TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Kaitan Antara Kusta Kerbau
(Lepra bubalorum) dengan
Kusta Manusia (Lepra humanus)
di Sulawesi
Iwan T. Budiarso
Bagian Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Jakarta
PENDAHULUAN
Penyakit kusta adalah penyakit menular yang bersifat me-
nahun dan disebabkan infeksi golongan kuman Mycobacterium.
Pada manusia akibat tertular Mycobacterium leprae, sedangkan
pada hewan masing-masing oleh M. lepremurium pada mencit,
M. leprabubalorum pada kerbau
(1,2,3,4,5)
, M. leprabovina pada
sapi
(2,6)
. Gejala klinis dan manifestasi lesi kulit baik pada manusia
maupun hewan sangat mirip satu sama lain dengan gambaran
histopatologi didominasi oleh reaksi radang granulomatosa.
Pada manusia, penyakit kusta merupakan masalah yang
sangat pelik dan sensitif sekali, bukan karena belum ditemukan-
nya obat-obat yang efektif, melainkan lebih dititik beratkan pada
akibat kecacatan tubuh dan dampak psikososial yang sangat
merugikan penderita serta keluarganya. Sebaliknya pada kusta
hewan tidak ada masalah, karena dapat dilakukan tindakan
stamping out yang tidak mungkin dilaksanakan pada manusia.
Apakah penyakit kusta ini suatu penyakit antropozoonoses?
Sampai sekarang belum ada laporan yang menyatakan ada manusia
yang tertular oleh kuman kusta golongan jenis hewan. Di labora-
torium telah dibuktikan bahwa kuman kusta bila disuntikkan
pada hewan percobaan umpamanya mencit, armadillo dan kera,
maka dalam waktu relatif singkat akan timbul gejala klinis dan
lesi kulit yang mirip seperti pada manusia.
Tulisan ini dimaksud untuk menggugah dan mengingatkan
para dokter dan dokter hewan agar dapat lebih meningkatkan
kerja sama lebih baik dan efisien, bukan saja dalam bidang
administrasi dan birokrasi, tetapi juga bisa bekerja sama secara
terpadu dalam menangani dan meneliti suatu penyakit, terutama
yang bersifat antropozoonosis. Pengalaman membuktikan bahwa
kerjasama yang baik dan terpadu antara para pakar kedua profesi
ini, sering kali, bukan saja bisa membuahkan hasil yang lebih
baik, akan tetapi juga dapat menghemat tenag biaya dan waktu.
Penyakit kusta kerbau dan kusta manusia, khususnya di
Sulawesi, masing-masing ditangani oleh dokter hewan dan dokter
manusia,padahal kedua penyakit ini berada di tempat-tempat di
daerah yang endemik baik bagi ternak kerbau maupun penduduk
setempat. Penyakit kusta kerbau adalah penyakit eksotik pada
hewan kerbau dan mempunyai ciri-ciri khas dalam segala aspek
seperti tipe lepromatus pada manusia. Maka adalah wajar kalau
kedua profesi tersebut dapat bersatu secara terpadu dalam me-
nangani penelitian penyakit ini, karena tidaklah mustahil penya-
kit kusta kerbau adalah akibat ketularan dan penderita manusia
atau sebaliknya. Faktor lain yang mendukung dugaan ini ialah
cara hidup, kebiasaan dan perilaku para petani mempunyai
hubungan yang sangat erat dengan ternaknya sehari-hari, baik
secara fisik maupun mental. Dugaan ini bukanlah tidak ada
alasannya, karena armadillo yang hidup liar secara bebas di
daerah endemik kusta manusia di Louisiana, sekarang sudah
dibuktikan dapat tertular kuman kusta manusia
(5)
.
Penyakit kusta manusia prevalensinya sangat tinggi di Indo-
nesia bagian Timur, sedangkan di bagian Barat lebih rendah,
kecuali di Aceh
(7)
. Penyakit kusta merupakan penyakit kronis
kedua setelah tuberkulosis di Sulawesi. Demikian juga kejadian
penyakit kusta pada hewan, menurut Lobel
(4)
, prevalensinya
sangat tinggi di Sulawesi dan rendah sekali di kepulauan lainnya.
