PERBANDINGAN BEBERAPA METODE TERAPI GONORRHOE PADA PRIA
dr. R. Setiabudy
Bagian Farmakologi F.K.U.I.
Jakarta
Penicillin sejak bertahun-tahun merupakan obat terpilih
untuk mengobati urethritis gonorrhoica acuta non-complicata
pada laki-laki. Keunggulan penicillin ini disebabkan karena
efektivitasnya yang tinggi dan toksisitasnya yang rendah.
Tetapi akhir-akhir ini efektivitasnya menurun dengan nyata.
Dosis procain penicillin perlu diperbesar dari 1,2 juta unit
menjadi 2,4 4,8 juta unit. Yang leblh mengkhawatirkan lagi
ialah frekwensi terjadinya shock anafilaktik akibat suntikan
penicillin makin lama makin meningkat. Menurut WILLCOX
(1959), sebanyak 5% dari penderita-penderita yang datang ke
klinik penyakit kelamin allergi terhadap penicillin.
Faktor-faktor ini merupakan dorongan untuk mencari suatu
bentuk terapi yang sesederhana mungkin tapi seefektif mung-
kin. Adapun bentuk terapi yang ideal itu harus memenuhi
syarat-syarat sebagai berikut:
Efektif ("Cure Rate" lebih dari 90%)
Bahaya reaksi anafilaktik yang kecil
Tidak ada efek samar terhadap infeksi syphilis
Bentuk terapi sederhana ("One minute treatment")
Toksisitas dan efek dampingan yang ringan
Efektivitas yang tinggi adalah penting sekali oleh karena
menurut beberapa kepustakaan, rata-rata hanya kurang dari
30% dari penderita yang kembali untuk pemeriksaan ulangan.
Muncullah kemudian berbagai metode terapi, yang pada
garis besarnya dapat digolongkan dalam:
1. Metode parenteral:
Kebaikan :
Kadar antibiotika dalam darah lebih
uniform
Merupakan "One minute treatment"
Kekurangan :
Rasa sakit akibat suntikan setempat
1. METODE ORAL :
2. Metode oral
Kebaikan
.
Kemungkinan timbulnya reaksi anafi-
laktik kecil sekali.
Kekurangan :
Kadar antibiotika dalam darah lebih
variabel.
Pemberian obat di rumah tidak dapat
diawasi, atau bila hendak diberikan di
poliklinik maka prosedur ini tidak
praktis karena harus disediakan gelas
dan air minum.
3. Metode kombinasi
Kebaikan :
Lebih memberikan rasa "aman" kepada
penderita
Kadar antibiotika dalam darah diper-
tahankan lebih lama
Kekurangan :
Pemberian obat di poliklinik kurang
praktis.
Dalam menilai dan membandingkan beberapa metode hen-
daknya diingat bahwa "Failure Rate" yang lebih rendah dari
suatu metode belum tentu menunjukkan bahwa metode
tersebut lebih baik dari metode lain oleh karena:
1. Sensitivitas kuman gonokokkus terhadap suatu antibiotika
tertentu tidak sama pada letak geografis yang berlainan.
Misalnya SIBOULET hanya mendapatkan kegagalan 3,5%
dengan pemberian 2,5 gram spiramycin, sedangkan metode
yang sama di R.S.C.M., Jakarta, memberikan kegagalan
51,2% 6)
2. Perbedaan dalam kriteria dan metode penyelidikan.
Oleh karena itu "Failure Rate" dari label di bawah ini hendak-
nya tidak dianggap sebagai nilai mutlak tetapi hanya memberi
gambaran dalam garis besar saja.
METODE
KEBAIKAN
KEKURANGAN
FAILURE RATE
COTRIMOXAZOLE 1)
(trimethoprim + sulfamethoxazole)
Dosis:
2 x 4 tab./hari selama 2 hari
berturut.
tidak ada efek
samar terhadap
syphilis
bahaya reaksi anafi-
laktik sangat kecil
-- pemberian obat sukar diawasi
-- kadar obat dalam darah variabel
-- kadang-kadang terjadi reaksi hiper-
sensitif terhadap sulfonamide
1% (dari 103 pen-
derita)
DOXYCYCLINE
2
)
Dosis:
400 mg. per oral sebagai dosis tunggal
sehabis makan.
bahaya reaksi ana-
filaktik sangat
kecil
-- kadang-kadang terjadi iritasi
lambung.
