TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Diagnosis dan Penatalaksanaan
Depresi Pascastroke
Nurmiati Amir
Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia /
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
ABSTRAK
Depresi merupakan suatu sindrom yang ditandai dengan sejumlah gejala klinik yang
manifestasinya bisa berbeda pada masing-masing individu. Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorders (DSM-IV) merupakan salah satu instrumen yang digunakan untuk menegakkan
diagnosis depresi.
Gejala depresi terdiri dari penurunan mud (mood), gangguan kognitif, vegetatif, retardasi
psikomotor. Ada beberapa bentuk depresi yaitu gangguan depresi mayor (unipolar, bipolar),
gangguan mud spesifik lainnya, gangguan depresi akibat kondisi medik umum atau akibat zat, dan
gangguan penyesuaian dengan mud depresi. Sampai saat ini, penyebab pasti gangguan depresi belum
diketahui. Ada beberapa faktor yang berkrontribusi yaitu faktor stresor psikososial, genetik,
kepribadian, dan biologik.
Pada stroke, gangguan depresi merupakan gangguan emosi yang paling sering ditemukan.
Sekitar 15%-25% pasien stroke dalam komunitas menderita depresi, sedangkan pasien stroke yang
dirawat di rumah sakit, sekitar 30%-40% menderita depresi.
Ada beberapa jenis penatalaksanaan depresi; medikasi, psikoterapi, kombinasi keduanya,
Terapi Kejang Listrik (TKL), terapi cahaya, atau gabungan terapi cahaya dan medikasi. Mengingat
ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan depresi, penatalaksanaan yang komprehensif sangat
diperlukan.
PENDAHULUAN
Depresi merupakan suatu sindrom yang ditandai dengan
sejumlah gejala klinik yang manifestasinya bisa berbeda pada
masing-masing individu. Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorders (DSM)-IV merupakan salah satu instrumen
yang digunakan untuk menegakkan diagnosis depresi. Jika
manifestasi depresi muncul dalam bentuk keluhan yang ber-
kaitan dengan mud (mood) (seperti murung, sedih, rasa putus
asa), diagnosis depresi dapat dengan mudah ditegakkan; tetapi
jika gejala depresi muncul dalam keluhan psikomotor atau
somatik seperti malas bekerja, lamban, lesu, nyeri ulu hati,
sakit kepala terus-menerus, adanya depresi yang melatar-
belakanginya sering tidak terdiagnosis. Ada masalah-masalah
lain yang juga dapat menutupi diagnosis depresi misalnya
pasien menyalahgunakan alkohol atau obat untuk mengatasi
depresi, atau muncul dalam bentuk gangguan perilaku
(1)
.
Gangguan depresi sering ditemui. Prevalensi selama
kehidupan, pada wanita 10%-25% dan pada laki-laki 5%-12%.
Sekitar 15% penderita depresi melakukan usaha bunuh diri.
Walaupun depresi lebih sering pada wanita, kejadian bunuh diri
lebih sering pada laki-laki, terutama lelaki usia muda dan usia
tua. Penyebab depresi secara pasti, belum diketahui. Faktor-
faktor yang diduga berperan yaitu peristiwa-peritiwa kehidupan
yang bersifat stresor (problem keuangan, perkawinan, pe-
kerjaan, penyakit, dan lain-lain), faktor kepribadian, genetik,
dan biologik lain seperti gangguan hormon, keseimbangan
neurotransmiter biogenik amin, dan imunologik
(2)
.
Pada stroke, depresi merupakan gangguan emosi yang
paling sering ditemukan. Sekitar 15%-25% pasien stroke dalam
komunitas menderita depresi. sedangkan yang sedang dirawat
di rumah sakit, sekitar 30%-40% menderita depresi.
(3)
Ganggu-
an depresi dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya. Ia
dapat pula mecetuskan, memperlambat penyembuhan atau
memperberat penyakit fisik. Selain itu, depresi dapat pula
meningkatkan beban ekonomi.
Depresi perlu diidentifikasi secara dini makin dini penata-
laksanaan makin baik prognosisnya. Ada beberapa jenis
penatalaksanaan depresi psikofarmaka, psikoterapi, kombinasi
keduanya, Terapi Kejang Listrik (TKL), terapi cahaya, atau
gabungan terapi cahaya dan psikofarmaka. Mengingat ada
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005
8
beberapa faktor penyebab depresi, penatalaksanaan yang
komprehensif sangat diperlukan.
