493
| SEPTEMBER - OKTOBER 2010
PENDAHULUAN
PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kro-
nis) merupakan masalah kesehatan
dunia. Diperkirakan sekitar 600 juta
penduduk dunia menderita penyakit
ini. PPOK merupakan penyebab kema-
tian nomor 4, tetapi diperkirakan akan
menjadi nomor 3 pada tahun 2020
(1)
.
Prevalensi PPOK lebih tinggi di nega-
ra berkembang
(2)
. Data BBKPM (Balai
Besar Kesehatan Paru Masyarakat)
Surakarta menunjukkan bahwa jumlah
pasien baru yang terdiagnosis PPOK
pada bulan Januari Juni 2009 di BB-
KPM Surakarta berjumlah 253 orang.
Landasan Teori
PPOK adalah penyakit berkarakteris-
tik pembatasan aliran udara ekspirasi
pada saluran napas yang tidak sep-
enuhnya reversibel, progresif, dan ber-
hubungan dengan inflamasi abnormal
terhadap gas dan partikel berbahaya
(3)
.
Faktor risiko PPOK endogen dan ek-
sogen. Faktor endogen adalah gene-
tik (defisiensi 1 antitripsin) dan hip-
eraktivitas bronkhus. Faktor eksogen
berupa merokok, polusi (debu, bahan
kimia, infeksi), dan status ekonomi so-
sial
(4)
.
PPOK ditandai inflamasi kronik saluran
napas, baik parenkim maupun vasku-
larisasi, selain ketidakseimbangan
proteinase dan antiproteinase di paru
serta adanya stres oksidatif
(5)
.
Kerusakan jaringan akibat inflamasi
pada PPOK bisa terjadi di dua tem-
pat, yaitu saluran pernapasan dan
perenkim paru. Di saluran pernapasan
terjadi inflamasi dan remodeling,
mengakibatkan hambatan pada salu-
ran pernapasan yang disebut sebagai
bronkhitis kronis; sedangkan pada
parenkim mengakibatkan destruksi
PPOK : Spirometri vs. Foto Thorax PA
Puspita Sari Sugiyarto Putri, JB Prasodjo, Bhisma Murti, Suyono, Sri Haryati
Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Indonesia
ABSTRAK
Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) adalah suatu penyakit dengan karakteristik pembatasan aliran udara di saluran
napas yang tidak sepenuhnya reversibel, progresif, dan berhubungan dengan inflamasi abnormal terhadap gas dan
partikel berbahaya. Diagnosis PPOK dapat ditegakkan menggunakan pemeriksaan spirometri dan foto thorax postero-
anterior (PA), tetapi kesepakatan antara dua diagnosis penunjang tersebut belum diketahui.
Penelitian dilakukan di BBKPM Surakarta pada pada bulan Desember 2008 Januari 2009; bersifat observasional analitik
dengan pendekatan cross sectional.
Tujuan : untuk mengetahui kesepakatan antara pemeriksaan spirometri dan foto thorax PA.
Sampel : 30 pasien dipilih dengan teknik fixed disease sampling.
Instrumen : alat spirometri dan foto thorax PA.
Data dianalisis menggunakan koefisien kesepakatan Kappa Cohen dan chi kuadrat melalui program SPSS 16.0 forWin-
dows. Hasil : koefisien kesepakatan Kappa Cohen = 0.27 dan nilai p = 0.143.
Kesimpulan : terdapat kekuatan kesepakatan yang rendah antara pemeriksaan spirometri dan foto thorax PA pada
penderita PPOK dan secara statistik tidak terdapat hubungan signifikan.
Disarankan untuk meningkatkan ketelitian intra pengamat dalam membaca foto thorax PA untuk diagnosis yang lebih
akurat. Juga disarankan untuk memberi informasi kepada pasien tentang prosedur spirometri dan meminta kerjasama
pasien, sehingga pemeriksaan memberikan hasil yang valid.
