background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Penyakit Hubungan Seksual akibat
Jamur, Protozoa dan Parasit
Max Joseph Herman
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi - Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan Rl, Jakarta
PENDAHULUAN
Berbagai Penyakit akibat Hubungan Seksual (PHS) selain
yang disebabkan oleh bakteri, klamidia, virus dari mikoplasma
juga mungkin disebabkan oleh jamur, protozoa dan parasit
antara lain kandidiasis, trikomoniasis, giardiasis. amebiasis,
kudis, kutu pubis. Diagnosis PHS yang tepat dan pasti sangat
penting karena memiliki konotasi sosial dan biasanya diper-
oleh melalui pemeriksaan mikroskopik, perbenihan bakterio-
logis atau virologis. Sedangkan penatalaksanaan PHS tergan-
tung pada infeksi masing-masing individu. tetapi secara umum
apabila PHS sendiri tidak/kurang serius seperti trikomoniasis
atau ektoparasit maka tidak perlu pengamatan pasangan
seksual meskipun harus diobati juga karena hampir pasti ia
juga terinfeksi. Sebagian besar PHS lain demikian berat
(dalam kasus gonore resisten terhadap antibiotika merupakan
masalah) sehingga semua kontak seksual harus ditelusuri dan
diobati, khususnya pada gonore, sifilis dan AIDS.
Ulkus pada alat kelamin mungkin menular mungkin juga
tidak. Tanpa pemeriksaan laboratorium ada kemugkinan
mengalami ulkus genital :
1) Bila ulkus berupa lesi vesikular dan terjadi erosi per-
mukaan, penatalaksanaan sebagai herpes genitalis dan diobati;
setelah 7 hati tidak sembuh sebagai chancroid.
2) Bila ulkus tidak supuratif, tidak sakit bila ditekan, penata-
laksanaan sebagai sifilis dan diobati, bila tidak sembuh dirujuk
ke RS.
3) Untuk ulkus lain (nyeri tekan, mudah berdarah dan tidak
keras, banyak dengan/tanpa pembengkakan kelenjar) diobati
dengan kontrimoksazol selama 7 hari dan bila tidak sembuh
penatalaksanaan sebagai sifilis.
Lesi genital akibat penyakit non-venerik meliputi ber-
bagai kelainan yang sering menimbulkan masalah diagnosis
dan beberapa di antaranya mungkin ditularkan melalui hu-
bungan seksual serta dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1) Infeksi kulit, misal papiloma,moluskum-kontagiosum,
hypes simpleks.
2) Dermatosis, misal psoriasis, lichen planus, pityriasis.
3) Lesi dan ulcer non-infeksi, misal eritroplasia, balanitis
xerotica obliterans, ulcus vulvae acutum, sindroma Steven
Johnson.
4) Neoplasia.
KANDIDIASIS
Infeksi jamur dapat dibagi menjadi infeksi superfisial dan
dalam. Di antara infeksi superfisial yang sering ditularkan
melalui hubungan seksual adalah infeksi olah Candida spp.,
sedangkan infeksi dalam mungkin disebabkan oleh keganasan
jamur sendiri atau karena penurunan resistensi tuan rumah
khususnya pada gangguan kekebalan tubuh. Timbulnya infeksi
oleh jamur oportunistik makin meningkat antara lain akibat
penggunaan luas antibiotika spektrum lebar dan imunosupre-
siva,.kemajuan dalam bedah transplantasi dan katup jantung,
peningkatan penggunaan cannulae iv jangka panjang khusus-
nya untuk nutrisi parenteral.
Adanya organisme yang termasuk genus Candida dalam/
pada badan dikenal sebagai kandidiasis atau kandidosis
digunakan untuk menunjukkan status nonpatogenik atau
komensal. Tempat yang paling umum terdapat Candida spp.
adalah mulut, saluran anorektal, saluran kelamin dan kuku
(dalam lingkungan terbatas). Cara penularan terutama adalah
kontak langsung orang ke orang, khususnya tinggi pada
kelompok aktif , seksual.
