background image
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
247
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
248
Berbagai kebijakan pemerintah untuk menurunkan angka kelahi-
ran dan kematian telah berhasil mengubah piramida penduduk
Indonesia hingga pada suatu ketika akan berbentuk seperi Candi
Mendut (Gambar 2) yang berciri jumlah penduduk muda yang
relatif berimbang dengan jumlah penduduk tua (di atas 60 tahun).
Gambar 2. Piramida Penduduk Indonesia 2035
Dengan angka kelahiran yang makin menurun ditambah angka
harapan hidup yang makin tinggi, proporsi jumlah penduduk
tua akan makin tinggi pula. Diperkirakan antara tahun 2035 dan
2040 angka beban ketergantungan akan kembali mencapai 50%
untuk kedua kalinya. Pada saat itu komposisi beban ketergan-
tungan penduduk tua mulai lebih besar dari yang muda.
Ketika penduduk Indonesia menyerupai Candi Mendut dengan
dasar piramida dan bagian atas yang sama besar, mencerminkan
jumlah penduduk tua yang makin banyak sementara jumlah
penduduk muda tidak lagi banyak. Manakala jumlah penduduk
tua ini semakin banyak, saving masyarakat dan pemerintah juga
bisa semakin kecil karena penduduk tua ini sudah tak bisa
berproduksi lagi tetapi masih terus mengkonsumsi bahkan bisa
makin besar ketika hidupnya tidak sehat. Peningkatan proporsi
penduduk tua bisa mengubah pola pelayanan kesehatan,
mengubah pola infrastuktur dan juga perekonomian.
Dari Prambanan ke Mendut: Demographic Window of
Opportunity
Untungnya sebelum berada di Candi Mendut Indonesia akan
berada di Candi Prambanan dulu, ketika masyarakat dan negara
mempunyai potensi untuk menabung. Mengapa demikian?
Candi Prambanan, itulah kondisi kependudukan Indonesia antara
2005-2035. Pada masa ini persentase penduduk muda akan makin
berkurang sementara persentase penduduk yang berusia lebih
tua mulai makin meningkat. Peningkatan jumlah penduduk usia
kerja merupakan potensi bagi pemerintah untuk bisa memper-
banyak tabungan. Gambar 3 memperlihatkan piramida penduduk
Indonesia tahun 2005. Bagian puncak piramida sudah tak lancip
lagi. Pada tahun 2005, penduduk berumur di atas 65 tahun
berjumlah 10,1 juta, penduduk muda berumur di bawah 15 tahun
sebanyak 63,6 juta. Dengan kata lain, walau jumlahnya masih
meningkat, persentase penduduk muda di tahun 2005 hanya
29,1% telah berkurang dari 44.0% di tahun 1971.
TINJAUAN PUSTAKA
PENDAHULUAN
Menjadi tua merupakan sebuah proses alami yang tak mungkin
dihindari. Data statistik dari waktu ke waktu memperlihatkan
bahwa penduduk Indonesia makin lama makin berumur panjang.
Jumlah penduduk yang berumur panjang semakin banyak. Kita
simak data harapan hidup pada awal dekade 1970an, saat
penduduk Indonesia umumnya tidak akan hidup melewati
setengah abad. Persisnya, penduduk perempuan yang dilahirkan
pada periode tersebut mempunyai harapan hidup selama 47.2
tahun, lebih lama 3 tahun daripada harapan hidup laki-laki
1
.
Kondisi perekonomian dan politik Indonesia saat itu dan tahun-
tahun sebelumnya dalam keadaan tidak menguntungkan. Pertum-
buhan ekonomi pada periode 1961-1965 melaju dengan sangat
pelan, yaitu 2 persen per tahun. Inflasi begitu tinggi. Secara
politik, masa ini adalah masa transisi dari regim Orde Lama ke
Orde Baru. Awal masa Orde Baru perekonomian Indonesia mulai
membaik. Sejalan dengan itu kondisi demografis penduduk
Indonesia juga meningkat secara menakjubkan. Dalam kurun
waktu kira-kira dua dekade, harapan hidup saat lahir penduduk
Indonesia menurut sensus penduduk tahun 1990 telah menjadi
sebesar 61,5 tahun untuk perempuan dan 58,1 tahun untuk
laki-laki. Kemajuan terus diraih hingga pada periode tahun 2005
diperkirakan penduduk Indonesia bahkan diharapkan hidup
hingga 71,1 tahun untuk perempuan dan 67,1 tahun untuk
laki-laki
2
. Nampaknya trend ini akan terus berlanjut di masa-
masa mendatang.
