HASIL PENELITIAN
Gambaran Klinik Penderita Malaria
yang Dirawat di Bagian Anak
RSU Sumbawa, 1997
Lina Siswanto, Made Sidia
SMF Anak, Rumah Sakit Umum Sumbawa, Sumbawa Besar
ABSTRAK
Penelitian ini retrospektif terhadap 106 penderita dengan hasil darah positif
malaria, di bangsal Anak sejak Januari-Desember 1997. Dilaporkan terbanyak pada
usia 6 bulan 1 tahun, dengan 66% gizi baik.
Dari gejala klinis yang didapat, dikelompokkan malaria ringan 87,4% dan malaria
berat 22,6%. Manifestasi klinis yang didapat amat bervariasi, dengan keluhan ter-
banyak yaitu demam (84%). Diikuti gejala gastrointestinal, berupa mual muntah
(65%), dan diare (60%). Sesak yang didahului batuk-pilek juga sering dikeluhkan,
sebanyak 15%. Perdarahan juga terjadi pada 7 kasus (6,6%), berupa epistaksis, hema-
temesis, dan melena.
Pemeriksaan Hb tidak rutin, dari 35 kasus yang diperiksa, 21 penderita mengalami
anemi dengan 8 kasus termasuk anemia berat (Hb < 8 g%). Hasil pemeriksaan darah,
93,3% didapat PL vivax dan 6,65% sisanya Pl. falciparum.
PENDAHULUAN
Malaria merupakan salah satu penyakit yang menarik
untuk diamati, oleh karena sering kasus ini baru ditemui saat
dokter yang baru lulus, ditempatkan di daerah luar Jawa,
Madura, dan Bali. Saat ini, malaria merupakan penyakit yang
angka kesakitannya masih cukup tinggi di Indonesia bagian
timur. Bahkan di daerah transmigrasi, dengan campuran pen-
duduk pendatang yang berasal dari daerah non endemis dan
penduduk asli endemis malaria, masih sering terjadi letusan
kasus yang kadang-kadang disertai kematian.
Upaya-upaya pencegahan, berupa pemberantasan vektor
maupun upaya penanggulangan penderita masih perlu terus
ditingkatkan untuk menurunkan angka kesakitan. Diagnosis
dini yang akurat dan pengobatan yang tepat merupakan salah
satu upaya yang amat membantu.
Dalam penegakan diagnosis secara tepat, diperlukan peng-
alaman ketrampilan klinis yang memadai, sehingga pengobatan
dapat secepatnya diberikan; menegakkan diagnosis malaria
pada anak tidaklah mudah, karena gejala klinis berupa demam
paroksismal seperti pada orang dewasa, tidak lazim dijumpai
pada bayi dan anak.
Manifestasi klinis malaria bervariasi, dan sering ditemukan
keadaan yang lebih berat di rumah sakit akibat timbulnya pe-
nyulit dan penyakit penyerta yang menyebabkan tingginya
angka kematian.
Tujuan penelitian ini adalah mencari informasi yang ber-
kaitan dengan aspek klinis malaria anak, sehingga penderita
dengan gejala dan tanda-tanda tertentu, perlu diwaspadai dan
dikelola secara optimal dengan harapan dapat menurunkan
angka kematian.
BAHAN DAN CARA
Penelitian dilakukan secara retrospektif pada penderita
anak yang dirawat inap di bangsal anak RSU Sumbawa, dalam
Cermin Dunia Kedokteran No. 126, 2000 17
periode Januari Desember 1997 (satu tahun).
Sampel yang dipakai adalah penderita < 14 tahun, dan pada
pemeriksaan tetes tebal didapatkan malaria yang positif. Dari
sampel tersebut, kemudian diambil data subyektif yang didapat
dari orang tua/keluarga dekat. Sedang data obyektif didapat dari
pemeriksaan fisik, mengukur berat badan, suhu tubuh dan darah
lengkap sederhana.
Semua penderita yang rawat inap di bagian anak, rutin
menjalani pemeriksaan tetes tebal malaria. Subyek penelitian
dengan data yang tidak lengkap, tidak dimasukkan dalam
penelitian.