GEJALA DEPRESI
Gambaran emosi
-
Mud depresi, sedih atau murung
- Iritabilitas,
anksietas
-
Ikatan emosi berkurang
-
Menarik diri dari hubungan interpersonal
-
Preokupasi dengan kematian
-
Ide-ide bunuh diri atau bunuh diri
Gambaran kognitif
- Mengeritik diri sendiri, perasaan tak berharga, rasa ber-
salah
-
Pesimis, tak ada harapan, putus asa
- Bingung,
konsentrasi
buruk
-
Tak pasti dan ragu-ragau
- Berbagai
obsesi
-
Keluhan somatik
- Gangguan
memori
- Ide-ide
mirip
waham
Gambaran Vegetatif
-
Lesu dan tak ada tenaga
-
Tak bisa tidur atau banyak tidur
-
Tak mau makan atau banyak makan
-
Penurunan berat badan atau penambahan berat badan
- Libido
terganggu
- Variasi
diurnal
Psikomotor
- Retardasi
psikomotor
- Agitasi
psikomotor
TANDA-TANDA DEPRESI
-
Tidak atau lambat bergerak
-
Wajah sedih dan selalu berlinang air mata
-
Kulit dan mulut kering
- Konstipasi
KlASIFIKASI DEPRESI MENURUT DSM-IV
1. Gangguan depresi mayor unipolar dan bipolar.
2. Gangguan mood spesifik lainnya
- Gangguan distimik depresi minor.
- Gangguan siklotimik depresi dan hipomanik saat ini atau
baru saja berlalu (secara terus menerus selama 2 tahun).
- Ganguan depresi atipik
- Depresi postpartum
- Depresi menurut musim
3. Gangguan depresi akibat kondisi medik umum dan
gangguan depresi akibat zat
4. Gangguan penyesuaian dengan mood depresi; depresi
disebabkan oleh stresor psikososial.
DEPRESI PASCASTROKE (DPS)
Gangguan depresi merupakan gangguan emosi yang paling
sering dikaitkan dengan stroke. Sekitar 15%-25% pasien stroke
dalam komunitas menderita depresi. sedangkan yang sedang
dirawat di rumah sakit, sekitar 30%-40% menderita depresi
baik mayor ataupun minor
(6)
.
Fenomenologi simptom depresi fungsional hampir sama
dengan simptom DPS. Sekitar 50% pasien yang memenuhi
kriteria diagnostik untuk DPS melaporkan adanya kesedihan,
kecemasan, ketegangan, kehilangan minat, terbangun dini hari,
hilangnya nafsu makan dan penurunan berat badan, sulit
konsentrasi dan berpikir,serta pikiran-pikiran tentang kematian.
Meskipun penyebab pasti DPS belum diketahui, sejumlah
peneliti menyatakan bahwa lokasi lesi di otak memegang
peranan penting. Penelitian terhadap penderita stroke dengan
lesi hemisfer kiri, mendapatkan hubungan terbalik antara
beratnya depresi dengan jarak antara batas anterior lesi dengan
kutub frontal
(8)
.
PREVALENSI
Sekitar 26% pasien pascastroke menderita depresi mayor
dan 20% depresi tipe distimik. Sekitar 40%-50% pasien dapat
menderita depresi dalam beberapa bulan pertama setelah
stroke
(9)
.
Studi prospektif (dua tahun) yang dilakukan terhadap
pasien stroke mendapatkan 26% pasien mengalami depresi
mayor dan 20% depresi minor ketika dievaluasi di rumah sakit.
Pasien yang mengalami depresi mayor ketika di dalam rumah
sakit, setelah satu atau dua tahun sembuh sempurna; sedangkan
prognosis pasien dengan depresi minor kurang baik, hanya
30% yang sembuh setelah dua tahun pasca stroke. Sekitar 30%
yang tidak mengalami depresi selama perawatan di rumah sakit
menjadi depresi setelah dua tahun pasca stroke. Durasi depresi
mayor secara alamiah berlangsung sekitar satu tahun sedang-
kan durasi depresi minor lebih lama; pada beberapa kasus
berlangsung lebih dari dua tahun sehingga memenuhi kriteria
gangguan distimik
(10)
.
Dua faktor yang telah diidentifikasi dapat mempengaruhi
perjalanan alamiah DPS yaitu:
1. Terapi dengan antidepresan
2. Lokasi
lesi
Berdasarkan lokasi, frekuensi kesembuhan depresi pada
pasien dengan lesi subkorteks dan serebelum lebih tinggi bila
dibandingkan dengan pasien yang lesinya di korteks.
Impairment dalam aktivitas kehidupan sehari-hari juga berbeda
bermakna. Depresi bukanlah penyakit yang sifatnya sementara
tetapi berlangsung lama. Durasi untuk depresi mayor adalah
satu tahun sedangkan untuk depresi minor sekitar dua tahun.