Kata kunci: Spirometri-Foto Thorax PA-PPOK
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 493
8/26/2010 3:38:36 PM
495
| SEPTEMBER - OKTOBER 2010
serat elastis, sehingga elastic recoil
menurun, terjadi air trapping dan
kerusakan dinding alveoli yang dis-
ebut emfisema
(6).
Asap rokok menginduksi makrofag
dan sel epitel. Makrofag melepaskan
mediator TNF- yang akan merekrut
netrofil ke tempat inflamasi dan IL-8
yang juga akan merekrut netrofil ke
tempat inflamasi dan mempengaruhi
fibroblas, sehingga terjadi proliferasi
dan fibrosis jaringan pengikat. Sel epi-
tel menghasilkan mediator LTB
4
yang
juga merekrut netrofil. Makrofag dan
netrofil juga menghasilkan protease
yang mampu memecah elastin dan
makromolekul lain pada paru. Proses
ini dipercepat dengan adanya ok-
sidan yang juga terdapat pada rokok.
Oksidan dapat bereaksi dan merusak
berbagai molekul biologi yang dapat
menyebabkan disfungsi dan kematian
sel serta menyebabkan ketidakseim-
bangan protease-antiprotease dan
inflamasi serta penyempitan saluran
napas.
Selain itu, makrofag juga mengak-
tifkan sel limfosit, terutama CD8+
(sitotoksik); keduanya memiliki efek
saling menguatkan, makin banyak sel
limfosit, makin banyak pula makrofag,
begitu pula sebaliknya. Limfosit akan
mengeluarkan perforin, granzyme-B
dan TNF yang dapat menyebabkan
sitolisis dan apoptosis sel epitel al-
veolar yang bertanggung jawab atas
inflamasi persisten. Proses inflamasi
yang terjadi menyebabkan hipersekre-
si mukus, fibrosis, dan proteolisis
(5,7-10).
.
Pada usia lanjut dengan gejala sesak
napas, batuk kronis, produktif, dan
adanya riwayat terpapar faktor risiko
maka dicurigai PPOK. Diagnosis PPOK
dapat ditegakkan dengan pemeriksa-
an penunjang spirometri dan foto tho-
rax posteroanterior (PA)
(3)
.
Metode Penelitian
Penelitian kesepakatan antara pemer-
iksaan spirometri dan foto thorax PA
dilakukan di BBKPM Surakarta pada
Desember 2008 Januari 2009 ber-
sifat observasional analitik dengan
pendekatan cross sectional. Sampel
30 pasien dipilih dengan teknik fixed
disease sampling.
Instrumen penelitian menggunakan
spirometer dan foto thorax PA.
Pemeriksaan spirometri:
Pemeriksaan spirometri adalah peng-
ukuran volume paru statik dan dina-
mik menggunakan spirometer. Peme-
riksaan dilakukan dengan: penderita
berdiri tegak atau duduk, kemudian
menghisap udara semaksimal mung-
kin dan meniupkannya melalui mouth-
piece yang rapat dimasukkan ke dalam
mulut sekuat-kuatnya dan secepat-
cepatnya sampai semua udara keluar
sebanyak-banyaknya. Pemeriksaan di-
lakukan sampai diperoleh 3 nilai yang
dapat diterima. Apabila sampai 8 kali
usaha tidak mendapatkan 3 nilai, maka
sebaiknya pemeriksaan dijadual ulang
(11)
.
1) Forced Vital Capacity (FVC): in-
struksikan pasien bernapas bebe-
rapa kali seperti biasa, tarik napas
sedalam-dalamnya, lalu dengan
cepat dan kuat, hembuskan napas
sedalam, sekosong serta secepat
mungkin (pembuangan napas
harus disentak dan dipaksa tahan
selama 3 detik).
2) Slow Vital Capacity: instruksikan
pasien bernapas beberapa kali
seperti biasa, tarik napas sedalam-
dalamnya, jangan disentak, tetapi
jangan ditahan, setelah penuh,
buang napas seperti biasa sam-
pai kosong.
3) Maximum Voluntary Ventilation:
instruksikan pasien bernapas be-
berapa kali seperti biasa, tarik na-
pas lalu hembuskan secepat dan
sedalam mungkin berkali-kali se-
lama 12 detik.
