background image
Peran CT Sean pada
Diagnosis Tumor Otak
Dr. Tri Astuti Wonoyudo
Departemen Radiologi RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta
PENDAHULUAN
CT sudah menjadi prosedur diagnostik yang paling penting
dalam cvaluasi penderita yang diduga mengidap tumor intra-
kranial. Sensitifitas CT untuk mendeteksi dini masa intrakranial
khususnya neoplasma cukup tinggi (80% ­ 98%)
(1,2,3,4)
. Karena
gambaran CT dari beberapa lesi intrakranial dapat menyerupai
satu sama lain seperti kata Kricheff "Everything can look like
everything", maka CT tidak selalu dapat membuat diagnosis
patologi secara tepat. Rangkaian pemeriksaan CT dapat mem-
bantu membedakan kondisi non-neoplastik, misalnya infark,
hematoma, lcsi vaskuler dari suatu neoplasma.
CT lebih sensitif daripada foto polos kranium dalam men-
deteksi kalsifikasi intrakranial; namun demikian pemeriksaan
foto polos kranium dan tomografi konvensional dapat me-
lengkapi dan memberikan informasi tambahan yang penting,
misalnya adanya perubahan karena erosi tulang yang khas.
Adanya perubahan pada tulang sangat penting di dalam menilai
regio seta tursika dan kanalis akustikus internus.
Angiografi penting sebagai prosedur tambahan dan pe-
lengkap untuk menentukan pola vaskuler yang abnormal dari
beberapa neoplasma, juga di dalam menentukan adanya lesi
vaskuler yang menyerupai neoplasma.
CT sudah menggantikan pemeriksaan dengan mengguna-
kan udara, misalnya pneumoensefalografi, kecuali pada diagno-
sis neurinoma akustik intrakanalikuler yang sangat kecil; lcsi
tersebut dapat ditentukan dengan air CT-cysternogram atau gas
meatografi
(3,4,5)
.
KEKHASAN CT PADA DIAGNOSIS NEOPLASMA
INTRAKRANIAL
1. Lokasi yang khas
Lokasi tumor merupakan salah satu kekhasan CT yang
sangat membantu untuk mendcfcrensiasi diagnosis suatu neo-
plasma. Lokasi ekstraaksial adalah khas untuk tumor-tumor
jinak (sela tursika, sudut serebelopontin dan daerah di sekitar
duramater). Lokasi intraaksial di dalam substansi otak bagian
dalam biasanya khas untuk neoplasma ganas. (Gambar )
2.
Usia penderita saat pertama kali menunjukkan gejala.
3.
Absorpsi radiasi yang khas (density) sebelum dan sesudah
enhancement media kontras.
4.
Komposisi tumor.
5.
Konfigurasi tumor.
Tepi yang rata biasanya suatu tumor jinak, sedangkan tepi
yang ireguler dan berbatas tidak tegas biasanya suatu tumor
ganas.
6.
Multiplikasi.
Multiplikasi suatu tumor intraaksial biasanya suatu
metastasis
(1,2)
.
I. NEOPLASMA SUPRATENTORIAL
A. MENINGIOMA
Pada umumnya terjadi di daerah yang banyak mengandung
granulatio arakhnoid yaitu zona parasagital, falk, lengkung
serebral, sphenoid ridge dan celah olfaktorius, Berlokasi ekstra-
serebral (ekstraaksial) dan berkapsel. Gambaran histologinya
jinak dan biasanya tidak residif sesudah ekstirpasi bedah yang
lengkap. CT dapat mendeteksi meningioma yang kecil 5 ­ 7 mm
dan biasanya tumor-tumor ini ditemukan secara kebetulan.
Gambaran CT :
Meningioma mempunyai gambaran yang agak khas tetapi
tidak cukup spesifik apabila diagnosis tanpa dilengkapi pe-
meriksaan angiografi dan eksplorasi bedah. Angiografi penting
untuk menentukan suplai pembuluh darah ke meningiomanya
Disajikan daimon Simposium Tumor Otak, 20 full 1991 di RSPAD Cato:
Soebroto, Jakarta
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992
12
background image
LATERAL
CORPUS
CEREBRAL
Ependymoma Astrocytoma
Astrocytoma
Meningioma
Glioblastoma
Glioblastoma
Choroid
plexus
Lipoma
Meningioma
Epidermoid tumor
Oligodendrogliom
PINEAL REGION
Germinoma
Teratoma
Glioma
Pincocytoma
CEREBELLUM
Astrocytoma
Medulloblastoma (children)
Hemangioblastoma
THIRD VENTRICLE
Colloid cyst
Ependymoma
OPTIC CIIIASM
Astrocytoma
Meningioma
PITUITARY REGION
Adenoma
Craniopharyngioma
Meningioma
Germinoma
FOURTH VENTRICLE
Ependymoma
Choroid plexus papilloma
Dermoid tumor
Epidennoid cyst
BRAIN STEM
Astrocytoma
Glioblastoma
CEREBELLO-PONTINE ANGLE
Acoustic ncurinoma
Meningioma
Epidermoid cyst
Ependymoma
Arachnoid cyst
FORAMEN MAGNUM REGION
Meningioma
Neurofrbroma
Gambar : Lokasi tumor yang khas(1)
dan untuk menilai efek di sekitar struktur arteri dan venanya.