LESI KORTEKS DAN SUBKORTEKS
Dari penelitian terhadap pasien pascastroke didapatkan
bahwa sekitar 44% pasien dengan lesi di korteks kiri
mengalami depresi sedangkan pada pasien dengan lesi di
subkorteks kiri 39%. Depresi pada lesi di korteks kanan 11%
dan di subkorteks kanan 14%. Tidak terdapat perbedaan kejadi-
an depresi yang bermakna antara lesi di korteks dengan
subkorteks.Tetapi prevalensi depresi lebih tinggi secara
bermakna pada lesi di hemisfer kiri dibandingkan dengan lesi
di hemisfer kanan
(11)
.
Bila dilihat lebih jauh, pasien dengan lesi korteks frontal
kiri anterior lebih sering mengalami depresi jika dibandingkan
dengan pasien dengan lesi korteks frontal kiri posterior.
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 9
Dengan perkataan lain, depresi akan lebih berat jika lesi lebih
dekat ke kutub frontal. Depresi lebih sering pada pasien dengan
lesi di hemisfer anterior kiri daripada lesi hemisfer anterior
kanan. Lesi di korteks frontal dorsolateral dan lesi ganglia basal
kiri menimbulkan depresi mayor yang lebih sering dan lebih
berat dibandingkan dengan lesi di tempat lain.
LESI SIRKULASI SEREBRI MEDIA DAN POSTERIOR
Suatu penelitian dilakukan terhadap 37 pasien dengan lesi
sirkulasi serebri posterior dibandingkan dengan 42 pasien
dengan lesi sirkulasi serebri media. Lesi sirkulasi serebri
posterior dibagi lagi menjadi hemisfer temporo-oksipital dan
lesi batang otak/serebelum. Depresi mayor/minor terjadi pada
48% pasien dengan lesi sirkulasi serebri media dan pada 35%
pasien dengan lesi batang otak/serebelum. Setelah enam bulan,
frekuensi depresi 82% pada pasien dengan lesi sirkulasi serebri
media dan 20% pada sirkulasi serebri posterior; setelah 1-2
tahun, frekuensi depresi adalah 68% dan 0%. Perjalanan
depresi di regio batang otak/serebelum lebih pendek. Penemuan
ini menunjukkan bahwa mekanisme depresi akibat lesi di arteri
serebri media berbeda dengan lesi di batang otak/serebelum.
Hal ini karena lesi di batang otak biasanya kecil dan tidak
begitu merusak jaras biogenik amin yang berperan penting
dalam memodulasi emosi.
LESI HEMISFER KANAN
Suatu penelitian terhadap 54 pasien stroke (diagnosis
dengan CT-scan) melaporkan bahwa 66% pasien dengan
depresi mayor dan 63% dengan depresi minor mempunyai lesi
di massa putih (white matter) lobus parietal. Riwayat psikiatrik
dalam keluarga pasien dengan lesi hemisfer kanan yang
menderita depresi, lebih tinggi secara bermakna bila dibanding-
kan dengan pasien dengan lesi di hemisfer kanan yang tidak
depresi
(12)
.
FAKTOR RISIKO PREMORBID DAN DEPRESI
Meskipun lesi anterior kiri dan posterior kanan ber-
hubungan dengan depresi pascastroke, tidak semua pasien
dengan lesi ini menjadi depresi. Pasien depresi lebih sering
mempunyai riwayat keluarga atau pribadi menderita depresi
dibandingkan dengan pasien nondepresi; lokasi bukanlah faktor
tunggal dalam terjadinya depresi pascastroke. Adanya atrofi
subkorteks, riwayat keluarga dan pribadi menderita depresi
sebelum stroke merupakan faktor yang berperan dalam
terjadinya depresi pascastroke
(13)
.
Pasien dengan lesi hemisfer kanan yang berkembang
menjadi depresi mayor setelah stroke mempunyai riwayat
keluarga menderita gangguan psikiatrik lebih tinggi dibanding-
kan dengan yang tidak depresi. Ini menunjukkan bahwa faktor
genetik juga ikut berperan dalam terjadinya depresi
pascastroke
(12)
.
HUBUNGAN DENGAN HENDAYA (IMPAIRMENT)
FISIK
Penelitian yang menggunakan instrumen ADL untuk
menilai hendaya fungsi sehari-hari penderita pascastroke
melaporkan adanya hubungan antara depresi dengan hendaya
fisik atau hendaya fungsi sehari-hari. Hendaya fungsi dapat
menimbulkan depresi dan depresi dapat mempengaruhi berat-
nya hendaya fungsi sehari-hari. Pasien stroke yang tidak
depresi tidak menunjukkan perubahan fungsi sehari-hari
bahkan dengan berjalannya waktu fungsi kehidupan sedikit
lebih meningkat. Depresi berpengaruh terhadap penyembuhan
yaitu memperlambat penyembuhan fisik
(1)
.
