Virus Hepatitis C pada
Hepatitis Menahun dan Sirosis Hati
di Surabaya
Widawati Soemarto
Seksi Hepatogastroenterologi, Lab/UPF Pnyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga/RSUD Dr Soetomo, Surabaya
PENDAHULUAN
Sejak dikembangkannya sistim diagnostik untuk mende-
teksi antibodi terhadap virus C oleh kelompok Chiron pada
tahun 1988, maka terbuka kesempatan untuk mempelajari lebih
dalam peran virus ini dalam patogenesis berbagai penyakit hati.
Tes yang dipakai ialah tes yang mendeteksi antibodi terhadap
protein C-100 dari VHC. Antibodi yang positif (Anti-HCV)
berarti bahwa donor/penderita terinfeksi oleh VHC dan dapat
menularkannya.
Sejak itu bermunculanlah laporan-laporan prevalensi anti-
bodi ini pada beberapa penyakit hati. Laporan dari Taiwan
misalnya mendapatkan prevalensi anti-HCV pada penyakit hati
menahun Non B sebesar 65%, sedangkan pada sirosis hati Non
B sebesar 43%. Di sini prevalensi penyakit hati karena HCV
lebih tinggi daripada yang disebabkan oleh HBV.
Penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan data pre-
valensi HCV pada penyakit hepatitis menahun dan sirosis hati,
sebagai tambahan data dari Surabaya yang sudah pernah di-
laporkan, di samping laporan dari beberapa kota besar di
Indonesia.
BAHAN DAN CARA
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium/UPF Penyakit
Dalam RSUD Dr Soetomo pada penderita penyakit hati me-
nahun dan sirosis hati yang berobat jalan maupun yang dirawat
inap selama kurun waktu 3 bulan mulai bulan Oktober sampai
dengan bulan Desember 1990.
Diagnosis penyakit hati menahun ditegakkan bila terdapat
gangguan faal hati lebih dari 6 bulan. Sebagian besar dari
mereka telah mengidap penyakit hati beberapa tahun lamanya.
Tidak dilakukan pemeriksaan histopatologi pada penderita-
penderita ini. Diagnosis sirosis hati ditegakkan berdasarkan
temuan pemeriksaan fisik, laboratorium, dan pemeriksaan
radiologi seperti foto esofagus dan pemeriksaan USG.
Pemeriksaan faal hati dan petanda virus dilakukan di UPF
Patologi Klinik, sedangkan foto esofagus dan USG diperiksa di
Laboratorium Radiologi RSUD Dr Soetomo. Pemeriksaan anti-
HCV dengan menggunakan reagens C-100 dari Abbott HCV
EIA Kit dilakukan di laboratorium klinik Prodia Surabaya.
HASIL
Selama kurun waktu 3 bulan telah terkumpul serum dari 55
penderita hepatitis menahun, 60 penderita sirosis hati dan 39
penderita bukan penyakit hati (non liver disease = NLD).
Distribusi umur dan kelamin dari ketiga kelompok penderita itu
dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Distribusi umur dan kelamin
Hepatitis
menahun
n=55
Sirosis
hati
n=60
NLD
n=39
Kelamin : pria
wanita
Rentang umur (tahun)
Rerata umur (tahun)
35
20
22 70
45.5
40
20
19 75
55.6
26
13
16 62
34.6
Pada penderita dilakukan pemeriksaan petanda virus B dan
anti-HCV. Hasil dari pemeriksaan anti-HCV dapat dilihat pada
tabel 2.
Pada tabel 2 di atas terlihat bahwa prevalensi Anti-HCV
bcrsamaan dengan HBsAg frekuensinya rendah (8.3%). Rupa-
nya infeksi ganda pada penyakit hati menahun dan pada sirosis
hati pada seri ini tak banyak didapatkan. Pada kelompok NLD
tidak ditemukan Anti-HCV.
