background image
Titik Lemah dalam Percobaan Klinik
dr Bambang Suharto
Manager R D, PT Kalbe Far
ma, Jakarta.
Percobaan klinik adalah percobaan yang melibatkan manusia
(sehat - sakit) sebagai objek, dalam usaha mencari jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan tentang kegunaan atau bahaya suatu
obat, alat
ataupun cara untuk pencegahan, diagnosa, terapi
ataupun rehabilitasi suatu penyakit ataupun gangguan kesehat-
an lainnya.
Tujuan penyajian makalah ini adalah menginventarisasi
kelemahan yang sering terjadi dalam percobaan klinik yang
dapat menyebabkan kegagalan percobaan klinik tsb. Suatu
percobaan klinik dapat dianggap gagal bila :
· Tidak berhasil mencapai tujuan percobaan klinik yang telah
tercantum dalam protokol yang baik.
· Tak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan pokok tentang
permasalahan percobaan klinik tsb.
· Penyakit penderita yang diikutsertakan dalam percobaan
klinik itu umumnya jadi lebih parah. Ini seharusnya sudah
dapat diramalkan dari percobaan pra-klinik.
· Penderita mati karena intoxikasi obat
yang sedang diuji
sekalipun segalanya telah menuruti protokol.
Di Indonesia, percobaan klinik pra-pemasaran belum pernah
dilakukan (Percobaan klinik fase I, II dan III). Mungkin
baru
beberapa tahun lagi percobaan klinik pra-pemasaran akan dila-
kukan di sini, tergantung pada sarana dan kemampuan personil
yang ada. Yang lebih mudah dilaksanakan dahulu adalah fase
IlI untuk obat-obat yang telah melewati fase I dan II di luar
negeri.
Percobaan klinik yang telah dilakukan di negara kita, semua
termasuk pasca - pemasaran, dalam arti di luar negeri obat tsb.
telah dinilai dan boleh dipasarkan di negara yang bersangkut-
an. Jadi percobaan klinik yang dilakukan di negara kita umum-
nya pada saat ini bukanlah untuk memperoleh nomor registra-
si, tetapi sekedar menyakinkan dan memberikan pengalaman
pada dokter dalam menggunakan obat tsb. bagi pasien-pasien-
nya. Percobaan klinik semacam ini biasanya banyak kelemah-
an-kelemahannya, sering tidak memakai pembanding, proto-
kolnya kurang baik, pelaksanaan sering menyimpang dari
protokol, dsb.
Percobaan Klinik dalam Pengembangan Obat Baru
Dalam pengembangan obat baru, tahap percobaan klinik baru
dikerjakan bila percobaan pra-klinik pada hewan telah selesai
dengan kesimpulan : obat yang sedang diteliti memiliki perim-
bangan positif perihal khasiat dan keamanannya sehingga patut
dilanjutkan penelitiannya pada manusia.
Percobaan klinik fase I, II dan III tujuannya harus jelas
agar data yang terkumpul benar-benar mantap dan dapat
menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang farmako-dinamika,
toxikologi (khasiat
keamanan) dan farmako - kinetika
(absorpsi, distribusi, biotransformati, dan exkresi) pada orang
sehat dan penderita. Data tersebut mutlak dibutuhkan sebelum
suatu obat diizinkan untuk dipasarkan. Setelah obat dipasar-
kan sebenarnya masih perlu percobaan klinik fase IV, pasca -
pemasaran, karena justru setelah digunakan secara luas, fre-
kuensi atau persentasi tentang efektivitas dan keamanan obat
itu dapat diketahui secara lebih tepat. Mungkin muncul khasiat
baru ataupun efek samping baru yang belum diketahui dalam
fase percobaan klinik sebelumnya.
Secara garis besar kelemahan-kelemahan suatu percobaan
klinik dapat ditelusuri dari :
1. Latar belakang dan pemasalahan yang mendorong
dilakukannya percobaan klinik tsb.