Perubahan elemen-elemen demografi ini berdampak luas pada
perubahan struktur umur penduduk Indonesia yang pada akhirnya
bisa mempengaruhi keadaan ekonomi-sosial-politik Indonesia.
Tulisan ini bertujuan mendiskusikan perubahan struktur penduduk
Indonesia yang dihiasi dengan makin banyaknya penduduk
lansia, penduduk berumur 60 tahun ke atas. Tanpa mengesam-
pingkan pentingnya dampak sosial dan politik, diskusi dibatasi
pada dampak ekonomi-demografis penuaan penduduk Indonesia.
Pembahasan dimulai dengan memaparkan perubahan struktur
penduduk Indonesia sepanjang rentang waktu yang menyang-
kut masa lalu, masa kini dan masa depan; berikutnya mengenai
demographic window of opportunity, dan ditutup dengan sebuah
renungan atau pemikiran untuk bagaimana memanfaatkan
peluang emas dari jendela kesempatan secara demografis yang
hanya terjadi sekali dalam sebuah perjalanan penduduk suatu
wilayah/negara.
DARI BOROBUDUR KE MENDUT: Sebuah Evolusi
Piramida penduduk Indonesia akan dan telah mengalami evolusi
bentuk dari bentuk yang menyerupai Candi Borobudur menuju
bentuk Candi Mendut. Pada saat menyerupai Candi Borobudur,
piramida penduduk Indonesia mempunyai karakteristik beralas
lebar, yang mencerminkan besarnya jumlah penduduk usia muda
karena angka kelahiran yang tinggi, dan kemiringan yang cukup
landai, mencerminkan angka kematian pada setiap kelompok
umur cukup tinggi. Bentuk candi Borobudur ini masih bisa kita
amati pada tahun 1971 (Gb.1) dengan karakteristik jumlah
angka kelahiran dan kematian yang cukup tinggi. Pada akhir
tahun 1960an, rata-rata anak yang dilahirkan antara 5 dan 6
orang per wanita usia reproduksi dan angka kematian bayi
mencapai di atas 100 per 1000 bayi lahir hidup; angka kematian
bayi yang diestimasi dari sensus penduduk tahun 1971 sebesar
158 per 1000 bayi laki-laki lahir hidup dan 134 per 1000 bayi
perempuan lahir hidup. Pada saat ini menurut tahapan transisi
epidemiologi, penduduk Indonesia berada di tahap soft rock
dengan kematian karena penyakit-penyakit infeksi menjadi sebab
utama kematian bayi.
Gambar 1. Piramida Penduduk Indonesia: 1971
Penduduk muda usia di bawah 15 tahun, yang belum bisa
berproduksi tetapi sudah mengkonsumsi, berjumlah 51 juta
orang atau 44,0 persen dari penduduk Indonesia pada tahun
1971. Banyaknya penduduk muda ini mengakibatkan konsumsi
dan kebutuhan masyarakat dan pemerintah yang tinggi akan
sarana pendidikan, kesehatan dan barang-jasa lainnya untuk
kepentingan penduduk muda. Akibatnya, tabungan (saving)
masyarakat dan pemerintah rendah. Beban ketergantungan cukup
tinggi, sebesar 86% pada awal 1970-an. Ini berarti setiap 100
penduduk usia kerja (15-64 tahun) menanggung beban 86
orang ; 82 orang di antaranya berusia di bawah 15 tahun.
Aspek Ekonomi
Demografi Penduduk Lansia Indonesia
Evi Nurvidya Arifin
Visiting Research Fellow, Institute of Southeast Asian Studies, Singapore
Sementara itu jumlah penduduk usia kerja (15-64) berjumlah
144,4 juta, jumlah yang cukup banyak untuk memajukan
perekonomian bila dikelola dengan baik. Pertanyaannya, siapkah
dan bagaimanakah memanfaatkan jumlah yang besar dari
penduduk yang potential berproduksi?
