background image
Penanggulangan Nyeri secara Tradisional
Dr Soeparman
Bagian Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM, Jakarta
PENDAHULUAN
Nyeri adalah suatu gejala yang amat sering dijumpai seorang
dokter dalam prakteknya dan umumnya tidak sukar untuk
ditanggulangi dengan pemberian analgetika narkotik maupun
non-narkotik. Persoalannya menjadi sulit bila nyeri yang diha-
dapinya bersifat menahun dengan sebab yang kurang jelas,
misalnya low back pain, nyeri di tengkuk, xyphoidyni dan
sebagainya. Dalam hal-haltersebut pemakaian analgetika sering
perlu diberikan dalam dosis yang meningkat secara berkala
dan dipertahankan cukup lama. Dengan sendirinya bahaya
kerja sampingan dari obat tersebut menjadi suatu persoalan
yang dapat menggawatkan keadaan sipenderita.
Kesukaran-kesukaran semacam inilah merupakan titik tolak
dari makalah ini yang sekaligus mempunyai maksud untuk
menggali kembali penanggulangan nyeri secara tradisional,
khususnya yang menggunakan tangan dan jari jari sebagai salah
suatu cara dari perbendaharaan pengobatan nenek moyang
kita.
SEJARAH PENANGGULANGAN NYERI
Sejak terciptanya manusia di bumi ini maka nyeri yang
pada hakekatnya sangat mengganggu kenyamanan penghidup-
an sudah selayaknya dapat diatasi dengan wajar. Berkat keha-
diran Nabi pertama, Nabi Adam A.S. yang hidup selama
kurang lebih 1.000 tahun, penanggulangan nyeri tidak terlalu
sukar dalam pelaksanaannya melalui penyembuhan secara ver-
bal ("The Spoken Word").
Dengan bertambahnya populasi secara tersebar luas di
bumi, maka penyembuhan nyeri tidak dapat dicakup oleh se-
orang diri. Kelebihan hakiki yang dimiliki seorang nabi tidak
diberikan kepada sembarangan orang maka sudah selayaknya
perlu didapatkan suatu cara penanggulangan yang lain yang
dapat terjangkau orang-orang pada zaman itu, walaupun
melalui pengalaman dan, latihan-latihan yang lama. Dapat
dibayangkan bahwa pada zaman primitif itu belum banyak
yang
dapat
dilakukan,
sedangkan
bahasapun
belum
berkembang seperti yang kita kenal sekarang ini. Cara yang
pada waktu itu paling mudah terlaksanakan adalah mengguna-
kan tangan dan jari-jari (
"
physiotherapeutic treatment").
Langkah berikutnya yang masih dapat digolongkan ke
dalam tindakan primitif juga, adalah menggunakan benda-
benda tajam atau runcing seperti batu-batu atau kayu sebagai
usaha untuk mempermudah tercapainya hasil yang baik
(Acupuncture ).
Le
bih lama kemudian sewaktu pengalaman-pengalaman
dari berbagai tempat dapat dikumpulkan maka penggunaan
tumbuh-tumbuhan seperti akar-akar, daun-daun, biji-biji,
bunga-bunga dan getah-getah merupakan cara pengobatan yang
lebih modern yang bertahan cukup lama (jamu-jamu, obat-
obat Tionghoa). Berdasarkan pengetahuan yang akhir ini,
ditambah kemajuan pesat dalam semua bidang di zaman seka-
rang, maka obat-obat sintetis mulai membanjiri masyarakat
kita. Kemurnian obat-obat modern ini dengan sendirinya
menjamin keefektifan yang maksimal walaupun kerja samping-
an dari obat tersebut yang sering bersifat serius lebih banyak
kita lihat, disebabkan antara lain oleh pemakaian obat-obat
lebih banyak dan merata.
Pengobatan tradisional dengan menggunakan tangan dan
jari-jari yang disebut juga masase atau pijit, akan dibicarakan
disini dalam hubungannya untuk menghilangkan gejala nyeri.
