background image
Pemanfaatan Sarana Pelayanan Kesehatan
Masyarakat untuk Mencapai Masyarakat
Bebas Parasit dan Sehat Gizi
Soebekti MPH
Direktur Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat Departe-
men Kesehatan
RI.
PENDAHULUAN
Dalam GBHN yang ditetapkan oleh MPR pada tahun 1978 di-
sebutkan antara lain :"Dalam rangka mempertinggi taraf
kesehatan dan kecerdasan rakyat, maka ditingkatkan pelayan-
an kesehatan dan perbaikan mutu gizi, terutama bagi golongan
masyarakat yang berpenghasilan rendah, baik di desa maupun
di kota", serta dicantumkan pula :" ..............bahwa perluasan
pelayanan kesehatan
dilakukan
melalui Pusat Kesehatan
Masyarakat (Puskesmas), Rumah Sakit, serta melalui cara lain
guna meningkatkan kesehatan masyarakat desa":
Selama Pelita II telah dilaksanakan pembangunan di bidang
pelayanan kesehatan masyarakat perdesaan dan daerah per-
kotaan yang berpenghasilan rendah: Ini diselenggarakan
melalui Program Instruksi Presiden (INPRES) tentang Bantuan
Pembangunan Sarana Kesehatan yang meliputi obat-obatan,
alat medis, tenaga medis dan paramedis, alat transport dan
sejumlah Puskesmas Keliling baik dalam bentuk kendaraan
roda empat maupun perahu motor bagi daerah yang mem-
punyai perairan luas. Dalam Pelita 11 telah diusahakan agar
tersedia minimum sebuah Puskesmas untuk satu kecamatan:
Oleh karena itu pada akhir Pelita 11 telah ada 4353 Puskesmas
dan 6592 Puskesmas Pembantu: Dalam Inpres tersebut di-
bangun pula sejumlah sarana air minum dan jarnban keluarga
di pedesaan:
Dalam Pelita [1[ akan dilaksanakan pemerataan pelayanan ke-
sehatan dengan pembangunan Puskesmas baru dan Puskesmas
Pembantu baru, peningkatan fungsi Puskesmas dengan mening-
katkan usaha-usaha kesehatan, serta meningkatkan kemampu-
an tenaga sehingga diharapkan Puskesmas merupakan suatu
pusat pembangunan (centre of development) di tingkat ke-
camatan. Dalam Pelita III akan dibangun 800 Puskesmas baru
dan 4400 Puskesmas Pembantu baru sehingga pada akhir
Pelita 111 telah ada 5153 Puskesmas dan 10:992 Puskesmas
Pembantu.
Di bawah ini dikemukakan beberapa hal konsepsional
mengenai Puskesmas, mengenai pengertian Puskesmas dan
peranan Puskesmas dalam pemberantasan penyakit parasit :
KONSEP DASAR PUSKESMAS
· Konsep wilayah
Yang dimaksud dengan konsep ini ialah bahwa Puskesmas
merupakan suatu kesatuan organisasi yang langsung memberi
pelayanan secara menyeluruh dan terintegrasi kepada masya-
rakat di wilayah kerjanya dalam bentuk usaha-usaha kesehatan
pokok, Puskesmas mempunyai wewenang dan tanggung jawab
atas pemeliharaan kesehatan masyarakat dalam wilayah kerja-
nya yang meliputi satu kecamatan disesuaikan dengan ke-
butuhan. Luas kerja maksimal yang masih efektif di pedesaan
adalah suatu daerah dengan jari-jari 5 km, sedangkan luas kerja
yang optimal adalah daerah dengan jari-jari 3 km. Untuk
daerah yang mempunyai wilayah kerja lebih luas perlu ada
Puskesmas Pembantu yang melakukan kegiatan pelayanan
kesehatan yang lebih sederhana. Pelayanan kesehatan yang
diberikan di Puskesmas berbentuk kuratif, preventif, promotif
dan rehabilitatif. Yang dilayani Puskesmas adalah perorangan,
keluarga dan masyarakat secara keseluruhan baik wanita
maupun pria, bayi, anak, dewasa, sampai tua. Sebelum ada
Puskesmas pelayanan kesehatan di dalam suatu kecamatan
terdiri dari Balai pengobatan, BKIA, usaha kesehatan lingkung-
an, pemberantasan penyakit menular dan sebagainya, di mana
usaha-usaha itu bekerja sendiri-sendiri langsung di bawah
Dokter Kabupaten. Sejak adanya Puskesmas maka berbagai
usaha pelayanan kesehatan yang ada di dalam wilayah tang-
gung jawab Puskesmas, termasuk usaha-usaha kesehatan
pokok diintegrasikan menjadi satu.