Gambar 3. Piramida Penduduk Indonesia: 2005
Dengan komposisi umur seperti ini, angka beban ketergantungan
total di 2005 mencapai 50% untuk pertama kalinya, artinya
setiap dua orang penduduk usia kerja hanya menanggung seorang
penduduk usia beban. Dengan kata lain, pada saat ini masyara-
kat dan pemerintah berpotensi dapat menabung. Dalam beberapa
tahun ke depan, angka beban ketergantungan total masih akan
terus mengecil sampai kira-kira 43% pada periode 2020-2025
lalu perlahan meningkat lagi dan menembus di atas 50%
setelah tahun 2035 . Periode angka beban ketergantungan total
berada di bawah 50% disebut Demographic Window of Oppor-
tunity, sebuah jendela kesempatan secara demografis. Sebuah
kesempatan emas yang hanya terjadi sekali di suatu daerah.
Apabila dimanfaatkan secara baik, kesempatan ini akan berbuah
emas bagi perekonomian karena saatnya untuk melakukan
investasi yang baik. Setelah tahun 2035, demographic window
of opportunity itu akan kembali tertutup dan beban ketergan-
tungan akan makin diwarnai oleh beban pembiayaan bagi
penduduk di atas 65 tahun.
Perlu diingat bahwa keragaman antar propinsi di Indonesia
terlihat cukup jelas akibat keragaman proses perubahan demo-
grafis dan perbedaan perkembangan ekonomi antar propinsi.
Kita simak keadaan di tahun 2000 dan 2005. Tabel 1 memper-
lihatkan angka beban ketergantungan total di propinsi yang di-
dekomposisi menjadi angka beban ketergantungan muda dan
tua. Terlihat jelas dari tabel tersebut bahwa beberapa propinsi
khususnya propinsi di Jawa telah memasuki demographic window
of opportunity jauh sebelum Indonesia secara keseluruhan me-
ngalaminya. Jakarta, Yogyakarta, dan Jawa Timur telah memasuki
demographic window of opportunity sejak sebelum tahun 2000,
diperkirakan sejak awal 1990an. Sementara Jawa Tengah baru
memasukinya pada tahun 2005, sedangkan Jawa Barat dan Banten
mungkin baru saja akan memasukinya. Jakarta cukup meng-
khawatirkan, kesempatan itu mungkin sebentar lagi akan habis.
Tren dari 2000 ke 2005, angka beban ketergantungan total
background image
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
247
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
248
Berbagai kebijakan pemerintah untuk menurunkan angka kelahi-
ran dan kematian telah berhasil mengubah piramida penduduk
Indonesia hingga pada suatu ketika akan berbentuk seperi Candi
Mendut (Gambar 2) yang berciri jumlah penduduk muda yang
relatif berimbang dengan jumlah penduduk tua (di atas 60 tahun).
Gambar 2. Piramida Penduduk Indonesia 2035
Dengan angka kelahiran yang makin menurun ditambah angka
harapan hidup yang makin tinggi, proporsi jumlah penduduk
tua akan makin tinggi pula. Diperkirakan antara tahun 2035 dan
2040 angka beban ketergantungan akan kembali mencapai 50%
untuk kedua kalinya. Pada saat itu komposisi beban ketergan-
tungan penduduk tua mulai lebih besar dari yang muda.
Ketika penduduk Indonesia menyerupai Candi Mendut dengan
dasar piramida dan bagian atas yang sama besar, mencerminkan
jumlah penduduk tua yang makin banyak sementara jumlah
penduduk muda tidak lagi banyak. Manakala jumlah penduduk
tua ini semakin banyak, saving masyarakat dan pemerintah juga
bisa semakin kecil karena penduduk tua ini sudah tak bisa
berproduksi lagi tetapi masih terus mengkonsumsi bahkan bisa
makin besar ketika hidupnya tidak sehat. Peningkatan proporsi
penduduk tua bisa mengubah pola pelayanan kesehatan,
mengubah pola infrastuktur dan juga perekonomian.
Dari Prambanan ke Mendut: Demographic Window of
Opportunity
Untungnya sebelum berada di Candi Mendut Indonesia akan
berada di Candi Prambanan dulu, ketika masyarakat dan negara
mempunyai potensi untuk menabung. Mengapa demikian?
