KELAINAN HATI DAN LIMPA PADA SCHISTOSOMIASIS
dr. Pinardi Hadidjaja
Bagian Parasitologi dan Ilmu Penyakit Umum
Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia
Jakarta
Summary
Liver and spleen abnormality in Schistosomiasis is descri-
bed. This disease attacks people living in the Far east ; in
Indonesia it is found only near the Lindu Lake in North
Sulawesi.
There are three stages of Schistosomiasis. In the third stage
the pathological abnormality of the liver and the clinical
appearance are further divided in to three stages, which co-
rrelate to the complication and fibrosis.
Examination of the people living near the Lindu Lake showed
that in general they suffered the second stage and only some
of them entered the third stage.
The diagnosis was established by the discovery of schistosoma
eggs in the faeces, liver biopsy, rectal biopsy and by the sero-
logical reaction.
PENDAHULUAN
Schistosomiasis japonica adalah penyakit yang disebabkan
oleh infeksi salah satu species cacing trematoda darah yang
disebut Schistosoma japonicum. Penyakit ini hanya terdapat
di daerah-daerah Timur Jauh, yaitu di Jepang, Cina, Taiwan.
Pilipina, Thailand, Laos, Malaysia dan Indonesia. Di Indonesia
penyakit ini telah ditemukan sejak tahun 1937
(MULLER
dan
TESCH )
yaitu di daerah danau Lindu, Sulawesi Tengah.
Pada tahun 1972 telah ditemukan daerah endemik baru, yaitu
di lembah Napu, yang terletak ± 50 km di sebelah tenggara
danau Lindu
(CARNEY
dkk., 1974).
PATOGENESIS dan SIKLUS HIDUP CACING
Cacing Schistosoma Japonicum hidupnya terutama di da-
lam vena porta dan vena mesenterica superior. Cacing betina
mengeluarkan telur didalam pembuluh darah, dan telur terse-
but dapat menembus keluar dari pembuluh darah, masuk
ke dalam jaringan sekitarnya. Selanjutnya telur dapat masuk
ke dalam lumen usus dan ditemukan di dalam tinja. Sebagian
telur yang terjerat di dalam jaringan akan menimbulkan ke-
lainan berupa pembentukan pseudoabsces di sekitar telur dan
kemudian dibentuk pseudotubercle. Sebagian telur akan me-
ngalir dengan aliran darah dan pergi ke alat-alat tubuh, teru-
tama hati, dan menimbulkan
kelainan di dalam hati atau
alat-alat lain.
Telur yang terdapat di dalam tinja akan menetas di dalam
air. Dan keluarlah larva yang disebut miracidium. Larva ini
bercilia, dapat berenang di dalam air, dan akan mencari hospes
perantaranya yaitu keong air jenis Oncomelania. Untuk ca-
cing
S.
japonicum strain Lindu, hospes perantaranya adalah
keong air Oncomelania hupensis lindoensis.
Miracidium kemudian menembus masuk ke dalam tubuh
keong air dan berkembang menjadi sporokista I, kemudian
sporokista II, dan terakhir dibentuk cercaria. Cercaria kemu-
dian meninggalkan keong air, berenang dan mencari hospes
definitifnya yaitu manusia dan binatang.
Bila tidak dapat menemukan hospesnya, maka dalam waktu
48 -- 72 jam, cercaria akan mati
(FAUST
dan
MELENEY,
1923). Infeksi pada manusia dan binatang terjadi dengan cara
cercaria menembus kulit. Dalam tubuh hospes definitif cer-
caria berubah menjadi schistosomulum, masuk ke dalam
pembuluh darah atau saluran limfe, lalu pergi ke jantung ka-
nan, paru, jantung kiri dan selanjutnya melalui peredaran
darah besar ke vena usus dan menjadi dewasa di dalam vena
porta. Cacing dewasa ini lalu pergi ke vena mesenterica su-
perior dan meletakkan telur disana.
PEMBAGIAN KLINIK
Secara klinis penyakit schistosomiasis japonica dapat diba-
gi dalam tiga stadium :
Stadium
I.
Stadium invasi dan permulaan
migrasi; Stadium akut dan sta-
dium toksemia (termasuk dalam
masa tunas biologik).
Stadium
II.
: Stadium bertelur.
Stadium
III.
: Stadium menahun dengan terja-
dinya perubahan patologis yang
menetap yaitu dengan terjadinya
fibrosis.
Kelainan hati yang terdapat pada penyakit schistosomiasis
japonica dapat ditemukan pada stadium I, II dan III.
Pada stadium akut dan stadium toksemia, kelainan hepa-
titis terutama disebabkan oleh karena reaksi hipersensitif
yang terjadi berdasarkan hasil metabolik yang dikeluarkan
cacing dewasa. Pada stadium ini hati teraba membesar (he-
Cermin Dunia Kedokteran No.
