background image
PSIKE DAN PENYAKIT KULIT
(Psycho - Cutanous medicine)
dr. Soedarmadi
Bagian Penyakit Kulit dan Kelamin
Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada.
Hubungan faktor psikologik dengan penyakit kulit kini
semakin mendapat perhatian. Hal ini disebabkan karena emosi
merupakan pendorong dari banyak penderita untuk mencari
pertolongan. Sementara itu timbul pertanyaan baru: WHAT
KIND OF PATIENT DOES THIS DISEASE HAVE? disamping
pertanyaan WHAT DISEASE DOES THIS PATIENT HAVE?
Dengan mengangkat topi terhadap psikiatri, suatu seni yang
tua akan tetapi tetap merupakan ilmu pengetahuan yang baru,
harus diakui bahwa faktor psikologik sering kita tinggalkan.
Akibatnya sebagian besar perhatian dicurahkan kepada kelainan
organik, padahal sebenarnya harus diingat bahwa
'
dibalik
setiap bisul' ada kemungkinan tersembunyi faktor psikis.
Hal ini sebenarnya disebabkan oleh konsep yang salah atau
setidak-tidaknya
'
oversimplifikasi ' dari pada konsep yang luas
dari ETIOLOGI. Perlu disadari bahwa secara praktis tak pernah
ada kausa tunggal dari suatu penyakit. Faktor psikologik baik
besar ataupun kecil, langsung ataupun tak langsung, ikut me-
ngambil bagian, akan tetapi sering dilupakan. Sebagai contoh
adalah penderita drug-eruption karena meminum phenobarbital.
Apakah kausa nya? Jelas karena obat (disini phenorbarbital)
Tetapi jawaban ini tidaklah 100% benar, meskipun secara
terapeutik jelas dan memuaskan, yaitu penderita akan sembuh
dengan penarikan obat tersebut. Kalau selanjutnya kita tanya-
kan mengapa penderita ini meminum obat dan ternyata dia
minum obat karena gangguan emosi, jelas bahwa faktor kausal
primer adalah psikis. Tanpa minum obat tak akan ada penyakit
yang tampak. Secara klinik jelas bahwa penderita sering lebih
reaktip dan emosionil terhadap gangguan pada kulit yang
mudah terlihat dari pada gangguan didalam tubuh yang mung-
kin lebih serius dan menjadi latar belakangnya.
Tampak disini bahwa kulit menduduki tempat istimewa pada
psike manusia, dan seakan-akan memberi manifestasi luar dari
pada EGO. Noda kecil, misalnya Alopecia areata yang kecil
dan mungkin tak terlihat oleh orang lain, pada sipenderita
dapat menimbulkan rasa kawatir yang tersembunyi dan men-
dalam. Baginya dirasakan sebagai tanda yang serius, yang me-
ngurangi kejantanan dan kekuatan fisiknya. Kecemasannya
akan sangat besar dan tak seimbang dibandingkan dengan ke-
lainan kliniknya. Tetapi sering kali sukar untuk menentukan
apakah faktor psike (kecemasan, anxiety) merupakan penyebab
ataukah merupakan reaksi. Kepribadian seseorang kadang-
kadang hilang karena lesi pada kulit yang (dianggapnya)
menjijikkan orang lain. Memang betul penyakit kulit umum-
nya tidak berakibat fatal, akan tetapi kenyataannya sering
menghancurkan kehidupan sipenderita secara emosionil.
Kompleks lain yang menunjang faktor psikis ialah bahwa
ada penderita yang justru menyambut baik suatu kelainan
kulit/organik untuk mendapatkan kepuasan tertentu. Secara
tak sadar (meskipun kadang-kadang diketahuinya) penyakitnya
digunakan untuk berlindung dan mencari keuntungan pribadi.
Misalkan dapat dipakainya untuk menerangkan kegagalannya,
atau malah menunda kesembuhannya untuk tetap mendapat
pertolongan; untuk mendapat simpati; untuk tetap menggan-
tungkan dirinya pada orang lain dan untuk menghindarkan diri
dari suatu konflik. Jelas kelainan organik perlu dukungan
emosionil. Suatu lesi organik sering menjadi titik tolak dari
neuro-dermatitis, suatu hal yang banyak dilupakan, baik oleh
penderita maupun oleh dokternya. Lebih-lebih kalau diingat
bahwa pada umumnya kelainan kulit, sedikit atau banyak,
disertai rasa gatal, dimana menggaruk dirasakan nikmat juga.
Jiwa/psike dapat kita gambarkan sebagai gunung es. Sepertiga
bagian tampak berada diatas air dan dua-pertiga bagian ter-
sembunyi dibawah permukaan air. Yang sepertiga tadi adalah
bagian sadar/conscious, sedang dua-pertiga bagian dibawah air
yang tak tampak adalah dibawah kesadaran/unconscious.