Sumber infeksi antara lain saluran pencernaan, kambuhan,
atau transmisi seksual. Sekitar 20% pria pasangan dari wanita
dengan kandidiasis vagina kambuhan menunjukkan kolonisasi
kandida pada penis, khususnya pada pria tidak dikhitan pada
daerah sulcus corona (biasanya asimtomatik); 4 x lebih
banyak pada pria pasangan wanita yang terinfeksi daripada
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001
12
background image
pria pasangan wanita yang bebas infeksi. Sebenarnya wanita
memiliki mekanisme pertahanan alami vagina, antara lain
sistem humoral, fagositosis, imunitas yang dimediasi sel, dan
yang penting flora vagina yaitu melalui mekanisme kompetisi
untuk nutrisi dan bakteriosin yang menghambat pertumbuhan
dan germinasi ragi.
Infeksi jamur merupakan infeksi yang paling utarna dari
infeksi vagina dan C. alhirans merupakan penyebab utama
kandidiasis genital di samping T. glabrata. Kandidiasis vulvo-
vagina (VVC) atau vaginitis kandida khususnya di daerah
tropis dan subtropis sangat umum. Hampir 85-90% jamur
yang terdapat pada vagina adalah strain Candida albicans dan
Torulopsis glabrata. Organisme kandida bersifat di morfi dan
terdapat pada manusia dalam berbagai fasa fenotip. Untuk
kolonisasi Candida spp. pada epitel vagina, mula-mula harus
melekat pada sel epitel dan sumbernya terutama berasal dari
daerah perianal. Vaginitis kandida terutama menonjol pada
wanita usia subur khususnya pada status sosioekonomi rendah
dan selama kehamilan. Kolonisasi mungkin simtomatik/
asimtomatik yang biasanya ditentukan oleh perubahan ling-
kungan vagina yang menginduksi efek patologis.
Faktor-faktor predepsisi
·
Kehamilan : selama kehamilan vagina menunjukkan pe-
ningkatan kerentanan terhadap infeksi Candida spp. sehingga
prevalensi kolonisasi vagina dan vaginitis sirntomatik mening-
kat, khususnya dalam trimester ketiga. Diduga estrogen
meningkatkan perlekatan Candida spp. pada sel epitel vagina
dan secara langsung meningkatkan virulensi ragi:
·
Kontrasepsi oral : khususnya pada kadar estrogen tinggi.
·
Diabetes mellitus : frekuensi kolonisasi lebih tinggi (me-
rupakan faktor predeposisi bila tidak dikontrol).
·
Antibiotika : timbulnya VVC simptomatik sering terjadi
selama pemakaian antibiotika oral sistemik khususnya dengan
spektrum lebar seperti tetrasiklim, arnpisilin dan sefalosporin
karena eliminasi flora bakteri vagina yang bersifat protektif
seperti laktobasilus.
·
Lainnya: pakaian yang ketat rapat dengan celana dalam
nilon meningkatkan kelembaban dan suhu daerah perineal
sehingga insiden VVC meningkat.
Manifestasi klinis
Pruritus dan duh vagina merupakan keluhan umum tetapi
tidak spesifik VVC. Nyeri vagina, iritasi, rasa terbakar,
dyspareunia dan dysuria eksternal juga sering rnenyertai, bau
sedikit dan tidak menonjol, eritema dan bengkak labia serta
vulva. Yang khas adalah bahwa gejala meningkat seminggu
sebelum menstruasi dan sedikit menurun dengan mulainya
haid meskipun kadang-kadang Candida spp. menyebabkan
balanophositis pada pasangan wanita dengan kandidiasis, yang
lebih sering terjadi adalah ruam sementara, eritema dan pru-
ritus atau sensasi terbakar pada penis yang muncul dalam
beberapa menit/jam setelah hubungan seksual.
