background image
332
| JULI - AGUSTUS 2010
lAtArBelAkAnG
Piriformis berasal dari 2 kata `pirum'
yang berarti buah pir dan `forma' yang
artinya bentuk. Pertama kali didefi-
nisikan oleh seorang ahli anatomi
dan botani Belgia, Adrian van der
Spieghel (1578 - 1625). Di tahun 1928,
Yeoman menyebutkan bahwa 36%
kasus ischialgia akibat artritis sacro-
iliaca ditransmisikan melalui musculus
piriformis. Pada tahun 1936, Shordania
mengenalkan istilah `piriformitis' atas
pengamatannya pada 37 perempuan
dengan ischialgia. Dan baru di tahun
1947 Robinson membuat terminologi
`sindroma piriformis'; beliau melapor-
kan bahwa musculus piriformis dan
jaringan fascia dapat menyebabkan
ischialgia.
1
Meskipun terjadi evolusi
diagnosis dan teknik modern se-
perti MRI, sindrom piriformis tetaplah
merupakan diagnosis eksklusi dan
kontroversial. Sebagian besar kontro-
versinya berakar dari relatif jarangnya
penegakan diagnosis sindrom pirifor-
mis dibandingkan dengan pengenal-
an dan tatalaksana penyebab iskialgia
yang berasal dari vertebrae lumbal.
2
EPIDEMIOLOGI
Nyeri punggung bawah dan iskialgia
adalah nyeri atau hipoestesi di area
pantat dan paha bagian posterior
dengan sesekali menjalar ke tungkai
bawah; merupakan keluhan umum
dengan insidensi sekitar 60­90% se-
lama hidup seseorang.
3
Frekuensi
sindrom piriformis diperkirakan ham-
pir 6% dari total kasus iskialgia dalam
praktek dokter keluarga di AS
4
, se-
mentara di Indonesia belum ada data.
Beberapa laporan menunjukkan rasio
angka kejadian perempuan dibanding
laki-laki 6:1.
5
ANATOMI
Musculus piriformis berbentuk pi-
ramida, rata, berasal dari permukaan
ventrolateral vertebrae sacrum 2 sam-
pai 4, kemudian melewati foramen
ischiadicum majus dan berada di se-
belah dorsal nervus ischiadicus sebe-
lum berinsersi di bagian superomedial
trochanter major os femur.
Musculus piriformis merupakan otot
rotator panggul paling proksimal.
Dengan panggul ekstensi, muscu-
lus piriformis berfungsi untuk rotasi
eksternal panggul. Bila panggul fleksi,
maka otot ini berfungsi sebagai ab-
duktor panggul.
6
Cabang saraf dari
L5, S1, dan S2 menginervasi musculus
piriformis. Musculus gemellus supe-
rior, musculus gemellus inferior, mus-
culus quadratus femoris, dan muscu-
lus obturator internus bekerja sinergis
dengan musculus piriformis. Banyak
variasi hubungan antara nervus ischia-
dicus dan musculus piriformis. Nervus
ischiadicus terdiri dari cabang radix
nervi L3 sampai S3; biasanya berjalan
anterior dari musculus piriformis dan
dorsal dari musculus gemellus setelah
keluar dari pelvis melalui foramen is-
chiadicum majus (Gambar 1).
7
PATOFISIOLOGI
Etiologi sindrom piriformis masih be-
lum jelas namun gejalanya mungkin
akibat neuritis bagian proksimal ner-
vus ischiadicus. Musculus piriformis se-
lain mengiritasi, dapat pula menekan
nervus ischiadicus, terkait dengan
spasme dan/atau kontrakturnya, prob-
lem ini menyerupai ischialgia diskoge-
nik (pseudoischialgia).
