HERPES Z O STER OPHTHALMICUS
dr Broto Parwoto, dr Ny Norma D Handoyo
Bagian Mata
Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro
Semarang.
PENDAHULUAN
Herpes zoster ophthalmicus merupakan penyakit yang
kadang-kadang dijumpai di praktek umum. Penyakit ini cukup
berbahaya karena dapat menimbulkan penurunan visus.
Seperti herpes zoster dibagian tubuh yang lain maka daerah
yang terkena juga bersifat unilateral. Virus merupakan etio-
logi dari penyakit ini , beberapa ahli telah memastikan bahwa
varicella dan herpes zoster disebabkan oleh virus yang sama
dan disebut varicella zoster virus (5) (9). Sedangkan
BATE-
M A N
menganggap timbulnya zoster karena reaktivasi dari vi-
rus varicella beberapa tahun kemudian (3).
Virus ini setelah menimbulkan gejala varicella yang spesifik
akan meng-infeksi serabut saraf sensoris kulit dan menjalar
keatas sampai ganglion. Disini akan menjadi inaktif karena
adanya antibody. Apabila daya tahan tubuh menurun di
bawah titik kritik, gejala klinik akan timbul karena virus
berkembang biak dan menjalar melalui saraf sensoris kekulit
serta menimbulkan laesi zoster yang khas. Walaupun penu-
laran secara kontak person jarang terjadi, oleh
DA N I E L
dilaporkan satu kasus timbulnya herpes zoster setelah sese-
orang tertusuk jarum yang mengandung virus tersebut (4).
GEJALA-GEJALA
Penyakit ini selalu terbatas pada sebelah muka dengan
tanda khas batas yang tegas ditengah-tengah muka sepanjang
dahi hidung dan mulut. Virus akan menyerang ganglion Gasseri
yang mempunyai tiga cabang utama. Cabang
.
yang paling se-
ring terkena adalah ramus ophthalmicus yang mengenai
daerah dahi dan sekitar mata.. Urutan yang kedua adalah ramus
maxillaris, sedang yang jarang terkena adalah ramus mandi-
bularis. Kadang-kadang ketiga ramus tersebut dapat terkena
sekaligus yang biasanya disertai dengan zoster pada ganglion
Geniculatum (1),(10). Pada hari-hari pertama akan timbul pe-
rasaan sakit dan panas yang kadang-kadang hebat, disertai de-
ngan hyperaesthesi di daerah saraf yang terkena selama satu
sampai tiga hari. Bahkan kadang-kadang ada yang mengeluh
bila rambutnya tersentuh akan terasa sakit. Pada saat ini dapat
timbul demam ataupun tanda-tanda iritasi meningeal yang
berupa kaku kuduk. Sering pula disertai dengan photophobi
dan lacrimasi pada mata sisi yang terkena serta timbul regional
lymphadenopathy (1), (2), (3), (9), (10). Kemudian akan tim-
bul papulla pada dasar kulit yang erythematous. Beberapa
papulla akan bersatu membentuk vesikel yang mula-mula
berisi cairan yang jernih untuk kemudian cepat menjadi ke-
ruh. Vesikel ini akan pecah, terjadi crusta yang bila tidak
ada sekunder infeksi akan lepas dan meninggalkan bekas yang
tipis. Bila disertai dengan sekunder infeksi maka akan me-
ninggalkan bekas yang dalam dan menetap cukup lama (10),
(12).
DIAGNOSA
Untuk menentukan diagnosa biasanya mudah oleh karena
gejala-gejalanya jelas dan khas. Tetapi sebelum timbul vesi-
kel gejalanya dapat dikelirukan dengan kelainan saraf yang
lain. Adanya penurunan sensibilitas comea dapat menyokong
perkiraan adanya herpes zoster ophthalmicus. Pada permulaan
penyakit dapat juga dengan erysipelas, karena adanya kulit
yang erythematous dan membengkak (1), (2), (9), (10).
Yang perlu diperhatikan adalah kelainan di mata yang apabila
tidak segera diatasi dapat menimbulkan penurunan visus.
