sel kanker. terapi kanker dengan radiasi dimung-
kinkan karena sel-sel kanker secara umum mempunyai kepekaan
yang lebih tinggi terhadap radiasi pengion dibandingkan sel-
sel normal
(1)
. Dengan pengaturan pemberian dosis radiasi secara
tepat, radiasi tersebut dapat membunuh sel-sel kanker dengan
sedikit efek kerusakan tethadap sel-sel normal di sekitanya.
RADIOTERAPI DENGAN PROTON
Proton memberikan banyak harapan pada para ahli radio-
logi untuk pengobatan kanker dengan ketepatan tinggi
(2)
. Sejak
tahun 1946, fisikawan Robert Wilson dari Harvard telah
menyadari kcmungkinan pemanfaatan proton untuk tujuan
pengobatan. Wilson mengamati babwa bake proton dengan
energi tertentu bergerak menempuh garis lurus dengan panjang
jejak relatif sama. Hal ini beartijika berkas proton ditembakkan
ke organ tubuh, volume organ yang teradiasi proton itu adalah
seluas berkas proton dikalikan panjang jejaknya di dalam tubuh.
Wilson juga mengamati bahwa bakes proton akan kehilangan
sebagian besar energinya pada akhir lintasannya. Oleh sebab
itu, berkas proton akan memberikan sebagian besar dosis radiasi-
nya pada organ wbub di akhir lintasannya
(3)
. Sifat ini dapat
dimanfaatkan untuk mengkonsentrasikan sebagian besar dosis
radiasi proton pada suatu daerah tempat kanker bersarang.
Dengan teknik ini, sel-sel di permukaan tubuh yang dilalui
berkas proton tidak banyak mengalami kerusakan. Jadi proton
akan jauh lebih efektif dibandingkan dengan sinar- jika dipakai
untuk radioterapi kanker yang bersarang di kedalaman jauh di
bawah permukaan tubuh.
Sifat menguntungkan lainnya yang dimiliki proton adalah
bahwa panjang jejaknya di dalam tubuh sangat ditentukan oleh
bead magi yang dimilikinya
(2)
. Semakin besar energi proton,
akan semakin panjang lintasannya. Sifat ini sangat menguntung-
kan karena pemberian dosis radiasi pada kanker yang bersarang
di kedalaman tubuh dapat diatur melalui pengaturan energi
proton yang akan ditembakkan ke sasaran itu. Dengan pengatur-
an energi yang tepat, berkas proton mampu mencapai tempat
kanker bersarang dan akan menyerahkan sebagian besarenergi-
nya ke sasaran yang dituju. Dengan teknik ini, sel-sel normal
yang dilalui berkas proton yang berada di antara permukaan
tubuh dan tempat kanker bersarang tidak akan banyak meng-
alami kerusakan.
Proton merupakan partikel nuklir bermuatan positif se-
hingga dapat dipercepat di dalam akselerator
(4)
. Mempercepat
gerak proton ini bertujuan untuk mendapatkan proton dengan
energi sesuai dengan yang diinginkan. Karena dapat dipercepat,
maka energi proton dapat diatur sedemikian rupa disesuaikan
dengan kedalaman organ tempat kanker bersarang.
Keuntungan yang paling utama dan tidak dimiliki oleh
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999 13
teknik radioterapi kanker lainnya adalah bahwa berkas proton
dapat diarahkan secara tepat menuju sasaran. Karena proton
bermuatan listrik, maka berkas itu dapat diarahkan dengan
medan magnet dari luar
(4)
. Itulah sebabnya, proton dapat dipakai
untuk radioterapi kanker yang bersarang dalam organ tubuh
yang sangat sensitif seperti mata dan otak. Karena gerakan
proton dapat diarahkan, maka proton tidak akan mengalami
banyak hamburan ketika bertabrakan dengan inti atom sel-sel
dalam tubuh. Dengan demikian para dokter dapat memberikan
dosis proton kepada pasien dalam jumlah besar tanpa ada rasa
takut akan timbulnya efek samping terhadap sel-sel normal di
sekelilingnya. Dalam radioterapi dengan proton ini, dosis radiasi
yang diberikan kepada pasien bisa tiga kali lebih besar diban-
dingkan jika radioterapi dilakukan dengan sinar-.
