Efusi Pleura Tuberkulosis
Dr Samsul Harun A
Laboratorium/UPF Penyakit Paru Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
RSUD Dr Soetomo, Surabaya.
PENDAHULUAN
Efusi pleura tuberkulosis sering diketemukan di negara ber-
kembang termasuk di Indonesia meskipun diagnosis pasti sulit
ditegakkan.
Efusi pleura timbul sebagai akibat dari suatu penyakit, sebab
itu hendaknya dicari penyebabnya. Dengan sarana yang ada,
sangat sulit untuk menegakkan diagnosis efusi pleura tuber-
kulosis sehingga sering timbul anggapan bahwa penderita tuber-
kulosis paru yang disertai dengan efusi pleura, efusi pleuranya
dianggap efusi pleura tuberkulosis, sebaliknya penderita bukan
tuberkulosis paru yang menderita efusi pleura, efusi pleuranya
dianggap bukan disebabkan tuberkulosis. Hal ini tidak selalu
benar, karena tuberkulosis paru dapat disertai efusi pleura yang
bukan karena tuberkulosis dan sebaliknya non tuberkulosis
paru dapat disertai efusi pleura karena tuberkulosis. Gambaran
klinik dan radiologik antara transudat dan eksudat bahkan
antara efusi pleura tuberkulosis dan non tuberkulosis hampir
tidak dapat dibedakan, sebab itu pemeriksaan laboratorium
menjadi sangat penting.
Setelah adanya efusi pleura dapat dibuktikan melalui pungsi
percobaan, kemudian diteruskan dengan membedakan eksudat
dan transudat dan akhirnya dicari etiologinya. Apabila diagnosis
efusi pleura tuberkulosis sudah ditegakkan maka pengelolaannya
tidak menjadi masalah, efusinya ditangani seperti efusi pada
umumnya, sedangkan tuberkulosisnya diterapi seperti tuber-
kulosis pada umumnya.
PATOFISIOLOGI
Efusi pleura terjadi karena tertimbunnya cairan pleura secara
berlebihan sebagai akibat transudasi (perubahan tekanan hidro-
statik dan onkotik) dan eksudasi (perubahan permeabilitas mem-
bran) pada permukaan pleura seperti terjadi pada proses infeksi
dan neoplasma.
Pada keadaan normal ruangan interpleura terisi sedikit cairan
untuk sekedar melicinkan permukaan kedua pleura parietalis
dan viseralis yang saling bergerak karena pernapasan. Cairan
disaring keluar pleura parietalis yang bertekanan tinggi dan di-
serap oleh sirkulasi di pleura viseralis yang bertekanan rendah.
Di samping sirkulasi dalam pembuluh darah, pembuluh limfe
pada lapisan sub epitelial pleura parietalis dan viseralis mem-
punyai peranan dalam proses penyerapan cairan pleura tersebut.
Jadi mekanisme yang berhubungan dengan terjadinya efusi
pleura pada umumnya ialah kenaikan tekanan hidrostatik dan
penurunan tekanan onkotik pada sirkulasi kapiler, penurunan
tekanan kavum pleura, kenaikan permeabilitas kapiler dan pe-
nurunan aliran limfe dari rongga pleura. Sedangkan pada efusi
pleura tuberkulosis terjadinya disertai pecahnya granuloma di
subpleura yang diteruskan ke rongga pleura.
GEJALA KLINIK
Pada kebanyakan penderita umumnya asimptomatis atau
memberikan gejala demam, ringan dan berat badan yang me-
nurun seperti pada efusi yang lain.
Nyeri dada : dapat menjalar ke daerah permukaan karena
inervasi syaraf interkostalis dan segmen torakalis atau dapat
menyebar ke lengan. Nyerinya terutama pada waktu bernafas
dalam, sehingga pernafasan penderita menjadi dangkal dan cepat
dan pergerakan pernapasan pada hemithorak yang sakit menjadi
tertinggal.
Sesak napas : terjadi pada waktu permulaan pleuritis disebab-
kan karena nyeri dadanya dan apabila jumlah cairan efusinya
meningkat, terutama kalau cairannya penuh.
Batuk : pada umumnya non produktif dan ringan, terutama
apabila disertai dengan proses tuberkulosis di parunya.