15, 1979
21
patomegali) dan terasa nyeri pada penekanaan.
Pada stadium II, dengan diletakannya telur dalam hati ma-
ka hepatitis menjadi lebih berat. Mulai dibentuk granuloma
di sekitar telur yang terutama terdiri dari sel eosinofil yang se-
bagian telah mengalami nekrosis. Splenomegali yang terdapat
pada stadium ini merupakan tipe yang tidak spesifik, dengan
infiltrasi fokal sel eosinofil yang padat.
Pada stadium III, kelainaan patologi hati dan gambaran kli-
nisnya dapat dibagi dalam tiga tahap, yang berhubungan erat
sekali dengan fibrosis serta komplikasi yang timbul.
· Tahap hepatosplenik.
· Tahap splenomegali.
· Tahap akhir dengan adanya ascites.
Pada schistosomiasis hepatosplenik terdapat banyak pende-
rita dengan gejala hipertensi portal. Hipertensi ini timbul
berdasarkan adanya obstruksi pada cabang-cabang vena porta
karena adanya kelainan mesenkim serta cabang-cabang terse-
but. Fibrosis yang terjadi pada tahap ini merupakan fibrosis
periportal yang terkenal sebagai "Clay-pipe stem fibrosis
atau Symmers fibrosis
"
(SYMMERS, I904). Pada stadium ini
hati biasanya membesar dengan permukaan makronodular
serta terdapat bagian-bagian dengan retraksi pada daerah portal
yang mengalami fibrosis. Biasanya fungsi hati masih baik oleh
karena hanya bagian kecil sel parenkim hati terkena. Keluhan
pada stadium ini terutama berdasarkan adanya hepatosple-
nomegali atau terjadinya hematemesis karena pecahnya vari-
ces esophagi. Splenomegali terjadi berdasarkan adanya hiper-
tensi portal. Limpa dapat menjadi sangat besar (MARCIAL
ROJAS, I97I).
Pemeriksaan histopatologi menunjukkan adanya fibrosis
pulpa, hiperplasi sel-sel retikulo-endotel dan bertambahnya sel
plasma. Kadang-kadang dapat pula tampak infark, perisple-
nitis serta "Gamna-Gandy bodies
"
(ANDRADE dkk, 197I ;
MARCIAL
ROJAS, I97I). Hipersplenisme dengan gejala-
gejalanya, diantaranya trombositopenia dan anemia, dapat
terjadi pada stadium ini.
Pada tahap akhir maka dapat terjadi kerusakan hati yang
berat sekali sehingga fungsi hati terganggu. Ikterus dan Ascites
biasanya ditemukan pada stadium ini. Ada beberapa faktor
yang mempengaruhi timbulnya ascites misalnya adanya dispro-
teinemia yang berat dengan menurunnya serum albumin,
kemungkinan adanya faktor hormonal, dan tidak seimbang-
nya elektrolit di dalam tubuh (GABUZDA, 1970).
Akan tetapi yang memegang peranan penting adalah hipertensi
portal.
Pada penderita schistosomiasis japonica menahun, pada
umumnya terjadi cirrhosis hepatis. NAKAJIMA dkk. (I963)
telah membagi cirrhosis hepatis menurut derajat fibrosis se-
bagai berikut :
Derajat I
, permukaan hati masih licin (
"
smooth
"
).
Derajat II
, permukaan hati tidak rata.
Derajat III
, pennukaan hati yang sangat tidak merata.
Derajat III ini kemudian dibagi lagi menjadi tiga golongan :
Tipe
I
: Tipe lobuler, yang menyerupai hepar lo -
batum yang ditemukan pada syphilis
congenita.
Tipe
2
: Tipe granular yang sama dengan cirrho
-
sis atrofik dengan granula halus tipe
Laennec.
Tipe
3
: Tipe campuran antara granular
dan
nodular yang besar-besar.
Menurut YAMAGIWA (I904) tipe lobular yang terdapat pada
cirrhosis derajat III sesuai dengan
"
Clay pipe stem cirrhosis
"
(SY
M M E R S 1904). Dengan demikian pada schistosomiasis
japonica stadium lanjut, terdapat hepatosplenomegali dan
hipertensi portal dengan gejala-gejalanya.
Penyakit ini menyerupai cirrhosis hati misalnya oleh kwashior-
kor, keracunan, cirrhosis post nekrotik sebagai akibat hepa-
titis akuta, cirrhosis biliair, cirrhosis congestif dan cirrhosis
yang disebabkan infeksi trematoda hati seperti Clonorchis,
Opisthorchis dan Fasciola.
