TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Pengaruh Narkotika
terhadap Susunan Saraf Pusat
Dr. Budi Riyanto Wreksoatmodjo, Sp.S.
Rumah Sakit Marzuki Mahdi, Bogor, Jawa Barat, Indonesia
PENDAHULUAN
Sejarah penggunaan narkotika oleh manusia telah tercatat
sejak zaman purbakala; benih tanaman poppy (Papaver somni-
ferum) yang getahnva merupakan bahan dasar opium telah
ditemukan di antara peninggalan zaman batu, bahkan di
Mesopotamia tanaman tersebut telah ditanam oleh bangsa
Sumeria sejak 4000 - 3000 sebelum Masehi.
Data penggunaannya tercatat dalam papyrus Ebers (1600 -
1500 sebelum Masehi) sebagai hipnotik, analgesik, dan untuk
efek konstipasi. Galen juga menyebutnya sebagai obat untuk
mengatasi nyeri.
Di masa modern, awal abad 19, Serturner di Jerman telah
berhasil memisahkan morfin dari opium (bahan dasar tanaman
poppy), disusul dengan formulasi kodein oleh Robiquet pada
tahun 1817. Sejak itu penggunaannya mulai popular di kalangan
masyarakat saat itu. Opium pernah popular dan bahkan diiklan-
kan sebagai obat pereda nyeri dan obat batuk.
Efek ketergantungan mulai muncul/menjadi perhatian sejak
tahun 1700-an, tetapi baru menjadi masalah di Eropa sekitar
tahun 1890, sejak itu dibuat peraturan untuk membatasi peng-
gunaannya; meskipun demikian, problemnya makin luas
menjadi masalah medis dan sosial sampai saat ini.
Saat ini narkotika dapat dibagi atas:
-
Jenis yang terdapat/berasal dari alam - opium, morfin,
kodein
-
Jenis semi sintetik - heroin
-
Jenis sintetik - meperidin
EFEK TERHADAP SUSUNAN SARAF PUSAT
Mekanisme kerja opiat (dan derivatnya) di susunan saraf
pusat terus diselidiki; secara klinis dapat bersifat depresan mau-
pun stimulan, tergantung dari dosis, cara pemberian, dan
individu pemakainya.
Penelitian awal menunjukkan bahwa opiat terikat pada
reseptor spesifik di otak; selanjutnya melalui penelitian meng-
gunakan teknik radioimmunoassay, receptor opiat diketahui
terdapat di hampir semua area otak, kecuali serebelum (otak
kecil); kepadatannya paling tinggi di daerah:
-
Traktus spinotalamikus ventralis
-
Periaquaduktal
-
Nuklei interlaminaris thalami
-
Sistem ekstrapiramidal, terutama amigdala
Juga ditemukan di substansia gelatinosa medulla spinalis, bah-
kan akhir-akhir ini juga ditemukan di sekitar terminal serabut
saraf presinap (tabel 1).
