background image
324
h
A
S
I
l
P
e
n
e
l
I
T
I
A
n
|
a g u s t u s 2 0 0 9
325
h
A
S
I
l
P
e
n
e
l
I
T
I
A
n
|
a g u s t u s 2 0 0 9
PENDAHULUAN
Kebersihan tangan merupakan hal
yang sangat penting dalam mencegah
penularan penyakit. Kebersihan tangan
yang baik dapat menyingkirkan kuman
yang potensial patogen. Cara sederhana
untuk menjaga kebersihan tangan adalah
dengan cuci tangan. Cuci tangan merupa-
kan tindakan untuk mencegah infeksi yang
ditularkan melalui tangan dengan me-
nying kirkan debu dan kotoran serta meng-
hambat atau membunuh mikroorganisme
pada kulit. Kegagalan menjaga kebersihan
tangan merupakan penyebab utama infeksi
nosokomial, penyebaran mikroorganisme
yang multiresisten serta kontributor yang
penting terhadap timbulnya wabah
1,2,3
.
Kampanye intensif tentang pentingnya
cuci tangan disertai penyediaan larutan go-
sok antiseptik klorheksidin di tujuh rumah
sakit pendidikan di Geneva-Swiss oleh
Pittet dkk telah membuktikan bahwa cuci
tangan dapat mencegah penularan mikro-
organisme serta mengurangi frekuensi in-
feksi nosokomial. Selama kampanye infeksi
nosokomial turun dari 16, 9% pada tahun
1994 menjadi 9, 9% pada 1998, serta in-
siden Staphylococcus aureus resisten terh-
adap metisilin (MRSA) menurun dari 2,16
menjadi 0,93 episode per 10.000 pasien
4
.
Cuci tangan sebaiknya menggunakan
air mengalir dan antiseptik yang terbukti
efektif menyingkirkan mikroorganisme
yang potensial patogen karena mikroor-
ganisme dapat berkembang biak dalam air
yang tergenang walaupun mengandung
Abstrak
Cuci untuk mencegah penyebaran penyakit dan infeksi nosokomial sebaiknya dilakukan menggunakan antiseptik yang op-
timal dan air mengalir. Namun hal tersebut sulit dilakukan bila sarana cuci tangan maupun sumber air bersih terbatas.
Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas cuci tangan menggunakan larutan antiseptik klorheksidin glukonat 0,5%
yang tergenang selama 5 jam pengamatan. Bahan pemeriksaan diperoleh dengan cara paramedis menempelkan jari-jari
tangan nya di media nutrient agar sebelum dan sesudah cuci tangan dalam larutan antiseptik klorheksidin glukonat 0,5% yang
tergenang pada jam pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima pengamatan. Sebagai kontrol dilakukan penanaman 0,5ml
larutan antiseptik sebelum dan sesudah digunakan cuci tangan selama 5 jam untuk melihat apakah ada pertumbuhan bakteri.
Terdapat penurunan yang bermakna populasi bakteri pada tangan paramedis sebelum dan sesudah cuci tangan (p=0,00)
dan tidak ada perbedaan yang bermakna antara cuci tangan pada jam pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima pengamat-
an. Pertumbuhan bakteri ditemukan pada 2 dari 5 sampel larutan antiseptik.
Dapat disimpulkan bahwa cuci tangan menurunkan populasi bakteri di tangan dan larutan antiseptik klorheksidin glukonat
0,5% yang tergenang dapat digunakan untuk cuci tangan pada daerah dengan sarana cuci tangan yang terbatas.
Kata kunci: klorheksidin, kebersihan tangan, infeksi nosokomial
Efektivitas Larutan Antiseptik
Klorheksidin Glukonat 0,5% yang
Tergenang untuk Cuci Tangan
Wening Sari
Fakultas Kedokteran universitas YaRsI, Jakarta, Indonesia
pada suhu 37°C selama 24 jam, kemudian
dilakukan penghitungan jumlah koloni
bakteri menggunakan colony counter dan
identifikasi jenis bakteri.
Spesimen dari tangan paramedis
Sebelum cuci tangan paramedis me-
nempelkan jari-jari tangannya ke per-
mukaan media NA. Setelah itu parame-
dis melakukan cuci tangan dengan cara
meren dam dan mengosok-gosokkan tan-
gannya dengan antiseptik dalam waskom.
Kemudian paramedis tersebut menempel-
kan kembali jari-jari tangannya pada per-
mukaan media NA yang lain.
Cara tersebut dilakukan pada jam ke 1,
2, 3, 4 dan 5 sejak antiseptik tersebut digan-
ti. Semua spesimen tersebut dieramkan da-
lam inkubator selama 24 jam dengan suhu
37°C dan dilakukan pengamatan terhadap
jumlah pertumbuhan koloni bakteri dan
identifikasi jenis bakteri. Alur pengam-
bilan spesimen dari larutan klorheksidin
0,5% dan tangan paramedis dapat dilihat
antiseptik
5
. Namun cuci tangan menggu-
nakan air mengalir sulit dilaksanakan jika
sarana cuci tangan maupun sumber air ber-
sih terbatas, misalnya di daerah pasca ben-
cana alam. Perlu dinilai apakah cuci tan-
gan menggunakan larutan antiseptik yang
tergenang cukup efektif untuk menying-
kirkan mikroorganisme yang potensial
patogen setelah pemakaian dalam jangka
waktu tertentu. Tujuan penelitian ini ada-
lah untuk mengetahui pengaruh cuci tan-
gan menggunakan larutan antiseptik klor-
heksidin glukonat 0,5% yang tergenang
terhadap jumlah koloni bakteri dari tangan
paramedis dalam 5 jam pengamatan.