Berdasarkan etiologi, sindrom pirifor-
mis dapat dibagi atas penyebab prim-
er dan sekunder (Tabel 1). Penyebab
primer terjadi akibat kompresi saraf
langsung akibat trauma atau faktor
intrinsik musculus piriformis, termasuk
variasi anomali anatomi otot, hiper-
trofi otot, inflamasi kronik otot, dan
perubahan sekunder akibat trauma
semacam perlengketan. Penyebab
sekunder termasuk gejala yang ter-
kait lesi massa dalam pelvis, infeksi,
Sindrom Piriformis
Rizal
RS Dr. Oen Solo Baru, Sukoharjo, Jawa Tengah, Indonesia
TINJAUAN
PUSTAKA
Gambar 1. Tampilan posterior panggul yang
menunjukkan perjalanan nervus ischiadicus. Perha-
tikan posisi musculus piriformis dan musculi rotator
eksternal yang pendek memungkinkan terjadinya
kompresi di area tersebut.
Spina iliaca posterior
superior
M. Gluteus
minimus
A & N.
Gluteus
superior
M. Piriformis
Lig. Sacrotuberale
M. Gluteus medius
Mm. Obturator internus &
gemellus
A & N.
Gluteus
inferior
Trochanter major
Mm. Obturator eksternus
N. Ischiadicus
M. Quadriceps femoris
M. Gluteus maximus
N. Ischiadicus
CDK ed_178_a.indd 332
20/06/2010 21:46:55
background image
333
| JULI - AGUSTUS 2010
anomali pembuluh darah atau simpai
fibrosis yang melintasi saraf, bursitis
tendon piriformis, inflamasi sacroili-
aca, dan adanya titik-titik picu myofas-
cial. Penyebab lain dapat berasal dari:
pseudoaneurysma arteri gluteus infe-
rior, sindrom piriformis bilateral terkait
dengan posisi duduk yang berkepan-
jangan, cerebral palsy terkait dengan
hipertonus dan kontraktur, arthroplasti
panggul total seperti yang akan didis-
kusikan berikut, dan myositis ossifi-
cans.
1
Tabel 1: Penyebab Sindrom Piriformis
Primer
Sekunder
Trauma
Pyomyositis
Myositis ossificans
Dystonia musculorum
deformans
Hipertrofi
Adhesi
Fibrosis
Variasi anatomi
Hematoma
Bursitis
Pseduoaneurisma
Pronasi berlebihan
Massa
Anomali vassa
Simpai fibrosis
Hiperlordosis lumbal dan kontraktur
panggul pada posisi fleksi mening-
katkan regangan musculus pirifor-
mis juga cenderung menyebabkan
gejala sindrom piriformis. Pasien de-
ngan kelemahan otot-otot abduktor
atau ketimpangan panjang tungkai
bawah juga cenderung mengalami
sindrom ini. Perubahan biomekanika
gaya berjalan (gait) sebagai penyebab
hipertrofi musculus piriformis dan in-
flamasi kronik, juga akan memuncul-
kan sindrom piriformis. Dalam proses
melangkah, saat fase berdiri (stance
phase) musculus piriformis teregang
sejalan dengan beban pada pang-
gul yang dipertahankan dalam posisi
rotasi internal. Saat panggul mema-
suki fase ayun (swing phase), musculus
piriformis berkontraksi dan membantu
rotasi eksternal. Musculus piriformis
tetap dalam kondisi teregang selama
proses melangkah dan cenderung
lebih hipertrofi dibanding otot lain
di sekitarnya.
8,9
Setiap abnormalitas
proses melangkah yang melibatkan
panggul dengan posisi rotasi internal
atau adduksi yang meningkat dapat
semakin meregangkan musculus piri-
formis.
Trauma tumpul dapat menyebabkan
hematom dan fibrosis di antara ner-
vus ischiadicus dan otot-otot rotator
eksternal pendek, salah satu pemicu
gejala sindrom ini; suatu studi menun-
jukkan di antara 15 pasien sindroma
piriformis pasca trauma langsung di
area pantat, aktifitas normal kembali
2 bulan setelah operasi pembebasan
tendon piriformis tendon dan neuroli-
sis nervus ischiadicus.
