Alergi
obat
PENDAHULUAN
Kadang-kadang
dalam pengobatan
terjadi hal-hal yang membingungkan.
Misalnya seorang datang dengan demam
dan nyeri waktu menelan makanan. Ter-
nyata ia menderita tonsihtis akut. Maka
pengobatannya adalah antibiotik ampi-
cillin bersama dengan suatu analgetik-
antipiretik. Lima hari kemudian ia kem-
bali, demamnya masih tetap tinggi. Te-
tapi tanda-tanda peradangan tonsil su-
dah tidak ada lagi. Apakah demamnya
ini karena kuman yang resisten terhadap
ampicillin, ataukah ada penyakit lainnya
disamping tonsilitis, atau.......... atau.........
Satu penyebab yang harus dipikirkan
adalah drug fever, yaitu demam yang
ditimbulkan karena reaksi alergik terha-
dap obat yang diberikan. Diperkirakan
kejadian alergi obat adalah 2% dari
pemakaian obat-obatan atau 15--20%
dari kejadian efek samping pemakaian
obat-obatan.
MEKANISME ALERGI OBAT
Karena berat molekulnya yang ren
-
dah (dibawah 2000) biasanya obat itu
sendiri tidak mempunyai kemampuan
antigenik (immunogenik). Mereka ber-
tindak sebagai
hapten,
dan sesudah
membentuk ikatan kovalen dengan sua-
tu protein, peptide atau karbohidrat
dijaringan atau darah, akan merangsang
pembentukan antibodi atau sel limfosit
yang sangat spesifik untuk komplek
antigen tsb. Antibodi pada manusia ter-
diri dari 5 jenis golongan protein yaitu
Immunoglobulin A, D, E, G dan M;
dihasilkan oleh sel-sel plasma (jaringan
Thymic-Independent). Sedangkan
sel
sel limfosit (jaringan Thymic--Depen-
dent) membentuk apa yang disebut ke-
kebalan seluler (cell--mediated--immu-
nity), penyebab dari delayed hypersen-
sitivity. Maka akan timbul reaksi alergik
bila obat yang sama diberikan kembali
(gambar I).
dr. SL Purwanto
Bagian Farmakologi
Fakultas Kedokteran
UNIKA ATMA JAYA
Gamhar I.
Respons imunologik serta komponen-komponen antibodi-nya.
= obat utuh
( intact drug ). = produk degradasi obat.
(Dikutip dari Bellanti JA
1
).
2 2
Cermin Dunia Kedokteran No. 6, 1976.
Gambar 11 .
Produk degradasi Penicillin yang diperkirakan mernegang peranan dalam
hipersensitivitas terhadap Penicillin
(Dikutip dari Bellanti JA
1
).
Termasuk dalam obat yang mudah
membentuk ikatan kovalen dengan kom-
ponen dalam darah atau jaringan adalah
golongan alkylator (misalnya carbon te-
trachloride, chloramphenicol , nitrogen
mustards, beberapa obat anti-neoplas-
tik), golongan acylator (misalnya struk-
tur beta laktam : penicillin, phthalimi-
des, beberapa zat karsinogenik dan tera-
togenik) dan obat-obat yang bersifat
alkalis (misalnya chloroquine, kanamy-
cin, neomycin, polymyxin, streptomy-
cin). Efek teratogenik dari beberapa
obat dapat diterangkan dengan terben-
tuknya ikatan antara nukleoprotein dari
komponen genetik dengan obat, misal-
nya suatu acylator, sehingga fungsi ge-
netik tsb. akan terganggu.
Pada beberapa obat daya immunoge-
nik tidak langsung dari obat itu sendiri ,
tetapi dari produk degradasi obat itu,
misalnya pada penicilhn (gambar II ).
Secara klinik minor haptenic group
ini penting karena ia merangsang pem-
bentukan antibodi IgE (immunoglobu-
lin E) yang bertanggung jawab pada
reaksi alergik jenis segera (immediate).
Sedangkan major haptenic group disam-
ping merangsang pembentukan IgE, juga
merangsang
pembentukan
antibodi
penghambat
"
IgG. Terjadinya alergi
silang diantara obat-obatan adalah kare-
na struktur dasar yang sama atau pro-
duk degradasinya adalah serupa (secara
antigenik).
