background image
Infeksi Ulang Rotavirus pada Anak Sehat
di Kotamadya Bandung , Jawa Barat
Djoko Yuwono*, Eko Rahardjo*, Imran Lubis*, Suharyono*, Sutoto**
*) Pusat Penelitian Penyakit Menular Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
**) Subdit. Diare dan Kecacingan, Ditjen. Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Suatu penelitian seroepidemiologi mengenai infeksi rotavirus telah dilakukan di
daerah endemik diare, di daerah kumuh dan non kumuh di Kotamadya Bandung dan di
daerah pedesaan di Kabupaten Bandung, Propinsi Jawa Barat. Tujuan dari penelitian ini
ialah untuk mengetahui besarnya prevalensi penularan rotavirus sebagai penyebab diare
akut pada anak umur 0­36 bulan.
Untuk penelitian tersebut telah dilakukan pcmantauan kasus diare akut akibat infeksi
rotavirus pada penderita yang berobat ke Puskesmas setempat. Sebanyak 175 sampel
tinja telah dikumpulkan dari penderita diare akut, yaitu 89 sampel berasal dari Puskesmas
KotamadyaBandung dan 84 sampel berasal dari Puskesmas Kabupaten Ciparay. Untuk
mengetahui besarnya penularan infeksi rotavirus pada masyarakat, dilakukan penelitian
serokonversi terhadap infeksi rotavirus di daerah tersebut, yaitu dengan pemeriksaan
antibodi rotavirus secara periodik. Pengambilan serum dilakukan sebanyak tiga kali
dengan interval selama dua bulan. Sebanyak 492 sampel darah telah dikumpulkan selama
penelitian, yaitu sebanyak 166 dan 141 spesimen berasal dari daerah kumuh dan non
kumuh di Kotamadya Bandung serta 185 spesimen darah berasal dari daerah pedesaan di
Kabupaten Ciparay. Untuk mendeteksi rotavirus dalam tinja dilakukan dengan Uji
Reversed Passive Hemagglutination Assay (RPHA), sedangkan pemeriksaan antibodi
rotavirus dilakukan dengan Uji Hambatan Hemaglutinasi terhadap antigen rotavirus yang
diisolasi dari penderita diare akut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa besarnya prevalensi rotavirus pada penderita
diare akut di Puskesmas adalah sebesar 41,3% diKotamadya Bandung dan 19,14% di
Kabupaten Bandung. Hasil pemeriksaan kekebalan terhadap rotavirus menunjukkan
bahwa sebesar 57,8% dan 45,4% anak umur 0­36 bulan di daerah kumuh dan non kumuh
di KotamadyaBandung telah memiliki kekebalan terhadap rotavirus, sedangkan 35,2%
anak umur 0-36 bulan di Kabupaten Bandung juga telah memiliki kekebalan terhadap
rotavirus. Selanjutnya basil pemeriksaan serokonversi terhadap rotavirus pada serum
pengambilan kedua dan ketiga menunjukkan bahwa terdapat adanya serokonversi akibat
infeksi rotavirus yang besarnya 7,4% ­ 11,8% sebagai infeksi primer dan 3,6% sebagai
infeksi sekunder di Kotamadya Bandung, sedangkan di Kabupaten Bandung ditemukan
3,1% ­ 6,3% sebagai infeksi primer dan 6,3% sebagai infeksi sekunder.
Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa terjadi infeksi sekunder oleh karena
rotavirus pada anak sehat umur 0­36 bulan.
background image
PENDAHULUAN
Sampai saat ini rotavirus masih merupakan penyebab utama
penyakit diare akut non bakteri pada anak dan bayi. Sekitar 20%­
40% penderita diare anak yang berobat ke rumah sakit di negara
berkembang, terkena infeksi rotavirus, sedangkan 35%­50%
anak di negara maju mengalami hal yang serupa
(1)
. Infeksi
rotavirus yang serius dan bahkan fatal terutama terjadi pada anak
umur 6-12 bulan di negara berkembang, sedangkan di negara
maju hal serupa terjadi pada anak umur 12-18 bulan
(2)
.