Kelangkaan relatif spesifisitas simptom dan tanda-tanda
menyebabkan diagnosis didasarkan pada sejarah dan peme-
riksaan fisik semata. Kebanyakan penderita vaginitis simpto-
matik dengan segera didiagnosis berdasarkan pengamatan
rnikroskopik dasar sederhana terhadap sekresi vagina dan
penentuan pH.
Penatalaksanaan
Kandidiasis mungkin merupakan penyakit yang tidak
ditularkan melalui hubungan seksual dari wanita, tetapi 20%
wanita dengan VVC pasangan prianya memiliki koloni
Candida spp. pada penis dengan/tanpa gejala. Bila ada gejala,
pada wanita biasanya karena faktor disposisi seperti hamil,
penggunaan antibiotika, diabetes, imunosupresi atau peng-
gunaan kontrasepsi oral. Diagnosis melalui pemeriksaan
sekresi vagina atau biakan.
·
Vaginitis akut: pada umumnya penatalaksanaan koloni-
sasi vagina tanpa gejala dan penatalaksanaan akut sama
dengan kambuhan/kronis, hanya berbeda dalam hal lama
terapi. Tetapi VVC simptomatik selain dengan turunan imi-
dazol yang bekerja pada membran sel jamur dapat juga dengan
poliena seperti nistatin dan amfoterisin B yang berikatan pada
tempat sterol pada membran sitoplasma sel jamur sehingga
mengganggu permeabilitasnya. Bahan lain yang bermanfaat
antara lain asam borat, povidoniodin, K sorbat dan asam
propionat bentuk sediaan bisa topikal atau sistemik per oral.
Pada kehamilan vaginitis akut biasanya dapat diatasi dengan
antijamur topikal tetapi dengar jangka waktu pemakaian lebih
lama (1-2 minggu).
·
VVC kronis dan kambuhan : batasan kambuhan adalah
paling sedikit ada 4 episoda mikrologis simptomatik yang ter-
bukti dalam 12 bulan terakhir di luar patogen vagina lain yang
umum. Langkah pertama yang harus diambil adalah identi-
fikasi dan eliminasi sebab-sebab yang mendasar, misalnya
diabetes yang tidak dikontrol, pemakaian kortikosteroid atau
imunoupresivi lain serta hormon. Pengobatan biasanya ber-
dasarkan diagnosis sendiri dengan terapi topikal, preskripsi
bisa diulang dan dimulai lagi dengan adanya gejala-gejala
kambuhan, misal kotrimazo 500 mg dosis tunggal. Beberapa
studi menunjukkan bahwa terapi profilaksis jangka panjang
mengurangi secara berarti frekuensi episoda VVC sirnpto-
matik, misalnya dengan ketokonazol 100 mg sehari selama 6
bulan (perlu pertimbangan kemungkinan toksisitas jangka
panjang). Cara lain yang banyak digunakar untuk mencegah
kambuhan adalah menambahkan nistatin dalam terapi dengan
tujuan mengurangi risiko reinfeksi vagina dari reservoir
intestinal persisten. Suatu pilihan pendekatan pemeliharaan
jangka panjang terapi antikandida untuk VVC kambuhan
adalah penggunaan hiposensitisasi dengan suatu antigen.
Antijamur profilaktik tidak dianjurkan rutin untuk me-
nyertai terapi antibiotika pada wanita, tetapi pada wanita
dengan VVC kambuhan yang diketahui bahwa antimikroba
merupakan faktor penyebab yang tidak dapat dihindari maka
penggunaan antijamur topikal bersamaan dapat dibenarkan
(non-oral). Dalam penanganan VVC kambuhan/kronis perlu
ditekankan pentingnya dukungan, keyakinan dan konsultasi,
karena vaginitis kronis menyebabkan dyspareunia kronis
dengan gangguan hubungan seksual atau perkawinan yang
mungkin menjadi permanen dan tidak dapat diperbaiki lagi.
PROTOZOA
T. Vaginalis
Trikomoniasis, suatu infeksi oleh protozoa berflagela : T.
