background image
415
| AGUSTUS 2010
PENDAHULUAN
Karsinoma nasofaring (KNF) di In-
donesia menduduki urutan pertama
keganasan kepala-leher dan urutan
ke-empat setelah keganasan serviks,
payudara dan kulit Insiden tumor ini
meningkat pada akhir dekade ke dua
dan mencapai puncak pada umur 40-
50 tahun dengan perbandingan pria
dan wanita 2 : 1 sampai 4:1.
1,2
Menurut Survai Departemen Kes-
ehatan 1987, angka prevalensi KNF
di Indonesia adalah 4,7 per 100,000
penduduk per tahun. Di bagian THT
RSCM,
KNF menempati urutan per-
tama dari seluruh tumor ganas kepala-
leher, dan hampir setengahnya pen-
derita baru
3
Di RSUP H. Adam Malik
Medan ditemukan 130 penderita KNF
dari 1370 kasus baru tumor kepala dan
leher dari tahun 1998-2002.
4
Tumor ganas ini dapat mengenai se-
mua golongan usia dan berpotensi
menyebar cepat ke jaringan sekitar
dan bermetastasis jauh. Biasanya pen-
derita datang berobat setelah menca-
pai stadium lanjut, dengan gejala pe-
nyebaran berupa pembesaran kelenjar
getah bening di leher dan kelainan
saraf kranial
3
'
4
Kelainan saraf kranial berhubungan
dengan perluasan tumor ke jaringan
sekitar dan invasi tumor yang menga-
kibatkan erosi dasar tengkorak.
5
Well
(1963) menemukan adanya erosi pada
tulang tengkorak mummi dari Mesir
yang diduga disebabkan oleh KNF.
6
Di Indonesia perluasan tumor ke arah
atas lebih sering ditemukan, terbanyak
mengenai saraf kranial VI.
7
Muyassaroh
menemukan proporsi kelainan saraf
kranial sebesar 27,7 % dari 141 kasus
KNF dan yang terbanyak adalah saraf
kranial VI,
8
Furukawa menemukan ke-
lainan saraf kranial akibat perluasan
tumor sebanyak 18%.
4
Tumor yang
meluas ke posterior dapat menyebab-
kan kelainan saraf hipoglosus. Chong
menemukan kelainan saraf hipoglosus
75% dari 16 pasien KNF.
9
Sham men-
emukan erosi tulang tengkorak 31,3%
dari 262 kasus KNF yang ditelitinya.
10
Di RSUP H. Adam Malik Medan belum
ada data mengenai kelainan saraf kra-
nial dan erosi dasar tengkorak pada
penderita karsinoma nasofaring. Pe-
nelitian ini bertujuan untuk mengeta-
hui erosi dasar tengkorak dan kelainan
saraf kranial pada penderita KNF.
BAHAN DAN CARA
Penelitian dilakukan secara deskriptif
analitik dengan metode cross sectio-
nal. Populasi penelitian adalah semua
penderita yang dicurigai menderita
karsinoma nasofaring berdasarkan
anamnesis dan pemeriksaan THT-KL
Sampel penelitian adalah semua pop-
ulasi yang memenuhi kriteria inklusi
dan eksklusi.
- Kriteria Inklusi:
Penderita KNF yang diagnosisnya
ditegakkan berdasarkan hasil peme-
riksaan histopatologis tumor di naso-
faring.
- Kriteria Eksklusi:
Penderita dengan kelainan saraf kra-
nial yang tidak disebabkan oleh KNF
seperti stroke, tumor kepala leher
selain karsinoma nasofaring, trauma
kepala dan penyakit infeksi telinga.
Besar sampel ditentukan berdasarkan
jumlah kasus yang didapat selama
rentang waktu penelitian mulai dari
Januari 2004 sampai Desember 2004.
Tempat penelitian di Bagian Ilmu Pe-
nyakit THT-KL FK USU / RSUP H. Adam
Malik Medan.
Erosi Dasar Tengkorak dan Kelainan Saraf Kranial
pada Penderita Karsinoma Nasofaring
di RS. H. Adam Malik Medan
Del tri Munir, Ramsi Lutan, Muzakkir Zam-Zam, Chairul Abdi
Bagian Telinga Hidung Tenggorok - Kepala Leher, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara, Medan
ABSTRAK
Erosi dasar tengkorak dan kelainan saraf kranial merupakan komplikasi karsinoma nasofaring (KNF). Komplikasi ini dapat
disebabkan oleh tumor primer atau metastasis.