10
Radikulopati lumbal bagian bawah
mengakibatkan iritasi sekunder mus-
culus piriformis yang nantinya akan
memperumit diagnosis dan memper-
lambat fisioterapi metode peregan-
gan punggung bawah dan panggul
karena memperberat gejala-gejala
sindrom piriformis.
7
GAMBARAN KLINIS
Keluhan yang khas adalah kram atau
nyeri di pantat atau di area hamstring,
nyeri ischialgia di kaki tanpa nyeri
punggung, dan gangguan sensorik
maupun motorik sesuai distribusi ner-
vus ischiadicus. Keluhan pasien dapat
pula berupa nyeri yang semakin men-
jadi saat membungkuk, berlama-lama
duduk, bangun dari duduk, atau saat
merotasi internal paha, juga nyeri saat
miksi/defekasi dan dispareunia.
1
Penegakan diagnosis sindrom pirifor-
mis sering dibuat setelah mengeksklu-
si penyebab ischialgia lain. Robinson
pertama kali menyusun penegakan di-
agnosis berdasar 6 ciri: (1) riwayat jatuh
pada pantat; (2) nyeri pada area: sendi
sacroiliaca, foramen ischiadicum ma-
jus, dan otot piriformis; (3) nyeri akut
yang kambuh saat membungkuk atau
mengangkat; (4) adanya massa yang
teraba di atas piriformis; (5) Tanda La-
seque positif; dan (6) atrofi gluteus.
10
Hampir 50% pasien sindrom piriformis
pernah mengalami cedera langsung
pada pantat ataupun trauma torsional
pada panggul atau punggung bagian
bawah, sisanya terjadi spontan tanpa
penyebab yang dapat diidentifikasi.
1
Beberapa pemeriksaan fisik dapat
mendukung diagnosis sindrom pirifor-
mis. Pada posisi telentang, pasien ber-
tendensi menjaga posisi tungkainya
sedikit terangkat dan berotasi ekster-
nal (tanda piriformis positif) (Gam-
bar 2).
19
Spasme musculus piriformis
dapat dideteksi dengan palpasi dalam
yang cermat di lokasi otot ini melintasi
nervus ischiadicus (Gambar 3) dengan
melokalisir titik tengah antara coc-
cyx dan trochanter major. Pemerik-
saan colok dubur menunjukkan area
yang lebih lunak di dinding lateral sisi
pelvis yang terkait. Nyeri ischialgia
dan turunnya tahanan otot ditunjuk-
kan dengan cara menahan gerakan
abduksi/rotasi eksternal pasien (tes
Pace) (Gambar 4). Pada posisi telung-
kup, tes Freiberg (Gambar 5) memicu
nyeri dengan merotasi internal tungkai
bawah saat panggul ekstensi dan lu-
tut fleksi 90
0
. Beatty mendeskripsikan
teknik yang membedakan antara ra-
dikulopati lumbal, penyakit panggul
primer, dan nyeri akibat sindrom piri-
formis.
11
Tes Beatty dapat pula mem-
beri hasil positif pada kasus herniasi
lumbal dan osteoarthritis panggul.
Pasien tidur miring dengan tungkai
diangkat beberapa menit, maka di sisi
tungkai yang mengalami sindrom piri-
formis akan terasa nyeri pada pantat
bagian dalam (Gambar 6). Tak satu-
pun pemeriksaan fisik tersebut bersi-
fat patognomonis; kombinasi riwayat
dan beberapa pemeriksaan fisik akan
menunjang penegakan diagnosis sin-
drom piriformis.
Sindrom piriformis dapat dibedakan
dengan herniasi diskus intervertebra
karena minimnya defisit neurologis
pada sindrom piriformis,
15
namun liter-
atur lain menyebutkan sebelas dari 28
kasus (40%), pasien masih mengalami
defisit neurologis.
7,12
DIAGNOSIS BANDING
Karena tidak ada tanda patogno-
monis, beberapa diagnosis banding
harus dipertimbangkan; antara lain:
herniasi diskus intervertebralis, dege-
nerasi diskus intervertebralis, arthro-
pati, sacroiliitis, nyeri myofascial, dan
bursitis trochanter femur.
