background image
Penyakit Hepatitis Virus
Dr. Imran Lubis
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan R.I., Jakarta
PENDAHULUAN
Paling sedikit ada 4 virus hepatitis yang dapat dibedakan
dengan jelas yaitu : hepatitis A, hepatitis B, hepatitis non-A
non-B dan hepatitis Delta.' Karakteristik virus penyebab hepa-
titis A dan hepatitis B telah diketahui sehingga kit diagnosa
antibodi dan antigen dapat dibeli di pasaran. Baru sebagian
karakteristik virus hepatitis non-A non-B dan hepatitis Delta
telah diketahui, sehingga pemeriksaan antibodi dan antigen
hanya dapat dilakukan di laboratorium tertentu saja sedangkan
kit diagnostik kedua virus ini masih belum bisa didapatkan di
pasaran.
Tampak pada Tabel I keadaan penyakit hepatitis di
negaranegara Asia Tenggara.
2
Penyakit hepatitis A mencakup
47% - 72% sebagai penyebab hepatitis pada anak dan 6,9% -
45% pada dewasa. Untuk hepatitis B berkisar antara 10% -
30% pada anak dan 16% - 79% pada dewasa, dan untuk
hepatitis NANB adalah 4,6% - 40% pada anak dan 8,7% - 76%
pada dewasa.
Tabel 1. Hepatitis virus sporadik di Asia Tenggara
Frekuensi tipe vines Hepatitis
Negara
Hepatitis A
Hepatitis B
Hepatitis NANB
Anak
Dewasa
Anak
Dewasa
Anak
Dewasa
Bangladesh ­ 6,9 ­ 16,0 ­ 76,0
Burma 49,0
10,0
15,0
21,0
35,9
69,0
India 50,0
8,1
10,0
31,0
40,0
60,9
Indonesia 71,0
45,0
16,0
20,0
23,0 35,0
Mongolia 65,0
12,0
30,0
79,0
4,6 8,7
Nepal 49,0
11,0
19,0
37,5
32,0
52,0
Sri Lanka
58,0
10,7
20,0
44,0
22,0
45,3
Thailand 72,0
34,0
11,0
36,0
17,0
30,0
(Sumber : Viral Hepatitis in South-East Asia Region, WHO)
HEPATITIS A
Penyakit hepatitis A masih endemis di negara berkembang,
terutama karena keadaan lingkungan yang masih buruk.
3
Cara
penularan yang umum adalah melalui kontaminasi makanan
dan air minum oleh tinja penderita. Terakhir dilaporkan gejala
penyakit hepatitis A lebih berat di negara Thailand dan Indo-
nesia, karena keadaan lingkungan sudah membaik dan lebih
banyak menyerang penderita umur lebih dewasa.
Hepatitis A dapat didiagnosis dengan salah satu cara sbb.:
1)
Isolasi partikel virus atau antigen virus HAV (Hepatitis A
Virus) dalam tinja penderita.
2)
Kenaikan titer anti-HAV
3)
Kenaikan titer IgM anti-HAV.
Cara yang terbaik adalah cara ke tiga karena kenaikan anti-
bodi yang pertama kali terjadi pada kasus akut adalah kelas
IgM dan IgM ini tidak lama kemudian akan menghilang. Kedua
tes lainnya memerlukan pemrosesan tinja yang makan waktu
dan tenaga lebih banyak atau memerlukan jumlah serum yang
lebih banyak.
Pada tahun 1986, P.J. Provost dkk telah menemukan Live
Attenuated vaksin hepatitis A, dari strain CR326F yang berasal
dari tinja penderita hepatitis A, di Costa Rica.
4
Virus hepatitis
A ini telah mengalami beberapa kali pasase pada jaringan fetal
rhesus monkey kidney (FRhK6). Human Diploid Lung (MRCS)
yang akhirnya dapat menurunkan faktor-faktor patogennya dan
dapat digunakan untuk manusia sebagai vaksin dengan hasil
yang baik.