CT tanpa kontras :
·
Kebanyakan meningioma memperlihatkan lesi hiperdens
yang homogen atau berbintik-bintik, bentuknya reguler dan
berbatas tegas. Bagian yang hiperdens dapat memperlihatkan
gambaran psammomatous calcifications.
·
Kadang-kadang meningioma memperlihatkan komponen
hipodens yang prominen apabila disertai dengan komponen
kistik, nckrosis, dcgencrasi lipomatous atau rongga-rongga
CSF yang loculated.
·
Sepertiga dari meningioma memperlihatkan gambaran
isodens yang biasanya dapat dilihat berbeda dari jaringan pa-
renkim di sekitamya dan
,
hampir semua lesi-lesi isodens ini
menyebabkan efck masa yang bermakna.
CT dengan kontras :
·
Semua meningioma memperlihatkan enhancement kontras
yang nyata kecuali lesi-lesi dengan perkapuran. Pola enhance-
ment biasanya homogen tajam (intense) dan berbatas tegas.
Duramater yang berlanjut ke lesinya biasanya tebal, tanda
yang relatif spesifik karena bisa tampak juga pada glioma dan
metastasis.
·
Di sekitar lesi yang menunjukkan enhancement, bisa disertai
gambaran hypodense semilunar collar atau berbentuk cincin.
·
Meningioma sering menunjukkan enhancement heterogen
yang kompleks('
.z.a,ea.e
)
B. GLIOMA
Glioma merupakan neoplasma intraserebral (intraaksial)
yang maligna. Gambaran infiltrat tumornya berbatas ireguler,
tepinya bergerigi (jagged-edged border). Tumor-tumor supra-
tentorial dapat berasal dari dalam korteks serebri dan meng-
adakan ekstensi ke dalam korpus kalosum, basal ganglia atau
talamus. Gambaran patologi glioma bervariasi dalam derajat
kalsifikasi, nekrosis, perdarahan, pembentukan kista, neovaskuler
dan aplasia seluler di dalam individual gliomanya.
li
r
u
Neoplasma ini dapat diklasifikasikan sebagai astrositoma
gradasi rendah, astrositoma anaplastik atau glioblastoma multi-
forme. Klasifikasinya dipersulit oleh 2 problem. Ke satu, per-
bedaan regio dari suatu individual glioma dapat mempunyai per-
bedaan gambaran patologik yang khas. Ke dua, glioma dapat
memperlihatkan perubahan dengan waktu dan menjelma men-
jadi maligna.
Gambaran CT :
Biasanya meretleksikan suatu lesi infiltratif dan patologi
keganasan tumor yang khas.
1. Astrositoma Gradasi Rendah :
It
·
Dapat memperlihatkan gambaran hipodens dengan bentuk
yang iregulcr dan tepinya bergerigi. Astrositoma yang lain ber-
bentuk bulat atau oval dengan tepi yang tegas yang dapat disertai
dengan kista. Adanya tumor kistik akan lebih nyata bila ditemu-
a
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992 13
background image
kan fluid level di dalam lesi atau adanya kebocoran kontras media
ke dalam tumornya. Kalsifikasi tampak path 8­10% dan efek
masa tampak pada 50%.
·
Enhancement terlihat pada 50%, biasanya merata dan tidak
tajam.
2. Astrositoma Anaplastik :
·
CT polos, tampak sebagai gambaran hipodens atau dcnsitas
campuran yang heterogen.
·
Enhancement media kontras tampak pada 78%, dapat
berupa gambaran lesi yang homogen, nodulcr atau pola cincin
yang kompleks.
3. Glioblastoma Multiforme
·
Gambaran CT bervariasi, hal ini merefleksikan gambaran
patologinya yang heterogen. Pola yang khas, lesi berdensitas
campuran yang heterogen atau hipodens, yang pada pemeriksa-
an paseakontras menunjukkan bentuk yang ireguler dengan
pola enhancement cincin yang ketebalannya bervariasi, dan
biasanya ada efek masa.
Adanya penebalan dan pelebaran dari septum pelusidum
yang tampak path enhanced sean sangat spesifik untuk nco-
plasma intraaksial. Hal ini tampak pada glioma dan metastasis
tetapi tidak tampak pada meningioma atau adenoma hipofisis.
Diagnosis Diferensial :
·
Tanda khas glioma berupa lesi yang bentuknya ireguler,
berdensitas heterogen dengan enhancement cincin yang tebalnya
bervariasi biasanya dapat dibedakan dari suatu meningioma yang
bentuknya lebih reguler dan densitasnya lebih homogen (pada
pemeriksaan dengan media kontras).
14
·
Bila lesinya tunggal, tidak selalu dapat dibedakan antara
glioma dari metastasis, limfoma atau sarkoma.
·
Pada beberapa kasus, pola CT dari infark serebri dapat
menyerupai suatu glioma. Bila di ferensiasinya tidak dapat
dibuat pada CT polos, ulangan CT dapat dilakukan 7 ­ 10 hari
kemudian.
Hal-hal penting dalam diagnosis diferensial suatu infark
adalah :
--
bentuknya reguler dibatasi vaskuler.
--
efek masa kurang dibanding dengan glioma.