Penelitian rotavirus yang telah dilakukan di Indonesia pada
umumnya adalah penelitian klinik, sekitar 30%-40% anak pen-
derita diare akut yang berobat ke rumah sakit terkena infeksi
rotavirus
(3.4.5)
. Hasil penelitian yang dilakukan pada masyarakat
daerah kumuh di Jakarta Utara, menunjukkan bahwa 16,2% anak
penderita diare terkena infeksi rotavirus
(6)
. Data dasar tentang
etiologi diare yang bersumber pada masyarakat diakui memiliki
arti penting dibandingkan dengan data yang diperoleh dari rumah
sakit yang telah ditunjuk untuk menangani penyakitdiare. Namun
sangat disayangkan bahwa penelitian rotavirus yang dilakukan di
Indonesia selama ini masih bersifat sporadik, sehingga masih
perlu dilakukan penelitian yang hasilnya dapat dipakai sebagai
penunjang penanggulangan penyakit diare terutama infeksi rota-
virus di masa datang. Hal-hal yang masih perlu diteliti lebih
lanjut mengenai infeksi rotavirus antara lain adalah: a) Tipe
rotavirus yang dominan, tipe rotavirus yang sering menimbul-
kan wabah, b)Seroprevalensi rotavirus, besarnya angka kesakit-
an dan kematian rotavirus. Hal tersebut sangat besar manfaatnya
mengingat adanya program Badan Kesehatn Sedunia (WHO)
tentang perlunya imunisasi rotavirus di negara berkembang.
Penelitian ini adalah suatu studi kohort rotavirus pada anak
sehat umur 0-36 bulan yang tinggal di daerah endemik diare,
yang selama dua tahun terakhir tidak pemah melaporkan adanya
wabah atau KLB (Kasus Luar Biasa) diare. Lokasi penelitian di-
pilih daerah perkotaan yang dibedakan atas daerah kumuh dan
non kumuh serta daerah pedesaan. Adapun kegiatan penelitian
ini terdiri dari dua jenis kegiatan yaitu: 1) Pemantauan kasus
diare akut pada anak umur 0-36 bulan, tujuannya untuk menge-
tahui besarnya insiden rotavirus di Puskesmas setempat. 2) Pe-
nelitian serokonversi rotavirus pada anak sehat umur 0-36 bulan
di lokasi penelitian yang sama, yang dilakukan secara periodik
selama 6 bulan, dengan interval pengambilan darah setiap 2
bulan. Tujuan survei ini adalah untuk mengetahui besarnya
infeksi rotavirus di masyarakat.
Pclaksanaan penelitian dilakukan pada pertengahan musim
penghujan dan diakhiri pada pertengahan musim panas, sehingga
secara tidak langsung dapat diketahui pengaruh musim terhadap
penyebaran rotavirus di alam. Perlu diketahui bahwa daerah desa
dan kota ditentukan berdasarkan kriteria Biro Pusat Statistik
tahun 1988, sedangkan daerah kum uh dan non kumuh ditentukan
berdasarkan angka kepadatan penduduk, yaitu lebih dari 10.000
penduduk tiap km
2
dinyatakan sebagai daerah kumuh
(7,8)
.
Tujuan penelitian ini ialah ingin mencari data dasar mengenai
infeksi rotavirus secara lengkap di daerah endemik diare, yang
diharapkan dapat mewakili daerah-daerah lain di Indonesia. Dari
penelitian ini diharapkan akan diperoleh masukan-masukan yang
dapat dipakai sebagai pedoman dalam menentukan kebijakan
program penanggulangan diare akut di Indonesia.
BAHAN DAN CARA KERJA
Lokasi dan populasi
Penelitian ini dilakukan di daerah endemik diare, dengan
mengambil lokasi di daerah kumuh dan non kumuh di perkotaan
serta daerah pedesaan. Penentuan lokasi ditentukan oleh Di-
rektorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehat-
an Lingkungan Pemukiman (P2M dan PLP) dan Kanwil Depar-
temen Kesehatan Propinsi Jawa Barat. Kriteria daerah endemik
diare ditentukan berdasarkan insiden diare dan selama dua tahun
terakhir tidak pernah melaporkan KLB diare. Penentuan daerah
desa dan kota ditentukan berdasarkan kriteria Biro Pusat Statistik
tahun 1988, sedangkan penentuan daerah kumuh dan non kumuh
ditentukan menurut kepadatan penduduknya, yaitu lebih dari
10.000 jiwa tiap km
2
dinyatakan sebagai daerah kumuh.
