ALBERT SCHWEITZER
Siapakah di Indonesia yang telah, se-
dang atau akan mengikuti jejak Dr.
Schweitzer ?.
Masih terdapat banyak
daerah di Indonesia dengan taraf kesehat-
an yang masih rendah; yang membutuh-
kan dokter-dokter idealis; dokter yang
bersedia berkorban demi profesinya; yang
tidak berfikir untuk mengumpulkan ke-
kayaan materi sebesar-besarnya. Tanah air
kita
memerlukan puluhan dokter-dokter
muda yang bersedia hidup sederhana dan
hanya mempunyai satu tujuan didalam
penghidupannya, ialah menolong sesama
manusia, menolong mereka
yang
sedang
menderita karena sakit.
Albert Schweitzer lahir pada 14 Ja-
nuari 1875 disebuah desa kecil Alsace,
Gunsbach. Ayahnya adalah seorang pen-
deta yang sangat dihormati untuk ke-
ramah-tamahannya. Rumahnya senantaisa
terbuka untuk mereka dengan kesulitan-
kesulitan rochaniah, jasmaniah maupun
untuk
mereka yang sedang dalam ke-
sulitan keuangan. Dalam keluarga dengan
hidup sederhana tetapi cukup inilah A1-
bert Schweitzer tumbuh dan berkembang
mengikuti jejak ayahnya. Ia bersekolah
bersama-sama
dengan anak-anak desa
yang hidup dalam lingkungan serba ku-
rang; yang kadang-kadang berpakaian je-
lek dan sebagainya. Melihat semua ini
Albert
mengambil kesimpulan bahwa ia-
pun harus hidup seperti mereka. Karena
itu ia menolak untuk berpakaian bagus; ia
tidak mau menggunakan
"
overcoat
"
oleh
karena teman-temannya juga tidak mema-
kainya. Hal-hal seperti ini sering menim-
bulkan pertengkaran-pertengkaran dengan
ibunya,
walaupun ia baru berumur 10
tahun.
Disekolah ia tidak begitu pintar
dan ia memang tidak mau terlalu menon-
jolkan diri. la bahkan rela dan senang
bilamana teman-temannya mengalahkan-
nya dikelas
.
Akan tetapi dalam satu hal ia
sangat
menonjol, ialah kegemarannya
akan musik. Pada umur lima tahun, ayah-
nya mengajarnya main piano dan dengan
cepat ia sudah dapat membaca musik.
Pada umur delapan tahun ia minta ijin
untuk belajar organ dan ibunya sangat
gembira karena ayahnya adalah seorang
pemain organ yang cukup ternama. Da-
lam waktu satu tahun ia sudah pandai
main organ dan pada umur sembilan
tahun ia kadang-kadang diminta untuk
memainkan organ mengiringi kebaktian
gereja.
Kegemaran untuk main musik,
terutama organ merupakan obsesi untuk
Albert dan setiap waktu senggang diper-
gunakan untuk bermain musik. Tidaklah
mengherankan bahwa waktu Albert mulai
bekerja di Lambarene, sebuah desa ter-
pencil dipedalaman Afrika, pada waktu
senja dan matahari mulai terbenam, ter-
dengarlah alunan suara merdu pianonya.
Orang-orang desa disekitarnya akan ber-
dudukan disekitar rumahnya untuk ikut
menikmati suara piano yang dimainkan
oleh Dr. Albert Schweitzer.
Pada tahun 1895 sewaktu masih ber-
umur 18 tahun, ia mengunjungi bibinya
di Paris dan sang bibi memohon seorang
guru musik ternama Charles Marie Widor
untuk
mendengarkan permainan organ
Schweitzer.
Widor seperti lain-lain guru
yang termashur hanya bersedia menerima
murid-murid yang sangat berbakat dan
pada beberapa tahun akhir ini ia sudah
tidak
menerima murid baru. Akan tetapi
waktu ia mendengar permainan organ
Schweitzer, ia sedemikian kagum hingga
sang gurulah yang menawarkan diri untuk
mengajar Schweitzer lebih lanjut. De-
mikianlah dimulai karier musik Albert. Ia
belajar bermain organ di St. Sulpice dan
kemudian memainkan organ yang ter-
mashur di N9tre Dame. Setiap kali ia
mendapat libur dari Universitas Stras-
bourg dimana ia menjadi mahasiswa juru-
san Theologi, ia tentu pergi ke Paris
untuk bertamu dan belajar musik lebih
lanjut pada gurunya, Widor. Dengan de-
mikian ia dikenal oleh dunia musik Paris.