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993 11
Tabel 2. Prevalensi Anti-HCV dikaitkan dengan HBsAg
HBsAg +
HBsAg
Jumlah
HCV+ HCV+ HCV+
N
n %
N
n %
N
n %
hepatitis mcnahun
Sirosis hati
NLD
8
4
0
1
0
0
25
47
56
27
37
0
57.4
66
55
60
39
27
38
0
49.1
63.3
0
Jumlah 12
8.3
103
64
62
PEMBAHASAN
Pada penelitian ini untuk mendapatkan prevalensi Anti-
HCV pada penyakit hati menahun dan sirosis had, telah dipakai
tes skrining yang mendeteksi antibodi terhadap protein C-100.
Hal ini perlu diberitahukan, oleh karena pengembangan tes
antibodi dengan menggunakan protein yang lain masih tetap
bcrlanjut, seperti misalnya dengan CP-9 dan CP-10 di Jepang,
walaupun maknanya belum jelas. Pada umumnya dalam laporan-
laporan prevalensi yang ada dipergunakan protein C-100.
Prevalensi Anti-HCV pada kasus-kasus sirosis hati seperti
yang pernah dilaporkan oleh beberapa penulis di Indonesia
umumnya berkisar antara 40% 80%, yang menunjukkan
bahwa peran HCV sebagai kemungkinan faktor penyebab
sirosis hati perlu diperhatikan dengan lebih seksama. Penulis
sendiri pada seri ini mendapatkan prevalensi sebesar 63.3%.
Di bawah ini dicantumkan data prevalensi Anti-HCV pada
sirosis had seperti yang dilaporkan oleh beberapa penulis di
Indonesia (tabel 3) :
Tabel 3. Prevalensi Anti-HCV pada Sirosis Hati
n
% Anti-HCV +
Sulaiman A.
Sulaiman A.
Budihusodo U.
Amirudin
Hemomo K.
Hassan A.
Penelitian ini
Jakarta
Jakarta
Jakarta
U. Pandang
Surabaya
Surabaya
1990
1990
1990
1990
1990
1990
1990
37
176
80
58
54
15
60
89.2
73.9
45
43.1
48.1
73.3
63.3
Dikutip dari Sulaiman A.
(1)
Seperti juga pada sirosis hati, peran HCV pada penyakit hati
menahun perlu diwaspadai, oleh karena frekuensi Anti-HCV
pada penyakit hati menahun tidak dapat dikatakan rendah.
Berikut disampaikan tabel frekuensi Anti-HCV pada penya-
kit hati menahun seperti yang pernah dilaporkan oleh beberapa
penulis di Indonesia (tabel 4) :
Tabel 4. Prevalensi Anti-HCV pada Sirosis Hati
n
% Anti-HCV +
Sulaiman A.
Amirudin
Hassan A.
Penelitian ini
Jakarta
U. Pandang
Surabaya
1990
1990
1990
1990
?
?
22
55
80.4
16.3
77.2
49.1
Perbedaan hasil yang menyolok dari penelitian di Ujung
Pandang memerlukan penelitian lanjutan dengan sampel yang
lebih besar, sebelum dapat ditarik kesimpulan bahwa memang
ada perbedaan prevalensi yang nyata.
Apabila dibandingkan dengan data dari luar negeri, maka
untuk sirosis hati didapatkan data seperti yang tercantum dalam
tabel 5 berikut ini.
Tabel 5. Prevalensi Anti-HCV pada sirosis hats dikaitkan dengan HBsAg
HBsAg +
HBsAg
Jumlah
Anti-HCV Anti-HCV
Anti-HCV
n
+ %
n
%
n
+ %
Ref.
Yoshiko M
Shiro lino
Naomi Tanaka
Gotaro Yamada
Ding Shin Chen
Penulis
30
13
31
4
8
0
3
1
26.6
0
9.7
25
33
176
30
30
56
24
128
25
13
37
73
73
85
43.3
66.1
50
63
189
61
60
28
32
128
16
38
56
50
67.7
26.2
63.3
2
3
4
5
6
Prevalensi Anti-HCV pada penyakit hati menahun yang
di
l
aporkan oleh beberapa peneliti di luar negeri adalah seperti
yang dapat dilihat pada tabel 6 di bawah ini.
