dr L TJANDRA LEKSANA
R D -- P.T. KALBE FARMA
Jakarta.
JANTUNG SEORANG ATLIT
PENDAHULUAN
CLARENCE DE MAR yang dijuluki "Mr Marathon
"
pada
umur 66 tahun (1954) masih sanggup menyelesaikan per-
tandingan marathon dan keluar sebagai nomer ke 87 diantara
133 peserta. Selama hidupnya telah mengikuti 1000 pertan-
dingan marathon jarak jauh dengan 100 pertandingan diantara
nya berjarak lebih dari 25 mil.
Seorang dengan umur setua itu masih sanggup melakukan
aktifitas yang demikian berat merupakan hal yang luar biasa.
Dari jumlah serta deretan urutan pertandingan-pertandingan
yang pernah dilakukan, dapat dilihat suatu prestasi yang tak
ada bandingannya. Prestasi yang luar biasa ini mungkin ber-
dasar sesuatu keistimewaan dari organ-organ di dalam tubuh
nya.
Bila kita melakukan aktifitas olah raga, maka jantung
sebagai alat yang bertugas memompa darah keseluruh bagian
tubuh akan bekerja lebih berat dari biasa untuk mempertahan
kan kebutuhan akan oksigen diseluruh bagian tubuh kita.
Sebagai manifestasi dari kerja jantung yang lebih berat itu,
denyut jantung dan nadi menjadi lebih cepat, stroke volume
meningkat, Cardiac output bertambah, dan seterusnya ..............
Dari sekelumit gambaran yang tersebut diatas marilah kita
melihat apa yang dialami " jantung seorang tua
"
bila ia me-
lakukan lari marathon selama berjam-jam itu! Dapatkah anda
membayangkan hal apa yang kira-kira akan terjadi? Kami
yakin anda pasti mengetahuinya. Akan tetapi hal-hal yang
mengkhawatirkan tersebut tidak terjadi dengan DE MAR. Suatu
hal yang sulit dapat dipercaya dan menarik banyak perhatian
dari pengagum-pengagumnya termasuk para peneliti.
Melihat kesanggupan DE MAR yang luar biasa ini para pe-
neliti banyak memakainya dalam penelitian mereka. Demi
kian besar perhatian para peneliti sehingga pada akhir hayat
nya CLARENCE DE MAR masih bersedia menyumbangkan
sesuatu yang berharga bagi dunia kedokteran yaitu autopsy
dari mayatnya.
Apakah ada perubahan-perubahan anatomi maupun fisio-
logi pada jantung para atlit pada umumnya? Sampai berapa
jauh perubahan-perubahan tersebut tidak menimbulkan hal-
hal yang tidak diinginkan .......................................Marilah kita
melihat apa yang terjadi!
PERUBAHAN ANATOMI JANTUNG SEORANG PELARI
MARATHON
CURRENS dan WHITE pada tahun 1958 bersama dengan
STENGER melakukan penelitian pada mayat DEMAR,atlit
marathon terkenal ini yang meninggal dunia karena carcinoma
colon. Pada autopsy ditemukan bahwa DE MAR mempunyai
jantung seberat 340 gr (normal 250 -- 300 gr), suatu berat
yang lebih tinggi dari berat rata-rata orang normal. Tebal
dinding ventrikel kiri sebesar 18 mm (normal 10 -- 12 mm)
dan dinding ventrikel kanan 5 mm. (normal 3 -- 4 mm).
Tidak dijumpai kelainan pada endocardium serta bagian dalam
jantung lainnya. Besar lingkaran katup-katup jantung adalah
sebagai berikut :
Tricuspid
11 cm (normal 11 -- 13 cm)
Pulmonum
7,5 cm (normal 8 -- 9 cm)
Mitral
9,5 cm (normal 9 -- 11 cm)
Aorta
8 cm (normal 7 -- 8 cm)
Pada semua katup tersebut tidak dijumpai kelainan pathologik.
Arteria coronaria tampak lebih besar dari normal (kira-kira
2--3 kali lebih besar dari ukuran biasa); tampak juga adanya
proses atherosclerosis yang disertai penyempitan lumen
sebesar kira-kira 30% pada beberapa bagian dari dinding arteri
tersebut. CURRENS dan WHITE (1961) mengatakan bahwa
mereka tidak dapat menemukan kelainan-kelainan pada jan-
tung yang disebabkan aktifitas fisik yang lama dan terus
menerus, baik makroskopik maupun mikroskopik.
PERUBAHAN SYSTEM CARDIOVASCULAIR PADA PE-
LARI MARATHON
Lari marathon merupakan jenis olah raga yang dikatakan
sebagai "aerobic task" Dalam jenis olah raga ini dibutuhkan
pengerahan tenaga secara terus menerus dalam jangka waktu
yang cukup panjang. Setiap aktifitas fisik akan mempengaruhi
system cardiovasculair, pengaruh mana tergantung jenis akti-
fitas yang dilakukan.
Fox dan COSTILL (1973) dalam penelitiannya mendapatkan
bahwa pada pelari marathon yang melakukan pertandingan,
cardiac output maksimal kira-kira 34,5 liter/menit sedangkan
pada orang laki-laki dengan aktifitas normal biasanya hanya
Cermin Dunia Kedokteran No. 12, 1978
23
dicapai 23 liter/menit. Dari kedua angka diatas dapat dilihat
perbedaan yang cukup besar dan sekaligus memperlihatkan
besarnya beban kerja jantung seorang pelari marathon. Selama
pertandingan, pelari marathon mempergunakan 92% dari
cardiac output maksimalnya untuk selama lebih kurang 2,1
sampai 2,5 jam.
