background image
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
484
PENDAHULUAN
Pada tatalaksana berbagai penyakit ginjal proteinurik seperti
glomerulosklerosis fokal segmental (GSFS), sindrom nefrotik
resisten steroid, dan lain-lain telah digunakan kortiko-steroid,
siklofosfamid, klorambusil, dan siklosforin yang diberikan per oral
dalam jangka lama dengan hasil yang bervariasi. Meskipun telah
banyak laporan keberhasilan, tetapi ada yang kurang memuaskan
karena berbagai hal misalnya ketidakteraturan minum obat, minum
obat yang tidak berkesinambungan, atau tingginya paparan infeksi,
sehingga para peneliti mencari metode pengobatan dengan hasil
yang lebih baik dan efek samping yang lebih jarang. Terapi puls
(pulse therapy) merupakan salah satu pilihan pengobatan ter-
hadap penyakit ginjal proteinurik ini. Terapi puls yang biasa pada
anak adalah metilprednisolon dan siklofosfamid. Untuk mening-
katkan angka keberhasilannya, maka terapi puls biasanya dikom-
binasi dengan kortikosteroid atau obat alkilating oral.
(1)
Terapi puls adalah pemberian obat dosis tinggi sekaligus dengan
cara bolus intravena. Kepustakaan menunjukkan bahwa terapi
puls telah digunakan terhadap berbagai penyakit seperti vaskulitis
reumatoid, artritis reumatoid, sklerosis multipel, granulomatosis
Wagener, penyakit paru eosinofilik, hemosi-derosis paru idiopa-
tik, leukemia, dan beberapa penyakit ginjal. Beberapa penyakit
ginjal anak tidak responsif terhadap kortikosteroid dan imunosu-
presan oral sehingga terindikasi untuk terapi puls.
(2-,5)
Pada
beberapa penelitian terbukti bahwa siklofosfamid puls dan
metilprednisolon puls lebih efektif dibandingkan dengan siklofos-
famid oral dan steroid oral dosis tinggi dalam menginduksi remisi
dan mencegah gagal ginjal terminal (GGT) dengan efek samping
yang lebih ringan.
(6,7)
TERAPI PULS
Indikasi
Beberapa penyakit ginjal proteinurik anak yang ditatalaksana
dengan terapi puls antara lain: nefritis lupus kelas IV atau nefritis
lupus proliferatif difus
,(7-10)
lupus eritematosus sis-temik infantil,
(6)
glomerulosklerosis fokal segmental (GS-FS),
(4,11,12)
glomerulone-
fritis membranoprolifetarif tipe I,
(13)
nefritis purpura Henoch-
Schonlein berat,
(5,14)
glomerulonefritis berat,
(2)
dan sindrom nefrotik
resisten steroid.
(3)
Terapi Puls pada
Penyakit Ginjal Proteinurik Anak
Sudung O. Pardede
Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Indonesia
ABSTRAK
Terapi metilprednisolon dan siklofosfamid puls telah digunakan dalam tatalaksana berbagai penyakit ginjal
baik pada dewasa maupun anak. Beberapa penyakit ginjal yang telah ditatalaksana dengan terapi puls ini
antara lain nefritis lupus, glomerulo-sklerosis fokal segmental, glomerulonefritis membranoproliferatif tipe I,
glomerulo-nefritis berat, nefritis purpura Henoch-Schonlein, dan sindrom nefrotik resisten steroid. Berbagai
regimen telah digunakan tetapi biasanya diberikan metilprednisolon 30 mg/kgbb 3 hari seminggu dan siklofos-
famid 500-1000 mg/m
2
luas permukaan badan satu kali sebulan selama 6 bulan. Dibandingkan dengan pem-
berian steroid dan siklofosfamid oral jangka lama, terapi puls dengan metilprednisolon dan siklofosfamid ini
umumnya memberikan hasil yang lebih baik dengan efek samping yang lebih rendah. Beberapa efek samping
steroid yang dapat terjadi antara lain katarak, osteoporosis, retardasi pertumbuhan, hipertensi, meningkatnya
risiko infeksi, dan nekrosis avaskular; sedangkan efek samping siklofosfamid yang ditemukan antara lain alope-
sia, pucat, kuku kebiruan, leukopeni, steril, nekrosis avaskular, fraktur osteoporosis, sistitis hemoragik, dan
infeksi seperti sepsis, Herpes zoster, dan infeksi jamur.
Kata kunci : terapi puls, metilprednisolon, siklofosfamid, glomerulonefritis
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
483
TINJAUAN PUSTAKA
Mekanisme imunosupresi sel punca mesenchymal masih terus
dipelajari, namun hingga saat ini diperkirakan bahwa sel punca
ini mampu menghasilkan beberapa mediator antara lain
indoleamine 2,3,-dioxygenase dan Galectin-1 yang memiliki efek
imunosupresi.
Dalam rekomedasi ISCT, sel punca dikatakan memenuhi kriteria
untuk disebut sel punca mesenchymal bila memiliki karakteristik
yang ditampilkan pada Tabel 1 (Dominici et al 2006).
Gambar 5. Sel punca mesenchymal dalam kondisi yang sesuai dapat
menghasilkan sel tulang rawan (chondrocyte), sel pembangun tulang keras
(osteoblast), dan sel lemak (adipocyte).
Saat ini sel punca telah dikembangkan sebagai terapi berbagai
peyakit termasuk kelainan hematologi (leukemia, anemia,
thalasemia, dst), penyakit degeneratif (gangguan pembuluh
darah, infark jantung, penyembuhan luka), terapi kerusakan
cartilage pada cedera sendi, Sel punca mesenchymal digunakan
dalam metode pencegahan terjadinya graft vs host reaction
pada transplantasi allogenic, serta pemanfaatan sifat imunosu-
presi pada penderita penyakit autoimun.
Saat ini penelitian sel punca terus berkembang dan begitu
banyak penemuan baru yang dilaporkan setiap harinya. Oleh
karena itu untuk memperoleh informasi terkini masyarakat
khususnya para dokter perlu terus memantau setiap publikasi
ilmiah yang dihasilkan dari pengembangan sel punca ini.
DAFTAR PUSTAKA
Kolf CM, Cho E, Tuan RS. Mesenchymal stromal cells.Biology of adult mesenchymal
stem cells: regulation of niche, self-renewal and differentiation. Arthritis Res.
Ther. 2007. 9:204.
Deans RJ, Moseley AB. Mesenchymal stem cells:biology and potential clinical
uses. Exp Hematol. 2000. 28:875-884.
Hill J, Zalos G, Halcox JPJ, dkk. Circulating Endothelial Progenitor Cells, Vascular
Function, and Cardiovascular Risk. N Engl J Med. 2003;348;593-600
Atkinson K, Champlin R, Ritz J,. Fibbe WE, Ljungman P, Brenner MK. Clinical
Bone Marrow and Blood Stem Cell Transplanatation. 3rd ed. Cambridge
University Press. 2004. Hlm 38-90
Turksen K. Methods in Molecular Biology. Embryonic stem cells methods and
protocols. 2002. vol. 185. Humana Press New Jersey. Hlm 5
Miura M, Gronthos S, Zhao M, Lu B, Fisher LW, Robey PG, Shi S. SHED: Stem cells
from human exfoliated deciduous teeth. PNAS 2003. 100(10): 5807 5812
Nakagawa M, Koyanagi M, Tanabe K, Takahashi K, Ichisaka T, Aoi T, Okita K,
Mochiduki Y, Takizawa N , Yamanaka S. Generation of induced pluripotent stem
cells without Myc from mouse and human fibroblasts. Nature Biotechnol. 2008.
26(1):101-106
Nicola MD, Carlo-Stella C, Magni M, Milanesi M, Longoni PD, Matteucci P,
Grisanti S,. Gianni AM. Human bone marrow stromal cells suppress T-lymphocyte
proliferation induced by cellular or nonspecific mitogenic stimuli. Blood. 2002.
99:3838-3843
Habib N, Levicar N, Gordon M, Jiao L, Fisk N. Stem Cell Repair and Regeneration.
Volume 2. Imperial College Press. 2007. Hlm 85-169
Sardjono CT, Setiawan M, Frisca, Saputra V, Aniko G, Sandra F. Application of a
modified method for stem cell isolation from lipoaspirates in a basic lab. Med. J.
Indon. 2009 :91-95
Patel SA, Sherman L, Munoz J, Rameshwar P. Immunological properties of
mesenchymal stem cells and clinical implications Arch. Immunol. Ther. Exp. 2008.
56, 1 8
Meng X, Ichim TE, Zhong J, Rogers A, Yin Z, Jackson J, Wang H, Ge W, Bogin V,
Chan KW, Thébaud B, Riordan NH.. Endometrial regenerative cells: A novel stem
cell population. J. Translational Med. 2007. 5:57.
Hill J, Zalos G, Halcox JPJ, dkk. Circulating Endothelial Progenitor Cells, Vascular
Function, and Cardiovascular Risk. N Engl J Med. 2003;348;593-600
Catatan:
Di Indonesia telah dibentuk suatu asosiasi peneliti sel punca yaitu Asosiasi
Sel Punca Indonesia (ASPI) yang terbuka bagi seluruh warga yang
memiliki minat dalam penelitian sel punca. Bagi yang berminat untuk
mendaftar (keanggotaan gratis), dapat menghubungi redaksi CDK.
background image
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
485
TINJAUAN PUSTAKA
Cara
Obat yang sering digunakan dalam terapi puls adalah metilpred-
nisolon dengan dosis 15-30 mg/kgbb/hari dan siklo-fosfamid
500-1000 mg/kgbb/hari.
Terdapat berbagai cara pemberian terapi puls.
1. Metilprednisolon
a. Metilprednisolon dengan dosis 30 mg/kgbb (maksimum 1500
mg) dilarutkan dalam 50-100 ml dekstrose 5%, diberikan melalui
infus selama 1 jam
1,11,15,16
atau dapat juga selama 6 jam.
(5)
Selama pemberian perlu pemantauan tanda vital terutama
tekanan darah dan frekuensi jantung.
(1,11,16)
Terapi puls diberikan
selang sehari 3 kali seminggu pada minggu 1 sampai 2.