Pemeriksaan klinis yang dilakukan pada penduduk daerah
danau Lindu, pada umumnya penderita schistosomiasis hanya
terdapat dalam stadium II, sedangkan hanya sedikit yang ter-
dapat dalam stadium III tahap hepatosplenik dan tahap sple-
nomegalik saja dengan gejala hematemesis.dan melena. Sedang-
kan yang dengan gejala ascites dan edema jarang sekali dite-
mukan.
Diagnosis schistosomiasis japonica dibuat berdasarkan di-
temukannya telur di dalam tinja, biopsi hati atau rektum. Re-
aksi serologi dapat dipakai sebagai penyokong pembuatan di-
agnosis.
KEPUSTAKAAN
1. ANDRADE. Z.A. CHEEVER. A.W. : Alterations of the intrahepa-
tic vasculature in hepatosplenic Schistosomiasis mansoni.
Am J
Trop Med Hyg 20 : 425,
1971.
2. CARNEY.
W.P,
MASRI. S, SALUDIN and PUTRALI. J : The
napu valley, a new Schistosomiasis area in Sulawesi, Indonesia.
South East Asian J Trop Med 5: 246,
1974.
3. FAUST. E.C. and MELENEY. M.E : Studies on Schistosomiasrs
japonica : Morphology, biology and life history
of
the causative
organism, Schistosoma japonicum, Katsurada.
J Trop Med Hyg
26 : 66, 1923.
4. GABUZDA. G.H : Cirrhosis, ascites and edema.
Gastroenterology
58 : 546,
1970.
5. MARCIAL-ROJAS. R.A. :
A pathology of protozoal and helminthic
diseases.
The Wrlliams Wrlkins
Co.
Baltimore,
1971.
6. MULLER. H. and TESCH. J.W : Autochthone infectie met Schisto-
soma japonicum
of
Celebes.
Geneesk Tydschr Nederl India 77 :
2143,
1937.
7. NAKAYIMA.
T,
TSUTUMI. H and WATANABE. A : Studies on
liver fibrosis ( cirrhosis ) due to Schrstosomiasis japonica
I.
Morpho-
logy
of
the liver.
Kurume Med J.
10 : 51, 1963 (
dikutip dari Mar-
cial Rojas,
1971 ).
8. SYMMERS
W :
Notes on a new form of liver cirrhosrs due to the
presence of the ova
of
Bilharzia haematobia.
J Path Bact 4 : 237,
1904.
9. YAMAGIWA. K : Vrews on the work by Fujinami and Kon "On
the pathological anatomy
of
the
so
called Katayama disease, ende-
mic in the Province
of
Bingo ".
J Kyoto Med Assos
1 : 181, 1904.
(
dikutip dari Mazcial Rojas,
1971 ).
2 2
Cermin Dunia Kedokteran No.
15,
1979
PEMERIKSAAN FISIK HEPATOMEGAL1
Hepatomegali merupakan suatu keadaan dimana hepar
membutuhkan ruang yang lebih luas dari biasa di dalam rong-
ga abdomen. Keadaan ini tidak selalu sama dengan apa yang
diartikan sebagai "hepar teraba.
"
Sebab hepar dapat mem-
besar ke atas maupun ke bawah. Bila membesar keatas, ke arah
diaphragma maka hepar tidak akan teraba. Akan tetapi sudah
terjadi hepatomegali. Disamping itu hepar juga dapat terte-
kan ke bawah akibat proses di dalam rongga dada, sehingga
hepar dapat teraba akan tetapi hepatomegali tidak terjadi.
Sebelum menentukan adanya hepatomegali adalah penting
menentukan dulu keadaan diatas dan dibawah hepar. Untuk
itu perlu menilai secara tepat batas-batas hepar dengan inspek-
si, palpasi, perkusi dan sebagainya. Sebab hepatomegali meru-
pakan tanda dari berbagai penyakit, maka adalah penting juga
mengenal gejala-gejala klinik dari penyakit-penyakit yang
mempunyai hubungan dengan hepatomegali.
PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik penderita dengan pembesaran hepar ter-
masuk inspeksi, perkusi, palpasi dan auskultasi.
Inspeksi
Perhatikan dengan teliti
kwadran atas dari perut
waktu inspirasi dan eks-
prrasr.
Palpasi
Palpasi abdomen harus dilakukan secara "gentle." Bila
hendak menentukan bagian bawah dari hepar sebaiknya pal-
pasi dimulai dari bawah umbilicus, sebelah lateral dari musku-
lus rectus. Tepi hepar yang lunak kadang-kadang gagal diraba
bila hanya sedikit membesar dan keluar dari tepi costa. Pada
saat palpasi tentukan juga konsistensi, permukaan, pergerak-
an dan perabaan dari hepar.