Apa yang terjadi sesudah komplek
antigen bergabung dengan antibodi atau
sel limfositnya yang spesifik ? Berma-
cam-macam keadaan dapat timbul ter-
gantung dari jenis receptor--site jaringan
yang dipengaruhi oleh gabungan antigen-
antibodi atau sel limfosit tsb (gambar III
)
MANIFESTASI KLINIK
Penggolongan alergi obat dapat dida-
sarkan pada selang waktu timbulnya
gejala-gejala alergik sesudah pemberian
ubat sebagai berikut :
SEGERA
CEPAT
LAMBAT
SANGAT LAMBAT
Urtikaria
Urtikaria
Urtikaria
Anemia hemolitik
Hipotensi
Erupsi morbilliform
Exanthem
Thrombositopenia
Asthma
Edema larynx
Serum siekness
Granulositopenia
Edema larynx
Drug fever
Sindroma Steven-Johnson
Payah gin
jal akut
Sindroma lupus
Cholestatic iaundice
Reaksi alergik yang segera (imme-
diate), terjadi dalam beberapa menit
dan ditandai dengan urtikaria, hipotensi
dan shok. Bila reaksi itu membahayakan
jiwa maka disebut reaksi anafilaktik.
Reaksi ini terutama ditimbulkan oleh
antibodi IgE. Reaksi yang cepat (acce-
lerated) timbul dari 1 sampai 72 jam
sesudah pernberian obat dan kebanya-
kan bermanifestasi sebagai urtikaria. Ka-
dang-kadang berupa rash morbilliform
atau edema larynx. Reaksi yang lambat
(late) timbul lebih dari 3 hari dan berupa
bermacam-macam erupsi kulit, serum
sickness dan drug fever . Diperkirakan
reaksi jenis cepat dan lambat ini ditim-
bulkan oleh antibodi IgG, tetapi bebera-
pa reaksi hemolitik dan exanthem dihu-
bungkan dengan antibodi IgM.
Drug fever hampir menyerupai se-
rum sickness , ditandai dengan pening-
gian suhu tubuh yang timbul selama
suatu pengobatan. Diagnosa keadaan ini
pada umumnya sukar sekali, karena bia-
sanya obat penyebab adalah suatu anti-
biotik yang digunakan untuk pengobat-
an infeksi yang disertai dengan demam.
Drug fever dapat disertai dengan suatu
arteritis, yaitu peradangan multipel pada
pembuluh-pembuluh darah kecil. Bila
dibiarkan dapat menimbulkan kerusak-
an yang berat.
BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPE-
NGARUHI ALERGI OBAT
1. Usia : walaupun alergi obat dapat
terjadi pada semua golongan umur, ia
lebih jarang timbul pada kanak-kanak.
Mungkin ini disebabkan oleh perkem-
bangan sistim immunologik yang belum
sempurna atau karena lebih seringnya
orang dewasa berkontak dengan bahan
antigenik.
2. Cara pemakaian obat : pemakaian
topikal memberikan kemungkinan pa-
ling besar untuk menimbulkan keadaan
hipersensitip (sensitisasi),
pemakaian
oral paling kecil. Sedangkan parenteral
Cermin Dunia Kedokteran No. 6, 1976.
23
Gambar III
.
Empat jenis immunologic iniury.
(Dikutip
dari Hcllanti
J A)
.
berada diantara keduanya itu. Karena
3. Dosis : pcmberian obat yang inter-
itu antibiotik yang sering dipakai siste-
mitten dan dosis yang tinggi akan lebih
mik hendaknya jangan digunakan topi-
sering menimbulkan sensitisasi. Tetapi
kal. Kecuali pada keadaan yang gawat,
sesudah waktu induksi, dosis yang sa-
lebih baik antibiotik diberikan per oral.
ngat kecilpun sudah dapat inenimbulkan
reaksi alergik. Lebih sering suatu obat
digunakan,
lebih besar kemungkinan
timbulnya reaksi alergik pada penderita
yang peka. Perlu dicatat bahwa alergi
obat dapat terjadi pada orang yang
belum pernah mendapat obat tsb. Misal-
nya alergi penicillin telah terjadi pada
orang yang menggunakannya untuk per-
tama kalinya. Diperkirakan bahwa se-
jumlah kecil penicillin yang berada da-
lam makanan, susu, dan alam itulah
yang menimbulkan sensitisasi.
PENGOBATAN
Seperti pada penyakit immunologik
lainnya, pengobatan alergi obat adalah
dengan menjauhkan/mengeluarkan obat
tsb. Pada reaksi anafilaktik, epinephrine
merupakan drug of choice . Untuk aler-
gi obat jenis lainnya, dapat digunakan
pengobatan simptomatik dengan antihis-
tamin dan kortikosteroid.
q
KEPUSTAKAAN
1. BELLANTI JA : Immunology
lst ed,
WB Saunders, 1971, pp 368--376
2. MARTIN EW : Hazards of Medication,
lst ed, JB Lippineott, 1971, pp 298-300.
3. MELMON KL, MORELLI HF.: Clinical
Pharmacology, lst ed, The Maemillan Co.,
1972, pp 570--573.
2 4
Cermin Dunia Kedokteran No. 6, 1976