Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990 17
Pola Gejala dan Kecenderungan Berobat
Penderita. Tuberkulosis Paru
Dr. Tjandra Yoga Aditama
Bagian Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Unit Paru Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta
PENDAHULUAN
Penyakit tuberkulosis sudah sejak amat lama ada di muka
bumi kita ini. Peninggalan tertua penyakit ini antara lain seperti
tampak pada tulang-tulang vertebra manusia di Eropa, dan juga
mummi-mummi di Arab yang diperkirakan berasal dari sekitar
tahun 3700 SM.
,
Catatan paling tua dari penyakit ini di Indonesia
adalah seperti yang didapatkan pada salah satu relief di candi
Borobudur, yang nampaknya menggambarkan suatu kasus
tuberkulosis. Artinya, pada masa itu (tahun 750 sesudah Masehi)
orang sudah mengenal penyakit ini di antara mereka.
2
Pada abad ke 19, berbagai konsep penting tentang tuber-
kulosis telah berhasil diketemukan. Di tahun 1804 Laennec
menyatakan bahwa berbagai bentuk tuberkulosis di paru dan
organ lain -- yang sebelumnya diduga berasal dari beberapa
penyakit yang berbeda -- pada dasarnya merupakan berbagai
manifestasi dari satu penyakit.
13
Puncak kemajuan penemuan
tuberkulosis di abad 19 ini adalah penemuan basil TB oleh
Robert Koch. Penemuannya ini dilaporkan di Berlin pada tanggal
24 Mret 1882 dan dipublikasikan di majalah "Berliner Klinische
Wochenchrift" pada hari Senin, 10 April 1882 .
4
Dalam perkembangan waktu, para ahli telah menggunakan
berbagai cara untuk mengobati penyakit tuberkulosis ini. Pe-
rawatan di sanatorium misalnya, pernah amat populer pada awal
abad ini, yang kemudian diikuti dengan upaya lain seperti
pneumotoraks terapetik, torakoplasti dan lain-lain. Sejak tahun
1940an mulai diperkenalkan obat anti tuberkulosis (OAT) yang
kini dipakai secara luas. Pada tahun 1942 -- 60 tahun setelah
ditemukannya basil TB -- mulailah era baru pengobatan tuber-
kulosis dengan diperkenalkannya streptomisin, yang kemudian
disusul dengan diperkenalkannya PAS di tahun 1947 dan INH di
tahun 1952. Rifampisin mulai diperkenalkan di tahun 1967 dan
kini dipakai secara luas dalam pengobatan jangka pendek tuber-
kulosis paru bersama OAT lainnya.
Penemuan penderita dan pengobatannya memang merupa-
kan suatu kunci penting dalam penanganan tuberkulosis paru,
dan karena itu kedua fase ini harus ditangani dengan seksama.
5
6
Proses penemuan penderita (case finding) tidaklah sesederhana
sebagaimana tampaknya. Ada berbagai tingkatan/tahap yang
harus dijalani sampai ditemukannya satu orang penderita, mulai
dari jenis gejala yang timbul, bagaimana penderita memahami
gejalanya dan ke mana penderita pergi berobat untuk mengatasi
gejala tersebut.
Berikut ini akan disampaikan suatu basil penelitian tentang
pola gejala dan kecenderungan berobat penderita tuberkulosis
paru.
BAHAN DAN CARA KERJA
Responden yang diteliti adalah 100 orang penderita tuber-
kulosis paru (BTA +). Penelitian dilakukan di RS Pasar Rebo
Jakarta Timur. Kepada setiap penderita dilakukan wawancara
sesuai formulir kuesioner yang telah ditetapkan. Wawancara
dilakukan sesegera mungkin setelah ditegakkannya diagnosis.
HASIL PENELITIAN DAN DISKUSI
Tabel 1 memperlihatkan pola keluhan utama yang membawa
penderita pertama kali datang berobat ke fasilitas kesehatan.
Tampak bahwa 65% penderita datang dengan keluhan batuk,
sementara 22% pergi berobat karena mendapat batuk darah.
WHO memang menyatakan bahwa gejala TB yang penting
adalah batuk, batuk darah, nyeri dada dan demam.