Penderita dibedakan atas malaria ringan (tanpa komplikasi)
dan malaria berat (dengan komplikasi). Kriteria malaria dengan
komplikasi menurut WHO 1990 aun Rampengan
(1,2)
:
·
Malaria otak (gangguan kesadaran)
·
Malaria dengan kejang berulang
·
Malaria dengan hiperpireksia (t axiler > 40,5°C)
·
Malaria dengan GE Dehidrasi
·
Malaria dengan perdarahan/DIC
·
Malaria dengan anemia berat (Hb < 8 g%)
·
Malaria dengan ikterus
·
Malaria dengan gagal ginjal
·
Black water fever/hemoglobinuri
Untuk penentuan status gizi, dipakai pengukuran BB terhadap
umur, dan dibandingkan terhadap standar
(3)
:
1. Gizi baik : 80% - 100%
2. Gizi kurang : 60% - 80%
3. Gizi buruk : < 60%
Standar yang dipakai masih menurut Lokakarya Antropometri
(Standar Harvard).
Sedangkan untuk anemia, memakai angka sebagai berikut
(4)
:
6-23 bulan
: Hb 10,3 g/dl
24-59 bulan
: Hb 10,6 g/dl
60-83 bulan
: Hb 11 g/dl
di bawah angka tersebut dinyatakan anemi.
Data yang diperoleh dari catatan medik dikumpulkan,
diolah dan dianalisis secara deskriptif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Di bagian Anak sejak Januari - Desember 1997 telah
dirawat 605 penderita, 109 penderita (18%) pada preparat
darahnya positif malaria. Yang diambil sebagai sampel se-
banyak 106 penderita.
Penderita paling banyak didapatkan pada bulan April dan
makin menurun ketika musim kemarau tiba, yaitu dari bulan
Juni. Lingkungan fisik amat mempengaruhi perilaku nyamuk
dan siklus sexual plasmodium yang berada dalam tubuh
nyamuk. Lingkungan itu misalnya: suhu udara, curah hujan,
kelembaban udara, arah angin dan lain-lain.
Tiap jenis spesies Anopheles memiliki sifat, perilaku dan
tempat perindukan yang tidak sama. Sehingga vektor malaria
pada tiap-tiap daerah berbeda-beda sesuai dengan lingkungan
fisiknya. Misalnya pada musim kemarau populasi An. aconitus
dan An. maculatus mencapai puncaknya, dan sebaliknya pada
musim hujan untuk An. sundaicus dan An. subpictus. Tempat
Grafik 1. Distribusi penderita Malaria di bagian anak bulan Januari
Desember 1997 dihubungkan dengan curah hujan 1997.
Penderita Curah
hujan
(anak) (mm)
97 97
perindukan masing-masing juga berbeda, ada yang di laguna
(An. sundaicus, An. subpictus, An. barbirostris), di sawah (An.
aconitus, An. anularis), dan ada yang di sungai (An.
maculatus). Untuk daerah Sumbawa, penulis belum mendapat-
kan data tertulisnya.
Menurut data dari Stasiun Meteorologi dan Geofisika
Sumbawa Besar, pada bulan-bulan Juni sampai awal Nopember
1997 sama sekali tidak ada curah hujan. Secara umum hujan
punya hubungan langsung dengan perkembangan larva nyamuk
menjadi dewasa. Range suhu maksimum-minimum pada bulan-
bulan itu menjadi semakin besar (rata-rata 33,5- 21,2°C). Hujan
yang diselingi panas akan memperbesar kemungkinan berkem-
bang biaknya Anopheles
(6)
. Makin tinggi suhu (maksimtun
32°C) makin pendek siklus plasmodium di tubuh nyamuk.
Dengan kata lain, makin cepat terjadinya bentuk infektif parasit
malaria yang siap ditularkan ke tubuh manusia lewat gigitan
nyamuk. Pada suhu di atas 32°C, parasit dalam tubuh nyamuk
akan mati, meskipun dalam tubuh manusia parasit akan tetap
hidup pada suhu 40°C
(6)
.
Tabel 1. Distribusi umur penderita Malaria
Jumlah
Golongan umur
n %
0 bulan 6 bulan
22
21
> 6 bulan 1 tahun
37
35
> 1 tahun 2 tahun
17
16
> 2 tahun 5 tahun
13
12
> 5 tahun
17
16
Total 106
100
Pada kelompok umur lebih dari 6 bulan sampai 1 tahun,
paling besar jumlahnya, yaitu 37 orang (35%). Penderita yang
paling muda tercatat pada usia 1,5 bulan. Hal ini berbeda dari
hasil penelitian Nuchsan Umar Lubis di RSU Langsa Aceh
Timur 1992, yang mendapatkan penderita terbanyak pada
kelompok umur lebih dari 5 tahun (52,3%).