Pada minggu 3 sampai 10 metil-prednisolon 30 mg/kgbb diberi-
kan satu kali seminggu, pada minggu 11 sampai 18 metilpredni-
solon 30 mg/kgbb diberikan setiap 2 minggu, pada minggu 19
sampai 50 metilprednisolon 30 mg/kgbb diberikan setiap 4
minggu, dan pada minggu 51 sampai 82 metilprednisolon 30
mg/kgbb diberikan setiap 8 minggu. Mulai minggu ke tiga diberi-
kan prednison oral dengan dosis 2 mg/kgbb/hari selang sehari
dan pada minggu ke sebelas prednison diturunkan secara
perlahan-lahan sampai minggu ke-82.
Jika dengan pengobatan ini terdapat perbaikan yang menetap,
maka obat alkilating tidak diberikan. Obat alkilating diberikan jika
tetap terdapat proteinuri nefrotik persisten setelah 10 minggu
pengobatan metilprednisolon puls atau jika pada mulanya ter-
dapat perbaikan tetapi diikuti dengan peningkatan proteinuri
bermakna. Biasanya diberi siklo-fosfamid 2-2,5 mg/kgbb/hari
atau klorambusil 0,2 mg/kgbb/ hari selama 8-12 minggu.
(4,11,16)
Tabel 1. Regimen terapi metilprednisolon puls
(11,16)
b. Metilprednisolon puls 1.000 mg/1,73 m
2
LPB diberikan dengan
bantuan pompa infus dalam 6 jam sebanyak 3 kali selang sehari.
Setelah itu diberikan prednison 30 mg/m
2
LPB setiap hari selama
1 bulan, kemudian 30 mg/ m
2
LPB selang se-hari selama 2 bulan,
dan 15 mg/m
2
LPB selang sehari selama 2 minggu. Pemberian seri
metilprednisolon puls ini dapat dilanjutkan sampai 8 bulan
hingga 4 tahun, tergantung pada gejala klinis penyakit.
(5)
c. Bergstein dan Andreoli (1995) memberikan metil-prednisolon
puls 30 mg/kgbb/dosis (maksimum 1,5 g) secara infus intravena
dalam 50 ­ 100 ml cairan dekstrose 5% selama 30-60 menit,
diberikan selang sehari sebanyak 6 kali diikuti dengan prednison
2 mg/kgbb/hari (maksimum 60 mg/hari) dosis tunggal selang
sehari selama rerata 37 bulan (12-66 bulan) atau prednison 2
mg/kgbb/hari selama 1 bulan dan ke-mudian diturunkan secara
perlahan-lahan.
(8,10,17)
Penghentian pengobatan bergantung pada
stabilitas klinis penyakit.
(13)
2. Siklofosfamid
a. Siklofosfamid 500 mg/m
2
LPB dalam 250 ml NaCl 0,9%,
diberikan melalui infus perlahan-lahan dalam 3-4 jam untuk
menurunkan risiko mual dan muntah. Selain itu dianjurkan juga
pemberian cairan per oral dengan jumlah banyak selama 24 jam
berikut dan dianjurkan sering berkemih untuk menurunkan risiko
sistitis hemoragik. Siklofosfamid puls diberikan setiap bulan
selama 6 bulan. Prednison 60 mg/m
2
LPB diberikan setiap hari
selama 2 bulan, dilanjutkan dengan pemberian selang sehari
(alternate day) selama 4 bulan, dan selanjutnya dengan dosis 30
mg/m
2
LPB selang sehari selama 6 bulan. Satu tahun setelah
dosis awal siklofosfamid intravena dan prednison, steroid
diturunkan secara perlahan-lahan 10 mg per bulan dan dihenti-
kan dalam 2-6 bulan tergantung dosis awal.
(12)
b. Siklofosfamid puls diberikan dalam 100 - 150 ml dekstrose 5%
selama 1 jam diikuti hidrasi dengan infus dekstrose 5% dalam
NaCl 0.5% 2 l/m
2
LPB yang diberikan selama 24 jam. Setelah
pemberian awal, siklofosfamid puls diberikan setiap bulan selama
6 bulan sehingga menjadi 7 dosis dan di-lanjutkan setiap 3 bulan
sampai 3 tahun. Pada permulaan siklo-fosfamid diberikan
dengan dosis 500 mg/m
2
LPB, dinaikkan menjadi 750 mg/m
2
LPB
sampai 1000 mg/ m2 LPB.
(9)
c. Siklofosfamid puls diberikan dengan dosis 750 mg/m
2
LPB.
Setelah terapi siklofosfamid puls, pasien mendapat hidrasi
intravena selama 24 jam dan dianjurkan sering berkemih. Pada
awalnya siklofosfamid puls diberikan setiap 1-2 bulan tergan-
tung aktivitas penyakit. Dosis dikurangi jika klirens kreatinin <40
ml/menit. Setelah dosis total 6 kali, pengobatan dihentikan jika
tidak terdapat bentuk aktif penyakit. Dosis ini dapat dilanjutkan
www.Kalbe.co.id
1 - 2
30 mg/kgbb 3x/minggu
6
-
3 -10
30 mg/kgbb
2 mg/kgbb/
setiap 1 minggu
8
selang sehari
11 - 18
30 mg/kgbb
setiap 2 minggu
4
Dosis diturunkan
19 - 50
30 mg/kgbb
Dosis diturunkan
setiap 4 minggu
6
perlahan-lahan
51 - 82
30 mg/kgbb
Dosis diturunkan
setiap 8 minggu
4
perlahan-lahan
Minggu
Dosis
metilprednisolon
Jumlah
dosis
Pemberian
prednison
3 -10
30 mg/kgbb
2 mg/kgbb/
setiap 1 minggu 8
selang sehari
19 - 50
30 mg/kgbb
Dosis diturunkan
setiap 4 minggu 6
perlahan-lahan
background image
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
487
TINJAUAN PUSTAKA
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
488
Baqi dkk. (1996) memberikan metilprednisolon puls selama 10 hari
dan dilanjutkan dengan prednison oral pada 20 pasien nefritis
lupus. Pada kelompok 30 pasien lainnya diberikan siklofosfamid
puls setiap bulan selama 6 bulan yang dilanjutkan dengan siklo-
fosfamid puls setiap 3 bulan selama 3 tahun. Selain itu diberikan
juga prednison oral. Ternyata tidak terdapat perbedaan hasil
pengobatan pada kedua kelompok tersebut.
(17)
Moroni dkk. (1998) melaporkan bahwa dengan metilprednisolon
puls 3 kali dan prednison oral dan kloram-busil, maka kemungkinan
pasien nefritis lupus tidak gagal ginjal dalam 10 tahun sebesar
92% sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 60%. Remisi
total atau remisi parsial lebih sering didapatkan pada kelompok
yang mendapat regimen pengobatan metilprednisolon puls.
(20)
Risiko peningkatan kreatinin serum setelah 5 tahun lebih tinggi
pada pasien yang mendapat metilprednisolon puls dibandingkan
dengan siklofosfamid puls (55% vs 25%). Pada nefritis lupus,
kemungkinan relaps setelah 5 tahun lebih besar pada pasien
yang mendapat siklofosfamid puls selama 6 bulan dibandingkan
dengan yang mendapat siklofosfamid puls jangka lama (55% vs
10%). Selain itu siklofosfamid puls lebih efektif daripada
metilprednisolon puls dalam hal pemeliharaan fungsi ginjal.
(10)
Siklofosfamid puls dapat menurunkan risiko relaps, menurunkan
risiko gagal ginjal, menghambat evolusi gambaran kresentik,
menurunkan kebutuhan prednison, memperbaiki keadaan klinis
dengan meningkatnya Hb, menurunkan aktivitas LES yang di-
tandai dengan penurunan komplemen serum dan ekskresi protein
24 jam, dan memperbaiki fungsi ginjal.
(9)
Pada nefritis lupus difus proliferatif, siklofosfamid puls setiap 3
bulan lebih efektif daripada prednison dosis tinggi dalam mence-
gah gagal ginjal. Siklofosfamid puls lebih efektif dalam mengin-
duksi terjadinya remisi pada penyakit ginjal yang berat. Hal ini
terlihat dari stabilnya kreatinin serum, proteinuri yang berkurang,
dan sindrom nefrotik yang remisi.
(7)
Menurut Niaudet (2000), selama 5 tahun tidak ada perbedaan
hasil pengobatan antara pemberian prednison dosis tinggi dengan
sikofosfamid puls, tetapi setelah 5 tahun terlihat bahwa insidens
gagal ginjal lebih tinggi pada pasien yang mendapat prednison
dosis tinggi. Hasil pengobatan dengan siklofosfamid puls lebih
baik dibandingkan dengan siklofos-famid oral atau kombinasi
dengan azatioprin.
(10)
Valeri dkk, (1994) melaporkan peningkatan klirens kreatinin dari
76,2 ± 7,8 ml/menit menjadi 83,7 ± 7,4 ml/menit setelah 6 bulan
pengobatan siklofosfamid puls dan menjadi 87,6 ± 9,1 ml/menit
setelah 12 bulan pengobatan. Setelah 6 bulan pengobatan,
kadar kreatinin serum > 1,2 mg/dl didapatkan pada 7/19 (37%)
pasien dan setelah 12 bulan pada 6/19 (32%) dan tidak berubah
sampai 5 tahun. Setelah 1 tahun sindrom nefrotik mengalami
remisi pada 8/10 (80%) pasien. Rerata protein urin kuantitatif 24
jam menurun dari 6,2 ± 1,5 g/hari menjadi 2,2 ± 0,7 g/hari
setelah 6 bulan dan menjadi 1,1 ± 0,3 g/hari setelah 12 bulan
pengobatan. Pada awal penelitian, 29 % pasien dengan komple-
men rendah dan 15% dengan antibodi anti-DNA yang mening-
kat. Setelah 12 bulan, 10% pasien dengan komplemen rendah
dan 5% dengan peningkatan antibodi anti-DNA. Pada akhir
pengamatan, terdapat 5/20 (25%) mengalami kegagalan terapi.
Gejala ekstrarenal seperti ruam kulit, artralgia-artritis, anemi,
leukopeni, dan serositis berkurang atau hilang dalam waktu 3
bulan.