BAHAN DAN CARA KERJA
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah Media
Nutrient Agar (NA), larutan antiseptik
klorheksidin glukonat 0,5% yang diguna-
kan untuk cuci tangan dalam waskom dan
spesimen (bahan pemeriksaan) dari jari
tangan paramedis baik sebelum ataupun
sesudah cuci tangan. Alat yang diguna-
kan adalah lempeng petri, ose bulat steril,
pipet steril, lampu bunsen, inkubator dan
alat penghitung koloni bakteri (colony
counter).
Rancangan Penelitian
Penelitian secara case control dengan
pendekatan longitudinal karena hubungan
antara variabel diamati dalam jangka waktu
5 jam. Populasi penelitian adalah parame-
dis RSUP Dokter Kariadi Semarang yang
kontak langsung dengan pasien dalam pe-
layanan perawatan sehari-hari. Sampel pe-
nelitian ditentukan secara purposive pada
paramedis yang bekerja di bangsal rawat
inap penyakit dalam karena jumlah pasien
dalam bangsal tersebut cukup banyak, se-
hingga memungkinkan paramedis kontak
dengan banyak pasien. Paramedis melaku-
kan cuci tangan setelah mereka berinter-
aksi dengan pasien.
Prosedur Penelitian
Pengambilan spesimen dilakukan se-
bagai berikut:
Spesimen dari larutan antiseptik
Sebanyak 0,5ml larutan klorheksidin
glukonat 5% diambil menggunakan pipet
steril pada saat jam ke 0, yakni larutan
tersebut baru selesai dibuat, kemudian
diratakan dalam lempeng petri yang berisi
media NA menggunakan ose bulat steril.
Langkah ini diulangi setelah jam ke 5 peng-
gunaan larutan klorheksidin glukonat 5%.
Spesimen ini dieramkan dalam inkubator
Larutan klorheksidin 0,5% yang
baru dibuat
diambil 0,5ml
Larutan klorheksidin 0,5% yang
sudah digunakan selama 5jam
diambil 0,5ml
Jam I Cuci Tangan
Jam II Cuci Tangan
Jam III Cuci Tangan
Jam IV Cuci Tangan
Jam V Cuci Tangan
Gambar 1. Alur pengambilan spesimen dari larutan klorheksidin 0,5% dan tangan pa-
ramedis
Sampel
1
2
3
4
5
Sebelum
-
-
-
-
-
Sesudah
-
+
+
-
-
Tabel 1. Sampel klorheksidin glukonat 0,5% sebelum dan sesudah digunakan untuk
cuci tangan selama 5 jam
Keterangan : - : Steril, tidak ada pertumbuhan bakteri
+ : Ada pertumbuhan bakteri 1-5 koloni
pada gambar 1.
Data hasil cuci tangan pada jam I, II,
III, IV dan V pemeriksaan dianalisis den-
gan uji t berpasangan untuk menilai jumlah
koloni bakteri sebelum dan sesudah cuci
tangan. Uji anova juga dilakukan untuk
menilai perbedaan antara jam pemerik-
saan. Uji statistik menggunakan program
SPSS 12.0.
HASIL
Sampel larutan klorheksidin gluko-
nat 0,5% yang akan digunakan untuk cuci
tangan dalam keadaan steril (tidak didapa-
ti pertumbuhan bakteri). Sebaliknya pada
larutan klorheksidin glukonat 0,5% yang
telah digunakan selama 5 jam, pada 2 sam-
pel terdapat pertumbuhan bakteri Staphy-
lococcus sp. (Tabel 1)
Pengambilan spesimen dari tangan
paramedis dilakukan sebelum dan sesu-
dah mereka cuci tangan. Rincian jumlah
koloni bakteri dapat dilihat pada tabel 2
dan gambar 2 .
background image
324
h
A
S
I
l
P
e
n
e
l
I
T
I
A
n
|
a g u s t u s 2 0 0 9
325
h
A
S
I
l
P
e
n
e
l
I
T
I
A
n
|
a g u s t u s 2 0 0 9
PENDAHULUAN
Kebersihan tangan merupakan hal
yang sangat penting dalam mencegah
penularan penyakit. Kebersihan tangan
yang baik dapat menyingkirkan kuman
yang potensial patogen. Cara sederhana
untuk menjaga kebersihan tangan adalah
dengan cuci tangan. Cuci tangan merupa-
kan tindakan untuk mencegah infeksi yang
ditularkan melalui tangan dengan me-
nying kirkan debu dan kotoran serta meng-
hambat atau membunuh mikroorganisme
pada kulit. Kegagalan menjaga kebersihan
tangan merupakan penyebab utama infeksi
nosokomial, penyebaran mikroorganisme
yang multiresisten serta kontributor yang
penting terhadap timbulnya wabah
1,2,3
.
Kampanye intensif tentang pentingnya
cuci tangan disertai penyediaan larutan go-
sok antiseptik klorheksidin di tujuh rumah
sakit pendidikan di Geneva-Swiss oleh
Pittet dkk telah membuktikan bahwa cuci
tangan dapat mencegah penularan mikro-
organisme serta mengurangi frekuensi in-
feksi nosokomial. Selama kampanye infeksi
nosokomial turun dari 16, 9% pada tahun
1994 menjadi 9, 9% pada 1998, serta in-
siden Staphylococcus aureus resisten terh-
adap metisilin (MRSA) menurun dari 2,16
menjadi 0,93 episode per 10.000 pasien
4
.
