OPINI
Peranan Ilmu Kedokteran Wisata
dalam Pencegahan Penyebaran
Avian Influenza
Ana Rima, Reviono
Bagian Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi
Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret / SMF Paru RSUD Dr. Moewardi, Surakarta
ABSTRAK
Wisata internasional telah menjadi industri yang berkembang pesat. Peningkatan jumlah
wisatawan antar negara akan diikuti peningkatan risiko terkena penyakit infeksi. Merespons hal
tersebut, berkembanglah kedokteran wisata, suatu keahlian interdisipliner yang mempelajari
berbagai aspek berwisata dan kaitannya dengan kesehatan, temasuk kebugaran dalam perjalanan
dan risiko sakit karena perjalanan tersebut sebagai implikasi nan terhadap berbagai penyakit
infeksi.
Dalam hal keterkaitannya dengan avian influenza, kedokteran wisata berperan pada pelayanan
pra-wisata maupun pasca-wisata. Pada pelayanan pra-wisata selain pemeriksaan risiko pra-wisata,
juga penting untuk memberikan pelayanan konsultasi terutama advis yang berhubungan dengan
peningkatan risiko terkena penyakit dan kemungkinan infeksi saat berwisata.
PENDAHULUAN
Dunia pada milenium ke tiga ini serasa semakin kecil
akibat mudahnya transportasi dan komunikasi. Pada tahun 2000
tercatat 692 juta orang bepergian lintas negara, diperkirakan
pada tahun 2010 akan mencapai 1,047 milyar, dan pada tahun
2020 mencapai sekitar 1,602 milyar. Selain peningkatan jumlah
yang hampir 3x lipat dalam 20 tahun ke depan, tampaknya
akan terjadi perubahan karakteristik dengan peningkatan yang
tajam di Asia dan Eropa. Hal tersebut akan berdampak pada
kesehatan karena pajanan terhadap penyakit infeksi akan
semakin tinggi dan akan lebih mudah untuk membawa patogen
ke berbagai negara.
(1)
Studi pada wisatawan dari negara maju ke negara
berkembang dan Eropa Timur menunjukkan bahwa lebih dari
sepertiganya mengalami sakit saat bepergian. Penyakit yang
tersering adalah diare dan common cold. Pada setiap 2 minggu
perjalanan mereka akan kehilangan 3 hari karena sakit. Dua
puluh persen dari mereka akan tetap sakit sepulang ke negara
asalnya dan 10% akhirnya pergi ke dokter untuk berobat.
(2)
Peningkatan jumlah wisatawan antar negara akan diikuti
peningkatan risiko terkena penyakit infeksi.
(3)
Sejak bulan
Desember 2003 outbreak highly pathogenic avian influenza
terutama influenza A (H5N1) pada unggas telah dilaporkan di
beberapa negara di Asia. Sampai dengan 12 Januari 2006, total
kasus avian influenza (AI) yang telah teridentifikasi pada
manusia mencapai 160 kasus 93 kasus dari Viet Nam, 22
Thailand, 18 Turki, 16 Indonesia, 7 China, dan 4 Kamboja.
(4)
Wisatawan yang akan berkunjung ke negara yang telah
terjangkit cukup dibuat was-was karenanya. Di sinilah
kedokteran wisata diharapkan banyak berperan. Meskipun
banyak informasi resmi terbaru dari berbagai media namun hal
itu tidak dapat menggantikan hubungan personal dengan
seorang dokter yang lebih mempunyai pengetahuan terhadap
masalah kesehatan yang akan mereka hadapi.
