background image
HASIL PENELITIAN
Dekok Daun Paliasa (Kleinhovia
hospita Linn) Sebagai Obat
Radang Hati Akut
Raflizar, Cornelis Adimunca, Sulistyowati Tuminah
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Daun Paliasa (Kleinhovia hospita Linn) biasa digunakan sebagai obat tradisional untuk
pengobatan penyakit hati, kuning dan hepatitis tetapi informasi ilmiah belum pernah dilaporkan.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji khasiat dan manfaat daun paliasa terhadap tikus
penderita radang hati. Digunakan 63 ekor tikus putih betina strain Wistar berumur 6 bulan dengan
berat rata-rata (± SD) 150,28 g ± 4,45 g. Ekstrak daun paliasa diberikan per oral melalui sonde 1
ml; sebelum penelitian dimulai semua tikus kecuali kelompok kontrol diberi 0,55 mg/kgbb.
larutan CCl
4
untuk merusak organ hatinya.
Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 7 perlakuan dan 9
ulangan. Masing-masing perlakuan terdiri dari pemberian : Akuades (Kn) Kontrol negatif, CCl
4
(Kp) Kontrol positif, CCl
4
+ ekstrak daun paliasa dengan dosis 250 mg/kg bb (P1). CCl
4
+ ekstrak
daun paliasa 500 mg/kg bb (P2), CCl
4
+ ekstrak daun paliasa dengan dosis 750 mg/kg bb (P3),
CCl
4
+ ekstrak daun paliasa dengan dosis 1000 mg/kg bb (P4) serta CCl
4
+ ekstrak daun paliasa
dengan dosis 1250 mg/kg bb (P5). Pada ketujuh kelompok tikus tersebut dilakukan pengukuran
kadar SGPT plasma, kandungan peroksida lipid hati dan derajat kerusakan sel hati. Pada hari
kedua atau jam ke 50 semua tikus dibunuh menggunakan larutan eter dan dilakukan pengambilan
darah melalui jantung serta organ hati untuk pemeriksaan histopatologi.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ketiga parameter tersebut secara statistik tidak
berbeda bermakna antar masing-masing perlakuan dengan ekstrak daun paliasa, sebaliknya
berbeda bermakna jika dibandingkan dengan kelompok positif CCl
4
(Kp) (p0,05). Maka
disimpulkan bahwa ekstrak daun paliasa dapat melindungi radang hati yang diakibatkan CCl
4
;
namun belum dapat diketahui zat kimia mana yang berkhasiat.
PENDAHULUAN
Penggunaan bahan alam untuk pengobatan merupakan hal
yang umum di Indonesia, terlihat dari banyaknya produk
ramuan tradisional baik yang telah diolah dengan teknologi
modern maupun secara sederhana yang beredar di masyarakat.
Dari alam telah diperoleh berbagai macam obat-obatan seperti
atropin, berbagai macam antibiotik, kina, reserpin dan masih
banyak lagi. Mengingat hal tersebut perlu adanya pengujian
untuk membuktikan khasiat suatu bahan alam karena masih
banyak yang didasarkan pada pengalaman saja.
Dengan penelitian ilmiah maka akan dapat diketahui
masalah yang berhubungan dengan bahan alam tersebut
misalnya : khasiat, kandungan kimia serta kemungkinan
pengembangan untuk digunakan dalam pengobatan modern.
Salah satu bahan alam adalah tanaman daun kayu paliasa
(Kleinhovia hospita Linn) yang daunnya digunakan untuk
pengobatan penyakit hati, kuning dan hepatitis, dengan cara
meminum air rebusannya. Hati merupakan organ yang sangat
penting dan memiliki aneka fungsi dalam proses metabolisme
sehingga organ ini sering terpajan zat kimia.Zat kimia tersebut
akan mengalami detoksikasi dan inaktivasi sehingga menjadi
tidak berbahaya bagi tubuh. Kerusakan hati karena obat dan zat
kimia dapat terjadi jika cadangan daya tahan hati berkurang
dan kemampuan regenerasi sel hati hilang dan selanjutnya akan
mengalami kerusakan permanen sehingga dapat fatal
(1-6)
.