-- ada efek samar terhadap infeksi
syphilis.
5% (dari 40 pende-
derita)
THIAMPHENICOL
3)
Dosis:
2,5 g. per oral sebagai dosis tunggal.
bahaya reaksi ana-
filaktik sangat kecil.
-- kadang-kadang terjadi iritasi
lambung.
-- ada efek samar terhadap infeksi
syphilis 13)
2% (dari 379 pen-
derita
TETRACYCLIN 11)
Dosis:
-- Mula-mula 1,5 g. per oral.
Selanjutnya 4 x 1/2 g./hari.
sampai dosis total 9 g.
bahaya reaksi ana-
filaktik sangat kecil.
-- sering terjadi iritasi lambung.
-- ada efek samar terhadap infeksi
syphilis.
-- pemberian obat sukar diawasi.
-- tidak praktis.
-- kadang-kadang terjadi super-
infeksi.
1% (dari 82 pende-
rita)
AMPICILLIN +PROBENECID
10)
Dosis:
2 g. ampicillin + 1 g. probenecid
per oral sebagai dosis tunggal.
bahaya reaksi ana-
filaktik sangat kecil.
-- kadang-kadang terjadi iritasi
lambung.
-- ada efek samar terhadap infeksi
syphilis.
kadang-kadang terjadi diarhe.
2,1%(dari 91 pen-
derita)
18
2. METODE PARENTERAL :
METODE
KEBAIKAN
KEKURANGAN
FAILURE RATE
SPECTINOMYCIN
4)
Dosis:
2 g. intramusculer dosis tunggal.
bahaya reaksi ana-
filaktik kecil.
-- tidak ada efek
samar terhadap in-
feksi syphilis.
-- pemberian obat dapat
diawasi.
-- rasa sakit di tempat suntikan.
-- kadang-kadang terdapat nausea
dan demam.
0.9% (dari 109 pen-
derita)
GENTAMYCIN
5)
Dosis:
5 mg./kg. B.B. intramuskuler dosis
tunggal.
-- bahaya reaksi ana-
filaktik kecil.
-- tidak ada efek
samar terhadap
infeksi syphilis
l2
)
-- pemberian obat
dapat diawasi.
-- ototoksik
-- nefrotoksik
6% (dari 62 pende-
rita)
PENICILLIN PROCAIN
6
)
Dosis:
2,4 juta unit intramuskuler (dibagi
dua untuk masing-masing bokong)
-- pemberian obat
dapat diawasi.
-- toksisitas rendah.
-- sering terjadi reaksi anafilaktik.
-- ada efek samar terhadap infeksi
syphilis.
-- rasa sakit di tempat suntikan.
7,35% (dari 177 pen-
derita
KANAMYCIN
14
)
Dosis:
2 g. intramuskuler dosis tunggal.
-- bahaya reaksi ana-
filaktik kecil.
-- tidak ada efek samar
terhadap infeksi
syphilis.
pemberian obat
dapat diawasi.
-- ototoksik
-- nefrotoksik
7% (dari 155 pende-
rita)
3: METODE KOMBINASI ORAL DAN PARENTERAL :
METODE
KEBAIKAN
KEKURANGAN
FAILURE RATE
BENZYLPENICILLIN +
+ PROBENECID
7
)
Dosis :
1g. probenecid per oral
15 -- 30 menit kemudian diberikan
5 juta unit benzyl penicillin intra-
muskuler.
-- pemberian obat da-
pat diawasi
-- sering terjadi reaksi anafilaktik.
-- ada efek samar terhadap infeksi
syphilis.
-- tidak praktis
-- rasa sakit di tempat suntikan.
1,3% (dari 400 pen-
derita)
AMOXYCILLIN + PENICILLIN
PROCAIN
8
)
Dosis:
1g. amoxycillin per oral langsung
disertai 1,2 juta unit penicillin
procain intramuskuler.
-- pemberian obat
dapat diawasi.
-- sering terjadi reaksi anafilaktik.
-- ada efek samar terhadap infeksi
syphilis
1,1% (dari 95 pen-
derita)
AMPICILLIN PENICILLIN
PROCAIN
9
)
Dosis:
1g. ampicillin per oral langsung
disertai 2,4 juta unit penicillin procain
intramuskuler
-- pemberian obat
dapat diawasi
-- sering terjadi reaksi anafilaktik.
-- ada efek samar terhadap infeksi
syphilis.