Diagnosis PPOK dengan spirometri
jika didapati : FEV
1
/FVC (forced expi-
ratory ratio) < 70%, penurunan FEV
1,
obstruksi yang menetap dan pro-
gresif serta sebagian besar irreversibel
(hanya < 12% yang bisa pulih dengan
bronkhodilatator)
(7).
Foto thorax PA
Teknik: penderita berdiri di antara film
dengan sumber sinar membelakangi
sumber sinar dengan dada bagian
ventral menempel film kemudian ta-
ngan penderita tolak pinggang dan
siku dikedepankan (agar scapula tidak
menutup lapangan paru), sinar diarah-
kan dengan sentrasi pada vertebra
torakal VI-VII kemudian penderita ins-
pirasi maksimal dan tahan napas
(12)
.
Pada foto thorax PA bisa dijumpai
bronkhitis kronis dan atau emfisema.
Trakea dan bronkhus mayor memperli-
hatkan bayangan tubular berisi udara.
Bayangan tubular akibat penebalan
dinding dapat terlihat hanya sampai
bronkhus intermediet kanan dan lobus
bawah bronkhus kiri, tetapi minimal. Di
luar hilus dan area di atas, bayangan
bronkhial bercampur dengan bayan-
gan alveoli yang pada keadaan normal
tidak terlihat; bayangan ini antara lain
akibat inflamasi bronkhus kronis yang
disertai dengan hipertrofi muskular
dan hiperplasi kelenjar
(13)
.
Penambahan ukuran paru anterior-
posterior akan menyebabkan bentuk
thorax barrel chest, sedang penamba-
han ukuran paru vertikal menyebab-
kan diafragma letak rendah dengan
bentuk diafragma yang datar dan
pelebaran rongga interkostalis karena
udara yang terjebak dalam alveoli.
Aerasi paru yang bertambah di selu-
ruh paru, lobaris ataupun segmental,
akan menghasilkan bayangan lebih
radiolusen, sehingga corakan jaringan
paru tampak lebih jelas selain gamba-
ran fibrosisnya dan vaskuler paru yang
relatif jarang
(14).
HASIL
Data dianalisis menggunakan koe-
fisien kesepakatan Kappa Cohen dan
Chi kuadrat melalui program SPSS
16.0 for Windows. Hasil menunjukkan
koefisien kesepakatan Kappa Cohen =
0.27 dan nilai p = 0.143 (tabel 3).
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 495
8/26/2010 3:38:42 PM
496
| SEPTEMBER - OKTOBER 2010
SIMPULAN
Terdapat kekuatan kesepakatan yang
rendah antara pemeriksaan spirome-
tri dan foto thorax PA pada penderita
PPOK (Kappa = 0.27) dan secara statis-
tik tidak terdapat hubungan signifikan
(p = 0.143).
Beberapa kendala penelitian ini,
antara lain: sulitnya teknik pemerik-
saan spirometri, sehingga mungkin
ada kekurangan dalam penilaian;
faktor subjektifitas dalam pemba-
caan foto thorax PA; PPOK memiliki
beberapa stadium, sedangkan gam-
baran obstruksi pada foto thorax PA
baru tampak pada stadium yang su-
dah berat; tingkat pendidikan dan
usia. Rata-rata pasien PPOK di BBKPM
berpendidikan rendah dan berusia
lanjut sehingga sulit diarahkan untuk
melakukan prosedur spirometri yang
baik dan benar.
DAFTAR PUSTAKA
1. COPD Foundation. COPD statistics. http://
www.copdfoundation.org/. Diakses 3 Juli 2008.
2. PDPERSI 2003. 2020, Perokok di dunia capai
1,6 miliar orang. http://pdpersi.co.id/?show=
detailnews&kode=1397&tbl=cakrawala. Diak-
ses 8 Agustus 2008.
3. GOLD 2006. Global strategy for the diagno-
sis, management, and prevention of chronic
obstructive pulmonary disease. http://www.
who.int/respiratory/ copd/GOLD_WR_06.pdf.