Teknik radioterapi dengan proton telah diuji coba peng-
gunaannya di berbagai negara maju. Fermi lab telah meng-
upayakan pembuatan alat pemercepat partikel ukuran kecil
dengan panjang melintang kurang dari 6 m. Setelah diuji coba,
mesin tersebut kemudian dipindahkan ke Pusat Media Univer-
sitas Loma Linda di bagian selatan California. Alat ini merupa-
kan pemercepat partikel permma di dunia yang dipakai untuk
radioterapi kanker dengan proton. Proyek di Loma Linda akhir-
nya membangkitkan kesadaran para pakar radioterapi di seluruh
dunia, bahwa berkas proton dapat dimanfaatkan secara efektif
untuk radioterapi kanker dengan ketepatan tinggi, bahkan untuk
kanker yang bersarang di tempat sangat sensitif yang tidak bisa
dijangkau dengan teknik pengobatan lainnya. Beberapa pusat
riset fisika nuklir seperti Harvard (AS), Uppsala (Swedia) dan
Louvain-La-Neuva (Belgia) telah melengkapi akseleratornya
dengan berkas proton untuk radioterapi kanker
(2)
.
RADIOTERAPI DENGAN TEKNIK BNCT
Beberapa reaktor penelitian dilengkapi dengan tabung
berkas neutron untuk radioterapi. Berkas neutron apabila di-
lewatkan pada jaringan tubuh manusia dapat menimbulkan
kerusakan yang jauh lebih parah dibandingkan sinar-
(1)
.
Masalahnya adalah bagaimana cars memanfaatkan neutron itu
untuk radioterapi tanpa menimbulkan kerusakan yang berarti
pada jaringan sehat di sekitamya. Sebuah solusi yang menarik
adalah melakukan penyinaran neutron terhadap jaringan tumor
yang mengandung unsur kimia boron (B). Metode radioterapi
kanker ini dikenal dengan boron neutron capture therapy
(BNCT) yang memanfaatkan reaksi tangkapan nuklir antara
unsur kimia boron-10 (
10
B) dengan neutron (n)
(5)
.
Dengan
teknik ini dosis neutron yang digunakan untuk irradiasi dapat
dikurangi, namun efek merusak terhadap sel kanker justru
meningkat.
Teknik BNCT pertama kali diperkenalkan pada tahun 1936
oleh Gordon L. Locher. Namun untuk pemanfaatannya saat itu
masih mengalami dua kendala utama, yaitu bagaimana cara
menempatkan
10
B
yang cukup memadai pada sel-sel kanker,
dan bagaimana cara menembakkan neutron agar dapat ditang-
kap unsur tersebut sehingga terjadi reaksi nuklir tanpa mem-
berikan efek yang berarti terhadap sel-sel normal di sekitarnya.
Studi klinis BNCT dilakukan mulai pada tahun 1950-an hingga
awal tahun 1960. Beberapa orang yang mengawali penelitian
ini adalah Lee E. Farr dan kawan-kawannya di Massachusetts
General Hospital dan Massachusetts Institute of Technology.
Pengamatan mereka difokuskan pada gioblastoma multiform,
sejenis kanker otak yang paling ganas. Namun uji coba teknik
BNCT untuk terapi kanker otak pada waktu itu mengalami ke-
gagalan karena senyawa
10
B
tidak terkonsentrasikan secara tepat
pada sel kanker dan neutron tennik tidak mampu menembus
bagian kepada pada kedalaman tempat kanker itu bersarang
(5)
.
Penelitian intensif agar BNCT dapat dimanfaatkan secara
efektif terus berlanjut. Beberapa penelitian yang dilakukan di
Amerika Serikat, Eropa, Jepang dan Australia akhirnya berhasil
menemukan metode yang mampu memecahkan beberapa per-
masalahan dalam pemanfaatan BNCT, baik tarn pencangkokan
10
B
ke dalam sel kanker maupun care memperoleh neutron untuk
penembakannya. Pengiriman
10
B
ke sel kanker dilakukan
dengan antibodi yang berperan sebagai misil pengarah. Antibodi
ini bempa protein yang disuntikkan ke dalam tubuh dan me-
miliki potensi untuk mengenali barang asing yang disebut
antigen, yang terdapat pada perrnukaan sel kanker. Sedang pada
sel normal antigen ini tidak ada, sehlngga
10
B
tidak akan meng-
endap pada sel-sel normal
(5)
.
