HASIL PENELITIAN
Pengobatan Tuberkulosis Paru
dengan Strategi Baru Rejimen WHO
di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur
Sudijo
Kanwil Departemen Kesehatan Propinsi Jawa Timur
ABSTRAK
Telah dilakukan pengobatan pada penderita TB paru dengan rejimen rekomendasi
WHO di Kelompok Puskesmas Pelaksana program TB paru Puskesmas Taman, Tu-
langan, Medaeng Kabupaten Sidoarjo (daerah uji coba tingkat nasional). Jumlah kasus
sebanyak 84 orang, dari 52 orang telah menyelesaikan pengobatan pada periode No-
pember 1994 Oktober 1995. Pengobatan tersebut dengan menggunakan strategi baru
program pemberantasan TB paru Indonesia.
Hasil yang didapat adalah angka kesembuhan 94%, angka konversi 100%, positive
rate 8,1%. Angka-angka tersebut cukup tinggi dibanding target nasional sebesar: angka
kesembuhan 85%, angka konversi 80%, sedang positive rate di bawah angka nasional
yaitu 10%.
PENDAHULUAN
Penyakit tuberkulosis (TB) paru masih menjadi masalah
kesehatan masyarakat di Indonesia, berdasarkan hasil SKRT
tahun 1992 TB menjadi penyebab kematian ke 2 dari seluruh
pe nyakit dan penyebab pertama dari kelompok penyakit
infeksi. Setiap tahun terdapat kurang lebih 445.000 kasus baru,
sepa ruhnya tidak terdiagnosis dan ini yang turut berperan
dalam penyebaran penyakit ini di masyarakat
(1,2)
.
Pada bulan April tahun 1994 telah dilakukan evaluasi pro-
gram Nasional TB paru antara Indonesia dan WHO dan telah
disepakati bersama untuk merubah strategi baru untuk pem-
berantasan TB paru di Indonesia. Untuk mengetrapkan strategi
baru tersebut telah dilakukan uji coba di Jambi dan Jawa Timur.
POKOK-POKOK STRATEGI BARU PEMBERANTAS-
AN TB PARU
(3-6)
1) Pelaksana program adalah Kelompok Puskesmas Pelaksana
yang terdiri dari Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM) dan
Puskesmas Satelit (PS). Diagnosis hanya dilakukan di PRM, PS
hanya membuat slide serta memfiksasi saja.
2) Pencarian penderita dilakukan secara pasif di sarana kese-
hatan.
3) Diagnosis BTA secara mikroskopis bila ditemukan kuman
dengan 3 kali pemeriksaan dahak yang berbeda (dahak sewaktu,
pagi dan sewaktu) dan paling sedikit 2 kali positifdisebut kasus
BTA(+).
4) Kasus BTA() bila 3 kali pemeriksaan dahak hasilnya semua
negatiftapi pada pemeriksaan Röntgen terdapat tanda TB aktif
di parunya.
5) Pengecatan dengan Ziehl Neelsen dan pemeriksaan kuman
dengan mikroskop binokuler.
6) Tipe kasus dibedakan kasus banu, kasus kambuh/gagal,
kasus BTA() tapi Rontgen
7) Follow up pengobatan dilakukan secara ketat pada akhir
fase intensif dan dua bulan sebelum akhir pengobatan dan akhir
pengobatan, setiap follow up pemeriksaan dahak dilakukan dua
kali (dahak sewaktu dari pagi).
8) Supervisi pelaksanaan program dilakukan oleh petugas ting-
kat II secara ketat (3 bulan sekali) ke PRM dan PS.
9) Pengawasan langsung keteraturan berobat (DOTS : Directly
Observed Treatment Short- Course) oleh petugas kesehatan atau
keluarganya.
10) Rejimen standar WHO yang digunakan sebagai berikut:
·
Kategori 1: kasus baru BTA + : 2HRZE/4H3R3.
·
Kategori 2 : kasus kambuli/gagal : 2HRZE + S/HRZE/
5H3R3E3.
·
Kategori 3 : kasus BTA , X-ray +: 2HRZ/2H3R3.
Keterangan : H : INH, R : rifampicin, Z : pirazinamid, E : ethambutol,
S : streptomicin.
11) Hasil pengobatan dibedakan sebagai berikut:
·
Sembuh : penderita kategori 1 dan 2 yang BTAnya negatif
2 kali atau lebih secara berurutan sebelum akhir pengobatannya.
