TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Pengujian Bioaktivitas
Anti Diabetes Mellitus
Tumbuhan Obat
Suharmiati
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan dan Teknologi Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Surabaya
PENDAHULUAN
Masa transisi demografi akibat keberhasilan upaya me-
nurunkan angka kematian, dapat menimbulkan transisi epide-
miologis, dimana pola penyakit bergeser dari infeksi akut ke
penyakit degeneratif yang menahun. Salah satu diantaranya
yang berkaitan erat dengan penyakit metabolisme dan cen-
derung akan mengalami peningkatan sebagai dampak adanya
pergeseran perilaku pola konsumsi gizi makanan adalah
diebetes mellitus.
Diabetes mellitus merupakan sekumpulan gejala yang
timbul pada seseorang, ditandai dengan kadar glukosa yang
melebihi nilai normal (hiperglikemia) akibat tubuh kekurangan
insulin baik absolut maupun relatif. Penyakit ini bersifat me-
nahun alias kronis, dan penderitanya dari semua lapisan umur
serta tidak membedakan orang kaya ataupun miskin. Dalam
keadaan tak terkendali penyakit ini ditandai oleh trias 3 P yaitu:
poliuri, polidipsi dan polifagi. Secara klinis diabetes mellitus
dibedakan menjadi Insulin Dependent Diabetes Mellitus
(IDDM) atau diabetes mellitus tergantung insulin (DMTI) dan
Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) atau
diabetes mellitus tidak tergantung insulin (DMTTI)
(Suryohudoyo, 1996).
Penyebab Diabetes Mellitus adalah aktivitas insulin yang
tak memadai baik karena sekresi insulin yang berkurang
(DMTI) atau karena adanya resistensi insulin pada jaringan-
jaringan yang peka insulin (DMTTI).
Akhir-akhir ini pada sebagian penderita DMTTI yang
disebut MODY (maturity onset diabetes of the young), selain
terdapatnya resistensi insulin juga ditemukan pula cacat
(defect) pada sekresi insulin. Namun pada MODY sekresi
insulin masih dapat ditingkatkan dengan pemberian obat hipo-
glikemik oral (OHO), sedangkan pada DMTI kekurangan
insulin hanya dapat diatasi dengan pemberian insulin eksogen.
Beberapa cara mengendalikan hiperglikemia pada diabetes
mellitus adalah sebagai berikut (Tjokroprawiro, 1996): melalui
tractus gastro-intestinalis, sekresi insulin, menekan produksi
glukosa hepar, meningkatkan ambilan glukosa di perifer (ter-
gantung/tidak tergantung adanya insulin).
Pada uji farmakologi/bioaktivitas pada hewan percobaan ,
keadaan diabetes mellitus dapat diinduksi dengan cara pan-
kreaktomi dan pemberian zat kimia. Zat kimia sebagai induk-
tor (diabetogen) bisa digunakan aloksan, streptozotozin,
diaksosida, adrenalin, glukagon, EDTA yang diberikan secara
parenteral. Diabetogen yang lazim digunakan adalah aloksan
karena obat ini cepat menimbulkan hiperglikemi yang
permanen dalam waktu dua sampai tiga hari. Aloksan
(2,4,5,6-tetraoxypirimidin) secara selektif merusak sel
dari
pulau Langerhans dalam pankreas yang mensekresi hormon
insulin.
OBAT ANTI DIABETES MELLITUS YANG BERASAL
DARI TUMBUHAN OBAT
Tumbuhan obat terbukti merupakan salah satu sumber
bagi bahan baku obat anti diabetes mellitus karena diantara
tumbuhan tersebut memiliki senyawa-senyawa yang berkhasiat
sebagai anti diabetes mellitus. Senyawa anti diabetes mellitus
yang berasal dari tumbuhan obat diantaranya christinin A,
xanthone, bellidifolin, thysanolacton, TAP (suatu polisakarida
asam dari tanaman Tremella aurantia) dll. (Tabel 1) serta
masih banyak lagi yang masih dalam tahap pengujian.
Diantara 250.000 spesies tumbuhan obat di seluruh dunia
diperkirakan banyak yang mengandung senyawa anti diabetes
mellitus yang belum diketemukan. Untuk mendapatkan obat
anti diabetes mellitus dari tumbuhan diperlukan suatu
cara-cara pengujian yang memadai mulai dari uji pre skrining,
uji skrining dan berakhir pada uji klinik.
