HASIL PENELITIAN
Evaluasi FaaI Hati pada Penderita
Tuberkulosis Paru yang Mendapat
Terapi Obat Anti Tuberkulosis
Zulkarnain Arsyad
Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Andalas,
Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Jamil, Padang
PENDAHULUAN
Penyakit tuberkulosis, terutama tuberkulosis paru masih
merupakan masalah kesehatan di negara yang sedang mem-
bangun seperti di Indonesia. Diperkirakan 1020 juta penderita
tersebar di seluruh dunia
(1)
. Di RSUP Dr. M. Jamil Padang selama
periode 1990 sampai dengan 1992, 78% dan kelainan paru yang
dirawat disebabkan oleh tuberkulosis
(2)
.
Untuk pengobatan Tb paru biasanya dipakai obat-obat se-
perti Isoniazid atau INH, Rifampisin, Pirazinamid, Streptomi-
sin, Ethambotol, dan lain-lain. Salah satu efek samping yang
dapat ditimbulkan akibat pemberian OAT ini adalah gangguan
fungsi hati, dan yang ringan sampai yang berat berupa nekrosis
dan jaringan hati
(3)
. Obat-obat anti tuberkulosis yang sering
hepatotoksik adalah INH, Rifampicin dan Pirazinamid.
Kejadian hepatitis oleh INH antara 0,53%. Penderita tua,
.pecandu alkohol, penderita dengan riwayat penyakit hati sebe-
lumnya, mempunyai .risiko tinggi untuk hepatitis, dan dapat
didahului oleh gejala prodromal
(4)
. Secara histopatologi me-
nyerupai kelainan oleh virus hepatitis akut; terlihat sarang-
sarang nekrosis sel hati, pigmentasi sel Kupfer dan peningkatan
sel radang. Pada kasus berat dapat dijumpai bridging necrosis
atau nekrosis multilobuler
(5)
.
Rifampisin dianggap jarang mempunyai etek toksis pada
fungsi hati yang normal, beberapa penulis menyangka sebagai
reaksi hipersensitif
(6)
. Insiden tertinggi terjadi pada orang yang
mempunyai kelainan hati atau saluran empedu, pecandu alkohol
dan pada usia tua
(7)
. Pirazinamid efek hepatotoksiknya berkisar
antara 12% dan gejala ikterus antara 34%. Dapat terjadi efek
nekrosis yang fatal. Pemberian pirazinamid pada penyakit hati
tidak dianjurkan
(5)
.
Untuk mengetahui terjadinya gangguan faal/fungsi hati
penderita Tb Paru akibat pemberian obat anti tuberkulosis, di-
lakukan penelitian pada penderita berobat jalán di Poliklinik
Paru RSUP Dr. M. Jamil Padang.
ABSTRAK
Pemakaian obat anti tuberkulosis (OAT) dapat menimbulkan berbagai macam efek
samping. Salah satu efek samping yang cukup serius adalah efek hepatotoksik.
Telah dilakukan penelitian pada penderita Tb Paru rawat jalan, untuk melihat
gangguan faal hati yang terjadi akibat pemakaian kombinasi obat anti tuberkulosis ini.
Dari 58 penderita yang mendapat OAT didapatkan gangguan faal hati untuk kelom-
pok yang mendapatkan obat 1 & 2 bulan sebanyak 28%, untuk kelompok 3 & 4 bulan
sebanyak 27% dan untuk kelompok 5 & 6 bulan 57%. Peningkatan nilai dan komponen
faal hati ini (SGOT, SGPT, Alkali Fosfatase dan Bilirubin) tidak melebihi dua kali nilai
normal. Peningkatan faal hati juga dipengaruhi oleh faktor umur tua dan faktor anemia.
Didapat kesan supaya dilakukan monitoring faal hati yang reguler pada penderita Tb Paru
yang mendapat OAT terutama pada umur tua dan yang disertai anemia.
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996 15
BAHAN DAN CARA
Sebagai bahan peñelitian adalah penderita Tb paru yang
berobat jalan ke Poliklinik Paru RSUP Dr. M. Jamil Padang.