Tabel 6. Prevalensi Anti-HCV pada penyakit hati menahun dikaitkan
dengan HbsAg
HBsAg +
HBsAg
Jumlah
Anti-HCV Anti-HCV
Anti-HCV
n
+ %
n
+ %
n
+ %
Ref.
Yoshiko M
Shiro lino
Naomi Tanaka
Ding Shin Chen
Gotaro Yamada
Penulis
55
70
78
8
4
0
6
0
7.2
0
7.6
0
58
46
211
43
50
47
45
36
144
28
36
27
78
78.3
69
65
72
57.4
101
281
121
55
40
144
34
27
39.6
51.2
28
49.1
2
3
4
6
5
Dari data di atas dapat dilihat, bahwa prevalensi Anti-HCV
pada penyakit hati menahun dan sirosis had, baik di Indonesia
maupun di negara-negara Asia ternyata cukup tinggi. Hal ini
menunjukkan, bahwa peran HCV sebagai penyebab hepatitis
tidak dapat diabaikan, di samping HBV. Angka prevalensi yang
agak berbeda di tiap negara mungkin disebabkan oleh karena
sampel pemeriksaan tidak cukup besar untuk menarik kesim-
pulan dengan makna epidemiologik yang mantap. Oleh karena
itu laporan penelitian prevalensi Anti-HCV masih tetap diper-
lukan dengan populasi sampel yang makin lama makin meluas.
Sayang hal ini sangat terhalang oleh masih mahalnya biaya
pemeriksaan, sehingga tidak terjangkau oleh seluruh lapisan
masyarakat.
Pada penelitian ini didapatkan pula data adanya petunjuk
virus ganda, walaupun dengan prosentase yang rendah. Pada
laporan penelitian yang lainpun didapatkan kenyataan, bahwa
Anti-HCV dapat ditemukan bersama dengan HBsAg yang posi-
tif. Arti dari keadaan bersama-sama ini belum jelas, oleh karena
arti dari Anti-HCVpun sebetulnya belum jelas. Ada yang
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993
12
mengkaitkannya dengan kemampuan menularkan infeksi, jadi
dengan adanya HCV aktif, tetapi sebagian sarjana membantah-
nya. Namun semua peneliti melaporkan hal yang kurang lebih
sama, yaitu pada kasus-kasus dengan HBsAg yang negatif,
prevalensi Anti-HCV cukup tinggi. Selanjutnya menurut pene-
litian beberapa sarjana didapatkan bahwa tidal( semua kasus
dengan RNA HCV positif disertai dengan Anti-HCV yang
positif pula. Jadi data di atas hendaknya juga dibaca dengan
pengertian bahwa pada kasus yang Anti-HCV negatif tidal(
tertutup kemungkinan HCV berperan di dalamnya. Penelitian
dengan reagensia generasi berikut yang lebih peka mungkin
dapat mempersempit lahan yang negatif ini. Kemungkinan lain
yang dapat dipertimbangkan tentulah faktor penyebab yang lain
dari VHB dan VHC.
Dari uraian di atas jelas bahwa masih diperlukan penelitian
yang lebih dalam lagi untuk menyimak misteri di sekitar HCV
serta arti dari Anti C-100 yang sekarang diinterpretasikan se-
perti Anti-HCV. Di samping itu masih pula dikembangkan_
pereaksi-pereaksi yang lain untuk mendeteksi HCV untuk men-
dapatkan tes yang lebih spesifik, lebih sensitif dan mudah-
mudahan juga lebih murah.
RINGKASAN DAN KESIMPULAN
Selama kurun waktu 3 bulan antara bulan Oktober dan
Desember 1990 telah diperiksa sebanyak 154 sampel darah,
yang terdiri dari 60 sampel dari penderita sirosis hati, 55
sampel dari penderita penyakit hati menahun dan 39 sampel
dari bukan penderita penyakit hati terhadap Anti-HCV dengan
memakai tes C-100 dari Abbott HCV EIA.
Pada penderita bukan penyakit hati, semua sampel
darahnya negatif terhadap Anti-HCV. Pada penderita sirosis
hati, sebanyak 63.3% darahnya positif terhadap Anti-HCV, satu
di antaranya juga dengan HBsAg yang positif. Pada penyakit
hati menahun didapatkan bahwa sebanyak 49.1% menunjukkan
Anti-HCV yang positif, dan tidak seorangpun menunjukkan
infeksi ganda dengan HBsAg yang positif.