(7)
Eiser dkk. (1993) melaporkan bahwa dengan siklofosfamid puls,
didapatkan perbaikan klinis berupa penurunan kreatinin serum
setelah 6 bulan dan 12 bulan pengobatan dan perbedaan ini
bermakna dibandingkan penurunan kreatinin serum pada
pemberian siklofosfamid oral. Komplemen C
3
meningkat dari 68
mg/l menjadi 87 mg/l setelah 1 tahun. Albumin meningkat dari
27 ± 6 g/l menjadi 32 ± 6 g/l pada 6 bulan pengobatan dan
menjadi 34 ± 5 g/l pada 12 bulan pengobatan. Proteinuri
berkurang bermakna setelah 6 bulan. Ekskresi protein urin 24 jam
berkurang dari 4,97 ± 3,21 g/24 jam menjadi 2,76 ± 2,42 g/24
jam pada 6 bulan pengobatan dan menjadi 2,57 ± 2,29 g/24 jam
pada 12 bulan pengobatan. Pemeliharaan fungsi ginjal lebih baik
dengan siklofosfamid puls dibandingkan dengan siklofosfamid
oral.
(18)
Lehman dkk. (1989) mengobati 16 pasien nefritis lupus dengan
siklofosfamid puls setiap bulan selama 6 bulan yang dilanjutkan
dengan pemberian setiap 3 bulan. Setelah 1 tahun terdapat
perbaikan bermakna pada ekskresi protein urin, kadar Hb,
komplemen C
3
dan C
4
, dan klirens kreatinin. Hb meningkat dari
11,3 ± 0,5 g/dl menjadi 12,4 ± 0,4 g/dl setelah 6 bulan dan
menjadi 13,1 ± 0,3 g/dl setelah 1 tahun. Kreatinin serum turun
dari 1.07 ± 0,3 mg/dl menjadi 0.69 ± 0,06 mg/dl setelah 6 bulan
dan menjadi 0.69 ± 0.05 mg/dl setelah 1 tahun. Klirens kreatinin
meningkat dari 96,8 ± 12,2 ml/menit/1,73 m
2
menjadi 118,3 ±
24,3 ml/menit/1,73 m
2
setelah 6 bulan dan menjadi 120,8 ± 13,8
ml/menit/1,73 m
2
setelah 1 tahun. Pada pasien dengan klirens
kreatinin < 100 ml/menit/1,73 m
2
, klirens kreatinin meningkat dari
57,5 ± 11 ml/menit/1,73m
2
menjadi 128,0 ± 46,2 ml/menit/1,73m
2
setelah 6 bulan dan menjadi 121 ± 24,8 ml/menit/1,73 m
2
setelah 1 tahun. Kadar C
3
meningkat dari 52,0 ± 5,9 mg/dl
menjadi 108,8 ± 11,9 mg/dl setelah 6 bulan dan menjadi 108,0
± 13,7 setelah 1 tahun. Kadar C
4
meningkat dari 7,6 ± 0,9 mg/dl
sampai 2 atau 3 kali 6 dosis. Prednison 1 mg/kgbb/hari diberikan
setiap hari selama 6 minggu, kemudian diturunkan menjadi 40
mg dan 20 mg selang sehari.
(18)
d. Siklofosfamid puls diberikan melalui infus selama 1 jam dengan
dosis 500 mg-1.000 mg/m
2
LPB dan dilakukan hidrasi yang
adekuat dengan anjuran sering berkemih. Siklofosfamid puls ini
diberikan setiap 3 bulan selama 4 tahun atau sampai minimal 18
bulan dalam keadaan remisi.
(15,19)
e. Siklofosfamid puls diberikan setiap bulan selama 12 bulan
dengan dosis 500 mg/m
2
LPB pada bulan pertama, 750 mg/m
2
LPB pada bulan kedua, dan selanjutnya 1.000 mg/ m
2
LPB.
(15)
f. Siklofosfamid puls dengan dosis 750 mg-1.000 mg/m
2
LPB
diberikan setiap bulan sampai 6 bulan dilanjutkan dengan siko-
fosfamid puls dosis yang sama setiap 3 bulan
(10,17)
selama 2 -3
tahun.
(10)
Prednison diberikan dengan dosis 0,5 mg/kgbb/hari
yang kemudian diturunkan perlahan-lahan.
(10,17)
3. Metilprednisolon dengan siklofosfamid
a. Metilprednisolon puls 20 mg/kgbb/hari diberikan dalam 2 jam
selama 3 hari. Setelah pemberian metilprednisolon intravena,
dilakukan hidrasi melalui intravena dilanjutkan dengan pembe-
rian siklofosfamid 500 mg/m
2
LPB dicampur dengan Mesna
(uromitexan) 360 mg/m
2
LPB dalam 100 ml dekstrose 5% per
infus selama 2 jam, diikuti dengan hidrasi intravena. Infus Mesna
diberikan lagi setelah 2-4 jam, 6 jam, dan 10 jam. Setelah
metilprednisolon puls, prednison diberikan dengan dosis 2
mg/kgbb/hari dan kemudian diturunkan perlahan-lahan. Infus
siklofosfamid diberikan setiap bulan selama 6 bulan dengan dosis
dinaikkan hingga 750-1000 mg/m
2
LPB. Setelah pemberian 6 kali
setiap bulan, siklofosfamid puls diberikan setiap 3 bulan.
Regimen ini diberikan dalam tata laksana lupus eritematosus
sistemik infantil.
(6)
b. Metilprednisolon 30 mg/kgbb/dosis diberikan selama 3 hari
berturut-turut diikuti dengan siklofosfamid puls dengan dosis 0,5
g/m
2
LPB/dosis sekali sebulan selama 6 bulan. Prednison 2
mg/kgbb diberikan selang sehari.
(4,10)
c. Siklofosfamid puls dengan dosis 500 mg-750 mg/m
2
LPB
diberikan setiap bulan sampai 6 bulan; dosis dinaikkan sampai
1 g/m
2
LPB selama leukosit > 3.000/mm
3
. Kemudian diberi
kortikosteroid dosis tinggi seperti metilprednisolon iv puls 1 g per
hari selama 3 hari atau prednison selang sehari; selanjutnya dosis
diturunkan perlahan-lahan. Pasien mendapat hidrasi selama 24
jam sebelum dan sesudah terapi siklofosfamid.
(7)
Selain dengan siklofosfamid puls, ada yang memberikan metil-
prednisolon puls dengan siklofosfamid oral atau klorambusil.
Metilprednisolon puls diberikan dengan dosis 30 mg/kgbb/hari
selama 3 hari berturut-turut diikuti dengan prednison 45 mg/m
2
LPB/ hari dan diturunkan perlahan-lahan selama 3 bulan, siklofos-
famid 2 mg/kgbb/hari selama 2 bulan, dan dipiridamol 5 mg/
kgbb/hari selama 6 bulan.
(14)
Moroni dkk. (1998) memberikan
metilprednisolon puls 3 kali diikuti dengan prednison oral 0,5
mg/kgbb/hari pada bulan ke 1,3, dan 5 dan klorambusil 0,2 mg/
kgbb/hari pada bulan 2, 4, dan 6. Regimen ini diberikan untuk
tatalaksana nefritis lupus.
(20)
HASIL PENGOBATAN
Metilprednisolon puls telah terbukti cukup efektif dalam tatalak-
sana sindrom nefrotik resisten steroid, glomerulonefritis berat,
dan nefritis purpura Henoch-Schonlein. Siklofosfamid intermiten
intravena telah digunakan pada sindrom nefrotik kelainan minimal
dan lupus eritematosus sistemik yang melibatkan ginjal.
(2,3,4,5)
GSFS merupakan kelainan yang relatif sulit diobati dengan hasil
yang umumnya tidak memuaskan. Pada mulanya sekitar
15-23% GSFS responsif terhadap steroid, tetapi sebagian besar
akan berlanjut menjadi gagal ginjal kronik pada waktu 10 tahun
setelah onset.
(21)
Di Amerika Serikat, pengobatan GSFS dengan
steroid dan obat alkilating jangka lama dan intensif memberikan
hasil yang memuaskan, namun tidak berhasil baik di negara ber-
kembang karena masalah ketidakteraturan kontrol, kesinambungan
pengobatan, dan paparan infeksi yang tinggi.
(4)
Pemberian siklofosfamid intravena intermiten telah terbukti lebih
baik daripada prednison dan sitostatik oral dalam meng-induksi
remisi pada glomerulonefritis dan menurunkan risiko terjadinya
GGT dengan efek samping yang lebih ringan.
(6)
Pada nefritis
lupus, siklofosfamid puls intravena yang diberikan setiap 3 bulan
ternyata lebih efektif daripada kortikosteroid oral dosis tinggi
dalam mencegah terjadinya gagal ginjal.
(22)
Metilprednisolon puls mempunyai efek antiinflamasi dan imuno-
supresi yang poten dan cepat. Pada nefritis lupus, metilprednisolon
puls dan sikofosfamid puls lebih baik dibandingkan dengan
steroid dan sikofosfamid oral jangka lama meskipun ada juga
laporan dengan hasil tidak berbeda bermakna.
(7,9,10)
Pada nefritis lupus, pemberian metilprednisolon puls dapat
menghilangkan gejala ekstrarenal dengan cepat dan memper-
baiki laju filtrasi glomerulus (LFG) dengan kreatinin serum yang
cepat menjadi normal. Siklofosfamid puls dapat menyebabkan
perbaikan klinis dan remisi
(7,8,10)
dengan efek samping yang sama
dengan pemberian prednison oral jangka lama.
(8)
background image
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
487
TINJAUAN PUSTAKA
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
488
Baqi dkk. (1996) memberikan metilprednisolon puls selama 10 hari
dan dilanjutkan dengan prednison oral pada 20 pasien nefritis
lupus. Pada kelompok 30 pasien lainnya diberikan siklofosfamid
puls setiap bulan selama 6 bulan yang dilanjutkan dengan siklo-
fosfamid puls setiap 3 bulan selama 3 tahun. Selain itu diberikan
juga prednison oral. Ternyata tidak terdapat perbedaan hasil
pengobatan pada kedua kelompok tersebut.
(17)
Moroni dkk. (1998) melaporkan bahwa dengan metilprednisolon
puls 3 kali dan prednison oral dan kloram-busil, maka kemungkinan
pasien nefritis lupus tidak gagal ginjal dalam 10 tahun sebesar
92% sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 60%. Remisi
total atau remisi parsial lebih sering didapatkan pada kelompok
yang mendapat regimen pengobatan metilprednisolon puls.