Cuci tangan sebaiknya menggunakan
air mengalir dan antiseptik yang terbukti
efektif menyingkirkan mikroorganisme
yang potensial patogen karena mikroor-
ganisme dapat berkembang biak dalam air
yang tergenang walaupun mengandung
Abstrak
Cuci untuk mencegah penyebaran penyakit dan infeksi nosokomial sebaiknya dilakukan menggunakan antiseptik yang op-
timal dan air mengalir. Namun hal tersebut sulit dilakukan bila sarana cuci tangan maupun sumber air bersih terbatas.
Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas cuci tangan menggunakan larutan antiseptik klorheksidin glukonat 0,5%
yang tergenang selama 5 jam pengamatan. Bahan pemeriksaan diperoleh dengan cara paramedis menempelkan jari-jari
tangan nya di media nutrient agar sebelum dan sesudah cuci tangan dalam larutan antiseptik klorheksidin glukonat 0,5% yang
tergenang pada jam pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima pengamatan. Sebagai kontrol dilakukan penanaman 0,5ml
larutan antiseptik sebelum dan sesudah digunakan cuci tangan selama 5 jam untuk melihat apakah ada pertumbuhan bakteri.
Terdapat penurunan yang bermakna populasi bakteri pada tangan paramedis sebelum dan sesudah cuci tangan (p=0,00)
dan tidak ada perbedaan yang bermakna antara cuci tangan pada jam pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima pengamat-
an. Pertumbuhan bakteri ditemukan pada 2 dari 5 sampel larutan antiseptik.
Dapat disimpulkan bahwa cuci tangan menurunkan populasi bakteri di tangan dan larutan antiseptik klorheksidin glukonat
0,5% yang tergenang dapat digunakan untuk cuci tangan pada daerah dengan sarana cuci tangan yang terbatas.
Kata kunci: klorheksidin, kebersihan tangan, infeksi nosokomial
Efektivitas Larutan Antiseptik
Klorheksidin Glukonat 0,5% yang
Tergenang untuk Cuci Tangan
Wening Sari
Fakultas Kedokteran universitas YaRsI, Jakarta, Indonesia
pada suhu 37°C selama 24 jam, kemudian
dilakukan penghitungan jumlah koloni
bakteri menggunakan colony counter dan
identifikasi jenis bakteri.
Spesimen dari tangan paramedis
Sebelum cuci tangan paramedis me-
nempelkan jari-jari tangannya ke per-
mukaan media NA. Setelah itu parame-
dis melakukan cuci tangan dengan cara
meren dam dan mengosok-gosokkan tan-
gannya dengan antiseptik dalam waskom.
Kemudian paramedis tersebut menempel-
kan kembali jari-jari tangannya pada per-
mukaan media NA yang lain.
Cara tersebut dilakukan pada jam ke 1,
2, 3, 4 dan 5 sejak antiseptik tersebut digan-
ti. Semua spesimen tersebut dieramkan da-
lam inkubator selama 24 jam dengan suhu
37°C dan dilakukan pengamatan terhadap
jumlah pertumbuhan koloni bakteri dan
identifikasi jenis bakteri. Alur pengam-
bilan spesimen dari larutan klorheksidin
0,5% dan tangan paramedis dapat dilihat
antiseptik
5
. Namun cuci tangan menggu-
nakan air mengalir sulit dilaksanakan jika
sarana cuci tangan maupun sumber air ber-
sih terbatas, misalnya di daerah pasca ben-
cana alam. Perlu dinilai apakah cuci tan-
gan menggunakan larutan antiseptik yang
tergenang cukup efektif untuk menying-
kirkan mikroorganisme yang potensial
patogen setelah pemakaian dalam jangka
waktu tertentu. Tujuan penelitian ini ada-
lah untuk mengetahui pengaruh cuci tan-
gan menggunakan larutan antiseptik klor-
heksidin glukonat 0,5% yang tergenang
terhadap jumlah koloni bakteri dari tangan
paramedis dalam 5 jam pengamatan.
BAHAN DAN CARA KERJA
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah Media
Nutrient Agar (NA), larutan antiseptik
klorheksidin glukonat 0,5% yang diguna-
kan untuk cuci tangan dalam waskom dan
spesimen (bahan pemeriksaan) dari jari
tangan paramedis baik sebelum ataupun
sesudah cuci tangan. Alat yang diguna-
kan adalah lempeng petri, ose bulat steril,
pipet steril, lampu bunsen, inkubator dan
alat penghitung koloni bakteri (colony
counter).
Rancangan Penelitian
Penelitian secara case control dengan
pendekatan longitudinal karena hubungan
antara variabel diamati dalam jangka waktu
5 jam. Populasi penelitian adalah parame-
dis RSUP Dokter Kariadi Semarang yang
kontak langsung dengan pasien dalam pe-
layanan perawatan sehari-hari. Sampel pe-
nelitian ditentukan secara purposive pada
paramedis yang bekerja di bangsal rawat
inap penyakit dalam karena jumlah pasien
dalam bangsal tersebut cukup banyak, se-
hingga memungkinkan paramedis kontak
dengan banyak pasien. Paramedis melaku-
kan cuci tangan setelah mereka berinter-
aksi dengan pasien.