·
Pengobatan lengkap : penderita telah minum obat sesuai
jadual tanpa follow up laboratorium, atau hanya 1 kali BTA
negatif pada 2 bulan terakhir pengobatan.
·
Gagal
a) penderita yang BTAnya masih positif pada 2 bulan dan
seterusnya sebelum akhir pengobatan.
b) penderita putus berobat lebih dari 2 bulan sebelum bulan ke
5 dan BTA terakhir masih positif.
c) penderita kategori 3 yang BTAnya positif pada bulan ke 2.
·
Putus berobat/defaulter: penderita tidak minum obat lebih
dari 2 bulan dan BTA terakhir telah negatif.
·
Meninggal : penderita yang meninggal selama pengobatan
tanpa melihat sebab kematiannya.
Tujuan Strategi Baru P2TB Paru
(3,4,5)
adalah untuk menjaga
mutu pengobatan, mengurangi resistensi obat secara majemuk
(multiple drug resistency), meningkatkan angka kesembuhan
minimal 85% dan angka konversi minimal 80%.
Periode Pengobatan
Periode pengobatan yang dievaluasi adalah bulan Nopem-
ber 1994 sampai Oktober 1995.
Tempat uji coba
Pengobatan dilakukan di Puskesmas Taman (PRM), Pus-
kesmas Tulangan (PS), Puskesmas Medaeng (PS) di Kabupaten
Sidoarjo.
Lama pengobatan
Lama pengobatan untuk kategori 1: 6 bulan, kategori 2: 8
bulan, kategori 3 : 4 bulan.
Apabila pada akhir fase intensif BTA masih positif diberi
obat sisipan selama 1 bulan, sehingga lama pengobatan bertam-
bah 1 bulan.
SKEMA FOLLOW UP PENGOBATAN DAN ARTINYA
Kategori 1
Bulan 0___ 1___ 2___ 3___ 4___ 5___ 6___ 7 Artinya
BTA BTA BTA BTA
()................().....()...... sembuh
(+).............. gagal
()....(+)...... gagal
(+) S ().................()...() sembuh
(+)...... gagal
()......(+) gagal
(+)........................... sembuh
Kategori 2
0___ 1___ 2___ 3___ 4___ 5___ 6___ 7___ 8___ 9
BTA BTA BTA BTA BTA
()........................()...().......
sembuh
(+)............. gagal
()...(+)...... gagal
(+)...()........................()...()
sembuh
S
().........................(+)...... gagal
().........................()...(+)
gagal
(+)................................... gagal
Kategori 3
0_____ 1_____ 2_____ 3_____ 4
BTA
()..................... pengobatan lengkap
(+) ................... Gagal
Keterangan:
S
:
obat
sisipan
1
bulan (+) : BTA
+
BTA : pemeriksaan basil tahan asam () : BTA
HASIL PENGOBATAN
Tabel 1. Penemuan penderita periode Nopember 1994 Oktober 1995 di
Kelompok
Puskesmas
Pelaksana
Program
Puskesmas
Tersangka
Diperiksa
BTA (+)
BTA (-)
X-ray (+)
Positive rate
BTA (+) (%)
Taman 434
23
26 5
Tulangan
164
26
1
15,8
Medaeng
117
8
7
Jumlah 715
57
27 8
Tabel 2. Penemuan penderita berdasarkan jenis kelamin periode Nopem-
ber
1994
Oktober
1995
Puskesmas Laki Wanita Jumlah
Taman 28 21 49
Tulangan
10
17 27
Medaeng
7
1
8
Jumlah 45 39 84
Tabel 3. Penemuan kasus berdasarkan umur periode Nopember 1994
Oktober
1995
Puskesmas
< 20
< 30
< 40
< 50
< 60
> 60
Jumlah
Taman
Tulangan
Medaeng
4
1
2
12
6
14
8
2
8
5
1
9
3
2
2
4
1
49
27
8
Jumlah 7
18
24
14
14
7 84
PEMBAHASAN
Penemuan penderita bulan Nopember 1994Oktober 1995
BTA (+): 57 orang, BTA () X-ray (+) : 27 orang, positive rate
BTA (+) rata-rata 8% (Tabel 1). Positive rate ini lebih ren-
dah dari penelitian Sudijo, yang mendapatkan 19,2% dan
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997
14
Tabel 4. Pengobatan penderita periode Nopember 1994 Oktober 1995
Kategori Taman
Tulangan
Medaeng Total
1
2
3
22
1
26
26
1
8
56
1
27
Jumlah 49 27 8 84
Tabel 5.a. Follow up pengobatan kategori 1
Taman Tulangan Medaeng Total
Bulan ke
Dp + Dp + Dp + Dp +
2
3
5
AP
21
1
14
14
1
25
15
15
5
5
4
51
1
34
33
1
b. Follow up pengobatan kategori 2
Taman Tulangan Medaeng Total
Bulan ke
Dp + Dp + Dp + Dp +
3
7
AP
1
1
1
1
1
1
c. Follow up pengobatan kategori 3
Taman Tulangan Medaeng Total
Bulan ke
Dp + Dp + Dp + Dp +
2
14 15
Tabel 6. Kasus yang selesai pengobatan dan yang dievaluasi
Puskesmas
Kategori
1
Kategori
2
Kategori
3
Pindah D.O Total
Taman
Tulangan
Medaeng
Jumlah
14
15
4
33
1
1
14
1
15
1
1
1
1
2
31
17
4
52
dengan Gliseril guaiakolat 46,4%, Yosep (25%), Yan Hen-
drokusumo (28,7%) dan dengan konsentrasi, 53%, Nur Rach-
man (21,6%)
(7,8,9)
.