DIAGNOSIS
Adanya efusi pleura memberikan kelainan pada hemithorak
yang sakit dengan pergerakan pernapasan yang tertinggal,
cembung, ruang antar iga yang melebar dan mendatar, getaran
nafas pada perabaan menurun, trakhea yang terdorong, suara
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990
14
ketuk yang redup dan menghilangnya suara pernapasan pada
pemeriksaan auskultasi.
Gambaran radiologik : posterior anterior (PA) terdapat
kesuraman pada hemithorax yang terkena efusi, dari foto thorax
lateral dapat diketahui efusi pleura di depan atau di belakang,
sedang dengan pemeriksaan lateral dekubitus dapat dilihat
gambaran permukaan datar cairan terutama untuk efusi pleura
dengan cairan yang minimal.
Pemeriksaan laboratorium atas cairan maupun hasil biopsi
jaringan pleura.
Pemeriksaan
laborato-
rium rutin :
Protein
Laktik dehidrogenase
Rasio cairan pleura
serum LDH
< 3.0 g/100'ml
rendah
< 0.6
> 3.0 g/100 ml
tinggi
> 0.6
Pemeriksaan
laborato-
rium khusus :
Eritrosit
Leukosit
Hitung jenis leukosit
pH
Glukosa
Amilase
Protein spesifik
< 10.000/mm
3
< 1000/mm
3
> 50% limfosit
/mononuklear
> 7,3
f sama darah
-
-
> 100.000
> 10.000 < 100.000
(intermitten)
> 1000 mm
3
> 50% limfosit tb,
neoplasma
> 50% p.m.n.: radang
akut
< 7,3
rendah
> 500 u/ml
komponen : C
3
C
4
rendah
Bahan biakan, sitologi dan patologi dapat diambil dari :
1)
sCairan pleura
2)
Biopsi pleura secara buta di beberapa tempat
3)
Biopsi pleura dengan torakoskopi disertai tuntunanfiber
optic bronchoscopy (FOB)
Cairan Pleura :
Jumlah bakteri tahan asam pada cairan pleura sangat sedikit,
sehingga tidak mungkin dilakukan pemeriksaan mikroskop se-
cara langsung.
Biakan :
Menurut penelitian Samsul Harun, dari efusi pleura yang di-
biak dengan media L Sula didapat 22,4% efusi pleura tuber-
kulosis; 30% efusi pleura tuberkulosis disertai tuberkulosis paru
(bakteri tahan asam pada sputum positip); 15,8% efusi pleura
tuberkulosis tanpa disertai tuberkulosis paru (klinik, radiologik
dan laboratorik negatip). Pada penderita diduga tuberkulosis
paru (klinik dan radiologik positif tuberkulosis sedang labora-
torium bakteri tahan asam di sputum negatif) disertai efusi
pleura ternyata 23,7% efusi tuberkulosis paru. Sedangkan me-
nurut peneliti lain sekitar 20 - 25% efusi pleura disebabkan
karena tuberkulosis.
Biopsi pleura buta
Dengan pemeriksaan histopatologik dan biakan, hasil biopsi
positip yangpada didapat efusi pleura tuberkulosis sekitar 50 -
60%, dengan syarat biopsi pleura buta dilakukan di 3 - 4 tempat.
Biopsi pleura dengan torakoskopi
Torakoskopi dengan tuntunan Fiber Optic Bronchoscopy
(FOB) dapat melihat secara langsung granuloma yang hendak
dibiopsi, sehingga kepositipan adanya efusi pleura tuberkulosis
mencapai ± 90%. Kekurangan torakoskopi adalah karena harus
dilakukan oleh tenaga ahli dan alat serta perawatannya mahal.
Pemeriksaan sputum
Dapat diperiksa langsung dengan pengecatan Ziehl Neelsen
atau Tan Thiam Hok melalui mikroskop biasa dan pengecatan
Auramin Rhodamin melalui mikroskop fluoresensi; pemeriksa-
an dengan mikroskop fluoresensi 11,6% lebih positip daripada
dengan pemeriksaan mikroskop biasa' di samping waktu yang
diperlukan untuk pemeriksaan lebih singkat, hanya saja alat ini
harganya mahal dan memerlukan perawatan khusus.