Prosedur Penelitian
Pengambilan spesimen dilakukan se-
bagai berikut:
Spesimen dari larutan antiseptik
Sebanyak 0,5ml larutan klorheksidin
glukonat 5% diambil menggunakan pipet
steril pada saat jam ke 0, yakni larutan
tersebut baru selesai dibuat, kemudian
diratakan dalam lempeng petri yang berisi
media NA menggunakan ose bulat steril.
Langkah ini diulangi setelah jam ke 5 peng-
gunaan larutan klorheksidin glukonat 5%.
Spesimen ini dieramkan dalam inkubator
Larutan klorheksidin 0,5% yang
baru dibuat
diambil 0,5ml
Larutan klorheksidin 0,5% yang
sudah digunakan selama 5jam
diambil 0,5ml
Jam I Cuci Tangan
Jam II Cuci Tangan
Jam III Cuci Tangan
Jam IV Cuci Tangan
Jam V Cuci Tangan
Gambar 1. Alur pengambilan spesimen dari larutan klorheksidin 0,5% dan tangan pa-
ramedis
Sampel
1
2
3
4
5
Sebelum
-
-
-
-
-
Sesudah
-
+
+
-
-
Tabel 1. Sampel klorheksidin glukonat 0,5% sebelum dan sesudah digunakan untuk
cuci tangan selama 5 jam
Keterangan : - : Steril, tidak ada pertumbuhan bakteri
+ : Ada pertumbuhan bakteri 1-5 koloni
pada gambar 1.
Data hasil cuci tangan pada jam I, II,
III, IV dan V pemeriksaan dianalisis den-
gan uji t berpasangan untuk menilai jumlah
koloni bakteri sebelum dan sesudah cuci
tangan. Uji anova juga dilakukan untuk
menilai perbedaan antara jam pemerik-
saan. Uji statistik menggunakan program
SPSS 12.0.
HASIL
Sampel larutan klorheksidin gluko-
nat 0,5% yang akan digunakan untuk cuci
tangan dalam keadaan steril (tidak didapa-
ti pertumbuhan bakteri). Sebaliknya pada
larutan klorheksidin glukonat 0,5% yang
telah digunakan selama 5 jam, pada 2 sam-
pel terdapat pertumbuhan bakteri Staphy-
lococcus sp. (Tabel 1)
Pengambilan spesimen dari tangan
paramedis dilakukan sebelum dan sesu-
dah mereka cuci tangan. Rincian jumlah
koloni bakteri dapat dilihat pada tabel 2
dan gambar 2 .
background image
326
h
A
S
I
l
P
e
n
e
l
I
T
I
A
n
|
a g u s t u s 2 0 0 9
327
h
A
S
I
l
P
e
n
e
l
I
T
I
A
n
|
a g u s t u s 2 0 0 9
Berdasarkan analisis data mengguna-
kan uji t-berpasangan terdapat perbedaan
bermakna (p=0,00 jadi < 0,01) antara jum-
lah koloni bakteri sebelum dan sesudah
cuci tangan pada seluruh jam pemeriksaan.
Artinya jumlah koloni bakteri di tangan
paramedis turun bermakna setelah cuci
tangan. Uji anova untuk membandingkan
hasil cuci tangan pada jam I, II, III, IV
dan V menunjukkan tidak ada perbedaan
bermakna antara jumlah koloni bakteri
sebelum cuci tangan (p=0,54 > 0,01) dan
setelah cuci tangan (p=0,67 > 0,01) pada
kelima jam pemeriksaan; berarti secara
statistik hasil cuci tangan pada jam I, II, III,
IV dan V tidak berbeda.
Bakteri yang ditemukan dari tangan
paramedis sebelum cuci tangan adalah ku-
man bentuk batang (KBB) gram negatif,
Staphylococcus sp., Bacillus sporoformik,
Staphylococcus sp. serta Pseudomonas sp.
350
300
250
200
150
100
50
I
II
Jam
Sebelum
Jumlah Koloni Bakteri Sebelum
dan Sesudah Cuci Tangan
Sesudah
Jumlah K
oloni Bak
teri
III
IV
V
0
Gambar 2. Distribusi rerata jumlah
koloni bakteri sebelum dan sesudah cuci
tangan
Ulangan
Jam I
Jam II
Jam III
Jam IV
Jam V
sblm
ssdh
sblm
ssdh
sblm
ssdh
sblm
ssdh
sblm
ssdh
1
500
0
189
1
34
0
186
1
79
4
2
263
7
35
0
166
2
54
1
203
0
3
109
1
71
1
500
132
500
8
500
341
4
156
27
96
29
2
0
269
8
26
1
5
500
185
188
5
248
1
72
1
97
12
Rerata
305,6
44
115,8
7,2
190
27
216.2
3,8
181
71,6
Tabel 2. Data hasil Cuci Tangan selama 5 jam
pada 1 spesimen. Sedangkan sesudah cuci
tangan jenis bakteri yang masih ditemu-
kan Staphylococcus sp (60%), KBB gram
negatif (0,32%) serta Bacillus sporoformik
(0,28%). ( tabel 3).
PEMBAHASAN
Pemindahsebaran
mikroorganisme
dari satu pasien ke pasien lainnya dapat
terjadi karena mikroorganisme yang ada
pada pasien atau benda yang dekat dengan
pasien seperti selang infus, kasa pembalut,
sprei tempat tidur, atau pakaian, berpindah
dan melekat ke tangan pekerja medis. Se-
jumlah penelitian menunjukkan bahwa S
aureus yang resisten metisilin dapat bertah-
an sampai 3 jam pada tangan perawat yang
bertugas membalut luka yang mengand-
ung kuman tersebut, dan terdapat bukti
interaksi perawat-pasien di unit pelayanan
intensif dapat menyebabkan berpindah-
nya Klebsiella ke tangan pasien walau pun
kontak minimal seperti menyen tuh bahu
pasien
6,7
.