(20)
Risiko peningkatan kreatinin serum setelah 5 tahun lebih tinggi
pada pasien yang mendapat metilprednisolon puls dibandingkan
dengan siklofosfamid puls (55% vs 25%). Pada nefritis lupus,
kemungkinan relaps setelah 5 tahun lebih besar pada pasien
yang mendapat siklofosfamid puls selama 6 bulan dibandingkan
dengan yang mendapat siklofosfamid puls jangka lama (55% vs
10%). Selain itu siklofosfamid puls lebih efektif daripada
metilprednisolon puls dalam hal pemeliharaan fungsi ginjal.
(10)
Siklofosfamid puls dapat menurunkan risiko relaps, menurunkan
risiko gagal ginjal, menghambat evolusi gambaran kresentik,
menurunkan kebutuhan prednison, memperbaiki keadaan klinis
dengan meningkatnya Hb, menurunkan aktivitas LES yang di-
tandai dengan penurunan komplemen serum dan ekskresi protein
24 jam, dan memperbaiki fungsi ginjal.
(9)
Pada nefritis lupus difus proliferatif, siklofosfamid puls setiap 3
bulan lebih efektif daripada prednison dosis tinggi dalam mence-
gah gagal ginjal. Siklofosfamid puls lebih efektif dalam mengin-
duksi terjadinya remisi pada penyakit ginjal yang berat. Hal ini
terlihat dari stabilnya kreatinin serum, proteinuri yang berkurang,
dan sindrom nefrotik yang remisi.
(7)
Menurut Niaudet (2000), selama 5 tahun tidak ada perbedaan
hasil pengobatan antara pemberian prednison dosis tinggi dengan
sikofosfamid puls, tetapi setelah 5 tahun terlihat bahwa insidens
gagal ginjal lebih tinggi pada pasien yang mendapat prednison
dosis tinggi. Hasil pengobatan dengan siklofosfamid puls lebih
baik dibandingkan dengan siklofos-famid oral atau kombinasi
dengan azatioprin.
(10)
Valeri dkk, (1994) melaporkan peningkatan klirens kreatinin dari
76,2 ± 7,8 ml/menit menjadi 83,7 ± 7,4 ml/menit setelah 6 bulan
pengobatan siklofosfamid puls dan menjadi 87,6 ± 9,1 ml/menit
setelah 12 bulan pengobatan. Setelah 6 bulan pengobatan,
kadar kreatinin serum > 1,2 mg/dl didapatkan pada 7/19 (37%)
pasien dan setelah 12 bulan pada 6/19 (32%) dan tidak berubah
sampai 5 tahun. Setelah 1 tahun sindrom nefrotik mengalami
remisi pada 8/10 (80%) pasien. Rerata protein urin kuantitatif 24
jam menurun dari 6,2 ± 1,5 g/hari menjadi 2,2 ± 0,7 g/hari
setelah 6 bulan dan menjadi 1,1 ± 0,3 g/hari setelah 12 bulan
pengobatan. Pada awal penelitian, 29 % pasien dengan komple-
men rendah dan 15% dengan antibodi anti-DNA yang mening-
kat. Setelah 12 bulan, 10% pasien dengan komplemen rendah
dan 5% dengan peningkatan antibodi anti-DNA. Pada akhir
pengamatan, terdapat 5/20 (25%) mengalami kegagalan terapi.
Gejala ekstrarenal seperti ruam kulit, artralgia-artritis, anemi,
leukopeni, dan serositis berkurang atau hilang dalam waktu 3
bulan.
(7)
Eiser dkk. (1993) melaporkan bahwa dengan siklofosfamid puls,
didapatkan perbaikan klinis berupa penurunan kreatinin serum
setelah 6 bulan dan 12 bulan pengobatan dan perbedaan ini
bermakna dibandingkan penurunan kreatinin serum pada
pemberian siklofosfamid oral. Komplemen C
3
meningkat dari 68
mg/l menjadi 87 mg/l setelah 1 tahun. Albumin meningkat dari
27 ± 6 g/l menjadi 32 ± 6 g/l pada 6 bulan pengobatan dan
menjadi 34 ± 5 g/l pada 12 bulan pengobatan. Proteinuri
berkurang bermakna setelah 6 bulan. Ekskresi protein urin 24 jam
berkurang dari 4,97 ± 3,21 g/24 jam menjadi 2,76 ± 2,42 g/24
jam pada 6 bulan pengobatan dan menjadi 2,57 ± 2,29 g/24 jam
pada 12 bulan pengobatan. Pemeliharaan fungsi ginjal lebih baik
dengan siklofosfamid puls dibandingkan dengan siklofosfamid
oral.
(18)
Lehman dkk. (1989) mengobati 16 pasien nefritis lupus dengan
siklofosfamid puls setiap bulan selama 6 bulan yang dilanjutkan
dengan pemberian setiap 3 bulan. Setelah 1 tahun terdapat
perbaikan bermakna pada ekskresi protein urin, kadar Hb,
komplemen C
3
dan C
4
, dan klirens kreatinin. Hb meningkat dari
11,3 ± 0,5 g/dl menjadi 12,4 ± 0,4 g/dl setelah 6 bulan dan
menjadi 13,1 ± 0,3 g/dl setelah 1 tahun. Kreatinin serum turun
dari 1.07 ± 0,3 mg/dl menjadi 0.69 ± 0,06 mg/dl setelah 6 bulan
dan menjadi 0.69 ± 0.05 mg/dl setelah 1 tahun. Klirens kreatinin
meningkat dari 96,8 ± 12,2 ml/menit/1,73 m
2
menjadi 118,3 ±
24,3 ml/menit/1,73 m
2
setelah 6 bulan dan menjadi 120,8 ± 13,8
ml/menit/1,73 m
2
setelah 1 tahun. Pada pasien dengan klirens
kreatinin < 100 ml/menit/1,73 m
2
, klirens kreatinin meningkat dari
57,5 ± 11 ml/menit/1,73m
2
menjadi 128,0 ± 46,2 ml/menit/1,73m
2
setelah 6 bulan dan menjadi 121 ± 24,8 ml/menit/1,73 m
2
setelah 1 tahun. Kadar C
3
meningkat dari 52,0 ± 5,9 mg/dl
menjadi 108,8 ± 11,9 mg/dl setelah 6 bulan dan menjadi 108,0
± 13,7 setelah 1 tahun. Kadar C
4
meningkat dari 7,6 ± 0,9 mg/dl
sampai 2 atau 3 kali 6 dosis. Prednison 1 mg/kgbb/hari diberikan
setiap hari selama 6 minggu, kemudian diturunkan menjadi 40
mg dan 20 mg selang sehari.
(18)
d. Siklofosfamid puls diberikan melalui infus selama 1 jam dengan
dosis 500 mg-1.000 mg/m
2
LPB dan dilakukan hidrasi yang
adekuat dengan anjuran sering berkemih. Siklofosfamid puls ini
diberikan setiap 3 bulan selama 4 tahun atau sampai minimal 18
bulan dalam keadaan remisi.
(15,19)
e. Siklofosfamid puls diberikan setiap bulan selama 12 bulan
dengan dosis 500 mg/m
2
LPB pada bulan pertama, 750 mg/m
2
LPB pada bulan kedua, dan selanjutnya 1.000 mg/ m
2
LPB.
(15)
f. Siklofosfamid puls dengan dosis 750 mg-1.000 mg/m
2
LPB
diberikan setiap bulan sampai 6 bulan dilanjutkan dengan siko-
fosfamid puls dosis yang sama setiap 3 bulan
(10,17)
selama 2 -3
tahun.
(10)
Prednison diberikan dengan dosis 0,5 mg/kgbb/hari
yang kemudian diturunkan perlahan-lahan.
(10,17)
3. Metilprednisolon dengan siklofosfamid
a. Metilprednisolon puls 20 mg/kgbb/hari diberikan dalam 2 jam
selama 3 hari. Setelah pemberian metilprednisolon intravena,
dilakukan hidrasi melalui intravena dilanjutkan dengan pembe-
rian siklofosfamid 500 mg/m
2
LPB dicampur dengan Mesna
(uromitexan) 360 mg/m
2
LPB dalam 100 ml dekstrose 5% per
infus selama 2 jam, diikuti dengan hidrasi intravena. Infus Mesna
diberikan lagi setelah 2-4 jam, 6 jam, dan 10 jam. Setelah
metilprednisolon puls, prednison diberikan dengan dosis 2
mg/kgbb/hari dan kemudian diturunkan perlahan-lahan. Infus
siklofosfamid diberikan setiap bulan selama 6 bulan dengan dosis
dinaikkan hingga 750-1000 mg/m
2
LPB. Setelah pemberian 6 kali
setiap bulan, siklofosfamid puls diberikan setiap 3 bulan.
Regimen ini diberikan dalam tata laksana lupus eritematosus
sistemik infantil.
(6)
b. Metilprednisolon 30 mg/kgbb/dosis diberikan selama 3 hari
berturut-turut diikuti dengan siklofosfamid puls dengan dosis 0,5
g/m
2
LPB/dosis sekali sebulan selama 6 bulan. Prednison 2
mg/kgbb diberikan selang sehari.
(4,10)
c. Siklofosfamid puls dengan dosis 500 mg-750 mg/m
2
LPB
diberikan setiap bulan sampai 6 bulan; dosis dinaikkan sampai
1 g/m
2
LPB selama leukosit > 3.000/mm
3
. Kemudian diberi
kortikosteroid dosis tinggi seperti metilprednisolon iv puls 1 g per
hari selama 3 hari atau prednison selang sehari; selanjutnya dosis
diturunkan perlahan-lahan. Pasien mendapat hidrasi selama 24
jam sebelum dan sesudah terapi siklofosfamid.
(7)
Selain dengan siklofosfamid puls, ada yang memberikan metil-
prednisolon puls dengan siklofosfamid oral atau klorambusil.
Metilprednisolon puls diberikan dengan dosis 30 mg/kgbb/hari
selama 3 hari berturut-turut diikuti dengan prednison 45 mg/m
2
LPB/ hari dan diturunkan perlahan-lahan selama 3 bulan, siklofos-
famid 2 mg/kgbb/hari selama 2 bulan, dan dipiridamol 5 mg/
kgbb/hari selama 6 bulan.