--
pada umumnya menyebabkan gyral enhancement dan ja-
rang menunjukkan enhancement noduler atau cincin tipis di
bagian perifernya.
4. Thrombosed angioma.
CT menunjukkan gambaran lesi hiperdcns dengan per-
kapuran-perkapuran yang tersebar dan seringkali mempunyai
pola kurvilinier. Lesi ini seringkali tidak menunjukkan enhance-
ment, dapat juga memperlihatkan enhancement yang tubuler atau
serpiginous. Pola lebih lanjut adalah pembuluh darah yang
abnormal, efek masa yang minimal dan peicbaran ventrikuler
dan sisterna di dekatnya karena perubahan atrofi degenerasi
yang disebabkan oleh angioma
(2,3,4,6,7,8,9,10)
.
C. METASTASIS
Metastasis intrakranial dilaporkan terjadi pada 20% ­ 30%
penderita dengan karsinoma sistemik. Metastasis intraserebral
pada umumnya berlokasi pada perbatasan substansia alba dan
grisea atau di dalam kortek superfisial. Nodul-nodul tumor
biasanya tersebar dan hanya sedikit yang disertai edema
peritumoral yang ekstensif di sekitarnya. Deposit-deposit
metastasis ini merupakan basil dari penyebaran hematogen yang
mengikuti distribusi aliran darah dan paling sering berlokasi
pada daerah arteria serebri media; 80% berlokasi supratentorial
dan 20% infratentorial; 35% soliter dan 65% lesi-lesi yang
multipel.
Metastasis intrakranial secara nyata dapat dideteksi oleh
CT bahkan pada diameter kurang dari 10 mm, lesi terkecil yang
dapat dideteksi adalah 5 mm.
Gambaran CT :
--
Suatu lesi hipodens (disertai dengan edema peritumoral)
dan gambaran seperti daun pakis.
--
Suatu nodul hiperdens kecil yang terletak perifer dan me-
nunjukkan enhancement pada pasea kontras.
--
Suatu lesi hipodens (pada CT polos) dan enhancement
cincin yang kompleks pada pasea kontras. Gambaran ini dapat
identik dengan glioma.
--
Suatu lesi kistik metastasis, berupa lesi hipodens bertepi
tegas dengan enhancement cincin di bagian perifernya. Lesi
kistik non-metastasis dapat memberikan gambaran yang
identik.
--
Suatu lesi hiperdens tidak berkapur dengan enhancement
yang dens. Pola ini dapat menyerupai meningioma.
Hal yang penting adalah melakukan pemeriksaan dengan
media kontras pada semua kasus yang dicurigai suatu
metastasis intrakranial karena lesi-lesi metastasis seringkali
memperlihatkan gambaran isodens path CT polos. Pemeriksaan
kontras dengan double dose dan delayed sean (misalnya 1 jam
sesudah infus) dilakukan pada lesi-lesi yang tidak tampak pada
pemeriksaan biasa.
Dapat terjadi penderita dengan keluhan, pada permulaan
pemeriksaan CT masih negatif, tetapi pada ulangan pemeriksa-
an CT 2 minggu kemudian memperlihatkan lesinya. CT sangat
membantu mendeteksi suatu occult metastases pada suatu neo-
plasma bronkogenik primer. Pada penderita-penderita dengan
dugaan suatu metastasis, penting mengadakan evaluasi adanya
perubahan atau destruksi tulang. Lesi-lesi maligna lain yang
memberikan gambaran identik dengan metastasis adalah lim-
foma, sarkoma, plasmasitoma aura deposit leukemik(
l.Z.
".
D. TUMOR-TUMOR SUPRATENTORIAL YANG LAIN
1. Gliosis dengan penyebab yang tidak diketahui.
Hal ini dapat terlihat pada perubahan reaktifitas yang non-
spesifik dari suatu jaringan misalnya pasea bedah, trauma, neo-
plasma, infeksi, dan lesi-lesi demielinisasi. Gliosis reaktif dapat
terjadi pada bagian perifer dari neoplasmanya atau pada daerah
demielinisasinya yang terjadi spontan tanpa diketahui kausanya.
Gambaran CT :
·
Suatu lcsi hipodens yang tidak menunjukkan enhancement.
·
Suatu lesi berdensitas campuran dengan enhancement
noduler, cincin atau bentuk serpiginous.
Gambaran CT suatu lesi dapat berubah dengan meningginya
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992
background image
enhancement kontras pada pemeriksaan berikutnya. Diagnosis
pasti hanya dapat ditentukan secara biopsi dan tidak diketahui
mengapa resolusi spontan dari keadaan ini dapat terjadi.
Diagnosis gliosis hanya dapat ditentukan secara bedah atau
nekropsi patologis.
2. Sarkoma Sel Retikulum :
Neoplasma ini biasanya terjadi pada penderita-penderita
dengan kelainan imunologi, dapat berupa lesi yang tunggal atau
ganda, berlokasi khas pada basal ganglia, talamus, korpus kalo-
sum, periventrikuler pada substansia alba dan vermis serebeli.
Gambaran CT :
Berupa lesi-lesi iso atau hiperdens, non-kalsifikasi dan
dengan enhancement noduler yang homogen.