Pada 37 penderita KNF.di RS H Adam Malik, Medan selama tahun 2004 dijumpai 27% dengan erosi dasar tengkorak dan
59,5% dengan kelainan saraf kranial, terutama n. VI.
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 415
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 415
7/23/2010 10:33:03 PM
7/23/2010 10:33:03 PM
background image
417
| AGUSTUS 2010
Responden yang memenuhi kriteria
inklusi dicatat semua data yang dibu-
tuhkan sesuai dengan kuesioner yang
telah disiapkan. Kemudian dilakukan
pemeriksaan radiologi untuk meneliti
adanya erosi dasar tengkorak akibat
KNF ; selanjutnya penderita dikon-
sultasikan ke bagian Neurologi untuk
mengetahui adanya kelainan saraf kra-
nial yang disebabkan oleh KNF.
Data disusun dalam bentuk tabel dan
dianalisis secara statistik dengan pro-
gram Window SPSS versi 10,1.
HASIL PENELITIAN
Tabel 1. Distribusi erosi dasar tengkorak pasien
KNF.
Jumlah
%
Tabel 2. Distribusi kasus Kelainan Saraf Kranial
pasien KNF
Jumlah
%
Tabel 3. Distribusi kelainan saraf kranial pasien
KNF
Lesi saraf kranial
Jumlah
%
I
2
5,4
II
4
10,8
III
15
40,5
IV
13
35,1
V
15
40,5
VI
18
48,6
VII
9
24,3
VIII
4
10,8
IX
14
37,8
X
14
37,8
XI
1
2
;
7
XII
11
29,7
Kelainan saraf kranial yang terbanyak
dijumpai akibat KNF adalah saraf VI
(18 - 48,6 % ).
Tabel 4. Hubungan Erosi Dasar Tengkorak dengan-
Kelainan Saraf kranial pada pasien KNF
Erosi dasar tengkorak
-
+
Total
Kelainan -
15
-
15
Tabel 5. Distribusi kelompok umur pasien KNF
Umur
Jumlah
%
20-29
3
8,1
30-39 4 10,8
40-49 13
35,1
50-59 12 32,4
60-69 2
5,4
70-79 3
8,1
Total
37
Tabel 6. Distribusi jenis kelamin pasien KNF
Jumlah
%
Pria
Wanita
29
8
78,4
21,6
Jumlah
37
100
Tabel 7. Distribusi suku pasien KNF
Jumlah
%
Batak 17
45,9
Jawa 9
24,3
Aceh 7
18,9
Minang
2
5,4
Melayu 1
2,7
Nias 1
2,7
Jumlah
37
Penderita KNF terbanyak pada go-
longan umur 40 -49 tahun (35,1 % ).
Termuda 20 tahun dan paling tua 78
tahun, Perbandingan pria dan wanita
adalah 3,63 : 1, sedangkan suku bang-
sa penderita KNF yang terbanyak ada-
lah suku Batak (49,5 %),
Tabel 8. Distribusi jenis histopatologis tumor
Histipatotogis Jumlah
%
Undifferentiated Ca
17 45,9
Non Keratinizing Ca
16 43,2
Keratinizing Squamous Ca
4 10,8
Jumlah 37
Tabel 9. Distribusi stadium tumor
Stadium Jumlah
%
Stadium
1 2,7
Stadium III
25
67,6
Stadium IV
11
29,7
Total 37
Jenis histopatologis yang terbanyak
adalah tipe III yaitu Undifferentiated
Carcinoma (45,9 %) dan stadium tu-
mor yang terbanyak dijumpai adalah
stadium III (67,6 %).
PEMBAHASAN
Erosi dasar tengkorak akibat tumor
didapatkan pada 10 (27 %) dari 37 ka-
sus (tabel 1). Effendi menjumpai erosi
dasar tengkorak akibat KNF (Karsino-
ma Nasofaring) pada 19 kasus (47,50
%) dari 40 penderita KNF.
6
Godtfred-
sen menjumpai erosi dasar tengkorak
20% dari 454 kasus KNF.
5
Sedangkan
Roh menjumpai 38,6% dari 119 pasien
KNF yang ditelitinya.
11
Pada penelitian ini didapatkan 22 (59,5
%) kasus KNF dengan kelainan saraf
kranial, yang terbanyak adalah saraf
kranial VI (48,6 %). Pada penelitian Ef-
fendi atas 40 kasus KNF di RS. Dr. Pirn-
gadi Medan ditemukan 31 kasus (77,5
%) dengan kelainan saraf kranial, yang
terbanyak adalah saraf V (51, 61 %).
