HASIL PENELITIAN
S. rarak, D. metel dan E. prostata
sebagai Larvisida Aedes aegypti
Nunik St. Aminah, Singgih H. Sigit*, Soetiyono Partosoedjono*, Chairul**
Peneliti PPEK, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan Rl, Jakarta
*) Peneliti Pasca Sarjana IPB, Bogor
**) Peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Botani LIPI, Bogor
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas tiga janis tumbuhan yaitu lerak
(S. rarak), kecubung (D. metel) dan orang-aring (E. prostata) sebagai repelen yang ber-
asal dari senyawa kimia nabati terhadap nyamuk Aedes aegypti di laboratorium.
Buah lerak yang mengandung golongan senyawa Saponin, daun kecubung yang
mengandung alkaloid and atrakinon serta daun orang-aring mengandung minyak atsiri,
tanin dan steroid terbukti berkhasiat sebagai repelen.
Efikasi sebagai repelen untuk ketiga jenis tumbuhan kurang lebih sama dalam me-
nangkal gangguan nyamuk yaitu masing-masing daya tangkal 61,43% (lerak), 63,64%
(kecubung) dan 65,04% (orang-aring) pada pengamatan 6 jam pasca oles.
PENDAHULUAN
Berbagai jenis tumbuhan telah diketahui mengandung se-
nyawa seperti fenilpropan, terpenoid, alkaloid, asetogenin, ste-
roid dan tanin yang bersifat sebagai larvisida dan insektisida.
Di dunia ini diperkirakan ada sekitar 300.000 jenis
tumbuh-tumbuhan, 30.000 jenis di antaranya diperkirakan tum-
buh di Indonesia dan baru 1.000 jenis yang telah dimanfaatkan
sebagai bahan obat-obatan dan insektisida. Untuk itu diperlu-
kan adanya inventarisasi jenis tumbuhan yang mengandung
senyawa berkhasiat sebagai larvisida.
Penelitian ini mengevaluasi tiga jenis tumbuhan yang di-
perkirakan mempunyai sifat toksik terhadap serangga khusus-
nya larva nyamuk Aedes aegypti, yaitu buah lerak Sapindus
rarak (Hookf) De Candole, daun kecubung Datura metel
Linnaeus dan daun orang-aring Eclipta prostata Linnaeus.
Secara khusus ingin diketahui :
a)
Senyawa kimia yang terdapat dalam ketiga tumbuhan
b)
Efikasi ekstrak tumbuhan sebagai larvisida yang
berasal dari senyawa kimia nabati, mengetahui KL
50
dan KL
100
BAHAN DAN CARA KERJA
1) Tempat dan waktu penelitian
Evaluasi tiga jenis tumbuhan sebagai larvisida terhadap
larva Aedes aegypti di laboratorium, dilakukan di tiga tempat.
Ekstraksi tumbuhan dikerjakan di Laboratorium Farmasi Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Jakarta. Uji efikasi
terhadap larva Ae. aegypti dilakukan di Laboratorium Entomo-
logi Kesehatan, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian
Bogor. Skrining senyawa yang terkandung pada tumbuhan
dilakukan di Balai Penelitian dan Pengembangan Botani, LIPI
di Bogor. Penelitian berlangsung dari bulan Mei 1994 sampai
September 1994.
2) Bahan yang diuji
Bahan yang digunakan adalah buah lerak yang dibeli di
pasar Gede Jl. Sudirman Madiun sebanyak 2 kg, daun kecu-
bung sebanyak 5 kg, diambil dari kebun dan sepanjang kali di
Warung Jambu Bogor, dan daun orang-aring sebanyak 4 kg,
Cermin Dunia Kedokteran No. 131,2001 7
diambil dari tumbuhan liar sepanjang parit di Warung Jambu,
Bogor.
Tumbuhan tersebut dibersihkan dari kotoran dengan air kran
kemudian dikeringkan (diangin-anginkan) tanpa terkena sinar
matahari langsung supaya didapatkan hasil yang optimal.
Semua materi telah diidentifikasi di Herbarium Bogoriensis
Bogor.
3) Uji efikasi sebagai larvisida terhadap larva
Untuk pengujian efikasi ekstrak turnbuhan terhadap larva
digunakan lima wadah gelas berukuran 300 ml. Berbagai
tingkat konsentrasi ekstrak tumbuhan yang diujikan adalah
0.250, 0.400, 0.500, 0.600, 0.750 dan 0.900 mg ke dalam
masing-masing gelas yang berisi suspensi ekstrak, kemudian
dimasukkan dua puluh ekor larva Ae. aegypti instar III/IV.
Pengamatan dilakukan setiap 24 jam setelah larva dimasukkan,
dihitung berapa banyaknya larva yang mati, sampai semua
larva mati atau menjadi nyamuk.