3. Ependimoma
Epenaimoma pada hemisferium serebri dapat memperlihat-
kan gambaran kistik atau kalsifikasi. Biasanya memperlihatkan
enhancement kontras dengan densitas yang komplek, dan tidak
dapat dibedakan dari glioma yang lain.
4. Oligodendroglioma
Biasanya berlokasi di dalam hemisferium serebri. Tanda
patologi yang sangat khas adalah perkapuran peritumoral yang
padat.
Gambaran CT :
Perkapuran di bagian perifer, linear atau pola globuler yang
padat. Dapat mempunyai gambaran hipodens di bagian sentral
yang merupakan nekrosis sentral, pembentukan kista atau
degenerasi mukoid gelatinosa. Oligodcndroglioma biasanya
memperlihatkan enhancement yang lemah. Apabila ada per-
ubahan anaplastik, maka enhancement kontras yang intensif
dapat terlihat
(2,4,8,)
.
II. NEOPLASMA YANG BERLOKASI DI GARIS
TENGAH
A. Neoplasma yang berdampingan dengan sela tursika
(Juxtasellar Neoplasms) :
Proses-proses patologik pada juxtasellar yang paling sering
adalah adenoma hipofisis, kraniofaringioma, meningioma dan
glioma pada traktus optikus anterior (anterior visual pathway).
Yang kurang sering tetapi penting secara klinik adalah ancurisma
dan teratoma-teratoma yang atipik. Karena penting menentukan
batasan suatu aneurisma juxtasellar, maka angiografi harus di-
lakukan pada semua penderita yang pemeriksaan CT nya
menunjukkan adanya lesi juxtasellar.
Gambaran CT
Lesi-lesi infra dan juxtasellar tergantung alas ukuran dan
gambaran patologik yang khas dari lesi. Untuk pemeriksaan yang
lengkap, diperlukan penampang aksial dan koronal yang tipis
dari sela tursika dan sekitarnya (sinus kavcrnosus, sisterna
supraseler, sisterna intra pendunkularis, arteria karotis, ventrikel
III, sinus sfenoidalis, lobus frontalis dan temporalis). Untuk
visualisasi lesi-lesi besar yang mengadakan ckstensi ke dalam
sistema supraseler, sudah cukup dengan penampang aksial
tetapi untuk lesi-lesi yang kecil yang lokasinya predominan
intraselar (mikroadenoma hipofisis) diperlukan penampang-
penampang koronal untuk mencntukan kelenjar hipofisis dan
infundibulum.
Diagnosis masa intra seler ditentukan oleh beberapa pe-
nemuan :
­
Pelebaran fosa hipofise dengan perubahan tulang.
­
Tinggi kelenjar hipofise lebih dari 9 mm dengan konfigu-
rasi konveks ke atas (ukuran nyata pada penampang koronal).
­
Pasea kontras menunjukkan enhancement intraseler yang
abnormal.
­
Infundibulum hipofisis mengalami cicvasi dan distorsi.
Ekstensi supraseler dimanifestasikan oleh penemuan berupa
densitas yang abnormal atau enhancement di dalam sistema
supraseler.
Ekstensi juxtasellar :
­
Ke lateral, enhancement yang asimetris dari sinus kaver-
nosus dan/atau pergeseran dari arteria karotis.
­
Densitas atau enhancement yang abnormal di bagian
anterior atau di dalam lobus frontalis.
­
Densitas yang abnormal di bagian posterior di dalam sis-
terna interpedunkuler atau pergeseran arteria basilaris ke kaudal.
­
Densitas jaringan lunak yang abnormal di bagian inferior
di dalam sinus sfenoidalis dan erosi dari dasar sela.
1.
Adenoma Hipofisis
Biasanya merupakan tumor solid. Pada 25% kasus disertai
dengan pembentukan kista, nekrosis, perdarahan atau per-
kapuran. Penampang-penamnpang yang tipis dari CT (koronal)
merupakan prosedur pelengkap untuk mendeteksi mikroade-
noma hipofisis pada penderita-penderita dengan tanda-tanda
hiperfungsi keicnjar hipofisis dan konfirmasi laboratorium.
Gambaran CT :
Suatu daerah hipodens fokal berlokasi di dalam sela tursika
yang meicbar dengan lengkungan konveks ke atas dari kelenjar
hipofisis. Makroadenoma hipofisis lebih dari 10 mm, biasanya
terlihat agak hiperdens, membulat atau oval dengan tepi yang
tajam menunjukkan enhancement kuat (dense homogen) dan
bertepi tajam. Bila adenoma hipofisis ini kistik maim dapat
memperlihatkan gambaran hipodens dengan enhancement
cincin di sekitarnya.
Perdarahan di dalam adenoma memperlihatkan suatu
bagian yang hiperdens tidak berkapur. Enhancement dapat
terlihat di dalam adenoma hipofisis di bagian yang tidak ber-
darah
(1,2,4,11)
.
2.
Kraniofaringioma
Seringkali mempunyai perbedaan penampilan dari ade-
noma hipofisis. Lebih sering berkapur. Lokasi biasanya path
supraseicr dengan obstruksi dini dari foramen intraventrikuler
yang menyebabkan hidrosefalus. Kraniofaringioma juga.dapat
tumbuh dari dasar ventrikel III atau lamina terminalis.