6
Buku pe-
tunjuk TB untuk negara dengan prevalensi tinggi menyebutkan
bahwa gejala TB yang tersering adalah batuk yang kadang-
kadang berdarah, nyeri dada dan gejala-gejala lain seperti pe-
nurunan berat badan, hilangnya nafsu makan, keringat malam,
demam dan sesak napas.
7
Tabel 2 memperlihatkan bagaimana pendapat/persepsi pen-
derita terhadap berbagai gejala yang dirasakannya. 42% me-
nyatakan tidak tabu gejala dari penyakit apa yang dideritanya ini,
sementara 22% menganggapnya sebagai "batuk biasa". Peneliti-
an Aoki dkk. di Jepang
8
mendapatkan bahwa 52,4% penderita
tuberkulosis paru yang ditelitinya berpendapat mereka sedang
menderita flu, 13,5% menduganya sebagai serangan asma, 6,7%
Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990
18
menganggapnya sebagai tuberkulosis dan 7% menjawab lain-
lain.
Tabel 1. Keluhan utama yang membawa penderita pertama kali berobat
Jenis keluhan
Jumlah
e
/a
Batuk 65
65
Batuk darah
22
22
Nyeri dada
2
2
Demam 8
8
Lain-lain 3
3
Tabel 2. Pendapat/persepsi penderita terhadap gejala yang dirasakannya
Persepsi/pendapat Jumlah
Flu 12
12
Batuk biasa
22
22
Tuberkulosis 1
1
Penyakit paru-paru
23
23
Tidak tabu
42
42
Dari tabel 3 tampak bahwa 40% responden memilih Puskes-
mas sebagai tempat/fasilitas kesehatan pertama yang dikunjungi-
nya untuk mengatasi keluhan yang dirasakannya, kemudian
disusul dengan pilihan kunjungan ke rumah sakit (20%) dan 19%
lainnya pergi berobat ke praktek dokter umum.
Tabel 3. Fasilitas kesehatan tempat penderita pertama kali pergi berobat
Jenis fasilitas
Jumlah
%
Puskesmas
40 40
Rumah Sakit
20
20
Pratek dokter umum
19
19
Praktek dokter spesialis
2
2
. Mantri
12
12
Lain-lain 7
7
Di Indonesia sebelum ini belum pernah dilakukan penelitian
tentang kecenderungan berobat penderita tuberkulosis paru.
Penelitian sosiologis yang dilakukan Pamra
9
di India menemu-
kan bahwa walaupun di kota sekalipun mereka yang punya
gejala biasanya tidak akan langsung berobat ke dokter spesialis.
Mereka biasanya pergi dulu ke dokter umum atau ke rumah
sakit umum. Penelitian pada penderita TB di Filipina menunjuk-
kan bahwa 17% penderita dengan sputum BTA (+) mengobati
dirinya sendiri, 34% pergi ke dokter praktek, 25% berobat ke
health center dan 21% berobat ke rumah sakit.
10
Tabel 4 memperlihatkan berapa jauh jarak antara tempat pen-
derita pertama kali berobat dengan rumah penderita. Sebagian
besar responden (86%) ternyata memilih fasilitas kesehatan
yang relatif dekat dengan rumahnya.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Aoki dkk.
8
yang
menyebutkan bahwa 84,5% respondennya memilih tempat ber-
obat pertama yang hanya membutuhkan waktu 30
'
menit dari
rumah mereka. Faktor jarak antara rumah dan fasilitas kesehatan
ini memang merupakan suatu faktor yang penging.
1
Nkinda
(dikutip dari 8) menemukan bahwa deteksi kasus tuberkulosis
Tabel 4. Jarak tempat pertama berobat dengan rumab penderita
Jarak Jumlah
penderita
(%)
Kurang 30 menit jalan kaki
50(50%)
Kurang 30 menit dengan kendaraan
36(36%)
30 - 60 menit dengan kendaraan
8( 8%)
Lebih 60 menit dengan kendaraan
6( 6%)
akan menurun sejalan dengan meningkatnya jarak antara rumah
dan fasilitas kesehatan terdekat. Fox
11
juga menekankan pen-
tingnya penyediaan fasilitas kesehatan yang relatif dekat dengan
rumah penderita untuk dapat mei'iemukan penderita tuberkulosis
paru.