Reaktor
nuklir merupakan sumber neutron dengan fluks
yang cukup besar dan memadai untuk radioterapi
(6)
. Namun
radiasi yang dipancarkan oleh reaktor nuklir bersifat campuran
yang terdiri atas sinar- ; neutron ceps, neutron epiterntik dan
neutron tehnik. Tantangan yang dihadapi para fisikawan adalah
mengambil berkas neutron yang berenergi epitermik dan ternik
saja dari dalam teras reaktor, karena hanya neutron inilah yang
dapat diserap oleh
10
B. Oleh sebab itu perlu dikembangkan sistim
tabung berkas yang mampu mengarahkan atau mengambil
neutron tersebut.
Sinar- yang terpancar dari reaksi nuklir bergerak sangat
lambat dan jarak jelajahnya di dalam jaringan tubuh kira-kira
sepanjang diameter sebuah sel (10 mikron). Perjalanan sinar-
sepanjang sel ini akan disertai penyerahan energi radiasi kepada
sel kanker yang ditempati
10
B, sehingga sel kanker terionkan
yang akhirnya rusakk atau mati. Karena pengionan spesifik
sinar- ini sangat besar
(4,7)
, maka hanya diperlukan dosis radiasi
yang rendah untuk membunuh sel kanker tersebut. Mengingat
10
B
hanya menempel pada sel kanker dan jarak jelajah sinar-
sangat pendek, maka sel-sel normal yang berada di sekitar sel
kanker tidak akan mengalami banyak kerusakan. Inilah salah
satu keunggulan teknik BNCT untuk radioterapi kanker. Sifat
dari senyawa
10
B
adalah mudah mengendap pada jaringan otak,
sehingga teknik BNCT cukup efektif untuk radioterapi kanker
otak
(5)
.
RADIOTERAPI DENGAN NEUTRON
Dalam pembahasan sebelumnya telah dikemukakan peman-
faatan neutron untuk radioterapi menggunakan teknik BNCT yang
pelaksanaannya memanfaatkan neutron dari reaktor nuklir.
Pada bagian ini akan dibahas radioterapi dengan neutron yang
sumbernya bukan dari reaktor nuklir. Penelitian radioterapi
dengan neutron mulai dilakukan sejak tahun 1950 di Hammer-
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999
14
smith Hospital di London. Sejak tahun 1970, setelah diperoleh
cukup data tentang efek neutron terhadap berbagai jaringan
tubuh, pemanfaatan neutron untuk radioterapi mulai dilakukan.
Perbedaan utama antara radioterapi dengan neutron dan sinar-
X adalah terletak pada cara interaksi berkas radiasi tersebut
dengan sel-sal kanker. Di sinilah neutron memiliki kelebihan
dibanding sinar-X.
Neutron berinteraksi secara langsung dengan inti atom H.
Bahan-bahan yang banyak mengandung H akan lebih banyak
menyerap energi neutron dibanding bahan lainnya
(3,8)
. Jaringan
lunak tubuh manusia sebagian besar terdiri atas air yang tentu
saja banyak mengandung atom H, sedangjaringan keras seperti
tulang tidak banyak mengandung H
(1)
. Berdasarkan perbedaan
kadar kandungan H ini, maka neutron dapat menghancurkan
sel kanker yang bersarang dalamjaringan lunak tanpa memberi
efek pada jaringan keras. Sedang sinar-X akan lebih banyak
terserap oleh jaringan keras, sehingga efeknya pun akan lebih
banyak menimpa jaringan tersebut.