Penderita yang dimasukkan dalam penelitian adalah yang hanya
menderita Tb paru, yang sedang menjalani pengobatan dengan
obat anti tuberkulosis (OAT). Tidak dimasukkan penderita-
penderita yang dicurigai menderita kelainan hati primer seperti
hepatitis dan sirosis hepatis. Penderita yang memenuhi syarat
diperiksa kadar bilirubin darah, enzim SGOT, SGPT dan fosfa-
tase alkali. Di samping itu juga dilakukan pencatatan jenis
kelamin, umur, berat badan, kadar Hb waktu pertama kali di-
berikan pengobatan, lamanya mendapat OAT dan jenis kom-
binasi obat anti Tb yang sedang dimakan (RHE).
Dilakukan analisis pengaruh faktor umur, keadaan gizi,
lamanya makan OAT, kadar Hb, terhadap faal hati penderita
penderita yang mendapat OAT ini. Sebagai pembanding di-
lakukan pemeriksaan faal hati orang normal.
HASIL
Telah dilakukan pemeriksaan faal hati 58 orang penderita Tb
paru dan 30 orang normal sebagai pembanding (Tabel 1 dan 2).
Tabel 1. Data Dasar Penderita Tb dan Orang Normal
Th paru + OAT
Orang Normal
Jumlah 58 30
Kelamin
Pria
43
21
Wanita 15
9
Umur (th)
14-70
20-67
Kombinasi OAT
RHE
Tabel 2. Jumlah Kasus Tb yang Diteliti
Lama Pengobatan
(bulan)
Jumlah
(n)
1-2
3-4
5-6
21
11
26
Tabel 3. Faal Hati Penderita Tb Paru dan Orang Normal
Lama Pengobatan
Faal Hati
1-2 bulan
n=21
3-4 bulan
n=11
5-6 bulan
n=26
Orang Normal
n=30
SGOT
SGPT
Fosfatase alkali
Bilirubin
29,6 ± 13,8
33,6 ± 25,6
151 ± 59,6
0,52 ± 0,30
36 ± 21,9
38 ± 39,5
186,2 ± 67,2
0,52 ± 0,21
48 ± 50,8*
37,6 ± 27,4
199,4± 188,31
0,69 ± 0,43
23,5 ± 7
26,4 ± 9
98,7 ± 38
0,64 ± 24
Keterangan : * P < 0,05
Terlihat peningkatan SOOT, SGPT dan fosfatase alkali pada
semua kelompok yang mendapatkan pengobatan OAT. Pening-
katan SOOT yang bermakna didapatkan dan penderita yang
mendapat pengobatan OAT 56 bulan (p < 0,05) (Tabel 3).
Pada fase inisial (1 dan 2 bulan), pada penderita mendapat
OAT yang berumur > 55 tahun terjadi peningkatan semua
komponen faal hati yang diperiksa. Pada SGPT terjadi pen-
ingkatan yang bermakna (p <0,05). (Tabel 4)
Tabel 4. Faal Hati Penderita Th Paru dengan OAT (12 bulan) berdasar-
kan Faktor Umur
Faal Hati
< 55 tahun
(n = 14)
> 55 tahun
(n = 7)
p
SGOT (u/1)
SGPT (u/1)
Fosfatase Alkali (u/1)
Bilirubin (mg%)
29,4 ± 12
29,4± 12
151,4± 41,6
0,47 ± 0,20
30,1 ± 48
42,1 ±41
167 ± 62,4
0,61 ± 0,5
> 0,05
< 0,05
> 0,05
> 0,05
Tabel 5. Faal Hati Penderita Tb Pam dengan OAT (1-2 bulan) berdasar-
kan Faktor Anemia
Faal Had
Hb < 12g%
(n = 6)
Hb > 12g%
(n = 15)
p
SGOT (u/1)
SGPT (u/1)
Fosfatase Alkali (u/I)
Bilirubin (mg%) -
27 ± 21,8
44,8 ± 45,2
180,7 ± 70,4
0,68.± 49,1
30 ±11,3
29,1 ± 11,5
149,5 ± 40,7
0,46 ± 0,2
> 0,05
< 0,05
> 0,05
>0,05
Dari Tabel 5 di atas terlihat peningkatan dan SGPT, fosfa-
tase alkali dan bilirubin pada penderita Tb paru yang mendapat
OAT (12 bulan) yang disertai faktor anemia. Peningkatan yang
bermakna hanya pada SGPT (p < 0,05).