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003
8
Tabel 1. Daftar nama tumbuhan obat beserta metode pengujian bioaktivitas anti Diabetes Mellitus
No. Nama
Tanaman
Nama
Daerah
Familia Kandungan
Bagian yang
digunakan
Metode
Hasil Percobaan
Sumber Pustaka
1. Momordica
charantia
Pare /
Paria
Cucurbitaceae
albuminoid, karbohidrat,
zat warna
daging buah, biji &
seluruh tanaman
1
Efek hipoglikemik
positip (+)
Ali et al, 1993
2. Juniper communis L.
-
Cupressaceae
flavonoid, kumarin, antron zat
pahit & minyak atsiri
buah (berries)
2
Efek hipoglikemik
positip (+)
Sanchez de Medina
et al, 1994
3. Zizyphus spina-
christi
Bidara
cina
Rhamnaceae christinin-A
Daun
2
Efek hipoglikemik
positip (+)
Glombitza et al,
1994
4. Swertia japonica
- Gentianaceae xanthones,
bellidifolin,
methylbellidifolin, swerti anin,
methylswertianin, 1-Hydroxy-
3,7-dimethoxyxanthone
seluruh tanaman
1
Efek hipoglikemik
positip (+)
Basnet et al, 1994
5. Allium cepa
Bawang
merah
Liliaceae SMCS
(S-
methylcysteinesulphoxide
umbi
3
Efek hipoglikemik
positip (+)
Kumari & Augusti,
1995
6. Allium sativum
bawang
putih
Liliaceae SACS
(S-allyl
cysteinesulphoxide
umbi
3
Efek hipoglikemik
positip (+)
Sheela, et al 1995
7. Trigonella foenum
graecum
Kelabet
Papilionaceae
alkaloida, trigonelin, kolin, M.
atsiri, lendir, diosgenin
biji
1
Efek hipoglikemik
positip (+)
Ali et al, 1995
8. Tremella aurantia
-
Tremellaceae
TAP (an acidic polysaccharide
buah
2
Efek hipoglikemik
positip (+)
Kiho et al, 1995
9. Salacia
macrosperma
- Hippocrataceae
Quinone
compounds
Akar
3
Efek hipoglikemik
positip (+)
Venkateswarlu et
al, 1993
10. Aralia elata
-
Araliaceae
clatoside E, clatoside F, dan
oleanolic acid glycoside (8
macam)
kulit akar
1
Efek hipoglikemik
positip (+)
Yoshikawa et al,
1996
11. Anemarrhena
asphodeloides Bunge
- Liliaceae
Seishin-kanro-to
(SK)
rimpang
2
Efek hipoglikemik
positip (+)
Miura et al, 1997
12. Rehmania glutinosa
Liboschictz
- Scrophulariaceae Seishin-kanro-to (SK)
akar
2
Efek hipoglikemik
positip (+).
Miura et al, 1997
13. Cimifuga simplex
Wormskjord
- Ranunculaceae
Seishin-kanro-to
(SK)
rimpang
2
Efek hipoglikemik
positip (+)
Miura et al, 1997
14. Saposhnikovia
divaricata
Schischkin
- Umbelliferae Seishin-kanro-to (SK)
akar
2
Efek hipoglikemik
positip (+).
Miura et al, 1997
15. Prunus persica
Batsch
- Rosaceae
Seishin-kanro-to (SK)
biji
2
Efek hipoglikemik
positip (+).
Miura et al, 1997
16. Prunus armeniaca
Linne
- Rosaceae
Seishin-kanro-to (SK)
biji
2
Efek hipoglikemik
positip (+).
Miura et al, 1997
17. Glycyrrhiza
uralensis Fisher
- Leguminosae Seishin-kanro-to
(SK)
akar
2
Efek hipoglikemik
positip (+)
Miura et al, 1997
18. Sinomenium acutum
Rehder et Wilson
- Menispermaceae
Seishin-kanro-to
(SK)
rimpang
2
Efek hipoglikemik
positip (+)
Miura et al, 1997
19. Angelica acutiloba
Kitagawa
-
Umbelliferae
Seishin-kanro-to (SK)
akar
2
Efek hipoglikemik
positip (+)
Miura et al, 1997
20. Bupleum falcatum
Linne
- Umbelliferae Seishin-kanro-to
(SK)
akar
2
Efek hipoglikemik
positip (+).
Miura et al, 1997
21. Notopterygium sp.
Ting.