Pemeriksaan tuberkulin
Seperti diketahui efusi pleura tuberkulosis adalah proses
post primer tuberkulosis yang sering terdapat pada penderita
dewasa; jarang pada anak dan orang tua.
Karena menegakkan diagnosa efusi pleuratuberkulosis sangat
sulit, terutama tanpa adanya tuberkulosis paru, maka apabila
ada penderita efusi pleura muda umur < 35 tahun disertai
dengan pemeriksaan tuberkulin positip, dapat diterapi dengan
obat anti tuberkulosis.
PENGOBATAN
Pada dasarnya pengobatan efusi pleura tuberkulosis sama
dengan efusi pleura pada umumnya, yaitu dengan melakukan
torakosentesis (mengeluarkan cairan pleura) agar keluhan sesak
penderita menjadi berkurang, terutama untuk efusi pleura yang
berisi penuh. Beberapa peneliti tidak melakukan torakosentesis
bila jumlah efusi sedikit, asalkan terapi obat anti tuberkulosis
diberikan secara adekuat.
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990 15
Sedangkan tuberkulosisnya diterapi denganobat anti tuberkulo-
sis seperti tuberkulosis paru, dengan syarat terus menerus,
waktu lama dan kombinasi obat.
Penderita tuberkulosis paru atau dugaan tuberkulosis
disertai efusi pleura dapat diterapi obat antituberkulosis.
Dosis obat anti tuberkulosis yang sering digunakan :
INH : 300 - 400 mg/hari
Rifampisin : 450 mg/hari (berat badan < 50 kg) 600 mg/hari
(berat badan > 50 kg)
diberikan 1/2 jam sebelum makan pagi Streptomisin : 20 - 25
mg/kg BB/hari: intra muskular Pirazinamid : 25 - 35 mg/kg
BB/hari
Etambutol : 15 - 25 mg/kg BB/hari
Pam amino salisilic acid (PAS) : 200 - 300 mg/kg BB/hari
Semua obat antituberkulosis sebaiknya diberikan dalam
dosis tunggal, kecuali PAS yang diberikan dalam dosis terbagi,
karena memberikan efek samping iritasi lambung.
Adapun regimen obat anti tuberkulosis yang diperlukan, sama
seperti halnya regimen untuk tuberkulosis paru.
KEPUSTAKAAN
1. Arrington CW dkk. Management of undiagnosed pleural effusion in positive
tuberculin reactors : Am Rev Respiratory Dis, 1966; 93 : 587 - 93.
2.
Fraser RG, Pare JAP. Diagnosis of diseases of the chest. Vol III, Ed.2
Philadelphia : WB Saunders Co. : 1979 hat. 1746 - 1750.
3.
Ingram Jr R H. Diseases of the pleura, mediastinum and diaphragma.
In : Harrison's Principle of Medicine. New York : Mc Graw Hill International
Book Company ed. 10, 1983 : 1580 - 1583.
3. Ingram Jr R H. Diseases of the pleura, mediastinum and diaphragma.
In : Harrison's Principle of Medicine. New York : Mc Graw Hill Interna-
tional Book Company ed. 10, 1983 : 1580 - 1583, ed. 2
4.
Leahy BC, Stretton TB. Pleural disease : International Medicine Dec. 1982;
1 (2224) : 1036-9.
5.
Poe RH dkk. Sensitivity, specificity and predictive values of closed pleural
biopsy. Arch International Med. Feb. 1984; 144 : 325 - 328.
6.
Samsul Harun dkk. Pemeriksaan biakan kuman tuberkulosis dari cairan
pleura. Paru 1987; 7 (3 & 4) : 5 - 7.
7.
Samsul Harun. Nilai diagnostik pemeriksaan Bakteria Tahan Asam dalam
sputum dengan mikroskop fluorosensi. Perpustakaan Fakultas Kedokteran
Unair Surabaya, 1988.
8.
Sarkar SK dkk. Pleuroscopy in the diagnosis of pleural effusion using a fiber
optic bronchoscope. Tubercle 1985; 66 : 141 4.
9.
Sula L. Fibrine clot culture technique for isolation of tubercle bacilli from
pleural exudates. Respiratory Dis. 1959; 80 : 438 - 40.
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990
16