12
TINJAUAN
PUSTAKA
CDK ed_178_a.indd 333
20/06/2010 21:46:55
background image
334
| JULI - AGUSTUS 2010
Umumnya, tes laboratoris dan penci-
traan memiliki peran terbatas dalam
diagnosis, namun sebaiknya tetap di-
jalankan untuk membedakan dengan
penyebab ischialgia lain. Dengan USG
doppler, Broadhurst et al., dengan
sampel terbatas berhasil mengiden-
tifikasi proses edema dan sklerotik
yang simtomatis pada otot pirifor-
mis.
13
Pada metode pencitraan MRI
pelvis dapat dipakai hipotesis Rossi
et al. yang menyatakan bahwa pang-
gul dengan posisi rotasi eksternal aktif
(otot berkontraksi) atau rotasi internal
pasif (otot meregang) akan semakin
memerangkap nervus ischiadicus se-
hingga didapatkan gambaran klinis
khas yang menunjukkan pembesaran
musculus piriformis dan alih posisi ner-
vus ischiadicus dengan sinyal intensi-
tas normal (Gambar 7).
14
Tes elektrofisiologis dapat menunjang
diagnosis dengan kriteria pemanjan-
gan refleks H 1.86msec saat tes FAIR
(Flexion, Adduction, Internal Rotation)
pada ekstrimitas bawah ipsilateral.
15,16
Refleks H merupakan versi stimulasi
elektrik refleks Achilles dan melewati
musculus piriformis dua kali (konduksi
orthodromik aferen dan eferen). Pe-
rubahan amplitudo dan latensi reka-
man potensial di elektroda epidural
di lumbal 3­4 pada stimulasi tungkai
terkait juga terlihat pada sindrom ini.
17
Yang lain mengajukan pendekatan di-
agnosis melalui injeksi lidokain dan/
atau kortikosteroid ke dalam musculus
piriformis dengan panduan EMG dan
fluoroskopi.
18.19
Lepas dari berbagai usaha mengem-
bangkan tes diagnosis yang obyektif,
penegakan sindrom piriformis tetap
sebaiknya didasarkan pada kumpulan
tanda dan gejala yang berasal dari ri-
wayat, pemeriksaan fisik, dan tes-tes
diagnosis.
TATALAKSANA
Sejumlah strategi terapi efektif
bagi pasien sindrom ini (Gambar 8).
Pendekatan tatalaksana yang per-
tama dan utama ialah rehabilitasi,
dimulai dari aktifitas dan terapi fisis,
penekanannya pada komponen-kom-
Gambar 7. (A) Potongan aksial T2-weighted dan (B) koronal T2-weighted MRI menunjukkan aspek hipertrofi
dari musculus piriformis sinistra (panah putih). Pada gambar A, nervus ischiadicus tampak melebar dan se-
dikit mengalami alih posisi ke anterior (panah hitam).
Gambar 4. Tes Pace. Pada tes ini penguji me-
nahan abduksi aktif dari tungkai dengan posisi
pasien duduk (panggul fleksi). Musculus piriformis
sebagai penggerak utama pada posisi ini, dipro-
vokasi untuk memunculkan ischialgia yang timbul
dari otot itu sendiri atau karena terperangkapnya
nervus ischiadicus oleh piriformis.
Gambar 5. Tes Freiberg menunjukkan terbatas-
nya gerakan rotasi internal panggul posisi ekstensi
karena spasme sekunder musculus piriformis.
Gambar 6. Tes Beatty. (A) pada posisi miring mengangkat tungkai yang difleksikan pada panggul dan lutut,
maka akan muncul nyeri pantat bagian dalam. (B) modifikasi Tes Beatty, dengan menahan abduksi tungkai.
Gambar 2. Tanda piriformis positif pada pasien
dengan sindrom piriformis menunjukkan rotasi
eksternal tungkai bawah kanan.
Gambar 3. Palpasi langsung memicu nyeri dalam
yang terlokalisir pada area yang diindikasikan sin-
drom piriformis.