HASIL
1) Senyawa kimia yang terkandung dalam ketiga tumbuhan
Senyawa yang terkandung dalatn ketiga tumbuhan disaji-
kan pada Tabel 1. Senyawa utama yang terkandung dalam
buah lerak adalah saponin. Selain saponin juga terkandung tri-
terpen, steroid dan alkaloid dalam jumlah kecil, hal ini dapat
ditunjukkan dengan adanya sedikit perubahan warna/busa pada
pengujian kualitatif. Senyawa-senyawa tersebut di atas dapat
berfungsi sebagai antiseptik dan desinfektan
(1)
.
Senyawa utama yang terkandung dalam daun kecubung
ialah alkaloid dan antrakinon. Selain itu juga terkandung ste-
roid, fenol, saponin, tanin dan triterpen dalam jumlah kecil.
Senyawa utama dalam daun orang-aring ialah minyak
atsiri, tanin dan steroid, selain senyawa tersebut juga terkan-
dung alkaloid, fenol, flavonoid dan triterpen.
2A) Erikasi ekstrak buah lerak terhadap larva
Konsentrasi Letal (KL
50
) terhadap larva Ae. aegypti ter-
hitung 0.450 mg sedangkan KL
100
0.900 mg. Pada hari ke-3,
konsentrasi 0.600 dan 0.750 mg dapat membunuh larva sebesar
100%, sedangkan pada hari ke-1, konsentrasi 0.900 mg sudah
dapat membunuh 100%.
2B) Efikasi ekstrak daun kecubung
Pengamatan larva Ae. aegypti yang diperlakukan dengan
ekstrak daun kecubung, KL
50
terhadap larva pada 0.600 mg,
sedangkan KL
100
pada 1.250 mg. Sampai pengamatan hari ke-8,
konsentrasi 0.250 mg maupun konsentrasi 0.750 mg belum
dapat mematikan larva sebesar 100%, konsentrasi 0.900 mg
baru dapat membunuh 100% larva pada hari ke-3 (Tabel 3).
2C) Erikasi ekstrak daun orang-aring
Pengamatan mortalitas larva pada perlakuan ekstrak daun
orang-aring, KL
50
terhadap larva terhitung 0,300 mg. KL
100
orang-aring 0.900 mg. Perlakuan 0.600 mg pada hari ke-3 dapat
membunuh larva nyamuk sebesar 100%. Sedangkan konse-
ntrasi 0.750 dan 0.900 mg sudah membunuh 100% pada hari
ke-2 dan ke- 1 (Tabel 4).
Tabel 1. Golongan senyawa kimia yang terdapat pada lerak, kecubung
dan orang-aring
Golongan senyawa kimia
Lerak
Kecubung Orang-aring
1. Antrakinon
-
+++
-
2. Saponin
xxx
x
-
3. Tanin
a.
Gelatin
-
+
+++
b.
FeCl
- + +++
4. Flavonoid
a.
Sianidin
-
-
+
b.
Leucoantosianin
-
-
+
5. Steroid
a. Liebermen Bouchard
+
++
+++
b. Keller Killani
+
++
+++
6. Alkaloid
a.
Meyer
+
+++
++
b.
Dragendrof
+
+++
++
c.
Wagner
+
+++
++
7. Minyak
atsiri
-
-
+++
8. Triterpen
Sarkowski
++
+
+
9. Fenol
-
++
++
Keterangan :
-
tidak ada perubahan warna
+ terjadi
perubahan
warna/muda
++
terjadi perubahan warna sedang
+++
terjadi perubahan warna kuat
x
terjadi pembentukan busa sedikit
xx terjadi pembentukan busa banyak
Tabel 2. Mortalitas dan kegagalan pupasi larva Ae. aegypti setelah
berkontak dengan ekstrak buah lerak
Kons ekstrak
Mortalitas
Kegagalan pupasi
(mg) H-1
H-2
H-3
H-4 (%)
Kontrol 1
d
3
d
5
d
8
d
8
0.250 21
d
45
d
73
d
89
d
89
0.400 32
d
68
d
88
d
93
d
93
0.500 70
c
84
ef
9
ef
99
ef
99
0.600 79
ef
89
ef
100
f
100
f
100
0.750 83
ef
96
ef
100
f
100
f
100
0.900 100
f
100
f
100
f
100
f
100
Keterangan : Superskrip berbeda dengan kolom yang sama menunjukkan
perbedaan nyata pada taraf 5% berdasarkan uji BNT
Tabel 3. Mortalitas dan kegagalan pupasi larva Ae. aegypti setelah
berkontak dengan ekstrak daun kccubung
Kons ekstrak
Mortalitas
(mg)
H-1 H-2 H-3 H-4 H-5 H-6 H-7 H-8
Kegagalan
Pupasi (%)
Kontrol 0
a
1
a
1
a
2
a
2
a
2
a
3
a
4
a
4
0.250 12
a
25
a
38
a
48
a
54
a
58
a
60
a
63
a
63
0.400 29
b
50
b
60
b
66
b
71
b
76
b
77
b
77
b
77
0.500 32
b
65
b
65
b
59
b
74
b
78
b
81
b
81
b
81
0.600 50
c
67
c
74
c
80
c
83
c
83
c
85
c
85
c
85
0.750 62
d
75
d
82
d
90
d
95
d
95
d
95
d
95
d
95
0.900 82
c
91