DEPRESI DAN HENDAYA KOGNITIF
Pasien stroke dengan depresi mengalami defisit intelektual
dengan mengobati depresi, defisit intelektualnya membaik.
Hendaya kognitif (penurunan skor Mini Mental State
Examination - MMSE), lebih berat pada pasien dengan lesi
hemisfer kiri yang mengalami depresi mayor daripada pasien
dengan lesi yang sama tetapi tidak mengalami depresi
sedangkan pada pasien dengan lesi hemisfer kanan tidak
terlihat adanya perbedaan penurunan fungsi kognitif antara
kelompok yang depresi dengan nondepresi. Dengan perkataan
lain, depresi mayor yang dikaitkan dengan stroke hemisfer kiri
terlihat menimbulkan hendaya kognitif yang bermakna.
DEPRESI DAN AFASIA
Sekitar 53% pasien afasia mengalami depresi. Penemuan
ini hampir sama dengan frekuensi depresi mayor atau minor di
antara pasien stroke nonafasia. Frekuensi depresi lebih tinggi
pada pasien afasia motorik daripada afasia global (71%:44%)
Peneliti lain juga melaporkan bahwa depresi pada pasien afasia
motorik lebih tinggi daripada global (63%:16%)
(14)
. Tingginya
frekuensi depresi pada pasien afasia motorik disebabkan oleh
tingginya kesadaran mereka akan hendaya mereka. Selain itu,
lesi yang menimbulkan afasia motorik juga menimbulkan
depresi. Menegakkan diagnosis depresi pada pasien dengan
defisit pemahaman yang berat agak sulit. Diagnosis dapat
dibuat berdasarkan perilaku yang dapat diobservasi seperti
kurang tidur, menolak makan, gelisah, agitasi, atau retardasi,
dan adanya pemeriksaan DST positif.
(15)
MEKANISME TERJADINYA DPS
Penyebab pasti belum diketahui. Ada dugaan DPS
disebabkan oleh disfungsi biogenik amin. Badan sel serotoni-
nergik dan noradrenergik terletak di batang otak dan ia
mengirim proyeksinya melalui bundel forebrain media ke
korteks frontal. Lesi yang mengganggu korteks prefrontal atau
ganglia basalis dapat merusak serabut-serabut ini. Ada dugaan
DPS disebabkan oleh deplesi serotonin dan norepinefrin akibat
lesi frontal dan ganglia basalis
(16)
.
Respons biokimia terhadap
lesi iskemik bersifat lateralisasi. Lesi hemisfer kiri menyebab-
kan penurunan biogenik amin tanpa adanya kompensasi pe-
ninggian regulasi serotonin akibatnya, gejala depresi dapat
muncul. Sebaliknya lesi hemisfer kanan menyebabkan pe-
ninggian regulasi serotonin (karena mekanisme kompensasi)
yang bersifat protektif terhadap depresi.
TEORI PSIKOBIOLOGIK
Teori psikoanalitik
Menurut Freud pasien depresi menderita kehilangan
nyata atau imajiner atas obyek cinta yang bersifat ambivalen.
Pasien bereaksi dengan kemarahan yang kemudian diarahkan
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005
10
kepada diri sendiri, dan ini menyebabkan penurunan harga diri
dan terjadi depresi.
Teori kognitif menyebutkan suatu "tritunggal kognitif" tentang
distorsi persepsi yaitu :
a. Interpretasi negatif seseorang tentang pengalaman
hidupnya.
b. Menyebabkan devaluasi dirinya,
c. Yang akhirnya menyebabkan depresi.
Teori biologik memfokuskan pada abnormalitas norepinefrin
(NE) dan serotonin (5-HT) serta dopamin (D). Hipotesis
katekolamin menyatakan bahwa depresi disebabkan oleh
rendahnya kadar NE otak dan dopamin. Walaupun demikian,
pada beberapa pasien kadar MHPG (metabolit utama NE) tetap
rendah. Hipotesis indolamin menyatakan bahwa rendahnya 5-
HT otak (atau metabolit utama, 5-HIAA) dapat menyebabkan
depresi. Mekanisme kerja antidepresan yang diketahui, men-
dukung teori ini trisiklik memblok ambilan NE dan 5-HT dan
menghambat oksidasi NE oleh monoamin oksidase inhibitor.