Berdasarkan jenis kelamin, jumlah pria tidak jauh berbeda
dengan wanita (Tabel 2) hal ini sesuai dengan yang laporan
terdahulu. Berbeda dengan laporan Taufik, Bachtiar yang me-
laporkan pria 1,52 kali dari pada wanita demikian pula lapor-
an dari Singapura, Brunei dan Ma1aysia
(7)
.
Berdasarkan kelompok umur yang tertinggi adalah usia
3040 tahun (Tabel 3); hal ini berbeda dengan yang dilaporkan
Taufik, Faisal Yunus: usia terbanyak 2130 tahun
(9)
.
Pada follow up, kategori 1 yang masih BTA (+) pada bulan
ke 2 sebanyak 1 orang namun menjadi BTA() pada bulan ke 3
(Tabel 5 a), kategori 2 sebanyak 1 orang pada follow up bulan
ke 3 telah konversi menjadi BTA () (Tabel 5 b). Dengan de-
mikian terjadi konversi seluruh kasus kategori 1 dan 2 (angka
konversi 100%). Penelitian Handoyo mendapatkan angka kon-
versi 92% dengan rejimen 1HZE/5H2Z2E2, Kleberg: konversi
67% dengan rejimen 3HZE/6HE, sedang WHO merekomendasi-
kan rejimen baik bila konversi antara 85% 90% Sedang
Kategori 3 sebanyak 15 orang, pada follow up bulan ke 2 se-
luruhnya tetap BTA () (Tabel 5 c), kegagalan kategori 3 : 0%.
Dari 84 kasus yang diobati selama Nopember 1994Okto-
ber 1995 yang telah menyelesaikan pengobatannya dan yang
dapat dievaluasi adalah 52 kasus, sedang 32 kasus saat ini masih
dalam pengobatàn (Tabel 6). Untuk kategori 1 sebanyak 33
kasus sembuh, satu kasus putus berobat atau angka kesembuhan
kategori 1: 94%; kategori 2: 1 kasus dan sembuh 100% sehingga
angka kesembuhan kategori 1 dan 2 = 94%. Sedang kategori 3 :
15 kasus seluruhnya telah menyelesaikan pengobatan atau
pengobatan lengkap 100% yaitu BTA () pada follow up bulan
ke 2 (lihat skema). Pada Pelita IV dengan rejimen 1HRE/5H2RS
(laporan Subdit P2TB Paru dikutip Kusnindar) angka kesem-
buhannya 85%, angka kegagalan 8% dan putus berobat 5%
(2)
.
Abdul Mukti mendapatkan angka kegagalan 5,6%; laporan dari
Singapura dengan rejimen HRZSI5HR angka kegagalannya
0,6% dan dari Inggris 1% dengan HRE/7HR (dikutip Abd.
Mukti)
(11)
.