Melalui pengamatan sendiri pada penderita-penderita yang
datang berobat pada saya, maka kesan yang timbul adalah
kurang puasnya mereka dengan hasil yang diperoleh dengan
masase (oleh orang lain) walaupun telah dilakukan secara beru-
langkali. Komentar yang sering dapat didengar berbunyi
kurang lebih seperti;"meringankan akan
tetapi nyerinya tidak
hilang secara keseluruhan
"
. Beda benar pengalaman saya
sendiri karena nyeri dapat dihilangkan secara tuntas setelah
satu kali atau maksimal tiga kali melakukan pengobatan
dengan tangan dan jari-jari . Penderita hampir semuanya merasa
puas dan tidak membutuhkan pertolongan lebih lanjut dan
biasanya kembali berobat di kemudian hari dengan kasus lain
yang tidak ada sangkut paut dengan yang dahulu. Suatu keke-
cualian adalah penderita-penderita yang lazim ditemukan
dalam praktek tiap-tiap dokter dan yang tak kunjung berhenti
memenuhi ruang tunggu untuk memperdengarkan skala kelu-
hannya yang berwarna warni disebabkan kelainan jiwa yang
neurotis.
Perbedaan yang menyolok dalam keberhasilan yang
tersebut diatas perlu sekiranya diuraikan lebih lanjut. Penjelas-
an-penjelasan yang akan dikemukakan, sekaligus mempunyai
hasrat untuk membuktikan secara teoritis bahwa penanggu-
langan tradisional ini mempunyai dasar yang baik, sehingga
tidak boleh tidak harus mendatangkan hasil yang baik pula.
Dalam usaha untuk membedakan cara yang saya lakukan
dari masase atau pijit yang lazim dipraktekkan orang lain,
Cermin Dunia Kedokteran No. 26, 1982
13
background image
maka pemberian nama tactile treatment (pengobatan dengan
jari-jari) dirasakan perlu untuk mempermudah penjelasan yang
akan dikemukakan di bawah ini.
TACTILE TREATMENT
Penderita sebaiknya tidur diatas meja periksa secara tenang
dalam posisi terlentang atau di atas sisi kirinya dengan kepala-
nya di atas bantal. Tangan kanan si pelaku tactile treatment
diletakkan secara mendatar di atas tubuh di mana dirasakan
nyeri oleh penderita. Melalui tekanan yang mendatar pula
dicoba dengan bagian ujung jari-jari
merasakan (palpasi)
konsistensi jaringan permukaan tubuh ialah kulit dan otot-
otot, yang berlainan. Pada tempat-tempat dimana si penderita
merasakan nyeri bila ditekan lebih kuat, maka disitu pula
dapat ditemukan bangunan-bangunan jaringan atau
struktur -
struktur
jaringan yang mempunyai konsistensi yang lebih
kenyal. Tergantung pada keahlian palpasi untuk mendeteksi-
nya dengan cepat atau tidak. Perlu diperingatkan untuk
menghindari semua gerakan mendadak secara kasar (kuat)
karena mengundang kontraksi secara refleks dari fihak pende-
rita yang dapat menggagalkan usaha pengobatan untuk selan-
jutnya. Perubahan sikap tubuh atau letak lengan atau kaki
si penderita, ditambah dengan perkataan-perkataan yang mene-
nangkan, sering bermanfaat untuk memulihkan otot-otot
penderita kedalam keadaan lemas kembali. Usaha untuk meng-
hilangkan struktur-struktur yang kenyal ini yang mempunyai
bentuk serupa tali-temali yang memanjang sesuai dengan arah
sumbu bagian badan yang bersangkutan, dilakukan dengan
menggoyang-goyangkan jari-jari tangan sipelaku pengobatan
secara tegak lurus terhadap tali-temali tersebut. Bila berhasil
untuk menghilangkan bangunan-bangunan jaringan ini maka
seluruh otot dirasakan homogen dan hilang pula nyeri yang
sebelumnya merupakan keluhan si penderita. Dengan demikian
jelaslah bahwa si pelaku tactile treatment dapat melakukan
kontrol terhadap keberhasilan pengobatannya sendiri. Tali-
temali atau struktur-strutur jaringan yang patologis itu lebih
dikenal oleh orang awam sebagai urat-urat. Modifikasi dalam
tehnik untuk menghilangkan urat-urat selalu dapat diterapkan
asalkan dapat dicapai suatu homogenisasi dari jaringan-jaring-
an permukaan tubuh yang bersangkutan tanpa menimbulkan
nyeri yang sering mendiskreditkan pengobatan tradisional ini.