Bagian bawah-sadar ini memegang peranan penting, baik dalam
sifat normal maupun abnormal, sedangkan observasi kita hanya
terbatas pada bagian yang sadar saja. Disini jelas bahwa
commonsense dan persepsi sehari-hari tidak lagi cukup untuk
mengerti human-behaviour, sehingga interpretasi psikoanalitik
dari seorang dokter sering dirasakan aneh oleh sipenderita.
Namun demikian, psikoanalisa merupakan pisau yang ampuh
untuk menembus kabut bawah-sadar tadi.
Kecemasan adalah gambaran sentral dari keadaan neurotik,
saudara dari ketakutan (fear). Respons emosionil dapat berupa
respons terhadap bahaya dari luar (external) atau dari dalam
(internal). Internal-danger ini sifatnya samar-samar, sehingga
sipenderita merasa takut tetapi tidak tahu dengan pasti takut
terhadap apa. Kulit manusia mempunyai kepribadian tersendiri
dan tergolong yang tertinggi diantara organ-organ lainnya.
Emosi yang primitip diproyeksikan pada kulit, seperti merah
karena malu atau pucat karena takut dan sebagainya. Gambaran
pribadi seseorang terlihat/diungkapkan pada kulit, misalnya
orang yang sensitip dikatakan orang yang berkulit tipis, se-
baliknya orang yang tak tahu malu dan tak tahu diri dikatakan
berkulit tebal (Jawa: rahi gedek).
Ada anggapan bahwa setelah manusia mati jiwanya akan
tinggal dikulit. Suatu legenda yang populer ialah cerita ten-
tang genderang yang katanya dibikin dari kulit Alexander
Agung. Genderang ini menggentarkan jenderal Ziska, karena
1 6
Cermin Dunia Kedokteran No. 5, 1975.
background image
PSIKE DAN PENYAKIT KULIT
(Psycho - Cutanous medicine)
menurut cerita, suara genderang tersebut adalah suara Alexander
Agung sendiri, seperti waktu beliau masih hidup. Zaman dahulu
orang yang menang perang sering membawa pulang kulit
musuh sebagai lambang kemenangannya. Pada film-film cerita
western, digambarkan orang-orang Indian yang mengupas kulit
kepala manusia yang dikalahkannya.
. Proyeksi primitip dari psike pada kulit tadi dapat dianalisa
dari hubungannya dengan sistem saraf otonom. Perlu diingat
bahwa secara embriologik, asal kulit sama dengan asal susunan
saraf, yaitu ektodermal. Efektor-efektor pada kulit ialah (1)
pembuluh darah, (2) kelenjar keringat dan (3) otot polos.
Vaso-konstriksi adalah adrenergik dan menimbulkan
'
blanching'
(pucat). Vaso-dilatasi adalah cholinergik dan menimbulkan
'
flushing' (kemerahan). 'sweating' (berkeringat) bersifat cho-
linergik tetapi myoepitel dari kelenjar keringat apokrin adalah
adrenergik. Pilo-erector bersifat adrenergik dan akan menimbul-
kkan kulit angsa' (cutis anserina). Semua sifat-sifat otonom
yang fisiologik, bila berlangsung lama atau berlarut-larut akan
menjadi patologik, jadi merupakan semacam predisposisi untuk
respons patologik yang abnormal. Metabolisme kulit kadang-
kadang berubah secara tak jelas, mendahului lesi psiko-kutan
atau menyiapkan persemaian yang subur bagi reaksi-reaksi
abnormal terhadap infeksi, irritasi, alergi dan sebagainya.
Kulit merupakan batas terluar dari tubuh dan merupakan
batas terluar pula dari pada ego. Kepekaannya begitu sempurna
sejak awal kehidupan sampai dewasa. Seorang bayi akan me-
rasa aman dan mesra didalam belaian tangan ibu, dan daerah-
daerah kulit tertentu berkembang menjadi tempat-tempat
eksotik dan penerima rangsang erotik.
KESIMPULAN.
Kulit manusia merupakan mantel ajaib, lapisan indra serta
cermin dari manusianya. Fungsi vital dari berbagai jaringan
sering dituangkan pada kulit yang sering tampak misterius,
baik secara jasmaniah maupun rohaniah. Pemeliharaan ke-
cantikan, jadi juga pemeliharaan kulit, ikut menunjang berdiri-
nya pabrik-pabrik kosmetik raksasa didunia.
Kulit juga merupakan katalog dari simptom-simptom intern.
Peranan psike dalam penyakit kulit tak dapat diabaikan,
tetapi masih banyak hal-hal yang belum terungkapkan.