Diakses 17 Oktober 2008.
4. Surjanto E, Reviono, Nugroho H. New insight
of COPD. Temu Ilmiah Respirologi 2003. hal:
117-131.
5. Surjanto E, Setijadi AR. Patogenesis PPOK.
Temu Ilmiah Respirologi 2003. hal: 49-73.
6. Alsagaff H. COPD overview. Pendidikan Kedok-
teran Berkelanjutan VII Ilmu Penyakit Paru. Nas-
kah Lengkap Chronic Obstructive Pulmonary
Disease. Surabaya, 9 Oktober 2004. hal: 1-6.
7. Hansel T, Barnes PJ. An atlas of chronic ob-
structive pulmonary disease. London: The Par-
thenon Publ. Group. 2004.
8. Amin M. Perkembangan konsep patogenesis
penyakit paru obstruktif kronik. Pendidikan Ke-
dokteran Berkelanjutan VII Ilmu Penyakit Paru.
Naskah Lengkap Chronic Obstructive Pulmo-
nary Disease. Surabaya, 9 Oktober 2004, hal:
95-100.
9. Robbins SL, Kumar V. Buku Ajar Patologi II.
Edisi 4. Jakarta: EGC, 1995.hal: 138-143.
10. Averyanov AV, Polivanoval AE, Zykov KA, Kaz-
nacheeva E.I, Tkachev G.A. The interrelation
between inflammation markers and protease-
antiprotease status in blood serum in patients
with stable COPD. 2007.http://www.erj.ers-
journals.com/cgi/reprint/20/4/793.pdf. Diak-
ses 17 Oktober 2008.
11. PDPI Solo. Pemeriksaan faal paru. Workshop
Asma. Surakarta 12 April 2003, hal: 4-6.
12. Soeroso L. Atlas radiologi dan ilustrasi kasus.
Jakarta : EGC, 2004. hal : vi.
13. Meschan I. Synopsis of analysis of roentgen
signs in general radiology. WB Saunders Co.
1976. hal: 315.
14. Rasad S. Radiologi diagnostik. Edisi 2. Jakarta:
Gaya Baru, 2006.hal: 85-86.
15. Murti B. Desain dan ukuran sampel untuk pe-
nelitian kuantitatif dan kualitatif di bidang kes-
ehatan. Yogyakarta : Gadjah Mada University
Press, 2006.Hal: 68-69; 135-137.
16. Murti B. Penerapan metode statistik non
parametrik dalam ilmu-ilmu kesehatan. Ja-
karta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1996.hal :
156-162.
Tabel 1. Karakteristik sampel menurut jenis kelamin
Variabel
Frekuensi
Persen
Jenis kelamin
Laki-laki
-
20
66.7
Perempuan
-
10
33.3
Total
30
100.0
Tabel 2. Karakteristik sampel menurut umur
Variabel
n
Mean
SD
Umur (tahun)
30
53.2
10.9
Tabel 3. Hasil analisis kesepakatan antara hasil pemeriksaan spirometri dan foto thorax PA pada penderita PPOK
Hasil pemeriksaan foto
thorax PA
Koefisien
Kesepakatan
Kappa Cohen
p*
Tidak PPOK
PPOK
Hasil pemeriksaan spirometri
Tidak PPOK
-
9 (64.3%)
5 (35.7%)
0.27
0.143
PPOK
-
6 (37.5%)
10 (62.5%)
*) Uji Chi Kuadrat
SARAN
Pemeriksa diharapkan meningkatkan
ketelitian intra pengamat dalam mem-
baca foto thorax PA untuk diagnosis
yang lebih akurat. Pemeriksa juga
diharapkan memberikan informasi
prosedur spirometri kepada pasien
dan meminta kerjasama pasien agar
hasilnya valid.
Klinisi harus tetap memegang prinsip
terpenting dalam menegakkan diag-
nosis adalah anamnesis. Setelah itu
pemeriksaan fisik, baru kemudian pe-
meriksaan penunjang.
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 496
8/26/2010 3:38:42 PM