Kekebalan tubuh alami, terdapat pada bayi selama tahun
pertama dari kehidupannya. Tiga faktor yang menyebabkan
kekebalan itu adalah
(10)
:
Cermin Dunia Kedokteran No. 126, 2000
18
a. Tingginya prosentase HbF pada darah janin. Secara in vitro
HbF menghambat pertumbuhan parasit dalam sel darah merah.
b. Kekebalan pasif dari antibodi ibu.
c. Defisiensi PABA (paraaminobenzoic-acid) pada diet bayi,
yaitu ASI. Padahal PABA merupakan esensial nutrisi untuk
pertumbuhan parasit.
Kemungkinan ditemukannya parasit dalam darah ternyata
berbeda-beda, sesuai dengan umur, yang terbagi dalam 5
fase
(11,12)
: Fase I (0 - 2 bulan) : bayi terlindung dari malaria, dan
parasit hanya ditemukan di darah tepi pada kira-kira 10% dari
populasi anak.
Fase 2 (3 - 6 bulan) : parasit di darah tepi ditemukan lebih
sering, serangan klinis malaria relatif ringan. Kekebalan yang
berasal dari ibu pelan-pelan dikatabolisasi dan habis saat bayi
berumur sekitar 3 bulan.
Fase 3 (7 bulan - 2 tahun) : parasit hampir selalu ditemukan di
darah tepi dan sering dengan kepadatan tinggi. Khas ditandai
serangan malaria berulang dengan gejala klinis yang berat.
Pada penelitian kami, tercatat 54,2% malaria berat didapatkan
di golongan usia ini.
Fase 4 (3-4 tahun) : serupa dengan kekebalan fase satu, disebut
kekebalan antitoksis, ditandai dengan ringannya gejala dan
episode serangan, walaupun kepadatan parasit tetap.
Fase 5 atau fase akhir : serangan malaria secara klinis jarang
dan bersifat ringan. Kapan kekebalan alami itu dimiliki ter-
gantung endemisitas di daerah tersebut.
Tabel 2. Distribusi status gizi penderita malaria.
Status gizi
n
%
Gizi baik
70
66
Gizi kurang
27
25
Gizi buruk
9
9
Dari 106 penderita, 66% termasuk kategori gizi baik. Dari
24 penderita malaria berat, ternyata 70,8% termasuk gizi baik,
25,0% gizi kurang dan 4,2% termasuk gizi buruk. Dengan hasil
seperti ini, perlu dipelajari lagi faktor-faktor selain gizi yang
mempengaruhi, seperti faktor lingkungan (endemisitas suatu
daerah, vektor), agent (jenis plasmodiumnya, kepadatan
parasit), maupun host (umur, jenis kelamin, penyakit penyerta
dan lain-lain).
Secara klinis gejala malaria pada anak, berbeda dari
gambaran klasik penyakit malaria yang terlihat pada orang
dewasa. Manifestasi klinisnya amat bervariasi dari yang
asimptomatis ringan sampai berat. Oleh karena itu dalam
mendiagnosis malaria pada bayi dan anak tidaklah mudah.
Keluhan demarn periodik yang khas, tidak lazim terjadi
pada bayi/anak. Dari hasil pengamatan ini 17 penderita (16%)
di antaranya justru tidak mengeluhkan demam. Mereka datang
ke RS dengan keluhan lain seperti, mencret, muntah dan sesak.
Sedangkan 84% (89 anak) mengeluhkan demam dengan rata-
rata t = 37,8°C. Seorang anak tercatat mencapai suhu 43°C.
Penyakit malaria dengan infeksi tunggal, serangan demamnya
dengan intereval tertentu, yang diselingi periode bebas demam.