(5)
PERKEMBANGAN KEDOKTERAN WISATA
Wisata internasional telah menjadi industri yang
berkembang pesat. Di era globalisasi ini semakin banyak
wisatawan bepergian ke negara berkembang yang seringkali
tidak mempunyai sistem penjernihan air yang sehat dan
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006 9
program kontrol penyakit yang memadai. Pasien yang akan
berwisata ke daerah tersebut sering meminta konsultasi dengan
dokternya mengenai persiapan spesifik untuk menghindari sakit
dan saran kesehatan sebelum berangkat. Dalam hal ini dokter
pada pelayanan primer cukup berperan akan tetapi dengan
semakin pesatnya perkembangan permasalahan dan informasi
yang semakin spesialistik dirasa perlu adanya ahli yang
berdedikasi di bidang kedokteran wisata untuk dapat
menangani kasus secara individual dalam berbagai keperluan
perjalanan yang berbeda. Penelitian CDC (Center for Disease
Control) menemukan bahwa para dokter pada pelayanan
primer maupun staf kedutaan tidak dapat menangani calon
wisatawan dengan benar.
(6)
Kedokteran wisata adalah suatu bidang keahlian
interdisipliner yang telah berkembang cepat sebagai respons
terhadap kebutuhan berwisata di seluruh dunia. Ilmu
Kedokteran Wisata mempelajari berbagai aspek berwisata dan
kaitannya dengan kesehatan, temasuk kebugaran dalam
perjalanan dan risiko sakit karena perjalanan tersebut sebagai
implikasi pajanan terhadap berbagai penyakit infeksi.
7
Penguasaan Ilmu Kedokteran Wisata harus meliputi
pemahaman epidemiologi, kedokteran preventif dan sosial serta
aspek kuratif secara lengkap.
(8)
Akhir-akhir ini perkembangan
Ilmu Kedokteran Wisata sebagai suatu disiplin telah diakui.
Strategi baru pemberantasan penyakit infeksi yang dikeluarkan
oleh Departemen Kesehatan Inggris di antaranya menetapkan
suatu kebutuhan terhadap spesialis di bidang kedokteran
wisata.
(3)
Perkembangan organisasi yang penting yaitu telah
berdirinya klinik kesehatan wisata di rumah sakit pendidikan
dan pelayanan primer. Klinik tersebut melayani pemeriksaan
risiko pra-wisata dan memberikan pelayanan konsultasi
terutama nasehat yang berhubungan dengan peningkatan risiko
terkena penyakit dan kemungkinan infeksi saat berwisata.
(3)
Pemeriksaan pra-wisata yang baik, khususnya bagi wisatawan
yang memang telah mempunyai penyakit tertentu sebelumnya,
mungkin dapat mencegah kejadian sakit dan juga kematian.
Sebagian klinik wisata juga memberikan pelayanan kesehatan
pasca-wisata bagi mereka yang masih atau jatuh sakit setelah
pulang berwisata atau mereka yang ingin melakukan cek
kesehatan.
Pemeriksaan risiko pra-wisata harus mempertimbangkan
berbagai aspek seperti:
(3)
1. Rincian
perjalanan
-
Negara dan daerah tujuan
-
Urban, rural atau hutan
-
Maksud / tujuan wisata
- Cara
berwisata
- Tipe
akomodasi
- Lama
tinggal
2. Pertimbangan
khusus:
- Aktivitas
tertentu
-
Kebutuhan tertentu
-
Penyakit risiko tinggi tertentu
- Wisata
sebelumnya
-
Ada tidaknya fasilitas kesehatan di tempat tujuan
3. Riwayat kesehatan secara rinci
4. Obat-obatan yang sedang dipakai
5. Riwayat
imunisasi
6. Kebutuhan imunisasi dan profilaksis malaria
Problem kesehatan yang sering timbul dalam berwisata antara
lain:
3
- Diare
- Malaria
-
Infeksi saluran napas
-
Hepatitis A dan B
- Infeksi
kulit
-
Penyakit infeksi yang ditularkan lewat seksual
Bidang kedokteran wisata bukanlah bidang ilmu yang
baru. Dahulu pada saat Eropa, Meksiko dan pulau Karibia
menjadi tempat kunjungan utama wisatawan Amerika, para
dokter di Amerika telah dipersiapkan untuk menangani
permasalahan kesehatan mereka dengan mempelajari ilmu
penyakit tropik. Saat ini tujuan wisata mereka semakin
bervariasi seperti ke Asia, Amerika Latin, dan Afrika sehingga
para dokter di sana akan menghadapi masalah yang makin
beragam yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.