HEPATITIS B
Penyakit hepatitis B menjadi sangat penting karena :
1)
Makin lama jumlah penderita makin meningkat
2)
Dapat menimbulkan sequelae (gejala sisa) dan 60% sebagai
penyebab kanker hepatoseluler. .
3)
Dapat ditularkan dari ibu pengidap (terutama dengan
HBeAg positif) ke bayi yang dilahirkannya.
Penyakit hepatitis B merupakan penyakit yang dapat sembuh
Cermin Dunia Kedokteran No. 68, 1991
8
background image
sendiri (self limiting disease), dengan atau tanpa gejala klinik
berat. Tetapi 90% penderita golongan bayi dan 10% penderita
dewasa biasanya tidak dapat sembuh dan dapat menjadi kronik
persisten sepanjang hidupnya (persistent life-long chronic).
Selama penderita sakit hepatitis B, berbagai macam
antibodi dibentuk dan dapat diperksa, misalnya HBsAg, anti-
ABsAg, HBcAg, anti-HBcAg, HBeAg, anti-HBeAg, anti-
Delta. Kegunaan pemeriksaan hepatitis marker tersebut adalah
untuk menentukan prognosis penyakit, status sebagai pengidap
yang di sini tidak akan dibicarakan lebih lanjut.
HEPATITIS DELTA
Delta antigen adalah suatu antigen dari virus hepatitis yang
rusak yang kemudian menginfeksi orang yang telah mengandung
virus hepatitis B; tanpa adanya virus hepatitis B maka Delta
antigen ini tidak dapat menimbulkan penyakit.
1,3
Infeksi ini
terjadi akibat suatu infeksi bersama (co-infection) antara Delta
antigen dan hepatitis B atau infeksi Delta antigen pada orang
yang telah menjadi pengidap kronis hepatitis B (superinfection).
Diagnosis hepatitis Delta ini sulit karena antigen timbul
hanya sebentar sekali pada fase akut penyakit, titer IgM anti-
Delta sangat rendah.
5
Delta antigen ini diduga tersebar luas di seluruh dunia, dan
pernah dilaporkan epidemik di Amerika Selatan.
HEPATITIS NANB
Penyakit hepatitis NANB dibagi menjadi dua bentuk yaitu
: bentuk post transfusion (PT NANB) yang masih jarang
ditemukan dan enterically transmitted (ET NANB) yang
merupakan cetusan wabah dan mulai banyak dilaporkan.
Angka case fatality rate (CFR) ET NANB pada saat wabah
terjadi adalah 2% ­ 5%, tenatama pada ibu hamil trimester ke
tiga dengan CFR sebesar 10% ­ 15%, pada trimester pertama
angka kematiannya rendah. Masa inkubasi rata-rata adalah 6
minggu, banyak menyerang golongan dewasa muda.
Penelitian di Jakarta dan Bandung menunjukkan bahwa
gejala penyakit hepatitis NANB di Jakarta lebih berat daripada
di Bandung.
6
Paling sedikit ada 2 wabah hepatitis NANB pada
tahun 1987 - 1988 yaitu di Sintang (2.000 kasus) dan Sandai
(508 kasus) dan telah dapat diisolasi virus hepatitis NANB
yang pertama kalinya, wabah lain yang pernah dilaporkan dari
Bandung tahun 1985. Angka kematian pada wanita usia subur
adalah 19% ­ 26%.
DASAR PEMERIKSAAN HEPATITIS MARKER
Pemeriksaan hepatitis B yang paling penting adalah HBsAg.
HBsAg ini dapat diperiksa dari serum, semen, air liur, urin dan
cairan tubuh lainnya. HBsAg diperiksa pertama kali secara
metoda imunodifusi, yang mudah dikerjakan, murah, dan spesi-
fik, tetapi lambat dan tidak sensitif.