- Umbelliferae Seishin-kanro-to
(SK)
rimpang
2
Efek hipoglikemik
positip (+).
Miura et al, 1997
22. Scutellaria
baicalensis Geogi
- Labiatae
Seishin-kanro-to
(SK)
akar
2
Efek hipoglikemik
positip (+).
Miura et al, 1997
23. Croton cajucara
Benth
-
Euphorbiaceae
trans-dehydrocrotonin (t-
DTCN)
batang
3
Efek hipoglikemik
positip (+).
Farias et al, 1997
24. Paeonia lactilora
Pall.
-
Ranunculaceae
Paeoniflorin dan 8-
Debenzoylpaeoniflorin
(glukosida)
akar
1
Efek hipoglikemik
positip (+).
Hsu et al, 1997
25. Myrcia multiflora
DC
- Myrtaceae aldose reductase dan
-
Glucosidase
daun
3
Efek hipoglikemik
positip (+).
Yoshikawa et al,
1998
26. Aesculus
hippocastaman
- -
triterpen
oligoglycosides biji
1
Efek hipoglikemik
positip (+)
Yoshikawa et al,
1998
27. Polygala senega var.
latifolia
- -
triterpen
oligoglycosides akar
1
Efek hipoglikemik
positip (+).
Yoshikawa et al,
1998
28. Beta vulgaris
- -
triterpen
oligoglycosides akar
1
Efek hipoglikemik
positip (+)
Yoshikawa et al,
1998
29. Gymmema sylvestre
- -
triterpen
oligoglycosides daun
1
Efek hipoglikemik
positip (+).
Yoshikawa et al,
1998
30. Kochia scoparia
- -
triterpen
oligoglycosides buah
1
Efek hipoglikemik
positip (+)
Yoshikawa et al,
1998
Keterangan:
Metode 1 : Uji Streptozotocin I
Metode 2 : Uji Streptozotocin II
Metode 3 : Uji Aloksan
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003 9
TINJAUAN TENTANG UJI BIOAKTIVITAS ANTI
DIABETES MELLITUS
1. Toleransi Glukose
Pengaturan kadar glukosa yang stabil dalam darah adalah
mekanisme homeostatik yang merupakan kesatuan proses ikut
berperannya hati, jaringan ekstra hepatik dan beberapa hormon.
Pada kondisi kadar glukosa darah normal (80-100 mg %), hati
ternyata merupakan satu-satunya penghasil glukosa. Pada ke-
adaan pasca aborsi, kadar glukosa darah pada manusia ber-
variasi antara 80-100 mg %, sedangkan pada kondisi puasa,
kadarnya menurun menjadi sekitar 60-70 mg %. Dalam keada-
an normal kadar glukosa darah terkontrol pada batas-batas
tersebut.
Kemampuan tubuh dalam memanfaatkan glukosa dapat
ditentukan dengan mengukur toleransi glukosa yang dapat di-
tunjukkan dengan sifat kurva glukosa darah setelah pemberian
glukosa. Diabetes mellitus ditandai dengan berkurangnya tole-
ransi tubuh terhadap glukosa yang disebabkan berkurangnya
sekresi insulin. Hal ini dimanifestasikan dengan kadar glukosa
darah yang makin meningkat (hiperglikemik) disertai glikosuria
dan perubahan pada metabolisme lemak.
2. Aloksan
Aloksan merupakan bahan kimia yang digunakan untuk
menginduksi diabetes pada binatang percobaan. Efek diabeto-
geniknya bersifat antagonis dengan glutathion yang bereaksi
dengan gugus SH nya.
Mekanisme aksi dalam menimbulkan perusakan yang
selektif belum diketahui dengan jelas. Beberapa hipotesis ten-
tang mekanisme aksi yang telah diajukan antara lain: pem-
bentukan khelat terhadap Zn, interferensi dengan enzim-enzim
sel
serta deaminasi dan dekarboksilasi asam amino. Perusa-
kan sel
pankreas secara selektif oleh aloksan belum banyak
diketahui. Penelitian terhadap mekanisme kerja aloksan secara
invitro menunjukkan bahwa aloksan menginduksi pengeluaran
ion kalsium dari mitokondria yang mengakibatkan proses
oksidasi sel terganggu. Keluarnya ion kalsium dari mito-
khondria ini mengakibatkan gangguan homeostasis yang
merupakan awal dari matinya sel.