Dari 100 orang responden penelitian ini, 66 di antaranya
(66%) diminta untuk datang kontrol kembali setelah kunjungan
mereka yang pertama ke fasilitas kesehatan. Dari 66 orang ini
ternyata 26 orang (39,39%) tidak datang kembali untuk kontrol.
Alasan ke 26 orang itu dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Alasan penderita yang tidak datang kontrol seperti yang dianjurkan.
Alasan tidak datang
Jumlah responden
(%)
Keluhan membaik
5 (19,23%)
Masalah biaya
10 (38,47%)
Pelayanan buruk
2 ( 7,69%)
Keluhan tidak membaik
4 (15,38%)
Lain-lain 5
(19,23%)
Datang tidaknya seseorang setelah mendapat anjuran kontrol
merupakan salah satu indikator kepatuhan penderita. Mau tidak-
nya seseorang mengikuti anjuran dari petugas kesehatan dibahas
dalam suatu teori yang disebut "model kepercayaan kesehatan.'
2
Dalam teori ini disebutkan bahwa mau tidaknya seseorang
mengikuti anjuran petugas kesehatan dipengaruhi oleh 4 faktor,
yaitu persepsinya terhadap kerentanan dirinya untuk menjadi
sakit, persepsinya tentang seriusnya keadaan penyakit, pendapat-
nya tentang manfaat dari kegiatan kesehatan dan pendapatnya
tentang hambatan dan biaya untuk mengikuti anjuran tersebut.
Bila dilihat di tabel 5 di atas tampak bahwa 38,47% responden
yang tidak datang kontrol memberi alasan biaya; faktor biaya
memang merupakan salah satu dari 4 faktor dari pada teori
model kepercayaan kesehatan. Salah satu cara yang baik untuk
membuat seorang penderita mau mengikuti anjuran petugas ke-
sehatan adalah dengan memberi tabu si penderita secara jelas
tentang dasar diagnosis dan apa yang sebenarnya diinginkannya
darinya. Untuk itu, petugas kesehatan perlu menyediakan waktu
untuk menjelaskannya pada penderita. Terkadang diperlukan
pula instruksi secara tertulis.
Para penderita pada penelitian ini biasanya telah mengunjungi
berbagai fasilitas kesehatan sebelum diagnosis TB nya berhasil
ditegakkan. Jumlah tempat/fasilitas kesehatan yang dikunjungi
sebelum diagnosis ditegakkan adalah rata-rata sebanyak 1,55
buah dengan SD 1,1586. Di pihak lain, rata-rata jumlah kunjung-
an sebelum diagnosis ditegakkan adalah sebanyak 5,09 kali
dengan SD 3,1626. Tabel 6 menunjukkan tempat/fasilitas ke-
sehatan mana saja yang telah pernah dikunjungi responden
pada penelitian ini.
Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990 19
Tabel 6. Fasilitas-tasilitas kesehatan yang dikunjugi responden sebelum ditegak-
kannya diagnosis.
Jenis fasilitas kesehatan
Jumlah (%)
Puskesmas 50(36,50%)
Rumah Sakit
25(18,25%)
Praktek dokter umum
36(26,28%)
Praktek dokter spesialis
4( 2,91%)
Praktek mantri
16(11,68%)
Lain-lain 6(
4,38%),
,
Survai Kesehatan Nasional 1986 juga menunjukkan bahwa
Puskesmas menduduki peringkat pertama pilihan berobat
masyarakat kita. Hasil survai kesehatan rumah tangga di 7
propinsi di luar Jakarta ternyata juga menunjukkan hasil yang
sama dengan penelitian di Jakarta ini dalam hal pilihan masya-
rakat terhadap Puskesmas. Puskesmas memang dituntut ber-
peran penting dalam pelaksanaan dan pengembangan upaya ke-
sehatan di negara kita. Yang juga menarik adalah peranan
praktek mantri di perkotaan seperti Jakarta ini. Tabel 3 me-
nunjukkan bahwa 12% responden memilih praktek mantri se-
bagai tempat yang pertama dikunjunginya untuk mengatasi
keluhannya. Sementara itu, tabel 6 juga menunjukkan bawa
11,68% fasilitas kesehatan yang dikunjungi penderita TB adalah
praktek mantri dalam penanganan penyakit TB paru pada
khususnya dan kesehatan pada umumnya nampaknya masih
perlu diamati dengan baik. Di pihak lain -- sebagaimana telah
disebutkan di atas -- dengan adanya minat masyarakat yang
cukup baik untuk datang ke Puskesmas, dan dengan jumlah
Puskesmas yang sudah cukup banyak -- 5653 buah di tahun 1987/
1988 -- maka nampaknya Puskesmas punya peran amat berarti
dalam pengembangan upaya kesehatan di Indonesia.