TINJAUAN
PUSTAKA
CDK ed_178_a.indd 334
20/06/2010 21:46:56
background image
335
| JULI - AGUSTUS 2010
ponen yang melibatkan otot pirifor-
mis. Tujuannya selain meregangkan
dan menguatkan otot-otot abduktor/
adduktor panggul juga mengurangi
efek lingkaran setan nyeri dan spasme.
Peregangan mandiri dapat dibantu
dengan diatermi, ultrasound, stimu-
lasi elektrik, ataupun teknik-teknik
manual lainnya. Bila teknik tersebut di-
aplikasikan sebelum peregangan otot
piriformis, maka akan memudahkan
pergerakan kapsul sendi panggul ke
anterior dan posterior dan otot-otot
abdomen untuk meregang; dengan
demikian tendon piriformis akan men-
galami relaksasi dan peregangan yang
efektif.
1
Pasien sebaiknya tetap menjalani pro-
gram peregangan mandiri di rumah,
karena repetisi peregangan secara
intensif sepanjang hari merupakan
komponen esensial program. Saat
fase awal, peregangan sangat dian-
jurkan dilakukan minimal tiap 6 jam.
Peregangan musculus piriformis dapat
dikerjakan di posisi telentang ataupun
tegak dengan tungkai yang terkait
difleksikan dan dirotasi internal/ad-
duksi (Gambar 9).
20
Terapi injeksi dapat disertakan bila
keluhan menetap. Arah injeksi dituju-
kan ke sendi sacroiliaca atau ke insersi
musculus piriformis, dilakukan den-
gan panduan pencitraan atau secara
manual melalui palpasi titik yang pal-
ing lunak atau dengan colok dubur.
21
Injeksi steroid (triamcinolone 80 mg)
dan/atau anestesi lokal (lidokain 1%)
menggunakan jarum spinal 3,5 inci
(8.9 cm) atau lebih panjang pada
pasien gemuk. Hindari injeksi lang-
sung pada nervus ischiadicus dengan
meminta pasien melaporkan setiap
perubahan sensasi selama prosedur.
Beberapa peneliti meyakini hanya se-
dikit atau bahkan tidak ada komponen
inflamasi yang terkait, maka disarank-
an hanya menggunakan lidokain 1%
diikuti peregangan piriformis segera.
Injeksi tanpa steroid ini dapat setiap
minggu selama periode 4-5 minggu
sembari dinilai keefektifannya dan ke-
mungkinan perlunya tindakan bedah.
Ada studi yang menggunakan 12.500
unit neurotoksin botulinum B atau tok-
sin botulinum A dengan dosis setara
disertai fisioterapi, menunjukkan per-
baikan setelah lebih dari 3 bulan.
17-19
Hampir 50% pasiennya mengalami
efek samping berupa mulut kering
dan disfagia.
Prosedur bedah adalah jalan terakhir,
namun dapat memberikan hasil dra-
matis.
7,22-23
Pembedahan dalam kondisi
ini meliputi reseksi musculus piriformis
atau tendon di dekat insersinya pada
aspek superomedial dari trochanter
major os femur. Peneliti lain memakai
teknik kombinasi dengan membelah
tendon pada insersinya dan kemudian
pada ototnya di area keluarnya dari
foramen ischiadicum majus guna me-
misahkan otot ini dan mendekompresi
nervus ischiadicus secara keseluruhan
serta mencegah rekurensinya akibat
pembentukan fibrosis.
1
TEKNIK PEMBEDAHAN
Pasien pada posisi lateral dekubitus
dengan tungkai yang terkait di atas.
Insisi sebatas sepertiga proksimal dari
insisi posterolateral, standar bagi ope-
rasi penggantian panggul total. Untuk
reseksi piriformis, beberapa ahli lebih
memilih pendekatan invasif minimal
mikroskop dibanding teknik endosko-
pi.