Depresi juga dihubungkan dengan ketidakseimbangan neuro-
hormonal. Teori neurofisiologik penelitian terbaru menyatakan
bahwa mungkin terdapat hipometabolisme di lobus frontal atau
menyeluruh pada depresi atau beberapa abnormalitas funda-
mental ritmik sirkadian pada pasien depresi.
PEMERIKSAAN BIOLOGIK DEPRESI
Ada beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk
membantu menegakkan diagnosis dan prognosis depresi.
- Dexamethasone suppression test (DST) hasil tes positif bila
tidak terjadi penekanan plasma kortisol 6-24 jam setelah
pemberian deksametason oral.
- Peningkatan kortisol serum (30% pasien depresi
mengalami hipertrofi adrenal)
- Penurunan
kadar MHPG (3-methoxy-4 - hydroxyphenylene
glycol) urin, suatu hasil katabolit metanorepinefrin dan
5-HIAA cairan serebrospinal (CSS) yaitu suatu metabolit
serotonin pada penderita depresi.
-
Uji stimulasi TSH (TSH turun dan tidak ada respons TSH
dan GH terhadap TRH eksogen, menunjukkan depresi
unipolar).
- Rekaman tidur - terdapat gangguan pola tidur : Latensi
REM memendek waktu antara masuk tidur dengan mulai
tidur REM (indikator paling baik) sering terbangun,
terbangun dini hari, penurunan tidur NREM peningkatan
densitas REM (frekuensi gerakan bola mata cepat pada
tidur REM). Semua ini mungkin ciri-ciri orang yang rentan
untuk depresi.
- Uji tantangan stimulansia beberapa pasien depresi mem-
baik sementara bila diberi 10 mg amfetamin.
Penggunaan klinik rutin uji-uji ini sangat sedikit; yang
paling baik dilihat adalah :
a. Pola tidur abnormal
b. Kadar TSH dan respons TRH abnormal
c. Bila setelah pengobatan DST positif, merupakan indikator
hasil terapi yang buruk.
Semua uji-uji ini sensitivitas dan spesifikasinya tidak
cukup baik (terlalu banyak positif palsu dan negatif palsu).
Bagaimanapun, keadaan ini dapat menunjukkan bahwa faktor
biologi memegang peranan pada beberapa pasien depresi selain
lingkungan yang juga berperan penting, karena 25% pasien
dengan kondisi medik serius dan yang menderita stres psiko-
sosial berat akan menderita depresi mayor
(1)
.
Penelitian dengan PET dan fMRI untuk mengetahui lokasi
gangguan ini di SSP memberi harapan. Depresi mayor diduga
berkaitan dengan penurunan aktivitas korteks prefrontal
lateralis terutama sisi kiri, kaudatus, putamen, dan mungkin
juga amigdala
(1,8)
.
PENATALAKSANAAN DEPRESI
Perlu pemeriksaan medik dan psikiatrik untuk menyisih-
kan depresi sekunder. Tanyakan tentang gambaran-gambaran
vegetatif dan evaluasi potensi untuk bunuh diri.
Apakah pasien :
a. Mengalami ketidakmampuan akibat gangguan ini.
b. Mempunyai lingkungan rumah yang destruktif atau
dukungan lingkungan yang terbatas.
c. Mempunyai ide-ide bunuh diri.
d. Mempunyai penyakit medik terkait yang memerlukan
pengobatan atau perawatan.
Semua pasien depresi mesti mendapatkan psikoterapi,
beberapa memerlukan tambahan terapi fisik. Jenis terapi ber-
gantung dari diagnosis, berat penyakit, umur pasien, respons
terhadap terapi sebelumnya.
PSIKOTERAPI
Psikoterapi yaitu terapi yang digunakan untuk menghilang-
kan keluhan-keluhan dan mencegah kambuhnya gangguan
psikologik atau pola perilaku maladaptif. Terapi ini dilakukan
dengan jalan pembentukan hubungan profesional antara terapis
dengan pasien.
Psikoterapi untuk DPS dapat diberikan secara individu,
kelompok, atau pasangan sesuai dengan gangguan psikologik
yang mendasarinya. Beberapa pasien dan klinisi sangat
meyakini manfaat intervensi psikoterapi tetapi ada pula yang
sebaliknya yaitu tidak percaya. Berdasarkan hal ini, keputusan
untuk melakukan psikoterapi sangat dipengaruhi oleh penilaian
dokter atau pasiennya.