3. Tolbutamid
Senyawa tolbutamid dapat menurunkan kadar glukosa
darah karena mampu merangsang sekresi insulin. Mekanisme
kerjanya adalah dengan cara berikatan dengan membran sel,
maka permeabilitas membran terhadap ion kalsium menjadi
menurun, terjadi depolarisasi dari sel dan ion kalsium me-
masuki sel, selanjutnya terjadilah sekresi insulin. Aktivitas
hipoglikemiknya ditunjukkan pada 6-12 jam setelah pemberian.
4. Uji Kadar Glukosa Darah
Glukosa darah dapat ditentukan dengan berbagai cara baik
secara kimiawi maupun secara enzimatik. Prisip penentuannya
didasari pada kemampuan glukosa untuk mereduksi ion an-
organik seperti Cu
2+
atau Fe(CN)
63-
. Penentuan glukosa secara
reaksi reduksi kurang spesifik dibanding cara enzimatik, ter-
utama bila dalam darah terdapat bahan yang dapat mereduksi
misalnya kreatinin, asam urat dan gula-gula lain selain glukosa
(manosa, galaktosa dan laktosa) yang akan memberikan hasil
pemeriksaan yang lebih tinggi daripada kadar glukosa yang
sebenarnya. Sebagai pedoman dapat diperkirakan bahwa hasil
penentuan glukosa secara reduksi akan memberikan hasil 3,6 -
10,8 mg % lebih tinggi daripada cara enzimatik. Perbedaan ini
akan lebih besar lagi bila terdapat peningkatan kreatinin dan
asam urat.
METODE UJI DIABETES
1. Metode Uji Diabetes Streptozotocin I
A. Prinsip metode
Induksi diabetes dilakukan pada hewan percobaan yang di-
beri suntikan streptozotocin secara intraperitonial. Untuk men-
stimulasi Insulin Dependen Diabetes Mellitus (IDDM) diguna-
kan dosis 65 mg/kg berat badan, dengan binatang percobaan
tikus (umur 3-4 bulan). Sedangkan untuk Non Insulin Diabetes
Mellitus digunakan dosis 90 mg/kg berat badan, dengan bina-
tang percobaan anak anjing (umur 48 jam).
B. Bahan dan alat
Sediaan uji berupa larutan/suspensi ekstrak (250 mg/2 ml
air) untuk semua ekstrak, kecuali ekstrak yang bebas saponin
(150 mg/2 ml air) dengan atau tanpa glukosa, Streptozotocin,
glukosa, anestesi ringan, jarum suntik dan alat sentrifuse.
C. Prosedur
Ada beberapa tahap eksperimen (4 tahap):
a. Toleransi glukosa secara oral
Latar belakang penelitian ini adalah perbedaan beban glu-
kosa oral (1,25-4,0 g per kg berat badan) dan bermacam-macam
waktu pengambilan sampel (0-90 menit, dengan interval 15
menit).
b. Efek pada kadar gula puasa
Ekstrak dari beberapa bagian dari tanaman yang berbeda,
secara terperinci ada pada tabel, di mana ekstrak diberikan pada
malam hari pada tikus puasa pada menit ke 0, contoh darah
digambarkan pada 0, 60 dan 120 menit. Sebagai kontrol hanya
diberikan 2 ml air. Tikus-tikus dijaga untuk tidak makan selama
periode yang ditetapkan.
c. Efek pada kadar glukosa darah ketika ekstrak diberikan
secara simultan dengan glukosa.
Ekstrak dengan atau tanpa glukosa diberikan malam hari
pada tikus puasa pada menit ke 0, dan contoh darah dilukiskan
pada menit ke 0, 15 dan 45. Kelompok kontrol hanya diberi 2
ml larutan glukosa.
d. Efek kadar glukosa darah ketika ekstrak diberikan 45
menit sebelum beban glukosa
Ekstrak diberikan semalam pada tikus puasa pada menit ke
0 dan beban glukosa diberikan pada menit ke 45. Kadar glukosa
darah digambarkan pada menit ke 45, 60 dan 90.
Untuk standarisasi kurva toleransi glukosa oral pada pene-
litian binatang percobaan, ditemukan bahwa beban glukosa
2,5g/kg BB menghasilkan level glukosa darah tertinggi. Periode
waktu dan beban glukosa yang disebutkan di atas dipilih untuk
mengamati efek dari ekstrak pada tingkat glukosa darah pada
tikus yang diberi gula.