Candi Prambanan, itulah kondisi kependudukan Indonesia antara
2005-2035. Pada masa ini persentase penduduk muda akan makin
berkurang sementara persentase penduduk yang berusia lebih
tua mulai makin meningkat. Peningkatan jumlah penduduk usia
kerja merupakan potensi bagi pemerintah untuk bisa memper-
banyak tabungan. Gambar 3 memperlihatkan piramida penduduk
Indonesia tahun 2005. Bagian puncak piramida sudah tak lancip
lagi. Pada tahun 2005, penduduk berumur di atas 65 tahun
berjumlah 10,1 juta, penduduk muda berumur di bawah 15 tahun
sebanyak 63,6 juta. Dengan kata lain, walau jumlahnya masih
meningkat, persentase penduduk muda di tahun 2005 hanya
29,1% telah berkurang dari 44.0% di tahun 1971.
TINJAUAN PUSTAKA
PENDAHULUAN
Menjadi tua merupakan sebuah proses alami yang tak mungkin
dihindari. Data statistik dari waktu ke waktu memperlihatkan
bahwa penduduk Indonesia makin lama makin berumur panjang.
Jumlah penduduk yang berumur panjang semakin banyak. Kita
simak data harapan hidup pada awal dekade 1970an, saat
penduduk Indonesia umumnya tidak akan hidup melewati
setengah abad. Persisnya, penduduk perempuan yang dilahirkan
pada periode tersebut mempunyai harapan hidup selama 47.2
tahun, lebih lama 3 tahun daripada harapan hidup laki-laki
1
.
Kondisi perekonomian dan politik Indonesia saat itu dan tahun-
tahun sebelumnya dalam keadaan tidak menguntungkan. Pertum-
buhan ekonomi pada periode 1961-1965 melaju dengan sangat
pelan, yaitu 2 persen per tahun. Inflasi begitu tinggi. Secara
politik, masa ini adalah masa transisi dari regim Orde Lama ke
Orde Baru. Awal masa Orde Baru perekonomian Indonesia mulai
membaik. Sejalan dengan itu kondisi demografis penduduk
Indonesia juga meningkat secara menakjubkan. Dalam kurun
waktu kira-kira dua dekade, harapan hidup saat lahir penduduk
Indonesia menurut sensus penduduk tahun 1990 telah menjadi
sebesar 61,5 tahun untuk perempuan dan 58,1 tahun untuk
laki-laki. Kemajuan terus diraih hingga pada periode tahun 2005
diperkirakan penduduk Indonesia bahkan diharapkan hidup
hingga 71,1 tahun untuk perempuan dan 67,1 tahun untuk
laki-laki
2
. Nampaknya trend ini akan terus berlanjut di masa-
masa mendatang.
Perubahan elemen-elemen demografi ini berdampak luas pada
perubahan struktur umur penduduk Indonesia yang pada akhirnya
bisa mempengaruhi keadaan ekonomi-sosial-politik Indonesia.
Tulisan ini bertujuan mendiskusikan perubahan struktur penduduk
Indonesia yang dihiasi dengan makin banyaknya penduduk
lansia, penduduk berumur 60 tahun ke atas. Tanpa mengesam-
pingkan pentingnya dampak sosial dan politik, diskusi dibatasi
pada dampak ekonomi-demografis penuaan penduduk Indonesia.
Pembahasan dimulai dengan memaparkan perubahan struktur
penduduk Indonesia sepanjang rentang waktu yang menyang-
kut masa lalu, masa kini dan masa depan; berikutnya mengenai
demographic window of opportunity, dan ditutup dengan sebuah
renungan atau pemikiran untuk bagaimana memanfaatkan
peluang emas dari jendela kesempatan secara demografis yang
hanya terjadi sekali dalam sebuah perjalanan penduduk suatu
wilayah/negara.
DARI BOROBUDUR KE MENDUT: Sebuah Evolusi
Piramida penduduk Indonesia akan dan telah mengalami evolusi
bentuk dari bentuk yang menyerupai Candi Borobudur menuju
bentuk Candi Mendut. Pada saat menyerupai Candi Borobudur,
piramida penduduk Indonesia mempunyai karakteristik beralas
lebar, yang mencerminkan besarnya jumlah penduduk usia muda
karena angka kelahiran yang tinggi, dan kemiringan yang cukup
landai, mencerminkan angka kematian pada setiap kelompok
umur cukup tinggi. Bentuk candi Borobudur ini masih bisa kita
amati pada tahun 1971 (Gb.1) dengan karakteristik jumlah
angka kelahiran dan kematian yang cukup tinggi. Pada akhir
tahun 1960an, rata-rata anak yang dilahirkan antara 5 dan 6
orang per wanita usia reproduksi dan angka kematian bayi
mencapai di atas 100 per 1000 bayi lahir hidup; angka kematian
bayi yang diestimasi dari sensus penduduk tahun 1971 sebesar
158 per 1000 bayi laki-laki lahir hidup dan 134 per 1000 bayi
perempuan lahir hidup. Pada saat ini menurut tahapan transisi
epidemiologi, penduduk Indonesia berada di tahap soft rock
dengan kematian karena penyakit-penyakit infeksi menjadi sebab
utama kematian bayi.