Seperti atlit lain yang melakukan endurance training, pe-
lari marathon mempunyai stroke volume yang lebih besar
pada waktu istirahat; demikian pula selama aktifitas. Pada
saat-saat stress yang maksimal stroke volume dapat mencapai
184 ml/denyut. Pada sembilan pelari marathon yang telah
diteliti didapatkan pemakaian hampir 95% dari seluruh stroke
volume maksimal selama pertandingan berlangsung. Tetapi
perlu diperhatikan bahwa pada saat sudah terjadi kelelahan
ditemukan penurunan stroke volume disertai kenaikan denyut
jantung. Keadaan ini dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1 : Respons stroke volume (S V), denyut jantung (H R) dan
cardiac output (C O) selama kelelahan yang terjadi pada se-
orang pelari marathon yang menempuh jarak 20 mil dengan
konsumsi oksigen maksimal (VO
2
) = 75%.
Perubahan-perubahan yang tersebut diatas membawa aki-
bat terhadap jantung.
WILLIAM
et al (1976) meneliti 30
pelari marathon dan mereka menjumpai hyperthrophy ven-
trikel kiri pada 24 diantaranya. Juga dijumpai penebalan din
-
ding ventrikel kiri sebelah belakang pada lima pelari; pem-
besaran end diastolic diameter ventrikel kiri pada tiga pelari
dan adanya cardiomegali pada tiga pelari. Pada provokasi
stress tidak dijumpai perubahan-perubahan yang bersifat
ischemik. Mereka mengatakan bahwa hyperthrophy dan
dilatasi jantung terjadi pada atlit yang telah mencapai kondisi
yang baik. Tetapi perubahan dari tebal dinding ventrikel kiri
adalah ringan. Perubahan fisiologik dan tipe dari hyperthrophy
ventrikel kiri tersebut tidak menimbulkan suatu keadaan
ischemik selama aktifitas. Hal ini merupakan kebalikan dari
apa yang terjadi pada keadaan pathologik dari hyperthrophy
ventrikel kiri oleh sebab-sebab lain, misalnya hypertensi.
ROESKE
et al (1976) menyimpulkan keadaan ini sebagai
suatu Athlete heart syndrome
"
yang merupakan suatu vari-
ant normal akibat dari suatu adaptasi terhadap peningkatan
aktifitas fisik.
KESIMPULAN
Latihan fisik yang terus menerus dalam jangka lama me-
nimbulkan perubahan anatomi maupun fisiologi jantung.
Perubahan-perubahan ini merupakan reaksi adaptasi terhadap
aktifitas fisik
yang
telah dilakukan dan tidak merupakan
keadaan pathologik, karena provokasi stress terhadap jantung
tidak menimbulkan gejala-gejala ischemik.
KEPUSTAKAAN
1. D L CORTILL : Physiology of marathon running. JAMA 221:
1024-1029, 1972.
2. J H CURRENS ; P D WHITE: Hail a century of running. The New
Engl J of Med.
Nov. 16:998-993, 1961.
3. WILLIAM J R et al: The athletic heazt. JAMA 236:158-162, 1976.
4. T W MATTINGLY: The Propoise heart v s the athletic heart.
JAMA 236.185-187, 1976.
5. A H DOUGLAS: Ebstein s anomaly in a woman athlete. JAMA
221:1047-1048, 1972.
6. P D WHITE, W C POMEROY: Coronary heart disease in former
footbal players.JAMA 167:711-714, 1958.
7. CANTWELL: Athlete heart, in Modern cardiology lst ed Butter-
worth, Boston. 1977.
9. WHITE: Heart disease. 4th ed. Macmillan Co, New York 1951.
Denyut jantung meningkat dari 159 kali permenit pada
enam menit pertama selama aktifitas dilakukan sampai men-
capai 175 kali permenit pada saat mencapai menit ke 101
aktifitas dilakukan. Stroke volume nampak menurun sampai
kira-kira 13 ml/denyut pada interval yang sama.
Dari hasil penelitian
SALTIN
dan
STENBERG
(1964)
pada seorang pelari marathon yang melakukan aktifitas selama
tiga jam dengan V0
2
maksimal 75% dijumpai respons yang
sama. Akan tetapi mereka melaporkan kenaikan (± 10%)
cardiac output dari menit ke 15 sampai menit ke 90. Didapat-
kan kenaikan denyut jantung yang menetap rata-rata 23 de-
nyut permenit. Peningkatan denyut jantung lebih nyata di
banding dengan peningkatan cardiac output, dengan terjadinya
pengurangan stroke volume dari 126 menjadi 114 ml/denyut.
Foster Parents Plan, membutuhkan :
SEORANG DOKTER UMUM
Syarat : umur maksimum 40 tahun, sudah selesai wajib kerja
sarjana, menguasai bahasa Jawa aktif/pasif, berpenga-
laman menangani klinik usaha pelayanan kesehatan
masyarakat. Diutamakan yang menguasai bahasa Inggris
aktif/pasif.
Lamaran disertai daftar riwayat hidup, satu pas foto, photocopy
ijazah dan sebagainya dikirimkan ke P.O. Box 18, Yogyakarta.
24
Cermin Dunia Kedokteran No. 12, 1978