Kesejajaran tingginya prevalensi penyakit kusta baik pada ma-
nusia maupun hewan kerbau di Sulawesi sangat menarik dan
merupakan suatu tantangan untuk diteliti apakah kusta pada
manusia ada hubungannya dengan kejadian kusta pada kerbau di
Indonesia, khususnya di Sulawesi.
Kalau ini bisa terjawab, tentu akan sangat bermanfaat dan
menguntungkan serta menambah kasanah baru dalam ilmu penge-
tahuan bidang kesehatan.
Disajikan pada Simposium "Kemajuan Dalam Penyakit Tropis dan Parasit" di
Fakultas Kedokte ran, Universitas Tarumanagara, Jakarta, 12 Desember 1992.
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997 13
I. PENYAKIT KUSTA PADA MANUSIA
EPIDEMIOLOGI
Penyakit kusta pada manusia ditemukan di seluruh dunia
dan menurut catatan dari 6 kantor WHO regional yang mem-
bawahi 154 negara dilaporkan berjumlah 1599.949 kasus de-
ngan prevalensi rata-rata 1,33 promil
(7)
.
Sepuluh tahun kemudian, yakni pada sensus ulang tahun
1985 ditemukan peningkatan sebesar 49,1% atau sama dengan
5.368.202 kasus. Menurut catatan WHO tahun 1985, data kasus
penyakit kusta dari negara-negara yang sudah masuk terdaftar
adalah sebagai berikut :
* Afrika
:
624.266
* Amerika Utara
:
335.232
* Asia Selatan
:
3.782.532
* Mediterania Timur :
79.452
* Eropa dan Rusia
:
12.242
* Pasifik Barat
:
235.559
Jumlah
: 5.069.283
Jumlah tersebut belum termasuk kasus yang terdapat di RRC.
WHO memperkirakan bahwa jumlah penderita kusta di seluruh
dunia antara 1012 juta orang
Di Indonesia, menurut catatan dari Sub Direktorat Pem-
berantasan Penyakit Kusta, Direktorat Jendral Pencegahan Penya-
kit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PPM-
PLP) penderita kusta berjumlah 101.602 orang dengan tingkat
prevalensi 0,6 promil
(8)
. Data ini masih perlu dikoreksi dengan
faktor koreksi Bechelli, yang besarnya antara 150300%
(7)
. Angka
tertinggi terdapat di Indonesia bagian Timur sedangkan di bagian
Barat lebih rendah, kecuali Aceh. Bila angka ini dibandingkan
dengan angka-angka dan negara-negara lain maka Indonesia
menduduki urutan ke 5 setelah India. Penyakit kusta akan me-
rupakan suatu masalah kesehatan yang muskil di daerah-daerah
yang prevalensinya di atas 1 promil.
GEJALA KLINIS
Tanda-tanda utama penyakit kusta adalah :
1) Lesi kulit yang karakteristik
2) Anestesi
3) Penebalan saraf-saraf tepi
Diagnosis
Diagnosis penyakit kusta biasanya berdasarkan pada gejala
klinis dan pemeriksaan sediaan apus dan kerokan dalam lapisan
kulit yang diwarnai dengan Ziehl-Nelsen. Bila masih ada ke-
raguan, maka perlu dilakukan biopsi kulit atau saraf. Bila masih
juga meragukan, maka pasien perlu diobservasi dan pemeriksaan
diulang lagi setelah 3 bulan.
Pengobatan
Sebelum tahun 1941 belum ada bentuk obat khemotera-
puetik seperti DDS atau antibiotik. Dahulu hanya diobati dengan
Chaulmoogra oil, namun efektifitasnya sangat rendah sekali.
Pada tahun 1941 ditemukan obat-obat derivat sulfon. Yang
pertama yakni Promin, namun khasiatnya cepat menurun. Pada
tahun 1947 digunakan Dapson atau DDS dan hasilnya sangat
memuaskan. DDS merupakan pilihan obat yang lebih efektif
dibandingkan dengan Promin dan digunakan sebagai obat pro-
grain pemberantasan kusta oleh WHO/UNICEF selama lebih
dari 3 dasawarsa. Pada permulaan DDS sangat ampuh sekali
untuk membunuh kuman M. lepra namun setelah secara terus
menerus digunakan sebagai monoterapi selama 30 tahun, ter-
nyata menimbulkan resistensi. Untuk mengatasi hal tersebut
maka sekarang digunakan cara pengobatan kombinasi (Multi
Drug Therapy) yakni kombinasi antara DDS dan Rifampicin
atau DDS, Rifampicin dan Clofazimine atau Clofazimine dan
DDS atau dikombinasikan dengan obat antibiotik lain sesuai
dengan kondisi, derajat, dan tipe penyakit.