Tabel 6. Faal Hati Penderita Tb Paru dengan OAT (12 bulan) berdasar -
kan Faktor Berat Badan
Faal Had
Berat badan
kurang
Berat badan
normal/lebih
P
SGOT (u/1)
SGPT(u/1)
Fosfatase Alkali (u/1)
Bilirubin (mg%)
30,1 ± 14,9
39,4 ± 35,4
180,4 ± 41,1
0,54 ± 0,4
29,2 ± 13,5
28,4 ± 11,3
136 ± 46,9
0,50 ± 0,2
> 0,05
>0,05
> 0,05
> 0,05
Dari Tabel 6 terlihat peningkatan SGPT, SGOT, fosfatase
alkali dan bilirubin pada penderita dengan OAT (12 bulan) yang
mempunyai berat badan kurang, tetapi tidak bermakna.
Tabel 7. Faal Hati Penderita Tb Paru dengan OAT (56 bulan) berdasar-
kan Faktor Umur
Faal Hati
Umur < 55
n = 14
Umur > 55
n=12
p
SGOT (u/1)
SGPT (u/1)
Fosfatase Alkali (u/1)
Bilirubin (mg%)
34,9 ± 33,8
31,1 ± 21,5
224,9 ± 248,5
0,78 ± 0,56
63,3 ± 63,5
44 ± 34
176,2 ± 118,6
0,50± 0,2
< 0,05
< 0,05
> 0,05
> 0,05
Dari Tabel 7 terlihat peningkatan bermakna SOOT dan
SGPT pada kelompok umur > 55 tahun.
Tabel 8. Faal Hati Penderita Tb Paru dengan OAT (56 bulan) berdasar-
kan Faktor Anemia
Faal Had
Hb < 12 g%
n = 7
Hb > 12 g%
n = 19
P
SGOT (u/1)
SGPT (u/1)
Fosfatase Alkali (u/1)
Bilirubin (mg%)
58,3 ± 63,5
4,3,7 ± 35,5
216,9 ± 180,4
0,54 ± 0,3
35 ± 34,8
33,3 ± 18,9
180,4 ± 205,2
0,60± 0,4
< 0,05
< 0,05
> 0,05
> 0,05
Dari Tabel 8 terlihat peningkatan SGOT, SGPT yang ber-
makna dan fosfatase alkali pada penderita Tb paru dengan OAT
(56 bulan) yang mempunyai kadar Hb < 12%.
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996
16
Tabel 9. Persentase Gangguan Faal Hati pada masing-masing Grup
Pengobatan
Grup Pengobatan
Persentase (%)
1 2 bulan
3 4 bulan
5 6 bulan
6 / 21 (28)
3 / 11 (27)
15 / 26 (57)
Dari Tabel 9 terlihat persentase gangguan faal hati ter-
banyak terjadi pada kelompok pengobatan 5 6 bulan.
PEMBAHASAN
Obat-obatan anti tuberkulosis seperti INH, rifampisin, pi-
razinamid dan ethambutol mempunyai beberapa efek samping,
dan yang ringan sampai yang berat. Efek samping yang patut
diwaspadai adalah efek hepatotoksik. Hampir semua OAT
mempunyai efek hepatotoksik kecuali streptomisin
(8)
.
Kerusakan sel hati bervariasi dan yang ringan asimptomatik
sampai menimbulkan gejala serius akibat nekrosis sel hati. Pi-
razinamid yang sering dipakai untuk pengobatan jangka pendek
Tb paru telah dilaporkan menyebabkan hepatitis
(9)
. Peninggian
SGOT dan SGPT merupakan gejala dini dari kelainan hati
(10)
.