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001 13
background image
vaginalis, merupakan infeksi PHS yang umum. Diketahui
sejak 1836, tetapi dianggap sebagai organisme komensal dan
baru diketahui sebagai patogen pada pertengahan abad ke-20.
Terapi tidak memadai sampai ditemukannya metronidazol
tahun 60-an dan kemudian turunan 5-nitroimidazol lainnya
yang diketahui efektif sistemik. T. vaginalis melekat pada
membran mukosa, bersifat anaerob, berbiak dengan fisi biner
dan terdapat sebagai sel vegetatif belaka. Prevalensi pada
kelompok tertentu berhubungan dengan ambang aktivitas
seksual dan juga dipengaruhi oleh metoda kontrasepsi, ter-
utama metoda barier dan kontrasepsi oral. Infeksi seringkali
bersamaan dengan gonore, penularan non-seksual yang
terbanyak adalah perinatal. Virulensi, organisme, kepekaan
dan reaktivitas tuan rumah, pola epiderniologis seperti infeksi
gabungan menentukan tingkat keseriusan klinik. Pada wanita
dengan trikomoniasis organisme dapat diisolasi dari vagina
pada 95% infeksi dan dari saluran urine 5%, sedangkan pada
pria tempat infeksi yang umum justru uretra.
Infeksi pada wanita bervariasi dari karier asimptomatik
sampai ke infeksi akut yang berat. Lingkungan vagina
mempengaruhi patogenitas trikomonas dan bervariasi dari
waktu ke waktu pada orang yang sama (misalnya haid, pH,
potensial redoks, ambang, hormon atau mikroba lain),
sedangkan pada pria biasanya asimptomatik. Infeksi pada
wanita biasanya menimbulkan respons inflamasi akut dengan
duh vagina yang mengandung sejurnlah besar neutrofil
polimorfonuklir (PMN). Infeksi berulang umum, tetapi tak
menimbulkan kekebalan yang secara klinis berarti. Pada pria
sebagian kecil menyebabkan NGU (uretritis non gonore) di
samping C. trachomatis atau U. urealyticum. Dibandingkan
dengan PHS lain, tidak ada komplikasi lanjut, lagi pula
efeknya kecil pada kehamilan.
Diagnosis klinis berdasarkan tanda dan gejala pada wanita
maupun pria tidak cukup; dibutuhkan deteksi parasit dengan
cara mikroskopik langsung atau perbenihan. Trikomoniasis
pada pria tidak mungkin dibedakan secara klinis dengan NGU
oleh sebab lain, tetapi respons pengobatan mungkin mem-
berikan petunjuk. NGU yang tidak memberikan respons ter-
hadap terapi standard untuk klamidia dan ureaplasma mungkin
menunjukkan trikomoniasis. Pengobatan yang efektif dengan
rnetronidazol yang pertama kali digunakan tahun 1959 untuk
penatalaksanaan infeksi protozoa dan turunan 5-nitroimidazol
lain seperti tinidazol. ordinazol (MIC < 1 ug/ml).
Protozoa intestinal : G. lamblia, E. histolytica, Cryptos-
poridium sp
Protozoa patogen enterik sering menimbulkan diare dan
kadang ditularkan melalui hubungan seksual fekal-oral.
Giardia lamblia mungkin pertama kali ditemukan tahun 1681
oleh A. van Leeuwenhoek, tetapi baru tahun 1859 ditandai
oleh v.d.F. Lambl dengan nama Arromonas intestinalis dan
oleh Kunstler tahun 1882 dengan nama Giardia lamblia. Pada
daerah endemi sebagian besar infeksi asimptomatik, tetapi
bagian yang berarti dari penduduk dan pengelana yang
sebelumnya tidak terinfeksi bersifat simptomatik dengan
gejala diare lebih lama dari 10 hari, nyeri kaku abdomen atas,
flatulensi dan penurunan bobot badan. Masa inkubasi 1-8
minggu dan gejala sering mendahului deteksi adanya parasit
dalam kotoran. Diagnosis dilakukan melalui spesimen segar
atau dipekatkan dari kotoran pada kasus diare di luar masa
prepatensi 5-7 hari.