Peranannya sebagai motor untuk mencari pertolongan sangat-
lah menonjol. Keinginan seorang penderita untuk lekas sembuh
dari penyakit kulit yang kronis jangan diterima begitu saja,
perlu diingat juga faktor-faktor sosial-ekonomi yang berhu-
bungan dengan kehidupan dan penghidupannya.
KEPUSTAKAAN.
1. PILLSBURY D.M., et al : Dermatology, Philadelphia, WB Saunders
Co., 1960.
2. M.D. Pacific Vol. 2 No. 6. 1969.
Jl. Cikini Raya 63 Jakarta
JI. Salemba Raya 21 Jakarta
Jl. Braga 64 Bandung
Buku2
KEDOKTERAN dan PHARMASI
Klemer
:
Counseling in Marital &
Sexual Problems
1969
Rp.
7.700,
Wilson :
American Drug lndex
1975
Rp.
8.750,
Parrot
Experimental Pharmaceutical
Technology
1971
Rp.
4.500,
Adams
Outline Of Orthopaedics
1971
Rp.
5.600,
Bouchier :
Gastroenterology
1973 Rp.
3.550,
Cohen
Dermatology
1970 Rp.
3.550,
Beal :
lntensive & Recovery
Room Care
1971
Rp.
8.000,
Riseman :
P.Q.R.S.T .
1968
Rp.
6.500,
Conn :
Current Diagnosis
1974
Rp. 19.500,
Athreya :
Differential Diagnosis
in Pediatrics
1970
Rp. 35.400,
Jenkins :
Clinical Pharmacy
1966
Rp.
8.550,
McLachlan :
Portfolio
For Health 11
1973
Rp. 11.700,
Grant
Grant's Atlas Of Anatomy
1972
Rp. 12.700,
AMA Drug Evaluation
Rp. 19.200,
Aaron :
First Aid & Emergency Care
1972
Rp.
1.750,
Dorland
Pocket Medical Dictionary
Rp.
4.075,
Dorland
lllustrated Medical Dictionary
Rp. 13.975,
Emboden :
Narcotic Plants
1972
Rp.
8.425,
Edge :
The Aging Lung Normal
Function
1974 Rp. 11.900,
Gross :
Bronchial Asthma
1974 Rp.
2.775,
A Balanced Teaching Hospital 1965
Rp.
3.800,
Rudel :
Birth Control
1973
Rp.
7.000,
Susser
Sociology ln Medicine
1971
Rp.
6.650,
Stedman's
Medical Dictionary
Rp. 12.100,
Julian
Cardiology
1973
Rp.
4.000,
Bailey
:
Pharmacology
1975 Rp.
1.925,
Wallis :
Textbook Of Pharmacognosy
1969 Rp. 11.200,
Ward :
Anaesthetic Equipment
1975
Rp. 13.600,
DeRobertis
:
(Physical Principles and
Maintenance)
Cell Biolbgy
1975
Rp. 10.500,
Pharmaceutical Handbook
Rp.
6.400,
Lawson :
Five Elements Of Acupuncture
& Chinese Massage
1973
Rp.
5.565,
Garrad :
2.250,
Social Aspects Of Clinical
Medicine
1970 Rp.
Fraser :
Farm Animal Behaviour
1974 Rp.
3.350,
Reece :
Manual Of Emergency
Pediatrics
1974
Rp.
6.500,
Lamb :
Your Heart & How To Live
With lt
1969
Rp.
4.175,
Dillard
Chemistry Reactions,
Structure And Properties
1971
Rp.
7.775,
Ewing
lnstrumental Methods Of
Chemical Analysis
1969 Rp. 10.150,
Eliasson :
Prostaglandins
1972 Rp.
7.700,
Rafelson :
Basic Biochemistry
1971
Rp. 2.575,
Brien :
Biochemical Toxicology
Of lnsecticides
1970 Rp.
7.000,
Green :
BasicClinical Physiology
1969 Rp.
1.650,
Sciarra :
The Science And Technology
Scherer
Of Aerosol Packaging
1974 Rp. 27.100,
Introductory Clinical
Pharmacology
1975 Rp.
6.150,
Henry :
Clinical Chemistry
(Principles and Technics)
1974 Rp. 26.250,
Parrot :
Pharmaceutical Technology
Rp. 10.100,
Robbins :
Pathologic Basis Of Disease
1974
Rp. 20.500,
Simpson :
Custom & Practice ln
Medical Care
Rp.
1.250,
Shirkey
:
Pediatrics Dosage Handbook
1973
Rp.
1.800,
Pesanan luar kota harap ditujukan kepada KALMAN BOOK SER V ICE,
Jln. Cikini Raya 63, Jkt. disertai ongkos kirim 5% (Min. Rp.
250,-).
1 8
Cermin Dunia Kedokteran
No. 5, 1975.