(14)
Moroni dkk. (1998) memberikan
metilprednisolon puls 3 kali diikuti dengan prednison oral 0,5
mg/kgbb/hari pada bulan ke 1,3, dan 5 dan klorambusil 0,2 mg/
kgbb/hari pada bulan 2, 4, dan 6. Regimen ini diberikan untuk
tatalaksana nefritis lupus.
(20)
HASIL PENGOBATAN
Metilprednisolon puls telah terbukti cukup efektif dalam tatalak-
sana sindrom nefrotik resisten steroid, glomerulonefritis berat,
dan nefritis purpura Henoch-Schonlein. Siklofosfamid intermiten
intravena telah digunakan pada sindrom nefrotik kelainan minimal
dan lupus eritematosus sistemik yang melibatkan ginjal.
(2,3,4,5)
GSFS merupakan kelainan yang relatif sulit diobati dengan hasil
yang umumnya tidak memuaskan. Pada mulanya sekitar
15-23% GSFS responsif terhadap steroid, tetapi sebagian besar
akan berlanjut menjadi gagal ginjal kronik pada waktu 10 tahun
setelah onset.
(21)
Di Amerika Serikat, pengobatan GSFS dengan
steroid dan obat alkilating jangka lama dan intensif memberikan
hasil yang memuaskan, namun tidak berhasil baik di negara ber-
kembang karena masalah ketidakteraturan kontrol, kesinambungan
pengobatan, dan paparan infeksi yang tinggi.
(4)
Pemberian siklofosfamid intravena intermiten telah terbukti lebih
baik daripada prednison dan sitostatik oral dalam meng-induksi
remisi pada glomerulonefritis dan menurunkan risiko terjadinya
GGT dengan efek samping yang lebih ringan.
(6)
Pada nefritis
lupus, siklofosfamid puls intravena yang diberikan setiap 3 bulan
ternyata lebih efektif daripada kortikosteroid oral dosis tinggi
dalam mencegah terjadinya gagal ginjal.
(22)
Metilprednisolon puls mempunyai efek antiinflamasi dan imuno-
supresi yang poten dan cepat. Pada nefritis lupus, metilprednisolon
puls dan sikofosfamid puls lebih baik dibandingkan dengan
steroid dan sikofosfamid oral jangka lama meskipun ada juga
laporan dengan hasil tidak berbeda bermakna.
(7,9,10)
Pada nefritis lupus, pemberian metilprednisolon puls dapat
menghilangkan gejala ekstrarenal dengan cepat dan memper-
baiki laju filtrasi glomerulus (LFG) dengan kreatinin serum yang
cepat menjadi normal. Siklofosfamid puls dapat menyebabkan
perbaikan klinis dan remisi
(7,8,10)
dengan efek samping yang sama
dengan pemberian prednison oral jangka lama.
(8)
background image
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
489
TINJAUAN PUSTAKA
menjadi 17,2 ± 2,6 mg/dl setelah 6 bulan dan menjadi 15,9 ± 2,2
setelah 1 tahun. Ekskresi protein urin 24 jam menurun dari 3121
± 913 mg/24 jam menjadi 2178 ± 670 mg/24 jam setelah 6
bulan dan menjadi 1016 ± 364 mg/24 jam setelah 1 tahun.
(9)
Saberi dan Jones (1998) memberikan siklofosfamid puls pada
lupus eritematosus sistemik infantil dan terdapat remisi total
selama 2 tahun setelah dosis terakhir siklofosfamid puls. Pembe-
rian obat ini dapat ditoleransi oleh pasien dan tidak terdapat efek
samping selama pengobatan.
(6)
Dalam tatalaksana GSFS, pemberian metilprednisolon puls dan
siklofosfamid puls memberikan hasil yang baik. Adhikari dkk.
(1997) mengobati 7 pasien GSFS dengan metil-prednisolon puls
dan diamati selama 21-42 bulan Dilaporkan bahwa edema
menghilang dalam 2-4 minggu pengobatan, hematuri berkurang
atau hilang dalam 6-12 minggu pengobatan, dan LFG membaik
pada semua pasien kecuali pada 1 pasien yang mengalami GGT.
Satu pasien mengalami remisi total.
Pada 5 pasien GSFS lainnya diberikan siklofosfamid puls dengan
hasil 2 pasien remisi total, 1 pasien remisi parsial, 1 pasien tidak
terjadi remisi, dan 1 pasien meninggal karena infeksi berat.
Edema dan proteinuri hilang dalam 4 minggu. Terdapat perbai-
kan poteinuri, rasio protein/ kreatinin, dan hematuri, serta LFG
membaik dalam 1-3 bulan.
(4)
Peneliti lain melaporkan bahwa pada akhir pengamatan (0,75-
12,5 tahun) pemberian metilprednisolon puls pada 32 pasien
GSFS resisten steroid, didapatkan 21/32 (66%) pasien mengalami
remisi total, 3/32 (9%) dengan proteinuri ringan, 2/32 (6%)
pasien dengan proteinuri sedang, dan 6/32 (19%) dengan protei-
nuri nefrotik. Di antara 11 pasien yang tidak remisi, 3/11 menga-
lami GGT, 5/11 dengan penurunan LFG, dan 3/11 pasien tetap
dengan proteinuri persisten dan LFG yang normal.
(11,16)
Pada laporan Ichikawa dan Fogo (1996), dengan pemberian
metilprednisolon puls dan obat alkilating oral terhadap 25 pasien
FSGS resisten steroid dengan umur rata-rata 7,4 tahun, didapat-
kan remisi total pada 60% pasien ; pada 20% tidak ada efek
pengobatan setelah diamati selama ± 55 bulan.
(21)
Rennet dkk. (1999) melaporkan remisi total selama pengamatan
pada 7 dari 10 pasien GSFS resisten steroid yang mendapat
siklofosfamid puls. Satu pasien mengalami perbaikan klinis dan
albumin darah normal, tetapi masih terdapat proteniuri dan
didiagnosis sebagai remisi parsial, dan pada 2 pasien tidak terjadi
remisi.
(12)
Dalam tatalaksana glomerulonefritis membranoproliferatif tipe I,
metilprednisolon puls memberikan hasil baik. Bergstein dan
Andreoli (1995) mengobati 16 pasien glomerulonefritis membra-
noproliferatif tipe I dengan metilprednisolon puls. Dengan terapi
ini terdapat perbaikan bermakna albumin serum, klirens kreati-
nin, dan ekskresi protein urin setelah 3 bulan pengobatan dan
perbaikan ini menetap selama pengamatan 20,8 bulan (1 sampai
74 bulan). Pada awalnya, hematuri didapatkan pada 13/16
pasien, dan setelah 3 bulan terapi didapatkan pada 8/16 pasien
dan pada 2/16 pasien pada akhir pengamatan. Albumin serum
meningkat dari 2,66 ± 0,69 g/dl sebelum terapi menjadi 3,76 ±
0,39 g/dl pada 3 bulan setelah terapi dan 3,89 ± 0,66 g/dl pada
akhir pengamatan. Klirens kreatinin meningkat dari 97 ± 37 ml/
menit/1,73 m
2
sebelum terapi menjadi 129 ± 26 ml/menit/1,73
m
2
pada 3 bulan setelah terapi dan 127 ± 38 ml/menit/1,73 m
2
pada akhir pengamatan. Pada akhir pengamatan, klirens kreati-
nin normal pada semua pasien dan tetap tidak ada proteinuri ; 10
pasien remisi komplit dengan urinalisis, klirens kreatinin, dan
ekskresi protein yang normal.
(13)
Dalam tatalaksana nefritis purpura Henoch-Schonlein, pemberian
metilprednisolon puls memberikan hasil yang baik. Niaudet dan
Habib (1998) memberikan metilprednisolon puls pada 38 pasien
nefritis purpura Henoch-Schonlein dengan lama pengamatan 5
tahun 7 bulan (1-16 tahun). Pada akhir peng-amatan (1-16
tahun), 27/38 pasien mengalami perbaikan klinis, 3 pasien
dengan kelainan urin minimal, 4 pasien tetap mengalami nefro-
pati persisten, dan 4 lagi menjadi GGT. Ekskresi protein urin turun
dari 162 ± 68 mg/kgbb/hari menjadi 38 ± 15 mg/kgbb/hari,
bahkan pada 12 pasien tidak terdapat proteinuri. Satu tahun
setelah pengobatan, rerata ekskresi protein urin menjadi 17 ± 6
mg/kgbb/hari. Klirens kreatinin menjadi normal kembali pada 3
pasien yang mengalami penurunan fungsi ginjal pada awal pe-
ngobatan. Di antara 38 pasien nefritis purpura Henoch-Schonlein
ini, 2 pasien dengan glomerulonefritis proliferatif endokapiler
mengalami remisi total; pada 4 pasien glomerulonefritis fokal dan
segmental dengan kresen < 50%, 3 mengalami remisi total dan
1 dengan kelainan urin minimal. Di antara 11 pasien glomeru-
lonefritis endodan ekstrakapiler dengan kresen < 50%, 8 menga-
lami penyembuhan secara klinis, 1 dengan kelainan urin minimal,
dan 2 dengan nefropati persisten. Di antara 21 pasien glomeru-
lonefritis endodan ekstrakapiler dengan kresen 50%, 14 pasien
remisi total, 1 pasien dengan kelainan urin minimal, 2 pasien
dengan nefropati persisten, dan 4 pasien mengalami GGT.
(5)
Oner dkk. (1995) mengobati nefritis purpura Henoch-Schonlein
dengan gabungan metilprednisolon puls, siklofos-famid, dan
dipiridamol. Pada akhir pengamatan (9-39 bulan), 7 di antara 12
pasien mengalami remisi total, 3 dengan kelainan urin minimal,
www.kalbe.co.id
background image
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
492
dan 1 dengan insufisiensi ginjal ringan. LFG menjadi normal pada
10/12 pasien (80-95 ml/menit/1,73 m
2
) dan pada 2/12 pasien LFG
tetap rendah yaitu 35 ml/menit/1,73m
2
. Setelah 2-20 bulan
(rerata 8,2 + 1 bulan) protein urin turun pada 10/12 pasien dan
tanpa proteinuri pada 8/12 pasien. Tujuh (58%) pasien menga-
lami remisi total dan tidak terjadi relaps selama 9-39 bulan, 3
pasien remisi parsial dengan proteinuri atau hematuri, 1 pasien
proteinuri seperti sindrom nefrotik selama 10 bulan, dan 1 pasien
mengalami GGT.