Penelitian ini mendapati jumlah bak-
teri pada tangan paramedis yang cukup
tinggi sebelum cuci tangan; mungkin be-
rasal dari flora normal tangan paramedis
sendiri atau didapat setelah mereka kontak
dengan pasien. Bakteri kulit terbagi atas
flora residen (sering disebut flora normal)
dan flora transien. Staphylococcus sp. me-
ru pakan salah satu jenis flora normal kulit
dan umumnya lebih resisten. Flora transien
merupakan mikroorganisme yang sering
dihubungkan dengan infeksi nosokomial,
antara lain Staphylococcus aureus, batang
gram negatif dan yeast
2,3
. Penelitian ini
menunjukkan Staphylococcus sp. didapati
pada hampir seluruh tangan paramedis
sebelum cuci tangan serta masih bertahan
pada 60% tangan paramedis walaupun
mereka sudah cuci tangan. Sedangkan bak-
teri Pseudomonas sp., KBB gram negatif
serta Bacillus sporoformik diduga berasal
dari kontak dengan pasien.
Higiene tangan yang baik dapat me-
nyingkirkan kuman yang potensial pato-
gen. Cara yang sederhana, murah dan
efektif untuk memperoleh higiene tangan
yang baik adalah melakukan cuci tangan
dengan teknik yang benar dan antiseptik
yang adekuat
1,2,4
.
Klorheksidin merupakan salah satu
jenis antiseptik yang mulai dikembang-
kan sejak awal tahun 1950an. Antiseptik
ini dalam bentuk diglukonat lebih mudah
larut larut dalam air dibandingkan bentuk
basanya. Klorheksidin meningkatkan per-
meabilitas membran sitoplasma mikroor-
ganisme sehingga membran menjadi rapuh
dan robek yang menyebabkan komponen
seluler organisme tersebut menggumpal.
Aktivitas antiseptik ini terhadap bakteri
gram positif lebih baik dibandingkan ter-
hadap bakteri gram negatif. Klorheksidin
tidak efektif terhadap bentuk spora dan
basil TBC. In vitro klorheksidin efektif
membunuh virus herpes simpleks, HIV,
citomegalo, influenza dan SARS, namun
kurang efektif terhadap golongan rotavi-
rus, adenovirus dan enterovirus
2,3
.
Penelitian Johnson dkk menunjukkan
program edukasi untuk meningkatkan
kepatuhan pekerja medis melakukan cuci
tangan dan penyediaan larutan klorheksi-
din glukonat 0,5% yang dikombinasi de-
ngan isopropil alkohol 70% berhasil menu-
runkan secara bermakna isolate MRSA
serta kasus pasien yang mengalami bak-
teriemia akibat MRSA
8
. Sedangkan peneli-
tian Weber dkk klorheksidin glukonat 2%
efektif untuk menyingkirkan kontaminan
Bacillus atrophaeus
9
.
Penelitian ini menunjukkan penggu-
naan larutan klorheksidin glukonat 0,5%
yang tergenang cukup efektif menyingkir-
kan bakteri dari tangan paramedis; terlihat
dari pengurangan bermakna jumlah koloni
bakteri setelah cuci tangan dengan larutan
klorheksidin glukonat 0,5% serta tidak ada
perbedaan bermakna di antara ke lima jam
pemeriksaan, walaupun pada jam kelima
jumlah koloni bakteri sesudah cuci tangan
lebih banyak dibanding 4 jam sebelum-
nya. Juga ditemukan koloni bakteri pada
pemeriksaan sampel larutan klorheksidin
glukonat 0,5%. Penelitian lain melaporkan
bahwa mikroorganisme dapat berkembang
biak dalam larutan antiseptik yang ter-
genang dan kejadian infeksi nosokomial
dilaporkan pernah terjadi akibat terkon-
taminasinya larutan klorheksidin
3,5
.
SIMPULAN DAN SARAN
Larutan klorheksidin 0,5% yang ter-
genang cukup efektif menurunkan popula-
si bakteri di tangan paramedis selama lima
Jam
Cuci
Tangan
Ulangan
Jenis Bakteri
Sebelum Cuci Tangan
Sesudah Cuci Tangan
1
1
Pseudomonas sp., KBB gram (-)
-
2
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik
KBB gram (-), Staphylococcus
sp., Bacillus sporoformik
3
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik
KBB gram (-)
4
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik, Staphylococcus sp.
KBB gram (-),
5
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik, Staphylococcus sp.
KBB gram (-),
2
1
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik
Staphylococcus sp.
2
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik
-
3
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Staphylococcus sp.
4
KBB gram (-), Staphylococcus
sp., Bacillus sporoformik, Bacillus
sporoformik
Staphylococcus sp.
5
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik, Staphylococcus sp.
KBB gram (-),
3
1
Staphylococcus sp., Bacillus sporoformik
--
2
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik, Staphylococcus sp.
KBB gram (-),
3
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik
KBB gram (-), Staphylococcus
sp., Bacillus sporoformik
4
Staphylococcus sp.
--
5
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik
KBB gram (-)
4
1
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik
Staphylococcus sp.
2
Staphylococcus sp., Bacillus sporoformik,
Bacillus sporoformik
3
Staphylococcus sp., Bacillus sporoformik,
Bacillus sporoformik
4
KBB gram (-), Staphylococcus sp.