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992 15
background image
Gambaran CT
CT polos memperlihatkan densitas iso, hipo atau hiperdens
yang heterogen dan mempunyai tepi yang iregulcr. Enhancement
dapat terlihat di bagian tepi (peripheral rim) atau memper-
lihatkan pola cincin dens yang hcterogcn (menycrupai yang
terlihat pada glioma).
Kraniofaringioma kistika biasanya memperlihatkan lesi-
lesi hipodens yang membulat dengan enhancement cincin pe-
fifer. Gambaran ini dapat identik dengan :
­
Adenoma pituitari kistika. Apabila kraniofaringioma tidak
terlihat pada ketebalan 10 mm, maka dibuat penampang-pe-
nampang yang lcbih tipis misalnya 4 mm.
­
Meningioma juxtasellar biasanya tumbuh di dalam tuber-
kulum, sela atau planum sfenoidale. CT biasanya memper-
lihatkan gambaran speckled (salt and pepper appearance),
masa multilobulated yang hiperdens dan biasanya berlokasi di
bagian lateral dan anterior sela tursika. Meningioma ini
memperlihatkan gambaran dense dengan enhancement kontras
yang homogcn tetapi kadang-kadang disertai gambaran
hipodens tipis di sekitarnya. Pada regio juxtasellar selalu harus
dievaluasi secara hati-hati adanya hiperostosis tulang karena
meningioma.
­
Glioma primer dapat tumbuh dari chiasma optikum, lebih
sering mengadakan ekstensi intrakranial melalui foramen
optikum atau dari regio hipotalamus.
Gambaran CT dari suatu glioma nervus optikus berupa
pembesaran nervus optikus berbentuk fusiform yang merata.
Ekstensi intrakranial melalui foramen optikum ke dalam sisterna
supraseicr dapat terlihat jelas dengan CT. Glioma chiasma dapat
terlihat sebagai lesi yang iso atau hiperdens, tidak berkapur,
menunjukkan enhancement, berbatas tegas. Hal ini dapat me-
libatkan sisterna supraseicr dan ventrikel III bagian anterior.
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992
16
­
Ancurisma juxtasellar, tidak dapat dideferensiasikan dari
neoplasma yang lain tanpa angiografi.
Gambaran CT tergantung was ukuran lesi, perkapuran
intraluminal, trombus mural, atau ukuran bloodpool intralumi-
nal. Ancurisma nontrombus terlihat isodens, bulat, menunjukkan
enhancement dens; sebagian dari aneurisma trombus menunjuk-
kan perkapuran pada dindingnya dengan beberapa enhancement
intraluminal
(2,4,8,12)
.
III. NEOPLASMA YANG BERLOKASI INTRAVENTRI-
KULER
A. Neoplasma-neoplasma Intraventrikuler Lateralis
Papiloma pleksus khoroidalis, meningioma, ependimoma
dan glioma merupakan neoplasma yang paling suing ditemu-
kan. Tumor-tumor ini menyebabkan hidrosefalus obstruktif dan
kemungkinan disertai dengan dilatasi lokal dari rongga ventrikel
yang berhubungan dengan tumomya dan hipertensi intrakranial.
Meningioma dan papiloma plcksus khoroidalis mencapai din-
ding ventrikel melalui pedikel, sedangkan glioma tidak mem-
punyai pedikel tetapi dapat mengadakan infiltrasi melalui
dinding ventrikel dan mencapai hemisfer serebri.
Gambaran CT
Memperlihatkan dilatasi ventrikel lateralis yang sangat jelas
di daerah yang berhubungan dengan tumor. Papiloma pleksus
khoroidalis dan meningioma memperlihatkan gambaran hiper-
dens berkapur (speckled in appearance) tetapi biasanya tidak
menunjukkan enhancement. Lesi intraventrikuler yang jarang
ditemukan adalah dermoid dan kista epidermoid yang dapat
memperlihatkan. gambaran hipodens (identik dengan likuor
serebrospinalis) dan jarang menunjukkan enhancement. Pada
lesi-lesi intravcntrikulcr hipodens, tumor dapat menycbabkan
hidrosefalus obstruktif tetapi batasnya sulit ditentukan sehingga
ventrikulogram metrisamid perlu dilakukan
(1,2,4,8,13)
.
B.
Neoplasma-neoplasma di bagian Anterior Ventrikel-III
Kista-kista koloid biasanya berasal dari bagian antero-
superior vcntrikel-III. Kista ini dapat menyumbat foramen inter-
ventrikularis dan menyebabkan hidrosefalus obstruktif.
Gambaran CT
Kista-kista koloid dapat memperlihatkan masa yang bulat
iso atau hiperdens pada foramen interventrikularis. Dapat terjadi
enhancement homogen yang ringan dari lesinya, tetapi setengah
dari lesi-lesi ini tidak menunjukkan enhancement. Penampang-
penampang koronal memperlihatkan pelebaran dari septum
pelusidum dan terpisahnya kornu anterior bagian inferior. Pada
kasus-kasus jarang, dimana kista-kista koloid ini isodens dan
non-enhancing, diagnosis hanya dapat ditegakkan dengan
metrisamid sisternogram; namun demikian, pada kasus-kasus
yang sudah menyebabkan hidrosefalus, sulit untuk menentukan
diagnosis sebelum operasi
(1,2,4,8)
.