6
Muyassaroh di Semarang menemukan
kelainan saraf kranial terbanyak adalah
saraf VI (92,3 %).
8
Dari data beberapa
pusat pendidikan dokter di Indonesia,
15 - 30 % penderita KNF mengalami
kelainan saraf kranial; terbanyak pada
saraf VI. Sedangkan di luar negeri ke-
lainan saraf kranial tercatat lebih tinggi
yaitu 40 - 50 %, dan yang terbanyak
adalah saraf V.
9,10,11
Ilhan dalam peneliti-
annya menjumpai kelainan saraf krani-
al pada 16% dari 166 kasus KNF ; 57,2%
adalah kelainan saraf kranial VI.
12
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 417
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 417
7/23/2010 10:33:03 PM
7/23/2010 10:33:03 PM
background image
418
| AGUSTUS 2010
Terdapat hubungan yang bermakna
antara 22 kasus kelainan saraf kranial
dengan 10 kasus yang mengalami
erosi dasar tengkorak (p < 0
.
05). (tabel
4). Hal ini berbeda dengan penelitian
Effendi (1984)
6
yang tidak menemukan
hubungan antara erosi dasar tengko-
rak dengan kelainan saraf kranial pada
penderita KNF. Menurut Godtfredsen
yang dikutip dari Zaman (1977)
5
, leb-
ih dari separah gejala kelainan saraf
kranial penderita KNF yang diteliti
menunjukkan adanya erosi dasar teng-
korak.
Pada penelitian ini didapatkan 37
orang penderita KNF ; 29 orang pria
dan 8 orang wanita, Umur termuda
adalah 20 tahun dan tertua 78 tahun;
35,1 %. pada kelompok umur 40 - 49
tahun (tabel 5) ; sama dengan peneli-
tian Gosal (1977)
12
di Ujung Pandang.
Sedangkan Roezin di Jakarta (1977)
13
mendapatkan 28,1 %, Zainuddin di
Padang (1977)
14
38,6 % dan Lutan 35,8
% di Medan (1986).
l
° Dari data terse-
but dapat disimpulkan bahwa insiden
KNF tertinggi adalah pada dekade ke-
empat
Perbandingan pria dan wanita adalah
3,63 : 1 (tabel 6). Lutan (2003)
4
menda-
patkan perbandingan pria dan wanita
3:1, Susilo (1995)
16
di Semarang 2 : 1,
dan Yong-sheng (1983)
17
di Guang-
dong 2,21 : 1.
Suku bangsa yang terbanyak men-
derita KNF adalah suku Batak (45,9
%).(tabel 7) Demikian juga dengan
penelitian Lutan (1986)
10
mendapat-
kan suku Batak 50 %. Kalangan suku
bangsa Cina Selatan, baik yang bera-
da di negara Cina maupun yang men-
jadi imigran di penjuru dunia memiliki
angka kejadian KNF tertinggi diband-
ing suku-suku lainnya,
19,20
Hal ini mungkin karena suku Batak
merapakan etnis terbanyak di Sumat-
era Utara, dan RSUP H. Adam Malik
Medan tempat penelitian ini dilakukan
tidak menggambarkan kunjungan ber-
obat dari seluruh suku-suku yang ada
di kota Medan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Hulu O. Karsinoma nasofaring pada pada
anak. Kumpulan Naskah Konas XII Perhati
1999; 25-32.
2. Hadi W. Aspek klinis dan histopatologi karsi-
noma nasofaring (Tinjauan 29 kasus). Kumpu-
lan Naskah Konas XII Perhati 1999; 1001-7
3. Soetjipto D. Karsinoma nasofaring, Dalam:
Tumor Telinga Hidung Tenggorok diagnosis &
penatalaksanaan FK-UI. Jakarta 1989; 71-82.
4. Lutan R. Diagnosis dan penatalaksanaan karsi-
noma nasofaring. Kumpulan Naskah KONAS
XIII PERHATI 2003; 16.
5. Zaman M. Karsinoma nasofaring. Paralisis ner-
vus abducen yang bilateral dengan destruksi
os sphenoidale. Kumpulan Naskah Konas Per-
hati V 1977; 539-44
6. Effendi S. Tumar ganas nasofaring dengan ke-
lainan neurologi dan kerusakan dasar tengko-
rak di RS Dr. Pirngadi Medan. Tesis. 1984.