II. PENYAKIT KUSTA PADA KERBAU
EPIDEMIOLOGI
Penyakit kusta pada kerbau nampaknya tidak pernah di-
temukan di belahan dunia manapun kecuali di Indonesia. Semua
laporan mengenai penyakit ini yang pernah diterbitkan di ber-
bagai majalah dan textbook sampai sekarang semuanya bersum-
ber dari kasus yang terdapat di Indonesia. Sejak pertama kali
kasus kerbau kusta dilaporkan oleh Kok dan Rusli pada tahun
1926 sampai sekarang jumlah total semua kejadian di seluruh
Indonesia belum mencapai angka 200 ekor. Dari jumlah ini 80%
kasus kusta kerbau ditemukan di Sulawesi
(4)
.
GEJALA KLINIS
Tanda-tanda klinis utama adalah ditemukannya lesi ber-
bentuk bungkul-bungkul di bagian kulit, terutama dimulai dari
bagian ujung-ujung ekstremitas, bagian bawah perut dan pangkal
leher. Lalu lesi ini menyebar ke atas, bagian muka dan ke bagian
tubuh lainnya. Besar bungkul bervariasi, dari mulai beberapa
milimeter sampai lebih dari 5 sentimeter diameternya. Pada
benjolan-benjolan yang agak besar ukurannya sering kali disertai
luka atau ulkus. Konsistensi keras, bergranulasi dan kenyal.
Kelainan pada saraf tepi atau anestesi seperti yang terdapat pada
manusia tidak dapat dipastikan.
DIAGNOSIS
Seperti halnya cara mendiagnosis kusta pada manusia yakni
dengan membuat sediaan apus dan kerokan dalam bagian kulit
dan diwarnai dengan Ziehl-Nelsen. Bila memang positif, maka
akan ditemukan kuman-kuman batang tahan asam di dalam sel
makrofag.
PENGOBATAN
Biasanya bila sudah didiagnosis positif kusta, maka tindakan-
nya pada kerbau penderita adalah,stamping out dan di lapangan
belum pernah ada yang mencoba mengobati seperti pada orang.
Secara eksperimental pernah dicoba dengan mengulaskan Chaul-
moogral oil pada bagian kulit yang memperlihatkan lesi, namun
pengobatan hanya dilakukan tidak lebih dari 1 tahun dan hasilnya
nihil.
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997
14
DISKUSI
Lepra bubalorum atau kusta kerbau adalah suatu penyakit
eksotik dan merupakan suatu fenomena sangat menarik dalam
bidang ilmu kedokteran hewan. Sampai sekarang kusta kerbau
secara eksklusif hanya ditemukan di bumi Indonesia saja dan
paling tinggi prevalensinya terkonsentrasi di Sulawesi. Hal ini
sangat menarik, karena secara kebetulan atau tidak, daerah yang
sama juga merupakan daerah endemik kusta manusia. Menurut
laporan Kanwil Kesehatan Sulawesi kusta manusia merupakan
penyakit kronis kedua yang tinggi prevalensinya setelah tuber-
kulosis di Sulawesi.
Ditinjau dari segi klinis dan patologi-anatomis, kedua penya-
kit ini mirip satu sama lain karena gambaran histologis bagian
kulit yang terkena berupa radang kronis granutomatosa dengan
sel-sel monosit dan histiosit bergerombol membentuk kumparan
atau menyebar difus di dalam tapisan korium kulit. Di dalam
jaringan granutoma tampak sel-sel yang bundar besar dan bening
seperti sel lemak, bila diwarnai dengan Ziehl-Nelsen maka di
dalam sitoptasmanya mengandung kuman-kuman batang tahan
asam yang sudah mulai berdegenerasi dan retrogresif. Sekali-
sekali ditemukan bercak-bercak jaringan nekrosis dan endapan
kapur. Kuman tidak tampak di dalam jaringan saraf.