METODE PENELITIAN
Rancangan penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap
(RAL): 9 ulangan pada masing-masing perlakuan. Hewan
percobaan yang digunakan tikus putih betina strain Wistar
berumur 6 bulan; jumlah sampel dihitung menurut Rumus
Federer.
Karbon tetraklorida (CCl
4
)
Karbon tetraklorida diencerkan dengan minyak kelapa
sesuai kebutuhan; diberikan dengan dosis 0,55 mg/kg bb tikus
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006
10
background image
Penentuan ekstrak daun paliasa
Ekstraksi daun paliasa dilakukan dengan metode maserasi
yaitu daun paliasa yang telah diiris kecil-kecil dikeringkan
dalam oven pada suhu 40
0
C. Setelah kering lalu dihaluskan
menjadi bubuk. Bubuk paliasa (150 g) direndam dalam 750 ml
alkohol 70% selama 3 hari. Larutan itu sesering mungkin
diaduk kemudian disaring. Filtrat yang diperoleh diuapkan
dalam vacuum rotary. Untuk membuat dosis perlakuan ekstrak
daun paliasa dicampur dengan akuades, untuk kontrol positif
(Kp) dosisnya 0,55 mg/kg bb.
Perlakuan terhadap tikus percobaan
Sebanyak 63 ekor tikus betina dibagi dalam 7 kelompok
secara acak dan ditempatkan dalam satu kandang satu ekor.
Kelompok I : 9 ekor tidak diberi ekstrak daun paliasa (EDP),
hanya diberi akuades sebagai kontrol negatif.
Kelompok II : 9 ekor diberi CCl
4
0,55 mg/kgbb dosis tunggal
sebagai kontrol positif.
Kelompok III : 9 ekor diberi EDP dosis 250 mg/kgbb/hr.
Kelompok IV : 9 ekor diberi EDP dosis 500 mg/kgbb/hr.
Kelompok V : 9 ekor diberi EDP dosis 750 mg/kgbb/hr.
Kelompok VI : 9 ekor diberi EDP dosis 1000 mg/kgbb/hr.
Kelompok VII : 9 ekor diberi EDP dosis 1250 mg/kgbb/hr
Pemberian bahan perlakuan : Ekstrak daun paliasa (EDP)
diberikan kepada tikus secara oral, karbon tetraklorida
0,55mg/gbb diberikan ke semua tikus percobaan dari kelompok
II sampai kelompok VII dengan dosis tunggal. Pada hari ke 0,1
dan 2 setelah pemberian CCl
4
pada kelompok III sampai
kelompok VII dilakukan pencekokan ekstrak daun paliasa
dengan dosis perlakuan masing-masing kelompok, begitu juga
dengan kelompok kontrol negatif pencekokan akuades
dilakukan dengan cara yang sama. Pada hari ke 2, 2 jam setelah
pencekokan semua tikus percobaan, baik pada kelompok
negatif, kelompok kontrol positif maupun semua kelompok
perlakuan dibunuh dengan bius larutan eter. Pengambilan darah
dilakukan dari jantung untuk pemeriksaan kadar SGPT,
peroksida lipid dan selanjutnya organ hati dikeluarkan untuk
pemeriksaan histopatologis.