1
Generasi kedua pemeriksa-
an HBsAg adalah dengan metoda counter-immunoelectrophoresis
(CIEP) dan complement fixation (CF) yang lebih sensitif 2 ­ 10
kali daripada imunodifusi. Metoda paling sensitif adalah radio-
immunoassay (RIA) dan enzyme-immunoassay (EIA-ELISA).
Tes ini sangat sensitif (36 kali dari tes imunodifusi) dan sangat
spesifik. Pembuatan antigen untuk pemeriksaan ELISA didapat-
kan dari hasil monoklonal dan pembuatan antibodi dari radio-
aktif. Metoda EIA mampu mendeteksi HBsAg sekecil 0,5 µg/l
(konsentrasi HBsAg dalam plasma
.
dapat mencapai 1 g/1). Tes
EIA dan RIA mampu mendeksi 95% penderita hepatitis B.
Metoda EIA yang dipasarkan menggunakan metoda double
sandwich seperti yang direkomendasikan oleh WHO.
Kit diagnosa HBsAg buatan Indonesia adalah Entebe
RPHA, yang mempunyai sensitivitas 78,6% dan spesifisitas
80% (Djoko Yuwono, 1988) dibandingkan dengan kit Hepates-
3.
7
Kit Entebe RPHA ini berharga lebih murah dari kit impor
seperti Hepatest-3, Hepatek-HBsAg, Serodia-HBs. Dasar
metoda pemeriksaan RPHA dan Elisa tersebut dapat dibaca
pada leaflet masingmasing kit, dan tidak akan diulang disini.
Dengan menggunakan pemeriksaan 2 marker hepatitis
yaitu HBsAg dan IgM anti-HAV diagnosis dapat ditegakkan
pada 95 ­ 99% penyakit hepatitis B. Bila menggunakan cara ini
ada dua keadaan penting yang perlu diperhatikan, yaitu :
1)
Misdiagnosis keadaan hepatitis B dengan non-A non-B
2)
Misdiagnosis hepatitis non-A non-B dengan hepatitis B.
Keadaan pertama terjadi pada kasus hepatitis B stadium akut
atau late acute dengan titer HBsAg sangat rendah. Dan keadaan
kedua terjadi pada infeksi hepatitis non-A non-B pada pengidap
kronis hepatitis B. Kemungkinan terjadinya misdiagnosis ter-
sebut tergantung pada angka endemisitas pengidap kronis
HBsAg di suatu daerah, misalnya di Amerika Utara dan Eropa
Barat sebesar 1%, di Asia Tenggara dan RRC sebesar 15%.
Misdiagnosis ini dapat diatasi dengan tampilnya
pemeriksaan IgM anti-HBc (deteksi antibodi terhadap antigen
core pada stadium akut) yang dapat dengan mudah
membedakan antara hepatitis B dan hepatitis non-A non-B.
DIAGNOSIS
Diagnosis penyakit hepatitis virus terdiri dari :
1)
Gejala klinik penyakit hepatitis
2)
Gejala laboratorium klinik : kenaikan 3 kali kadar ALT
(SGPT, SGOT, Alkaline Phosphatase).
3)
Konfirmasi dari hasil serologi hepatitis marker.
Tampak pada Tabel 2 cara melakukan diagnosis penyakit
hepatitis berdasarkan hasil serologi hepatitis marker.