Perubahan histotogis ini memberikan gambaran sangat mirip
seperti kusta manusia bentuk tepromatus. Dari 15 jenis utama
gambaran klinis dan perubahan patotogis yang tercantum dalam
Tabel 1 sebagai perbandingan antara kusta kerbau dan ma-
nusia, ditemukan kesamaan bentuk dalam 9 jenis perubahan.
Hal ini sangat menarik perhatian dan mengesankan karena
penyakit itu ditemukan pada dua makhtuk yang sangat ber-
beda sifat-sifat biologisnya. Namun demikian hal ini bukanlah
sesuatu yang mustahil, karena di Amerika Serikat, yakni di
negara bagian Louisiana, ada hewan liar yang dinamakan Arma-
dillo bergaris sembilan (Nine-banded Armadillo) dapat tertular
secara alami oleh M. leprae.
Tabel 1. Perbandingan Gambaran Klinis dan Perubahan Patologis An-
tara Kusta Kerbau dan Kusta Manusia
Jenis Kusta
Kerbau
Kusta
Manusia
Perjalanan penyakit
Efek neurotropik
Aitestesi topikal
Uji tuberkulin
Lesi membran nasal
Lesi organ interna
Kelenjar limfe
Lokasi kuman
Pengelompokan kuman
Degenerasi kuman
Biakan kuman
Percobaan infeksi
Histopatologi
Perkapuran
Zat lipoid dalam lesi
Lambat dan benign
Ringan/tak ada
Tidak nampak
Ireguler
Ada
Tidak ada
Jarang terkena
Intraseluler
Globus prominan
Mencolok
Gagal
Tak berhasil
Sama lepromatus
Selalu ada
Banyak sekali
Lambat dan cenderung
muskil
Muskil
Ada
lreguler
Ada
Biasanya ada
Biasanya terkena
Intraseluler
Globus prominan
Mencolok
Gagal
Tak berhasil
Sama lepromatus
Kadang ada
Banyak sekali
Sekarang sudah diketahui bahwa kira-kira 30% armadillo
dewasa yang hidup liar di bagian Utara dan Selatan Amerika
telah tertular penyakit ini secara alami. Kuman kusta yang
diisolir dan hewan tersebut terbukti mempunyai sifat fenotip,
antigenik dan genetik identik dengan kuman kusta manusia
(5)
.
Hewan liar lain yang pernah dilaporkan tertular secara alami
iatah pada 2 ekor kera jenis Mangaby dan 2 ekor Chimpanzee
yang dipelihara di koloni-koloni peternakan kera di Amerika
Serikat. Hewan-hewan ini hasil tangkapan dari hutan dan
kemungkinan besar infeksinya terjadi sebelum hewan-hewan
tersebut diimpor ke Amerika. Kasus kejadian infeksi alami yang
tinggi prosentasenya pada armadillo dan sifat-sifat hewan kera
yang retatif mudah tertular secara alami memegang peranan
penting sebagai salah satu mata rantai penularan penyakit kusta
dan perlu mendapat perhatian khusus untuk disidik dan diteliti
lebih lanjut
(5)
.
Penularan penyakit kusta manusia, menurut sebagian besar
para ahli melalui droplet infection. Ada juga sebagian kecil yang
berpendapat bahwa kusta dapat ditularkan dari tanah. Mereka
telah dapat membuktikan bahwa dan contoh tanah yang diambil
dari daerah endemik dapat diisolasi kuman batang tahan asam.
Begitu juga banyak penduduk di Afrika dan India yang ke-
banyakan bertelanjang kaki, biasanya lesi pertama yang tampak
adalah di bagian bawah kaki. Kaki yang telanjang selalu ber-
gesekan dengan tanah dan mengakibat luka trauma sehingga
dapat sebagai port d'entree dari kuman yang sudah ada di tanah.