Sedangkan penderita dengan infeksi campuran (lebih dari satu
jenis plasmodium), serangan panasnya bisa terus-menerus tanpa
Tabel 3. Klasifikasi malaria
Meninggal
Kategori n
%
n %
Ringan
Berat
82
24
77,4
22,6
0
2
0
1,88
Total 106
100
2
1,88
Tabel 4. Keluhan klinik penderita malaria
Keluhan n %
Panas badan
89
84,0
Mual/muntah 69
65,0
Mencret 64
60,0
Sesak 16
15,0
Kejang 11
10,0
Menggigil 10
9,4
Perdarahan 7
6,6
Penurunan kesadaran
3
2,8
Total 106
100
Tabel 5. Pemeriksaan fisis penderita malaria
Pemeriksaan fisik
n
%
Febris 89
83,9
Anemi (Hb < 10)
21
19,8
Ikterus 1
0,94
Hepatomegali 2
1,88
Splenomegali -
100
Total 113
100
interval
(1)
. Menurut hasil penelitian yang dilakukan Gautama
dkk, ditemukan bahwa pola panas pada malaria anak adalah
sebagai berikut, berurutan dari yang paling sering, intermiten,
kontinyu, dan tertian.
Dari 11 penderita yang mengalami kejang, rata-rata suhu
tubuhnya 39,15°C, dan didapatkan pada anak-anak yang lebih
dari 6 bulan. Dalam hal ini, sangat sukar dibedakan dengan
konvulsi febril akibat panas tinggi oleh penyakit lain. Kejang-
kejang pada malaria, disebabkan oleh karena adanya kecen-
derungan parasit (bentuk trofozoit dan skizon) untuk berkumpul
di otak, sehingga menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah
otak, diperberat lagi oleh tingginya suihu tubuh penderita
(1)
.
Gejala gastrointestinal ternyata menempati urutan ke-dua
(setelah febris, Tabel 4), yaitu berupa mual-muntah : 69 pen-
derita (65%), diikuti diare : 64 penderita (60%). Hasil ini ber-
beda dengan pengamatan yang dilakukan oleh Nuchsan Umar
Lubis, dimana mual-muntah dikeluhkan pada 36% penderita
(urutan ke-6) dari gejala lainnya. Dan pada pengamatan
tersebut tidak dilaporkan adanya diare
(5)
. Tidak mengherankan
bila penderita malaria pada saat awal masuk, 53% di antaranya
didiagnosis sebagai GEA (Tabel 8). Pada saat tercatat di
rekammedik pun banyak yang tidak terhitung sebagai malaria.
Sehingga sepanjang tahun 1997, malaria terhitung "hanya"
menempati urutan ke-4 dengan jumlah 32 penderita. Dengan
kata lain, banyak malaria yang "tersembunyi" sebagai GEA.
Adanya keluhan gastrointestinal ini mungkin disebabkan
adanya iskemia organ, sehingga mukosa lambung dan usus
timbul proses radang dan mengalami edema, sehingga timbul
keluhan-keluhan di atas. Iskemia ini, karena eritrosit yang
Cermin Dunia Kedokteran No. 126, 2000 19
terinfeksi plasmodium paling mudah melekat pada endotel
kapiler, membentuk trombus-trombus, yang menghambat sirku-
lasi pada organ
(9)
.
Dari 64 penderita yang mengalami diare, dijumpai 1 kasus
dengan dehidrasi berat yang berakhir dengan kematian. Yang
patut dicatat adalah 82% (46 penderita) dari 64 anak tadi, gejala
diare disertai dengan febris.
Sesak juga merupakan gejala yang sering ditemui, didapat-
kan 15% dari penderita. Biasanya batuk-batuk merupakan
gejala yang mendahului. Sesak ditandai adanya napas cuping
hidung, respirasi meningkat, retraksi, dan didapatkan ronki. Hal
ini sering sulit dibedakan, apakah sesaknya memang karena
komplikasi malarianya atau sebagai penyakit yang berdiri sen-
diri, karena infeksi. Masih perlu dipastikan lagi dengan bantuan
foto thorax.
Sesak yang terjadi pada malaria adalah karena permeabi-
litas pembuluh kapiler paru yang meningkat, sehingga me-
nyebabkan edema paru
(9)
. Sering terjadi karena komplikasi
malaria cerebral, asidosis, hiperparasitemia dan uremi.
Perdarahan dilaporkan sebanyak 7 kasus (6,6%) yaitu be-
rupa epistaxis, hematemesis, melena, hematemesis-melena. Per-
darahan ini disebabkan oleh karena trombositopeni, atau
gangguan koagulasi intravaskuler
(9)
. Pada 7 kasus yang ada, 5
penderita diperiksakan jumlah trombositnya, tetapi semuanya >
100.000.