Staphylococcus sp.
5
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik
Staphylococcus sp.
5
1
KBB gram (-), Staphylococcus sp.
Staphylococcus sp.
2
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik
Bacillus sporoformik
3
Staphylococcus sp., Bacillus sporoformik,
Bacillus sporoformik
4
KBB gram (-), Staphylococcus sp.
Staphylococcus sp.
5
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik
Staphylococcus sp.
Keterangan : KBB gram (-) = kuman bentuk batang gram negatif
Tabel 3. Jenis bakteri yang ditemukan sebelum dan sesudah cuci tangan
jam penggunaan walaupun ditemukan
bakteri pada larutan antiseptik tersebut.
Larutan klorheksidin 0,5% yang ter-
genang dapat dijadikan alternatif untuk
menjaga higiene tangan jika tidak terdapat
air mengalir; namun perlu penelitian lebih
lanjut untuk menentukan sampai berapa
jam larutan klorheksidin 0,5% yang ter-
genang cukup efektif untuk cuci tangan
agar diketahui waktu yang optimal untuk
mengganti larutan antiseptik tersebut.
UCAPAN TERIMA KASIH
Pada kesempatan ini penulis mengu-
capkan terima kasih kepada Direktur RSUP
Dr. Kariadi-Semarang dan Bagian Mikro-
biologi FK UNDIP yang telah memfasili-
tasi penelitian ini serta seluruh paramedis
RSUP Dr. Kariadi-Semarang yang telah
membantu penelitian ini. Terima kasih tak
terhingga juga penulis sampaikan kepada
dr. Subakir, SpMK, SpKK dan dr.Tri Nur
Kristina, PhD yang membimbing penulis
selama penelitian ini. n
Ayliffe GAJ, Lowbury EJL, William JD. Control of
1.
hospital infection: a practical handbook 3rd ed.
Chapman & Hall Medical. London .1993
Rotter M. Hand washing and hand disinfection
2.
in hospital and infection control. William &
Wilkins, Baltimore. 1996
Boyce JM, Pittet D. Guideline for Hand Hygiene
3.
in Health-Care Settings: Recommendations
of the Healthcare Infection Control Practices
Advisory Committee and the HICPAC/SHEA/
APIC/IDSA Hand Hygiene Task Force. http:/
www.cdc.gov/handhygiene.2002. Accessed
Desember 2007.
Pittet D, Hugonnet S, Harbarth S, Mourouga P,
4.
Savan V, Touveneau S. Effectiveness of a hos-
pital-wide programme to improve compliance
with hand hygiene. Lancet 2000: 356:1307-1312
Tietjen L, Bosemeyer D, McIntossh N. Panduan
5.
pencegahan infeksi untuk fasilitas pelayanan
kesehatan dengan sumber daya terbatas.
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Jakarta, 2004
Teare L, Cookson B, Stone S. Hand hygiene. BMJ
6.
2001; 323:411-2
Pittet D, Allegranzi B, Sax H, Dharan S, Pesoa-
7.
Silva CL, Donaldson L, Boyce JM. Review:
Evidence-based model for hand transmission
during patient care and the role of improved
practices. Lancet Infectious Diseases 2006; 6:
641-52
Johnson P, Martin R, Burrell L, Grabsch E, Kirsa
8.
SW, O'Keefe J et al. Efficacy of an alcohol/chlor-
hexidine hand hygiene program in hospital with
haih rates of nosocomial methicillin-resistant
Staphylococcus aureus (MRSA) infection. MJA
2005; 183(10): 509-14
Weber DJ, Sickbert-Bennet E, Gergen MF, Rutala
9.
WA. Efficacy of selected hand hygien agents
used to remove Bacillus atrophaeus ( a sur-
rogate of Bacillus anthracis) from contaminated
hands. JAMA 2003;289 (10); 1274-77
DAFTAR PUSTAKA
background image
326
h
A
S
I
l
P
e
n
e
l
I
T
I
A
n
|
a g u s t u s 2 0 0 9
327
h
A
S
I
l
P
e
n
e
l
I
T
I
A
n
|
a g u s t u s 2 0 0 9
Berdasarkan analisis data mengguna-
kan uji t-berpasangan terdapat perbedaan
bermakna (p=0,00 jadi < 0,01) antara jum-
lah koloni bakteri sebelum dan sesudah
cuci tangan pada seluruh jam pemeriksaan.
Artinya jumlah koloni bakteri di tangan
paramedis turun bermakna setelah cuci
tangan. Uji anova untuk membandingkan
hasil cuci tangan pada jam I, II, III, IV
dan V menunjukkan tidak ada perbedaan
bermakna antara jumlah koloni bakteri
sebelum cuci tangan (p=0,54 > 0,01) dan
setelah cuci tangan (p=0,67 > 0,01) pada
kelima jam pemeriksaan; berarti secara
statistik hasil cuci tangan pada jam I, II, III,
IV dan V tidak berbeda.
Bakteri yang ditemukan dari tangan
paramedis sebelum cuci tangan adalah ku-
man bentuk batang (KBB) gram negatif,
Staphylococcus sp., Bacillus sporoformik,
Staphylococcus sp. serta Pseudomonas sp.