1
Tabel 2. Diagnosis penyakit hepatitis virus
Marker Serologi
HBsAg
IgM
anti­HAV
IgM
anti­HBc
IgM
anti­Delta
Diagnosis
+
­
+
­
Hepatitis B Akut
­ ­ + ­
Late Hepatitis B Akut
+
­
+
+
Hepatitis B Akut dan Hepa­
+ ­ ­ +
titis Delta Akut (Coinfection)
Hepatitis Delta pada pe­
­ ­ ­
ngidap kronik
Hepatitis B (Superinfection)
Hepatitis non­A non­B Akut
+
­
­
­
Hepatitis non­A non­B Akut
pada pengidap kronis
­ + ­ ­
hepatitis B
Hepatitis A Akut
+
+
­
­
Hepatitis AAkut pada pe­
ngidap kronis hepatitis B
Cermin Dunia Kedokteran No. 68, 1991 9
background image
Keadaan penyakit Hepatitis di Indonesia
Penyakit hepatitis virus di Indonesia mencakup 60% dari
seluruh penyakit hati yang dirawat di rumah sakit, penyakit hati
sendiri merupakan 16 - 17% dari seluruh penyakit yang
dirawat. HBsAg rate pada donor darah pada umumnya berkisar
antara 5% ­ 6%, pada setiap daerah mempunyai nilai yang
berbeda-beda antara 3% ­ 20%. Sedangkan anti-HBsAg
berkisar antara 46% ­ 48%.
2
Di antara tenaga rumah sakit angka pengidap sama dengan
di masyarakat, hanya nilai anti-HBs lebih tinggi. Hubungan
antara sirosis hepatis dengan hepatitis B di Jakarta adalah 49%
dan dengan hepatocellular carcinoma adalah 68%. Data rumah
sakit menunjukkan bahwa penderita hepatitis ternyata 40 ­
50% karena HAV, 20% karena HBV dan 30 ­ 40% karena
hepatitis NANB. Perbandingan antara laki-laki dan perempuan
adalah 2,5 : 1 dan puncak penyakit terjadi pada musim hujan.
Pengembangan dan percobaan vaksin Hepatitis B bentuk
plasma derived sedang dilakkan di Lombok sebagai pilot
project ntk melakuan imnisasi di Ldoensia masa mendatang,
bersama dengan program EPI
Tabel 3. Status pengidap hepatitis B di Asia Tenggara
Negara
Rate pengidap
%
Jumlah penduduk
(X 10
3
)
Jumlah pengidap
(X10
3
)
Bangladesh 9 1000.000 900
Buena 10
-12
39.000 4.100
India 5
760.000
38.000
Indonesia 6 164.000 9.840
Mongolia 12
-14 2.000
280
Nepal 6
16.000
960
Sri Lanka
0,9
16.000
159
Thailand 8
-10 51.000 5.100
Sumber : viral Hepatitis in South-East Asia Region, WHO)
VAKSINASI HEPATITIS B
Dasar pemikiran dari imunisasi terhadap hepatitis B yang
terpenting adalah fakta bahwa anti-HBsAg yang merupakan
antibodi humoral yang ditujukan terhadap HBsAg adalah suatu
antibodi yang dapat mencegah terjadinya penularan infeksi
hepatitis B.
8
Karena itu untuk mencegah infeksi HBV dapat
diberikan suntikan anti-HBs (imunisasi pasif) atau dengan
memberikan suntikan HBsAg untuk menimbulkan anti-HBsAg
dalam tubuh resipien (imunisasi aktif).
Macam-macam Vaksin Hepatitis B
A)
Vaksin yang dibuat dari sera carrier :
Dari sera yang mengandung HBsAg dipisahkan partikel 22nm
yang berasal dari virusnya yang secara teoritik sudah tidak me-
ngandung partikel infektif. Untuk menambah amannya vaksin
ini masih dilakukan inaktifasi dengan proses enzimatik, pe-
manasan atau pemberian formalin. Pembuatan vaksin ini di-
lakukan oleh Netherland Blood Transfusion Centra dan vaksin
buatan Korea.
B)
Vaksin yang tidak dibuat dari sera carrier :
1) HBsAg yang dibuat dari kultur sel-sel hepatoma yang mem-
produksi HBsAg (Alexander cell). Sel ini hanya memproduksi
HBsAg saja (tanpa core) sehingga tidak infeksius.