(14)
Elhance dkk. (1994) melaporkan 7 pasien sindrom nefrotik
resisten steroid dengan hasil pengobatan yang baik yaitu remisi
total setelah pemberian siklofosfamid puls dan tidak terdapat
efek samping pengobatan.
(23)
Yorgin dkk. (2001) melaporkan 9
di antara 11 pasien sindrom nefrotik resisten steroid mengalami
remisi sedangkan 2 lainnya tidak.
(1)
EFEK SAMPING
Kortikosteroid dosis tinggi mempunyai efek antiinflamasi yang
kuat dan cepat dan pemakaian jangka lama akan menekan
sistem imun. Kortikosteroid umumnya menurunkan respons
imun, baik secara langsung maupun melalui perubahan distribusi
subpopulasi limfosit.
(14)
Siklofosfamid akan mengganggu sintesis dan fungsi DNA, serta
mempengaruhi sel B maupun sel T, lebih berat pada sel B.
Siklofosfamid akan dimetabolisme dalam tubuh menjadi akrolein,
produk sangat toksik yang diekskresi dalam urin, dan dapat
menyebabkan sistitis hemoragik. Oleh karena itu, perlu hidrasi
yang adekuat sebelum, selama, dan sesudah pemberian siklofos-
famid puls minimal 24 jam untuk mencegah komplikasi pada
kandung kemih,
(7)
dapat juga diberikan Mesna yang berfungsi
mengikat metabolit siklofosfamid dalam urin.
(10)
Pemberian imunosupresan dihentikan jika terdapat sepsis,
penekanan sumsum tulang yang ditandai dengan hemoglobin <
10 g/dl, leukosit > 3.000/ul, trombosit < 100.000/ul, dan hiper-
tensi yang tidak terkontrol.
(4)
Berbagai kepustakaan menyebutkan bahwa efek samping
metilprednisolon dan siklofosfamid puls tidak sering ditemukan
dan biasanya lebih ringan dibandingkan dengan pemberian per
oral jangka lama. Hal ini mungkin karena jumlah sampel sedikit,
efek samping tidak terdeteksi sehingga tidak dilaporkan karena
sebagian besar pasien merupakan anak-anak, atau efek samping
lebih jarang karena dosis kumulatif yang lebih rendah. Belum ada
laporan mengenai efek samping terapi puls jangka lama
sehingga diperlukan pemantauan lebih lanjut terhadap kemung-
kinan timbulnya efek samping di kemudian hari.
(1)
Efek samping metilprednisolon
Efek samping steroid dapat berupa hipertensi, diabetes melitus,
obesitas, hirsutisme, striae, sindrom Cushing, gagal tumbuh,
akne, katarak, osteoporosis, nekrosis avaskular, ulkus peptikum,
dan meningkatnya risiko infeksi. Meskipun demikian, terapi
metilprednisolon puls dapat ditoleransi dengan baik oleh anak
tanpa efek samping yang bermakna,
(4,5,9,16)
pemberian
metilprednisolon puls dapat menyebabkan disritmia jantung atau
fibrilasi atrium.
(1)
Nausea merupakan efek samping yang sering ditemukan selama
dan setelah pemberian metilprednisolon puls yaitu pada sekitar
20% pasien 21 dan Yorgin dkk. (2001) melaporkan pada 1/11
(9%) pasien.
(1)
Dengan pemberian metilprednisolon puls,
hipertensi didapatkan pada 17%-20%,
(16,21)
Adhikari dkk,
(1997) melaporkan pada 2 di antara 7 pasien.
(4)
Katarak didapat-
kan pada 20%-22%
(16,21)
sedangkan Adhikari dkk, (1997)
mendapatkan katarak subkapsular pada 1/7 pasien,
(4)
Bergstein
dan Andreoli (1995) mendapatkan katarak posterior tanpa
gangguan penglihatan pada 1/16 pasien.
(13)
Yorgin dkk. (2001)
melaporkan katarak pada 1/11 (9%). Katarak biasanya terjadi jika
dosis kumulatif > 1000 mg/kgbb.
(1)
Hambatan per-tumbuhan
didapatkan pada 17% - 20 % pasien.
(11,16,21)
Bergstein dan
Andreoli (1995) melaporkan hambatan pertumbuhan yang
mengalami pacu tumbuh setelah obat dihentikan pada 5 di
antara 16 pasien.(
13)
Metilprednisolon puls menyebabkan leuko-
peni reversibel pada 20% pasien.
(21)
Efek samping siklofosfamid
Siklofosfamid dapat menyebabkan beberapa efek samping
seperti depresi sumsum tulang, gangguan saluran cerna,
alo-pesia, pucat, kuku berwarna kebiruan, nekrosis avaskular,
fraktur osteoporosis, sistitis hemoragik, dan infeksi seperti sepsis,
infeksi Herpes zoster, infeksi jamur. Efek jangka panjang dapat
berupa toksisitas gonad yang menyebabkan azoospermia dan
infertilitas, fibrosis paru, fibrosis ovarium, dan meningkatnya risiko
keganasan.
(4,10,12,15,19)
Untuk mengurangi efek samping siklofosfamid puls, dapat
dilakukan hidrasi adekuat, pemberian Mesna (uromitexan), dan
mengurangi dosis. Pada pasien dengan kelainan ginjal dan hati,
digunakan dosis 500 mg/m
2
LPB. Jika jumlah leukosit < 2000
/mm
3
maka dosis tidak boleh dinaikkan. Jika granulosit < 1.000/
mm
3
atau leukosit total < 2.000/mm
3
, dosis siklofosfamid di-
kurangi menjadi 25% atau 125 mg/m
2
LPB.
(6,9,10,12,18)
Siklofosfamid puls sering menyebabkan neutropenia yang
dapat menimbulkan infeksi terutama Herpes zoster.
(10)
Mendoza
dan Tune (1995) melaporkan leukopeni pada 19% pasien,
(16)
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
491
TINJAUAN PUSTAKA
Eiser dkk (1993) mendapatkan leukopeni pada 3/12 pasien,
(18)
Valeri dkk. (1994) menemukan leukopeni (leukosit < 2.000/ul)
pada 1/20 pasien tanpa disertai infeksi,
(7)
sedangkan Niaudet dan
Habib (1998) tidak menemukan leukopeni dan infeksi dalam
pemberian siklofosfamid puls.
(5)
Adhikari dkk (1997) melaporkan bahwa infeksi merupakan efek
samping utama yang terjadi 2 minggu setelah pemberian siklo-
fosfamid puls dosis kedua.
(4)
Valeri dkk., (1994) melaporkan 3 di
antara 20 pasien nefritis lupus mengalami infeksi berat.
(7)
Dooley
dkk. (1997) melaporkan infeksi Herpes zoster pada 12/19 pasien,
sepsis pada 9/19 pasien, infeksi jamur pada 4/19 pasien, nekrosis
avaskular pada 5/19,
(19)
sedangkan Eiser dkk. (1993) melaporkan
infeksi Herpes zoster dan empiema pneumokokus pada masing-
masing 1/12 pasien.
(18)
Gangguan saluran cerna berupa nausea dan muntah bisanya
ringan dan terjadi dalam 24 jam pemberian siklofosfamid.
(7,9,10)
Alopesia dapat terjadi pada semua pasien dan biasanya terjadi
dalam 6 bulan pertama
(9,10)
;Valeri dkk. (1994) mendapatkan
alopesia pada 4/20 pasien. Hipogammaglobulinemi ditemukan
pada 1/16 pasien setelah 6 bulan dan menjadi normal setelah
obat dikurangi atau dihentikan.
(7)
Gejala lain adalah kejang karena
hiponatremi dan erupsi bulosa pada masing-masing 1/16 pasien,
(9)
dan obesitas pada 1/12 pasien.
(18)
Sistitis hemoragik jarang di-
temukan. Tidak didapatkan sistitis hemoragik dan keganasan
selama 60 bulan pengamatan.
(9,7,19)
Obat alkylating berkaitan dengan meningkatnya insidens keganasan
seperti leukemia mielogen dan insidens sterilitas. Risiko sterilitas
akibat toksisitas gonad lebih besar pada laki-laki daripada perem-
puan. Dilaporkan bahwa azoospermia dapat bersifat ireversibel.
Insidens sterilitas dilaporkan sebesar 15-20% bergantung pada
dosis kumulatif. Toksisitas siklo-fosfamid dapat terjadi jika dosis
kumulatifnya > 200-250 mg/kgbb.
Meskipun pada beberapa laporan tidak ditemukan efek samping
ini, tetapi tetap perlu dipantau
(16)
. Risiko amenore bergantung
pada usia saat terapi dan dosis. Pada pemberian siklofosfamid
puls selama 6 bulan, risiko amenore lebih rendah jika pasien
berumur < 25 tahun; ± 25% pasien > 30 tahun akan mengalami
amenore. Jika jumlah total pemberian siklofosfamid puls menca-
pai 15 kali, maka kejadian amenore sebesar 17% pada pasien
< 25 tahun dan hampir 100% pada pasien > 30 tahun
(7)
. Efek
samping siklofosfamid puls setiap bulan dengan dosis 750 mg/m
2
luas permukaan badan lebih ringan dibandingkan dengan
siklofosfamid oral dengan dosis 2 mg/ kgbb/hari.
(7,10)
Siklofosfamid puls dapat ditoleransi oleh anak dan tidak selalu
menyebabkan efek samping. Tidak didapatkan efek samping
setelah pemberian siklofosfamid puls.
(12,23)
Dosis siklofosfamid
puls dapat dinaikkan menjadi 1.000mg/m
2
LPB jika leukosit tetap
lebih dari 3.000/ul.
(10)
KESIMPULAN
Metilprednisolon dan siklofosfamid puls merupakan terapi yang
memberikan hasil baik pada berbagai penyakit ginjal anak seperti
sindrom nefrotik resisten steroid, GSFS, glomerulonefritis mem-
branoproliferatif tipe I, nefritis lupus, dan nefritis purpura Henoch-
Schonlein. Remisi dapat terjadi pada sebagian besar kasus dengan
efek samping yang lebih ringan dibandingkan penggunaan steroid
dan siklofosfamid oral jangka lama.