· Konsep kegiatan
Usaha-usaha kesehatan pokok minimal yang harus dilaksana-
kan oleh suatu Puskesmas dan usaha-usaha kesehatan yang
dianjurkan untuk dilaksanakan sesuai dengan kemampuan
adalah sebagai berikut :
a:
Usaha kesehatan pokok minimal meliputi :
1. pengobatan jalan
2. kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana
3. higienc dan sanitasi lingkungan
4. pencegahan penyakit menular
5. penyuluhan kesehatan masyarakat
6. perawat kesehatan masyarakat
7. kesehatan sekolah
8. peningkatan gizi
9. pencatatan dan pelaporan
b: Usaha kesehatan pokok yang dianjurkan meliputi :
10. kesehatan gigi
11. kesehatan jiwa
12. laboratorium sederhana
· Konsep ketenagaan
Pola ketenagaan suatu Puskesmas adalah sebagai berikut :
- dokter umum :
1 orang
- dokter gigi
:
1 orang untuk 5 Puskesmas
- perawat kesehatan : 9 orang, termasuk 3 orang di
Puskesmas Pembantu:
-- perawat gigi
:
1 orang untuk 3 Puskesmas
-- sanitarian
1 orang
-- pengatur obat
:
1 orang
- juru obat
:
1 orang
-- tata usaha
:
2 orang
- pembantu
:
1 orang
· Konsep rujukan
Yang dimaksud dengan sistem rujukan adalah suatu sistem
jaringan pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadi
penyerahan tanggung jawab atas masalah yang timbul baik
secara vertikal maupun secara horizontal kepada yang lebih
mampu, ini menyangkut hal-hal :
-- konsultasi penderita
- pengiriman bahan yang akan diperiksa di laboratorium
-- mendatangkan atau mengirim tenaga yang lebih mampu
untuk meningkatkan pelayanan kesehatan setempat serta
memungkinkan adanya pelimpahan pengetahuan.
13
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
background image
PERANGKAT PENUNJANG PUSKESMAS
· Sarana
Tenaga
Dalam usaha memperbaiki fungsi Puskesmas maupun Puskes-
mas Pembantu sesuai dengan konsepsi di bidang ketenagaan
sudah diusahakan untuk meningkatkan tenaga baik secara
kualitatif maupun kuantitatif, misalnya :
a. Dengan melatih dokter-dokter Puskesmas agar lebih ber-
orientasi pada masyarakat (community oriented) dalam
menangani masalah kesehatan setempat: Cara ini terpaksa
ditempuh karena kurikulum Fakultas Kedokteran ter-
dahulu tidak memberikan bekal yang cukup untuk me-
nunjang pelaksanaan program di pedesaan.
b. Menyempurnakan kurikulum Fakultas Kedokteran agar
"community oriented" yang tentu saja dilaksanakan
dengan kerjasama dengan Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
c. Melaksanakan pemerataan tenaga medis dan paramedis ke
Puskesmas - Puskesmas/Kabupaten-Kabupaten dengan jalan:
-- Inpres tenaga dokter
-- Penyebaran tenaga spesialis
-- penyebaran perawat.
g. Bekerjasama dengan P K membentuk FKM:
h. Melaksanakan in-service training untuk tenaga paramedis
misalnya bidan, perawat, tenaga sanitasi.
i. Memperbanyak tenaga pembantu paramedis antara lain :
-- latihan dukun beranak
-- tenaga pelaksana laboratorium yang minimal seorang
PKC ditambah latihan kursus
-- latihan promotor kesehatan desa.
