Transfusi Darah pada
H D N
AIHA :
masalah yang perlu diperhatikan
dr. Putrasatia lrawan
Lembaga Pusat Transfusi Darah PMI
Sejak ditemukan adanya golongan darah ABO oleh Karl
Landsteiner pada tahun 1901 dan faktor Rhesus (Rh) oleh
Levine pada tahun 1939, semua transfusi darah diambil dari
donor yang telah diketahui golongan ABO dan faktor Rh
nya. Dengan demikian hasil crossmatching umumnya sesuai
(kompatibel), dapat ditransfusikan kepada pasien dengan
selamat dan sukses. Tetapi ada kekecualian pada kasus
yang
istimewa, misalnya terdapatnya antibodi Lewis a atau Lewis
b pada pasien yang golongannya Lewis
a
dan Lewis b negatif.
Bila pasien ini menerima darah donor Lewis
a
atau Lewis
b
positif, walaupun sudah kompatibel pada sistem ABO dan
faktor Rh nya, tetap terjadi aglutinasi (inkompatibilitas) pa-
da crossmatching in vitro. Ada dua contoh yang lain lagi.
Misalnya pasien bergolongan subgroup A yang mempunyai
anti-A
1
dalam serumnya. dapat bereaksi
dengan darah golong-
an A. Seorang pasien yang bergolongan O, Bombay blood,
inkompatibel dengan semua donor golongan O karena ada anti-
H yang kuat dalam serum pasien yang bisa bereaksi keras
dengan H yang terdapat pada semua sel, yang justru paling
banyak pada sel golongan O(Contoh tersebut di atas pernah
saya tulis pada Cermin Dunia Kedokteran tahun 1978 No. 11
dan 12)
Dalam kesempatan ini saya ajukan lagi dua macam penya-
kit anemia hemolitik yang juga sering mengalami kesulitan/
kekeliruan dalam transfusi; yang pertama adalah Penyakit
Hemolitik pada Bayi-Baru-Lahir (Hemolytic Disease of the
Newborn = HDN), yang kedua adalah Anemia Hemolitik
Auto-Imun (Auto-immune Hemolytic Anemia = AIHA).
eritrosit janin. IgG anti-A atau IgG anti-B memang sudah ada
secara alamiah pada setiap orang
yang
tidak memiliki antigen
A atau antigen B. IgG anti-A dan IgG anti-B paling banyak
terdapat pada golongan 0. Maka HDN biasanya terjadi pada se-
orang ibu bergolongan O yang melahirkan bayi bergolongan A
atau B, karena IgG anti-A/anti-B bereaksi dengan sel eritrosit
janin yang akhirnya menyebabkan hemolisis dan menimbulkan
anemia dan ikterus. Bila bayi mengalami anemia berat dan bi-
lirubin dalam serum meninggi sehingga diperlukan transfusi -
exchange, sudah pasti yang diminta adalah darah segar; tetapi
golongan darah apa yang kompatibel yang dapat menolong ba
-
yi ini dari ambang pintu kematian ? Sayang sekali kadang-
kadang masih terjadi golongan yang sama dengan bayi yang di-
pilih untuk transfusi exchange. Betul transfusi darah
prinsipnya harus memakai darah yang segolongan dan kom-
patibel. Namun karena gugup atau terburu-buru, mungkin
hanya diingat golongannya tapi lupa kompatibilitasnya. Bila
dilakukan crossmatching dengan lengkap menggunakan
test Coombs, pasti terlihat aglutinasi karena serum si bayi
yang mengandung IgG anti-A yang datang dari ibu bereaksi
dengan sel donor A. Dengan test Coombs reaksi ini jelas me-
nunjukkan hasil inkompatibel. Bila darah donor golongan
A yang dimasukkan ke badan bayi, maka darah donor A ini
segera diselubungi oleh IgG anti-A yang sudah ada dalam se-
rum bayi. Darah donor yang baru saja masuk dengan cepat
menjadi rusak dan hancur. Maka anemianya bukan hanya tidak
dapat diperbaiki, malah bilirubinnya lebih meninggi dan ke-
adaan bayi menjadi bertambah payah. Melihat reaksi di atas,
maka dar
a
h yang tidak memiliki antigen A menjadi pilihan
untuk trarlsfusi exchange. Umumnya kita ambil donor go-
longan O, lebih baik lagi
O
packed cell yang dipakai.
