H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
328
PENDAHULUAN
Stroke merupakan penyebab kematian terbanyak yang ketiga
dan penyebab kecacatan pada orang dewasa di Amerika Serikat.
Insidensi dan prevalensi stroke yang tinggi memiliki dampak yang
besar pada masyarakat. Setelah awal masa rawat inap dan reha-
bilitasi, 80% penderita stroke yang bertahan hidup kembali ke
komunitas, bergantung pada bantuan emosi anggota keluarga,
informasi dan bantuan peralatan untuk hidup sehari-hari
(1)
.
Pasien yang terkena stroke memiliki risiko tinggi untuk menga-
lami serangan stroke ulang. Serangan stroke ulang berkisar
antara 30%-43% dalam waktu 5 tahun
(2)
. Setelah serangan otak
sepintas, 20% pasien mengalami stroke dalam waktu 90 hari,
dan 50% di antaranya dalam waktu 24-72 jam. Tekanan darah
yang tinggi (tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan tekanan
darah diastolik 90 mmHg) akan meningkatkan risiko terjadinya
stroke ulang
(3,4,5)
.
Hipertensi merupakan masalah yang umum dijumpai pada
pasien stroke, dan menetap setelah serangan stroke. Penelitian
Lamassa, dkk
(6)
pada 4462 pasien stroke memperlihatkan
bahwa hipertensi dijumpai pada 48,6% kasus. Angka kematian
akibat stroke berkisar antara 20% sampai dengan 30%. Hal ini
berarti ada potensi subyek sebesar 70%-80% untuk tindakan
prevensi sekunder. Pengendalian tekanan darah harus dilaku-
kan untuk pencegahan stroke. Tekanan darah target adalah di
bawah 140 mmHg untuk tekanan darah sistolik, dan di bawah
85 mmHg untuk tekanan darah diastolik (Rekomendasi A)
(7)
.
Masalah yang muncul adalah "bagaimana situasi pengendalian
hipertensi pasca stroke pada para stroke survivor? " Model analisis
situasi terhadap para stroke survivor akan dilakukan dengan
fokus pada permasalahan pengendalian tekanan darah untuk
mencegah serangan stroke ulang.
METODE
Analisis situasi dilakukan dengan mengkaji catatan medik untuk
mendapatkan data lokal. Asumsi analisis situasi didasarkan pada
hasil-hasil penelitian epidemiologi. Analisis tentang obat-obat
antihipertensi yang bermakna untuk menurunkan risiko serangan
otak ulang akan dikaji dari clinical practice guideline untuk stroke.
Analisis harga obat antihipertensi untuk prevensi serangan stroke
ulang didapatkan dari pelacakan di www.mimsonlinecom.
Analisis Situasi
Pengendalian Tekanan Darah untuk
Prevensi Stroke Sekunder
Rizaldy Pinzon
SMF Saraf RS Bethesda Yogyakarta
HASIL
Gambar 1 memperlihatkan model epidemiologi klinik perjala-
nan penyakit stroke. Hipertensi merupakan faktor risiko stroke.
Hipertensi menyebabkan perubahan pembuluh darah yang sifat-
nya sub-klinis, sampai kemudian muncul komplikasi stroke.
Pasien menjalani perawatan dengan kemungkinan 3 macam
outcome klinik. Pasien yang sembuh atau sembuh dengan cacat
merupakan target intervensi pengendalian tekanan darah untuk
mencegah stroke ulang.
Data Unit Stroke di RS Bethesda memperlihatkan bahwa per
tahun terdapat antara 900 sampai dengan 1000 pasien stroke.
Data hasil penelitian epidemiologi memperlihatkan bahwa hipertensi
dijumpai pada 50%-70% pasien stroke, angka fatalitas ber-
kisar antara 20%-30% di banyak negara. Kematian akan jauh
meningkat (peningkatan sebesar 47%) pada serangan stroke
ulang (WHO Fact Sheet, 2005). Hal ini berarti akan ada kurang
lebih 800 pasien yang harus menjalani tindakan prevensi sekunder
(termasuk pengendalian tekanan darah yang optimal). Jumlah ini
sangat berarti untuk mendapat perhatian (termasuk di antara-
nya adalah pemberlakuan suatu standar pelayanan atau clinical
practice guideline yang berbasis bukti ilmiah dan sesuai dengan
kondisi lokal).