Sarana pelayanan
Dalam usaha meratakan fasilitas Puskesmas telah dan akan
diteruskan dibangun Puskesmas-Puskesmas baru yang akan
dilengkapi dengan peralatan-peralatan medis (Inpres no.4/
1976 dan seterusnya) dan obat-obatan. Dalam hal ini juga
disediakan sarana laboratorium sederhana yang memungkinkan
Puskesmas melakukan pemeriksaan rutin seperti darah, urin,
tinja, sputum (BTA) dan lain-lain:
Biaya
Untuk menanggulangi biaya pelaksanaan program Puskesmas
maka biaya bersumber dari tiap-tiap program baik yang
langsung diarahkan dari Pusat maupun dari tingkat Propinsi/
Kabupaten: Modal kerja lebih direalisir dalam bentuk bantuan
obat Rp: 50,--/capita yang seterusnya menjadi Rp: 65,--/capita
dan seterusnya (Inpres no. 4/
1976, no: 4/1977) kemudian
menjadi Rp. 70,-- (Inpres 7/77) dan Rp. 90,-- (Inpres
13/1979)
dan Rp: 150,--/capita (Inpres 7/1980).
Perlu dicatat pula bahwa selain Puskesmas sebagai unit pe-
laksana pelayanan kesehatan masyarakat di garis depan masih
ada fasilitas-fasilitas lain yang menunjang dikaitkan dengan
sistem pelayanan kesehatan secara menyeluruh yaitu antara
lain :
-- Rumah Sakit Kabupaten
-- Rumah Sakit Propinsi
-- Rumah Sakit Khusus
-- Fasilitas kesehatan swasta
-- Dokter- dokter partikelir
yang kesemuanya merupakan suatu rangkaian pelayanan
kepada masyarakat yang perlu diintegrasikan.
· Program - program penunjang
Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang lebih men-
jangkau masyarakat lebih luas telah dikembangkan beberapa
program antara lain :
Program Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa
Program Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD)
merupakan suatu cara pendekatan untuk meningkatkan jang-
kauan pelayanan kesehatan dalam rangka memperbaiki taraf
hidup masyarakat dengan cara perbaikan status kesehatan,
PKMD merupakan juga kegiatan atas dasar gotong royong dan
swadaya masyarakat yang juga merupakan kegiatan lintas
program dan sektoral yang berdasarkan musyawarah dan
mufakat untuk mendorong penggalian, penggunaan dan
pengembangan potensi-potensi masyarakat setempat:
Kegiatan tersebut dilakukan oleh petugas-petugas yang berasal
dari masyarakat itu sendiri dan dengan
mempergunakan
tehnologi tepat guna: Walaupun PKMD bertujuan meningkat-
kan derajat kesehatan, namun kegiatannya tidak terbatas
hanya di bidang kesehatan saja.
Oleh karena banyak faktor-faktor yang mempengaruhi derajat
kesehatan, maka PKMD mencakup pula kegiatan-kegiatan lain.
PKMD tidak terbatas pada masyarakat pedesaan, namun
keadaan dewasa ini mendorong kita memberi prioritas kepada
pedesaan, terutama golongan penduduk produktif di daerah
transmigrasi/pemukiman
baru,
dan
penduduk perkotaan
miskin (slums).
Diharapkan PKMD pada akhirnya dapat memberikan pelayanan
untuk memperbaiki higiene perseorangan dan sanitasi ling-
kungan, pengembangan kesadaran untuk hidup sehat, penyu-
luhan kesehatan masyarakat, kesejahteraan ibu dan anak dan
keluarga
berencana,
imunisasi,
pemberantasan
penyakit
menular, usaha kesehatan sekolah dan lain-lain yang sesuai
dengan kebutuhan masyarakat setempat:
Usaha perbaikan gizi keluarga
Empat masalah utama gizi yaitu kurang kalori protein, gondok
endemik, anemia gizi dan defisiensi vitamin A. Selama Pelita
III
perbaikan gizi mendapat perhatian lebih besar, hal ini tertuang
dalam Bab 9 Repelita III tentang pangan dan perbaikan gizi
dan Bab 20 tentang kesehatan, kesejahteraan sosial dan peran-
an wanita, selanjutnya ditekankan dengan Inpres no. 20 tahun
1979 tentang perbaikan menu makanan rakyat.
Usaha perbaikan gizi keluarga selama Pelita III
akan dikem-
bangkan keseluruh Indonesia sehingga pada akhir Repelita III
sebanyak 4I.000 desa telah melaksanakan UPGK. UPGK
dilaksanakan dengan sektor-sektor lain selain sektor kesehatan
seperti Departemen Agama, BKKBN dan Departemen Pertani-
an dan lain-lain.