ANEMIA HEMOLITIK AUTO IMUN ( AIHA )
AIHA adalah anemia yang disebabkan adanya auto-antibodi
yang langsung dapat melawan antigen pada sel sendiri. Biasa-
nya AIHA dibagi dalam dua tipe; antibodi tipe hangat (warm
type) yang aktif pada suhu 37°C (85%) dan tipe dingin (cold
type) yang aktif pada suhu 4°C (15%). Tidak ada darah yang
kompatibel untuk tipe hangat maupun tipe dingin. Lebih
tepat boleh dikatakan transfusi darah sebenarnya merupakan
kontraindikasi. Tidak sedikit kasus anemia yang belum jelas
diagnosisnya terburu-buru diberikan transfusi darah sehingga
keadaan umum dan anemianya malah bertambah buruk, apa-
lagi pada AIHA tipe hangat.
PENYAKIT HEMOLITIK PADA BAYI-BARU-LAHIR
(HD
N
)
Kasus ini sudah tidak asing lagi bagi kita semua. Delapan belas
tahun yang lalu (1962) Dr. Hudono ST pernah mengemukakan
beberapa kasus HDN yang disebabkan oleh antibodi A atau
B di Jakazta. Sejak itu banyak yang tertarik dan menaruh per-
hatian besar pada penyakit ini. Sudah lianyak tulisan mengenai
HDN yang dimuat dalam Buletin Transfusi Darah LPTD/
PMI. Juga banyak kasus yang dilaporkan dalam Kongres Na-
sional Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indone-
sia dan Kongres Obstetri Ginekologi Indonesia.
Penyebab HDN ialah proses hemolisis yang terjadi sebagai
akibat adanya antibodi (anti-A/anti-B) jenis IgG dalam serum
ibu yang dapat melintasi rintangan plasenta, sehingga be-
reaksi
dengan antigen yang bersangkutan (A/B) dalam
1 6
Cermin Dunia Kedokteran
No.18, 1980
· Khusus untuk AIHA tipe hangat, bila Hb masih di atas
5 g %, kita masih bisa sabar menunggu hasil pengobatan dari
steroid dengan dosis tinggi. Dalam beberapa hari saja sudah
dapat mulai terlihat berkurangnya jumlah antibodi yang me-
nyelubungi sel dan jumlah pembuatan antibodi juga menurun.
Dengan keadaan demikian sel pasien dapat bertahan lebih la-
ma. Keadaan anemia perlahan-lahan dapat diperbaiki. Kita
harus jangan lupa pasien AIHA umumnya berjalan perlahan-
lahan dan sudah bisa menyesuaikan diri dalam keadaan Hb
rendah, Maka kita tidak perlu terburu-buru memberikan
transfusi, sebab AIHA dengan tipe hangat dapat memperoleh
kemajuan yang memuaskan dengan terapi steroid atau splenek-
tomi, sebab limpa merupakan kuburan daripada sel berselu-
bung (coated cell) yang dicaplok oleh makrofag.
· Lain halnya dengan AIHA pada tipe dingin. Kasus ini ti-
dak banyak kemajuan dengan terapi steroid atau splenektomi.
Transfusi darah juga merupakan kontraindikasi, tetapi reaksi
atau resiko akibat transfusi tidak berat seperti yang dialami
oleh kasus AIHA tipe hangat. Karena antibodi tipe dingin ini
hanya aktif pada suhu rendah (tidak aktif pada 37°C), maka
lebih baik pasien dilindungi supaya suhu badan keseluruhan
dapat bertahan pada 37°C, termasuk hidung, kuping, ujung
jari tangan dan kaki; Dengan cara ini biasanya sudah dapat di-
cegah reaksi antara auto-antibodi dengan sel pasien sendiri.