Entainoeba histolytica pertama kali digambarkan oleh
Loesch tahun 1875 dan baru dinamakan tahun 1903 oleh Fritz
Schaudinn sebgaai E. histolytica karena kapasitasnya marusak
jaringan. Manifestasi klinis bervariasi dari ekskresi kista
asimptomatik sampai rectocolitis akut, penyakit intestinal
nondisentri kronis, ameboma atau megacolon toksis.
Tabel 1. Obat pada Penatalaksanaan Giardiasis
Obat Dosis
Tkt. kesembuhan
(0%)
Efek samping
der. akridin
kuinakrin
100 mg tid, 5-7 hari
anak 6-8 mg/kg bb dd,
5-7 hari
63 ­ 100
84 ­ 93
psikosis. insomnia,
sakit kepala, mual
nitroimidazol
metronidazol
250 mg tid. 5-10 hari
750 mg tid. 3-10 hari
1.6-2 g qid, 1-5 hari
anak 15-25 mg/kb bb
dd, 5-7 hari
56 - 70
95
91
61 - 90
sakit kepala. rasa
logarn, diare, vertigo
ruam parestesia
ataksia. neutropenia
tinidazol
2 g dosis tunggal po
93 - 97
efek camping tinida
125 mg bid. 7 hari
zol lebih kecil
nitrofurantoin
furazolidin
100rng tid. 7 hari
anak 1-5 mg/kg bb qid
7 hari
72 -92
mual, muntah, sakit
kepala, artralgia, ruam
gangguan darah
Dalam siklus kehidupan E. histolytica, kista merupakan
bentuk infektif karena dapat hidup di luar tuan rumah sampai
berbulan-bulan dalam lingkungan lembab. Patogenesis ame-
biasis invatif dapat dibagi dalam 4 langkah yaitu (1) kolonisasi
intestin oleh tropozoit, (2) perusakan barier mukosa dengan
perlekatan pada sel epitel kolon, (3) lisis sel epitel bs dan (4)
resistensi terhadap mekanisme pertahanan humoral dan selular
tuan rumah dengan invasi dalam jaringan. Kunci diagnosis
laboratorium amebiasis kolon adalah pengamatan kotoran
yang positif pada l.k. 90% kolitis amebik invasif dengarr
berbagai teknis serologis spesifik untuk amoeba. Penyebaran
melalui aliran darah mungkin terjadi dan menyebabkan abses
hati serta lebih jarang paru-paru dan otak. Pada umumnya
prevalensi lebih tinggi pada daerah dengan sanitasi buruk,
institusi mental dan pria homoseksual. Epidemi terjadi ter-
utama akibat masuknya kista rnelalui air yang tercemar
sedangkan penyebaran endemik terjadi melalui transfer tangan
ke mulut, sayuran tercemar dan lalat. Terapi obat yang
memadai harus memperhitungkan distribusi obat dan tempat
aktivitas amebisida, misalnya antibiotika biasanya hanya aktif
untuk kolon dan tidak untuk hati. Obat yang aktif dalam
semua jaringan a.l. paromomisin, diloksanidfuroat, bismut
iodida dan diiodohidroksikuinolin. Pencegahan bergantung
pada gangguan penularan fekal-oral dengan perbaikan higiene,
sanitasi, pengolahan air, menghindari kontak oro-anal-genital
dan isolasi kasus.
Organisme dari genus Cryptosporidium dapat menimbul-
kan infeksi oportunistik pada kasus ganguan imunologis.
Biasanya terdapat pada saluran pencernaan, pernapasan dan
empedu.