Populasi yang diteliti adalah anak-anak umur 0-36 bulan, yang
tinggal di daerah kumuh dan nonkumuh di daerah kota serta di
daerah pedesaan dengan perincian 150 anak setiap lokasi.
Jumlah anak tersebut dikelompokkan menjadi kelompok umur
0-9 bulan; 10-18 bulan; 19-27 bulan dan 28-36 bulan. Peng-
ambilan sampel dilakukan secara acak dengan memanfaatkan
kegiatan Posyandu setempat. Kelompok lain adalah anak-anak
penderita diare akut yang datang berobat ke masing-masing
Puskesmas, untuk setiap lokasi diikutsertakan satu Puskesmas.
Jenis spesimen
Sampel yang diteliti dibedakan menjadi dua jenis spesimen
yaitu: Tinja, diambil dari anak penderita diare akut di setiap Pus-
kesmas. Tinja ditampung di dalam kontainer 10 ml, sebanyak
5-10 g tinja diambil dari tiap anak, selanjutnya disimpan di
dalam lemari es (refrigerator). Tiap dua minggu sekali petugas
pusat datang mengambil spesimen tersebut dibawa dengan
thermos berisi es keLaboratoriumVirologi Puslit Penyakit Me-
nular di Jakarta. Setibanya di laboratorium spesiinen disimpan
dalam suhu -20°C untuk kemudian diproses dengan membuat
suspensi tinja 10% dalam larutan Fosfat Bufer Salin (PBS) pH
7,2, kemudian diputar 3000 rpm selama 30 menit, supernatannya
diperiksa untuk mengetahui adanya rotavirus.
Sampel berupa darah diambil dari anak sehat umur 0-36
bulan dari tiap lokasi. Darah diambil dari ujung jari dengan
meresapkannyapadakertas filter disk, dua kertas filter untuk tiap
anak. Kertas filter yang berisi darah sampai jenuh didiamkan
pada suhu kamar yang sejuk dan kering sampai darahnya me-
ngering. Selanjutnya kertas filter disimpan dalam kemasan rapat
dan kering dalam lemari es sampai siap untuk diperiksa atas
adanya antibodi rotavirus.
Pemeriksaan rotavirus dalam tinja
Pemeriksaan rotavirus dilakukan dengan Uji Reversed
Passive Hemagglutination Assay (RPHA) dengan mengguna-
kan eritrosit kalkun (turkey) yang telah dilapisi dengan antibodi
monoklonal rotavirus. Terjadinya aglutinasi pasif pada spesimen
tinja menunjukkan adanya rotavirus. Spesimen yang mem-
punyai titer >64 dinyatakan positif, untuk selanjutnya dilakukan
background image
uji sertifikasi untuk konfirmasi hasilnya.
Pemeriksaan antibodi rotavirus dalam darah
Kertas saring yang berisi darah terlebih dahulu diproses
dengan melarutkan dalarn larutan 12,5% kaolin dalam PBS,
selama 18 jam pada suhu 4°C, untuk menghilangkan inhibitor
nonspesifik dan mendapatkan IgG serum. Konsentrasi serum
awal dibuat menjadi 1:10 dan selanjutnya dipakai dalam uji
Hambatan Hemaglutinasi terhadap antigen rotavirus. Uji Ham-
batan Hemaglutinasi dilakukan dengan microassay pada mikro-
plat 96 lubang, modifikasi dari metoda Eiguchi et al, 1987
(9)
.
Antigen yang dipakai berasal dari rotavirus hasil isolasi yang
diperoleh dari penderita diare akut di Kabupaten,Kuningan, Jawa
Barat. 4 HA unit rotavirus antigen dipakai untuk reaksi antigen-
antibodi, yang dilakukan pada suhu kamar selama 60 menit.