Gambar 1. Piramida Penduduk Indonesia: 1971
Penduduk muda usia di bawah 15 tahun, yang belum bisa
berproduksi tetapi sudah mengkonsumsi, berjumlah 51 juta
orang atau 44,0 persen dari penduduk Indonesia pada tahun
1971. Banyaknya penduduk muda ini mengakibatkan konsumsi
dan kebutuhan masyarakat dan pemerintah yang tinggi akan
sarana pendidikan, kesehatan dan barang-jasa lainnya untuk
kepentingan penduduk muda. Akibatnya, tabungan (saving)
masyarakat dan pemerintah rendah. Beban ketergantungan cukup
tinggi, sebesar 86% pada awal 1970-an. Ini berarti setiap 100
penduduk usia kerja (15-64 tahun) menanggung beban 86
orang ; 82 orang di antaranya berusia di bawah 15 tahun.
Aspek Ekonomi
Demografi Penduduk Lansia Indonesia
Evi Nurvidya Arifin
Visiting Research Fellow, Institute of Southeast Asian Studies, Singapore
Sementara itu jumlah penduduk usia kerja (15-64) berjumlah
144,4 juta, jumlah yang cukup banyak untuk memajukan
perekonomian bila dikelola dengan baik. Pertanyaannya, siapkah
dan bagaimanakah memanfaatkan jumlah yang besar dari
penduduk yang potential berproduksi?
Gambar 3. Piramida Penduduk Indonesia: 2005
Dengan komposisi umur seperti ini, angka beban ketergantungan
total di 2005 mencapai 50% untuk pertama kalinya, artinya
setiap dua orang penduduk usia kerja hanya menanggung seorang
penduduk usia beban. Dengan kata lain, pada saat ini masyara-
kat dan pemerintah berpotensi dapat menabung. Dalam beberapa
tahun ke depan, angka beban ketergantungan total masih akan
terus mengecil sampai kira-kira 43% pada periode 2020-2025
lalu perlahan meningkat lagi dan menembus di atas 50%
setelah tahun 2035 . Periode angka beban ketergantungan total
berada di bawah 50% disebut Demographic Window of Oppor-
tunity, sebuah jendela kesempatan secara demografis. Sebuah
kesempatan emas yang hanya terjadi sekali di suatu daerah.
Apabila dimanfaatkan secara baik, kesempatan ini akan berbuah
emas bagi perekonomian karena saatnya untuk melakukan
investasi yang baik. Setelah tahun 2035, demographic window
of opportunity itu akan kembali tertutup dan beban ketergan-
tungan akan makin diwarnai oleh beban pembiayaan bagi
penduduk di atas 65 tahun.
Perlu diingat bahwa keragaman antar propinsi di Indonesia
terlihat cukup jelas akibat keragaman proses perubahan demo-
grafis dan perbedaan perkembangan ekonomi antar propinsi.
Kita simak keadaan di tahun 2000 dan 2005. Tabel 1 memper-
lihatkan angka beban ketergantungan total di propinsi yang di-
dekomposisi menjadi angka beban ketergantungan muda dan
tua. Terlihat jelas dari tabel tersebut bahwa beberapa propinsi
khususnya propinsi di Jawa telah memasuki demographic window
of opportunity jauh sebelum Indonesia secara keseluruhan me-
ngalaminya. Jakarta, Yogyakarta, dan Jawa Timur telah memasuki
demographic window of opportunity sejak sebelum tahun 2000,
diperkirakan sejak awal 1990an. Sementara Jawa Tengah baru
memasukinya pada tahun 2005, sedangkan Jawa Barat dan Banten
mungkin baru saja akan memasukinya. Jakarta cukup meng-
khawatirkan, kesempatan itu mungkin sebentar lagi akan habis.