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001
14
background image
Spesies mammalia utama yang menyebabkan diare adalah C.
parvum dan yang kedua C. muris. Pada kasus AIDS gejala
bisa sangat berat. Infeksi dimulai bila tuan rumah kebetulan
makan oocyst dan manifestasi klinis bergantung pada status
imun dengan masa inkubasi antara 3-14 hari. Cara penularan
bisa dari hewan kepada manusia, melalui air, dari orang ke
orang. Diagnosis dengan teknik pewarnaan oocyst. Terapi
primer semua bentuk diare termasuk oleh Cryptospooridium
sp. adalah penggantian cairan dan elektrolit.
EKTOPARASIT
Ektoparasit jarang menyebabkan infeksi saluran kelamin,
tetapi ditularkan dari orang ke orang melalui hubungan erat,
khususnya hubungan seksual.
Pedikulosis pubis
Ordo Anaplura mencakup lebih dari 400 spesies kutu
penghisap yang merupakan ektoparasit mammalia dan dari
tiga spesies kutu pada manusia yaitu Phtirius pubis (kutu
pubis), Pediculus humanis capitis (kutu kepala) dan P. huma-
nus humanus (kutu badan) spesies yang sering ditularkan
melalui hubungan seksual adalah kutu pubis atau crabs.
Kutu memiliki 5 tahap kehidupan yang semuanya terjadi
pada tuan rumah yaitu telur, tiga tahap nymphal dan tahap
dewasa. Penularan dari orang ke orang terutama melalui
hubungan intim. Kutu pubis tidak menyebar secepat kutu
manusia lain di luar tuan rumah karena jangka hidupnya lebih
singkat (24 jam dibandingkan beberapa hari untuk yang lain),
penularan seksual lebih dominan. Populasi dengan insiden
tertinggi kutu pubis sama dengan gonore dan sifilis yaitu
bujangan antara 15-25 tahun.
Kepekaan terhadap efek gigitan kutu bervariasi antar
individu. Bila baru pertama kali mungkin butuh 5 hari
sebelum gejala sensitisasi alergis terjadi dan gejala yang
utama adalah gatal, luka eritema, iritasi dan inflamasi. Diag-
nosis infestasi kutu dilakukan dengan (1) sejarah terinci dari
penderita, (2) kemungkinan infestasi kutu dan pertimbangan
tanda dan gejala penderita serta (3) pengamatan teliti pen-
derita. Baik kutu dewasa maupun telurnya mudah dilihat
dengan mata telanjang.
Penatalaksanaan dan disinfeksi harus diindividulisasi.
Idealnya digunakan pedikulosida yang efektif membunuh baik
kutu dewasa maupun telurnya, untuk itu biasanya dibutuhkan
waktu kontak minimal l jam. Juga kontak di rumah yang lain
harus diamati sehingga baik sumber maupun penyebarannya
dapat diobati. Obat bebas yang paling efektif mengandung
piretrin dan piperonibutoksida, sedangkan obatetikal yang
banyak digunakan adalah
benzenheksaklorida 1 % di
samping sulfur petrolatum 6%, tiabendazol 5-10%, DDT dan
malathion. Yang paling baru adalah primetrin yang secara
kimia mirip piretrin tetapi bersifat termo dan fotostabil, efek
toksis rendah serta spektrum aktivitas insektisida lebar. Semua
pedikulosida menganggu fungsi ganglion saraf kutu hingga
menyebabkan paralisa pernapasan dan kematian. Kadang-
kadang gatal yang merupakan gejala penting semua infestasi
kutu tidak hilang dengan pedikulosida karena faktor reaksi
alergi dan/atau iritasi sehingga dibutuhkan antipruritus/
antiinflamasi. Pakaian harus dicuci dengan air panas atau dry
cleaning dan yang tidak bisa dicuci harus diberi disinfektan.
Scabies
Sesungguhnya scabies telah diketahui merupakan pe-
nyakit akibat gigitan kutu Sarcoptes scabiei sejak tahun 1687
yang biasanya berkumpul pada tangan dan pergelangan. Kutu
betina menggali stratum korneum dan bertelur 2-3 butir tiap
hari yang kemudian tumbuh menjadi dewasa dalam 10-14
hari. Tahap selanjutnya biasa disertai papula dengan rasa
gatal. Epidemi berlangsung dalam siklus 30 tahunan dengan
selang 15 tahun antara suatu akhir epidemi dan timbulnya
yang baru yang biasanya berlangsung selama 15 tahun juga.