Usaha Perbaikan Gizi Keluarga bertujuan untuk meningkatkan
keadaan gizi masyarakat, terutama golongan rawan gizi yaitu
anak Balita, wanita hamil dan ibu yang menyusui dari golong-
an yang berpenghasilan rendah. Kegiatan UPGK tahap pertama
adalah sebagai berikut : penimbangan bulanan anak Balita,
penyuluhan, intensifikasi pekarangan, pemberian paket per-
tolongan gizi dan pemberian makanan tambahan: UPGK tahap
kedua di mana perlu ada kaitan dengan kegiatan lain seperti
imunisasi, penyediaan air bersih, sanitasi lingkungan, peng-
Simposium Masalah Penyakit Parasit
14
background image
obatan sederhana, penyuluhan kesehatan keluarga berencana,
rehabilitasi gizi buruk dan penelitian dan pengembangan:
UPGK tahap ketiga di mana UPGK dikaitkan dengan usaha-
usaha yang lebih luas lagi terutama dengan usaha-usaha pe-
ningkatan penghasilan keluarga seperti pengembangan tehno-
logi sederhana, pengembangan industri kecil, dana sehat dan
koperasi desa dan sebagainya.
Dari sektor-sektor pemerintah yang melaksanakan UPGK
terdapat kesepakatan kegiatan sebagai berikut :
-- Departemen Kesehatan :
penimbangan, penyuluhan, pem-
berian makanan tambahan (pe-
mulihan dan penyuluhan), paket
gizi.
-- Departemen Agama
:
penyuluhan.
-- B.K.K.B.N.
:
penimbangan, penyuluhan, pem-
berian makanan tambahan (pe-
nyuluhan), paket gizi:
-- Departemen Pertanian : penyuluhan, intensifikasi pekarang-
an. Di samping itu masih banyak program yang melaksana-
kan kegiatan UPGK sebagai bagian dari kegiatannya seperti
Peningkatan Peranan Wanita, Peningkatan Kesehatan dan
Partisipasi Generasi Muda dalam Pembangunan Kesehatan
, di mana yang terakhir ini berusaha menemukan pola
penanganan gizi buruk, yang tidak kalah penting adalah
usaha-usaha swadaya yang dilakukan oleh organisasi masya-
rakat:
Proyek Integrasi Keluarga Berencana, Pemberantasan Ca-
cing dan Perbaikan Gizi
Pelbagai penelitian membuktikan bahwa sebagian kalori yang
dikonsumsi manusia tidak dapat dimanfaatkan badan karena
adanya parasit di dalam badan.
Penelitian team Cornell University di Kenya melaporkan
bahwa Ascaris yang menghinggapi ¼ dari seluruh penduduk
dunia sangat merugikan ditinjau dari segi kesehatan maupun
segi ekonomi. Pada infeksi ringan akan menyebabkan gangguan
penyerapan nutrient lebih kurang 3% dari kalori yang dicerna,
pada infeksi berat mengakibatkan 25% dari kalori yang di-
cernakan tidak dapat dimanfaatkan badan: Dengan pemberian
obat 2 kali setahun dapat memberikan keuntungan berbanding
biaya dengan perbandingan I0 : 1.
Proyek Integrasi KB Pemberantasan Cacing dan Perbaikan Gizi
dilaksanakan oleh Dep Kes, BKKBN, PKBI dan FK UI serta
PKBI dengan dana APBN serta bantuan Japanese Organization
for International Cooperation in Family Planning, dimulai
sejak tahun I976 di sekitar tambang batu bara Ombilin,
sawahlunto di Sumatera Barat: Tahun berikutnya meluas
ke luar daerah tambang di dalam Kotamadya Sawahlunto
serta 3 kecamatan di sekitar Kodya Sawahlunto dan Kecamat-
an Serpong, Kabupaten Tangerang di Jawa Barat. Pada tahun
1979 meliputi seluruh
Kabupat
en Sawahlunto-Sijunjung.
Tahun ini diperluas ke daerah baru yakni tambang batu bara
Bukit Asam Tanjung Enim di Sumatera Selatan dan Perkebun-
an teh Kayu Aro, Kerinci di Propinsi Jambi.
Kegiatan meliputi pemeriksaan cacing, pemberian pengobatan
massal, perbaikan sanitasi lingkungan, pemberian sulfas fer-
rosus pada penderita anemia serta kegiatan perbaikan gizi dan
kependudukan.