Table 1. Localization and Possible Function of Opiate Receptors
Location
Functions influenced by opiates
Spinal cord
Laminae I and II
Pain perception in body
Brainstem
Substantia gelatinosa of spinal tract
of caudal trigeminal
Pain perception in head
Nucleus of solitary tract, nucleus
commissuralis, nucleus ambiguus
Vagal reflexes, respiratory
depression, cough suppression,
orthostatic hypotension, inhibition
of gastric secretion
Area postrema
Nausea and vomiting
Locus coeruleus
Euphoria
Habenula-interpeduncular-nucleus-
fasciculus retroflexus
Limbic, emotional effects, euphoria
Pretectal area (media and lateral
optic nuclei)
Miosis
Superior colliculus
Miosis
Ventral nucleus of lateral geniculate Miosis
Dorsal, lateral, medial terminal
nuclei of accessory optic pathway
Endocrine effects through light
modulation
Dorsal cochlear nucleus
Unknown
Parabrachial nucleus
Euphoria in a link to locus
coeruleus
Diencephalon
Infundibulum ADH
secretion
Lateral part of medial thalamic
nucleus, internal and external
thalamic laminae, intralaminar
(centromedian) nuclei,
periventricular nucleus of thalamus
Pain perception
Telencephalon
Amygdala Emotional
effects
Caudate, putamen, globus pellidus,
nucleus accumbens
Motor rigidity
Subfornical organ
Hormonal effects
Interstitial nucleus of stria
terminalis
Emotional effects
Sampai saat ini diketahui ada 5 (lima) jenis reseptor opiat
(tabel 2):
Dibacakan pada PIT/Muker Perdossi, Padang, 7-10 November 2001
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002
14
Table 2. Opiates, Receptors, and Their Functions
Mu (
µ )
Delta (
) Sigma
(
) Kappa
(
) Epsilon
(
)
Morphine and
related opiates
Ketocyclozine Enkephalins Benzomorphan
B-
Endorphins
Effects
Analgesia .+ .+
(spinal)
.+ .+
Pupils Constriction
Constriction
Dilatation
Heart Rate
Slow
---------------
Rapid
Affect Indifference
Sedation Delirium
Opiate
Activity
Agonists .++ .+
Inhibits
Antagonists Inhibits Inhibits
Mixed
Agonists
Antagonists
Inhibits
.++
Masing-masing reseptor diduga memberikan efek yang berbeda,
dan berbagai obat/jenis opiat mempunyai afinitas yang juga
berbeda terhadap masing-masing reseptor tadi (tabel 3).
Table 3. Actions of Narcotic Agonists and Antagonists on Opiate Receptors
Mu
(
µ)
Kappa
(
)
Delta
(
)
Epsilon
(
)
Sigma
(
)
Effects
Analgesia .++
.+
.+/-
Euphoria .++
Respiratory
depression
.+
.+
Sedation
.+ .+ .+
Dysphoria .+
Hallucinations
Stimulation
Drugs
Morphine .++
.+ .+
Pentazocine
.+/-
.+
Nalbuphine
.-
.+
Butorphanol
.+/-
.+
Buprenorphine
.+/-
.-
.+ : agonist effect antagonist effect
.- : antagonist effect
.+/- :partial agonist effect
Secara klinis efek tersebut ditandai dengan timbulnya berbagai
gejala (tabel 4).
Table 4. Effects of Morphine on the Central Nervous System
Effect Manifestation
Analgesia Increase
in
ability to tolerate pain
Dysphoria
Anxiety, fear, nausea, vomiting
Euphoria
Relief from pain, anxiety, and tension; positive
feeling of pleasure
Mental clouding,
somnolence
Change in mentation, inability to concentrate,
apathy, lethargy, drowsiness, sleep
Respiratory depresion
Decrease in respiratory rate, minute volume
tidal exchange, irregular breathing, respiratory
arrest
Stimulation of
chemoreceptor trigger
zone in medulla
Nausea and vomiting
Interference with
hypothalamic function
Induction antidiuretic hormone release;
Inhibition of ACTH and gonadotropin release;
Hyperglycemia;
Disordered temperature regulation
Adanya reseptor yang spesifik terhadap opiat di dalam
susunan saraf pusat menyebabkan para peneliti menduga ada-
nya zat serupa opiat endogen yang memang diproduksi dan
terdapat di dalam tubuh. Zat tersebut ditemukan pada tahun
1975 berupa pentapeptida yang diberi nama met-enkephalin dan
leu-enkephalin. Enkephalin ini berfungsi serupa dengan opiat.
Efek Analgesia
Pada manusia, efek analgesia dari morfin tidak disertai
dengan penurunan kesadaran dan tidak mempengaruhi fungsi
pancaindera ataupun fungsi motorik. Hilangnya rasa nyeri di-
sertai dengan rasa tenang, oleh karena itu diduga efek analgesik
morfin lebih banyak pada komponen afektif dibandingkan de-
ngan pengaruhnya terhadap ambang nyeri.
