Mengenal Penyakit Darah dari Pemeriksaan
Hemoglobin dan Hapusan Darah Tepi
dr. Soenarto
Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/RS dr. Kariadi
Semarang
PENDAHULUAN
Guna membicarakan masalah penyakit yang berhubung-
an dengan darah, perlu diingat kembali tentang susunan
darah (cairan, eritrosit, lekosit, trombosit) serta tempat pem-
bentukannya. Keadaan darah yang beredar mempunyai kaitan
yang sulit yang menyangkut banyak segi dari segi fisiologik
yang normal dan patofisiologik
Sebagaimana diketahui, darah merupakan : alat pengangkut,
sistem pertahanan dan pengatur keseimbangan asam basa.
Darah yang beredar dapat merupakan petunjuk keadaan
sehat atau sakit dan juga ramalan tentang kelestarian se-
seorang.
Perubahan susunan kimiawi atau sel-sel darah dapat merupa-
kan petunjuk adanya penyakit darah, dapat pula sebagai
petunjuk adanya penyakit lain.
Untuk mengingat kembali dasar dari pengetahuan yang
berkaitan dengan darah, rnaka perlu difahami bahwa :
· -- Darah yang beredar merupakan petunjuk bagi ke-
adaan sehat atau sakit.
· -- Darah yang beredar merupakan petunjuk bagi seluruh
sistem dari tubuh.
· -- Perubahan-perubahan yang terjadi dalam darah dapat
pula sebagai petunjuk masalah yang berhubungan
dengan darah maupun bukan.
· -- Darah
yang
beredar dapat tampak normal dalam
keadaan penyakit yang gawat.
· -- Dapat pula terjadi perubahan darah yang nyata pada
penyakit yang ririgan.
· -- Tiap penyebutan dari "normal
atau abnormal",
perlu dipertimbangkan keadaan : jenis kelamin, usia,
ras, lingkungan dan adanya penyakit yang bukan
berasal dari darah.
Bertolak dari hal-hal tersebut, maka gejala maupun
keluhan penyakit darah dapat bermacam-macam dan tidak
begitu spesifik, sehingga kadang-kadang orang tidak menduga
adanya masalah yang berkaitan dengan darah.
Pada gangguan penyakit darah, seperti halnya pada penyakit
lain, kita perlu memperhatikan akan riwayat penderita tentang
kelelahan, kelemahan, sesak/pendek nafas waktu melakukan
pekerjaan, sering timbul infeksi, demam yang tak diketahui
penyebabnya dan perdarahan baik dikulit maupun dari alat-
alat lain.
Selanjutnya untuk sampai pada penilaian adanya penyakit
darah bila kita mendapatkan gejala : pucat/anemi yang di-
tegakkan pula dengan turunnya kadar hemoglobin, ikterus,
pembesaran kelenjar, pembesaran limpa, perdarahan kulit.
Tidak selalu gejala tersebut lengkap, tapi yang paling sering
dijumpai ialah kurangnya kadar hemoglobin dari nilai normal.
Karena sebagian besar dari penyakit yang berhubungan
dengan penyakit darah memberikan gejala adanya anemi,
sedangkan yang dengan kenaikan kadar Hb dan eritrosit
adalah jarang atau tidak begitu sering, maka pembahasan
selanjutnya akan dititik beratkan pada kelainan yang ber-
hubungan dengan anemi.
Dengan penyajian judul diatas, penulis ingin mengingatkan
kembali bagi para sejawat yang bekerja dengan peralatan
yang jauh dari pada memadai, namun dengan pemeriksaan
tersebut dapat membantu mengarahkan diagnosa penyakit
darah.
PEMERIKSAAN HAEMOGLOBIN (Hb)
Dengan pemeriksaan Hb ini kita akan mendapatkan
gambaran dari penderita apakah normal atau abnormal . Nilai
atau batas terendah manakah dari Hb yang dianggap normal ?
Untuk itu perlu kita menggunakan kriteria yang seragam
ialah dari WHO (1972). Ini telah dipakai dan dianjurkan
oleh ahli-ahli kita.