Tren dari 2000 ke 2005, angka beban ketergantungan total
background image
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
249
TINJAUAN PUSTAKA
sudah mulai menaik lagi. Paling tidak antara 2015 hingga 2020
Jakarta akan sudah kehilangan demographic window of oppor-
tunity. Pada saat itu beban karena penduduk usia tua akan makin
terasakan. Beban membiayai penduduk tua di Jakarta sedikit
meningkat: dari kira-kira 3 orang (tahun 2000) ke 4 orang per
100 penduduk usia kerja di tahun 2005. Pembiayaan di Jakarta
akan makin tersedot untuk penduduk usia tua.
Propinsi di luar Jawa yang telah berada di masa demographic
window of opportunity lebih awal yaitu Bali. Pada tahun 2000,
beban ketergantungan total mencapai 45.5%, itulah titik terendah
Bali. Seperti kasus Jakarta, Bali kini mulai mengalami kenaikan
angka beban ketergantungan, menjadi 46.8% di tahun 2005.
Tak ketinggalan dengan Jakarta dan Bali, Sulawesi Utara dalam
lima tahun terakhir mengalami kenaikan angka beban ketergan-
tungan dari 48.3% di tahun 2000 ke 49.3% di tahun 2005.
Mungkin Sulawesi Utara akan menutup kesempatan demografis
dalam waktu yang tak lama lagi.
Beberapa propinsi di Sumatra dan Kalimantan baru saja mema-
suki masa demographic window of opportunity di tahun 2005.
Propinsi tersebut yaitu Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Suma-
tra Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Propinsi-
propinsi ini perlu segera memikirkan pembangunan ekonomi
mereka agar kesempatan emas dari komposisi penduduk yang
secara demografis menguntungkan akan mendapatkan buahnya.
Selain itu untuk mempersiapkan masa depan yang baik, penduduk
tua juga perlu dipersiapkan untuk tetap hidup lama, aktif dan
produktif sehingga bebannya tidak sesuram yang dibayangkan.
Persoalan kelanjutusiaan di Indonesia juga bercirikan jumlahnya
yang besar dengan pertumbuhan yang cepat. Pada tahun 2005,
jumlah penduduk usia 60 tahun ke atas sebanyak 15,8 juta
orang, kira-kira sama dengan seluruh penduduk Jakarta di siang
hari. Dari jumlah ini, 68% atau 10,6 juta berdomisili di Pulau
Jawa. Keragaman antar kabupaten/kota di Jawa dan Luar Jawa
juga jelas terlihat. Secara umum, kabupaten/kota di Jawa mem-
punyai proporsi jumlah penduduk tua yang lebih tinggi dibanding-
kan proporsi yang sama di luar Jawa, dengan proporsi tertinggi
diraih salah satunya oleh kabupaten Pacitan, kabupaten asal Pak
SBY, (14,2% untuk penduduk 60 tahun keatas, 10,0% untuk
65 tahun keatas di tahun 2005). Beban ketergantungan di Pacitan
mencapai 47,3% di tahun 2005. Persentase penduduk tua di
kabupaten ini secara demografis sudah seperti negara maju, walau
secara ekonomi masih tertinggal.
Bagaimana Memanfaatkan Peluang Emas?
Proses penuaan penduduk Indonesia sedang dan akan terus ber-
langsung dengan kecepatan yang diperkirakan makin cepat.
Proses ini akan berdampak pada perubahan kondisi ekonomi,
politik, dan sosial termasuk kesehatan. Pembiayaan dan pelayanan
kesehatan akan berubah dengan makin diwarnai untuk memenuhi
kebutuhan kesehatan penduduk tua. Pasar kerja juga akan semakin
menua. Namun, ada kesempatan emas dari perubahan penduduk
ini. Secara keseluruhan penduduk Indonesia akan mengalami
Demographic Window of Opportunity sejak masa kini, lebih persisnya
kira-kira antara 2005 dan 2035.
Namun melihat keragaman antar propinsi, beberapa propinsi
seperti Jakarta, Bali dan Sulawesi Utara telah dalam keadaan
kritis, masa keemasan ini hampir berakhir.
Kita pasti akan tiba di candi Mendut; masih ada waktu untuk
persiapan agar tiba dengan kondisi yang jauh lebih baik. Seyogya-
nya life-cycle saving yang besar bisa dilaksanakan. Selama masa
usia produktif, bergiat-giat melakukan akumulasi aset dan
investasi. Pada masa pensiun, aset dan investasi digunakan untuk
membiayai kehidupan saat itu.