Data di atas menunjukkan besarnya peran HCV dalam
penyakit hati menahun dan sirosis hati, di samping HBV yang
sudah banyak diteliti dan dilaporkan.
Pada penelitian ini kasus dengan infeksi ganda dengan HCV
dan HBV tidak banyak didapatkan, seperti juga yang didapatkan
oleh penulis-penulis lain. Selain itu arti dari infeksi ganda ini
juga belum jelas.
Penclitian yang mencakup kalangan masyarakat yang lebitl
luas nampaknya masih diperlukan untuk mendapatkan data
epidemiologik yang lebih mantap, namun biaya yang masih
tinggi merupakan kendala yang masih ada saat ini.
KEPUSTAKAAN
1.
Sulaiman A, Budihusodo U, Noer HMS. Infeksi Hepatitis C virus pada
donor darah dan penyakit had di Indonesia, Simposium Hepatitis C,
Surabaya, Desember, 1990.
2.
Yoshiko M, Akahane Y, Okuyama H, Yamadaka T, Fujino M, Suzuki H.
Clinical significance of anti-HCV (Chiron) in the sera from patients with
Non-A Non-B Hepatitis, Abstracts Vllth Biennial Scientific Meeting of the
APASL, Jakarta, February, 1990. p. 78.
3.
Shiro lino, Kurai K, Hino K et al. Clinical significance of anti-Hepatitis C
Virus antibody in acute and chronic liver diseases, Abstracts Vllth Biennial
Scientific Meeting of the APASL, Jakarta, February, 1990. p. 128.
4.
Naomi Tanaka, Nishi M, Matsuzaki Y et al. Etiological significance of
Hepatitis C Virus (HCV) for Liver Diseases, Abstracts Vllth Biennial
Scientific Meeting of the APASL, Jakarta, February, 1990. p. 141.
5.
Gotaro Yamada, Takahashi M, Endo H et al. Clinical and epidemiological
study of Anti-HCV positive patients with Chronic Liver Diseases,
Abstracts VIIth Biennial Scientific Meeting of the APASL, Jakarta,
February, 1990. p. 117.
6.
Chen DS, Kuo G, Sung JL et al. Hepatitis Virus C infection in an area
hyperendemic for Hepatitis B and Chronic Liver Diseases. The Taiwan
Experience, J. Infect. Dis. 1990; 162: 81722.
7.
Abbott Diagnostics Educational Services : HCV Journal Articles,
February, 1990.
8.
Abbott Diagnostics : Hepatitis C Virus Reference Articles, January, 1991.
9.
Amintddin R, Akil MH, Marsel N. Antibodi Virus Hepatitis C pada
kalangan medic dan donor darah di Ujung Pandang. Simposium Hepatitis
C, Surabaya, Desember, 1990.
10.
Hasan F, Lennox J, Jeffers, et al. Hepatitis C-Associated Hepatocellular
Carcinoma, Hepatology 1990; 12: 589.
11.
Hassan A. Prevalensi Hepatitis C pada Penyakit Hati Menahun, Sim-
posium Hepatitis C, Surabaya, Desember, 1990.
12.
Kusumobroto H. Prevalensi Hepatitis C dan B pada penderita Sirosis Hati
dan Karsinoma Hati. Suatu studi pendahuluan. Abstrak. Komunikasi
Ilmiah Antar cabang, Konferensi Kerja Nasional PGI, PEGI, PPHI,
Surakarta, Desember, 1990.
13.
Soewignjo S. Hepatitis Virus C, Jumal RSU Mataram, Suplemen Hepato-
logi, Oktober, 1990, hal. 1-22.
CATATAN
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Pt Abbott Diagnostics
Division dan Laboratorium Klinik Prodia Surabaya yang telah membantu
reagensia Abbott HCV EIA dan membantu pemeriksaannya.
Listen a hundred times, ponder a thousand times, speak once
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993 13