Pada tahun 1899 ia mendapatkan gelar
doktor untuk jurusan Theologi dan satu
tahun kemudian ia dinobatkan sebagai
pendeta, mengikuti jejak ayahnya. Ia me-
nulis
buku tentang persoalan-persoalan
agama antara lain
"
The Quest of the
Historical Jesus
"
yang menimbulkan reak-
si-reaksi tajam. Atas permintaan Widor ia
menulis buku tentang J.S. Bach, seorang
pengarang
musik termashur dan Albert
Schweitzer menjadi seorang ternama baik
dalam bidang Theologi maupun dalam
bidang
musik.
Dengan demikian
waktu
kepala
"
St.
Thomas
s Theological Colle-
ge"
mengundurkan diri, pilihan
sebagai
penggantinya jatuh kepada Schweitzer,
walaupun ia baru berumur 28 tahun.
Orang-orang menduga bahwa Schweitzer
sekarang
akan terus
memperdalam
pengetahuannya dalam bidang Theologi
dan musik dan akan menghadapi masa
depan yang sangat baik. Akan tetapi hal
ini tidak terjadi. Satu tahun setelah ia
menjabat sebagai kepala St. Thomas, se-
cara kebetulan ia membaca sebuah artikel
yang berjudul
"
The Needs of the Congo
Mission
"
dalam laporan
"
Paris Missionary
Society
"
.
Tertariklah hatinya kepada ar-
tikel tersebut yang menjelaskan tentang
buruknya kesehatan di Kongo, tingginya
angka-angka kematian dan betapa besar-
nya kebutuhan tenaga kesehatan untuk
mengatasi kesengsaraan hidup yang di-
sebabkan oleh merajalelanya berbagai ma-
cam penyakit. Setelah membaca artikel
ini termenunglah Schweitzer; selama be-
berapa hari ia memikirkan tentang keti-
dak adilan didunia ini.
Ia membandingkan kehidupan di Europa
yang sudah serba cukup dengan kehidup-
an yang masih serba primitip dan sengsara
di Afrika.
Terketuklah hatinya dan segera ia me-
nyadari bahwa missionnya bukanlah
mengajar Theologi akan tetapi menolong
sesama manusia yang masih hidup dalam
alam kesengsaraan. Untuk ini dibutuhkan
dokter-dokter dan ia mengambil keputus-
an untuk belajar lagi menjadi dokter.
Dengan demikian, hanya oleh karena se-
cara kebetulan ia membaca sebuah artikel
dimulailah suatu karier baru, suatu karier
penghidupan yang berakibat ribuan jiwa
manusia tertolong dan sengsara yang se-
lalu melanda mereka diperingan.
Albert Schweitzer mengajukan per-
mohonan berhenti sebagai kepala St. Tho-
mas dan pada umur 29 tahun ia mendaf-
tarkan diri sebagai mahasiswa Fakultas
Kedokteran di Strasbourg. Dalam waktu
enam tahun ia lulus dan mendaftarkan
diri sebagai sukarelawan pada
"
Missionary
Society
"
. Walaupun mereka sangat mem-
butuhkan dokter-dokter, akan tetapi oleh
karena persoalan yang pernah timbul aki-
bat
"
The Quest of the Historical Jesus
"
ia
14
ditolak.
Albert tidak putus asa; dengan
penuh keyakinan ia berbicara dengan
kepala "Missionary Society" dan pada
akhirnya ia diterima juga. Ia dikirim ke
Paris
untuk
mempelajari Tropical Me-
dicine selama setahun. Pada waktu-waktu
senggang ia memberi konser
,
untuk me-
ngumpulkan dana-dana karena ia telah
mengambil keputusan untuk membangun
sebuah rumah sakit sendiri di Lambarene,
suatu kampung kecil
ditepi kali Ogowe,
French Equatorial Africa.
Pada tahun 1912 ia menikah dengan
seorang teman, Helen Breslan, dan pada
Jumaat Suci (Good Friday) 1913, berang-
katlah ia ke Afrika bersama istrinya.
Setibanya di Lambarene ia langsung be-
kerja keras. Walaupun tidak terdapat tem-
pat selain sebuah rumah gubuk tua yang
mirip kandang ayam, ia langsung member-
sihkannya dan beberapa hari kemudian
mulaflah ia
"
membuka prakteknya
"
.
Pada hari-hari pertama 30 -- 40 orang
sudah menunggu didepan
"
rumah sakit"-
pengertian
diobatinya
mereka.
Dalam
waktu singkat ia menjadi terkenal sampai
didaerah-daerah disekitarnya dan jumlah
pasiennya terus meningkat.
Dari pagi hari hingga malam ia terus
bekerja tanpa istirahat, dengan tak me-
ngenal lelah. Istrinya selalu mendampingi-
nya,
mengurus kebutuhan-kebutuhan hi-
dup yang sangat sederhana dan selanjut-
nya juga membantu didalam kliniknya.