(9)
Kedokteran wisata berkembang menjadi ilmu yang kompleks
karena perubahan pola penyakit yang terus menerus serta
makin meningkatnya wisatawan dari waktu ke waktu.
Rekomendasi yang diberikan juga dapat berubah dari waktu ke
waktu sehingga selalu dibutuhkan rujukan terbaru.
(10)
Dewasa ini terdapat perkembangan yang sangat dramatik
dalam pelayanan kesehatan bagi para wisatawan. Pendidikan
bagi para dokter di bidang ini juga terus ditingkatkan; salah
satu contoh adalah The International Society of Travel
Medicine (ISTM), suatu kelompok profesional dari berbagai
penjuru dunia yang bertujuan untuk memberi pendidikan
kedokteran berkelanjutan bagi para dokter dan penyuluhan
kesehatan bagi wisatawan di bidang kedokteran wisata.
Organisasi ini mempublikasi daftar klinik wisata yang dapat
dilihat melalui internet pada situs mereka http:www.istm.org.
Di Amerika Serikat badan CDC setiap tahun mempublikasikan
Health Information for International Travel. Di Indonesia juga
terdapat Perhimpunan Kedokteran Wisata.
(10)
PENYEBARAN H5N1
Outbreak highly pathogenic avian influenza pada Desember
2003 dilaporkan di peternakan di Asia Tenggara. Pada bulan
Juli 2004 dilaporkan merebak lagi dan telah mengenai
dilaporkan dari Kroasia dan Mongolia ditemukan AI pada
burung liar yang bermigrasi antar negara. Kasus ini sangat
penting karena diperkirakan bertanggung jawab atas
penyebaran AI antar negara. Sampai dengan 12 Januari 2006,
total kasus AI yang telah teridentifikasi pada manusia
mencapai 160 kasus, kira-kira separuhnya adalah kasus fatal.
(4)
Jumlah kasus kumulatif terbaru dapat diakses pada
http://www.who.int/csr/disease/avian_influenza/en/. Hampir
seluruh kasus pernah kontak langsung dengan ternak terinfeksi
AI yang masih hidup dan pada beberapa kasus adalah keluarga
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006
10
yang kontak dengan penderita AI. Terdapat indikasi virus
H5N1 akan meluas dari Asia Tenggara ke seluruh dunia.
Outbreak AI di Asia disebabkan oleh virus H5N1, suatu
subtipe virus Influenza A yang menyebabkan penyakit serius
pada ternak domestik.
11
Ancaman virus H5N1 akan menjadi
besar apabila virus tersebut telah mampu menyebar dari
manusia ke manusia. Para ahli meramalkan kemungkinan
terjadinya mutasi virus yang dapat menyebabkan penyebaran
dari manusia ke manusia. Transmisi seperti itu sampai saat ini
belum dipastikan. Sedikit kasus yang terbatas mungkin sudah
terjadi seperti transmisi kontak erat dari anak yang sakit kepada
ibunya pada bulan September 2004 di Thailand, atau kasus dari
Vietnam yang diduga melalui transmisi antar manusia; tetapi
kasus seperti ini masih sangat jarang dan tidak menular ke lain
orang lagi.
(12)
Penyebaran antar manusia menyebabkan suatu pandemi
dan mengharuskan dunia untuk waspada, untuk menyiapkan
berbagai langkah seperti penggunaan metode karantina,
persediaan obat antivirus dan tindakan yang meliputi:
(11)
- Identifikasi kasus secara dini dan surveilans kasus baru
yang efisien
-
Tersedia obat antivirus dan kelancaran pengiriman kepada
grup target
- Institusi yang dapat bergerak cepat dan badan yang
mempunyai wewenang untuk mengawasi aturan dan
pelaksanaan karantina terhadap populasi target
-
Kerjasama internasional terhadap strategi di atas termasuk
pembatasan berwisata dan mungkin yang paling penting
kerjasama dalam persediaan obat
PROTEKSI WISATAWAN TERHADAP H5N1
Sebaiknya kita waspada tetapi tidak overacting.