Pulsasi dari hepar bila
ada dapat ditemukan de
ngan menempatkan ta-
ngan kiri pada bagian
belakang perut kanan
atas dan tangan kanan
diletakan diatas daerah
anterior hepar.
Perkusi
Pada keadaan normal batas kanan hepar sesuai dengan
garis yang melalui puting susu (pada pria) atau pada iga ke 5.
Disebelah kiri batasnya adalah garis
mid claviculer. Batas
atas biasanya dua setengah sentimeter lebih rendah dari pa-
da sebelah kanan.
Perkusi hanya dapat dikerjakan pada keadaan penderita ber-
baring terlentang.
Bila tepi hepar tidak teraba maka dapat ditentukan dengan
perkusi, dimana akan dijumpai bunyi timpani dari abdomen
dan keatas akan terdengar peka.
Asimetri pada sebelah
kanan mungkin menun-
jukan adanya pembe-
saran dari lobus kanan
Asimetrr dari kwadran
sebelah kiri perlu didu-
ga adanya pembesaran
limpa dan kemungkinan
adanya hepatosplenome
ali.
Cermrn Dunia Kedokteran No. 15, 1979
2 3
PEMERIKSAAN FISIK YANG MENUNJUKAN ADANYA
HEPATOMEGALI BILA TEPI HEPAR TERABA
relaksasr dari ligamen-
tum suspensorium he-
par
Auskultasi
Pada auskultasi hepar hanya dapat diperoleh beberapa hal
saja seperti : venous hum bila ada arteriovenous aneurisma,
hemangioma atau vena umbilicalis yang persisten pada liga-
mentum falciforme. Friction rub menunjukan adanya peri-
hepatitis dan merupakan tanda reaksi inflamasi yang menge-
nai capsula hepar. Infeksi hepar, ruda paksa dan tumor da-
pat pula menimbulkan friction rub ini.
Bila hepar hanya teraba sedikit saja dibawah tepi costa, ke-
adaan ini dapat menunjukan adanya beberapa kelainan. Se-
baliknya berbagai keadaan seperti menurunnya berat badan,
mengendurnya ligamenta yang menyokung hepar juga akan
menyebabkan turunnya hepar sehingga hepar akan teraba se-
dikit.
Deformitas columna ver
tebralis di daerah tho-
rax.
2 4
Cermin Dunia Kedokteran No. 15, 1979
PEMERIKSAAN FISIK YANG MENUNJUKAN ADANYA
HEPATOMEGALI BILA TEPI HEPAR TIDAK TERABA
Adalah penting melaku-
kan perkusi untuk me-
nentukan tepi atas he-
par yang peka walau-
pun tepi bawah hepar
ti dak teraba.
diaphragma yang naik
pembesaran dan penu-
runan hepar.
Berbagai penyakit intra hepatic seperti abces ameba, pyo-
genic liver abces dan metastase tumor dapat juga menyebab-
kan hepatomegali dan menekan diaphragma ke atas.
dr. Lukas Tjandra Leksana
kalender kegiatan ilmiah
carran sub diaphragma
Pada tanggal 24 Nopember 1979, di Jakarta akan diadakan
Simposium Rheumatologi yang dilanjutkan dengan pertemuan
lndonesian Rheumatism Association (IRA).
Pada Simposium tersebut akan dibahas berbagai masalah antara
lain :
Patofisiologi/etiologi dan immunologi penyakit
sendi
Epidemiologi penyakit sendi
Di agnostik penyakit sendi
Pengobatan medicamentosa, pembedahan dan re-
habilitasi
Kuliah umum/tamu/konsep-konsep baru kema-
juan-kemajuan lainnya.
Sekretariat Panitia :
Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
R.S. Cipto Mangunkusumo
J1. Diponegoro 71
Jakarta.
Kongres Nasional ke III Perkumpulan Ahli Dermato-Venereolo-
gi lndonesia akan diadakan pada tanggal 31 Mei 4 Juni 1980
di Medan.
Tujuan :
Untuk saling menukar pandangan dan pengalaman
dalam soal-soal penyakit kulit, penyakit kelamin
dan penyakit kusta.
Atraksi
:
Peserta dapat mengunjungi daerah parawisata ter-
kenal : DANAU TOBA. Dan juga dapat mengha-
diri Fourth Regional Conference of Denmatology
yang akan diadakan dr Penang Malaysia tanggal
5 9 Juni 1980. Hanya 30 menit terbang dari
Medan anda dapat mengikuti pertemuan penting
tersebut.
Panitia penyelenggara mengucapkan selamat datang pada pe-
serta.
Untuk keterangan selanjutnya dapat anda hubungi :
Dr Marwali Harahap
Bagian llmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran
U.S.U.
Rumah Sakit Umum Pusat Propinsi
J1. Prof. H.M. Yamin SH No. 47 Medan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 15, 1979
25