Kegiatan Penelitian
di Lingkungan Direktorat Kesehatan Gigi
Departemen Kesehatan
Drg Utoyo Sutopo, SKM
Staf Direktorat Kesehatan Glgi, Departemen Kesehatan R.I. , Jakarta
PENDAHULUAN
Direktorat Kesehatan Gigi Departemen Kesehatan sebagai
instansi Pemerintah yang mempunyai fungsi bina tunggal
dalam pelayanan Kesehatan Gigi di Indonesia telah menetap-
kan sasaran jangka panjang program Kesehatan Gigi dan Muhrt
(tahun 2000), yakni suatu derajat Kesehatan Gigi dan Mulut
yang optimal dengan ukuran sebagai berikut :
·
Tidak adi gigi permanen yang harus dicabut akibat penyakit
gusi, jaringan periodontal dan karies gigi pada kelompok usia 8
tahun.
·
Kebersihan mulut di lingkungan anak Sekolah Dasar
dengan angka Oral Hygiene Index Simplified (OHIS) berkisar
nilai 0,6 1,2.
·
Decay Missing Filled Teeth (DMFT) tidak melebihi angka 3
pada kelompok usia 12 tahun di mana minimal 50% dari skor
DMFT tersebut adalah untuk nilai F (Filled)
·
Prevalensi severe crowding tidak melebihi 50% pada
kelompok usia 12 tahun.
·
Kehilangan gigi (tooth lost) tidak melebihi 6 gigi padake-
lompok usia 3544 tahun.
·
Prevalensi penyakit periodontal klasifikasi parah (pada
indeks Russel nilai 68) :
a) Tidak lebih dari 1% pada kelompok usia 3544 tahun.
b) Tidak terlihat pada kelompok usia 12 tahun.
Untuk mencapai sasaran tersebut di atas telah ditetapkan
kebijaksanaan sebagai berikut :
1.
Pelayanan sistematik ditujukan kepada kelompok rentan
terhadap penyakit gigi dan mulut serta kelompok masyarakat
yang perlu pembinaan khusus.
2.
Tekanan pada upaya promotif dan preventif, diimbangi
dengan pelayanan medik dasar dan spesialistik dalam tatanan
rujukan.
3.
Upaya pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut terintegrasi
dalam Pelayanan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD).
Kebijaksanaan tersebut saat ini dijabarkan dalam program
yang dilaksanakan meliputi :
1.
Pelayanan Kesehatan Gigi dan Medik di klinik gigi Pusces-
mas.
2.
Pelayanan Kesehatan Gigi dan Medik Dasar untuk ibu
hamil dan anak pra sekolah.
3.
Pelayanan Kesehatan Gigi pada anak sekolah Usaha Ke-
sehatan Gigi Sekolah (UKGS).
4.
Pelayanan Kesehatan Gigi dan Medic spesialistik di Rumah
Sakit.
5.
Pelayanan Kesehatan Gigi mellui Upaya Kesehatan Gigi
Masyarakat Desa (UKGMD).
Berbagai unsur dan kegiatan penunjang damn pelaksanun
program di atas amat diperlukan, antara lain ketenapan,
pedoman-pedoman, juklak dan juknis, sistem informasi ke-
sehatan gigi dan sebagainya.
Sistem informasi kesehatan gigi merupakan salah satu
unsur penunjang penting dalam rangka memantau pelakssnaan
pro-gram pelayanan, yang akan memberikan informasi yang
betmanfaat untuk perencanaan program yang akan datang, mu-
pun evaluasi keberhasilan/pencapaian/kemajuan program yang
telah dan sedang dilaksanakan.
Berbagai penelitian dalam rangka mendapatkan informed
telah dilaksanakan baik di lingkungan Direktorat Keaehatan
Gigi sendiri maupun dalam bentuk kerja sama dengan inatansi
lain, seperti Badan Litbangkes, Dinas Kesehatan DKI Jakarta,
FKM, FKG-UI dan lain sebagainya. Penelitian-penelitian ter-
sebut dimaksudkan dapat memberican informasi kepada
Direktorat Kesehatan Gigi di bidang :
1)
Pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap ke-
sehatan gigi dan mulutnya, yang dapat digunakan sebagai base
line data peningkatan kesehatan gigi, serta evaluasi hasil
pelayanan penyuluhan kepada masyarakat.