Rumah sakitnya terus berkembang dan
bantuan-bantuan dari Paris
mulai ber-
datangan.
Dalam waktu 9 bulan ia telah mengobati
ribuan pasien dengan berbagai macam
penyakit.
Setiap
hari
tanpa
mengenal
waktu ia selalu siap untuk menolong
pasien-pasien
yang tidak dapat dibawa
kerumah sakitnya. Ia selalu gembira dan
untuk setiap pasien ia mempunyai kata
-
kata
yang memberi harapan.
Albert
Schweitzer bersama istrinya hidup sangat
sederhana dan penghidupan mereka ha-
nya bertujuan :
menolong sesama ma-
nusia.
Tetapi dunia yang fana dengan
manusia-manusianya yang serba kompleks
tak dapat membiarkan suami-istri ini be-
kerja dengan tenang. Perang Dunia per-
tama meletus di Europa. Walaupun Albert
Schweitzer bekerja
untuk sebuah misi
Perancis akan tetapi karena ia dilahirkan
di Jerman, maka pejabat-pejabat pemerin-
tah setempat menangkap kedua suami-
istri.
Albert Schweitzer tidak protes dan ia
menerima nasib dengan tenang. Ia memin-
ta kertas dan pena untuk mulai menulis
karangan-karangan tentang filsafah hidup-
nya dan tentang berbagai masalah dunia.
Memang telah lama ia berhasrat untuk
menulis, akan tetapi tak pernah ada wak-
tu.
Sekarang ia cukup waktu. Tetapi
hasrat untuk menulis tersebut tak dapat
dilaksanakan
.
Disebabkan protes-protes
penduduk setempat, yang merasa kehi-
langan penolongannya, pejabat-pejabat se-
tempat terpaksa
melepaskan
Albert
Schweitzer. Selama tiga tahun berikutnya
mereka bekerja lagi siang dan malam.
Sejak pagi hari puluhan orang sakit sudah
menunggu; mereka perlu segera ditolong
dan diobati. Setiap hari pasti ada operasi.
Tanpa istirahat dan sering karena ke-
sibukan menunaikan kewajiban-kewajiban
tak terasa lagi rasa lapar. Akan tetapi
birokrasi
dan peperangan masih belum
juga membiarkan Schweitzer bekerja de-
ngan tenang. Pada tahun 1917 mereka
ditangkap lagi dan dikirimkan ke Perancis
sehingga akhir perang dunia pertama.
Didalam penjara Schweitzer menyelesai-
kan dua jilid tulisannya yang termashur
"
The Philosophy of Civilization
"
.
Setelah
bebas ia ingin kembali ke
Lambarene untuk meneruskan peker-
jaannya. Akan tetapi peraturan-peraturan
birokrasi tak mengijinkannya. Tiga tahun
kemudian ia bertekad bulat untuk kem-
bali
kerumah sakitnya. Ia merasa tidak
tentram didalam hati karena terbayang-
bayang terus penderitaan di Africa
yang
belum teratasi; berbagai jenis penyakit
yang masih berkecamuk disana.
la memerlukan uang untuk dapat bekerja
lebih baik dan selama empat tahun beri-
kutnya ia bekerja keras dengan memberi
kuliah-kuliah,
konser-konser dan meng-
hubungi berbagai badan sosial untuk me-
ngumpulkan dana.
Pada tahun 1925 mereka berangkat lagi
ke
Afrika dan dengan dana yang telah
terkumpul suami istri Schweitzer mulai
membangun rumah sakit yang lebih baik.
Lambarene menjadi lebih
terkenal; rumah
sakitnya berkembang terus berkat kete-
kunannya.
Dukungan dunia luar mulai
datang
mengalir dan pada 1953 Albert
Schweitzer
memperoleh hadiah Nobel
untuk perdamaian. Seorang dengan jiwa
besar telah membuktikan kepada dunia
bahwa dengan ketekunan dan kemauan
kerja yang besar kesengsaraan dapat di
kurangi.
Pada suatu waktu istrinya bertanya
kepada Albert, bila ia akan berhenti kerja
untuk pensiun, dan dijawabnya
"
selama
saya
masih bernafas saya akan bekerja
terus karena didunia ini masih banyak
sekali yang harus dikerjakan
"
.
"
Selama didunia ini masih terdapat ke-
sengsaraan maka kita harus bekerja terus
dan tidak ada waktu untuk istirahat
"
.
Kembalilah
ke
Europa
"
tulis
kawan-
kawan mereka
"
kami membutuhkan eng-
kau disini
"
.
Albert Schweitzer menjawab dengan sing-
kat
"
Lambarene lebih membutuhkan te-
nagaku
"
1 5
nya dan dengan penuh kesayangan dan