Penyebabnya multifaktorial antara lain kemiskinan, higina
buruk, pelacuran, misdiagnosis, faktor demografi dan ekologi.
Dalam hal ini faktor imunologi penting. Kenaikan insiden
scabies sejak tahun 1960-an sedikit banyak sejalan dengan
gonore dan lebih banyak pada pria seperti PHS lainnya serta
usia antara 20-30 tahun sehingga dari sudut epidemiologi
dapat dikelompokkaan dalam PHS.
Karakteristik penderita dengan infestasi scabies
merupakan cermin populasi pada umumnya dan penularan
biasanya melalui hubungan erat personal. Masa inkubasi yang
panjang, khususnya bila pertama kali (6 minggu), menyebab-
kan penelusuran sumber sulit. Pada masa aktif seksual,
penularan melalui hubungan seksual bisa terjadi. Scabies juga
merupakan salah satu penyakit dari berbagai PHS yang juga
mungkin ditularkan dalam rumah tangga kepada tiap individu
dari segala usia. Makin besar muatan parasit pada individu,
makin tinggi kemungkinan penularan.
Gejala gatal khas scabies adalah malam hari atau setelah
mandi air panas, lesi hampir simetris dan tangan biasanya
yang pertama kali terkena (khususnya di sela jari). Lesi
tampak sebagai papula atau vesikel yang mengandung kutu
dan telurnya serta sangat menonjol pada pangkal jari, per-
mukaan anterior pinggang dan siku serta lipatan paha dan
kelamin eksternal pada pria; sedangkan pada wanita pada
puting susu, perut dan bagian bawah pantat. Penularan karena
kontak langsung kulit, melalui pakaian atau melalui hubungan
seksual yang sering kali bersamaan dengan gonore, sifilis,
pedikulosis pubis. Scabies atypi terjadi pada infeksi HIV dan
merupkan salah satu infeksi oportunistik. Komplikasi infeksi
bakteri sekunder mungkin timbul (biasanya karena digaruk),
misalnya kolonisasi strain streptokokus nefritogenik pada lesi
scabies yang menyebabkan glomerulonefritis, khususnya di
daerah tropis. Diagnosis diferensial mencakup hampir semua
dermatosis pruritik dengan teknik lab untuk studi mikros-
kopik.
Pilihan obat scabisida harus memperhitungkan efektivitas
dan toksisitas, pada awalnya terutama dengan sulfur dan
cenderung mulai ke scabisida modern karena segi kosmetika
sulfur kurang baik. Penatalaksanaan juga harus melibatkan
orang-orang yang berhubungan dekat atau pasangan seksual.
24 jam setelah terapi yang efektif penderita tidak dapat
menularkan lagi kepada orang lain, tetapi gejala mungkin
masih ada sampai beberapa minggu. Scabisida yang biasa
digunakan bersamaan dengan scabisida seperti antihistamin
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001 15
background image
atau salisilat dan untuk sisa pruritus setelah terapi scabisida
dapat digunakan hidrokortison pada orang dewasa dan
emolien pada bayi/anak. Diagnosis dini dan penatalaksanaan
dengan scabisida yang efektif untuk penderita dan kontak
seksual/rumah tangga merupakan kunci pencegahan.
gejala khas meningkat seminggu sebelum dan sedikit ber-
kurang dengan mulainya menstruasi, sedangkan pada trikomo-
nisias lingkungan vagina mempengaruhi patogenesis triko-
monas dan bervariasi dari waktu ke waktu pada orang yang
lama.
Terapi primer semua bentuk diare akibat protozoa
patogen enterik yang juga dapat ditularkan melalui hubungan
seksual oro-anal adalah penggantian cairan dan elektrolit.