C.
Neoplasma-neoplasma di bagian Posterior Ventrikel-III
Neoplasma-neoplasma di bagian posterior ventrikel-III ter-
masuk : (1) tumor-tumor dari kelenjar pineal (pinealoma, pine-
oblastoma); (2) teratoma; dan (3) macam-macam tumor ter-
masuk glioma, metastasis, meduloblastoma dan meningioma.
Lesi-lesi non-neoplasma termasuk aneurisma vena galenik, kista
pada quadrigeminal plate, hematoma pada midbrain atau infark.
Penderita dengan tumor-tumor di bagian posterior ven-
trikel-III biasanya disertai tanda-tanda hipertensi intrakranial,
bila daerah quadrigeminal plate terkena maka akan terjadi pa-
resis dari gerakan bola mata ke atas dengan dilatasi dan reaksi
pupil yang jelek. Diagnosis tumor-tumor di bagian ventrikel-III
ini ditegakkan secara nyata dengan CT, namun demikian pe-
nentuan gambaran histopatologi yang persis biasanya tidak
mungkin ditentukan sebelum biopsi bedah.
Gambaran CT
Distorsi dan pergeseran (biasanya elevasi) dari ventrikel-III
(normal berbentuk konveks); dan distorsi dari sisterna kuadri-
geminal, sisterna ambiens atau si
g
ma serebelaris superior.
Pinealoma dan teratoma memperlihatkan gambaran masa yang
multilobulated dengan perkapuran yang tersebar; glioma dan
metastasis biasanya tidak berkapur. Teratoma biasanya kurang
padat dibanding dengan pinealoma dan cenderung disertai
komponen kistik hipodens dan perkapuran. Pinealoma memper-
background image
lihatkan suatu gambaran dens berkapur yang berukuran cukup
besar pads kelenjar pineal. Pada teratoma, jaringan kelenjar
pineal yang normal dapat terlihat tersebar di dalam neoplasma-
nya. Pinealoma dan teratoma memperlihatkan enhancement
homogen sedangkan glioma dan metastasis memperlihatkan
enhancement yang ireguler dan kompleks. Setiap pinealoma
dan teratoma memperlihatkan enhancement pads subependimal
dan sisterna
(4,8)
.
IV. LESI-LESI FOSA POSTERIOR
Lesi-lesi ini dapat diklasifikasikan sebagai ekstraaksial
(berasal dari meninges yaitu meningioma dan berasal dari nerve
sheath yaitu neurinoma) atau intraaksial yang berasal dari
dalam batang otak, serebelum atau ventrikel-IV.
A.
Tumor-tumor Ekstraaksial
Tumor-tumor ini paling sering berasal dari sudut serebelo-
pontin yaitu neurinoma akustik dan meningioma. Lesi-lesi lain
yaiw kista-kista (dermoid, epidermoid, subarakhnoid), meta-
stasis, aneurisma dan malformasi vaskuler. Meningioma juga
dapat berasal dari tentorium dan dapat mengadakan ekstensi ke
supra dan infratentorial.
Gambaran CT
Sesuai dengan diagnosis dari lesi infratentorial ekstraaksial
yaitu erosi tulang, pelebaran sistema yang berhubungan dengan
tumor, pergeseran batang otak dan struktur serebeler ke kontra-
lateral, bentuk lesi yang regular, bertepi tegas dan lesi ber-
hubungan dengan foramen magnum dan tentorium.
B.
Lesi-lesi Intraaksial
Lesi-lesi intraaksial yang paling sering adalah neoplasma
serebeler (astrositoma, hemangioblastoma, metastasis), neo-
plasma intraventrikuler (meduloblastoma, ependimoma) dan
tumor-tumor batang otak.
Gambaran CT
Sesuai dengan diagnosis dari lesi intraaksial yaitu asimetri
dengan adanya penyempitan atau pergeseran dari sisterna basalis
yang ipsilateral terhadap tumor, tidak ada keabnormalan tulang,
bentuk lesi yang ireguler dan tepi lesi yang berbatas tidak tegas.
Tumor-tumor intraaksial di dalam ventrikel-IV yaitu medulo-
blastoma, ependimoma dan papiloma pleksus khoroidalis, ber-
lokasi di fosa posterior bagian sentral dan mengadakan ekspansi
lebih dari sekedar mendesak ventrikel-IV. Tumor-tumor sere-
beler dapat mendesak ventrikel-IV ke sisi kontralateral.
1. Lesi-lesi Batang Otak
Glioma paling banyak didapatkan pada anak-anak dan remaja,
glioma dan metastasis frekuensinya lebih kurang sama dengan
penderita-penderita dewasa. Tanda-tanda klinik berkembang
secara samar dengan tanda-tanda permulaan gangguan gait,
parese fasial dan diplopia karena parese nervus VI (abducens).
Bila tanda-tanda neurologi onsetnya akut, cenderung suatu brain-
stem telangiectasia daripada suatu glioma. Hipertensi intra-
kranial dan hidrosefalus obstruktif biasanya tidak terjadi pada
stadium awal tetapi pada stadium lanjut.