Sampel darah dikumpulkan dengan cara memotong ekor
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003
10
binatang percobaan dengan anestesi ringan. Serum dipisahkan
dengan cara sentrifuse dan kadar glukosa dalam serum diamati
pada hari yang sama dengan metoda GOD-PAP dengan cara
mengukur absorbansi dengan menggunakan spektrofotometer
(DU-70, Beckman) pada panjang gelombang 510 nm. Kurva
standar untuk glukosa digambarkan paralel untuk setiap eks-
perimen dan nilai glukosa darah dihitung dari hasil tersebut di
atas.
2. Metode Uji Streptozotocin II
A. Prinsip metode
Induksi diabetes dilakukan pada hewan percobaan yang
diberi suntikan streptozotocin secara intraperitonial. Untuk
menstimulasi digunakan dosis 60mg/kg berat badan, dengan
binatang percobaan mencit betina Webstar (180-200g)
B. Prosedur
Ada dua aktivitas yaitu aktivitas pada binatang dengan
glukosa normal dan aktivitas antidiabetik
Aktivitas 1: Aktivitas pada binatang dengan glukosa
normal
Pada aktivitas ini ada 4 metode yaitu:
a. Metode glukose oksidase oksigen
Metode ini digunakan untuk determinasi kadar glukose.
Bahan dan alat yang digunakan adalah sediaan uji berupa
Dekoktum (serbuk obat 10% b/v, menurut FE IX (residu kering
2,75
± 0,01 g/100 ml), diet standar (Panlab A 04) dengan kom-
posisi protein 17,0%, lipida 3,0%, karbohidrat 58,7%, selulose
4,3%, mineral 5%, moisture 12%, dengan nilai 2900 kal/kg).
Disamping itu juga digunakan sodium pentobarbitone (20
mg/kg BB), glibenklamid, air suling dan alat yang digunakan
berupa oesophageal catheter. Prosedurnya adalah sebagai
berikut:
Binatang yang telah dipuasakan semalam (diet standar
Panlab A.04), diberi dekoktum Juniper dengan dosis yang
berbeda (vol. 2 ml) dengan menggunakan `oesophageal
catheter'. Kemudian dianestesi dengan Sodium pentobarbitone
(20mg/kg BB). Sampel darah dikumpulkan dari jugular vein
(urat merih), segera setelah dianestesi (90 - 150 menit kemu-
dian). Sebagai kontrol binatang percobaan diberi air suling, dan
glibenklamid (3 mg/kg BB) digunakan sebagai reference.
Metode Glukose oksidase-oksigen (dibentuk pada Beckman
Glucose Analyzer II) digunakan untuk determinasi kadar
glukose, dengan satuan mg/dl.
b. Metode perfusi usus
Metode perfusi usus digunakan untuk meneliti efek
dekoktum pada absorbsi glukosa pada usus tikus yang telah
dipuasakan. Bahan dan alat yang digunakan berupa sediaan uji
dekoktum (serbuk obat 10% b/v, menurut FE IX (residu kering
2,75 ± 0,01 g/ 100 ml), sodium pentobarbiton (20 mg/kg),
larutan perfusi terdiri dari (g/l): 7,37 NaCl, 0,20 KCI, 0,065
NaH2PO4. 6H2O, 1,02 CaCl2, 0,6 NaHCO3, dan 54,0 glukosa,
pada pH 7,5. Alat yang digunakan adalah jarum dan alat suntik,
termometer dan stop watch. Prosedurnya adalah sebagai
berikut:
Tikus dipuasakan selama 36 jam dan dianestesi dengan
Sodium pentobarbiton (20 mg/kg). Dekoktum ditambahkan
pada larutan perfusi untuk mendapatkan konsentrasi 5 mg/ml.
Jadi sejumlah ekstrak Juniper pada perfusi usus setara dengan
dosis 250 mg/kg. Sistem diatur pada temperatur konstan yaitu
37°C, dan angka perfusi adalah 0,5 ml//menit. Waktu perfusi
adalah 30 menit. Hasil dinyatakan sebagai persentase dari ab-
sorbsi glukosa, dihitung dari jumlah glukosa dalam larutan
sebelum dan sesudah perfusi.
c. Metode sediaan diafragma tikus
Metode sediaan diafragma tikus digunakan untuk meneliti
pemakaian glukosa periferal. Bahan dan alat yang digunakan
adalah sediaan uji berupa dekoktum (serbuk obat 10% b/v, me-
nurut FE IX (residu kering 2,75 ± 0,01 g/ 100 ml), larutan
nutrisi disiapkan dengan formula: 125 ml 1,3% NaHCO3 , diisi
selama 3 menit dengan karbogen, kemudian ditambahkan 750
ml larutan salin. Larutan salin terdiri dari (g/1): 9,50 NaCl, 0,40
Kcl, 0,30 CaCl2, 0,35 NaHCO3, 0,35 MgSO4. 7H2O dan 0,20
KH2PO4. Ditambahkan glukosa untuk memperoleh konsentrasi
akhir 300 mg/dl dan alat yang digunakan adalah inkubator.