Terapi kognitif (TK)
Ada dugaan bahwa penderita depresi adalah orang yang
"belajar menjadi tak berdaya". Depresi diterapi dengan mem-
berikan pasien latihan ketrampilan dan memberikan pe-
ngalaman-pengalaman tentang kesuksesan. Terapi ini bertujuan
untuk menghilangkan simptom depresi melalui usaha yang
sistematis yaitu mengubah cara pikir maladaptif dan otomatik
pada pasien-pasien depresi. Dasar pendekatannya adalah suatu
asumsi bahwa kepercayaan-kepercayaan yang mengalami
distorsi tentang diri sendiri, dunia, dan masa depan dapat
menyebabkan depresi. Pasien harus menyadari cara berpikirnya
yang salah. Kemudian ia harus belajar cara merespons cara
pikir yang salah tersebut dengan cara yang lebih adaptif. Dari
perspektif kognitif, pasien dilatih untuk mengenal dan
menghilangkan pikiran-pikiran negatif dan harapan-harapan
negatif. Cara ini dipraktekkan di luar sesi terapi dan menjadi
modal utama dalam mengubah gejala.
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 11
Terapi ini berlangsung lebih kurang 12-16 sesi dengan tiga
fase yaitu:
1. Fase awal (sesi 1-4) membentuk hubungan terapeutik
dengan pasien. Mengajarkan pasien tentang bentuk
kognitif yang salah dan pengaruhnya terhadap emosi dan
fisik. Menentukan tujuan dan goal terapi. Mengajarkan
pasien untuk mengevaluasi pikiran-pikirannya yang
otomatis.
2. Fase pertengahan (sesi 5-12) mengubah secara berangsur-
angsur kepercayaan yang salah. Membantu pasien
mengenal akar kepercayaan diri. Pasien diminta mem-
praktekkan ketrampilan berespons terhadap hal-hal yang
depresogenik dan memodifikasinya.
3. Fase akhir (sesi 13-16) menyiapkan pasien untuk terminasi
dan memprediksi situasi berisiko tinggi yang relevan untuk
kekambuhan dan mengkonsolidasikan pembelajaran me-
lalui tugas-tugas terapi sendiri.
Terapi perilaku
Intervensi perilaku terutama efektif untuk pasien yang
menarik diri dari lingkungan sosial dan anhedonia. Terapi ini
sering digunakan bersama-sama terapi kognitif. Tujuannya
adalah meningkatkan aktivitas pasien, mengikutkan pasien
dalam tugas-tugas yang dapat meningkatkan perasaan yang
menyenangkan.
Fase awal pasien diminta memantau aktivitasnya, menilai
derajat kesulitan aktivitasnya, kepuasannya terhadap aktivitas-
nya. Pasien diminta melakukan sejumlah aktivitas yang me-
nyenangkan. Latihan ketrampilan sosial, asertif, dapat me-
ningkatkan hubungan interpersonal dan dapat menurunkan
interaksi submisif.
Fase akhir fokus berpindah ke latihan mengontrol diri dan
pemecahan masalah. Diharapkan ilmu yang didapat dalam
terapi dapat digeneralisasi dan dipertahankan dalam lingkungan
pasien sendiri
.
Psikoterapi suportif
Psikoterapi ini hampir selalu diindikasikan. Memberikan
kehangatan, empati, pengertian dan optimisme. Bantu pasien
mengidentifikasi dan mengekspresikan emosinya dan bantu
untuk ventilasi. Mengidentifikasi faktor-faktor presipitasi dan
membantu mengoreksi. Bantu memecahkan problem eksternal
(misalnya masalah pekerjaan, rumah tangga). Latih pasien
untuk mengenal tanda-tanda dekompensasi yang akan datang.
Temui pasien sesering mungkin (mula-mula 1-3 kali per
minggu) dan secara teratur, tetapi jangan sampai tidak berakhir
atau selamanya. Kenalilah bahwa beberapa pasien depresi
dapat memprovokasi kemarahan terapis (melalui kemarahan,
hostilitas, tuntutan yang tak masuk akal, dan lain-lain).
Psikoterapi psikodinamik
Dasar terapi ini adalah teori psikodinamik yaitu kerentanan
psikologik terjadi akibat konflik perkembangan yang tak
selesai. Terapi ini dilakukan dalam periode jangka panjang.
Perhatian pada terapi ini adalah defisit psikologik yang
menyeluruh yang diduga mendasari gangguan depresi. Misal-
nya, problem yang berkaitan dengan rasa bersalah, rasa rendah
diri, berkaitan dengan pengalaman yang memalukan, peng-
aturan emosi yang buruk, defisit interpersonal akibat tak
adekuatnya hubungan dengan keluarga.
Psikoterapi dinamik singkat (brief dynamic psychotherapy)
Sesinya lebih pendek. Tujuannya menciptakan lingkungan
yang aman buat pasien. Pasien dapat mengenal materi
konfliknya dan dapat mengekspresikannya.