2)
Angka DMFT dan penyakit periodontal untuk mendapat-
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 13
kan informasi epidemiologis balk kualitas (tingkat keparahan)
maupun kuantitas (penyebab/prevalensi).
3) Pendayagunaan fasilitas pelayanan, yang memberikan
informasi tentang jangkauan pelayanan (kuantitas) serta mutu
pelayanan yang diberikan oleh fasilitas kesehatan gigi.
HASIL PENELITIAN YANG TELAH DILAKSANAKAN
DENGAN BEAYA DAFTAR ISIAN RROYEK
(DIP).PENING KATAN KESEHATAN GIGI PUSAT
1.Penggunaan fissure sealant untuk pencegahan karies gigi
anak SD di Jakarta, Propinsi Jawa Barat, Pripinsi Jawa
Tengah,dan Daerah Istimewa Yogyakarta,Tahun 1980-1982.
·
Sasaran/target survai : Siswa Kelas I, II, III dan IV.
·
Tujuan : Melihat perbedaan kemungkinan timbulnya karies
antara gigi yang diaplikasi dengan fissure sealant dibanding
gigi tanpa aplikasi.
·
Hasil : Terlihat bahwa gigi yang diaplikasi dengan fissure
sealant selalu mempunyai probabilitas tetap sehat lebih dari
gigi tanpa aplikasi. Secara statistik perubahan itu bermakna.
·
Kesimpulan : Program Pencegahan Karies Gigi dengan
menggunakan fissure sealant memberikan hasil penurunan
angka karies, dengan catatan yang paling menonjol pada anak
Kelas II.
2. Survei Kesehatan Gigi Nasional. PELITA III (Tahun 1979/
80 - 1983/84).
·
Tujuan : Mendapatkan informasi tentang kesehatan gigi dan
mulut meliputi kebersihan mulut, karies gigi dan penyakit
periodontal dari seluruh Propinsi di Indonesia.
·
Sasaran : I. Kelompok Lida. 8 Tahun 2. Kelompok usia
14 Tahun 3. Kelompok usia 35-44 Tahun
·
Hasil : Sasaran Tahun 2000 :
(1) OHI-S : rata-rata = 1,54 1,85 (SD) 0,6 - 1,2
(Untuk semua golongan usia)
Pedesaan =
0,34 - 3,52
Perkotaan = 0,64 -
2,96
Propinsi dengan OHIS tinggi :
a. Kalimantan Selatan
3,41
b. Jambi 3,25
c. Sulawesi Tenggara 3,04
d. Sumatera Barat 3,22
(2) Penyakit Periodontal : Gingivitis tingkat sedang dan parah
tidak terlalu banyak, tetapi terlihat adanya peningkatan
keparahan penyakit tersebut dengan bertambahnya usia.
(3) Karies Gigi : Derajat Karies Gigi menurut kriteria WHO
masih tergolong rendah, kecuali pada Propinsi-propinsi :
a. Kalimantan Barat DMF-T
6,11
b. Sulawesi Selatan 4,00
c. Jambi 3,41
d. Kalimantan Selatan
5,67
e. Maluku 3,65
(4) Kebutuhan Perawatan :
a. Pada Kelompok usia 8 tahun baru 2 gigi yang ditumpat
dari 100 gigi permanen yang berlubang.
b. Pada Kelompok usia 14 tahun baru 11 gigi yang di-
tumpat dari gigi permanen vane berlubang.
3. Survei Kesehatan Gigi Nasional PELITA IV (Tahun 1984/
85 - 1988/ 9).
·
Tujuan : Mendapatkan informasi tentang Kesehatan Gigi
dan Mulut meliputi :
a. Prevalensi Karies Gigi di tiap golongan usu.
b. DMF-T rata-rata tiap golongan usia di tiap lokasi.
c. Prevalensi Penyakit Periodontal flap golongan usia di tiap
lokasi.
d. Rata-rata sextant terkena Penyakit Periodontal menurut
Community Periodontal Index Treatment Need (CPITN) untuk
tiap golongan usia di tiap golongan lokasi.
e.