Prosedurnya adalah sebagai berikut:
Sediaan diafragma tikus yang dibuat dari tikus yang
dipuasakan selama 36 jam untuk dibunuh. Diafragma dibagi
menjadi 2 bagian, kemudian diinkubasi menurut tehnik
Vallance-Owen pada suhu 37°C, dengan oksigenasi konstan
selama 90 menit, dan dikocok 90 kali permenit., diisi selama 3
menit dengan karbogen, kemudian ditambahkan 750 ml larutan
salin. Larutan yang dihasilkan dibiarkan selama 10 menit, dan
segera digunakan. Hasil dinyatakan sebagai pemberian glukosa
per 10 mg diafragma kering (dengan cara mengurangi kon-
sentrasi glukosa sesudah dan sebelum inkubasi). Berat kering
ditentukan sesudah pengeringan bahan pada suhu 105°C selama
120 menit. Angka absolut yang diperoleh digunakan untuk
menghitung penambahan persentase pemberian glukosa ketika
hemidiafragma diinkubasi (ada atau tidaknya kontrol) dengan
penambahan (10, 10, 10 mg/ml) dekoktum.
d. Metode Kolagenase (Wortington, 169U/mg)
Metode kolagenase digunakan untuk meneliti aksi pan-
kreatik. Bahan dan alat yang digunakan adalah sediaan uji
berupa dekoktum (serbuk obat 10% b/v, menurut FE IX (residu
kering 2,75 ± 0,01 g/ 100 ml), Larutan buffer bikarbonat Krebs-
Hanseleit yang dimodifikasi yang berisi 2,7 mmol/l glukosa
(basal), supplemen dengan 0,5% bovin albumin dan kese-
imbangan suatu cairan yang terdiri dari 95% O2 dan 5% CO2.
Alat yang digunakan adalah inkubator, dan radio immuno assay
(RIA).
Prosedurnya adalah sebagai berikut:
Pankreatic islets diisolasi dengan menggunakan metode
kolagenase (Wortington, 169U/mg), dan diinkubasi seperti di-
terangkan sebelumnya. Media yang digunakan untuk inkubasi
adalah buffer bikarbonat Krebs-Hanseleit yang dimodifikasi
yang berisi 2,7 mmol/l glukosa (basal), supplemen dengan
0,5% bovin albumin dan keseimbangan suatu cairan yang
terdiri dari 95% O2 dan 5% CO2.
Pelepasan insulin ditentukan dengan Radio Immunoassay
sebelum dan sesudah inkubasi dari islets dengan bertambahnya
konsentrasi dekoktum (0,2 , 0,4 dan 0,8 mg/ml), dan hasil di-
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003 11
nyatakan dalam ng/ml.
Aktivitas 2: Aktivitas antidiabetik
Pada aktivitas ini ada beberapa metode yaitu:
a. Metode uji streptozotosin
Metode ini digunakan untuk meneliti aktivitas anti dia-
betic. Bahan dan alat yang digunakan adalah sediaan uji berupa
dekoktum (serbuk obat 10% b/v, menurut FE !X (residu kering
2,75 ± 0,01 g/ 100 ml), streptozotocin, larutan buffer sitrat
(0,05M Sodium sitrat pada pH=4,5), glibenklamid dan air
suling dengan alat jarum dan alat suntik.