Pemeriksaan Hb tidak rutin dilakukan. Dari 35 kasus yang
diperiksa ternyata 21 penderita (60%) mengalami anemia
dengan 8 penderita termasuk dalam kategori anemia berat (Hb
< 8 g%). Ikterus didapatkan pada 1 orang anak yang disertai
hepatomegali dengan bilirubin urine positif 3. Hepatomegali
juga menyertai anemia (Hb 5 g%), sehingga memerlukan
tranfusi darah, pada satu kasus.
Anemia yang terjadi pada malaria, antara lain disebabkan
oleh karena
(10)
.
1) Pecahnya eritrosit oleh karena infeksi parasit.
2) Pemusnahan oleh lien pada eritrosit yang terinfeksi mau-
pun yang tak terinfeksi, yang berikatan dengan imun komplek.
3) Penurunan ikatan Fe pada heme.
4) Eritrosit menjadi fragil oleh karena disfungsi Na-K pump.
5) Gangguan eritropoesis karena penekanan sumsum tulang
oleh toksin malaria.
Dari 8 kasus dengan anemia berat 4 kasus di antaranya
oleh karena infeksi Pl. falciparum, dengan rata-rata Hb 6,0 g%
(dengan satu kasus Hb 5 g%). Anemia yang disebabkan oleh
Pl. falciparum adalah lebih berat oleh karena menyerang semua
umur eritrosit, berbeda dari P. vivax den Pl. ovale yang hanya
menyerang eritrosit tua.
Pada hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan 93,3%
Plasmodium vivax dan 6,6% Plasmodium falciparum. Tidak
dilaporkan adanya infeksi campuran. Setelah diteliti, dari 7
kasus dengan malaria falciparum, 4 penderita termasuk malaria
berat (malaria dengan anemia berat), dan sisanya hanya menge-
luhkan gejala yang ringan.
Menurut WHO, definisi malaria berat adalah disebabkan
karena infeksi Plasmodium falciparum. Tapi dari catatan kami,
89% dari penderita malaria berat, disebabkan karena infeksi
Plasmodium vivax. Hal ini perlu kiranya ditindak lanjuti ter-
hadap pemeriksaan sediaan preparat darah, oleh karena tidak
menutup kemungkinan adanya infeksi campuran dengan Pl.
falciparum.
Malaria berat yang kami dapatkan sebanyak 22,6% dengan
angka kematian 1,88% dari seluruh kasus malaria dan 8,33%
dari seluruh kasus malaria berat. Kematian yang tercatat adalah
malaria dengan GED berat dan satu kasus lagi adalah malaria
cerebral yang disertai sesak. Sesak ini tidak diketahui
disebabkan oleh karena edema paru ataukah penyakit penyerta
(mis. pneumonia) oleh karena tidak disertai foto thorak. Satu
kasus malaria cerebral, tidak dapat diketahui oleh karena
penderita pulang paksa.
Tabel 6. Distribusi penderita Malaria berat dengan komplikasi
Diagnosa n
%
Malaria cerebral
4
3,78
Malaria + kejang berulang
2
1,88
Malaria + hyperpireksia (>40°C)
1
0,94
Malaria + GED berat
1
0,94
Malaria + perdarahan
7
6,60
Malaria + anemia berat (Hb < 8)
8
7,55
Malaria + ikterus
1
0,94
Total 33
22,6
Tabe17. Hasil pemeriksaan darah menurut jenis plasmodium
Jenis plasmodium
n
°!o
Plasmodium vivax
99
93,3
Plasmodium falciparum
7
6,6
Plasmodium vivax-falciparun
-
-
Total 106
100
Tabel 8. Diagnosis awal saat masuk rumah sakit
Diagnosa awal
n
%
Malaria 12
11,3
GE 56
53,0
Observasi febris
7
6,6
Observasi vomiting
3
3,0
Febril konvulsi
5
4,7
Pneumonia 12
11,3
Lain-lain 11
10,0
Total 106
100,0
Dari diagnosis yang dibuat di UGD ataupun di poli, saat
awal masuk rumah sakit, sebanyak 11,3% saja yang men-
diagnosis/mendiagnosis banding sebagai malaria. Artinya
hanya 1 kasus yang benar didiagnosis sebagai malaria, dari 10
kasus malaria yang sebenarnya. Sebagian besar (56%) men-
diagnosanya sebagai GE.