Pembacaan hasil dilakukan setelah penambahan indikator
0,3% eritrosit golongan 0 dalam PBS dan inkubasi pada suhu
37°C selama 30 menit. Adanya hambatan hemaglutinasi oleh
antigen rotavirus menunjukkan adanya antibodi rotavirus di
dalam serum.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Insiden rotavirus pada penderita diare akut di Puskesmas
Hasil pemeriksaan 175 spesimen tinja yang berhasil dikum-
pulkan dari penderita diare akut yang berobat ke Puskesmas
menunjukkan bahwa besarnya insiden rotavirus pada penderita
diare akut di perkotaan rata-rata sebesar 40,0% dan di pedesaan
sebesar 23,8% (Tabel 1).
Tabel 1. Persentase Insiden Rotavirus pada Anak umur 0-36 bulan Pen-
derita Diare Akut di Puskesmas Kotamadya dan Kabupaten
Bandung,
Jawa
Barat,
tahun
1990
Rotavirus positif pada penderlta diare akut
Puskesmas kotamadya
Puskesmas kabupaten
Bulan
n % n %
Mei 21
43,0
21
19,0
Juni 15
40,0
18
27,5
Juli 15
40,0
17
26,6
Agustus 20 42,6 13 22,3
September 18
40,9
17
24,3
Hasil penelitian yang telah dilakukan selama ini di beberapa
rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi rota-
virus di klinik ternyata berkisar antara 30%­40%
(3,4,5)
dan ter-
nyata hasil yang diperoleh dari penelitian ini juga tidak berbeda
jauh. Yang terlihat agak berbeda adalah mengenai insiden rota-
virus di daerah pedesaan, di Kecamatan Ciparay, Kabupaten
Bandung, yaitu antara 19,0%­23,0%. Faktor yang merupakan
penyebab agak rendahnya insiden rotavirus ini mungkin masih
perlu diteliti lebih lanjut.
Hubungan antara besarnya insidcn rotavirus pada penderita
diare akut di Puskesmas dengan besarnya curah hujan dapat
dilihat pada Gambar 1. Tujuan penelitian ini semula adalah
untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh iklim terhadap
besamya penularan rotavirus, namun sangat disayangkan bahwa
selama penelitian dilakukan ternyata tidak terdapat perbedaan
Gambar 1. Insiden Rotavirus dan Curah Hu jan di daerah Bandung tahun
1990
Gambar 2. Infeksi Rotavirus dan Curah Hujan di daerah Bandung tahun
1990
iklim yang jelas antara musim hujan dan musim kemarau, se-
hingga besarnya insiden rotavirus tiap bulan hanya dikaitkan
dengan besarnya curah hujan pada bulan yang sama. Hasilnya
ternyata tidak dapat ditarik suatu kesimpulan yang pasti, sebab
pada bulan Juli di saat curah hujan mencapai 100 mm temyata
insiden rotavirus tidak menunjukkan adanya kenaikan atau
penurunan yang berarti.
Serokonversi rotavirus pada anak sehat umur 0­36 bulan
Selama penelitian telah berhasil dikumpulkan sebanyak 492
sampel darah yang masing-masing sebanyak 152 dan 155 berasal
dari daerah kumuh dan non kumuh di Kotamadya Bandung serta
sebanyak 185 spesimen berasal dari dacrah pcdesaan di Kabu-
paten Bandung. Pengambilan sampel dilakukan dengan me-
manfaatkan kegiatan Posyandu setempat, hal ini sangat mem-
bantu kegiatan pengambilan spcsimcn ulangan kedua atau ke-
background image
tiga, sehingga drop out anak yang diteliti dapat ditekan serendah
mungkin. Perlu diketahui bahwa dalam penelitian ini telah di-
tentukan 3 Puskesmas di KotamadyaBandung yaitu Puskesmas
Gumuruh dan Puskesmas A. Yani di daerah nonkumuh, sedang-
kan Puskesmas Kiara Condong untuk daerah kumuh. Puskesmas
Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, dipilih sebagai Puskes-
mas di daerah pedesaan.