DAFTAR PUSTAKA
1. Yorgin PD, Krasher J, Al-Uzri AY. Pulse methylprednisolone treatment of idiopathic
steroid-resistant nephritic syndrome. Pediatr Nephrol 2001;16:245-50.
2. Cole BR, Brockleband JT, Kienstra RA, Kissane JM, Robson AM. Pulse methylprednisolone
therapy in the treatment of severe glomerulonephritis. J Pediatr 1976; 88:307-14.
3. Waldo FB, Benfield MR, Kohaut EC. Methylprednisolone treatment of patients with
steroid-resistant nephrotic syndrome. Pediatr Nephrol 1992;6:503-5.
4. Adhikari M, Bhimma R, Coovadia HM. Intensive pulse therapies for focal glomerulosclerosis
in South African children. Pediatr Nephrol 1997;11:423-8.
5. Niaudet P, Habib R. Methylprednisolone pulse therapy in the treatment of severe forms of
Schonlein-Henoch purpura nephritis. Pediatr Nephrol 1998;12:238-43.
6. Saberi MS, Jones BA. Remission of infantile systemic lupus erythematosus with intravenous
cyclophosphamide. Pediatr Nephrol 1998;12:136-8.
7. Valeri A, Radhakrisnan J, Esres D, D'Agati V, Kopelman R, Pernis A, dkk. Intravenous pulse
cyclophosphamide treatment of severe lupus nephritis: a prospective five-year study. Clin
Nephrol
1994;42:71-8.
8. Barron KS, Person DA, Brewer EJ, Beale MG, Robson AM. Pulse methylprednisolone therapy
in diffuse proliferative lupus nephritis. J Pediatr 1982;101:137-41.
9. Lehman TJA, Sherry DD, Wagner-Weiner L, McCurdy DK, Emery HM, Magilavy DB,
Kovalesky A. Intermitten intravenous cyclophosphamide therapy for lupus nephritis. J Pediatr
1989;114:1055-60.
10. Niaudet P. Treatment of lupus nephritis in children. Pediatr Nephrol 2000;14:158-66
11. Tune BM, Kirpekar R, Sibley RK, Reznik VM, Griswold WR, Mendoza SA. Intravenous
methylprednisolone and oral alkylating agent therapy of prednisone-resistant pediatric focal
segmental glomerulosclerosis: a long-term follow up. Clin Nephrol 1995;43:84-8.
12. Rennet WP, Kala UK, Jacobs D, Goetsch S, Verhaart S. Pulse cyclophosphamide for
steroid-resistant focal segmental glomerulosclerosis. Pediatr Nephrol 1999;13:113-6.
13. Bergstein JM, Andreoli SP. Respons of type I membranoproliferative glomerulonephritis to
pulse methylprednisolone and alternate-day prednison therapy. Pediatr Nephrol
1995;9:268-71.
14. Oner A, Tinaztepe K, Erdogan O. The effect of triple therapy on rapidly progressive type of
Henoch-Schonlein nephritis. Pediatr Nephrol 1995;9:6-10.
15. Makker SP. Systemic lupus erythematosus nephritis. Dalam: Kher KK, Makker SP,
(penyunting) Clinical Pediatric Nephrology. Edisi 1,McGraw-Hill Inc, New York, 1994;h.233-44.
16. Mendoza SA, Tune BM. Management of the difficult nephrotic patient. Pediatr Clins N Am
1995;42:1459-68.
17. Baqi N, Moazami S, Singh A, Ahmad H, Balachandra S, Tejani A. Lupus nephritis in children
: a longitudinal study of prognostics factors and therapy. J Am Soc Nephrol 1996;7:924-9
18. Eiser AR, Grishman E, Dreznin S. Intravenous pulse cyclophosphamide in the treatment of
the IV lupus nephritis. Clinical Nephrol 1993; 40 :155-9.
19. Dooley MA, Hogan S, Jennette C, Falk R. Cyclophosphamide therapy for lupus nephritis:
Poor renal survival in black Americans. Kidney Int 1997;51:1188-95.
20. Moroni G, Maccario M, Banfi G, Quaglini S, Ponticelli C. Treatment of membranous lupus
nephritis. Am J Kidney Dis 1998;31:681-6.
21. Ichikawa I, Fogo A. Focal segmental glomerulosclerosis. Pediatr Nephrol 1996;10:374-91
22. Austin HA, Klippel JL, Balow JE, Le Riche NGH, Steinberg AD, Plotz Ph, dkk. Therapy of
lupus nephritis-controlled trial of prednisone and cytotoxic drugs. N Engl J Med
1986;314:614-9.
23. Elhance R, Gulati S, Kher V, Gupta A, Sharma RK. Intravenous pulse cyclophosphamide,
a new regime for steroid-resistant minimal change nephrotic syndrome. Pediatr Nephrol
1994;8:1-3
background image
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
492
dan 1 dengan insufisiensi ginjal ringan. LFG menjadi normal pada
10/12 pasien (80-95 ml/menit/1,73 m
2
) dan pada 2/12 pasien LFG
tetap rendah yaitu 35 ml/menit/1,73m
2
. Setelah 2-20 bulan
(rerata 8,2 + 1 bulan) protein urin turun pada 10/12 pasien dan
tanpa proteinuri pada 8/12 pasien. Tujuh (58%) pasien menga-
lami remisi total dan tidak terjadi relaps selama 9-39 bulan, 3
pasien remisi parsial dengan proteinuri atau hematuri, 1 pasien
proteinuri seperti sindrom nefrotik selama 10 bulan, dan 1 pasien
mengalami GGT.
(14)
Elhance dkk. (1994) melaporkan 7 pasien sindrom nefrotik
resisten steroid dengan hasil pengobatan yang baik yaitu remisi
total setelah pemberian siklofosfamid puls dan tidak terdapat
efek samping pengobatan.
(23)
Yorgin dkk. (2001) melaporkan 9
di antara 11 pasien sindrom nefrotik resisten steroid mengalami
remisi sedangkan 2 lainnya tidak.
(1)
EFEK SAMPING
Kortikosteroid dosis tinggi mempunyai efek antiinflamasi yang
kuat dan cepat dan pemakaian jangka lama akan menekan
sistem imun. Kortikosteroid umumnya menurunkan respons
imun, baik secara langsung maupun melalui perubahan distribusi
subpopulasi limfosit.
(14)
Siklofosfamid akan mengganggu sintesis dan fungsi DNA, serta
mempengaruhi sel B maupun sel T, lebih berat pada sel B.
Siklofosfamid akan dimetabolisme dalam tubuh menjadi akrolein,
produk sangat toksik yang diekskresi dalam urin, dan dapat
menyebabkan sistitis hemoragik. Oleh karena itu, perlu hidrasi
yang adekuat sebelum, selama, dan sesudah pemberian siklofos-
famid puls minimal 24 jam untuk mencegah komplikasi pada
kandung kemih,
(7)
dapat juga diberikan Mesna yang berfungsi
mengikat metabolit siklofosfamid dalam urin.
(10)
Pemberian imunosupresan dihentikan jika terdapat sepsis,
penekanan sumsum tulang yang ditandai dengan hemoglobin <
10 g/dl, leukosit > 3.000/ul, trombosit < 100.000/ul, dan hiper-
tensi yang tidak terkontrol.
(4)
Berbagai kepustakaan menyebutkan bahwa efek samping
metilprednisolon dan siklofosfamid puls tidak sering ditemukan
dan biasanya lebih ringan dibandingkan dengan pemberian per
oral jangka lama. Hal ini mungkin karena jumlah sampel sedikit,
efek samping tidak terdeteksi sehingga tidak dilaporkan karena
sebagian besar pasien merupakan anak-anak, atau efek samping
lebih jarang karena dosis kumulatif yang lebih rendah. Belum ada
laporan mengenai efek samping terapi puls jangka lama
sehingga diperlukan pemantauan lebih lanjut terhadap kemung-
kinan timbulnya efek samping di kemudian hari.
(1)
Efek samping metilprednisolon
Efek samping steroid dapat berupa hipertensi, diabetes melitus,
obesitas, hirsutisme, striae, sindrom Cushing, gagal tumbuh,
akne, katarak, osteoporosis, nekrosis avaskular, ulkus peptikum,
dan meningkatnya risiko infeksi. Meskipun demikian, terapi
metilprednisolon puls dapat ditoleransi dengan baik oleh anak
tanpa efek samping yang bermakna,
(4,5,9,16)
pemberian
metilprednisolon puls dapat menyebabkan disritmia jantung atau
fibrilasi atrium.
(1)
Nausea merupakan efek samping yang sering ditemukan selama
dan setelah pemberian metilprednisolon puls yaitu pada sekitar
20% pasien 21 dan Yorgin dkk. (2001) melaporkan pada 1/11
(9%) pasien.
(1)
Dengan pemberian metilprednisolon puls,
hipertensi didapatkan pada 17%-20%,
(16,21)
Adhikari dkk,
(1997) melaporkan pada 2 di antara 7 pasien.
(4)
Katarak didapat-
kan pada 20%-22%
(16,21)
sedangkan Adhikari dkk, (1997)
mendapatkan katarak subkapsular pada 1/7 pasien,
(4)
Bergstein
dan Andreoli (1995) mendapatkan katarak posterior tanpa
gangguan penglihatan pada 1/16 pasien.
(13)
Yorgin dkk. (2001)
melaporkan katarak pada 1/11 (9%). Katarak biasanya terjadi jika
dosis kumulatif > 1000 mg/kgbb.
(1)
Hambatan per-tumbuhan
didapatkan pada 17% - 20 % pasien.
(11,16,21)
Bergstein dan
Andreoli (1995) melaporkan hambatan pertumbuhan yang
mengalami pacu tumbuh setelah obat dihentikan pada 5 di
antara 16 pasien.(
13)
Metilprednisolon puls menyebabkan leuko-
peni reversibel pada 20% pasien.