Menurut penelitian terhadap 127 kasus malaria anak di
Mandang, Papua New Guinea, batuk dan demam merupakan
gejala yang paling sering ditemui. Keluhan demam sebanyak
90,6%, sedangkan demam tanpa keluhan yang lain sebanyak
41,7%, batuk sebanyak 37,8%, gejala gastrointestinal sebanyak
25,4% dan sisanya nyeri kepala, dan lemas. Malaria disebutkan
sering mempunyai manifestasi klinis yang menyerupai penyakit
lain, seperti : GE, pneumonia, meningitis, encephalitis atau
hepatitis
(10)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 126, 2000
20
KESIMPULAN DAN SARAN
2. Tjitra E. Manifestasi klinis dan pengobatan malaria. Cermin Dunia
Kedokt 1994; 94 :7-8.
1. Malaria pada bayi dan anak mempunyai gejala yang tidak
khas, perlu diwaspadai bila terdapat gejala febris yang disertai
keluhan gastrointestinal maupun batuk-pilek yang disertai
sesak.
3. Boerhan Hidayat. Gizi dengan beberapa masalah : Beberapa aspek
malnutrisi pada anak. Continuing Education 1981; 3: 42.
4.
Bambang Poernomo. Anemia dan obesitas pada anak: Anemia pendekatan
diagnosa. Continuing Education 1990; 12.
5. Nuchsan Umar Lubis. Gambaran penyakit malaria di bagian anak RSU
Langsa Aceh Timur. Cermin Dunia kedokt 1994; 94 : 14-5.
2. Masih perlu kiranya dilakukan penelitian yang prospektif
sehingga data-data yang diperoleh lebih lengkap dan akurat.
6. Departemen Kesehatan RI. Dirjen P3M dan PLP. Epidendologi. Seri
malaria 1995; 17-9.
3. Perlunya dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui
apakah sesak dan diare pada malaria merupakan komplikasi
ataukah sebagai penyakit penyerta.
7.
Departemen Kesehatan RI. Dirjen P3M dan PLP Penatalaksanaan malaria
berat di RS dan Puskesmas. Seri malaria 1995; 7-8.
8.
Sjarif Djajadireja. Manifestasi klinik malaria. Simposium Malaria Update
di Bandung 1990; 2-5.
4. Perlunya pembenahan dan perbaikan dalam pengisian
rekam medik bagi perawat dan dokter, sehingga catatan medik
penderita lebih dapat memberikan informasi data yang lengkap
bila diperlukan.
9. Harianto PN. Malaria berat manifestasi klinis dan penatalaksanaannya.
Simposium Malaria Update di Bandung 1990; 2-5.
10. Randall G, Saidel J. Malaria. Pediatric Clinics of North America 1985;
32(4), 900-9.
11. Sardjito Djojohadipringgo. Pemahaman reaksi imunologik pada
imunisasi. Simposium imunisasi di Surabaya Juni 1987; 20-3.
KEPUSTAKAAN
12. Susanto P. Mekanisme kekebalan terhadap infeksi Pl. falciparum.
Lab/SMF Penyakit Dalam FK UGM/RSUP dr. Sardjito 1985; 2-3.
1. Rampengan TH, Laurentz IR. Malaria. Dalam: Penyakit infeksi tropik
pada anak. EGC, Jakarta: 1990; 201.
RALAT
1. Karena terdapat kekeliruan pemuatan Tabel 2, pada Perilaku Merokok di Indonesia
dst -Suhardi, Cermin Dunia Kedokteran Nomor 125/1999, halaman 25, bersama ini
kami muat kembali sebagai koreksi:
Tabel 2. Prevalensi perokok perempuan menurut umur di Indonesia
Susenas-SKRT 1995
Perokok
Umur
Tiap hari
Kadang-
kadang
Mantan Bukan
Total
10-14
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
55-59
60-64
65+
.1%
.4%
1.0%
1.1%
1.2%
1.7°/a
2.3%
3.2%
3.4%
3.3%
2.9%
3.0%
.0%
.2%
.3%
.3%
.5%
.7%
.7%
1.0%
1.1 %
1.0%
7%
.7%
.0%
.1%
.1%
.1%
.2%
.2%
1%
.4%
5%
.8%
.6%
99.9%
99.4%
98.6%
98.5%
98.2%
97.4%
96.8%
95.7%
95.1 %
95.2%
95.6%
95.7%
100.0%
100.0%
100.0%
100.0%
100.0%
100.0%
100.0%
100.0%
100.0%
100.0%
100.0%
100.0%
Redaksi
Cermin Dunia Kedokteran No. 126, 2000 21