Hasil pemeriksaan antibodi rotavirus pada survei serologi
yang pertama menunjukkan bahwa 57,8% dan 45,4% anak umur
0-36 bulan di daerah kumuh dan nonkumuh di Kotamadya
Bandung telah memiliki antibodi rotavirus, sedangkan 35,2%
anak umur 0-36 bulan di pedesaan juga telah memiliki kekebal-
an terhadap rotavirus (Tabel 2). Hasil ini tidak jauh berbeda
dengan hasil penelitian yang dilakukan pada anak umur 3­12
bulan di tepian S:ungai Mahakam, Kabupaten Kutai, yang me-
nunjukkan bahwa ternyata 68,6% anak umur 3­12 bulan telah
memiliki kekebalan terhadap rotavirus
(10)
; sedangkan dalam
penelitian ini di daerah kumuh Kotamadya Bandung ternyata
62,5% bayi umur 0-9 bulan juga telah memiliki kekebalan ter-
hadap rotavirus.
Tabel 2. Persentase Seroprevalensi Rota virus pada Anak umur 0-36 bulan
di Kotamadya dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tahun 1990
Kotamadya
Kumuh
Nonkumuh
Kabupaten
Umur (bulan)
n % n % n %
0 ­ 9
42
62,5
35
47,6
39
29,0
10 ­ 18
40
50,0
43
39,1
48
24,4
19 ­ 27
46
82,8
32
91,7
52
40,6
28 ­ 36
38
83,4
31
93,8
46
42,1
0 ­ 36
166
57,8
141
45,4
185
35,2
Keterangan :
(n) : jumlah spesimen yang diperiksa.
Hasil pemeriksaan antibodi rotavirus pada survei serologi ke dua
ternyata menunjukkan bahwa terdapat infeksi primer sebesar
10,1% dan 3,6% infeksi sekunder pada anak di daerah kumuh,
sedangkan 11,8% dan 2,0% anak di daerah nonkumuh pernah
terkena infeksi primer dan infeksi sekunder rotavirus. Lebih
lanjut dapat diketahui bahwa infeksi rotavirus pada anak umur
0-36 bulan di daerah pedesaan besarnya 6,3% dan 2,3% masing-
masing sebagai infeksi primer dan infeksi sekunder (Tabel 3).
Tabel 3. Persentase Serokonversi Rotavirus dari Pengambilan Serum ke
dua dan Serum pertama pada Anak Sehat umur 0-36 bulan di
Kotamadya dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tahun 1990
Serokonversi rasio (%)
Kumuh Nonkumuh
Kabupaten
IP IP IP
Kel. umur
(bulan)
n %
IS
n %
IS
n %
IS
0
­
9 34 8,8 5,9 31 9,7 0,0 31 3,1 0,0
10 ­ 18
32
12,5
0,0
31
16,1
0,0
41
9,8
0,0
19 ­ 27
39
5,1
5,1
26
19,2
0,0
32
6,3
0,0
28 ­ 36
33
15,2
3,0
30
6,7
0,0
38
5,3
0,0
0 ­ 36
138 10,1
3,6
118 11,8
0,0
142
6,3
0,0
Keterangan :
(n) : jumlah spesimen yang diperiksa
IP : Perubahan seronegatifinenjadi seropositif
IS : Kenai/can titer antibodi >4
Dari hasil pemeriksaan antibodi rotavirus dari survei sero-
logi ke tiga ternyata dapat diketahui terjadi penurunan besarnya
infeksi rotavirus pada anak-anak di masing-masing lokasi peneliti-
an. Di daerah kumuh ditemukan sebesar 7,4% dan 9,9% sebagai
infeksi primer dan sekunder, sedangkan di daerah nonkumuh
ditemukan sebesar 5,3% dan 9,6% sebagai infeksi primer dan
sekunder. Lebih lanjut di daerah pedesaan ternyata ditemukan
infeksi rotavirus sebesar 3,1% dan 6,3% sebagai infeksi primer
dan infeksi sekunder (Tabe14).