Tabel 1. Profil Stroke RS Bethesda Yogyakarta (2002-2006)
Tahun
Non hemoragik
Hemorgaik
Total
2002
684
321
1005
2003
622
289
911
2004
755
352
1107
2005
726
261
987
2006
684
295
979
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
331
PENDAHULUAN
Dalam film ataupun buku, kita sering menemukan tokoh pemalas,
yang gemuk, mudah tertidur, mendengkur dan selalu absent
minded/clumsy. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun kita sering
menemui orang-orang seperti ini. Tidak jarang, karakter seperti
ini menjadi bahan tertawaan di lingkungan sahabat dan keluarga.
Padahal ini merupakan gambaran seorang penderita sleep apnea!
Manifestasi klinis seperti tersebut di atas, pada tahun 1956 oleh
para ahli respirasi dikenal sebagai Pickwickian Syndrome. Ini
merujuk pada karakter Joe si gendut dari tulisan Charles Dickens di
harian Pickwick. Tetapi, karena kurangnya perhatian pada segala
sesuatu yang berkaitan dengan tidur, pemeriksaan sleep study
pada pasien-pasien Pickwickian Syndrome baru dilakukan di
tahun 1970-an. Dari pengamatan selama tidur dengan menggu-
nakan alat polisomnografi (PSG), barulah diketahui bahwa pen-
derita Pickwickian Syndrome selain mendengkur, juga mengalami
henti nafas di saat tidur. Oleh karena itu Christian Guilleminault
menambahkan perekaman fungsi pernafasan pada pemerik-
saan PSG rutin.
(1)
Sebelumnya, semua penderita Excessive
Daytime Sleepiness (EDS) dianggap sebagai penderita narkolepsi.
Tetapi dengan karakteristik PSG yang baru, diketahui bahwa
banyak dari pasien narkolepsi tersebut ternyata menderita sleep
apnea. Karakteristik PSG memberikan gambaran baru bagi
penderita Excessive Daytime Sleepiness (EDS) yang sebelumnya
hanya dianggap sebagai penderita narkolepsi. Pada perkem-
bangan selanjutnya, istilah Pickwickian Syndrome ditinggalkan
dan diganti dengan Obstructive Sleep Apnea (OSA) yang diang-
gap lebih tepat.
Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan gangguan tidur yang
terutama ditandai dengan mendengkur dan kantuk berlebih;
(2)
dua gejala yang sering dijumpai namun jarang mendapatkan
perhatian. Masyarakat sudah terlanjur menganggap mendengkur
sebagai tidur lelap yang wajar, sehingga OSA seringkali tidak
terdiagnosis untuk diterapi dengan baik. Padahal OSA berhu-
bungan erat dengan hipertensi, penyakit jantung koroner, stroke,
hipertensi pulmoner, diabetes dan refluks gastroesophageal.
(3)
Andreas Prasadja, RPSGT, Maula N. Gaharu
Sleep Technologist, Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran, Jakarta
Dokter Spesialis Saraf RS St Elisabeth, Bekasi, Jakarta
Obstructive Sleep Apnea
PATOFISIOLOGI DAN GEJALA KLINIS
OSA disebabkan oleh menyempitnya saluran nafas atas secara
periodik saat tidur. Penyempitan ini bisa disebabkan oleh kelainan
struktur anatomis atau gangguan neuromuskular.
(4)
(Gb.1-3)
Saat inspirasi tekanan intraluminal akan meningkat mencipta-
kan sebuah suction reflex yang direspon oleh otot-otot dilator
saluran nafas sehingga jalan nafas tetap terbuka. Tonus otot-
otot ini akan melemah saat tidur; menyebabkan penyempitan
saluran nafas dan meningkatkan tahanan pada aliran udara.
Kelainan struktur anatomi yang menyempitkan saluran nafas
atas tentu akan memperberat penyempitan sehingga terjadi
penyumbatan saat tidur.
(5)
Saat terjadi sumbatan, kemoreseptor akan merespon keadaan
kadar CO
2
yang terlalu tinggi dengan mengirimkan sinyal untuk
bernafas.
(4)
Akibatnya otak akan terbangun sejenak (micro
arousal) tanpa disadari penderitanya. Proses ini akan memotong-
motong proses tidur. Tidur yang terpotong disertai kadar
oksigen yang rendah akan menyebabkan kantuk berlebih, bahkan
pada keadaan lanjut dapat menurunkan kemampuan mental
dan kognitif seseorang.
