background image
Beberapa Masalah mengenai
Transfusi Darah
A. Harryanto Reksodiputro, Karma! L. Tambunan, Aru W. Sudoyo
Subbagian Hematologi - Onkologi Medik Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Transfusi darah adalah tindakan memasukkan darah atau
komponennya ke dalam sistim pembuluh darah seseorang.
Komponen darah yang biasa ditransfusikan ke dalam tubuh
seseorang adalah sel darah merah, trombosit, plasma, sel darah
putih. Transfusi darah adalah suatu pengobatan yang bertujuan
menggantikan atau menambah komponen darah yang hilang
atau terdapat dalam jumlah yang tidak mencukupi. Tentu saja
transfusi darah hanya merupakan pengobatan simptomatik ka-
rena darah atau komponen darah yang ditransffusikan hanya
dapat mengisi kebutuhan tubuh tersebut untuk jangka waktu
tertentu tergantung pada umur fisiologi komponen yang
ditransfusikan; walaupun umur eritrosit adalah 120 hari namun
bila ditransfusikan pada orang lain maka kemampuan transfusi
tadi mempertahankan kadar hemoglobin dalam tubuh resipien
hanya rata-rata satu bulan.
Tindakan transfusi darah atau komponennya bukanlah
tindakan tanpa risiko; sebaliknya tindakan ini merupakan tindak-
an yang mengandung risiko yang dapat berakibat fatal. Kom-
plikasi yang dapat timbul akibat transfusi darah atau komponen-
nya, dapat dibagi dalam 3 kelompok yaitu 1) reaksi imunologis,
2) reaksi nori imunologis, 3) penularan penyakit (tabel 1).
Reaksi imunologis
Reaksi imunologis dapat bervariasi mulai dari urtikaria
akibat reaksi imunologis terhadap plasma, demam akibat reaksi
imunologis ringan terhadap protein plasma dan lekosit sampai
dengan reaksi imunologis hebat dengan renjatan akibat transfusi
dengan eritrosit yang tidak cocok golongan imunologisnya
(incompatible).
Dibacakan pada: Simposium Transfusi Darah Rasional dalam rangka
mencegah penularan AIDS. POKDISUS AIDS, Jakarta, 23 Desember '91.
Reaksi non-imunologis
Reaksi non-imunologis dapat diakibatkan oleh 1) penim-
bunan cairan yang memiliki batas kemampuan tubuh
(overload), 2) adanya kadar antikoagulan yang berlebihan yang
berasal dari darah donor, 3) gangguan metabolik (kadar K'
tinggi, asam sitrat tinggi), sampai dengan 4) perdarahan akibat
adanya defisiensi faktor pembekuan yang tidak ada pada darah
donor dan kadar antikoagulan yang tinggi pada darah donor.
Penularan Penyakit
Berbagai mikroorganisme dapat ditularkan melalui trans-
fusi; yang terutama adalah 1) hepatitis (B+C), 2) sifilis, 3) ma-
laria, 4) virus seperti CMV, EDV sampai dengan HIV.
Penularan virus HIV melalui transfusi telah banyak dila-
porkan antara lain oleh Allani (1987), Alter (1987) dan Allen
(1987). Risiko tertular oleh HIV akibat transfusi dengan darah
donor yang mengandung HIV amat besar yaitu lebih dari 90%;
artinya bila seseorang mendapat transfusi darah yang terkon-
taminasi HIV, maka dapat dipastikan bahwa yang bersangkutan
akan menderita infeksi HIV sesudah itu.
Pada mulanya prevalensi transmisi melalui transfusi darah
cukup tinggi di Amerika Serikat dan di Eropa Barat, karena itu
penyaringan terhadap HIV merupakan tindakan rutin di
belahan dunia tersebut. Di Indonesia penyaringan terhadap HIV
sebagai prasyarat transfusi belum dapat dilaksanakan
mengingat terbatasnya dana yang tersedia. Pemberian transfusi
darah maupun komponen-komponennya atas indikasi yang
tepat merupakan salah satu cara untuk mengurangi
kemungkinan penularan HIV melalui transfusi.
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994 13
background image
Dalam tulisan ini akan dibahas dasar-dasar pemberian
transfusi darah secara rasional, yaitu pemilihan bahan transfusi
yang tepat, jumlah yang sesuai dengan kebutuhan, pada saat
tepat dan dengan cara yang benar pula.