Kriteria persangkaan Anemi pada :
bila Hb dibawah :
Pria dewasa
13 g %
Wanita tak hamil
12 g %
Wanita hamil
11 g %
Anak : 6 bl -- 6 th
11 g %
6 th -- 14 th
12 g %
Pengukuran Hb yang disarankan oleh WHO ialah dengan
cara cyanmet, namun cara oxyhaemoglobin dapat pula di-
pakai asal distandarisir terhadap cara cyanmet.
Sampai saat ini baik di PUSKESMAS maupun dibeberapa
Rumah sakit di negara kita masih menggunakan alat Sahli.
1 8
Cermin Dunia Kedokteran
No.18, 1980
Sering pula alat ini tidak pernah ditera. Alat ini sebenarnya
sudah tidak dianjurkan lagi; apalagi untuk kepentingan klinik,
survey/penelitian. Kesalahan yang ditimbulkan oleh alat ini
cukup besar yaitu 20%.
Seperti telah diungkapkan oleh beberapa peneliti mau-
pun laporan WHO, masalah anemi merupakan masalah dunia
dan terbanyak adalah dinegara yang sedang berkembang. Ane-
mi karena kekurangan gizi menduduki tempat yang paling
tinggi, dimana anemi karena kekurangan besi menduduki
urutan yang pertama. Namun sering pula dijumpai dalam
laporan di PUSKESMAS bahwa insidens/prevalensi anemi
hanya berkisar antara 3 sampai 5 %. Hal ini dapat difahami
karena tidak semua yang datang di PUSKESMAS diperiksa
Hb nya.
Sebagai gambaran tentang tingginya anemi dinegara kita
maka disini disajikan laporan-laporan dari beberapa penelitian
seperti tertera dalam daftar.
Prevalensi Anemi pada Anak dan Dewasa.
(
Sumantri Ag, Soenarto, Sudigbia, 1979 )
KEADAAN
Prevalensi
(%)
Penulis tahun
1. Anak :
sos-ek rendah
37,8 73,0
Oen Sian Djie
6 bl 5 th
status gizi
1974
cukup / baik
Kho
1975
PCM ringan +
76,0 83,0
Untario
1976
Sutedjo,
Samsudin
1976
Sutedjo +
berat
85,0 100
Samsudin
1976
sos-ek mene-
Sudigbia, dkk
ngah + tinggi
1979
Status gizi
24,0
Soenarto, dkk
baik
1979
11. Wanita
50,0 92,0
Hoo Swie Tjiong
hamil
196 2
Dradjat, dkk
1973
Sukartidjah M
dkk
1973
Agus Soewandonc
1977
Suharsono dkk
1977
111. Wanita
tak hamil
35,1 84,6
IV. Pekerja
30,0 50,0
Darwin dkk 1973
buruh
Darwin K dkk.
1974
Basfa Churchill
1974
Soeharjo, Pasiyan
Soenarto 1977
Nyata bahwa keadaan anemi masih cukup tinggi. Dan anemi
yang didapatkan diatas adalah anemi defisiensi zat besi.
Jadi dengan parameter Hb kita sudah dapat menemukan
gejala anemia. Guna dapat menentukan macam anemi dapat
pula dibantu dengan pemeriksaan hapusan/film darah tepi.
PEMERIKSAAN HAPUSAN DARAH TEPI.
Untuk pemeriksaan hapusan darah tepi, diperlukan pe-
ngecatan. Harus diingat bahwa cat yang dipergunakan harus
baru dan pengenceran dengan pH yang tepat. Cara pengecatan
tak akan dibahas disini. Penulis akan langsung membahas cara
pemeriksaan dan interpretasinya.
Pertama yang kita perhatikan dengan mata biasa ialah tentang
hapusan darah / film.
Apakah film rata tersebarnya ?
Apakah terlalu tebal atau terlalu tipis ?
Apakah bagian ekor compang camping atau uniform ?
Kemudian kita melangkah dengan pemeriksaan mikroskop.
Permulaan dengan pembesaran lemah kita perhatikan :
Apakah terdapat peningkatan pembentukan
Apakah terdapat peningkatan pembentukan rou-
loux atau tidak. Adanya peningkatan pembentuk-
an rouloux dapat terjadi pada : makroglobulinemi,
multiple myeloma, temporal arteritis. (Eastham
1968)
(2)
Apakah terdapat adanya penggrombolan/penggum-
palan eritrosit. Hal ini memberikan petunjuk ada-
nya auto - aglutinasi.