350
300
250
200
150
100
50
I
II
Jam
Sebelum
Jumlah Koloni Bakteri Sebelum
dan Sesudah Cuci Tangan
Sesudah
Jumlah K
oloni Bak
teri
III
IV
V
0
Gambar 2. Distribusi rerata jumlah
koloni bakteri sebelum dan sesudah cuci
tangan
Ulangan
Jam I
Jam II
Jam III
Jam IV
Jam V
sblm
ssdh
sblm
ssdh
sblm
ssdh
sblm
ssdh
sblm
ssdh
1
500
0
189
1
34
0
186
1
79
4
2
263
7
35
0
166
2
54
1
203
0
3
109
1
71
1
500
132
500
8
500
341
4
156
27
96
29
2
0
269
8
26
1
5
500
185
188
5
248
1
72
1
97
12
Rerata
305,6
44
115,8
7,2
190
27
216.2
3,8
181
71,6
Tabel 2. Data hasil Cuci Tangan selama 5 jam
pada 1 spesimen. Sedangkan sesudah cuci
tangan jenis bakteri yang masih ditemu-
kan Staphylococcus sp (60%), KBB gram
negatif (0,32%) serta Bacillus sporoformik
(0,28%). ( tabel 3).
PEMBAHASAN
Pemindahsebaran
mikroorganisme
dari satu pasien ke pasien lainnya dapat
terjadi karena mikroorganisme yang ada
pada pasien atau benda yang dekat dengan
pasien seperti selang infus, kasa pembalut,
sprei tempat tidur, atau pakaian, berpindah
dan melekat ke tangan pekerja medis. Se-
jumlah penelitian menunjukkan bahwa S
aureus yang resisten metisilin dapat bertah-
an sampai 3 jam pada tangan perawat yang
bertugas membalut luka yang mengand-
ung kuman tersebut, dan terdapat bukti
interaksi perawat-pasien di unit pelayanan
intensif dapat menyebabkan berpindah-
nya Klebsiella ke tangan pasien walau pun
kontak minimal seperti menyen tuh bahu
pasien
6,7
.
Penelitian ini mendapati jumlah bak-
teri pada tangan paramedis yang cukup
tinggi sebelum cuci tangan; mungkin be-
rasal dari flora normal tangan paramedis
sendiri atau didapat setelah mereka kontak
dengan pasien. Bakteri kulit terbagi atas
flora residen (sering disebut flora normal)
dan flora transien. Staphylococcus sp. me-
ru pakan salah satu jenis flora normal kulit
dan umumnya lebih resisten. Flora transien
merupakan mikroorganisme yang sering
dihubungkan dengan infeksi nosokomial,
antara lain Staphylococcus aureus, batang
gram negatif dan yeast
2,3
. Penelitian ini
menunjukkan Staphylococcus sp. didapati
pada hampir seluruh tangan paramedis
sebelum cuci tangan serta masih bertahan
pada 60% tangan paramedis walaupun
mereka sudah cuci tangan. Sedangkan bak-
teri Pseudomonas sp., KBB gram negatif
serta Bacillus sporoformik diduga berasal
dari kontak dengan pasien.
Higiene tangan yang baik dapat me-
nyingkirkan kuman yang potensial pato-
gen. Cara yang sederhana, murah dan
efektif untuk memperoleh higiene tangan
yang baik adalah melakukan cuci tangan
dengan teknik yang benar dan antiseptik
yang adekuat
1,2,4
.
Klorheksidin merupakan salah satu
jenis antiseptik yang mulai dikembang-
kan sejak awal tahun 1950an. Antiseptik
ini dalam bentuk diglukonat lebih mudah
larut larut dalam air dibandingkan bentuk
basanya. Klorheksidin meningkatkan per-
meabilitas membran sitoplasma mikroor-
ganisme sehingga membran menjadi rapuh
dan robek yang menyebabkan komponen
seluler organisme tersebut menggumpal.
Aktivitas antiseptik ini terhadap bakteri
gram positif lebih baik dibandingkan ter-
hadap bakteri gram negatif. Klorheksidin
tidak efektif terhadap bentuk spora dan
basil TBC. In vitro klorheksidin efektif
membunuh virus herpes simpleks, HIV,
citomegalo, influenza dan SARS, namun
kurang efektif terhadap golongan rotavi-
rus, adenovirus dan enterovirus
2,3
.
Penelitian Johnson dkk menunjukkan
program edukasi untuk meningkatkan
kepatuhan pekerja medis melakukan cuci
tangan dan penyediaan larutan klorheksi-
din glukonat 0,5% yang dikombinasi de-
ngan isopropil alkohol 70% berhasil menu-
runkan secara bermakna isolate MRSA
serta kasus pasien yang mengalami bak-
teriemia akibat MRSA
8
. Sedangkan peneli-
tian Weber dkk klorheksidin glukonat 2%
efektif untuk menyingkirkan kontaminan
Bacillus atrophaeus
9
.
Penelitian ini menunjukkan penggu-
naan larutan klorheksidin glukonat 0,5%
yang tergenang cukup efektif menyingkir-
kan bakteri dari tangan paramedis; terlihat
dari pengurangan bermakna jumlah koloni
bakteri setelah cuci tangan dengan larutan
klorheksidin glukonat 0,5% serta tidak ada
perbedaan bermakna di antara ke lima jam
pemeriksaan, walaupun pada jam kelima
jumlah koloni bakteri sesudah cuci tangan
lebih banyak dibanding 4 jam sebelum-
nya. Juga ditemukan koloni bakteri pada
pemeriksaan sampel larutan klorheksidin
glukonat 0,5%. Penelitian lain melaporkan
bahwa mikroorganisme dapat berkembang
biak dalam larutan antiseptik yang ter-
genang dan kejadian infeksi nosokomial
dilaporkan pernah terjadi akibat terkon-
taminasinya larutan klorheksidin
3,5
.