c
100
c
100
c
100
c
100
c
100
c
100
c
100
Keterangan : Superskrip berbeda dengan kolom yang sama menunjukkan
perbedaan nyata pada taraf 5% berdasarkan uji BN T
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001
8
Tabel 4. Mortalitas dan kegagalan pupasi larva Ae. aegypti setelah
berkontak dengan ekstrak orang-aring
Kons ekstrak
Mortalitas
Kegagalan pupasi
(mg) H-1
H-2
H-3
(%)
Kontrol 1
a
3
a
6
a
6
0.250 29
a
86
b
95
a
95
0.400 55
ab
98
ab
99
ab
99
0.500 69
ab
95
ab
99
ab
99
0.600 77
b
99
b
100
b
100
0.750 84
b
100
b
100
b
100
0.900 100
b
100
b
100
b
100
Keterangan : Superskrip berbeda dengan kolom yang sama menunjukkan
perbedaan nyata pada taraf 5% berdasarkan uji BNT
PEMBAHASAN
Saponin dalam buah lerak, diduga mengandung hormon
steroid yang berpengaruh dalarn pertumbuhan larva nyamuk.
Larva yang mati dalam perlakuan ekstrak buah lerak mem-
perlihatkan kerusakan pada dinding traktus digestivus. Hal ini
sesuai dengan pernyataan Shashi dan Ashoke (1991) bahwa
saponin dapat menurunkan tegangan permukaan selaput muko-
sa traktus digestivus larva sehingga dinding traktus digestivus
menjadi korosif. Pupa tidak terpengaruh oleh saponin karena
mempunyai struktur dinding tubuh yang terdiri dari kutikula
yang keras sehingga senyawa saponon tidak dapat menembus
dinding pupa. Ukuran larva yang mati lebih panjang sekitar 1-2
mm dibandingkan dengan kontrol, diperkirakan terjadi relaksasi
urat daging pada larva yang mendapat makan tambahan
hormon steroid. Dari data tersebut di atas, terlihat bahwa
mortalitas larva selama pemaparan bertambah dengan me-
ningkatnya konsentrasi ekstrak tumbuhan. Begitu pula makin
lama berkontak dengan ekstrak tumbuhan makin tinggi
mortalitasnya. Hasil pengamatan pada perlakuan konsentrasi
terendah 0.250 mg memperlihatkan adanya pertumbuhan larva
nyarnuk yang lebih cepat dibandingkan dengan kontrol. Hal ini
mungkin disebabkan karena saponin merupakan hormon steroid
yang cepat berpengaruh dalam pertumbuhan dan kelangsungan
hidup serangga.
Hasil yang diperoleh dari penggunaan ekstrak buah lerak
menunjukkan bahwa makin tinggi konsentrasi ekstrak buah
lerak yang digunakan sebagai larvisida mengakibatkan ham-
batan pertumbuhan larva makin besar (Tabel 2).
Selarna pengamatan terlihat adanya penurunan gerakan
larva. Sesuai dengan penelitian Nurhayati (1986), ekstrak ke-
cubung hutan Bugmansia squaveolent juga mengandung
alkaloid yang dapat menurunkan aktivitas selarna 7 hari pada
tikus galur Wistar. Pengamatan pada nyamuk yang mati
abnormal menunjukkan sebagian tubuh nyamuk ada yang
tersangkut selubung pupa sehingga terjadi kegagalan ekslosi.
Hal ini diperkirakan karena, alkaloid yang terkandung dalam
daun kecubung dapat merangsang kelenjar endokrin untuk
menghasilkan hormon ekdison; peningkatan hormon tersebut
dapat menyebabkan kegagalan metamorfosis.
KL
50
ekstrak daun orang-aring terhadap larva terhitung
0.300 mg bila dibandingkan dengan penelitian oleh Lukwa
1994, ekstrak selasih (Ocimum canum) yang mengandung
rninyak atsiri KL
50
nya 0.550 mg berarti orang-aring lebih
selektif sebagai larvisida dibandingkan selasih.
KEPUSTAKAAN
1 . Burkil IH. A Dictionary of the economic products of the Malay
Peninsula. Goverment of the Straits Settlement. Millbank. London SW.
1935 : 340
2. Lukwa, N. Do traditional mosquito repellent plants work as mosquito
larvisides. Cent. Afr.J.Med.40 (11), 1994 : 306-9.
3.
Shashi BM. Ashoke KN. Tripenoid saponins discovered between 1987
and 1989. Phytochemistry 30 : 5, 1991 : 1357-85.
Cermin Dunia Kedokteran No. 131,2001 9