Perbedaan perkembangan penyakit tersebut di atas di
daerah urban dan ruraL
·
Hasil:
Tabel 1. Prevalensi Karies Gigi dan DMF-T rata-rata golongpn usia di
tiap
lokasi
pada
tahun
1984/85
-
1988/99
Col. Usia
Lokasi
Prevalensi
Karies Gigi
DMF-T
Rata-rata DMF
8 Tahun
Prop. Jabar
PProprop. Jateng
. D.I. Jogya
Prop. Bali
47,50
19,00
10,50
38,50
0,79
,0,25
0,18
0;66
14 Tahun
Rata-rata
Prop. Jabar
Prop. Jateng
D.I. Jogya
Prop. Bali
28,87
80,50
53,50
70,00
78,50
0,47
2,86
1,20
1,75
2,55
Rata-rata
prop. Jabar
Prop. Jateng
Prop. D.I. Jogya
Prop. Bali
70,62
81,00
88,00
89,00
72,00
2,09
5,46
4,45
5,34
4,12
35 - 44
Tahun
Rata-tata 82;50 4,84
4. Pencegahan Penyakit Karies - Gigi pada anak-anak SD
dengan minum teh, Tahun 1984 sampai sekarang.
·
Tujuan : Mendapatkan informasi tentang efektivitas air teh
dalam penggunaannya untuk mencegah penyakit karies gigi.
·
Hasil:
Tabel 1. Jumlah gigi lama (G-0) lubang pada mass sebelum program
menurut
kelompok
pada
tahun
1984-1987
Kelompok
Jumlah
Anak
Jumlah
Gigi
Jumlah Gigi
Lubang
%
Minum Teh
Tanpa Teh
299
293
1828
1870
231
253
12,6
13,5
Tabel 2. Jumlah gigi lama dan baru 1 (G-0 + G-1) lubang pada akhir
tahun pertama program menurut kelompok pada tahun
1984-1985
Kelompok
Jumlah
Anak
Jumlah
G-0 + G-1
G-0 + G-1
Lubang
%
Minum Teh
Tanpa Teh
221
203
2144
2198
190
290
8,9
13,5
Tabel 3. Jumlah gigi G-1 lubang pada akhir tahun pertama program
menurut
kelompok
pada
tahun
1984-
1987
Kelompok
Jumlah
Anak
Jumlah
G - 1
G - 1
Lubang
%
Minum Teh
Tanpa Teh
221
203
766
816
4
20
0,5
2,5
Cermin Dunia Kedokteran No. 50, 1988
14
Tabel 4. Jumlah gigi G-0 + G-1 + G-2 lubang pada akhir tahun ke-
dua
program
menurut
kelompok
Kelompok
Jumlah
Anak
G-0 + G-1
+ G-2
Lubang %
Minum Teh
Tanpa Teh
209
184
2674
2548
211
316
7,9
12,4
Tabel 5. Jumlah G-1 + G-2 lubang pada akhir tahun I edua program
menurut
kelompok
pada
tahun
1984-
1987
Kelompok Ana
dun
k
G-1 + G-2
Lubang
%
Minum Teh
Tanpa Teh
209
184
1366
1289
16
49
1,2
3,8
Tabel 6. Jumlah gigi G-1 lubang pada akhir tahun kedua program me-
nurut
kelompok
pada
tahun
1984-
1987
Kelompok Anak G-1 Lubang %
Minum Teh
Tanpa Teh
209
184
710
696
9
31
1,3
4,5
Tabel 7. Jumlah gigi G-2 lubang pada akhir tahun kedua program me
nurut
kelompok
pad tahun 1984- 1987
Kelompok
Junilah
Anak
G-2 Lubang %
Minum Teh
Tanpa Teh
209
184
656
593
7
18
1,1
3,0
Kesimpulan: karies pada anak-anak yang diberi minum teh,
lebih kecil dari kelompok yang tidak diberi minum teh.