Analisis data
Perbandingan multipel antara kelompok perlakuan ekstrak
daun paliasa tidak berbeda bermakna antara masing-masing
kelompok kecuali antara P3 (dosis 750 mg/kg bb ekstrak daun
paliasa) dengan kelompok P5 (dosis 1250 mg/kg bb ekstrak
daun paliasa) dan antara kelompok P4 (dosis 1000 mg/kg bb
ekstrak daun paliasa) dengan kelompok P5 (dosis 1250 mg/kg
bb ekstrak daun paliasa) (p
0,05). Sedangkan aktivitas SGPT
rata-rata (Tabel I), menunjukkan perbedaan yang tidak
bermakna. Kecuali pada kelompok Kp yang mendapatkan
karbon tetraklorida (CCl
Hasil pemeriksaan histopatologi sel hati diuji dengan uji
Kruskal-Wallis, sedangkan hasil pengukuran aktivitas SGPT
dan peroksida lipid diuji dengan uji Analysis of Variant
(ANOVA) satu arah, jika data berdistribusi normal (tidak
berbeda bermakna). Jika data berbeda (tidak homogen)
sehingga tidak memenuhi syarat untuk uji statistik Anova,
digunakan uji non parametrik Kruskal-Wallis, dengan batas
kemaknaan p < 0,05; jika terdapat perbedaan bermakna maka
perbedaan antar kelompok ditentukan lebih lanjut dengan uji
berganda Daniel p
0,05
(7-9)
.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Aktivitas serum glutamat piruvat transaminase
Hasil pengukuran aktivitas SGPT antar kelompok dapat
dilihat di Tabel 1. Efek perbaikan sel hati yang telah dirusak
dengan karbon tetraklorida dengan (p<0,05), diuji statistik
Analysis of Variant (ANOVA) satu arah, tetapi karena data
ternyata tidak menunjukkan distribusi normal (tidak memenuhi
syarat) maka dilakukan uji statistik non parametrik Kruskal-
Wallis (Lampiran 1); begitu juga dengan kadar peroksida lipid
(Lampiran 2).
Sedangkan untuk perhitungan sel hati dilakukan uji
statistik Kruskal-Wallis. Hasil perhitungan histologi sel hati
dari masing-masing perlakuan menunjukkan nilai yang tidak
sama pada
0.05 (Lampiran 3). Perbedaan aktivitas SGPT
antar kelompok (Tabel I) ditentukan lebih lanjut dengan uji
berganda Daniel (Tabel II); kadar peroksida lipid dalam
plasma darah dan perbandingan antar kelompok peroksida lipid
dapat dilihat di Tabel III dan IV.
Zat aktif yang dikandung daun paliasa (Kleinhovia hospita
Linn) yang diperiksa dengan Kromatografi Lapisan Tipis
(KLT) antara lain : Saponin, Cardenolin, Bufadienol dan
Antrakinon (Tabel V).
Hasil perhitungan SGPT pada tikus coba yang mendapat
ekstrak daun paliasa berbeda bermakna jika dibandingkan
dengan kelompok yang hanya mendapatkan Karbon
tetraklorida saja dan kelompok kontrol lainnya (Tabel II).
Begitu juga hasil perhitungan peroksida lipid yang mendapat
ekstrak daun paliasa kelompok IV,V dan VI menunjukkan
perbedaan bermakna jika dibandingkan dengan kelompok yang
mendapat Karbon tetraklorida saja (Tabel IV). Ternyata uji
perbandingan multipel antar pasangan (Tabel II) menunjukkan
tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok kontrol
negatif (Kn) dan kelompok P1 (dosis 250 mg/kgbb ekstrak
daun paliasa), P2 (dosis 500 mg/kgbb ekstrak daun paliasa, P3
(dosis 750 mg/kgbb ekstrak daun paliasa), P4 (dosis 1000
mg/kgbb ekstrak daun paliasa).
Tetapi dengan kelompok P5 (dosis 1250 mg/kgbb ekstrak
daun paliasa) dan kelompok Kp (kontrol positif) yang
mendapat karbon tetraklorida masing-masing menunjukkan
perbedaan bermakna (p
0,05). Jika kelompok Kp (kontrol
positif) yang diberi karbon tetraklorida dibandingkan dengan
kelompok P5 (dosis 1250 mg/kgbb ekstrak daun paliasa) tidak
menunjukkan perbedaan yang bermakna, tetapi jika
dibandingkan dengan kelompok P1,P2,P3,P4 menunjukkan
perbedaan bermakna (p
0,05).
4
) menunjukkan peningkatan aktivitas
SGPT rata-rata (10,53
± SD 0,60 u/l) yang secara statistik
berbeda bermakna (p<0,05) dengan semua kelompok lainnya.