Prosedurnya adalah sebagai berikut:
Binatang percobaan dengan diabetik diperoleh dengan
pemberian streptozotocin (60 mg/kg) secara intraperitonial,
yang sebelumnya dilarutkan dalam buffer sitrat (0,05M Sodium
sitrat pada pH=4.5). Binatang-binatang ini dipertahankan di-
bawah pengawasan selama 48 jam, periode waktu dialokasikan
untuk binatang menerima keadaan diabetic, dan kemudian
diberikan dekoktum Juniper secara per oral (1,25 mg total
berries/kg) sehari selama 24 hari. Dua kelompok yang lain,
yaitu kelompok kontrol dan standar masing-masing diberi air
suling dan glibenklamid (1 mg/kg). Berat tikus diukur 3 kali
seminggu. Tikus-tikus dipuasakan semalam dan dibunuh pada
hari ke-24 dari perlakuan dan pankreas diekstraksi, dan ditim-
bang untuk menetukan isi insulin. Sampel darah dipakai untuk
menentukan glicemic level.
b. Metode isi insulin pankreas
Metode isi insulin pankreas ditentukan seperti sebelumnya
(a). Pankreas dihomogenkan dalam Potter-Evelhjeim glass
dengan 10 ml larutan segar dengan 75 ml etanol, 1,5 ml 12N
HCI, dan 23,5 ml air suling. Untuk menghomogenkan dikocok
sebanyak 72 kali permenit, selama 16 jam pada 4°C, kemudian
disentrifuse pada 500 g selama 30 menit. Supernatan yang
diperoleh ini disimpan pada suhu -20°C, sampai insulin level
ini ditentukan dengan radioimmuniassay. Insulin content
dinyatakan dalam nanogram insulin per miligram jaringan
pankreas.
3. Metode Uji Aloksan
A. Prinsip metode
Induksi diabetes dilakukan pada hewan percobaan yang
dengan diberi suntikan aloksan monohidrat secara sub kutan.
Binatang percobaan tikus jantan albino (Sprague-Dawley
strain) dengan berat 130-150 gram. Pemberian obat antidiabetik
secara oral dapat menurunkan kadar glukosa darah dibanding-
kan terhadap hewan percobaan positif diabet (kontrol positif).
B. Bahan dan alat
Bahan dan alat yang digunakan adalah sediaan uji berupa
SMCS (250 mg/kg), dengan dosis terkecil 200 mg/kg, Aloksan
monohidrat, glibenklamid, insulin dan normal salin. Alat yang
digunakan adalah jarum dan alat suntik.
C. Prosedur
Tikus jantan albino diinduksi dengan aloksan monohidrat
secara subkutan. Setelah 2 minggu, tikus-tikus dengan kadar
gula darah puasa antara 200-2550 mg/100 ml dipilih dan dibagi
menjadi 4 kelompok, tiap kelompok 6 ekor. Berat badan dan
intensitas gula pada urin (glycosuria) dan kadar gula darah
puasa ditentukan sebelum eksperimen. Pengaruh dosis tunggal
secara per oral SMCS (250 mg/kg) dan perlakuan jangka
panjang dengan dosis yang lebih kecil (200 mg/kg) yang diteliti
dibandingkan dengan pengaruh dosis standar glibenklamid dan
insulin (40 units/ml). Darah dikumpulkan dari vena mata dari
tikus untuk perkiraan glukosa dan dari ekor tikus untuk serum
insulin. Kelompok I, sebagai kontrol hanya diberikan normal
salin. Kelompok II, diberi SCMS yang dilarutkan dalam normal
salin (250 mg/kg BB). Kelompok III, diberi glibenklamid yang
dilarutkan ke dalam normal salin (2mg/kg BB). Dan sebagai
kelompok IV, diinjeksi dengan insulin secara subkutan (5
unit/kg BB).
Gula darah ditentukan setelah 4 jam. Serum insulin di-
tentukan pada kelompok yang lain setelah waktu 4 jam. Setelah
satu minggu, dilakukan tes toleransi glukosa setelah pemberian
obat. Waktu 1,5 jam diperbolehkan untuk absorbsi obat dan
kemudian pemberian glukosa secara per oral (3g/kg BB) dalam
larutan diberikan kepada masing-masing kelompok. Selanjut-
nya glukosa darah ditentukan dengan interval waktu 30 menit
untuk 2,5 jam. Tes selanjutnya diberikan obat yang diuji yaitu
SCMS (200 mg/kg BB/hari), glibenklamid (200 Mg/kg/hari)
dan insulin (5 unit/kg/hari) untuk 45 hari. Pada hari terakhir
perlakuan berat badan, kadar glukosa darah puasa, glukosa urin,
dan tes toleransi glukosa dianalisa seperti sebelumnya. Kurva
toleransi glukosa digambarkan untuk tiap-tiap kelompok.