Dari komponen KB yang telah dilakukan evaluasi oleh Lem -
baga Demografi Fakultas Ekonomi UI di Kotamadya Sawah-
lunto, ternyata terdapat peningkatan jumlah current user KB
dibandingkan daerah yang bukan proyek. Dalam waktu yang
relatif pendek di daerah proyek telah mencapai 35% dibanding
dengan 20% di daerah bukan proyek:
Hasil-hasil yang didapat adalah sebagai berikut :
Prevalence ( % ) cacing pekerja tambang
1975
1979
1980
Cacing tambang
79,8
21,2
7,5
Ascaris lumbricoides
39,8
7,2
19,8
Trichuris trichiura
14,1
6,1
6,7
Anemia pada pekerja tambang
1 975
1978
% age pekerja
71,75
50,85
Hb (9%) rata-rata
10,2
11,6
Absensi pekerja tambang : pada tahun
1975 : 10%, 1977 : 4% dan
1978 : 1,3%.
Pilot Proyek Pencegahan dan Pengawasan Anemia
Ini merupakan salah satu komponen dari Proyek Pengembang-
an Gizi Indonesia yang dilakukan oleh Lembaga Nasional
Hygiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja Departemen Tenaga
Kerja dan Transmigrasi: Pada tahun pertama dan kedua telah
dilakukan di perkebunan negara Sumatera Utara (Medan) dan
Jawa Timur (Jember) dan tahun ini dilaksanakan di perkebun-
an tembakau rakyat di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Proyek ini dimaksud untuk mengadakan usaha pencegahan
anemia di kalangan tenaga kerja dengan pemberian obat
cacing, sulfas ferrosus, perbaikan sanitasi lingkungan dan
perbaikan gizi
untuk meningkatkan produktivitas kerja.
Hasil-hasil yang didapat di Sumatera Utara :
Penurunan 84% jumlah pekerja yang Hb di bawah
11g%.
Penurunan 65,3% infestasi cacing
Kenaikan 4,7% produktivitas kerja:
Hasil-hasil yang didapat di Jawa Timur :
Penurunan 74,9% jumlah pekerja yang Hb di bawah
11g%.
Penurunan 65,8% infestasi cacing:
Kenaikan 6% produktivitas kerja:
PERANAN PUSKESMAS DALAM MASALAH PENANG-
GULANGAN PARASIT dan MASALAH GIZI
Dalam menangani masalah infestasi parasit maupun perbaikan
gizi fungsi Puskesmas dapat dilihat dari 2 segi :
· Segi administrasi dan management
Dilihat dari segi administrasi dan management maka Puskesmas
berfungsi sebagai pangkalan kegiatan (home base) di wilayah
yang dilayaninya: Semua program kesehatan baik yang secara
vertikal dibiayai oleh Departemen Kesehatan RI maupun yang
dibiayai oleh Daerah, diatur dan diawasi oleh Puskesmas
sebagai satuan kerja: Dalam ruang lingkup tersebut :
15
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
background image
-- perencanaan kegiatan
-- pengumpulan informasi kesehatan setempat yang sangat
diperlukan baik untuk perencanaan maupun sebagai in-
dikator awal suatu wabah.
-- pengawasan pelaksanaan kegiatan setempat.
· Segi tehnis operasional
Dalam ruang lingkup ini, maka usaha-usaha kesehatan baik
yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif
dipusatkan di Puskesmas:
Usaha tersebut antara lain :
-- penemuan kasus sedini mungkin (early case finding) dengan
jalan :
pengumpulan dan evaluasi data-data orang-orang yang
berobat jalan:
pengumpulan dan evaluasi angka-angka vital statistik
seperti infant mortality rate, perinatal mortality rate,
crude death rate dan lain-lain:
Konfirmasi diagnostik dengan pemeriksaan laboratorium
baik setempat maupun pada reference laboratory:
Dalam hubungan ini maka deteksi kasus-kasus penyakit
parasit maupun keadaan rawan gizi dapat dipakai sebagai
early warning sign untuk melaksanakan tindakan pe-
nanggulangan, promotor kesehatan desa, murid-murid
SD, guru - guru dan para kader kesehatan akan banyak
memberikan sumbangan tenaga untuk lebih memberi
bobot kegiatan Puskesmas khususnya dalam rangka
penemuan kasus-kasus ini:
Pengobatan dan perawatan kasus-kasus yang ditemukan di
Puskesmas akan membantu usaha mengurangi penyebaran
penyakit-penyakit parasit maupun mengatasi kekurangan
gizi:
Selain itu usaha-usaha penyuluhan kesehatan langsung para
penderita dan keluarganya mempunyai peranan penting
sekali mengatasi masalah tersebut.