Terjadi peningkatan aktivitas kadar peroksida lipid di
dalam plasma darah (Tabel III): tidak terdapat perbedaan
bermakna antara kelompok kontrol negatif dengan kelompok
kontrol positif, sedangkan dengan kelompok perlakuan P1, P2,
P3, P4 dan P5 menunjukkan perbedaan yang sangat bermakna
(p<0,05). Kelompok kontrol positif jika dibandingkan dengan
kelompok P5 (dosis EDP 250 mg/kg bb) tidak terdapat
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006
11
background image
perbedaan namun dengan kelompok perlakuan lainnya : P1
(dosis EDP 250 mg/kgbb), P2 (dosis 500 mg/kgbb), P3 (dosis
EDP 750 mg/kgbb) dan P4 (dosis 1000 mg/kgbb) menunjukkan
perbedaan bermakna (p
0,05).
Kelompok perlakuan P1 (dosis 250 mg/kgbb) jika
dibandingkan dengan kelompok perlakuan P3 dan P5 tidak
terdapat perbedaan, sedangkan P2 (dosis EDP 500 mg/kgbb)
dan dengan P4 (dosis EDP 1000 mg/kgbb) menunjukkan
perbedaan yang bermakna (p
0,05).
Kelompok perlakuan P2 dibandingkan dengan kelompok
P4 tidak berbeda bermakna tetapi dengan kelompok P3 dan P5
menunjukkan perbedaan yang bermakna (p
0,05). Kelompok
perlakuan P3 dibandingkan dengan kelompok perlakuan P4
tidak berbeda tetapi dengan P5 menunjukkan perbedaan
bermakna (p
0,05) sedangkan kelompok perlakuan P4
dibandingkan dengan perlakuan P5 menunjukkan perbedaan
bermakna (p
0,05).
Tabel I. Aktivitas SGPT tikus coba (X
± SD)
Aktivitas SGPT (u/l)
Ulangan
KN
KP
P 1
P 2
P 3
P 4
P5
1
6,30 10,96 5,50 5,24 5,78 5,23 5,95
2
5,34 11,41 5,21 4,83 4,93 5,59 6,33
3
5,06 0,75 5,63 5,53 4,81 5,17 5,39
4
4,73 9,92 5,62 5,27 4,79 5,10 6,35
5
4,56 9,94 5,54 5,44 5,34 4,56 5,89
6
4,52 9,88 4,52 5,20 4,93 5,11 5,54
7
4,52 0,49 5,66 5,29 5,15 5,05 5,87
8
4,51 10,49 5,70 5,48 5,00 4,95 5,92
9
4,52 10,95 5,74 5,30 5,20 4,90 6,00
X
4,90 10,53 5,46 5,29 5,10 5,07 5,92
SD
0,60 0,54 0,38 0,21 0,31 0,28 0,31
Keterangan:
KN : Kontrol Negatif (Aquades)
KP : Kontrol Positif karbon tetraklorida (CCl
4
)
P1 : Perlakuan ekstrak daun paliasa (dosis 250 mg/kg bb)
P2 : Perlakuan ekstrak daun paliasa (dosis 500 mg/kg bb)
P3 : Perlakuan ekstrak daun paliasa (dosis 750 mg/kg bb)
P4 : Perlakuan ekstrak daun paliasa (dosis 1.000 mg/kg bb)
P5 : Perlakuan ekstrak daun paliasa (dosis 1.250 mg/kg bb)
Tabel II. Perbandingan multipel aktivitas SGPT tikus coba
Keterangan:
R : Rata-rata rank setiap kelompok
* : Secara statistik berbeda bermakna dengan (P
0,05)
Tabel III. Kadar peroksida lipid dalam plasma darah (n mol/ mg) X
±
SD
N Kn Kp P1 P2 P3 P4 P5
1 0,178 0,192 0,206 0,240 0,228 0,233 0,197
2 0,178 0,193 0,206 0,235 0,227 0,233 0,196
3 0,178 0,193 0,205 0,235 0,228 0,234 0,197
4 0,179 0,193 0,206 0,237 0,229 0,232 0,197
5 0,177 0,193 0,205 0,235 0,228 0,233 0,197
6 0,179 0,194 0,206 0,239 0,229 0,233 0,196
7 0,178 0,193 0,206 0,237 0,228 0,232 0,197
8 0,177 0,194 0,206 0,237 0,229 0,233 0,197
9 0,178 0,193 0,206 0,237 0,229 0,233 0,197
X 0,178 0,193 0,206 0,237 0,228 0,233 0,197
S
D