2. Tujuan percobaan klinik
3. Perencanaan percobaaan klinik
4. Pengorganisasian percobaan klinik
-
5. Koordinasi pelaksanaan percobaan klinik
6. Pengendalian (kontrol) pelaksanaan percobaan klinik
7. Penilaian (evaluasi) hasil percobaan klinik
1. LATAR BELAKANG PERCOBAAN KLINIK
Latar belakang percobaan klinik perlu dikemukakan berdasar-
kan atas data ilmiah untuk memberikan sandaran yang kuat
bagi percobaan klinik itu sendiri. Hal-hal yang patut diajukan
adalah :
2 2
Cermin Dunia Kedokteran No. 25, 1982
background image
Frekuensi kejadian atau penyakit tsb. yang akan ditanggu-
langi dalam masyarakat.
--
Akibat lanjut yang dapat terjadi bila tidak ditanggulangi
--
Hasil studi pra
klinik dan klinik berikut kepustakaan ilmiah
yang menunjang.
--
Permasalahannya sekarang apa.
Tanpa adanya latar belakang yang kuat dan permasalahan
yang jelas sukar dipahami mengapa percobaan klinik itu
perlu dilakukan dengan mengorbankan biaya yang cukup
besar dan mempertaruhkan keselamatan sekian banyak
manusia, apalagi bila misalnya dari hasil studi pra-klinik
telah dapat diramalkan bahwa obat yang akan ditest itu tidak
lebih superior daripada obat yang telah ada dipasar.
2. TUJUAN PERCOBAAN KLINIK
Tujuan percobaan klinik yang akan dilakukan harus jelas dan
spesifik, sebaiknya secara tepat dikemukakan dalam satu atau
dua kalimat saja, tak perlu panjang lebar dan berbelit-belit.
Berikut ini adalah beberapa contoh tujuan, percobaan klinik
yang kurang jelas dan tidak spesifik :
· Menentukan efektivitas terapi hipertensi dengan obat
X
· Mengetahui mekanisme kerja efek samping obat
X terhadap
susunan saraf pusat.
· Menetapkan keamanan penggunaan obat X pada orang
dewasa.
Peneliti
harus mengetahui bidang cakup permasalahan dan
hendaknya menyadari bahwa tak mungkin menjawab terlalu
banyak pertanyaan sekaligus, apalagi dengan pelbagai sarana
yang terbatas.
3. PERENCANAAN PERCOBAAN KLINIK
Kunci keberhasilan percobaan klinik sebagian besar terletak
pada perencanaannya, dan seluruh perincian seluk-beluk
rencana percobaan klinik tercantum dalam protokol. Protokol
yang tidak lengkap hanya akan menghasilkan data yang tak
lengkap dan meragukan, sehingga dapat menjurus pada kesim-
pulan yang salah dan membahayakan penderita.
Beda pendapat perihal efektivitas anti-koagulan dalam
terapi infark miokard akut amat mungkin disebabkan oleh
ketidaksempurnaan protokol dalam hal seleksi penderita yang
diikutsertakan dalam percobaan klinik itu. Berikut ini adalah
contoh hal-hal pokok yang harus
tercantum dalam suatu
protokol percobaan klinik :
1. Judul penelitian
2. Latar belakang dan permasalahan
3. Tujuan Percobaan Klinik (umum dan khusus)
4. Populasi Percobaan Klinik :
Seleksi penderita
Kelompok pembanding
5. Pengecualian penderita
6. Disain
Percobaan
Klinik (cara penyamaran, cara
pengelompokan, dsb.)
6. Rencana dosis dan pemberian obat
7..Parameter untuk menilai respons dan efek samping obat
8. .Pengembalian obat dan sebab-sebabnya
9. Drop - out
1
0. Evaluasi hasil (tabel-tabel, kurva dan cara statistik yang
akan digunakan)
1
1. Persetujuan subjek (voluntir sehat atau penderita)
1
2. Formulir laporan kasus
Hal
lain penunjang Percobaan Klinik :
· Daftar alat dan jumlahnya yang tersedia di laboratorium
dan akan digunakan dalam percobaan klinik tsb.