Untuk dapat memahami apa yang baru dikemukakan di-
perlukan pengertian mengenai antara lain :
1.
berbagai komponen darah
2.
manfaat masing-masing komponen
3.
hemodinamik sirkulasi
4.
stabilitas dan umur berbagai komponen darah in vivo
5.
indikasi transfusi
Sampai kini dikenal dua jenis transfusi yang lazim
dilakukan yaitu .
1.
Allotransfusi; bahan transfusi berasal dari darah orang lain.
2.
Autotransfusi; bahan transfusi berasal dari darah resipien
sendiri.
Pada autotransfusi darah dapat diperoleh dengan 3 cara :
1)
Cara Leaffrog
Darah diambil dari resipien sendiri tiap minggu. Minggu
berikutnya ditransfusikan kembali diikuti pengambilan dan
penyimpanan dalam jumlah lebih banyak dan seterusnya se-
hingga terkumpul jumlah darah yang diperlukan.
2)
Cara Infra Operative Deposit
Darah diambil sebelum operasi dart diganti dengan koloid;
pasca operasi darah yang diambil ditransfusikan kembali.
3)
Cara Infra Operative Salvage
Darah dalam rongga dada/abdomen diisap, disaring kemu-
dian ditransfusikan kembali.
Keuntungan autotransfusi :
1)
Merupakan darah yang paling cocok misal pada donor-
donor langka.
2)
Kesalahan cross match tidak ada.
3)
Reaksi pirogen alergi tidak ada.
4)
Penularan penyakit tidak ada.
5)
Tidak bertentangan dengan kepercayaan tertentu yang
menolak transfusi darah orang lain.
Hal yang harus diperhatikan pada autotransfusi cara Infra
Operative Salvage :
1) Kontra indikasi :
a)
Keganasan
b)
Infeksi
2) Komplikasi :
a)
Emboli
b)
Koagulopati
Sel darah merah ada tiga jenis yaitu :
a)
sel darah merah pekat (Packed Red Cells)
b)
suspensi sel darah merah
c)
sel darah merah yang dicuci
Indikasi mutlak pemberian Packed Red Cells (PRC) adalah
bila Hb penderita 5 gr%. Jumlah PRC yang diperlukan untuk
menaikkan Fib dapat dihitung dengan menggunakan rumus se-
bagai berikut :
Jumlah PRC = Hb
x 3 x BB
= selisih Hb yang diinginkan dengan Hb sebelum transfusi
BB = berat badan
Tujuan transfusi PRC adalah untuk menaikkan Hb pasien
tanpa menaikkan volume darah secara nyata. Keuntungan
menggunakan PRC dibandingkan dengan darah jenuh adalah :
­
Kenaikan Hb dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan
­
Mengurangi kemungkinan penularan penyakit
­
Mengurangi kemungkinan reaksi imunologis
­
Volume darah yang diberikan lebih sedikit sehingga ke-
mungkinan overload berkurang
­
Komponen darah lainnya dapat diberikan pada pasien lain.
Transfusi suspensi trombosit
Tujuan transfusi suspensi trombosit adalh menaikkan ka-
dar trombosit darah. Dosis suspensi trombosit yang diperlukan
dapat dihitung kira-kira sebagai berikut : 50 ml suspensi trom-
bosit menaikkan kadar trombosit 7500-10.000/mm
3
pada re-
sipien yang beratnya 50 kg.
Suspensi trombosit diberikan pada penderita trombositopeni
bila :
1)
didapat perdarahan
2)
untuk mencegah perdarahan pada keadaan dimana ada
erosi yang dapat berdarah bila kadar < 35.000/mm
3
3)
untuk mencegah perdarahan spontan bila kadar trombosit <
15.000/mm
3
-
Transfusi dengan suspensi plasma beku (Fresh Frozen Plasma)
Plasma segar yang dibekukan mengandung sebagian besar
faktor pembeknan di samping berbagai protein yang terdapat di
dalamnya; karena itu selain untuk mengganti plasma yang
hilang dengan perdarahan dapat dipakai sebagai pengobatan
simptomatis kekurangan faktor pembekuan darah.
Fresh Frozen Plasma (PIT) tidak digunakan untuk meng-
obati kebutuhan faktor VIII dan faktor IX (Hemofilia); untuk
ini digunakan plasma Cryoprecipitate.