Dalam hal penanggulangan wabah walaupun usaha tersebut
merupakan kegiatan yang diatur dari tingkat yang lebih
tinggi (Kabupaten, Propinsi maupun Pusat) tetapi Puskes-
mas mempunyai peranan yang penting khususnya dalam
pengaturan operasi penanggulangan tersebut.
Puskesmas dapat pula berfungsi sebagai emergency centre,
terutama pada Puskesmas yang telah dilengkapi dengan
tempat tidur. Emergency centre ini berlaku untuk kasus-
kasus kecelakaan, bencana alam, keadaan rawan gizi maupun
kasus-kasus infestasi parasit.
Dalam hal konfirmasi diagnostik maka melalui laboratorium
sederhana yang ada dan sistem R/R yang dikembangkan,
dibantu oleh suatu penelitian epidemiologik bila diperlu-
kan, akan merupakan alat yang tangguh dalam mengatasi
masalah penyakit-penyakit parasit tersebut.
KESIMPULAN DAN PENUTUP
Dalam Sistem Kesehatan Nasional telah ditetapkan bahwa
Puskesmas adalah unit pelaksana pelayanan kesehatan digaris
terdepan: Sebagai unit terdepan ia telah direncanakan untuk
memiliki kemampuan yang memadai baik untuk usaha-usaha
menyeluruh yang meliputi kegiatan peningkatan, pencegahan,
pengobatan, dan rehabilitasi tersebut tercermin dengan telah
diadakannya sarana dan program penunjang yang sekaligus
berfungsi menangani masalah kesehatan di suatu wilayah
dengan menggali dan mengikutsertakan potensi masyarakat
setempat: Dengan sendirinya dalam usaha-usaha tersebut telah
termasuk
usaha
penanggulangan
penyakit-penyakit
yang
disebabkan oleh parasit dan keadaan rawan gizi:
Pada saat ini belum semua Puskesmas berfungsi penuh karena
berbagai sebab, karenanya usaha-usaha yang memberi bobot
pada fungsi Puskesmas sangat diperlukan.
Salah satu di antaranya adalah hasil-hasil dari seminar ini.
II. MALARIA
Pemberantasan Malaria di lndonesia
Arwati
Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit
Menular, Departemen Kesehatan RI.
PENDAHULUAN
Indonesia yang terdiri dari 9 pulau besar dan beribu-ribu
pulau kecil dengan penduduk lebih dari I35 juta merupakan
salah satu negara yang malarious di Asia Tenggara: Sebelum
dilaksanakan usaha penanggulangan terhadap penyakit malaria,
diperkirakan 30 juta penderita dan I20:000 kematian dilapor-
kan tiap tahunnya (
1 ):
Pemberantasan malaria mulai dilaksanakan pada tahun
19
14 dengan pembersihan sarang-sarang/tempat berkembang
biak nyamuk dan pengeringan berkala sawah-sawah, parit-parit
dan tambak-tambak ikan. Kinine juga dipergunakan secara
luas pada waktu itu ( 2 ): Baru pada tahun I952 dilaksanakan
pemberantasan malaria yang terorganisir dengan menggunakan
racun serangga DDT di beberapa kota besar di Jawa Bali dan
kota-kota pelabuhan di luar Jawa. Hasil yang dicapai di Jawa
Bali lebih baik dari pada yang di luar Jawa.
Pembasmian malaria mulai dilaksanakan pada tahun 1959
di Jawa dan Bali: Tujuan program adalah membasmi malaria
di seluruh Indonesia secara bertahap dimulai dari Jawa dan
Bali dan Lampung pada tahun I959 dan yang kemudian di-
perluas keluar Jawa pada tahun 1963.
Penderita
malaria yang diketemukan perlahan-lahan menurun
secara meyakinkan dan jumlah penderita malaria terendah
yang pernah ditemukan pada tahun
1965 adalah 8862 dengan
annual parasite incidence (API) 0,
13 °/oo
.
Tetapi pada tahun 1965 program yang dilaksanakan ter-
paksa dihentikan karena situasi politik yang tidak memungkin-
kan: Sebagai akibatnya hasil yang dicapai tidak dapat diper-
tahankan. Malaria mulai menyebar dari fokus-fokus yang ter-
Simposium Masalah Penyakit Parasit
16