(6)
Sayang pengetahuan dan kepekaan masyarakat atas kesehatan
tidur masih amat rendah sehingga ketika berkunjung ke dokter,
mereka tidak dapat mengungkapkan keluhan secara tepat. Tak
heran jika OSA menjadi penyakit yang banyak diderita namun
kurang tereteksi oleh para pekerja kesehatan. Prevalensi OSA
di Amerika sekitar 5%(
7)
, yang sebagian besar tidak terdiagnosis;
sehingga angka morbiditas akibat OSA meningkat akibat gang-
guan kognitif maupun penyakit kardiovaskular yang terjadi.
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
330
Pada tahun 2005 ada 162 kematian akibat stroke atau 16,4%,
dan 18,4% pada tahun 2006. Hal ini berarti ada kurang lebih
80% stroke survivors, atau sekitar 800 orang. Pada penelitian
faktor risiko, hipertensi dijumpai pada 71% kasus. Jumlah ini
sangat signifikan sebagai target program pengendalian tekanan
darah yang efektif. Bagaimana dengan kepatuhan terapi ?
Hasil observasi menunjukkan ketidakpatuhan dan kurang ter-
kendalinya hipertensi masih cukup tinggi. Bukti ilmiah secara
konsisten menunjukkan bahwa hipertensi yang tidak terkendali
merupakan faktor risiko stroke berulang. Penelitian epidemiologi
memperlihatkan bahwa hanya 70% populasi hipertensi di
Amerika Serikat yang mengetahui kondisi sakitnya, 60%
mendapat terapi, dan 34% terkendali hipertensinya (tekanan
darah < 140/90 mmHg).
Bukti penelitian klinis memperlihatkan bahwa beberapa obat
antihipertensi didukung oleh bukti penelitian klinik yang luas dengan
jumlah sampel yang besar. Obat-obat tersebut adalah perindopril,
losartan, dan ramipril. Pertimbangan biaya terapi tentu merupakan
hal yang harus dipertimbangkan untuk meningkatkan ketaatan
pasien berobat. Kami melakukan suatu model analisis pembiayaan
obat antihipertensi untuk prevensi stroke sekunder. Data harga
obat terakhir diperoleh dari pelacakan di www.mimsonline.com.
Hasil analisis pembiayaan obat dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Model pembiayaan obat untuk pengendalian tekanan darah
Hasil kajian di atas menunjukkan bahwa harga sebagian obat
yang didukung oleh bukti ilmiah uji klinik dengan jumlah sampel
yang besar relatif cukup tinggi.
PEMBAHASAN
Kajian di atas memperlihatkan besarnya masalah hipertensi
pasca stroke. Beberapa hal yang dapat disimpulkan: (1) hiper-
tensi merupakan faktor risiko stroke yang utama, dan akan mene-
tap pasca serangan stroke, (2) kemajuan teknologi kedokteran
akan meningkatkan jumlah stroke survivor, yang akan mening-
katkan pula jumlah pasien stroke dengan hipertensi, (3) bukti
ilmiah secara konsisten menunjukkan manfaat pengendalian
tekanan darah untuk mencegah serangan stroke ulang, (4) beberapa
uji klinik baru memperlihatkan hasil yang menjanjikan untuk
prevensi stroke ulang, (5) harga obat yang didukung uji klinik
skala besar masih relatif mahal, (6) perlu diskusi yang mendalam
dengan pasien untuk pengendalian tekanan darah dan pence-
gahan serangan stroke ulang. Pertimbangan keefektifan, keamanan,
dan keterjangkauan pasien harus didiskusikan dengan pasien.
Hal ini sesuai dengan komponen patient preferences dalam
komponen Evidence Based Medicine.
Nama produk Nama generik Bukti uji klinik Harga
Prexum
Perindopril
PROGRESS
4mg x 30's (Rp 215.000)
Triatec
Ramipril
HOPE
2.5mg x 60's (Rp 398.772)
5mg x 60's (Rp 629.640)
10mg x 30's (Rp 437.250)
Cozaar
Losartan
LIFE
50mg x 2 x 15's (Rp 266.000)
Natrilix SR
Indapamide
ALLHAT
1.5mg x 30's (Rp 107.000)
Pada beberapa uji klinik, pemberian obat antihipertensi dihubung-
kan dengan penurunan risiko stroke sebesar 35-40%. Penurunan
tekanan darah sistolik sebesar 12 mmHg selama 10 tahun akan
mencegah 1 kematian dari 11 pasien yang mendapat terapi obat
antihipertensi. Kombinasi penghambat ACE dan diuretika tipe
tiazid direkomendasikan untuk prevensi stroke sekunder
(8-14)
.