2) HBsAg yang diperoleh dari genetic engineering atau
teknologi rekombinasi DNA. DNA dari HBV "disisipkan
"
dalam genome dari inti sel organisme lain yang struktumya
sederhana sehingga organisme tersebut akhirnya memproduksi
HBsAg. Dengan melakukan pembiakan sel organisme tersebut
maka dapat diperoleh HBsAg dalam jumlah besar.
Organisme yang pernah dipergunakan untuk memproduksi
HBsAg dengan teknik rekombinasi DNA adalah : kuman E. coli,
sel-sel eukaryotik dari mammalia (rodentia) serta sel ragi yeast).
Yang sekarang digunakan adalah dengan menggunakan sel
ragi, bahkan telah dicoba pada manusia dengan hasil yang baik.
Di samping itu teknik rekombinasi juga telah dilakukan
dengan menggunakan virus vaccinia yang genomenya disisipi
DNA HBV. Virus vaccinia yang telah disisipi ini dapat
disuntikkan hanya satu kali saja sebab di samping infeksi
dengan virus vaccinia tersebut maka virus tersebut dapat terus
memproduksi HBsAg yang memberikan imunisasi aktif dalam
waktu yang lama.
3) Polipeptida yang dibuat secara sintetik yang bila
disuntikkan akan menimbulkan anti-Hbs.
PENUTUP
Masalah penyakit Hepatitis B di Indonesia sudah menjadi
panting melihat dari angka pengidap tersebut di atas. Minimal
exposure rate atau presentase dari kelompok individu sehat
dewasa yang pernah kena infeksi HBV yang diperoleh dengan
menjumlahkan frekuensi HBsAg dan anti-HBs berkisar antara
40% ­ 60%, dan bila dipakai parameter RIA maka diperoleh
angka 60% ­ 80% penduduk dewasa di Indonsia pemah kena
infeksi HBV.
Berbagai penelitian di rumah sakit di Indonsia menunjukkan
angka frekuensi sirosis hepatis sekitar 3,5%, hepatoma 2,2% ­
2,8% dari seluruh penderita. Hal tersebut di atas menunjukkan
bahwa untuk meningkatkan umur harapan hidup penduduk
Indonesia di masa mendatang perlu dilakukan imunisasi ter-
hadap penyakit Hepatitis B.
Selama 3 tahun terakhir ini telah dilaporkan 3 wabah
hepatitis NANB, sehingga untuk mengurangi kematian pada
ibu hamil trimester ketiga perlu dipikirkan juga pengumpulan
antibodi konvalesen penderita yang sudah sembuh untuk
menurunkan angka kematian tersebut.
KEPUSTAKAAN
1.
Field HA, Maynard JE. Srodiagnosis of acute viral hepatitis,
PAHO/83.16. 1983.
2.
Andjaparidze AG. Viral Hepatitis in South-East Asia Region, SEA Adv.
Comm. on Health Research, Fifteenth Session, Jakarta 6-12 June 1989.
3.
Andjaparidze AG. Global Situation of ET-NANB Hepatitis, Intercountry
Meeting, WHOISEARO, 10-13 July 1989.
4.
WHO, Second Technical Advisory Group on Viral Hepatitis, Geneva 2-6
December 1985.
5.
WHO, Scientific group on viral Hepatitis B and its related liver diseases,
Nagasaki, 29 Sept - 2 Oct 1982.
6.
Imran Lubis et al. Report on ET NANB Hepatitis in Indonesia Intercountry
Meeting on Review of ongoing studies on non-A non-B hepatitis, WHO/
SEARO, 10­13 July 1989.
7.
Djoko Yuwono, Perbandingan mutu RPHA (Reversed Passive Hemagluti-
nation) kit virus hepatitis B, buatan Mataram, Lombok, Laporan intern
Puslit Penyakit Menular. 1988.
8.
Soewignyo Soemohardjo, Vaksinasi Hepatitis B, Naskah lengkap
Simposium Hepato-Gastroenterologi, Mataram, 4 Oktober 1986.
Cermin Dunia Kedokteran No. 68, 1991
10