91
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010
PENDAHULUAN
Kanker adalah suatu proses perubahan pada sel normal
yang berproliferasi tanpa kendali akibat mutasi gen. Mutasi
gen dapat disebabkan oleh berbagai agen, seperti agen
bahan kimia, radiasi, dan virus. Virus penyebab kanker dise-
but v-onkogen. HPV adalah salah satu jenis virus yang da-
pat menyebabkan perubahan pada siklus sel normal. Infeksi
HPV dapat menyebakan kutil dan kanker serviks. Di Indo-
nesia kanker serviks telah menjadi masalah penting karena
telah menempati urutan pertama penyebab kanker pada
wanita, melebihi jumlah penderita kanker payudara. Ba-
nyaknya kasus memerlukan kewaspadaan melalui deteksi
dini
(4)
.
KANKER SERVIKS
Infeksi HPV ditandai oleh perubahan morfologi dan pembe-
lahan sel yang tak terkendali akibat percepatan proliferasi
dan terhambatnya diferensiasi sel. Sifat kelainan ada yang
tetap jinak dan ditandai oleh batas yang tegas dengan ja-
ringan normal
(5)
.
Secara seluler, mekanisme terjadinya kanker serviks ber-
kaitan dengan siklus sel yang diekspresikan oleh HPV. Pro-
tein utama yang terkait dengan karsinogen adalah E6 dan
E7. Bentuk genom HPV sirkuler jika terintegrasi akan men-
jadi linear dan terpotong di antara gen E2 dan E1. Integrasi
antara genom HPV dan DNA manusia menyebabkan gen
E2 tidak berfungsi, jika E2 tidak berfungsi akan merangsang
E6 dan E7 berikatan dengan gen p53 dan pRb
(2).
Ikatan antara E6 dan p53 akan menyebabkan p53 kehi-
langan fungsi sebagai gen tumor supresor yang bekerja di
fase G1. Gen p53 akan menghentikan siklus sel di fase G1,
agar sel dapat memperbaiki kerusakan sebelum berlanjut
ke fase S. Mekanisme kerja p53 adalah dengan meng-
hambat kompleks cdk-cyclin
(6)
yang akan merangsang sel
memasuki fase selanjutnya sehingga ketika E6 berikatan
dengan p53 akan menyebabkan sel terus bekerja, terus
membelah dan menjadi abnormal
(7)
. Jalur yang digunakan
p53 melalui p21 yang akan melawan aktivitas kompleks
cdk-cyclin, karena itu inaktivasi p21 mengakibatkan jalur
regulasi p53 terganggu
(8)
. Sedangkan E7 akan berikatan
dengan pRb, yang seharusnya pBR berikatan dengan E2F.
E2F adalah gen yang akan merangsang siklus sel melalui
aktivasi proto-onkogen c-myc, N-myc
(2)
. Ikatan pRB-E2F
menghambat gen yang mengatur sel keluar dari fase G1.
Jika E2F tidak terikat akan menyebabkan E2F menstimulasi
proliferasi sel
(8)
. Siklus sel yang tidak terkontrol menyebab-
kan proliferasi sel melebihi batas normal sehingga berubah
menjadi sel karsinoma
(9)
.
Beberapa faktor risiko terkena kanker serviks antara lain ak-
tivitas seksual (oral-genital, mekanik-genital, genital-geni-
tal) pada usia muda
(10)
sering berganti pasangan seksual;
aktivitas seksual melalui anal
(11)
, homoseksual, sering men-
derita infeksi di daerah kelamin; melahirkan banyak anak;
kebiasaan merokok (risiko dua kali lebih besar); de siensi
Deteksi Dini Kanker Serviks
Melalui Uji Sitologi dan DNA HPV
Sinta Sasika Novel
1
, Ratu Sa tri
2
, Sukma Nuswantara
3
1
Mahasiswa Biologi,
2
Dosen Mikrobiologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Padjadjaran, Bandung, Indonesia
3
Biotech Coordinator, Sandia Biotech Diagnosis Centre, Santosa Bandung International Hospital, Bandung, Indonesia
ABSTRAK
Kanker serviks adalah jenis kanker yang telah diketahui protein karsinogennya yaitu protein E6 dan E7. Gen
E6 dan E7 merupakan vektor pembawa protein karsinogen dari HPV
(1)
; oleh karena itu sesungguhnya kanker
serviks dapat diatasi dengan pencegahan primer dan sekunder. Pencegahan primer yaitu mencegah infeksi
HPV melalui vaksinasi
(2)
, sedangkan pencegahan sekunder adalah melalui deteksi dini yang dapat dilakukan
dengan berbagai metode, di antaranya uji sitologi dan uji DNA HPV
(3)
.
Gambar 1. (1) serviks yang telah terinfeksi HPV
(2) serviks normal
Sumber : (1) http://embryology.med.unsw.edu.au/ (2) www.jinekolognet.com
(1)
(2)
TINJAUAN PUSTAKA
CDK Maret April DR.indd 91
CDK Maret April DR.indd 91
2/24/2010 1:45:11 PM
2/24/2010 1:45:11 PM
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010
92
TINJAUAN PUSTAKA
vitamin A,C,E; penggunaan alat kontrasepsi oral
(7)
; faktor
nutrisi rendah; imunitas rendah; koinfeksi dengan HIV
(10)
.