Beberapa mekanisme diduga berperan dalam efek analgesia
ini (tabel 5) :
Table 5. Possible Mechanisms of Opiate Analgesia
Activation of limbic system
Stimutation of descending serotonergic pathways
Increase in doparnine turnover
Suppression of dorsal horn nociceptive neurons
Efek terhadap Sistim Limbik
Sistim limbik mengandung reseptor opiat dalam jumlah
besar, sistim ini antara lain berperan dalam timbulnya rasa nyeri
menetap dan kronik (dull and chronic pain) yang efektif diatasi
dengan opiat.
EFEK TERHADAP MOOD (SUASANA HATI)
Penggunaan morfin pada individu sehat sering menyebab-
kan disforia, juga rasa takut, gelisah, mual, dan muntah. Pada
dosis terapeutik menyebabkan letargi, kesadaran berkabut, dan
kesulitan konsentrasi; bicara pelo dan gangguan koordinasi
motorik jarang dijumpai. Pada penggunaan khronik, efek ter-
sebut berangsur-angsur menghilang.
PERUBAHAN EEG
Pemberian morfin menyebabkan gambaran frekuensi lam-
bat dan voltase tinggi, yang mirip dengan gambaran EEG saat
tidur atau pada pemberian barbiturat dosis rendah. Terdapat
pengurangan fase REM don non REM deep sleep, sedangkan
fase non REM light sleep dan keadaan jaga bertambah panjang.
Jenis opiat lain dapat memberikan efek berbeda, heroin di-
hubungkan dengan gambaran EEG bifasik yang agaknya ber-
kaitan dengan kedaan euphoria. Penggunaan metadon jangka
panjang dikaitkan dengan penurunan irama alfa, beta, dan
peningkatan irama theta, tetapi relevansi klinisnya belum jelas.
EFEK TERHADAP SISTIM SEROTONIN
Efek terhadap sistim serotonin ini merupakan hipotesis ter-
hadap efek analgesik dari morfin, karena serotonin diketahui
berperan dalam modulasi persepsi nyeri. Pada binatang, pem-
berian 5HT intraventrikel (otak) mempotensiasi efek analgesik
morfin, sedangkan inhibisi produksi 5HT dikaitkan dengan
pengurangan efek analgesia dan berkurangnya kemungkinan
dependensi dan toleransi.
Lesi nucleus raphe magnus -daerah padat 5HT- menyebab-
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 15
kan hilangnya efek analgetik dari morfin yang dapat dipulihkan
melalui injeksi 5 HT.
EFEK TERHADAP SISTIM NORADRENERGIK
Efek analgesik opiat juga diduga melalui pengaruhnya
terhadap sistim noradrenergik karena aktivasi sistim nora-
drenergik (A2) menghambat sensasi nyeri dan memberikan efek
sinergi terhadap analgesik oleh opioid (mu reseptor).
EFEK TERHADAP SISTIM DOPAMIN
Metabolisme dopamin di otak distimulasi oleh narkotika;
menyebabkan peningkatan turn over dopamin; efek ini diham-
bat oleh nalokson.
Selain itu zat antagonis dopamin ternyata memperkuat efek
analgesik dari morfin.
EFEK TERHADAP AKSIS HIPOTALAMUS-HIPOFISIS
Percobaan binatang menunjukkan pengaruh morfin ter-
hadap aksis hipotalamus-hipofisis. Injeksi morfin berulang-
ulang menyebabkan penurunan sekresi ACTH yang ber-
hubungan dengan berkurangnya sekresi corticotropin releasing,
factor (CRF) yang menyebabkan menurunnya aktivitas kortiko-
adrenal; siklus diurnal dari kortikosteroid juga terganggu.
Penggunaan kronik menurunkan fungsi korteks adrenal,
tetapi lama kelamaan timbul toleransi.
Penghentian penggunaan morfin menyebabkan efek re-
bound berupa peningkatan sekresi hormon secara mendadak,
yang dapat berhubungan dengan gejala abstinensi.
Morfin menekan sekresi TSH; pecandu heroin dan peng-
guna metadon umumnya eutiroid meskipun dijumpai peningkat-
an kadar T3 dan T4, mungkin akibat peningkatan thyroxin bind-
ing globulin.