Wisatawan umumnya tidak menyukai berkunjung ke
peternakan unggas, sehingga risiko sesungguhnya bagi
wisatawan adalah sangat rendah. Tidak ada alasan untuk tidak
bepergian hanya karena takut terhadap AI.
(4)
Centers for
Disease Control and Prevention (CDC) tidak merekomendasi-
kan larangan bepergian ke negara yang telah terjangkit H5N1
dan tidak merekomendasikan penggunaan alat pelindung diri
seperti respirator, sarung tangan, atau masker bedah sebagai
proteksi terhadap AI, kecuali pada petugas kesehatan. Sarung
tangan harus dipakai oleh orang yang membersihkan benda-
benda yang secara potensial terkontaminasi.
(13)
Suatu entry screening (seleksi pendatang) di pintu masuk
suatu negara telah dibahas.
(14)
Mereka memperhitungkan masa
inkubasi AI, lama penerbangan antara negara asal ke negara
tujuan dan analisis tentang progresivitas gejala dari asimpto-
matis sampai muncul, sehingga diharapkan orang yang
mungkin terinfeksi dari negara yang terjangkit wabah dapat
dicegah masuk ke negara yang belum terkena wabah. Akan
tetapi metode ini dianggap tidak efektif, karena masa inkubasi
influenza lebih lama dibanding waktu penerbangan antar
negara tersebut, sehingga penderita terinfeksi tidak terdeteksi
pada screening tersebut. Di samping itu apabila ditemukan
orang yang terinfeksi pada penerbangan tersebut bukan tidak
mungkin terdapat orang lain yang terinfeksi tetapi tanpa gejala,
sehingga idealnya seluruh penumpang tersebut harus
dikarantina. Hal ini perlu dipertimbangkan lebih dalam karena
sensitivitas screening ini adalah rendah.
(14)
Beberapa pertanyaan yang sering diajukan oleh calon
wisatawan ke negara terjangkit H5N1 adalah:
(11)
1. Apakah pemberian imunisasi influenza dapat mencegah
AI? Imunisasi flu setahun sekali tidak memberikan
proteksi terhadap strain baru Avian flu yang berasal dari
Asia ini, tetapi vaksinasi Flu adalah ide yang baik untuk
memproteksi flu lainnya. Di Ontario vaksinasi Flu tidak
dikenai biaya.
2. Apakah yang harus dilakukan untuk melindungi diri
terhadap AI? Wisatawan terutama yang sering bepergian
ke daerah endemis H5N1 pada populasi burung harus
menghindari kontak terhadap ternak atau permukaan yang
mungkin telah terkontaminasi ternak, feses maupun
sekretnya. Memakan produk ternak yang telah dimasak
dengan baik adalah aman. Sering-seringlah mencuci
tangan.
3. Apakah obat antivirus dapat mencegah AI? Haruskah
wisatawan membawa persediaan obat antivirus? Obat anti
virus seperti oseltamivir dan zanamivir telah menunjukkan
aktivitas yang bagus terhadap hampir semua strain H5N1,
tetapi pemberian obat tersebut untuk persediaan maupun
pencegahan individu tidak dianjurkan.
Mayo Clinic's Travel & Tropical Medicine Clinic memberikan
saran mengenai AI bagi wisatawan sbb:
(15)
1. Penting bagi wisatawan untuk mengetahui gejala AI.
Gejala tersebut mirip flu biasa seperti demam, batuk, nyeri
menelan dan atau nyeri otot. Kadang gejala pernapasan
disertai diare, konjungtivitis atau pneumonia. Wisatawan
harus segera memeriksakan diri ke dokter apabila
merasakan gejala tersebut. Penting untuk dimengerti
bahwa 15-25% wisatawan terkena infeksi virus di saluran
napas saat berwisata, sehingga gejala di atas mungkin
akibat influenza biasa dan tidak selalu berarti terkena AI.