5. Evaluasi Pelayanan Medik Gtgi di Puskesmas, Tahun 1985
- 1986.
·
Tujuan :
a.
mengetahui pencapaian hasil kegiatan pelayanan kesehatan
gigi dalam stratifikasi Puskesmas.
b.
mengetahui sejauh mina kemampuan pelayanan medik gigi
di Puskesmas sesuai dengan tenaga dan saran yang ada.
c.
mengetahui keadaan sarana/peralatan kesehatan gigi di Pus-
kesmas.
d.
mengetahui sejauh mana kemampuan prokesa dalam pe-
layanan kesehatan dasar (Primary Health Care).
·
Hasil :
Tabel 1. Prosentase Puskesmas menurut katagori baik/cukup/kurang
(sebagai yang ditetapkan Direktorat Jenderel Bina Kesehatan
Masyarakat) di wilayah Pengembangan I dan II, dengan dan
tanpa tenaga kesehatan gigi pada tahun 1985-1986
Total
PKM dengan Tenaga
Kesehatan Gigi
PKM tanpa Tema
Kesehatan Gigi
Wilayah
Pengembangan
Sampel Baik Cukup Kurang
Balk
>75%
std
Cukup
>50-
<75
Kurang
<50
I. Prop. Jabar
39
59% 28%
13%
60% 10%
30%
dan
Jateng
II. Prop. Sulut
8 44%
28% 28% 0%
0%
100%
dan
Sumbar
Tabel 2. Prosentase Puskesmas menurut katagori baik/cukup/kurang
(sebagai yang ditetapkan Direktorat Jenderal Bins Kesehatan
Masyarakat di wilayah Pengembangan I dan II, daerah Per-
kotaan dan Pedesaan pada tahun 1985-1986
Puskesmas Perkotaan Puskesmas Pedessan
Wilayah
Pengembangan
Total
Sampel
Balk Cukup Kurang Balk Cukup Kurang
I. Prop. Jabar,
dan Jateng
II. Prop.Sulut,
dan Sumbar
39
8
71%
40%
29%
40%
28%
56%
67%
22%
22%
33%
Tabel 3. Prosentase Puskesmas strata I, II dan III dengan katagori
baik/cukup/kurang (sebagai yang ditetapkan Direktorat
Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat) di wilayah
Pengembangan I dan It, pada tahun 1985-1986.
PKM
Strata I
PKM
Strata II
PKM
Strata III
Wilayah
Pengem
bangan
B C
K B C K
B
C
K
I. Jabar dan
Jateng
II. Sulut dan
Sumbar
75%
67%
25%
33%
59%
50%
19%.
25%
22%
25%
75%
100%
25%
B = Baik; C = Cukup; K = Kurang.
Tabel 4. Nilai kegiatan rata-rata Puskesmas di wilayah Pengembangan I
dan II, dengan tanpa tenaga,Kesehatan Gigi, di Perkotaan dan
Pedesaan serta Puskesmas Strata 1, II dan III. path tahun 1985-
1986
Wilayah
Pengembangan
Wilayah
Pengembangan I
Nilai Kegiatan
Wilayah
Pengembangap II
Nile Kegiatan
1. Dengan tenaga Kes. Gigi
2. Tanpa tenaga Kes. Gigi
3. Perkotaan
4. Pedesaan
5. Strata I
6. Strata II
7. Strata III
239
224
247
233
277
223
237
282
109
285
218
290
270
130
6. Pelayanan Kesehatan Gigi di Rumah Sakit Swasta, Tahun
1985 -1986.
·
Tujuan : mendapatkan informasi upaya pelayanan kesehat-
an pada Rumah Sakit Swasta, mengenai :
a.
mutu dan jenis pelayanan,
b.
ketenagaan,
c.
peralatan,
d.
sistem rujukan,
e.
jangkauan pelayanan kesehatan gigi oleh Rumah saklt
Swasta,
f.
tarif perawatan.
Hasil nanti dalam proses analisis dan evaluasi.
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 15