Pada transfusi dengan FFP biasanya diberikan 4­8 kantong
(175­225 ml) tiap 6­8 jam bergantung kebutuhan.
Transfusi dengan darah penuh (Whole Blood)
Transfusi dengan darah penuh diperlukan untuk mengem-
balikan dan mempertahankan volume darah dalam sirkulasi
atau mengatasi renjatan. Untuk menilai volume perdarahan
yang terjadi dapat dipakai patokan seperti terlihat pada tabel 1.
Tabel 1. Hubungan antara gejala klinis dan prakiraan Jumlah perda-
rahan pada seseorang yang berat badannya 60 kg.
Volume yang keluar
ml %
Tanda Klinik
500
1000
1500
2000
2500
10
20
30
40
50
Tidak ada. Kadang-kadang pada donor dapat ter-
jadi vasovagal sinkope
Keadaan istirahat bisa tanpa ada gejala klinik.
Duduk/berdiri tekanan darah sedikit tutor', atau
takikardi
Istirahat berbaring, tekanan darah dan nadi bisa
nonnal. Duduk/berdiri tekanan darah turun, atau
takikardi
Tekanan vena sentral, cardiac output, tekanan
darah arteri, di bawah normal walaupun dalam
keadaan berbaring telentang dan istirahat, haus
udara, nadi cepat, kulit dingin
Syok, asidosis laktat dan kematian
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994
14
background image
Di samping itu indikasi lain untuk melakukan transfusi
pada perdarahan adalah sebagai berikut :
1)
Tekanan darah < 100 mmHg (hati-hati pada penderita yang
sebelumnya menderita hipotensi).
2)
Nadi yang persisten 100/menit. Hal ini biasanya berarti
telah terjadi perdarahan sebanyak 20% volume darah.
Hematokrit tidak selamanya dapat digunakan sebagai pa-
tokan pada perdarahan karena terjadinya vasokonstriksi kom-
pensasi. Hemodilusi biasanya berakhir dalam 72 jam.
Darah penuh yang segar hanya diperlukan untuk faktor
pembekuan atau pada transfusi masif. Sebenamya dapat pula
diatasi dengan memberi Packed Red Cells ditambah Fresh
Frozen Plasma.
HEMODINAMIK SIRKULASI
Perlu diperhatikan keadaan hemodinamik penderita agar
tidak terjadi gagal jantung atau edema paru. Dari data mengenai
hemodinamik (tekanan darah dan nadi) dapat diperkirakan he-
batnya perdarahan atau kekurangan volume darah penderita.
Pada anemia kronik dan pada gagal jantung kecepatan transfusi
pada dasarnya diusahakan tidak melebihi 2 ml/kgBB/jam.
UMUR DAN STABILITAS KOMPONEN DARAH
Umur atau lamanya komponen darah yang ditransfusikan
dapat bertahan dalam tubuh perlu diketahui untuk mengetahui
interval pemberiannya. Misalnya faktor VII hanya dapat ber-
tahan sementara 4­7 jam sehingga pemberiannya harus setiap
4­8 jam. Trombosit hanya bertahan 1­2 hari sehingga pada ka-
sus yang memerlukan trombosit dan produksi tidak adekuat
maka trombosit harus diberikan tiap 1­2 hari.
KEPUSTAKAAN
1.
Aru W Sudoyo, Zubairi Djoerban. Transfusi Darah. Dalam Buku Emu
Penyakit Dalam II, Ed. Soeparman. 1991; Hal. 518-523.
2.
Gardner HF. Preservation and clinical use of platelets. In: Hematology.
Eds. Williams JW et al. 3rd ed. 1986; pp. 1556-63.
3.
Johnson JA, Aronson LD, Williams JW. Preparation and clinical use of
plasma and plasma fraction. In: Hematology. Eds. Williams JW et al. 3rd
ed. 1986. pp. 1563-83.
4.
Masouredis SP. Preservation and clinical use of blood and blood component.
In: Hematology. Eds. Williams JW et al. 3rd ed. 1986. pp. 1529-49.
5.
Snyder LE. Transfusion practice, Hemostatic disorders, Transfusion
reactions. In: Blood Transfusion Therapy, 1983. pp. 39-74.
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994 15