· Daftar personil :
-- tugas/peranan tiap personil
-- kualifikasi personil
-- pengalaman dan publikasi personil
Protokol yang sama sekali tidak lengkap ternyata masih
terjadi, sekalipun di USA, seperti contoh di bawah ini yang
pernah disampaikan pada FDA :
Study Design :
Open evaluation of Drug X in the treatment of myoclonic and
akinetic seizure disorders in children that are refractory to recently
available agents.
Patient Selection :
An indefinite number of patients will be treated with the drug.
Clinical Record :
Comprehensive clinical and laboratory reports will be furnished
by the company.
Populasi Percobaan
Kilnik
Seperti halnya dengan penelitian-penelitian lain, batasan
populasi percobaan klinik harus
jelas, menyangkut jenis
penyakit, umur, sex, berat badan, lokasi, ras, jumlah, dsb.
Ini penting karena hasil suatu percobaan klinik, hanya akan
dapat menjawab pertanyaan dalam ruang lingkup populasi
itu saja, dan tidak dengan sendirinya dapat berlaku untuk
segala macam populasi. Tambahan lagi yang dapat dijawab
adalah hanya yang sebelumnya sudah direncanakan (yang
tercantum dalam protokol percobaan klinik itu). Bila perlu,
stratifikasi populasi harus
dilakukan untuk meningkatkan
kecermatan penelitian.
Dalam suatu percobaan klinik adanya pembanding mutlak
diperlukan untuk memperoleh kebenaran. Pembanding seha-
rusnya menjalani perlakuan yang pe
rsis sama dan serentak
bersama kelompok yang diuji. Pembanding ini seringkali
dilupakan atau tidak mengalami perlakuan yang sama dan
serentak dengan kelompok yang diuji; sehingga hasil percobaan
klinik itu sendiri jadi tidak bernilai ilmiah, karena kita tetap
dihadapkan pada keraguan. Untuk meningkatkan kecermatan
percobaan klinik selain ada kelompok pembanding, percobaan
klinik tsb. sebaiknya dilakukan secara acak tersamar ganda
(Random and double blind).
Memang dalam setiap percobaan ataupun penelitian,
"
Controlled trial
"
selalu lebih baik daripada
"
uncontrolled
trial
"
. Yang penting dalam hal ini ialah secara cermat harus
dapat dibandingkan antara dua tindakan : diberi obat dan
tidak diberi obat; atau diberi obat A dan diberi obat
B. Bahwa
Cermin Dunia Kedokteran No. 25, 1982
23
background image
"
controlled group" diambilkan dari suatu "prospective trial"
ataukah "retrospective trial" tidak masalah selama semua
variable yang dapat mempengaruhi hasil percobaan dapat
dikendalikan.
Kegagalan dalam menetapkan faktor yang harus dikendali-
kan tentu dapat mengakibatkan penyimpangan hasil kompara-
si. Dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya banyak sekali
usaha mengkomparasi percobaan prospektif dengan hasil
retrospektif, baik yang hanya berupa pengalaman biasa yang
tidak disusun secara sistimatik terencana, maupun suatu studi
retrospektif yang terencana dan amat sistematik. Contoh
bahan-bahan retrospektif yang amat berguna untuk studi
komparatif adalah medical record penderita di Rumah Sakit.
Untuk meningkatkan kecermatan dan sistematika agar tercapai
manfaat studi retrospektif yang maksimal dapat saja digunakan
komputer misalnya.
Formulir Laporan Kasus Klinik.
-- Merupakan laporan pelaksanaan protokol
-- Isinya tentu saja harus sesuai protokol
--Hal yang diamati, skala pengukuran, tes laboratorium,
waktu dan jadwal pengukuran dsb. semua harus
sesuai
protokol .
-- Tambahan pengamatan baru
sebenarnya tidak perlu lagi
apalagi bila
"
sekedar ingin tahu" dan tak ada dasar ilmiah
atau administratif yang kuat.
Dari satu ke lain kasus, laporan ini harus seragam. Penyimpang-
an dari protokol dapat berakibat kesulitan besar keseluruhan
percobaan kilnik.