(21)
Efek samping siklofosfamid
Siklofosfamid dapat menyebabkan beberapa efek samping
seperti depresi sumsum tulang, gangguan saluran cerna,
alo-pesia, pucat, kuku berwarna kebiruan, nekrosis avaskular,
fraktur osteoporosis, sistitis hemoragik, dan infeksi seperti sepsis,
infeksi Herpes zoster, infeksi jamur. Efek jangka panjang dapat
berupa toksisitas gonad yang menyebabkan azoospermia dan
infertilitas, fibrosis paru, fibrosis ovarium, dan meningkatnya risiko
keganasan.
(4,10,12,15,19)
Untuk mengurangi efek samping siklofosfamid puls, dapat
dilakukan hidrasi adekuat, pemberian Mesna (uromitexan), dan
mengurangi dosis. Pada pasien dengan kelainan ginjal dan hati,
digunakan dosis 500 mg/m
2
LPB. Jika jumlah leukosit < 2000
/mm
3
maka dosis tidak boleh dinaikkan. Jika granulosit < 1.000/
mm
3
atau leukosit total < 2.000/mm
3
, dosis siklofosfamid di-
kurangi menjadi 25% atau 125 mg/m
2
LPB.
(6,9,10,12,18)
Siklofosfamid puls sering menyebabkan neutropenia yang
dapat menimbulkan infeksi terutama Herpes zoster.
(10)
Mendoza
dan Tune (1995) melaporkan leukopeni pada 19% pasien,
(16)
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
491
TINJAUAN PUSTAKA
Eiser dkk (1993) mendapatkan leukopeni pada 3/12 pasien,
(18)
Valeri dkk. (1994) menemukan leukopeni (leukosit < 2.000/ul)
pada 1/20 pasien tanpa disertai infeksi,
(7)
sedangkan Niaudet dan
Habib (1998) tidak menemukan leukopeni dan infeksi dalam
pemberian siklofosfamid puls.
(5)
Adhikari dkk (1997) melaporkan bahwa infeksi merupakan efek
samping utama yang terjadi 2 minggu setelah pemberian siklo-
fosfamid puls dosis kedua.
(4)
Valeri dkk., (1994) melaporkan 3 di
antara 20 pasien nefritis lupus mengalami infeksi berat.
(7)
Dooley
dkk. (1997) melaporkan infeksi Herpes zoster pada 12/19 pasien,
sepsis pada 9/19 pasien, infeksi jamur pada 4/19 pasien, nekrosis
avaskular pada 5/19,
(19)
sedangkan Eiser dkk. (1993) melaporkan
infeksi Herpes zoster dan empiema pneumokokus pada masing-
masing 1/12 pasien.
(18)
Gangguan saluran cerna berupa nausea dan muntah bisanya
ringan dan terjadi dalam 24 jam pemberian siklofosfamid.
(7,9,10)
Alopesia dapat terjadi pada semua pasien dan biasanya terjadi
dalam 6 bulan pertama
(9,10)
;Valeri dkk. (1994) mendapatkan
alopesia pada 4/20 pasien. Hipogammaglobulinemi ditemukan
pada 1/16 pasien setelah 6 bulan dan menjadi normal setelah
obat dikurangi atau dihentikan.
(7)
Gejala lain adalah kejang karena
hiponatremi dan erupsi bulosa pada masing-masing 1/16 pasien,
(9)
dan obesitas pada 1/12 pasien.
(18)
Sistitis hemoragik jarang di-
temukan. Tidak didapatkan sistitis hemoragik dan keganasan
selama 60 bulan pengamatan.
(9,7,19)
Obat alkylating berkaitan dengan meningkatnya insidens keganasan
seperti leukemia mielogen dan insidens sterilitas. Risiko sterilitas
akibat toksisitas gonad lebih besar pada laki-laki daripada perem-
puan. Dilaporkan bahwa azoospermia dapat bersifat ireversibel.
Insidens sterilitas dilaporkan sebesar 15-20% bergantung pada
dosis kumulatif. Toksisitas siklo-fosfamid dapat terjadi jika dosis
kumulatifnya > 200-250 mg/kgbb.
Meskipun pada beberapa laporan tidak ditemukan efek samping
ini, tetapi tetap perlu dipantau
(16)
. Risiko amenore bergantung
pada usia saat terapi dan dosis. Pada pemberian siklofosfamid
puls selama 6 bulan, risiko amenore lebih rendah jika pasien
berumur < 25 tahun; ± 25% pasien > 30 tahun akan mengalami
amenore. Jika jumlah total pemberian siklofosfamid puls menca-
pai 15 kali, maka kejadian amenore sebesar 17% pada pasien
< 25 tahun dan hampir 100% pada pasien > 30 tahun
(7)
. Efek
samping siklofosfamid puls setiap bulan dengan dosis 750 mg/m
2
luas permukaan badan lebih ringan dibandingkan dengan
siklofosfamid oral dengan dosis 2 mg/ kgbb/hari.
(7,10)
Siklofosfamid puls dapat ditoleransi oleh anak dan tidak selalu
menyebabkan efek samping. Tidak didapatkan efek samping
setelah pemberian siklofosfamid puls.
(12,23)
Dosis siklofosfamid
puls dapat dinaikkan menjadi 1.000mg/m
2
LPB jika leukosit tetap
lebih dari 3.000/ul.
(10)
KESIMPULAN
Metilprednisolon dan siklofosfamid puls merupakan terapi yang
memberikan hasil baik pada berbagai penyakit ginjal anak seperti
sindrom nefrotik resisten steroid, GSFS, glomerulonefritis mem-
branoproliferatif tipe I, nefritis lupus, dan nefritis purpura Henoch-
Schonlein. Remisi dapat terjadi pada sebagian besar kasus dengan
efek samping yang lebih ringan dibandingkan penggunaan steroid
dan siklofosfamid oral jangka lama.
DAFTAR PUSTAKA
1. Yorgin PD, Krasher J, Al-Uzri AY. Pulse methylprednisolone treatment of idiopathic
steroid-resistant nephritic syndrome. Pediatr Nephrol 2001;16:245-50.
2. Cole BR, Brockleband JT, Kienstra RA, Kissane JM, Robson AM. Pulse methylprednisolone
therapy in the treatment of severe glomerulonephritis. J Pediatr 1976; 88:307-14.
3. Waldo FB, Benfield MR, Kohaut EC. Methylprednisolone treatment of patients with
steroid-resistant nephrotic syndrome. Pediatr Nephrol 1992;6:503-5.
4. Adhikari M, Bhimma R, Coovadia HM. Intensive pulse therapies for focal glomerulosclerosis
in South African children. Pediatr Nephrol 1997;11:423-8.
5. Niaudet P, Habib R. Methylprednisolone pulse therapy in the treatment of severe forms of
Schonlein-Henoch purpura nephritis. Pediatr Nephrol 1998;12:238-43.
6. Saberi MS, Jones BA. Remission of infantile systemic lupus erythematosus with intravenous
cyclophosphamide. Pediatr Nephrol 1998;12:136-8.
7. Valeri A, Radhakrisnan J, Esres D, D'Agati V, Kopelman R, Pernis A, dkk. Intravenous pulse
cyclophosphamide treatment of severe lupus nephritis: a prospective five-year study. Clin
Nephrol
1994;42:71-8.
8. Barron KS, Person DA, Brewer EJ, Beale MG, Robson AM. Pulse methylprednisolone therapy
in diffuse proliferative lupus nephritis. J Pediatr 1982;101:137-41.
9. Lehman TJA, Sherry DD, Wagner-Weiner L, McCurdy DK, Emery HM, Magilavy DB,
Kovalesky A. Intermitten intravenous cyclophosphamide therapy for lupus nephritis. J Pediatr
1989;114:1055-60.
10. Niaudet P. Treatment of lupus nephritis in children. Pediatr Nephrol 2000;14:158-66
11. Tune BM, Kirpekar R, Sibley RK, Reznik VM, Griswold WR, Mendoza SA. Intravenous
methylprednisolone and oral alkylating agent therapy of prednisone-resistant pediatric focal
segmental glomerulosclerosis: a long-term follow up. Clin Nephrol 1995;43:84-8.
12. Rennet WP, Kala UK, Jacobs D, Goetsch S, Verhaart S. Pulse cyclophosphamide for
steroid-resistant focal segmental glomerulosclerosis. Pediatr Nephrol 1999;13:113-6.
13. Bergstein JM, Andreoli SP. Respons of type I membranoproliferative glomerulonephritis to
pulse methylprednisolone and alternate-day prednison therapy. Pediatr Nephrol
1995;9:268-71.
14. Oner A, Tinaztepe K, Erdogan O. The effect of triple therapy on rapidly progressive type of
Henoch-Schonlein nephritis. Pediatr Nephrol 1995;9:6-10.
15. Makker SP. Systemic lupus erythematosus nephritis. Dalam: Kher KK, Makker SP,
(penyunting) Clinical Pediatric Nephrology. Edisi 1,McGraw-Hill Inc, New York, 1994;h.233-44.
16. Mendoza SA, Tune BM. Management of the difficult nephrotic patient. Pediatr Clins N Am
1995;42:1459-68.
17. Baqi N, Moazami S, Singh A, Ahmad H, Balachandra S, Tejani A. Lupus nephritis in children
: a longitudinal study of prognostics factors and therapy. J Am Soc Nephrol 1996;7:924-9
18. Eiser AR, Grishman E, Dreznin S. Intravenous pulse cyclophosphamide in the treatment of
the IV lupus nephritis. Clinical Nephrol 1993; 40 :155-9.
19. Dooley MA, Hogan S, Jennette C, Falk R. Cyclophosphamide therapy for lupus nephritis:
Poor renal survival in black Americans. Kidney Int 1997;51:1188-95.
20. Moroni G, Maccario M, Banfi G, Quaglini S, Ponticelli C. Treatment of membranous lupus
nephritis. Am J Kidney Dis 1998;31:681-6.
21. Ichikawa I, Fogo A. Focal segmental glomerulosclerosis. Pediatr Nephrol 1996;10:374-91
22. Austin HA, Klippel JL, Balow JE, Le Riche NGH, Steinberg AD, Plotz Ph, dkk. Therapy of
lupus nephritis-controlled trial of prednisone and cytotoxic drugs. N Engl J Med
1986;314:614-9.
23. Elhance R, Gulati S, Kher V, Gupta A, Sharma RK. Intravenous pulse cyclophosphamide,
a new regime for steroid-resistant minimal change nephrotic syndrome. Pediatr Nephrol
1994;8:1-3