Bila sudah dicoba dengan cara di atas keadaan masih juga
tidak ada perbaikan dan Hb di bawah 3 g% mendorong permin-
taan darah cito dari dokter yang merawatnya, baru kita beri-
kan darah yang least incompatible. Sel darah merah yang di-
cuci pun tidak lebih banyak dapat menolong kasus AIHA
tipe dingin. Transfusi harus menggunakan koil pemanas
(warming coil) supaya darah sebelum masuk ke badan pasien
sudah dipanaskan suhunya sampai 37°C, jadi bukan darah da-
lam botol atau plastik yang diinkubasi dalam penangas air
sampai 37°C, karena suhu tidak dapat tetap bertahan pada
37°C selama transfusi. Di samping itu kadang-kadang suhu
inkubator dapat lebih tinggi dari 37°C dan ini dapat pula
menghancurkan sel darah merah. Semua ini harap kita per-
hatikan.
Sejak bulan April 1976 di Amerika telah dimulai pengguna-
an Hemonetics model 30 cell separator untuk melakukan pe-
nukaran plasma (plasma exchange) bagi pasien AIHA. Dengan
alat ini didapatkan hasil yang amat baik. Plasma yang banyak
mengandung auto-antibodi itu ditukar dengan fresh frozen
plasma, albumin 5%, salt poor albumin, eritrosit yang telah
dicuci, atau cairan garam faali, sesuai dengan apa saja yang di-
butuhkan oleh pasien. Tiap kali dapat di "recycle" 150 --
200 cc plasma dan bisa dijalankan sampai delapan kali, menca-
pai jumlah sekitar dua liter plasma. Bila diulangi sekali lagi
pada hari-hari berikutnya maka penukaran plasma dapat me-
lebihi tiga liter, sehingga kondisi plasma pasien dan urin sudah
kembali normal.
Di Jakarta sudah ada dua alat ini, satu di RS Gatot Subroto
dan satu lagi di LPTD PMI. Hemonetics model 30 ini akan
mulai dipakai guna mendapatkan trombosit atau lekosit dari
seorang donor. Dalam waktu dua jam jumlah trombosit yang
dihasilkan mencapai 6 x 10
11
atau sepuluh kali lebih
banyak daripada trombosit konsentrat (5 x 10
10
).
yang sekarang kita buat. Dengan menggunakan alat tersebut,
bukan saja jumlah trombosit yang dihasilkan lebih banyak,
bahaya penularan hepatitis dan terbentuknya antibodi terha-
dap lekosit juga jauh berkurang karena sumbemya hanya dari
seorang donor. Keuntungan bagi donornya sendiri ialah semua
komponen yang tidak diperlukan akan dikembalikan ke donor
pada saat itu juga. Ini berarti hanya salah satu bagian, misal-
nya trombosit, lekosit, atau plasma saja yang diperlukan oleh
pasien yang diambil; sisanya tidak terbuang dan dimasukkan
kembali ke donor itu. Untuk sementara, karena tempat, kon-
disi dan pengalaman kita masih terbatas, alat ini belum mulai
kita pakai untuk melayani terapi langsung (mengeluarkan ele-
men yang berlebihan (penyebab penyakit dari penderita). Un-
tuk sementara alat ini hanya digunakan sebagai blood compo-
nent collector.
C
untuk membantu membersihkan
saluran pernapasan
hancurkan dahak
dengan:
Mucosolvan
EFEKTIF
Karena :
1. Menghancurkan dahak sehingga menjadi
encer dan mudah dikeluarka
n.
2. Menormalisasikan sekresi kelenjar bronchial.
AMAN
Ksrena
1. Tidak ada efek samping yang berarti.
2. Tidak ada kontra indikasi.
3. "Safety margin" yang lebar.
KOMPOSISI:
Bromhexine HCI ..........8 mg.
INDIKASI:
1. Sesak napas karena penyumbatan saluran
pernapasan oleh dahsk.
2. Batuk-batuk karena hipersekresi dahak.
3. Gangguan dahak lainnya yang tidak purulen
(contoh : pada alergi , pada perokok
)
4. Untuk ganggusn dahak yang purulen,
MUCOSOLVAN dapst djkombinasikan
dengan antibiotik/kemoterapeutik.
DOSIS:
Anak2
-1 tab. 3 x sehari.
Dewasa : 1- 2 tab. 3 x sehari.
17
Cermin Dunia Kedokteran No. 18, 1980 17