Dengan tingkat kesembuhan yang tinggi dan tanpa kasus
yang gagal pengobatan, diperkirakan tidak ada resistensi pada
pengobatan rejimen ini di Kelompok Puskesmas Pelaksana-
Program di Kabupaten Sidoarjo; namun masih penlu penelitian
lebih lanjut dengan test resistensi. Pada pengobatan di KPP ini
belum ada indikasi untuk test resistensi (indikasi test resistensi
untuk program adalah bila BTA masih positif setelah diberi obat
sisipan). Penelitian Yunus dkk. mendapatkan resistensi 2,6%
dengan 2HRZ/4HR, sedang penjenis obat didapatkan resistensi
sebagai berikut: terhadap INH: 1,9%, rifampisin2,8%, etham-
butol 0,4%, streptomisin 7,7%
(9)
.
KESIMPULAN
Selama periode pengobatan di Kelompok Puskesmas Pe-
laksana Taman, Tulangan, Medaeng telah diobati 84 kasus yang
terdiri 56 kasus kategori 1, 1 kasus kategori 2 dan 27 kasus
kategori 3. Yang telah menyelesaikan pengobatan sebanyak 52
kasus: 33 kasus kategori 1, 1 kasus kategori 2, dan 15 kasus
kategori 3. Dari seluruh kasus yang menyelesaikan pengobatan
2 kasus putus berobat dan kategori I dan 1 kasus pindah ke
kabupaten lain. Angka kesembuhan sebesar 94,5%, angka kon
versi 100%, angka putus berobat 5,5%, angka pengobatan leng
kap 100%, sedang positive rate BTA (+) 8,1%.
KEPUSTAKAAN
1. Aditama TY. Perkembangan Mutakhir Diagnosis Tuberkulosis Paru;
Cermin Dunia Kedokt. 1995; 99: 293 1.
2. Kusnindar. Masalah Penyakit Tuberkulosis dan Pem'berantasannya di
Indonesia; Cermin Dunia Kedokt. 1990; 63: 1719.
3. WHO-SubDit P2TB Paru. Modul Pelatihan bagi Petugas TB Kabupaten:
Monitoring Pengobatan, Depkes RI Jakarta 1995: 636.
4. WHO-SubDit P2TB Paru. Modul Pelatihan bagi Petugas TB Kabupaten:
Administrasi Pengobatan; Depkes RI Jakarta 1995: 3483.
5. WHO-SubDit P2TB Paru. Modul Pelatihan bagi Petugas TB Kabupaten:
Pendahuluan Manejemen Tuberkulosis di tingkat Kabupaten, Jakarta 1995:
17.
6. WHO. Treatment of Tuberculosis : Guidelines for National Programmes;
Geneva 1993: 315.
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997 15
7. Sudijo. Penggunaan gliseril guaiakolat untuk meningkatkan cakupan BTA
(+) pada tersangka TB paru. Cermin Dunia Kedokt. 1995; 99: 147.
8. Yan Hendrokusumo. Penemuan Basil Taman Asam dengan metode ho-
mogenisasi - konsentrasi dengan biakan media Ogawa. Paru 1992; 12(2):
313.
9. Faisal Yunus, Sugeng Hidayat, Yulino Amril dkk. Aspek diagnosis dan
pengobatan pada penderita TB paru yang berobat jalan di Bag. Pulmonlogi
FKUI/RS. Persahabatan. Paru 1992; 12(2): 1425.
10. Wibowo. Pengobatan Tuberkulosis Paru. Cermin Dunia Kedokt. 1990;
63: 258.
11. Abdul Mukti. Terapi Rasional Tuberkulosis Paru. Cermin Dunia Kedokt.
1990; 63: 204.
.
HEALTH CARE MEDICAL SPECIALIST
.
PT PUTRAMAS MULIASANTOSA is a company with a solid track record in the health care industry. We
have recently partnered with a reputable Australia Health Care firm to expand and bring the company to an
international standard in the industry.
In support of this growth, we are seeking highly qualified medical specialists to assume the following
appointments:
GYNECOLOGISTS
NEUROLOGISTS
INTERNISTS
ANAESTHESIOLOGISTS
OPTHALMOLOGISTS
RADIOLOGISTS
CLINICAL
PATHOLOGIST
SURGEONS
PEDIATRICIANS
CARDIOLOGIST
The successful candidates should have completed the WAJIB KERJA SARJANA and are willing to be
employed on a full-time basis. Highly motivated, dynamic and willingness to learn new ideas and practices
are qualities we are looking for.
We offer opportunities for growth and advancement plus exposure and training to international standards of
medical practice.
We welcome your CV with photo and certificates. Please address it to:
THE DIRECTOR
P0 BOX 4087
JKT 13040
Conscience is wiser than science
(Lavater)
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997
16