Wisatawan tidak perlu panik tetapi tetap diharuskan untuk
memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala
tersebut setelah berwisata ke daerah terjangkit H5N1.
2. Saat ini belum ditemukan vaksin flu burung. Berdasarkan
panduan CDC and WHO: wisatawan yang bepergian ke
daerah terjangkit tidak perlu mempersiapkan diri dengan
membawa atau memakai obat antivirus. Saat ini pemberian
profilaksis obat anti virus bagi wisatawan tidak
direkomendasikan. Hal ini mungkin berubah bila terdapat
perkembangan situasi lebih lanjut.
3. Metode pencegahan penularan H5N1 meliputi: meng-
hindari kontak dengan pasar unggas, menghindari
makanan yang berasal dari ternak atau produk ternak yang
tidak dimasak atau dimasak kurang matang, termasuk
hidangan yang terbuat dari darah ternak yang belum
dimasak.
4. Wisatawan harus sering mencuci tangan dan menggunakan
gel alkohol untuk tangan untuk menjaga higiene tangan.
5. Wisatawan harus membawa masker N95 yang dapat
digunakan apabila di negara tujuan terjadi outbreak infeksi
saluran napas
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006 11
6. Tetap mengikuti informasi situasi global selama berwisata
melalui media atau website CDC: http://www.cdc.gov/
travel/ atau WHO : http://www.who.int/csr/don/en/
Meskipun risiko infeksi terhadap wisatawan di area yang
terjangkit AI sangat rendah, pemerintah Australia melalui
Departemen Luar Negeri bekerjasama dengan WHO
mengeluarkan advis bagi para wisatawan ke daerah terjangkit
Warga Australia yang akan bepergian dalam waktu singkat
ke daerah terjangkit AI mempunyai risiko terinfeksi lebih
rendah, tetapi tetap disarankan untuk mendiskusikan risiko AI
dengan dokternya sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan
rutin pra-wisata. Di sini kedokteran wisata diharapkan
mengambil peran.
PENCEGAHAN PENYEBARAN AI ANTAR NEGARA
Untuk mencegah penyebaran suatu wabah infeksi antar
negara diperlukan respons yang memadai. Dari penelitian
respons negara-negara Eropa terhadap 5 wabah, salah satunya
adalah Influenza H5N1
(16)
.
Setidaknya 4 hal diperlukan untuk mengantisipasi
penyebaran antar negara yaitu : deteksi munculnya wabah,
koordinasi antar negara, rencana pendanaan dan laporan
lengkap surveilans maupun klinis. Kegagalan mendeteksi suatu
wabah yang bersifat nasional akan menyebabkan negara lain
terjangkit. Suatu kasus dapat saja awalnya bersifat rumor atau
tidak dapat dibuktikan, tetapi dengan suatu penyelidikan dan
data surveilans yang lengkap seharusnya dapat dibuat laporan
resmi yang bersifat internasional. Suatu perencanaan
kewaspadaan di tingkat lokal (negara) perlu dipersiapkan untuk
mencegah penyebaran lebih lanjut, yang didukung dengan
rencana pendanaan untuk melakukan semua kegiatan tersebut.
Suatu surveilans yang baik akan memberi arahan kepada
tingkat pelaksana seperti public health (puskesmas) dan juga
industri agar tidak terlambat mengantisipasinya.
(16)
Meskipun
kejadian infeksi dari manusia sangat terbatas, awak pesawat
harus mengerti dan waspada terhadap gejala AI. Penumpang
dari daerah terjangkit AI yang menderita demam dan gejala
respirasi, meskipun ternyata hanya karena infeksi pernapasan
biasa, harus dievaluasi oleh petugas kesehatan.