SIMPULAN DAN SARAN
Larutan klorheksidin 0,5% yang ter-
genang cukup efektif menurunkan popula-
si bakteri di tangan paramedis selama lima
Jam
Cuci
Tangan
Ulangan
Jenis Bakteri
Sebelum Cuci Tangan
Sesudah Cuci Tangan
1
1
Pseudomonas sp., KBB gram (-)
-
2
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik
KBB gram (-), Staphylococcus
sp., Bacillus sporoformik
3
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik
KBB gram (-)
4
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik, Staphylococcus sp.
KBB gram (-),
5
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik, Staphylococcus sp.
KBB gram (-),
2
1
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik
Staphylococcus sp.
2
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik
-
3
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Staphylococcus sp.
4
KBB gram (-), Staphylococcus
sp., Bacillus sporoformik, Bacillus
sporoformik
Staphylococcus sp.
5
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik, Staphylococcus sp.
KBB gram (-),
3
1
Staphylococcus sp., Bacillus sporoformik
--
2
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik, Staphylococcus sp.
KBB gram (-),
3
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik
KBB gram (-), Staphylococcus
sp., Bacillus sporoformik
4
Staphylococcus sp.
--
5
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik
KBB gram (-)
4
1
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik
Staphylococcus sp.
2
Staphylococcus sp., Bacillus sporoformik,
Bacillus sporoformik
3
Staphylococcus sp., Bacillus sporoformik,
Bacillus sporoformik
4
KBB gram (-), Staphylococcus sp.
Staphylococcus sp.
5
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik
Staphylococcus sp.
5
1
KBB gram (-), Staphylococcus sp.
Staphylococcus sp.
2
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik
Bacillus sporoformik
3
Staphylococcus sp., Bacillus sporoformik,
Bacillus sporoformik
4
KBB gram (-), Staphylococcus sp.
Staphylococcus sp.
5
KBB gram (-), Staphylococcus sp.,
Bacillus sporoformik
Staphylococcus sp.
Keterangan : KBB gram (-) = kuman bentuk batang gram negatif
Tabel 3. Jenis bakteri yang ditemukan sebelum dan sesudah cuci tangan
jam penggunaan walaupun ditemukan
bakteri pada larutan antiseptik tersebut.
Larutan klorheksidin 0,5% yang ter-
genang dapat dijadikan alternatif untuk
menjaga higiene tangan jika tidak terdapat
air mengalir; namun perlu penelitian lebih
lanjut untuk menentukan sampai berapa
jam larutan klorheksidin 0,5% yang ter-
genang cukup efektif untuk cuci tangan
agar diketahui waktu yang optimal untuk
mengganti larutan antiseptik tersebut.
UCAPAN TERIMA KASIH
Pada kesempatan ini penulis mengu-
capkan terima kasih kepada Direktur RSUP
Dr. Kariadi-Semarang dan Bagian Mikro-
biologi FK UNDIP yang telah memfasili-
tasi penelitian ini serta seluruh paramedis
RSUP Dr. Kariadi-Semarang yang telah
membantu penelitian ini. Terima kasih tak
terhingga juga penulis sampaikan kepada
dr. Subakir, SpMK, SpKK dan dr.Tri Nur
Kristina, PhD yang membimbing penulis
selama penelitian ini. n
Ayliffe GAJ, Lowbury EJL, William JD. Control of
1.
hospital infection: a practical handbook 3rd ed.
Chapman & Hall Medical. London .1993
Rotter M. Hand washing and hand disinfection
2.
in hospital and infection control. William &
Wilkins, Baltimore. 1996
Boyce JM, Pittet D. Guideline for Hand Hygiene
3.
in Health-Care Settings: Recommendations
of the Healthcare Infection Control Practices
Advisory Committee and the HICPAC/SHEA/
APIC/IDSA Hand Hygiene Task Force. http:/
www.cdc.gov/handhygiene.2002. Accessed
Desember 2007.
Pittet D, Hugonnet S, Harbarth S, Mourouga P,
4.
Savan V, Touveneau S. Effectiveness of a hos-
pital-wide programme to improve compliance
with hand hygiene. Lancet 2000: 356:1307-1312
Tietjen L, Bosemeyer D, McIntossh N. Panduan
5.
pencegahan infeksi untuk fasilitas pelayanan
kesehatan dengan sumber daya terbatas.
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Jakarta, 2004
Teare L, Cookson B, Stone S. Hand hygiene. BMJ
6.
2001; 323:411-2
Pittet D, Allegranzi B, Sax H, Dharan S, Pesoa-
7.
Silva CL, Donaldson L, Boyce JM. Review:
Evidence-based model for hand transmission
during patient care and the role of improved
practices. Lancet Infectious Diseases 2006; 6:
641-52
Johnson P, Martin R, Burrell L, Grabsch E, Kirsa
8.
SW, O'Keefe J et al. Efficacy of an alcohol/chlor-
hexidine hand hygiene program in hospital with
haih rates of nosocomial methicillin-resistant
Staphylococcus aureus (MRSA) infection. MJA
2005; 183(10): 509-14
Weber DJ, Sickbert-Bennet E, Gergen MF, Rutala
9.
WA. Efficacy of selected hand hygien agents
used to remove Bacillus atrophaeus ( a sur-
rogate of Bacillus anthracis) from contaminated
hands. JAMA 2003;289 (10); 1274-77
DAFTAR PUSTAKA