-- kadang-kadang terjadi nausea
dan diarhe.
2,9% (dari 143 pen-
derita)
19
BEBERAPA SARAN :
1.
Penicillin masih tetap merupakan obat pilihan pertama.
Dosis yang diberikan sekurang-kurangnya 2,4 juta unit
(Benzathine penicillin jangan dipergunakan).
2.
Bila ada kecurigaan bahwa penderita allergi terhadap pe-
nicillin, hendaknya diberikan antibiotika yang bukan
termasuk golongan penicillin, misalnya: Kanamycin,
spectinomycin, thiamphenicol, doxycycline dan lain-lain.
3.
Bila dicurigai adanya infeksi T. pallidum bersamaan
dengan infeksi kuman gonokokkus, misalnya terdapat
erosi atau ulkus, hendaknya dipilihkan obat yang tidak
ada efek samar terhadap infeksi syphilis. Misalnya:
cotrimoxazole, kanamycin, spectinomycin dan lain-lain.
Pemeriksaan S.T.S. harus dilakukan disini.
4.
Pada kasus-kasus yang tidak menunjukkan perbaikan
walaupun sudah diberikan terapi yang adekwat, hendak-
nya dipikirkan kemungkinan urethritis nonspesifik, re-
infeksi atau infeksi campuran dengan kuman-kuman yang
menghasilkan penicillinase sehingga pemberian penicillin
menjadi tidak efektif.
KEPUSTAKAAN :
1. SVINDLAND, H.B. : Treatment of gonorrhoe with
sulphamethoxazole-trimethoprin. Brit. J. of V.D. (1973)
49 : 50.
2. YAWALKAR, S.J., KUCHBAL, D.S. and MARDHEKAR,
B.V. : Doxycycline in acute gonococcal urethritis. Brit.
J. of V.D. (1973) 49 : 464.
3.
HEINKE, E. : Results of the treatment of gonorrhoea
with single dose of 2,5 g. thaimphenicol. Postgraduate
Med. Journal (January supplement 1972) 48 : 54.
4.
REYN, A., SCHMIDT, H., TRIER, M. and BENTZON,
M.W. : Spectinomycin in the treatment of gonorrhoea.
Brit. J. of V.D. (1973) 49 : 54.
5. HANTSCHKE, D., STRAUSS, P., MEIER, L. G.,
GAHLEN, D. and HELLER, W. : Treatment of gonorrhoe
with single injection of gentamycin. Brit. J. of V.D.
(1973) 49 : 62.
6. LUTARSIN, S. : Pengobatan "urethritis Gonorrhoica
acuta non-complicata" di R.S.C.M., Jakarta. Naskah
lengkap K.P.P.I.K. VIII (1974), pp. 172-75.
7. THIN, R. N. T.: Treatment of gonorrhoea in Singapore
using penicillin plus probenecid. Brit. J. of V.D. (1973)
49 ; 274.
8. ALERGANT, C. D.: Treatment of gonorrhoea with
amoxycillin. Brit. J. of V. D. (1973) 49:274.
9. ARYA, O. P. and BOSA, C. B. In search of an ideal
single session penicillin schedule for the treatment of
gonorrhoea in Uganda. Brit. J. of V. D. (1973) 49:460.
10. WILCOX, R. R., WOODCOCK, K. R., LATTO, D.,
JOHN, J., REDMOND, A., PARKER, R.B., REES, G. D.
and COBBOLD, R. J. C.: Treatment of gonorrhoea with
single oral doses of ampicillin plus probenecid. Brit.
J of V. D. (1973) 49:263.
11.
SINANIAN, R., ATKINSON, W.. H. and PANZER, J. D.:
The treatment of acute gonorrhoea in males anf females:
a comparison of spectinomycin HCL with tetracycline
HCL. Current therapeutic research (1974) 15 :815.
12.
IZAAT, SMITH, E. B. and KNOX: Effect of gentamycin
sulphate on avirulent and virulent T. pallidum.
13.
HEINKE, E.: Dark ground investigation of the effect of
thiamphenicol on T. pallidum. Postgraduate Med. J.
(January supplement 1972) 48:55.
14.
FISCHNALIER, J. E., PEDERSEN, A. H. B., RONALD
et. al.: Kanamycin Sulfate in the treatment of acute
gonorrheal urethritis in men.
J. Amer. Med. Ass. (1968) 203:409.
2 0