Bornstein dkk
(15)
melakukan kajian terhadap berbagai uji klinik
obat anti hipertensi untuk prevensi stroke. Hasil kajian menun-
jukkan ada beberapa obat yang didukung oleh uji klinik ber-
kualitas baik dan jumlah sampel yang besar, yaitu: (1) HOPE trial
(ramipril vs. placebo), (2) ALLHAT trial (CCB or/and Angiotensin-
Conventing Enzyme Inhibitors (ACE-Is) vs. diuretik), (3) LIFE
trial (losartan vs. atenolol), dan (4) PROGRESS trial (perindopril
or/and indapamide vs. plasebo).
SIMPULAN
Pengendalian tekanan darah pasca stroke merupakan hal yang
penting untuk mencegah serangan stroke ulang. Bukti uji klinik
menunjukkan pengendalian tekanan darah yang adekuat akan
menurunkan risiko serangan ulang dan komplikasi lain. Pertim-
bangan keefektifan, keamanan, dan ketejangkauan obat harus
didiskusikan secara seksama dengan pasien.
DAFTAR PUSTAKA
American Heart Association, Heart Disease and Stroke Statistics. 2004 update.
American Heart Association (www.strokeaha.org)
Mant J, Wade D, Winner S. Health Care Need Assessment in Stroke, Oxford
Radcliffe Medical Press
Rothwell PM, Giles MF, Flossmann E et al. A Simple Score (ABCD) to identify
individuals at High Early Risk of Stroke after Transient Ischemic Attack. Lancet
2005; 366: 29-36
Eliasziw M, Kennedy J, Hill MD, Buchan AM. Early Risk of Stroke After Transient
Ischemic Attack in Patients with Internal Carotid Artery Disease, CMAJ 2004;170:
1105-9
Johnston SC, Rothwell PM, Nguyen-Huynh MN, et al. Validation and refinement of
scores to predict very early stroke risk after transient ischaemic attack. Lancet
2007;369:28392.
Lamassa M, Di Carlo A, Pracucci G, Basile AM et.al. Characteristics, Outcome, and
Care of Stroke Associated with Atrial Fibrillation in Europe Data from a Multicenter
Multinational HospitalBased Registry (The European Community Stroke Project).
Stroke 2001;32;392-8
Royal College of Physicians. National Clinical Guideline for Stroke, 2
nd
ed.
Intercollegiate Stroke Working Party, London, 2004
Neal B, MacMahon S, Chapman N. Effects of ACE inhibitors, calcium antagonists,
and other blood-pressure-lowering drugs: Results of prospectively designed
overviews of randomised trials. Blood Pressure Lowering Treatment Trialists'
Collaboration. Lancet 2000;356:1955-64
Dahlof B, Devereux RB, Kjeldsen SE et al. Cardiovascular morbidity and mortality in
the Losartan Intervention For Endpoint reduction in hypertension study (LIFE): A
randomised trial against atenolol. Lancet 2002;359:995-1003.
The ALLHAT Officers and Coordinators for the ALLHAT Collaborative Research
Group. Major outcomes in high-risk hypertensive patients randomized to angioten-
sinconverting enzyme inhibitor or calcium channel blocker vs diuretic: The
Antihypertensive and Lipid-Lowering Treatment to Prevent Heart Attack Trial
(ALLHAT). JAMA 2002;288:2981-97.
The Heart Outcomes Prevention Evaluation Study Investigators. Effects of an
angiotensin converting- enzyme inhibitor, ramipril, on cardiovascular events in
high-risk patients. N Engl J Med 2000;342:145-53.
PROGRESS Collaborative Group. Randomised trial of a perindopril-based blood-
pressure lowering regimen among 6,105 individuals with previous stroke or
transient ischaemic attack. Lancet 2001;358:1033-41.
Wing LMH, Reid CM, Ryan P et al. A comparison of outcomes with
angiotensinconverting-enzyme inhibitors and diuretics for hypertension in the
elderly. N Engl J Med. 2003;348:583-92.
Psaty BM, Smith NL, Siscovick DS et al. Health outcomes associated with
antihypertensive therapies used as first-line agents. A systematic review and meta-
analysis. JAMA 1997;277:739-45
Bornstein N, Silvestrelli G, Caso V, Arterial Hypertension and Stroke Prevention: an
update. Clin Exp Hypertens. 2006; 28 (3-4): 317-26
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.