Pada kerbau, lesi pertama biasanya dimulai di ujung ekstre-
mitas, pangkal leher dan dasar bawah kulit perut. Kerbau biasa-
nya dipergunakan sebagai hewan tarik, khususnya untuk me-
narik bajak dan luku, sehingga ke-empat kaki dan kulit dasar
perut selalu bergesekan dengan tanah lumpur. Bila digunakan
teori infeksi tanah yang terdapat pada penduduk Afrika dan India
maka secara analogi teori yang sama dapat pula diterapkan pada
kerbau. Hal ini menjadi sangat menarik, apakah kuman pen-
cemarnya pada mulanya memang jenis kerbau atau berasal dari
jenis manusia yang bermutasi menjadi jenis kerbau. Hal ini
didukung dengan kenyataan bahwa kedua kusta itu sama-sama
merupakan penyakit yang endemik di Sulawesi. Meskipun Lobel
(4)
telah mempelajari secara mendalam segi klinis, patologi-anatomi,
sifat biokimiawi dan biologis kuman kusta kerbau, namun sam-
pai sekarang belum ada satu penelitipun yang pernah mem-
pelajari bentuk ultramorfologinya dengan elektron mikroskop,
apalagi dengan pembuktian cara sidik jari DNA dan dibanding-
kan terhadap kuman jenis manusia. Kejadian penyakit spontan
kusta kerbau yang tinggi prevalensinya dan bersamaan ditemu-
kan di daerah-daerah endemik kusta manusia merupakan suatu
tantangan bagi para peneliti bidang kesehatan untuk meneliti
hubungan antara kusta manusia dan kusta kerbau. Hasil yang
diperoleh akan memberikan implikasi yang luar biasa dalam
bidang ilmu kedokteran baik manusia maupun hewan, khusus
dalam segi studi perbandingan bidang biologi, biokimia, elektron
mikroskopi dan immunologi antara dua jenis kuman penyakit
ini; dan dari hasil penelitian ini diharapkan dapat dibuat vaksin
untuk menanggulangi penyakit tersebut.
KESIMPULAN
1) Penyakit-penyakit ini sangat menarik, karena keduanya
ditemukan di suatu daerah yang endemik.
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997 15
2) Perlu diadakan penelitian terpadu antara dokter dan dokter
hewan.
4. Lobel LWM. Lepra bubalorum. Thesis, University of Utrecht, Holland,
1934.
3) Perlu dilakukan studi perbandingan mengenai fenotipe,
antigenik dan sifat genetik kedua jenis kuman ini dengan cara
histokimia mikroskop elektron, immunologik dan sidik jari
DNA
5. Truman RW. Laboratory Research Branch, GWL Hansens Disease Center
at Louisiana State University, Baton Rouge, Louisiana, USA. 1992. Per
communication. .
6. Ressang AA, Titus I. A case report of Lepra bovma in a Holstien-Friesian
cow. Communic. Veterinariae 1960; 4: 47501.
7. Harijanto H, Hartodibyo R, Halim PW, Teterissa MR Perkembangan
Pengetahuan Kusta Mutakhir. Naskah dibacakan pada Pertemuan Ilmiah
IDI Cabang Tangerang, 7 September 1991.
KEPUSTAKAAN
8. Sub. Dit. P2 Kusta Dit. Jen. PPM dan PLP. Program Pemberantasan
Penyakit Kusta di Indonesia, 1991.
1. Kok J, Roesli M. Huid-tuberculose (?)bij buffels. Ned. TBI. Diergeneesk.
1926; 8: 46572.
9. Ressang
AA.
Leprabubalorum.
Part
11. Communic. Veterinariae, 1961; 5:
1036.
2. Kraneveld FC, Roza M. Lepra bubalorum and Lepra bovina in Indonesia.
Documenta de Medic. Georg. et Tropic. 1945; 6: 30314.
10. Ressang AA, Sutarjo. Lepra bubalorum. Part 1. Communic. Veterinariac,
1961; 5:6188.
3. Kraneveld FC, Roza M. Enige aanvullende gegevens over de Lepra
bubalorum. HemeraZoa 1953; 60: 291315.
Kalender Peristiwa
A little body often harbours a great soul
September 1317, 1997 - KONGRES NASI
SIONAL PERKUM
Hotel Manado Beach
Manado, Sulawesi Ut a, Indonesia
Sekr.: Perinasia
JI. Tebet Utara
22
Jakarta 12820
TeIp. : (021) 828 1243
Fax. : (021) 828 1243, 830 6130
Email : perinasi@centrin.net.id
Perinasia Cabang Sulawesi Utara
Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Malalayang
Jl. lana Wangko Raya
P0 Box 66
Manado 96115
Telp. : (0431) 859 091
Fax. : (0431)351 260
Email : permasi@mdo.mega.net.id
ONAL VI DAN SIMPOSIUM INTERNA-
PULAN PERINATOLOGI INDONESIA
ar
IA/
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997
16