Sekresi GH juga meningkat pada pengguna khronik, selain
itu juga menstimulasi sekresi ADH sehingga dapat menyebab-
kan berkurangnya diuresis.
EFEK TERHADAP RESPIRASI
Depresi pernafasan pada dosis terapeutik disebabkan oleh
efek langsung terhadap pusat respirasi di batang otak. Efek ini
maksimal dalam 7 menit setelah pemberian intravena; dalam 30
menit setelah pemberian intramuskular dan dalam 90 menit
setelah pemberian subkutan, dan kembali normal setelah 2 - 3
jam.
Morfin juga mengurangi sensitivitas kemoreseptor terhadap
peningkatan kadar C02; hal ini penting diperhatikan dalam
penanganan kasus-kasus overdosis yang pernafasannya semata-
mata tergantung dari derajat hipoksia, ditambah dengan usaha
nafas secara sadar yang juga menurun.
EFEK TERHADAP KARDIOVASKULER
Narkotik pada dosis terapeutik jarang mempengaruhi tekan-
an darah dan irama jantung pada keadaan berbaring, tetapi
mengurangi responnya terhadap perubahan posisi sehingga
sering menyebabkan hipotensi ortostatik. Efeknya terhadap
denyut jantung bervariasi, tetapi cardiac output tidak ter-
pengaruh.
EFEK GASTROINTESTINAL
Morfin dan narkotik lainnya menghambat peristalsis usus
halus, juga menghambat sekresi asam lambung, empedu, getah
panikreas, motilitas saluran cerna menurun sehingga menyebab-
kan konstipasi.
Mual dan Muntah
Berlawanan dengan efek depresi morfin terhadap sebagian
besar area di otak, zat ini merangsang pusat chemoreceptor
(chemoreceptor trigger zone) sehingga sering menyebabkan
mual dan muntah.
Efek ini sangat bervariasi dari orang per orang, baik dalam
hal frekuensi maupun intensitasnya; bahkan penggunaan kronis
kadang-kadang justru menekan aktivitas pusat muntah.
Efek mual dan muntah ini lebih sering ditemui pada pasien
yang aktif dibandingkan dengan jika berbaring; dan dapat di-
cegah dengan antagonis narkotik dan derivat fenotiazin.
EFEK TERHADAP SARAF PERIFER
Sampai saat ini efek analgesia dari narkotik dianggap me-
lalui aktivitasnya terhadap reseptor opioid di susunan saraf
pusat; tetapi penelitian akhir-akhir ini menemukan adanya
reseptor opioid di susunan saraf tepi, yang aktivitasnya mening-
kat pada keadaan inflamasi; efek analgesik ini juga dapat
dihilangkan dengan nalokson. Percobaan penyuntikan morfin
dosis kecil yang tidak efektif secara sistemik ke dalam sendi
ternyata juga menghasilkan analgesia yang sebanding dengan
pemberian anestetik lokal.
RINGKASAN
1. Narkotika telah dikenal dan digunakan oleh manusia sejak
jaman purbakala, namun baru pada abad 19 khasiatnya diteliti
secara ilmiah, dan juga mulai dibuat secara sintetik.
2. Efeknya terhadap tubuh manusia diperantarai oleh beberapa
reseptor di dalam SSP yang masing-masing mempunyai sifat
yang karakteristik sehingga memberikan efek klinis yang ber-
beda.
KEPUSTAKAAN
1.
Kurniadi H., Wreksoatmodjo BR. Napza dan Tubuh Kita. Jakarta.
Yayasan Jendela Peduli NAPZA; 2000.
2.
Snyder SH. Drugs and The Brain. Scientific American Library, 1986.
3.
Stimmel B. Pain and Its Relief without Addiction 2
nd
ed. Haworth
Medical. Press, 1997.
4.
Zackon F. The Encyclopedia of Psychoactive Drugs, Heroin The Street
Narcotic. London: Burke Publ. Co., 1988.
5.
NIDA Teaching Package. The Neurobiology of Drug Addiction.
http:/165.112.78.61 /Teaching 2/ teaching.html.
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002
16