0,007 0,0006 0,0004 0,001 0,0007 0,0006 0,0004
Keterangan:
N : Ulangan
Kn : Kontrol negatif (Aquades)
Kp : Kontrol positif karbon tetra klorida (CCl
4
)
P1 : Perlakuan ekstrak daun paliasa (EDP) dosis 250 mg/kg bb
P2 : Perlakuan ekstrak daun paliasa (EDP) dosis 500 mg/kg bb
P3 : Perlakuan ekstrak daun paliasa (EDP) dosis 750 mg/kg bb
P4 : Perlakuan ekstrak daun paliasa (EDP) dosis 1000 mg/kg bb
P5 : Perlakuan ekstrak daun paliasa (EDP) dosis 1250 mg/kg bb
Tabel IV. Perbandingan multipel kadar peroksida lipid dalam plasma
darah
Kel R
Kn
5
Kp
14
P1
32
P2
59
P3
41
P4
50
P5
23
Kn
5
-
Kp
14
9 -
P1 32 27* 18* -
P2 59 54* 45* 27* -
P3 41 36* 27* 9 18* -
P4 50 45* 36* 18* 9 9 -
P5 23 18* 9 9 36* 18* 27* -
Keterangan :
R : Rata rata rank setiap kelompok.
* : Secara statistik berbeda bermakna (P
0,05)
Tabel V. Hasil kromatografi lapisan tipis (KLT) ekstrak daun paliasa
Sinar biasa
Sinar UV 366 mm
Dengan
pereaksi
Tanpa pereaksi
Dengan
pereaksi
No
Kandungan
golongan
Kimia
Warna Rf Warna Rf Warna Rf
1 Alkaloid - -
-
-
- -
2 Saponin - -
Merah
muda
0,78
Hijau
biru
0,62
Merah
muda
0,85
Hijau
biru
0,83
3
Cardenolin
&
Bufadienol
- -
Merah
0,63
Hijau
coklat
0,63
Merah
0,77
Hijau
coklat
0,77
Merah
0,90
Hijau
coklat
0,90
4 Antrakinon -
- Merah 0,28 Hijau 0,22
Biru
0,40
Hijau
0,70
Biru
0,70
Hijau
0,87
Merah
0,75
Merah
0,78
Kn Kp P1 P2 P3 P4 P5
Kelo-
mpok
R
12,58 39,50 21,17 18,00 13,92 14,58 30,75
Kn 12,58 -
Kp 13,50
26,92* -
P1 21,17 8,59 18,33* -
P2 18,00 5,42 21,50* 4,17 -
P3 13,92 1,34 25,58* 7,25 4,08 -
P4 14,58 2,00 24,92* 6,59 3,42 0,66
-
P5 30,75 18,17* 8,75 9,58 12,75 16,83* 16,17* -
Keterangan :
Ekstrak daun paliasa mengandung golongan komponen kimia : Saponin,
Cardenolin & Bufadienol serta Antrakinon.
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006
12
background image
Tabel VI. Histopatologi sel hati tikus coba (X
± SD)
Derajat Kerusakan Sel Hati
Kn Kp P1 P2 P3 P4 P5
0 2 1 3 3 4 1
0 3 1 1 4 2 1
0 1 4 4 1 1 2
0 4 1 1 1 1 3
0 4 1 1 1 1 4
0 4 2 2 1 1 3
0 4 1 1 1 1 1
0 4 1 1 1 1 2
0 3 1 2 1 2 2
X 3,20 1,67 1,78 1,56 1,56 2,10
SD 1,09 1,12 1,09 1.13 1,01 1,05
Keterangan :
Kn : Kelompok kontrol negatif (aquades) kelompok perlakuan ekstrak
Kp : Kelompok kontrol positif karbon tetraklorida (CCl
4
)
P1 : Kelompok perlakuan ekstrak daun paliasa (EDP) dosis 250 mg/kg bb
P2 : Kelompok perlakuan ekstrak daun paliasa (EDP) dosis 500 mg/kg bb
P3 : Kelompok perlakuan ekstrak daun paliasa (EDP) dosis 750 mg/kg bb
P4 : Kelompok perlakuan ekstrak daun paliasa (EDP) dosis 1000 mg/kg bb
P5 : Kelompok perlakuan ekstrak daun paliasa (EDP) dosis 1250 mg/kg bb
Ternyata kelompok kontrol negatif menunjukkan
gambaran histopatologi sel hati normal. Kelompok kontrol
positif (CCl
4
) menunjukkan derajat histopatologi rata-rata ( 3,2
± SD 1,09) lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok
lain. Secara statistik tidak dapat perbedaan bermakna kecuali
dengan kelompok kontrol negatif (p
0,05).