(3)
Apakah lekosit tersebar merata atau jarang atau
tampak lebih banyak.
Selanjutnya dengan pembesaran kuat kita perhatikan bentuk-
bentuk, ukuran, warna dan bentuk abnormal dari eritrosit,
lekosit dan trombosit.
·
Eritrosit : (i) Perlu diperhatikan ukuran dari eritrosit
apakah tampak : normal, anisositosis, mikrositosis dan makro-
sitosis. (ii) Diperhatikan pula bentuk-bentuk yang ada. Apa-
kah ada poikilositosis, eleptositosis, stomatositosis, sferosi-
tosis, sabit, tetesan air, fragmentasi, tonjolan-tonjolan dan
target sel. (iii) Warna dari eritrosit apakah tampak normal,
hipokhromasi, polikhromasi, anisokhromasi atau hiperkhro-
masi. dan (iv) Bentuk yang abnormal dari eritrosit pada
darah perifer yaitu adanya inti, punotate basophilia dan
inclusion bodies. Terniasuk pula adanya parasit malaria.
Karena sangat luasnya pembahasan ini maka tidak semuanya
akan dicakup disini, tapi akan dipilih hal-hal yang sering
dilapangan.
Dari ukuran, bentuk dan warna kita dapat memikirkan
kemungkinan kearah golongan anemi serta penyebabnya.
Bila didapat mikrositosis dan hipokhromasi yang menonjol,
maka kemungkinan yang terbanyak adalah defisiensi zat
besi dan berikutnya ialah talasemi kemudian defisiensi pyri-
doxin.
Bila didapat adanya gambaran makrositosis, maka pemikiran
pada defisiensi asam folat dan vitamin B12, mungkin pula
penyakit hati yang menahun, hipotiroidi dan kegagalan
ginjal.
Anemi dengan bentuk eritrosit yang normal perlu difikirkan
kearah kemungkinan kehilangan darah, kerusakan darah dan
kurangnya pembentukan darah.
Banyaknya bentuk eritrosit berinti dapat merupakan pe-
tunjuk anemi berat atau suatu kompensasi akibat hilangnya
Cermin Dunia Kedokteran No.18, 1980 19
eritrosit atau gangguan dari tempat pembentukan.
Bentuk target sel dapat dijumpai pada anemi defisiensi besi,
talasemi, hemoglobinopati, penyakit hati dan post splenec-
tomi.
Lekosit.
Untuk pemeriksaan lebih lanjut dari film
darah kita perhatikan bentuk, jenis, jumlah serta warna
dari lekosit. Bila didapatkan bentuk yang abnormal atau
jumlah yang abnormal maka diperhatikan jenis mana yang
menonjol. Jumlah yang tampak meningkat adalah tanda
lekositosis sedangkan bila tampak jarang atau sangat jarang
adalah tanda lekopeni.
Kalau jenis lekosit muda yang banyak dalam preparat yang
diperiksa, kemungkinan kita berhadapan dengan lekemi.
Jenis lekemi inipun dapat digolongkan; apakah myelosit
yang tampak dominan ini berarti myelositik lekemi; ada-
kalanya jenis limfosit yang menonjol mungkin ini suatu lim
fositosis oleh karena penyakit lain atau suatu lekemi lim-
fositik. Monosit dapat pula meningkat antara lain pada
lekemi monositik.
Beberapa keadaan abnormal
mungkin dijumpai misalnya
vakuolisasi dari inti maupun sitoplasma. Hal ini dapat sebagai
petunjuk adanya gangguan atau kerusakan.
Ditemukannya banyak plasma sel kita perlu memikir ke-
arah kelainan dari tulang yaitu multiple myeloma, penyakit
hati dan kelompok gangguan dari globulin.
Banyaknya gangguan gizi pada masyarakat kita dapat pula
diketahui dari bentuk netrofil. Bila dijumpai adanya pe-
ningkatan jumlah netrofil yang hipersegmentasi yang ber-
samaan pula dengan makrositosis dari eritrosit, ini dapat
sebagai petunjuk akan adanya defisiensi asam folat atau
vitamin B12.