Dalam siklus hidupnya, ada saatnya sel kanker berada da-
lam mesa istirahat. Dalam fase ini, sel kanker relatif tahan
terhadap radiasi dan mungkin tidak akan mati oleh penyinaran
dengan sinar-X
(1)
; akibamya dapat tumbuh lagi sebagai kanker
pasca penyinaran. Neutron mempunyai kelebihan dibandingkan
smar-X untuk radioterapi kanker yang perkembangannya
lambat, yang sebagian besar sel kankernya berada pada fasa
istirahat. Kerusakan besar pada sel kanker akibat penyerapan
energi neutron tidak memungkinkan sal kanker itu hidup lagi.
Dalam beberapa kasus penyakit kanker, ada suatu sel yang
dinamakan sel hypoxic, yaitu sel yang dapat hidup dan ber-
kembang biak meskipun kekurangan suplai oksigen. Sinar-X
ternyata kurang efektif untuk membunuh sel kanker semacam
ini, dibanding dengan kemampuannya dalam membunuh sel
yang banyak mendapatkan suplai oksigen. Kerusakan yang
ditimbulkan oleh sinar-X pada sal kanker sangat ditentukan
oleh keberadaan unsur oksigen di tempat itu. Neutron, karena
sebagian besar energinya diserap oleh atom H, dapat membunuh
sel hipoksik dengan kemampuan dua kali lipat dibandingkan
sinar-X.
Masalah yang dihadapi dalam pemanfaatan neutron untuk
radioterapi ini adalah diperlukannya main pembangkit neutron
bemama Cyclotron dalam ukuran besar untuk memproduksi
neutron berenergi tinggi. Neutron dengan energi rendah (7,5
MeV) hanya bisa dipakai untuk terapi kanker di debit permuka-
an tubuh. Sedang untuk menghancurkan sel kanker di kedalam-
an tubuh diperlukan neutron berenergi kinetik tinggi, yaitu
sekitar 30 MeV. Sayangnya neutron meropakan partikel yang
tidak bermuatan listrik, sehingga tidak bisa dipercepat untuk
memperbesar energinya di dalam akselerator
(3,4)
.
Sebagai langkah awal dalam pemanfaatan neutron untuk
radioterapi, kini telah berhasil dikembangkan main Cyclotron
baru yang mampu memproduksi neutron berenergi tinggi.
Cyclotron di Catterbredge mampu mempercepat proton hingga
berenergi 65,5 MeV. Proton itu selanjutnyaditabrakkan ke sasar-
an yang dibuat dari unsur Be untuk memproduksi neutron
dengan energi antara 3040 MeV. Neutron berenergi tinggi ini
mampu mencapai tumor yang bersarang di kedalaman tubuh.
RADIOTERAPI DENGAN INTI RINGAN
Suatu tim intermasional yang terdiri dari para ahli radio-
terapi, radiologi dan fisika nuklir dari negara-negara Eropa
Banat seperti Belgia, Perancis, Jarman, Italia, Netherland dan
Inggris telah melakukan studi untuk proyek akselerator medis
menggunakan inti ringan. Proyek ini dinamakan EULIMA
(European Light Ion Medical Accelerator). Inti ringan adalah
suatu inti atom bermuatan positif yang kehilangan semua
elektronnya sehingga ion itu hanya berisi proton dan neutron
(nukleon) yang terikat menjadi satu. Temtasuk dalam inti ringan
di sini adalah inti atom C, O dan Si. Meskipun inti-inti tersebut
lebih berat dibandingkan proton, namun pare abli fisika nuklir
cenderung mengatakannya sebagai inti ringan karena massanya
relatifjauh lebih ringan dibandingkan dengan inti beret seperti
uranium.
Inti ringan memiliki tiga keuntungan sekaligus jika dipakai
untuk radioterapi, yaitu
(1)
:
·
Inti ringan mengandung neutron, sehingga dapat secara
efektif menghancurkan sel kanker dibandingkan sinar-X dan
proton.
·
Inti ringan mengandung proton yang bermuatan listrik
sehingga dapat dipercepat di dalam akselerator dan diarahkan
ke sasaran dengan medan magnet dari bur tubuh pasien.
·
Inti ringan lebih brat dibandingkan partikel tunggal seperti
proton atau neutron, sehingga tidak mengalami banyak ham-
burn dalam menuju sasaran. Deegan demikian dapat ditembak-
kan ke sasaran lebih tepat dibandingkan proton.