TES SITOLOGI
1. Pap Smear
Pap smear adalah suatu test yang aman dan murah dan te-
lah dipakai bertahun-tahun lamanya untuk mendeteksi ke-
lainan sel epitel serviks. Pap smear merupakan cara deteksi
kanker serviks yang paling umum dikenal.
WHO merekomendasiikan semua wanita yang telah me-
nikah atau telah melakukan hubungan seksual untuk men-
jalani pemeriksaan Pap smear minimal setahun sekali sampai
usia 70 tahun. Pap smear screening dapat mengidenti kasi
potensi pra-kanker
(12)
, pemeriksaan sitologi konvensional ini
untuk mengetahui kondisi sel-sel serviks apakah masih nor-
mal atau sudah mengalami perubahan.
Beberapa sel abnormal dapat menjadi pre-kanker dan
dapat berubah menjadi sel-sel kanker. Perubahan sel-sel
epitelium serviks yang terdeteksi dini akan memungkin-
kan tindakan pengobatan sebelum sel-sel tersebut dapat
berkembang menjadi sel kanker
(13)
.
tapi dengan intensitas yang kurang dan cepat menghilang;
ini yang membedakannya dengan proses pra-kanker di
mana epitel putih lebih tajam dan lebih lama menghilang
karena asam asetat berpenetrasi lebih dalam sehingga ter-
jadi koagulasi protein yang lebih banyak
(17)
.
Gambar 2. Sel epitelium yang telah di uji pap smear
Sumber : http://upload.wikimedia.org/wikipedia
2. TES IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)
IVA merupakan pemeriksaan skrining alternatif dari Pap
smear karena murah, praktis, sangat mudah untuk dilaku-
kan dengan peralatan sederhana, dapat dilakukan oleh te-
naga kesehatan selain dokter ginekologi
(9,14,15).
Pemeriksaan ini dengan cara melihat serviks yang telah
diberi asam asetat 3-5% secara inspekulo. Zat ini akan me-
ningkatkan osmolaritas cairan ekstraseluler epitel abnor-
mal. Cairan ekstraseluler hipertonik ini akan menarik cairan
intraseluler sehingga membran akan kolaps dan jarak antar
sel semakin dekat. Akibatnya jika permukaan epitel disinari
maka sinar tersebut tidak akan diteruskan ke stroma namun
akan dipantulkan dan permukaan epitel abnormal akan
berwarna putih
(16)
.
Daerah metaplasia yang merupakan daerah peralihan juga
akan berwarna putih setelah pengusapan asam asetat te-
Makin putih dan makin jelas, makin tinggi derajat kelainan
histologiknya. Demikian pula makin makin tajam batasnya,
makin tinggi derajat jaringannya; sehingga dengan pembe-
rian asam asetat akan didapatkan hasil gambaran serviks
yang normal (merah homogen) dan bercak putih (displasia).
Dibutuhkan satu sampai dua menit untuk dapat melihat pe-
rubahan-perubahan pada epitel. Serviks yang diberi larutan
asam asetat 5% akan merespon lebih cepat daripada larut-
an 3%
(17)
. Efek akan hilang setelah sekitar 50-60 detik. Lesi
yang tampak sebelum aplikasi larutan asam asetat bukan
merupakan epitel putih namun dikatakan suatu leukoplasia.
Dari beberapa penelitian didapatkan sensitivitas 65-96%
dan spesi sitas 64-98%. Sedangkan penelitian efektivitas
IVA oleh bidan di Jakarta mendapatkan sensi tas 90% dan
spesi sitas 99,8% dengan nilai duga positif 83,3%
(17)
.
UJI DNA HPV
1. PCR dan elektroforesis
PCR pertama kali dikembangkan oleh Kary Mullis pada tahun
1985
(18)
. Pada tahun 1990 Ting dan Manos telah mengem-
bangkan suatu metode deteksi HPV dengan PCR
(16)
. Prinsip
PCR dalam deteksi dini kanker serviks adalah pada keber-
adaan DNA HPV di dalam sel serviks; dengan isolasi DNA,
ampli kasi DNA, dan deteksi menggunakan elektroforesis
akan diketahui keberadaan DNA HPV pada sel uji. Ampli-
kasi sangat berkaitan dengan pelacak DNA, pelacak untuk
HPV terbagi dua yaitu (1) pelacak generik adalah pelacak
DNA yang didesain untuk banyak tipe tetapi tidak semua
HPV dan (2) pelacak spesi k adalah pelacak yang didesain
untuk mendeteksi hasil ampli kasi
(19)
.
Gambar 3. (1) Serviks sebelum uji IVA dan
(2) setelah uji IVA
Sumber : Novel, 2008
(1)
(2)
CDK Maret April DR.indd 92
CDK Maret April DR.indd 92
2/24/2010 1:45:14 PM
2/24/2010 1:45:14 PM