Uji perbandingan multipel antar pasangan menunjukkan
bahwa histopatologi sel hati tikus tidak berbeda bermakna
antara masing-masing dosis perlakuan, kecuali pada kelompok
negatif jika dibandingkan dengan semua kelompok lainnya (p
0,05); kelompok kontrol positif juga menunjukkan perbedaan
bermakna (p
0,05) dengan masing-masing kelompok
perlakuan lainnya kecuali dengan kelompok P5.
Tabel VII. Perbandingan multipel histopatologi sel hati tikus coba
Kel R Kn Kp P1 P2 P3 P4 P5
Kn
5 -
Kp
50,88
45,88* -
P1 32,44 27,44 18,44* -
P2 34,44 29,44* 16,44* 2
-
P3 30,33 25,33* 20,55* 2,11 4,11 -
P4 31,50 26,50* 19,38* 0,94 3,11 1,17 -
P5 39,44 34,44* 11,44 7 5 9,11 7,94 -
Keterangan:
R : Rata-rata rank setiap kelompok
* : Secara statistik berbeda bermakna (p
0,05)
KESIMPULAN
-
Karbon tetraklorida secara nyata dan konsisten dapat
menimbulkan nekrosis sel hati sentrilobuler.
-
Ekstrak daun paliasa semua dosis perlakuan secara efektif
dapat mengurangi kerusakan sel hati yang ditimbulkan
oleh karbon tetraklorida (CCl
4
).
-
Peningkatan dosis ekstrak daun paliasa (1250 mg/kgbb)
menimbulkan pengurangan efek perbaikan sel hati dan
dosis ini kurang efektif untuk pengobatan radang hati.
-
Ekstrak daun paliasa ternyata berkhasiat untuk pengobatan
radang hati pada dosis 250, 500, 750 dan 1000 mg/kgbb.
-
Daun paliasa (Kleinhovia hospita Linn) mengandung
Saponin, Cardenolin & Bufadienol serta Antrakinon.
-
Ekstrak daun paliasa dapat menurunkan aktivitas enzim
SGPT darah yang disebabkan oleh Karbon tetraklorida
(CCl
4
).
SARAN
-
Perlu dilakukan penelitian lanjutan di antara 4 kandungan
kimia daun paliasa tersebut; zat kimia mana yang
berkhasiat terhadap pemulihan radang hati.
KEPUSTAKAAN
1
Frank Cl. Basic Toxicology : Fundamentals Target Organs and risk
assessment, New York: Mc Graw-Hill, 1985; 184-95.
2
Zimmerman H. Hepatoxicity : The adverse effects of drugs and other
chemical on the liver, : Appleton Century Crofts, New York, 1982.
3
Dellmann DH, Brown EM. Buku Teks Histologi Veteriner, UI-Press,
1992, hal. 392-405.
4
Ham AW. Histology. 7
th
ed. JB Lippincott Co. Philadelphia, 1979. pp.
686-719.
5
Junguiera LC, Carneiro J. Histologi Dasar, Edisi III. EGC, 1980. 342-56.
6
Price SA, Wilson LM. Patofisiologi : Konsep Klinik Proses-proses
Penyakit, Edisi II, EGC, 1991. hal. 327-54.
7
Djarwanto.PS. Statistik Non Parametrik, Universitas Sebelas Maret
Surakarta Penerbit : BPFE ­ Yogyakarta. 1989 hal. 51-3.