PENUTUP
Telah diuraikan tentang pengujian bioaktivitas anti dia-
betes mellitus yang berasal dari tumbuhan obat. Pada uji
farmakologi/bioaktivitas pada hewan percobaan, keadaan
diabetes mellitus dapat diinduksi dengan cara pankreaktomi dan
pemberian zat kimia. Zat kimia sebagai induktor (diabetogen)
bisa digunakan aloksan, streptozotozin, diaksosida, adrenalin,
glukagon, EDTA yang diberikan secara parenteral, tetapi yang
lazim digunakan adalah aloksan karena obat ini cepat me-
nimbulkan hiperglikemi yang permanen dalam waktu dua
sampai tiga hari. Aloksan (2,4,5,6-tetraoxypirimidin) secara
selektif merusak sel
dari pulau Langerhans dalam pankreas
yang mensekresi hormon insulin.
KEPUSTAKAAN
1. Ali L et al. Studies on Hypoglycemic Effects of Fruit Pulp, Seed, and
Whole Plant of Momordica charantia on Normal and Diabetic Model
Rats. Planta Medica, 1992; 59 (5) : 408-12.
2.
Ali L et al. Characterization of the Hypoglycemic Effects of Trigonella
foenum graecum Seed. Planta Medica, 1995; 61 (4) : 358-60.
3. Basnet P et al. Bellidifolin: A Potent Hypoglycemic Agent in
Streptozotocin (STZ)-Induced Diabetic Rats from Swertia japonica.
Planta Medica, 1994; 60 (6) : 507-11.
4. Farias RAF et al. Hypoglycemic Effect of trans-Dehydrocrotonin, a
NorClerodane Diterpene from Croton cajucara. Planta Medica, 1993; 63
(6) : 558-60.
5. Glombitza KW et al. Hypoglycemic and Antihyperglycemic Effects of
Zizyphus spina-christi in Rats. Planta Medica, 1993; 60 (3) : 244-7.
6. Kato A and Miura T. Hypoglycemic Action of the Rhizomes of
Polygonatum officinale in Normal and Diabetic Mice. Planta Medica,
1993; 60 (3) : 201-3.
7.
Kiho T et al. Polysaccharides in Fungi. XXXXV. Anti Diabetic Activity
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003
12
of an Acidic Polysaccharide from the Fruiting Bodies of Tremella
aurantia. Biol. Pharm. Bull., 1995; 18 (12) : 1627-9.
8. Kim DH et al. Metabolism of Kalopanaxsaponin B and H by Human
Intestinal Bacteria and Antidiabetic Activity of Their Metabolites. Biol.
Pharm. Bull., 1998; 21 (4) : 360-5.
9. Kumari K, Augusti KT. Antidiabetic Effects of S-Methylcysteine
Sulphoxide on Alloxan Diabetes. Planta Medica, 1993; 61 (1) : 72-5.
10. Miura T et al. Antidiabetic Effect of Seishin-kanro-to in KK-Ay Mice.
Planta Medica, 1997; 63 (4) : 320-5.
11. Sanchez de Medina F et al. Hypoglycemic Activity of Juniper "Berries".
Planta Medica, 1993; 60 (3) : 197-200.
12. Sheela CG ; Kumari K, Augusti KT. Anti-Diabetic Effects of Onion and
Garlic Sulfoxide Amino Acids in Rats. Planta Medica, 1995; 61 (4) :
356-7.
13. Suryohudoyo P, Purnomo SU. Dasar Molekuler Diabetes Mellitus (DM),
Naskah Lengkap Surabaya Diabetes Update-I, 1996; 71.
14. Tjokroprawiro A. Acarbose. Clinical Use in Patients with Diabetes
Mellitus, Naskah Lengkap Surabaya Diabetes Update-I, 1996; 56 .
15. Venkateswarlu V et al. Antidiabetic Activity of Roots of Salacia
macrosperma. Planta Medica, 1993; 59 : 391-3.
16. Yoshikawa M et al. Bioactive Saponins and Glycosides VII. On the
Hypoglycemic Principles from the Root Cortex of Aralia elata SEEM :
Structure Related Hypoglycemic Activity of Oleanolic Acid Oligoglyco-
side. Chem. Pharm. Bull., 1996; 44 (10) : 1923-7.
17. Yoshikawa M et al. Antidiabetic Principles of Natural Medicines. II.
Aldose Reductase and a - Glucosidase Inhibitors from Brazilian Natural
Medicine, the Leaves of Myrcia multiora DC (Myrtaceae) : Structures of
Myrciacitrins I and II and Myrciaphenones A and B. Chem. Pharm. Bull.,
1998; 46 (1) : 113-9.
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003 13