Isoniazid atau INH merupakan obat yang hampir selalu
digunakan dengan kombinasi obat anti tuberkulosis yang lain.
Efek samping INH adalah neuropati perifer dan hepatotoksik.
Efek hepatotoksik INH akan bertambah besar pada usia tua dan
pada individu yang mempunyai asetilisasi cepat
(11)
. Kerusakan
hati diduga karena hasil metabolit INH berupa asetilhidrazin.
Pada orang normal metabolit yang toksik lebih sedikit dari
metabolit yang nontoksik. Kombinasi INH dengan rifampisin
ternyata lebih toksik dan kombinasi INH dengan streptomisin
(12)
karena pada kombinasi tersebut dihasilkan lebih banyak meta-
bout toksik.
Rifampisin 85% sampai 90% dimetabolisme di hati. Se-
bagian besar dikeluarkan melalui saluran empedu, sekitar 10%
penderita yang diberi rifampisin memperlihatkan peninggian
serum transaminase, bilirubin dan retensi BSP
(13)
. Rifampisin
juga dapat menyebabkan peningkatan asimptomatik serum
transaminase pada sebagian penderita di sampingjuga memper-
lihatkan efek khoIestatik . Rifampisin bekerja sinergis
(14)
dengan
INH pada hati, dapat menimbulkan ikterus dan peningkatan
asimptomatik kadar enzim aspartat dan amino transaminase
(15)
.
Ethambutol yang digunakan sebagai pengganti PAS, me-
nyebabkan efek samping minimal. Biasanya menimbulkan
neuropati optik dengan keluhan kurang tajamnya penglihatan,
jarang menimbulkan hepatitis
(16,17)
.
Studi ini mendapatkan peningkatan enzim transaminase dan
fosfatase alkali asimptomatik, ini sesuai dengan hasil studi para
peneliti lain. Peningkatan enzim faal hati tersebut dibanding
dengan orang normal ternyata tidak bermakna, kecuali pada
kelompok yang meridapat OAT 5 dan 6 bulan, peningkatan ini
bermakna untuk enzim SGOT.
Mengenai peranan umur, penulis mendapatkan pada umur
lebih dan 55 tahun, terdapat peningkatan SGPT yang bermakna
pada OAT I dan 2 bulan dan SGOT dan SGPT pada kelompok
OAT 5 dan 6 bulan. Sehaliknya Zulkifli Amin (1993) pada
penelitiannya dengan kombinasi INH dan rifampisin tidak
menemukan pengaruh umur tersebut pada usia di atas dan di
bawah 35 tahun tenhadap faal hati penderita Tb yang mendapat
OAT
(18)
.
Mengenai peranan anemi, penulis mendapatkan peningkatan
SGPT yang bermakna pada kelompok penderita Tb paru plus
anemi yang mendapat OAT 1 dan 2 bulan. Sedangkan pening-
katan enzim lainnya pada kelompok tersebut, tidak bermakna.
Dan hasil ini didapat kesan SGPT lebih sensitif dibanding faal
hati yang lain. Pada kelompok penderita Tb plus anemi yang
mendapat OAT 5 dan 6 bulan, terjadi peningkatan bermakna
enzim SGOT dan SGPT tapi peningkatan ini tidak sampai 2 kali
lipat nilai normal.
Pada penderita Th paru dengan berat badan kurang yang
mendapat OAT terjadi peningkatan semua komponen faal hati
yang diperiksa, tetapi tidak bermakna. Telah ada laporan bahwa
tidak ada pengaruh malnutnisi dan anemia pada pasien-pasien
yang mendapatkan kombinasi OAT
(19)
.
Pada penelitian ini persentase peningkatan faal hati pada
kelompok Tb paru dengan OAT 5 dan 6 bulan relatif lebih tinggi
yaitu sekitar 57% tapi peningkatan ini tidak melebihi dua kali
nilai normal. Tidak ada hepatitis toksik yang manifes.