KOMPLIKASI
q
Myelitis. Merupakan komplikasi di luar mata yang pernah
dilaporkan oleh GORDON dan TUCKER
,
demikian juga en-
cephalitis dan hemiplegi walaupun jarang ditemukan tetapi
pernah dilaporkan. Hal ini diperkirakan karena penjalaran
virus ke otak (8), (10).
q Conjunctiva. Pada mata komplikasi yang dapat timbul
adalah chemosis yang ada hubungannya dengan pembeng-
kakan palpebra. Pada saat ini biasanya disertai dengan pe-
nurunan sensibilitas cornea dan kadang-kadang oedema cornea
yang ringan. Dapat juga timbul vesikel-vesikel di conjunctiva
tetapi jarang terjadi ulserasi. Pernah dilaporkan adanya canali-
culitis yang ada hubungannya dengan zoster.
q
Cornea. Bila comea terkena maka akan timbul infil-
trat yang berbentuk tidak khas dengan batas yang tidak te-
gas (10), tetapi kadang-kadang infiltratnya dapat menyerupai
herpes simplex (7). Proses yang terjadi pada dasamya berupa
keratitis profunda yang bersifat khronis dan dapat bertahan
beberapa minggu setelah kelainan kulit sembuh. Akibat
kekeruhan comea yang terjadi maka visus akan menurun.
Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978
19
q
Iris.Adanya laesi diujung hidung sangat penting untuk
diperhatikan karena kemungkinan besar iris akan ikut terke-
na mengingat n. nasociliaris merupakan cabang dari n.oph-
thalmicus yang juga menginervasi daerah iris, corpus ciliaze
dan cornea. Iritis/iridocyclitis dapat merupakan penjalaran
dari keratitis ataupun berdiri sendiri. Iritis biasanya ringan,
jarang menimbulkan eksudat, pada yang berat kadang-kadang
disertai dengan hypopion atau secundair glaucoma (10).
Akibat dari iritis ini sering timbul sequele berupa iris atropi
yang biasanya sektoral. Pada beberapa kasus dapat disertai
massive iris atropi dengan kerusakan sphincter pupillae (8).
q
Sclem. Scleritis merupakan komplikasi yang jarang ditemu
kan, biasanya merupakan lanjutan dari iridocyclitis. Pada scle-
ra akan terlihat nodulus dengan injeksi lokal yang dapat tim-
bul beberapa bulan sesudah sembuhnya laesi di kulit. Nodu-
lusnya bersifat khronis, dapat bertahan beberapa bulan,
bila sembuh akan meninggalkan sikatrik dengan hyperpig-
mentasi. Scleritis ini dapat kambuh lagi.
q
Ocular palsy. Dapat timbul bila mengenai N III, N IV,
N V1, N III dan N IV dapat sekaligus terkena. Pernah pula dila-
porkan timbulnya ophthalmoplegi totalis dua bulan setelah
menderita herpes zoster ophthalmicus. Paralyse dari otot-
otot extra-oculer ini mungkin karena perluasan peradangan
dari N Trigeminus di daerah sinus cavemosus. Timbulnya
paralyse biasanya dua sampai tiga minggu setelah gejala permu-
laan dari zoster dirasakan, walaupun ada juga yang timbul
sebelumnya. Prognosa otot-otot yang pazalyse pada umum-
nya baik dan akan kembali normal kira-kira dua bulan kemu-
dian.
q
Retina. Kelainan retina yang ada hubungannya dengan
zoster jarang ditemukan. Kelainan tersebut berupa choroi-
ditis dan perdazahan retina, yang umumnya disebabkan ada-
nya retinal vasculitis (6).
q
Optic neuritis. Optic neuritis juga jazang ditemukan; te-
tapi bila ada dapat menyebabkan kebutaan karena timbul-
nya
atropi n. opticus. Gejalanya berupa scotoma sentral
yang dalam beberapa minggu akan terjadi penurunan visus
sampai menjadi buta (10).
PENGOBATAN
Tidak ada pengobatan yang spesifik. Pengobatan hanya
bersifat simptomatik untuk mengurangi rasa nyeri, pence-
gahan sekunder infeksi dan menekan peradangan. Bila masih
stadium akut sebaiknya penderita istirahat di tempat tidur.
(2) ,(9) , (10). Untuk kulitnya agar diusahakan supaya ve-
sikel jangan sampai pecah dan dilindungi dari sekunder infeksi
dengan cream antibiotika yang mengandung kortikosteroid
.