24
Dimulai dengan insisi kulit 4 cm,
diikuti pemisahan tumpul serat muscu-
lus gluteus maximus dengan perlahan
dan cermat untuk menghindari cedera
nervus ischiadicus. Retraktor dipakai
untuk memperlebar serat gluteus ma-
ximus dan jaringan lemak di bagian
dalam dipotong dengan teliti guna
melokalisir musculus piriformis dan in-
sersinya di trochanter major. Rotasi in-
ternal panggul dapat mempermudah
identifikasi tendon musculus pirifor-
mis. Nervus ischiadicus seharusnya di-
identifikasi dengan pipa Penrose yang
diletakkan di sekitar saraf sebagai pe-
Gambar 8. Algoritma terapi sindrom piriformis.
Gambar 9. Latihan pada sindrom piriformis (A) Duduk. (B) Telentang dengan posisi panggul difleksikan 90
0
dan tungkai kanan diadduksi menyilang tungkai kiri. Tangan kanan menahan ilium ipsilateral guna menahan
terangkatnya pelvis, tangan kiri menuntun gerakan kaki kanan dan menambah tekanan pada aspek lateral
lutut kanan untuk meningkatkan regangan otot piriformis. Selain itu, peregangan dapat ditingkatkan den-
gan relaksasi pasca isometrik, yaitu dengan tangan kiri menahan kontraksi isometrik piriformis kanan (usaha
abduksi) selama beberapa detik.
TINJAUAN
PUSTAKA
CDK ed_178_a.indd 335
20/06/2010 21:46:56
background image
336
| JULI - AGUSTUS 2010
nanda. Berikutnya tendon piriformis
dibelah dan musculus dipisahkan dari
nervus ischiadicus sampai di area fora-
men ischiadicum majus. Nervus ischia-
dicus dieksplorasi dan didekompresi
untuk memastikan tidak ada residu
lapisan fibrosis, simpai neurovaskular,
ataupun faktor lain yang menekan sa-
raf (Gambar 10). Pasca operasi pasien
menanggung beban berat badan se-
penuhnya (fully weight-bearing) den-
gan kruk dan menjalani fisioterapi
untuk penguatan otot-otot adduktor/
abduktor dan latihan berjalan.
SIMPULAN
Sindrom piriformis tetap menjadi kon-
troversi ; literatur menyebutkan seba-
gian ischialgia sekunder akibat neuri-
tis nervus ischiadicus, secara langsung
ataupun tidak, terkait dengan mus-
culus piriformis. Dalam banyak kasus,
pasien-pasien ini mendapat manfaat
dari terapi konservatif, sebagian men-
galami efek dramatis pasca operasi
dekompresi musculus piriformis dan
nervus
ischiadicus. Studi lanjutan ber-
bagai disiplin medis memungkinkan
perkembangan metode diagnosis dan
terapi sindroma piriformis.
DAFTAR PUSTAKA
1. Mehta S, Auerbach JD, Chin KR. Extra-spinal
disorders: Piriformis Syndrome. April 2006.
[cited 2009 May 5]. Available from URL: http://
www.imissurgery.com/pdf/Slipman-Ch123-
Piriformis%20Syndrome.pdf
2. Rodrigue T, Hardy RW. Diagnosis and treat-
ment of piriformis syndrome. Neurosurg Clin
N Am 2001; 12(2):311­319.
3. Frymoyer JW. Back pain and sciatica. N Engl J
Med 1988; 318(5):291­300.
4. Bernard TN Jr, Kirkaldy-Willis WH. Recogniz-
ing specific characteristics of nonspecific low
back pain. Clin Orthop 1987; 217:266­280.
5. Durrani Z, Winnie AP. Piriformis muscle syn-
drome: an underdiagnosed cause of sciatica.
J Pain Symptom Manage 1991; 6(6):374­379.
6. Brown JA, Braun MA, Namey TC. Piriformis
syndrome in a 10-year-old boy as a complica-
tion of operation with the patient in the sitting
position. Neurosurgery 1988; 23(1):117­119.