Bila awak pesawat atau personel lain mengetahui ada
penumpang dengan gejala AI setelah berwisata dari daerah
terjangkit AI:
17
-
Harus mengusahakan supaya penumpang tersebut
mendapat tempat duduk sebisa mungkin terpisah dari
penumpang lain (3-6 feet)
- Penumpang tersebut perlu memakai masker untuk
mengurangi jumlah droplet ke udara
- Awak pesawat harus memakai sarung tangan disposibel
bila melakukan kontak langsung dengan darah atau cairan
tubuh penumpang tersebut
- Sebelum mendarat kapten pesawat harus melaporkan
terlebih dahulu ke karantina perihal penumpang sakit.
- Petugas karantina akan mengatur untuk menyediakan
bantuan medis saat pesawat mendarat dan memberitahukan
Departemen Kesehatan. Petugas karantina akan bekerja-
sama dengan maskapai penerbangan dan Departemen
Kesehatan untuk membantu transportasi medis, kontrol
penyakit, aktivitas surveilens dan prosedur desinfeksi pesawat.
KESIMPULAN
Peningkatan jumlah wisatawan antar negara akan diikuti
peningkatan risiko terkena penyakit infeksi Kedokteran wisata
adalah suatu keahlian interdisipliner yang telah berkembang
cepat sebagai respons terhadap kebutuhan berwisata di seluruh
dunia Dalam hal keterkaitannya dengan Avian Influenza,
kedokteran wisata berperan pada pelayanan pra-wisata maupun
pasca-wisata Pada pelayanan pra-wisata selain pemeriksaan
risiko pra-wisata, juga penting adanya pelayanan konsultasi
terutama advis yang berhubungan dengan peningkatan risiko
terkena penyakit dan kemungkinan infeksi saat berwisata.
KEPUSTAKAAN
1. Handszuh H. Tourism trends and patterns. European Conference on
Travel Medicine. Venice, Cini Foundation, 25-27 March 1998.
www.ectm5.org/1998.pdf
2. Travel Medicine: Helping Patients Prepare for Trips Abroad.
3.
Zuckerman JN. Recent developments:Travel medicine.BMJ 2002;325:
260-4
4. Spira A. Avian Influenza (The Bird Flu). Available at : http://www.
5. Travel medicine. 2005 The Ohio State University Medical Center.
6. Mawhorter SD. Travel Medicine for the Primary Care physician.
7.
Mardh PA. What is travel medicine? Content, current position, tools, and
tasks. J Travel Med 2002; 9:34-47.
8. Srisamran K, Bovornkitti S. Travel Medicine: Concepts and
implementation. J Environ Med 2001; 3(1): 1-3
9. Paynter W. Travel Medicine. Clinician Reviews. Available at
:
10. Aditama TY. In: Patarai AAP ed. Penyakit paru pada wisatawan.IDI.
Jakarta, 2003
11. Threat of avian influenza pandemic grows, but people can take
precautions. Available at
12. Ung Chusak K, Auewarakal P, Dowel SF. Probable person to person
transmission of avian influenza A (H5N1). N Engl J Med 2005;352:333-
40
13. Cruise ship/air. Guidelines and Recommendations .Interim Guidance for
Airline Cleaning Crews and baggage/ pac. Available at : http://www.
14. Pitman RJ, Cooper BS, Trotter CL, et al. Entry screening for severe acute
respiratory syndrome (SARS) or Influenza : policy evaluation. BMJ 2005
: 331 : 1242-3
15. Travel & Tropical Medicine Clinic at Mayo Clinic in Rochester, Minn.
Available at : www.mayoclinic.org/travelclinic-rst/ - 21k
16. Mac Lehosel L, Brard H, Camaroni I. Communicable disease outbreaks
involving more than one country : systems approach to evaluating the
response. BMJ 2001 : 232 : 861-3
17. Guidelines and Recommendations Interim Guidance for Airline Flight
Crews and Persons Meeting Passengers Arriving from Areas with Avian
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006
12