Terapi kelompok
Tidak ada bentuk terapi kelompok yang spesifik. Ada
beberapa keuntungan terapi kelompok.
1. Biaya lebih murah
2. Ada destigmatisasi dalam memandang orang lain dengan
problem yang sama
3. Memberikan kesempatan untuk memainkan peran dan
mempraktekkan ketrampilan perilaku interpersonal yang
baru
4. Membantu pasien mengaplikasikan ketrampilan baru
Terapi kelompok sangat efektif untuk terapi jangka pendek
pasien rawat jalan juga lebih efektif untuk depresi ringan.
Untuk depresi lebih berat terapi individu lebih efektif.
Terapi perkawinan
Problem perkawinan dan keluarga sering menyertai
depresi dan dapat mempengaruhi penyembuhan fisik. Oleh
karena itu, perbaikan hubungan perkawinan merupakan hal
penting dalam terapi ini.
Psikoterapi berorientasi tilikan (insight)
Jangka terapi cukup lama, dapat berguna pada pasien
depresi minor kronik tertentu dan beberapa pasien dengan
depresi mayor yang mengalami remisi tetapi mempunyai
konflik
(17)
.
Deprivasi tidur parsial
Bangun mulai di pertengahan malam dan tetap jaga sampai
malam berikutnya, dapat membantu mengurangi gejala-gejala
depresi mayor buat sementara
(1)
.
TERAPI BIOLOGIK
Antidepresan
Sebagian besar penderita depresi membutuhkan anti-
depresan (70%-80% pasien berespons terhadap antidepresan),
walaupun yang mempresipitasi terjadinya depresi jelas terlihat
atau dapat diidentifikasi. Mulailah dengan SSRI atau salah satu
antidepresan terbaru. Jika tak berhasil, pertimbangkan anti-
depresan trisiklik, atau MAOI (terutama pada depresi
"atipikal") atau kombinasi beberapa obat jika obat pertama tak
berhasil. Harus hati-hati dengan efek samping dan harus sadar
bahwa antidepresan "dapat" mempresipitasi episode manik
pada beberapa pasien bipolar (10% dengan TCA, dengan SSRI
lebih rendah, tetapi semua konsep tentang "presipitasi manik"
masih diperdebatkan).
Setelah sembuh dari episode depresi pertama, obat
dipertahankan untuk beberapa bulan, kemudian diturunkan.
Beberapa pasien membutuhkan obat pemeliharaan jangka
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005
12
panjang
(1,18)
. Anti depresan saja (tunggal) tidak dapat mengobati
depresi.
Lithium
Bermanfaat untuk depresi bipolar akut dan beberapa
depresi unipolar. Ia cukup efektif pada bipolar serta untuk
mempertahankan remisi dan begitu pula pada beberapa pasien
unipolar.
Antikonvulsan
Juga sama baiknya dengan lithium untuk mengobati
kondisi akut, meskipun kurang efektif untuk pemeliharaan
(1,11)
.
Antidepresan dan lithium dapat dimulai bersama-sama dan
lithium diteruskan setelah remisi.
Pasien psikotik, paranoid atau sangat agitasi membutuhkan
antipsikotik, tunggal atau bersama-sama dengan antidepresan,
lithium antipsikotik atipik juga terlihat efektif.
Terapi Kejang Listrik (TKL)
Mungkin merupakan terapi pilihan bila :
a. Obat tak berhasil
b. Kondisi pasien menuntut remisi segera (misalnya; bunuh
diri yang akut).
c. Pada beberapa depresi psikotik.
d. Pada pasien yang tak dapat mentoleransi obat (misalnya
pasien tua yang berpenyakit jantung). Lebih dari 90%
pasien memberikan respons.
Latihan fisik
Lari dan renang dapat memperbaiki depresi, dengan
mekanisme biologis yang belum dimengerti dengan baik
(1)
.
KESIMPULAN
Depresi merupakan suatu sindrom yang ditandai dengan
sejumlah gejala klinik yang manifestasinya bisa berbeda pada
masing-masing individu. Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorders (DSM-IV) merupakan salah satu instrumen
yang digunakan untuk menegakkan diagnosis depresi.
Gejala depresi terdiri dari penurunan mood, gangguan
kognitif, vegetatif, retardasi psikomotor. Ada beberapa bentuk
depresi yaitu gangguan depresi mayor (unipolar, bipolar),
gangguan mood spesifik lainnya,gangguan depresi akibat
kondisi medik umum atau akibat zat, dan gangguan penyesuai-
an dengan mood depresi. Sampai saat ini, penyebab pasti
gangguan depresi belum diketahui. Ada beberapa faktor yang
berkrontribusi yaitu faktor stresor psikososial, genetik, ke-
pribadian, dan biologik.