7. Jankiewicz JJ, Hennrikus WL, Houkom JA. The
appearance of the piriformis muscle syndrome
in computed tomography and magnetic reso-
nance imaging. A case report and review of
the literature. Clin Orthop 1991; 262:205­209.
8. Parziale JR, Hudgins TH, Fishman LM. The
piriformis syndrome. Am J Orthop 1996;
25(12):819­823.
9. Barton PM. Piriformis syndrome: a rational ap-
proach to management. Pain 1991; 47(3):345­352.
10. Benson ER, Schutzer SF. Posttraumatic pirifor-
mis syndrome: diagnosis and results of opera-
tive treatment. J Bone Joint Surg [Am] 1999;
81(7):941­949.
11. Beatty RA. The piriformis muscle syndrome:
a simple diagnostic maneuver. Neurosurgery
1994; 34(3):512­514; discussion 514.
12. Chen WS. Sciatica due to piriformis pyomyo-
sitis. Report of a case. J Bone Joint Surg [Am]
1992; 74(10):1546­1548.
13. Broadhurst NA, Simmons DN, Bond MJ. Piri-
formis Syndrome: Correlation of Muscle Mor-
phology With Symptoms and Signs. Arch Phys
Med Rehabil 2004;85:2036-9.
14. Rossi P, Cardinali P, Serrao M, et al. Magnetic
resonance imaging findings in piriformis syn-
drome: a case report. Arch Phys Med Rehabil
2001; 82(4):519­521.
15. Fishman LM, Konnoth C, Rozner B. Botulinum
neurotoxin type B and physical therapy in the
treatment of piriformis syndrome: a dose­
finding study. Am J Phys Med Rehabil 2004;
83(1):42­50; quiz 51­53.
16. Fishman LM, Zybert PA. Electrophysiologic ev-
idence of piriformis syndrome. Arch Phys Med
Rehabil 1992; 73(4):359­364
17. Nakamura H, Seki M, Konishi S, et al. Piriformis
syndrome diagnosed by cauda equina action
potentials: report of two cases. Spine 2003;
28(2):E37­E40.
18. Fishman SM, Caneris OA, Bandman TB, Au-
dette JF, Borsook D. Injection of the piriformis
muscle by fluoroscopic and electromyographic
guidance. Reg Anesth Pain Med 1998;23:554-
9.
19. Gonzalez P, Pepper M, Sullivan W, Akuthota
V. Confirmation of Needle Placement Within
the Piriformis Muscle of a Cadaveric Specimen
Using Anatomic Landmarks and Fluoroscopic
Guidance. Pain Physician 2008; 11:3:327-331
20. Cramp F, Bottrell O, Campbell H, Ellyatt P,
Smith C, Wilde B. Non-surgical management
of piriformis syndrome: a systematic review.
Physical Therapy Reviews. 2007;12(1):66-72.
21. Foster MR. Piriformis syndrome. Orthopedics
2002; 25(8):821­825.
22. Lam AW, Thompson JF, McCarthy WH. Uni-
lateral piriformis syndrome in a patient with
previous melanoma. Aust NZ J Surg 1993;
63(2):152­153.
23. Sayson SC, Ducey JP, Maybrey JB, et al. Sci-
atic entrapment neuropathy associated with
an anomalous piriformis muscle. Pain 1994;
59(1):149­152.
24. Dezawa A, Kusano S, Miki H. Arthroscopic re-
lease of the piriformis muscle under local an-
esthesia for piriformis syndrome. Arthroscopy
2003; 19(5):554­557.
Gambar 10. Foto menunjukkan lapisan fibrosis (F) dan simpai neurovaskular (N) yang melintasi nervus is-
chiadicus (I). Musculus gluteus (G) telah diretraksi. Setelah membebaskan tendon dan musculus piriformis
dilakukan eksplorasi dan dekompresi nervus ischiadicus yang bertujuan menyingkirkan semua konstriksi,
adhesi, ataupun simpai fibrosa.
TINJAUAN
PUSTAKA
CDK ed_178_a.indd 336
20/06/2010 21:46:56