PATOFISIOLOGI URAT-URAT
Suatu kelainan yang ditemukan di bawah kulit di dalam
ruangan yang ditempati oleh otot-otot permukaan tubuh
dengan konsistensi lebih kenyal daripada jaringan sekitarnya
mungkin adalah tendon, urat syaraf yang besar atau suatu
struktur yang terdapat (acquired). Semua dokter umumnya
tahu betul dimana
letaknya tendon-tendon dan urat-urat
syaraf yang besar dalam tubuh manusia sehingga tidak terlalu
sukar untuk menentukan apakah suatu struktur jaringan yang
dirasakan kenyal disebabkan oleh urat-urat. Pembuluh darah
umumnya tidak dapat teraba terkecuali bila letaknya ke per-
mukaan tubuh sehingga lebih mudah dilihat daripada diraba.
Mengingat bahwa jaringan pengikat mempunyai fungsinya
sebagai pengikat satu sel sama lain sel dan satu organ sama
lain organ, misalnya satu otot dengan otot lain, maka kemung-
14
Cermin Dunia Kedokteran No. 26, 1982
kinan
besar urat-urat yang dimaksud, erat hubungannya
dengan jaringan pengikat tersebut. Selain fungsi mengikat,
jaringan ini juga bertindak sebagai pelindung, terutama yang
menutupi otot dan yang diberikan nama tersendiri yaitu fascia.
Dalam fungsinya sebagai pelindung inilah, maka perubahan-
perubahan dalam jaringan pengikat mudah terjadi.
Andaikata
seseorang mengalami suatu trauma seperti
tergelincir karena salah langkah atau mengangkat beban yang
cukup berat secara cukup lama (misalnya berpergian sambil
membawa koper penuh pakaian) maka otototot sering
mengalami suatu kondisi yang tidak optimal untuk melakukan
tugasnya. Otot-otot dalam keadaan tersebut tidak ada dalam
kontraksi secara efektif disebabkan momentum yang salah
seperti pada tergelincir atau keadaan capai dalam hal mem-
bawa koper. Akibat kelemahan otot yang demikian, trauma
tadi terutama mengena pada jaringan pengikat sebagai
penyanggah berikutnya yang dialaminya secara pasif karena
tidak kontraktil.
Serat-serat kolagen yang merupakan unsur terpenting dalam
jaringan pengikat mempunyai sifat tahan daya ta
rik secara
baik (alot) sehingga kerusakan atau robekan-robekan kecil
(micro lesions) dapat terjadi dalam
"cementing substance"
yang lebih lemah dan yang berada antara satu serat kolagen
dengan lainnya. Dengan meluasnya micro lesions ini maka
besar kemungkinan bahwa serat-serat kolagen akhirnya terle-
pas satu sama lainnya. Di bawah pengaruh serat elastin yang
juga menghuni jaringan pengikat yang termasuk serat yang alot
juga, maka serat-serat kolagen yang terlepas-lepas itu tergabung
kembali, berkat sifat elastis dari serat-serat elastin tersebut.
Gabungan serat ini dapat dirasakan sebagai urat-urat dengan
sifat sensitif terhadap tekanan yang kasar oleh karena reseptor-
reseptor untuk nyeri yang umumnya banyak menghuni
jaringan pengikat, didalam urat-urat ini ada dalam posisi lain
dari semula. Mudah saja reseptor untuk nyeri terperangkap
antara serat-serat kolagen dalam gabungan baru tersebut dan
terjepit. Tergantung tingkat kekenyalan suatu urat maka nyeri
yang dialami penderita dapat berkisar antara rasa pegal-pegal
sampai nyeri yang hebat.