Dapat ditambahkan taburan bedak untuk mengurangi rasa
gatal diatas cream terse.but. Setelah pemberian terapi lokal
seperti diatas, sedapat mungkin dijaga agar jangan kena air
sampai crusta lepas dengan sendirinya. Beberapa penulis meng-
anjurkan pemberian collodion yang mengandung 10% ich-
tyol dan calamin lotion. Tetapi bahan ini bila kering akan me-
nyebabkan crusta yang melekat dengan kulit sehingga pelepas-
annya akan menimbulkan rasa sakit (2) ,(3), (9), (10). Untuk
mata yang terkena diberi antibiotika dan kortikosteroid lo-
kal, kecuali bila ada keratitis, kortikosteroid merupakan kon
traindikasi . Mata perlu diistirahatkan dengan ditutup. Perlu
juga diberikan atropin sebagai mydriaticum bila terlihat tanda
tanda keratitis dan iridocyclitis (1),(10).
Pemberian kortikosteroid sistemik masih diperdebatkan.
Beberapa penyelidik membuktikan pemberian kortikosteroid
per oral dapat memperberat dan memperluas penyakitnya,
sedang BAT E M A N(3) menganjurkan pemberian prednisolon
dosis tinggi yaitu 60 mg sehari pada minggu-I, kemudian di
turunkan sampai
15
mg sehari pada minggu ke-II. Cara
ini
khusus untuk penderita dengan umur 60 tahun ke atas. Untuk
penderita dengan umur 40 tahun sampai 60 tahun dianjurkan
untuk memberikan terapi diathermis dengan UKG, sedang
untuk penderita dengan umur kurang daii 40 tahun biasanya
hanya memerlukan analgetika saja. Selain itu dapat pula di
berikan antibiotika sistemis dan obat-obatan neurotropik.
Pengobatan dengan cara lain misalnya dengan gamma globu-
Iin ataupun cytarabine tidak kami bahas mengingat obat-obat
tersebut sukar didapat di Indonesia. Prognosa biasanya baik,
kecuali bila cornea atau bagian yang lebih dalam lagi ter-
kena (10).
POST HERPETIC TRIGEMINAL NEURALGIA
Ini merupakan keluhan yang sangat dikhawatirkan ka-
rena menimbulkan penderitaan yang hebat terutama pada
penderita yang telah tua. Nyeri neuralgik dapat menetap ber-
bulan-bulan setelah serangan akut untuk pencegahan pemberi-
an kortikosteroid per oral akan sangat membantu.
Pengobatan dapat dilakukan beberapa cara :
ˇobat-obatan lokal yang mengandung camphor atau menthol
(2).
ˇsuntikan larutan triamcinolon 2% dalam garam fisiologis
secara subcutan di daerah yang terkena (3),(5).
ˇinfus larutan
50
cc procain 1% dalam NaCl
500
cc dengan
kecepatan 40 sampai 60 tetes per menit (5).
ˇsuntikan alkohol pada ganglion Gasseri (10).
KEPUSTAKAAN
F H:
Textbook of ophthalmology.
7th ed. Phila-
delphia. Saunders, 1964.
2. ANDREWS G C:
Disease of the skin.
4th ed. Philadelphia,
Saunders, 1961.
3. BATEMAN P P: Treatment of herpes zoster.
Med Prog 4
(3):
25-32, 1977.
4. DANIEL W P et al: Herpes zoster, case report of possible acci-
dental inocculation.
ArchofDermatol
102:1755-1756, 1976.
5. ERVIN EPSTEIN: Treatment of zoster and post zoster neuralgia
by the intra lesional injection of triamcinolone.
Inter J of D
ermatol
15 (10): 762-769, 1976.
6. HESSE J R: Herpes zoster ophthalmicus:
AmJofOpthal
84 (3): 329-331, 1977.
7. FORREST W M KAUFMAN H E: Zosteriform herpes
simplex.
Am J of Ophthal
81 (1) : 86-88, 1976.
8. MARS R J: Iritis and iris atrophy in herpes zoster ophthalmicus.
Am JOf Ophthai
78 (2):255-260, 1974.
9. RHODES VAN ROYEN:
Virus
disease of man. ,
4th ed,
New York Nelson Sons, 1948.
10. WALS F B:
Clinical newo ophthalmology. 3th
ed
1. ADLER
20
Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978