8
Ray M. Statistical Hand Book For Non-Statisticians England : Mc Graw-
Hill, 1975 : 97-9.
9
Colquhoum D. Lectures on Biostatistics : An Introduction to statistics
with Applications in biology and medicine. Oxford : Clarendon Press.
Lampiran 1.
Perhitungan statistik aktivitas SGPT Nilai aktivitas SGPT dalam
ranking
Kn Kp P1 P2 P3 P4 P5
52 62 36 27 46 26 50
31.5 63 25 11
13.5
40 53
18 60 42 37 10 22 33
8 56 41 28 9 19 54
6.5 57 38.5 34 31.5 6.5 48
3.5 55 3.5
23.5
13.5
20 38.5
3.5 58.5 43 29 21 17 47
1 58.5 44 35 16 15 49
3.5 61 45 30
23.5
12 51
R
:
127.5 531 318 254.5 184 177.5 423.5
31
.
78744
9
5
.
423
9
5
.
177
9
184
9
5
.
254
9
318
9
531
9
5
.
127
2
2
2
2
2
2
2
=
+
+
+
+
+
+
=
K
= 42.40
64
3
64
63
31
.
78744
12
2
x
x
x
-
=
Bila digunakan = 0,05 maka menurut tabel
2
= 0,05
Df=7-1=6
2
= 12,6 ( P0.05 )
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006
13
background image
Kadar SGPT masing-masing perlakuan tidak sama; nilai aktivitas SGPT dalam
7 kelompok tikus coba berbeda bermakna.
Lampiran 2.
Perhitungan statistik kadar peroksida lipid plasma .Nilai peroksida
lipid dalam ranking
Kn Kp P1 P2 P3 P4 P5
5 10 33 63
39.5
50.5 24
5 13.5 33 56 37
50.5
19.5
5 13.5 28.5 56 39.5 54 24
8.5 13.5 33 59.5
43.5
46.5 24
1.5 13.5 28.5 56 39.5
50.5 24
8.5 17.5 33 62 43.5
50.5 19.5
5 13.5 33 59.5
39.5
46.5 24
1.5 17.5 33 59.5
43.5
50.5 24
5 13.5 33 59.5
43.5
50.5 24
R
:
45 126 288 531 369 450 207
K
= 54,28
Bila digunakan = 0,05 maka menurut table
2
= 0,05
Df=7-1=6
2
= 12,6 ( P0.05 )
Kadar peroksida lipid dari masing-masing perlakuan tidak sama; kadar
peroksida lipid dalam 7 kelompok tikus coba berbeda bermakna.
Lampiran 3.
Perhitungan statistik histologi sel hati Nilai histologi sel hati dalam
ranking
Kn Kp P1 P2 P3 P4 P5
5 42 50 50
50
58.5
23.5
5 50.
23.5
23.5
58.5
42
23.5
5
23.5 59 58.5 23.5 23.5 42
5
58.5 23.5 23.5 23.5 23.5 50
5
58.5 23.5 23.5 23.5 23.5 58.5
5 58.5 42 42
23.5
23.5 50
5
58.5 23.5 23.5 23.5 23.5 23.5
5
58.5 23.5 23.5 23.5 23.5 42
5
50 23.5 42 23.5 42 42
R :
45 458 292 310 273
283.5 355
84924
9
207
9
450
9
369
9
531
9
228
9
126
9
45
2
2
2
2
2
2
2
=
+
+
+
+
+
+
=
71
.
74897
9
355
9
5
.
283
9
273
9
310
9
292
9
458
9
45
2
2
2
2
2
2
2
=
+
+
+
+
+
+
=
K
64
3
64
63
84924
12
2
x
x
x
-
=
64
3
64
63
71
.
74897
12
2
x
x
x
-
=
= 42.40
Bila digunakan = 0,05 maka menurut tabel
2
= 0,05
Df=7-1=6
2
= 12,6 ( P0.05 )
Jumlah sel hati dari masing-masing perlakuan tidak sama; nilai histopatologi
sel hati dalam 7 kelompok tikus coba berbeda bermakna.
A good king is a public servant
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006
14

Document Outline