7. Soeleiman S. Hubungan Gambaran makrosko-
pis karsinoma nasofaring pada pemeriksaan
nasofaringoskopi dengan histopatologis. Tesis
1999.
8. Muyassaroh. Kelainan neurologi pada karsi-
noma nasofaring di SMF THT RSUP Dr. Ka-
riadi Semarang tahun 1996 - 1998. Kumpulan
Naskah Konas Perhati XII1999; 1132-9
9, Chong VF, Fan YF. Hypoglossal nerve palsy in
nasopharyngeal carcinoma. Eur Radiol 1998;
8(6): 939-45
10. Sham JS, Cheng YK, Choy D, Chan FL, Leong
L. Cranial nerve involvement and base of skull
erosion in NPC. Cancer 1991; 68(2): 422-6
11. Roh JL, Sung MW, Kim KH, Chi BY, Oh SH,
Rhee CS. Nasopharyngeal carcinoma with
skull base invasion: a necessity of staging sudi-
vision. Am J Otolaryngol 2004; 25(l):26-32
12. Ilhan O, Sener EC, Ozyar E. Outcome of ab-
ducens nerve paralysis in patiens with na-
sopharyngeal carcinoma. Eur J Ophthalmol
2002; 12(1): 55-9 13. 13. Siregar P. Manifestasi
neurologi karsinoma nasofaring. Kumpulan
Naskah Konas Perhati V 1977; 545 - 51
14. Lutan R, Efendi S
s
Aboet A . Kerusakan pada
dasar tengkorak suspek oleh karena infi ltrasi
dari karsinoma nasofaring. Kumpulan Naskah
Konas VIII Perhati 1986; 117-121
15. Bambang SS. Diagnostik klinik kanker nasofar-
ing. Kumpulan Naskah Seminar Kanker Naso-
faring. Yayasan Kanker Wilayah Jawa Tengah.
1998; 17- 42.
16. Gosal. Insidens minimum tumor ganas naso-
faring di Ujung Pandang. Kumpulan Naskah
Konas V Perhati 1977; 565 - 571.
17. Roezin A. Gejala telinga pada karsinoma na-
sofaring. Kumpulan Naskah Konas V. Perhati
1977; 588-593.
18. Zainuddin MZ. Frekuensi tumor ganas naso-
faring di Sumatera Barat Kumpulan Naskah
Ilmiah Konas V Perhati 1977; 599 - 605
19. Susilo N, Wiratno. Karsinoma nasofaring di
SMF THT RSUP Dr. Kariadi Semarang Tahun
1990-1994. Kumpulan Naskah Konas X Perhati
1995; 1229 - 37.
20. Yong-Seng Z. Histopathologic types and
incidence of malignant nasopharyngeal tu-
mors in Zhongshan Country. Chinese Med. J.
1983; 96 (7): 511-6
21. Willard E, Fee Jr. Nasopharynx. Dalam: JP
Shah. ed Essential of Head and Neck Oncol-
ogy. Thieme: New York 1998; 205-10
22.
Mulyarjo. Diagnosis dan penatalaksanaan
karsinoma nasofaring, Disampaikan pada Pen-
didikan Kedokteran Berkelanjutan III Ilmu Pe-
nyakit THT-KL 2002.
23. Pathmanathan. Pathology in: Nasopharynge-
al carcinoma. 3
th
ed. Amour Publ., 1999. 6-12
Pada penelitian ini didapatkan jenis
histopatologis terbanyak adalah Un-
differentiated Ca (45,9 %). (tabel 8). Hal
ini sama dengan yang didapatkan oleh
Lutan (1986)
10
- 57,50 %, Susilo (1995)
16
- 55,47 %, dan Yong-sheng (1983)
17
di
Guangdong sebanyak 93,13 %. Pada
penelitian ini dijumpai jenis nonkera-
tinizing Ca sebanyak 16 kasus (43,2%).
Jumlah ini lebih banyak bila diband-
ingkan dengan di Taiwan (15%).
21
Stadium tumor terbanyak pada pe-
nelitian ini adalah stadium III (67,6 %),
dan hanya 1 kasus stadium II. (tabel 8).
Sesuai dengan Soeleiman (1999)
7
di
Medan yang mendapatkan 70 % kasus
adalah stadium III. Hal ini menunjuk-
kan bahwa sebagian besar penderita
KNF baru terdeteksi pada saat penya-
kitnya sudah lanjut
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 418
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 418
7/23/2010 10:33:04 PM
7/23/2010 10:33:04 PM