Joseph Castro bersama timnya di Lawrence Berkeley Labo-
ratory di California merupakan perintis dalam penggunaan inti
ringan untuk radioterapi di awal tahun 1980-m. Mereka telah
melakukan pengobatan pasien tumor di kepala dan leher
dengan berkas ion inti C, O maupun Si. Hasil kaja Castro dan
kawankawannya itu telah menunjukkan bahwa inti ringan dapat
dimanfaatkan untuk radioterapi tumor yang secara normal
sangat sulit ditangani. Di samping itu, National Institute of
Radiobiological Science di Chiba, Jepang, telah membangun
akselerator medik berkekuatan besar yang mampu mempercepat
inti ringan seperti Si, Ar, He, C dan Ne.
PENUTUP DAN SARAN
Penelitian dalam rangka pemanfaatan pirtikel nuklir untuk
radioterapi memerlukan fasilitas yang canggih dan mahal. Di
samping itu, kegiatan tersebut juga melibatkan sumber daya
manusia terdidik dari berbagai disiplin ilmu. Melihat kenyataan
tersebut, pemanfaatan partikel nuklir untuk radioterapi masih
jauh untuk dapat dipraktekkan di Indonesia. Namun dari uraian
tadi cukup memberikan gambaran kepada kita tentang perlunya
kerja sama antar disiplin ilmu untuk paling tidak meniru pola
penelitian bersama yang dilakukan di negara-negara maju,
yaitu mengkoordinasikan berbagai fasilitas dan sumber daya
manusia yang ada untuk melakukan penelitian bersama dalam
Skala besar dengan biaya sangat maul.
Oleh sebab itu, tidak ada salahnya jika saat ini mulai dirintis
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999 15
jembatan kerjasama antar beberapa instansi terkait untuk mem-
biayai dan melakukan penelitian bersama. Kerja sama dalam
rangka pemanfaatan partikel nuklir untuk radioterapi ini akan
melibatkan beberapa instansi, seperti perguruan tinggi yang
memiliki sumber daya manusia cukup tangguh dalam fisika dan
instrumentasi nuklir, pusat-pusat riset fisika yang memiliki
peralwn canggih seperti BATAN dan LIPI saris rumah sakit
atau Departemen Kesehatan yang nantinya akan memanfaatkan
hasil penelitian yang diperoleh. Dengan kerja sama ini, biaya
penelitian yang sangat beser dapat ditanggung bersama.
Dengan kerjasamajuga dapat menghindari terjadinya duplikasi
penelitian. Manfaat yang lainnya tentu saja akan diperoleh
sinergi dan hasil penelitian yang bernilai tambah. Dalam hal ini
lembaga-lembaga penelitian dapat menerapkan hasil-hasil
penelitiannya untuk kepentingan masyarakat Luas.
KEPUSTAKAAN
1. Sutton C. Neuhun Attack Cancer, New Scientist. Sept 1985; pp. 403.
2. Sutton C. Subatomic Smeary Takes on the Tumour, New Scientist, August.
1988; pp. 504.
3. Taylor JR, Zafiratos CD. Modern Physics For Scientist and Eagineer. Prentice
Hall. Engelwood Cliffs, New Jersey: 07632,1991.
4. Kaplan I. Nuclear Physics, 2
nd
ed. AddisonWesley Publ Co, London: 1979.
5. Barth RR et al. Boron Neutron Capture Therapy for Cancer, Scient Am.
October. 19%; pp. 6873.
6. Anonim. Research Reactor. Current status and Their Major Role. Tokai
Research Establishment Japan Atomic Energy Research Institute, Japan.
7. Cohen BL Concept of Nuclear Physic, Tata McgrawHill Publ Co Ltd.. New
Delhi: 1982.
8. Krane KS. At Modern (Cetakan I, terjemahan oleh Hans J. Wospakrik &
Sofia Niksolihin). Penerbit Universitas Indonesia , Salemba 4 Jakarta 10430
(1992).
He who lends money to a friend loses doubly
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999
16