RINGKASAN
Telah dilakukan evaluasi faal paru pada penderita Th paru
yang mendapat OAT, yang berobat jalan pada Poliklinik Paru
RSUP Dr. M. Jamil Padang. Dan 58 orang penderita yang men-
dapat pengobatan kombinasi INH, nifampisin dan ethambutol,
terjadi peningkatan komponen faal hati pada kelompok peng-
obatan I dan 2 bulan, 3 dan 4 bulan, 5 dan 6 bulan. Insiden pe-
ningkatan yang tertinggi terjadi pada kelompok 5 dan 6 bulan
(57%). Tapi peningkatan ini tidak melebihi dua kali nilai normal.
Di samping itu juga didapat kesan adanya peranan faktor umur
yang lanjut dan anemia untuk terjadi peningkatan faal hati ini.
Pemberian OAT pada penderita Tb paru disanankan tetap
diwaspadai dan faal hati diperiksa secara reguler, terutama pada
yang lanjut usia dan penderita anemia.
KEPUSTAKAAN
1. Home N. Tuberculosis. Medicine International 1986; 2: 149098.
2. Zulkarnain Arsyad. Tuberculosis manifestations in Dr. M. Jamil Hospital
Andalas University Padang Indonesia. In: Abstr 17th Eastern Regional
Conference on Tuberculosis and Respiratory Diseasis. Bangkok, 1993.
3. Angel JH, Sommer AR, Citron MK. Toxicity of antituberculosis drug with
special reference to hepatotoxicity. Bull IUAT 1979; 54(47).
4. Sherlock S. Diseases of the Liver and Billiary System. 6th ed. London:
Blackwell Scient PubI. 1981; 295.
5. Stead WW, Dutt AK. Chemotherapy of tuberculosis today. Am. Rev. Res.
Dis. 1982; 125: 94101.
6. Van Arsdel. Adverse drug reaction, in: Medleton's Allergy principles and
practice 1st ed. St Louis: The Mosby Co. 1978; 1133.
7. Riscaetal. Predisposing factors in hepatitis induced by isoniazid rifampicin
treatment of tuberculosis. Am. Rev. Resp. Dis. 1978; 118: 146466.
8. Mitchison DA. Treatment of tuberculosis. The Mitchell Lecture. London
1980; 14:91.
9. Pilheu JA et al. Liver alterations in antituberculosis regiments containing
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996 17
pyrazinamid. Chest 1981; 80: 720.
10. Citron K, Sommer A, Angel J. Short. duration chemotherapy in pulmonary
tuberculosis; the occurence of hepatitis in six month regimens containing
pyrazinamid as well as nfampicin.Am Rev Respir. Dis. 1980; 121: 452.
11. Fox W. Current status of short course chemotherapy. Bull IUAT 1978; 53:
268.
12. Zimmerman HJ, Maddrey WC. Toxic and drug induced hepatitis. In:
Diseases of the liver, (Eds). Schiff. C, Schiff ER. 5th ed. Philadelphia
Toronto: JB. Lippincott Co. 1982.
13. StrickerCH, SpealstraP. Drug induced hepatic injury. Amsterdam, Elsevier
Science PubI. 1985.
14. Dutt AK. Short course chemotherapy. The Arkansas experience. Chest
1981; 80: 727.
15. Snider D et al. Prelimenary result of six months regimens studied in United
States and in Poland. Chest 1980; 80: 727.
16. Postlewaite AE et al. Hyperuricemia due to ethambutol N. Engl. J. Med.
1972; 286: 761.
17. Narang RKet al. Hyperuricemiainducedby ethambutol. Br. J. Chest 1985;
77: 403.
18. Zulkifli Amin. The Influence of Isoniazid and Rifampicin toward liver
function. In: Abstr 17th Eastern Regional Conference on Tuberculosis and
Respiratory Diseases. Bangkok, 1993.
19. Aziz S. et al. Hepatotoxicity to different antituberculosis drug combina-
tions. JPMA 1990; 40: 290.
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996
18