PENUTUP
Telah disampaikan beberapa aspek gejala tuberkulosis dan
bagaimana para penderitanya menangani keluhan mereka ter-
sebut, sampai ditegakkannya diagnosis. Batuk ternyata merupa-
kan keluhan yang paling sering dirasakan oleh penderita tuber-
kulosis paru pada penderita ini, baik sebagai gejala pertama
maupun sebagai gejala yang membawanya berobat ke fasilitas
kesehatan. Keluhan lain yang juga dirasakan adalah batuk darah,
demam, nyeri dada, sesak napas, badan lemah dan keringat
malam.
Puskesmas merupakan fasilitas kesehatan yang paling banyak
dipilih untuk mengatasi gejala yang dirasakan penderita pada
penelitian ini. Fasilitas kesehatan ini yang juga dikunjugi adalah
rumah sakit, praktek dokter dan praktek mantri.
Mengingat tuberkulosis paru masih merupakan masalah ke-
sehatan masyarakat kita, maka perlu dilakukan berbagai peneliti-
an lain dibidang ini, khususnya penelitian-penelitian yang me-
ninjau aspek sosial penyakit ini.
KEPUSTAKAAN
1.
Tjandra Yoga Aditama. Beberapa aspek dalam proses penemuan penderita
TB paru. Skripsi Bag. Pulmonologi FKUI, 1988.
2.
Rasmin Rasjid. Penemuan kasus tuberkulosis di Indonesia. Naskah Lengkap
KPPIK X FKUI 1978 : 582 - 4.
3.
Crofton J, Douglas A. Respiratory Diseases. Singapore : PG Publishing
PTE. Ltd. 1983 : 218 - 9.
4.
Robert Koch. Die aetiologie der Tuberculose. Berliner Klinische Wochen-
chrift 1882; 15 : 221.
5.
World Heafth Organization. TB Control. Geneva : WHO 1982: 10:
6.
World Health Organization. WHO Expert Committee on TB - 9th report.
Geneva : WHO 1974 : 7 - 14.
7.
Rouillon A, Styblo K, Jentgenz H. Tuberculosis guide for high prevalence
countries. Aachen : Miseroor, 1986 : 5 - 6.
8.
Aoki M dkk. Studies on factors influencing patient's delay, doctor's delay
and total delay of TB. Bull IUAT 1985; 60 : 128 - 30.
9.
Pamra SP. Tuberculosis services as an integral part of Primary Health
Care. Bull IUAT 1985; 60 : 135.
10.
Tjandra Yoga Aditama. Tuberculosis situation and delay in case finding in
Indonesia, Singapore, Brunei Darussalam, Philippines and Japan. Tokyo :
SEAMIC 1988 : 45 - 7.
11.
Fox W. Short course chemotherapy for pulmonary TB. Lung India 1984;
1 1 : 1 6 1 - 3 .
12.
Sneider DE. An overview of compliance in Tuberculosis. Bull NAT 1982;
57 : 247 - 9.
UCAPAN TERIMAKASIH :
Penulis menyampaikan terimakasih kepada Kepala Bagian Pulmonologi FKUI -
Dr.
Hadiarto Mangunnegoro
yang
telah membimbing penelitian ini, dan kepada
Direktur
RS
Pasar Rebo
yang
telah mengijinkan penelitian ini ber/angsung
di RS
Pasar Rebo/Jakarta.