Tabel 4. Persentase Serokonversi Rotavirus dad Pengambilan Serum ke
tiga dan Serum ke dua pada Anak Sehat umur 0-36 bulan di
Kotamadya dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tahun 1990
Serokonversi rasio (%)
Kumuh Nonkumuh
Kabupaten
IP IP IP
Kel. umur
(bulan)
n %
IS
n %
IS
n %
IS
0 ­ 9
31
6,4
6,9
30
3,3
6,6
29
3,4
0,0
10
­18 30 3,2 6,6 29 6,8 3,4 26 2,7 2,7
19 ­ 27
29
3,4
13,8
26
3,8
11,5
27
7,4
3,7
28 ­ 36
31
9,6
9,6
29
6,9
13,8
35
2,8
14,3
0
­
36 121 7,4 9,9 114 5,3 9,6 127 3,1 6,3
Keterangan :
IP : perubahan seronegatif menjadi seropositif
IS : Kenaikan titer antibodi >4
(n) : jumlah spesimen yang diperiksa
Adanya infeksi primer pada anak-anak yang tidak disertai
adanya gejala klinik yang serius (diare dan dehidrasi berat)
diduga disebabkan oleh adanya infeksi rotavirus tipe lain yang
perlu diteliti lebih lanjut, terutama di Indonesia, di mana tipe
rotavirus yang merupakan penyebab wabah (KLB) rotavirus dan
tipe virus dominan pada penderita non wabah belum diketahui
dengan jelas
(11)
. Adanya infeksi sekunder tanpa gejala klinik
yang jelas pada anak-anak dapat diterangkan oleh adanya ke-
kebalan yang mungkin diperoleh dari ibu atau mungkin diper-
oleh dari infeksi alamiah
(10-12)
.
Infeksi rotavirus pada anak sehat di alam bebas ternyata be-
sarnya antara 6,3% - 11,8%, hasil ini juga tidak terlalu berbeda
dengan hasil yang pemah dilakukan di Jakarta Utara pada tahun
1981, yaitu sebesar 16,2%
(6)
.
Hubungan besamya infeksi rotavirus pada anak sehat umur
0-36 bulan dengan besarnya curah hujan dapat dilihat pada
Gambar 2. Dari data insiden rotavirus di Puskesmas, maka
besarnya infeksi rotavirus pada anak sehat dan kaitannya dengan
curah hujan, juga tidak begitu jelas terlihat. Akan tetapi masih
dapat dilihat terjadinya penurunan infeksi rotavirus pada survei
ke tiga dibanding dengan survei ke dua, yaitu dari 10,1%-11,8%
menjadi 7,4%-9,9%, sedangkan curah hujan pada saat survei ke-
tiga dilakukan tampak sudah menurun dari 100 mm menjadi 20
mm. Hasil ini mungkin dapat menjelaskan bahwa penurunan
curah hujan akan menghambat terjadinya penyebaran rotavirus
background image
di alam.
KESIMPULAN
1) Besarnva insiden rotavirus pada Puskesmas di daerah per-
kotaan dan pedesaan di Kotamadya Bandung dan Kabupaten
Bandung sebesar 19,0% ­ 43,0%.
2) Antara 45,4% ­ 57,8% anak umur 0­36 bulan di Kotamadya
Bandung telah memiliki kekebalan terhadap rotavirus, sedang-
kan 35,2% anak serupa di KecamatanCiparay,Kabupaten Ban-
dung, juga telah memiliki kekebalan terhadap rotavirus.
3) Besarnya infeksi rotavirus pada anak sehat umur 0­36 bulan
di daerah kumuh dan non kumuh di KotamadyaBandung adalah
7,4% ­ 11,8% sebagai infeksi primer dan 3,6% sebagai infeksi
sekunder. Adapun di daerah pedesaan ditemukan 3,1% ­ 6,3%
sebagai infeksi primer dan 6,3% sebagai infeksi sekunder.
4) Tidak diperoleh hubungan yang jelas antara besarnya
infeksi rotavirus dan besarnya curah hujan di daerah penelitian.
SARAN
1) Berdasarkan besarnya insiden rotavirus maka dapat disaran-
kan agar penanggulangan rotavirus di Indonesia difokuskan di
daerah perkotaan.