Gambaran CT
Batang otak ukurannya membesar, pendesakan ke arah
posterior dan distorsi dari ventrikel-IV, pendesakan ke arah
anterior dan distorsi dari sistema interpedunkularis serta distors
dari struktur-struktur di sekitar batang otak (sisterna kuadri
gemina, arteria basilaris dan arteria serebri posterior). Pada Cl
polos, regio batang otak dapat iso atau hipodens, dapat me
nunjukkan enhancement noduler atau cincin. Glioma biasanyt
tidak memperlihatkan perdarahan, perkapuran atau pemben
tukan kista; penderita dapat menunjukkan tanda-tanda klinil
tetapi CT tidak menunjukkan adanya kelainan. Maka apabil,
terdapat perburukan kelainan neurologinya, perlu pemeriksaar
CT segera.
2. Lesi-lesi Serebeler
Tumor-tumor ini dapat berasal dari dalam vermis atau di
dalam hemisfer serebeli. Gambaran klinik dari tumor-tumor
vermis di garis tengah adalah gait ataxia dan tekanan intrakranial
yang meninggi. Tumor-tumor pada hemisfer lateralis dapat me-
nyebabkan ipsilateral limb ataxia dan hidrosefalus obstruktif.
Lesi-lesi neoplastik termasuk astrositoma, metastasis, sarkoma,
hemangioblastoma; lesi-lesi non-neoplastik yang sering dijumpai
adalah abses, hematoma, infark, malformasi vaskuler dan gliosis
non-neoplastik. CT mempunyai kesensitifan yang tinggi di dalam
memperlihatkan adanya masa-masa serebeler, tetapi bagai-
manapun CT kurang sensitif di dalam menentukan gambaran
patologi yang persis dari lesinya, jadi CT mempunyai limitasi di
dalam menentukan diagnosa patologi. Angiografi penting untuk
menyingkirkan suatu hemangioblastoma atau malformasi vas-
kuler yang lain.
Gambaran CT
·
Suatu densitas yang abnormal atau enhancement yang po-
sitif pada vermis atau hemisfer, pendesakan dan distorsi dari
ventrikel-IV, sisterna basalis tidak tampak dan tidak ada per-
ubahan tulang.
·
Astrositoma serebeler mempunyai gambaran yang khas,
berupa lesi-lesi hipodens bulat atau oval dengan nodul kecil
hiperdens di bagian perifernya yang menunjukkan enhancement.
Pada astrositoma yang lain, lesi noduler di bagian perifer tidak
tampak sedangkan lesi hipodens tidak menunjukkan enhance-
ment.
Astrositoma serebeler yang solid, pada CT polos memper-
lihatkan lesi berdensitas campuran heterogen. Dapat terjadi
enhancement dengan pola cincin yang kompleks.
·
Hemangioblastoma dapat berupa masa solid atau kistik.
Lesi-lesi kistik tampak hipodens dengan enhancement cincin di
bagian puffer lesi nodulernya. Lesi solid memperlihatkan
densitas iso- atau hiperdens pada CT polos dan memperlihatkan
enhancement yang dense pasea pemberian media kontras.
·
Metastasis dapat memperlihatkan beberapa pola gambaran
pada CT, namun demikian adanya lesi hipodens (bulat) dengan
ketebalan ring enhancement yang bervariasi, sugestif suatu
metastasis serebeler.
·
Limfoma dan sarkoma sel retikulum dapat terlihat sebagai
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992 17
background image
lesi iso- atau hiperdens dan memperlihatkan enhancement no-
duler. Lesi ini sering tampak pada vermis serebeli sedangkan
lesi yang multipel tampak pada ganglion basalis, talamus dan
korpus kalosum.
18
3.
Lesi-lesi pada ventrikel IV
Tumor-tumor ini cepat menyebabkan tanda-tanda tekanan
intrakranial tinggi karena hidrosefalus obstruktif. Meduloblas-
toma dan ependimoma merupakan tumor terbanyak, sedangkan
papiloma pleksus koroid kurang sering terjadi.
Gambaran CT
Lesi-lesi intraventrikuler di dalam fosa posterior, masa
hiperdens di garis tengah dengan halo hipodcns di sekitarnya;
ventrikel IV tidak tampak sebagai struktur berbentuk segitiga;
dan suatu lesi bulat hipodens di garis tengah yang menggambar-
kan pelebaran (expanded) ventrikel-IV.
4.
Meduloblastoma berasal dari atap ventrikel-IV
Masa ini mengisi dan meluas ke dalam ventrikel-IV dan
dapat mengadakan ekspansi secara eksofitik ke dalam rongga
sisterna. Meduloblastoma merupakan tumor-tumor solid, jarang
memperlihatkan kista, perdarahan atau perkapuran.
Gambaran CT
·
Suatu lesi yang agak hiperdens di garis tengah dengan dense
enhancement yang homogen, di sekitarnya ada cincin hipodens
yang menunjukkan adanya dilatasi ventrikel-IV.
·
Pada penderita yang lebih tua, meduloblastoma desmoplas-
tik (sarkoma serebeler) terjadi di hemisfer serebeler lateral yang
tampak sebagai lesi dengan densitas campuran yang heterogen
dengan ring enhancement yang ketebalannya bervariasi.
5.