Keterangan-keterangan mengenai patofisiologi urat-urat ini
memungkinkan kita memberi jawaban
yang logik untuk
fenomena-fenomena mengenai nyeri yang khas untuk gejala
ini, misalnya seorang yang menderita sakit gigi hilang nyerinya
sewaktu ia menunggu gilirannya di ruang tunggu. Keadaan
santai karena ia tahu bahwa akan mendapat pertolongan yang
diharapkan menghasilkan semua jaringan tubuh melemas.
Hilang pula penekanan-penekanan yang hebat terhadap resep-
tor-reseptor untuk nyeri yang terjepit di sekitar gigi yang sakit.
Suatu
fenomena lain ialah bahwa simpatektomi untuk
mengobati nyeri sering tidak dapat menghilangkan nyeri secara
keseluruhan disebabkan perluasan rasa nyeri tidak berjalan
menurut pemetaan dermatom-dermatom melainkan melalui
perjalanan urat-urat. Hal ini dimanfaatkan dalam pengobatan
akupunktur dengan hasil yang memuaskan.
Patofisiologi urat-urat ini sekaligus juga menghasilkan hipo-
tesa mengenai nyeri yang beda daripada yang ada, yang diberi
nama "The Reversible Hidden Scar", dimana reversible teru-
tama menyangkut paut dengan hilangnya nyeri melalui
perubahan-perubahan yang mengatasi keadaan terjepitnya
background image
Tabel 1 : penderita dengan nyeri kronik selama tahun 1971 -- 1972 yang diobati
dengan pengobatan dengan
jari-jari
Nama Penyakit
Jumlah
Sembuh setelah
penderita
1 x
2 x
3 x
4x
5 x
Lebih
low back pain
333.
245
44
12
13
1
54
arthralgia +musculo
skeletal pain
430
324
66
15
9
5
1
total
763
569
110
27
22
6
55
Kesimpulan : 706 penderita atau 92 % sembuh setelah satu sampai tiga kali pengobatan.
reseptor-reseptor untuk nyeri dalam bangunan yang tidak bisa
dilihat secara visual (1) .
PENGALAMAN SENDIRI
Telah dikemukakan dalam tahun 1975 pada KOPAPDI
ke-III di Bandung hasil yang diperoleh dengan pengobatan
dengan jari-jari pada penderita-penderita dengan low back
pain, arthralgia dan musculoskeletal pain (lihat Tabel 1)
Bahwasanya masase atau pijit yang umuntnya dilakukan
dimana-mana kurang mencapai hasil yang memuaskan dengan
penjelasan-penjelasan diatas mudah dimengerti karena tujuan
tindakan dengan jari jari tersebut tidak mencapai sasarannya,
karena yang lebih dipentingkan adalah prosedur cara masase
seperti: menggosok dan mengusap, masase lingkaran, masase
meremas, masase tekanan, masase getaran dan masase ketokan,
yang perlu diselesaikan secara berturut-turut. Lain halnya bila
dengan sadar tujuannya adalah menghilangnya struktur-struk-
tur acquired dan kenyal yang ada sangkut pautnya dengan ge-
jala nyeri pada sipenderita.
KESIMPULAN
Penanggulangan nyeri secara tradisional dengan mengguna-
kan jari-jari adalah pengobatan yang ampuh dan bebas dari
efek sampingan yang sering menyertai pemberian obat-obat
secara lama. Hipotesa mengenai nyeri yang dikemukakan
sebagai
"The Reversible Hidden Scar" memungkinkan untuk
memberi penjelasan-penjelasan tentang berbagai fenomena
yang banyak ditemukan pada persoalan gejala nyeri.
Dikemukakan disini himbauan untuk melakukan pengobat-
an tradisional dengan jari-jari ini dengan dasar pengetahuan
yang baik agar supaya tidak mendiskreditkan cara ini.
KEPUSTAKAAN
1. Soeparman. Pengobatan nyeri kronik (intractable pain) dengan
jari-jari (pijit penyembuhan atau therapeutical massage). KOPADI
ke III. Bandung, 1975.
2. Soeparman. Pain The Reversible Hidden Scar. Concept about
accupuncture and comparative physical mode of treatment based
upon a revised neurophysiological pain theory. (Booklet). Jakarta,
1970.
Cermin Dunia Kedokteran No. 26, 1982
15