Pada stroke, gangguan depresi merupakan gangguan emosi
yang paling sering ditemukan. Sekitar 15%-25% pasien stroke
dalam komunitas menderita depresi. sedangkan pasien stroke
yang sedang dirawat di rumah sakit, sekitar 30%-40% men-
derita depresi.
Ada beberapa jenis penatalaksanaan depresi medikasi,
psikoterapi, kombinasi keduanya, Terapi Kejang Listrik (TKL),
terapi cahaya, atau gabungan terapi cahaya dan medikasi.
Mengingat ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan
timbulnya depresi, penatalaksanaan yang komprehensif sangat
diperlukan.
KEPUSTAKAAN
1.
Akiskin HS. Mood disorder; introduction and overview. Dalam: Sadock
BJ, Sadock VA (eds.) Kaplan & Sadock's Comprehensive Textbook of
Psychiatry, 7th ed, Philadelphia: Lippincott, Williams & Wilkins, 1999,
1284-98
2.
Blazer DG, Kessler RC, McGonagle KA. The prevalence and distribution
of major depression in a national community sample: the National
Comorbidity Survey. Am J Psychiatr. 1994;151:979-86.
3. Fricchione G, el-Chemali Z, Weilburg JB, Murray GB. Neurology and
Microsurgery. Dalam: Wise MG, Rundell JR, (eds). Textbook of
Consultation-Liaison Psychiatry, Psychiatry in the Medically Ill.
American Psychiatric Publ., Inc, Washington DC, London, England, 2
nd
ed., 2002; hal. 679-700.
4. Nierenberg AA, Alpert JE, Pava J. Course and treatment of atypical
depression. J Clin Psychiatr. 1998;59(suppl 18);5-9.
5.
Lewy AJ, Bauer VK, Cutler NL. Morning vs evening light treatment of
patients with winter depression. Arch Gen Psychiatr. 1998;55:890-96.
6.
Robinson RG, Starkstein SE. Neuropsychiatric Aspect of Cerebrovascular
Disease. Dalam: Kaplan & Sadock's Comprehensive Textbook of
Psychiatry, 7th ed, Sadock BJ, Sadock VA, (eds.), Philadelphia,
Lippincott, Williams & Wilkins, 1999, 242-50
7. Lipsey JR, Spencer WC, Rabin PV. Phenomenological comparison of
postsroke depression and functional depression. Am J Psychiatr. 1986;
143:527-29.
8. Kennedy SH, Javanmard M, Vaccarino FJ. A review of functional
neuroimaging in mood disorders: positron emission tomography and
depression. Can J Psychiatr. 1997;42:467-75.
9. Robinson RG, Starr LB, Kubos KL. A two-year longitudinal study
poststroke mood disorder: findings during the initial evaluation. Stroke
1983;14:736-41.
10. Robinson RG, Bolduc PL, Price TR. Two-year longitudinal study of
poststroke mood disorder: diagnosis at one and two years. Stroke
1987;18:837-43.
11. Robinson RG, Price TR. Comparison of cortical and subcortical lesions in
the production of poststroke mood disorder. Brain, 1987; 110;1045-59.
12. Soares JC, Mann JJ. The anatomy of mood disorders--review of
structural neuroimaging studies. Biol Psychiatr. 1997;41:86-106.
13. Starkstein SE, Robinson RG, Price TR. Comparison of patients with and
without post-stroke major depression matched for size and location of
lesion. Arch Gen Psychiatr 1988,45: 247-55.
14. Signer S, Cummings JL, Benson DF. Delusion and mood disorders in
patients with chronic aphasia. J Neuropsychiatr Clin. Neurosciences,
1989;1:40-5.
15. Ross ED, Gordon WA, Hibbart M. The dexamethasone suppression test,
post-stroke depression, and the validity of DSM-II-based diagnostic
criteria. Am J Psychiatr. 1986;38;1344-30
16. Robinson RG, Strarr LB, Kubos KL. Mood disorders in stroke patients:
importance of lesion location. Brain 1989;107: 81-93.
17. Jorgensen MB, Dam H, Bolwig TG. The efficacy of psychotherapy in
non-bipolar depression: a review. Acta Psychiatr Scand 1998;98:1-13.
18. DeRubies RJ, Gelfand LA, Tang TZ. Medications versus cognitive
behavior therapy of severely depressed outpatients: meta-analysis of four
randomized comparisons. Am J Psychiatr. 1999;156:1007-13.
A friend's eye is a good looking-glass
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 13
Document Outline