Hebert
(1971)
mengemukakan, bila didapat
lima lekosit/netrofil yang hipersegmen dihitung dari 100
netrofil, ini merupakan petunjuk adanya defisiensi asam
folat atau vitamin B12. Yang dimaksud dengan hipersegmen
bila didapat adanya lekosit bersegmen lima atau lebih.
Dari warna lekosit basofil dan eosinofil dapat pula mem-
bantu kita untuk mencari penyebab penyakit.
Mengingat ruang yang tersedia, penulis akan mem-
batasi pembahasan tentang lekosit dan akan sedikit me-
nyinggung tentang kesan keadaan trombosit pada darah
tepi. Sebagaimana diketahui trombosit mempunyai kait-
an dengan pembekuan darah. Bilamana dijumpai perdarahan
maka keadaan trombosit dalam film darah perlu diperhatikan
apakah jumlahnya normal atau tidak. Demikian pula bentuk
dari trombosit normal atau terdapat bentuk-bentuk yang
besar. Mungkin dapat dilihat adanya penggrombolan yang
merupakan suatu satelit.
Kesimpulan.
Pemeriksaan Hb dan hapusan darah tepi yang dilaku-
kan dengan cermat akan membantu kita kearah membuat
diagnosa tentang penyakit darah. Mungkin pula dapat meng-
arahkan kita ke pemikiran kepada penyakit alat-alat lain.
Keseragaman dan standarisasi Hb sesuai dengan rekomendasi
WHO yang diperkuat oleh ahli-ahli kita perlu dilaksanakan
mulai sekarang. Demikian pula standarisasi pemeriksaan la-
boratorium yang lain.
KEPUSTAKAAN
1. EASTHAM R.D :
Klinische
Hamam/ogie.
Spriner-Verlag Berlin,
Heidelberg, New York, 1968.
2. HERT . V : Laboratory aids in the diagnosis of folic acid and
vitamin B12 deficiencies.
Ann Clin Lab Sci
1 : 193, 1971.
3. SUMANTRI AG, SOENARTO, SUDIGBIA I: Iron deficiency
anemia in Indonesia. Disajikan pada
Fourth Meeting Asian--Pacific
Division lnternational Society of Haemato/ogy.
June 25-29, 1979
Seoul, Korea.
4. Simposium Anemi
Gizi
tahun 1977, Fakultas Kedokteran Uni-
versitas Diponegoro / Rumah Sakit Dr Kariadi, Semarang.
5. WELLACH J :
/
nterpretation of diagnostic test.
2nd ed. Little
Brown Co, Boston, 1974.
1
HADIAH INTERNASIONAL
" THE FRIESLAND AWARD " UNTUK DR. SUHARYONO
Hadiah internasional
"
Friesland" untuk tahun 1979 ini jatuh pada dr. Suhar-
yono, Kepala Subbagian Gastroenterologi, Bagian Kesehatan Anak FKUI/RSCM,
untuk hasil-hasil penyelidikannya di bidang makanan bayi.
Hadiah tersebut diberikan sekali tiap 3 tahun pada sarjana peneliti
dari setiap negara di dunia yang dalam tiga tahun terakhir menulis karya
.
ilmiah yang bermutu tentang pentingnya susu hasil-hasil susu (milk products)
dalam diet, terutama dalam kaitannya dengan negara berkembang. Tiga tahun
sebelumnya, yang memperoleh hadiah ini adalah Prof. Dr. S.K. Kon dari
Inggris.
Lebih dari 25 penelitian ilmiah telah dipublikasikan oleh dr. Suharyono,
baik sebagai pengarang maupun sebagai "coauthor
"
. Dia pula lah yang gi-
at mempropagandakan pentingnya bayi meminum air susu ibu sejak lahir
(tak perlu puasa 24 jam) sampai usia 2 tahun, karena berbagai hasil penelitian-
nya menunjukkan bahwa ASI lebih unggul daripada susu sapi dipandang dari
sudut apapun.
20
Cermin Dunia Kedokteran
No. 1 8. 1980