KEPUSTAKAAN
1. Badan Pusat Statistik. Statistik 60 Tahun Indonesia Merdeka. 2005.
2. Ibid.
3. Ananta A, Evi Nurvidya Arifin, Bakhtiar. Ethnicity and Ageing in Indonesia, 2000-2050. Asia
Population Studies J 2005;1(2):227 - 243.
4. Robine J. Introduction on demographic transition and dependency ratios: challenges and
opportunities. Paper presented at «International Seminar on Demographic Window and
Healthy Aging: Socioeconomic Challenges and Opportunities», IUSSP and the Asia MetaCentre
in collaboration with Center of Healthy Aging and Family Studies, Peking University, Beijing,
10 - 11 May 2004.
5. Badan Pusat Statistik. Penduduk Indonesia: Hasil Survei Penduduk Antar Sensus 2005. Jakarta:
Badan Pusat Statistik. 2006.
Sumber: Dikompilasi dan dihitung dari 30 publikasi Badan Pusat Statistik (2001) untuk tahun 2000
dan
Badan
Pusat
Statistik
(2006)
5
untuk tahun 2005.
Catatan: Kepulauan Riau merupakan propinsi baru yang berpisah dari propinsi Riau di tahun 2003.
Nanggroe Aceh Darussalam tidak termasuk dalam SUPAS 2005, melainkan mempunyai
sensus khusus yang dilakukan pada tahun yang sama (SPAN 2005).
Tabel 1. Dekomposisi Angka Beban Ketergantungan menurut Provinsi:
Indonesia, 2000 2005
Provinsi
Muda
Tua
Total
2000 2005 2000 2005 2000 2005
Jawa-Bali
Jakarta
32.22
33.53
2.91
3.70
35.13
37.22
Jawa Barat
47.45
44.47
6.68
6.61
54.13
51.08
Jawa Tengah
44.40
40.65
9.02
9.94
53.41
50.59
Yogyakarta
32.38
30.66
12.27
13.11
44.65
43.77
Jawa Timur
37.23
35.50
8.65
9.31
45.87
44.81
Banten 54.67
48.53
4.23
3.85
58.90
52.38
Bali
37.21
38.03
8.33
8.78
45.54
46.81
Luar Jawa-Bali
Nanggroe Aceh
Darussalam 54.15
51.12
4.17
5.89
58.32
57.01
Sumatra Utara
57.86
53.49
5.60
5.32
63.46
58.81
Sumatra Barat
55.23
51.41
8.63
8.42
63.86
59.83
Riau 50.90
50.50
3.27
3.45
54.17
53.95
Jambi 51.36
47.23
4.32
4.09
55.68
51.32
Sumatra Selatan
56.02
45.51
5.06
4.99
61.09
50.50
Bengkulu 53.95
48.76
4.83
4.58
58.79
53.34
Lampung 51.63
46.51
5.79
6.62
57.42
53.13
Bangka-Belitung 50.30
44.04
5.59
5.52
55.88
49.56
Kepulauan
Riau
- 38.27
- 2.65
- 40.92
Nusa Tenggara Barat
57.43
53.01
5.62
6.00
63.05
59.01
Nusa Tenggara Timur
63.10
64.43
7.19
7.24
70.29
71.67
Kalimantan Barat
55.01
49.09
4.39
4.43
59.41
53.52
Kalimantan Tengah
51.96
50.31
3.58
3.33
55.55
53.64
Kalimantan Selatan
47.37
44.81
4.81
4.79
52.18
49.60
Kalimantan Timur
47.01
45.50
3.06
2.91
50.07
48.42
Sulawesi Utara
41.04
40.78
7.30
8.54
48.34
49.32
Sulawesi Tengah
53.04
52.04
4.68
4.30
57.72
56.34
Sulawesi Selatan
52.01
49.60
6.95
7.01
58.96
56.61
Sulawesi Tenggara
63.38
57.56
4.77
4.42
68.15
61.98
Gorontalo 50.72
52.39
4.92
4.65
55.64
57.04
Maluku 63.81
55.14
6.72
5.92
70.53
61.06
Maluku Utara
63.36
57.53
4.58
3.90
67.94
61.44
Papua 59.86
55.76
1.66
1.26
61.52
57.01
TOTAL 46.82
43.80
6.77
7.02
53.59
50.81