Sedangkan pada ektoparasit yang kerap kali ditularkan dari
orang ke orang melalui hubungan erat, khususnya hubungan
seksual, penatalaksanaan dan disinfeksi harus diindividualisasi
dengan memperhitungkan efektivitas dan toksisitas.
TERAPI OBAT
C. albicans : pada vagina digunakan klotrimazol 100 mg
atau mikonazol 100 mg per vagina selama 7 hari atau nistatin
100.000-1.000.000 IU selama 7 hari. Untuk infeksi kambuhan
ketokonazol 200 mg po tiap hari selama 5 hari, sedangkan
untuk balanopostitis digunakan imidazol topikal 2 dd selama 7
hari.
T. vaginalis : metronidazol 2 g po dosis tunggal, alternatif
250 mg po 3dd selama 7 hari. Untuk wanita hamil dalam
trimester I digunakan kotrimoksazol 100 mg per vagina
sebelum tidur selama 7 hari, bila menyusui tetap dengan dosis
tunggal tetapi kemudian tidak boleh menyususi selama 24 jam.
Untuk bayi digunakan metronidazol 20 mg/kg bb/hari selama
5 hari.
KEPUSTAKAAN
1. Holmes KK et al. Sexually Transmitted Diseases, 2
nd
ed., New York
Mac Graw Hill, lnc., 1990; 305-16, 331-42, 515-22.
2. Csonka, GW, Oates JK. Sexually Transmitted Diseases, London,
Bailliere Tindall, 1990; 85-166, 188-205, 293-98, 305-10, 320-28, 393-
400.
S. scabiei : untuk usia lebih besar dari 10 tahun digunakan
lindan 1% selama 8 jam atau benzilbenzoat 25% selama 2
malam atau krotamiton 10% atau sulfur 6%, sedangkan untuk
usia lebih kecil dari 10 tahun atau wanita hamil/menyusui
hanya boleh digunakan krotamiton 10% atau sulfur 6%.
3. Beneson AS. Control of Communication Diseases in Man. 14
th
ed.
American Public Health Association. 1985 ; 171-77, 192-84, 251-53,
256-67, 278-80, 341-43, 401-2, 432-33.
4.
Sutarjo. Dasar Biologis Klinis Penyakit Infeksi. ed. 4, Yogyakarta Gajah
Mada University Press, 1994 : 279-83, 291-4.
P pubis : digunakan lindan 1% topikal selama 8 jam atau
piretrin dan piperonil butoksida secara topikal selarna 10
menit.
5.
Harris JRW. Recent Advances in Sexually Transmitted Diseases, no. 2,
Edinburgh; Churchill Livingstone, 1981: 217-25, 239-64.
6. Duerden BI., et al. Microbial and Parasitic Infection. 7
th
ed., Boston;
Little. Brown and Company 1993; 130-550, 286-92.
7.
Sutantri. Pedoman Diagnosis dan pengobatan Penyakit Kelamin, ed. 2,
Yogyakarta; Yayasan Essentia Medica, 1987; 166-70, 211 - 15.
KESIMPULAN
Infeksi jamur merupakan infeksi utama dari infeksi
vagina dan biasanya disebabkan oleh C. albicans dengan
8.
Departemen Kesehatan RI. Penyakit Hubungan Seksual dalam gambar,
Jakarta, 1986; 1-5, 44-56.
English Summary
Sambungan halaman 4
IMMUNODIAGNOSTIC TECHNIQUES IN PUBLIC HEALTH :
I. Basic principles of immunodiagnostic techniques
Iwan H. Utama, I Nym. Suarsana
Facutiy of Veterinary Medicine, Udayana University, Jimbaran-Bali, Indonesia
Immunodiagnostic techniques based from antigen-antibody reaction is
useful in agriculture, medicine, and environment control. This paper discussed
the basic principles in immunodiagnostic techniques, especially the chemical
aspects. We also discussed some factors which might interfere the results.
Cermin Dunia Kedokt, 2001; 130: 54-6
ihu, ins
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001
16