2) Dengan adanya infeksi sekunder yang tidak menimbulkan
gejala klinik yang jelas, maka pemberian imunisasi terhadap
rotavirus masih perlu dipertimbangkan.
3) Dengan belum diketahuinya tipe rotavirus yang dominan di
Indonesia, penggunaan jenis vaksin rotavirus yang tepat untuk
Indonesia belum dapat ditentukan.
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1) Direktur Jenderal Ditjen. PPM dan PLP, DepKes. RI. yang telah mem-
berikan ijin dan dana sehingga terlaksananya penelitian ini.
2)
Kepala Kanwil DepKes Propinsi Jawa Barra, yang telah memberikan ijin
sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik.
3)
Kepala Puslit Penyakit Menular, yang telah memberikan ijin pelaksanaan
penelitian ini.
4) Para Dokter dan paramedik baik di kotamadya, kabupalen maupun di
Puskesmas, alas kerjasama yang baik sehingga penelitian ini berjalan dengan
baik.
5) Semua fihak yang tidak mungkin kanu s,
,
butkan satu per satu yang telah
memberikan sumbangan pemikiran dan tenaga sehingga penelitian ini berjalan
dengan baik.
KEPUSTAKAAN
1. Davidson GP, Bishop RF, Townley RR, Holmes III, Ruck BJ. Importance
of a New virus in Acute sporadic enteritis in children. Lancet 1975; 1:
242-6.
2. Bishop RF. Epidemiology of diarrhoeal disease caused by rotavirus. In:
(11th Eds). Development of Vaccines and
Drugs against Diarrhoea.
Nobel Conference, Stockholm: JHA. Lindberg & R. Mollby 1985.
England: Chanwell-Brau Ltd. 1986; 158-170.
3. Sunano Y, Sebodo T, Ridho R - et al. . Acute, diarrhoea and rotavirus
infection in newborn babies and children in Yogyakarta, Indonesia from
June 1978 to June 1979. J. Clin. Microbiol. 1981; 14: 123-9.
4. Simanjuntak C. Aspek Mikrobiologik Penyakit Diare. Dalam: Prosiding
Pertemuan Bmiah Penyakit Diare. I. Koiman (Ed). Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, DepKes RI. Jakarta 1983. p. 176-98.
5. Suharyono, Koiman I. Penelitian Penyebab Penyakit Diare Akut di klinik
tahun 1974-1982. Dalam: Prosiding Pertemuan Bmiah Penyakit Diare di
Indonesia. I. Koiman (Ed.). Badan Penelitian dan Pengembangan Kese-
hatan, DepKes RI. Jakarta 1983; p. 199-211.
6. Sutoto, Muchtar MA, Karyadi, Brotowasisto. Morbidity and mortality
study on diarrhoeal diseases in North Jakarta an urban area, 1981. Disaji-
kan dalam Kongres Asosiasi Castroenterologi Indonesia, Jakarta, 1981.
7. NN. Jawa Barat dalam angka 1989. Kantor Statistik Jawa Barat, Bandung.
Biro Pusat Statistik p. 3-10.
8. NN. Klasifikasi Urban-Rural berdasark.n PODS-SE 1986. Biro Pusat
Statistik, Jakarta Maret 1988.
9. Eiguchi Y et al. Hemaglutination and Hemaglutination Inhibittion Test
with Porcein Rotavirus. Kitasato Arch. Exp. Med. 1987; 60(4): 167-172.
10. Djoko Yuwono dkk. Kekebalan terhadap rotavirus pada bayi di kabupaten
Kutai, Kalimantan Timur. Cermin Dunia Kedokt. 1990; 65: 25-27.
11. Yolken RH, Wyatt RG, Zissis GP et al. Epidemiology of I Iuman rotavirus
type 1 and type 2 as studied by Enzyme Linked Immunosorbent Assay.
New Engl J Med 1978; 299: 1156-61.
12. Jessudos ES, John TJ, Mathan M, Spencer L. Prevalence of rotavirus
antibody in infants and children, India J. Med. Res. 1978; 68: 383-6.
Learning without thought is labour lost,
thought without learning is perilous
(Confucius)