Ependimoma tumbuh dari dasar ventrikel-IV
Secara patologi seringkali disertai komponen-komponen
kista, perkapuran dan perdarahan. Tumor dapat mengadakan
ekstensi secara eksofitik melalui resesus lateralis dari ventrikel-
IV ke dalam rongga-rongga sisternal.
Gambaran CT
Suatu lesi hipodens dengan regio perkapuran hiperdens baik
tunggal atau ganda. Regio-regio iso dan hipodens dapat memper-
lihatkan enhancement yang heterogen. Ventrikel-IV dilatasi di-
sertai dengan cincin hipodens di sekitar lesinya
(1,2,4,6,7,8,14,15,16,17)
.
KESIMPULAN
1.
CT sudah menjadi salah satu sarana neurodiagnostik yang
terpilih untuk mendiagnosis neoplasma intrakranial karena
mempunyai ketepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan
sarana neurodiagnostik konvensional yang tersedia.
2.
CT mempunyai keterbatasan dalam menentukan diagnosis
patologi suatu neoplasma secara tepat tanpa angiografi dan
biopsi bedah, karena gambaran CT suatu neoplasma intrakranial
sering menyerupai satu sama lainnya.
3.
CT mempunyai kemampuan yang akurat untuk menentukan
lokasi dan ekstensi suatu neoplasma; balk dengan potongan
aksial maupun koronal sehingga CT dapat membantu menen-
tukan lapangan penyinaran radioterapi dengan tepat.
4.
CT merupakan suatu pemeriksaan yang mudah, sederhana
dan non-invasif sehingga CT sangat sesuai untuk follow-up dan
pengawasan hasil terapi bedah maupun radiasi pada neoplasma
intrakranial.
r
KEPUSTAKAAN
1.
Grossman CB, Masdeu JC, Maravilla KR, Gonzalez CF. Intracranial
Neoplasma of the Adult, in: Head and Spine Imaging. John Wiley and
Sons, 1985; p. 225­281.
2.
Kazner E, Wende S, Grumme T, Lankseh W; Stochdorph O. Computed
Tomography in Brain Tumors. In: Computed Tomography in Intracranial
Tumor, Differential Diagnosis and Clinical Aspects. Berlin, Heidelberg:
Springer ­ Verlag, 1982; p. 18­454.
3.
Rothfus WE. Intracranial Mass. In: Manual Diagnostic Imaging. A Little
Borwn Spiral Manual, 1984; p. 52­55.
4.
Weisberg LA. Intracranial Neoplasms. In: Symposium on Neuroimaging.
Neurologic Clinics. W.B. Saunders Co, 1984; p. 695­718.
5.
Sutanto A. Pemeriksaan Tomografi dengan bantuan Komputer dalam
Diagnostik Neoplasma Intrakranial, satu tinjauan retrospektif pada 226
kasus, 1983.
6.
George AE, Russell EJ, Kricheff H. White Matter Buckling : CT Sign of
Extraaxial Intracranial Mass, AJR 1980; 135: 1031­6.
7.
hammock MK, Milhorat TH. Brain Tumors and Vaseular Disorders of the
Brain. In: Cranial Computed Tomography in Infancy and Childhood.
William & Wilkins, 1981; p. 163­290.
8.
Weisberg LA, Nice C, Katz M. Progressive Neurological Deficit, Meta-
static Disease and Juxtasellar Region Abnormalities. In: Cerebral Com-
puted Tomography. A Text-Atlas. Second Edition. W.B. Saunders Co,
1984; p. 47­80, 158­173, 174­192.
9.
Geehr RB, Dohrmann GJ, Rothman SLG.
"
Cireumseribed
"
Glioblastoma
Multiforme : the Role of Computed Tomography in Two Cases, AJR
1979; 132: 127­9.
10.
Lee YY, Tassel PV. Intracranial Oligodcndrogliomas. AJR 1989; 152:
361­9.
11.
Bonneville JF, Catlin F, Dietemann JL. Computed Tomography of the
Pituitary Gland. Berlin, Heidelberg: Springer-Verlag, 1986; p. 1­221.
12.
Lanzieri CF, Sacher M, Som PM. CT Changes in the Septum Pellucidum
associated with Intraventricular Craniopharyngiomas, J Computer Assist-
ed Tomography, 1985; 9(3): 507­510.
13.
Jelinek J, Smimiotopoulos JG, Parisi JE, Kanner M. Lateral Ventricular
Neoplasms of the Brain, AJR 1990; 15: 365­72.
14.
Buetow P, Smimiotopoulos JG, Done S. Congenital Brain Tumors, AJR
1990; 155: 587-93.
15.
Fitz CR. Neoplastic Diseases. in: Pathologic Cerebral Conditions in
Children. in: Head and Spine Imaging. John Wiley and Sons, 1985; p.
483­521.
16.
Yamada H. Supratentorial and Infratentorial Cystic Lesions and Brain
Tumors. In: Pediatric Cranial Computed Tomography. Igaku ­ Shoin,
1983; p. 82­104 and 230­253.
17.
Zimmerman RA, Bilaniuk LT, Bruno L, Rosenstock J. Computed Tomo-
graphy of Cerebellar Astrocytoma. AJR 1978; 130: 929­33.
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992