Persyaratan dari segi Hukum.
Penelitian klinik untuk obat baru diatur oleh DepKes yang
pasti dasarnya tak akan berbeda dengan peraturan FDA di
USA, karena tujuannya sama yaitu melindungi keselamatan
penderita dan masyarakat. Hal-hal yang menyangkut segi
hukum tentu juga harus tercantum dalam formulir laporan
kasus tsb. Ini mencakup semua kelompok termasuk kelompok
pembanding, meliputi umur, kelamin, penyakit dengan tingkat
keparahannya, obat lain yang sedang atau pernah diperoleh
sebelumnya, efek samping yang pernah dialami dsb.
Disain dan Biostatistik.
Ini adalah jantungnya percobaan klinik. Membuat disain dan
memilih perhitungan statistik suatu percobaan klinik adalah
seperti membuat disain suatu bangunan, perlu jelas dahulu :
-- tujuan penggunaan bangunan tsb. (untuk pabrik : pabrik
apa? untuk RS : RS apa? untuk sekolah : sekolah apa?
untuk laboratorium kimia : lab kimia apa? dsb.)
-- bagian esensial non esensial apa yang harus ada?
-- daya tampung optimal
-- kwalitas bahan yang ingin dipakai alat-alat apa yang
direncanakan ada di sana.
-- daya tahan yang diharapkan
perlengkapan yang diinginkan
--bahan apa yang akan disimpan dalam bangunan itu
-- urutan proses kegiatan dalam bangunan itu
--keadaan lingkungannya
-- sumber-sumber yang ada (kualitas kuantitas)
-- masukan dan keluaran/buangan yang diperhatikan sesuai
dengan ciri
sifat masing-masing bahan.
Hal-hal esensial yang harus terpenuhi bila bangunan itu selesai
juga harus dijelaskan, misalnya :
· harus memenuhi syarat kesehatan bagi yang tinggal atau
bekerja dalam bungunan itu ataupun bagi lingkungannya.
· harus dapat berfungsi dengan baik sesuai tujuan semula,
untuk masa kini dan masa mendatang untuk kurun waktu
yang telah ditentukan sebelumnya.
· memiliki nilai arsitektur/seni/model yang telah ditentukan
sebelumnya.
Ini semua tentu saja harus direncanakan meliputi tempat, alat,
manusia dan dananya. Tentu saja ada variasi dalam kualitas
dan kuantitas dari satu kelain bangunan. Nah, demikian pula
halnya dengan percobaan klinik.
Jumlah dan jenis variable dapat ditentukan sekehendak
hati, asalkan direncanakan sebelumnya -- sama halnya dengan
jumlah dan macam fasilitas yang diinginkan untuk suatu
bangunan. Semakin banyak pertanyaan yang ingin dijawab
dalam suatu percobaan klinik, semakin banyak pula variabel
yang harus diamati dan semakin banyak sarana dan dana yang
dibutuhkan.
Dimanakah peranan ahli biostatistik dalam suatu percobaan
klinik? Ahli biostatistik harus terlibat dari sejak awal sampai
tahap terakhir percobaan klinik, dari tahap perencanaan,
pembuatan protokol sampai evaluasi hasil; analog dengan
peranan "quality quantity surveyor controler" dalam
proyek bangunan.
Dalam percobaan klinik beberapa hal memang analog, seperti
misalnya :
· Alat-alat percobaan untuk studi farmakodinamika (khasiat
keamanan) jelas berbeda dengan alat studi farmakokine-
tika, demikian pula halnya dengan alat untuk studi toxiko-
logi.
· Kualitas alat yang tersedia juga bermacam-macam, bervaria-
si dari yang murah sampai yang mahal, dari yang tidak
cermat sampai yang amat cermat, dari yang mudah rusak
sampai yang awet dsb. Demikian pula halnya mengenai
variasi kualitas bahan-bahan lain.
· Urutan kegiatan dalam percobaan klinik harus disusun
sedemikian rupa sehingga melancarkan pengerjaan misal-
nya : kriteria seleksi penderita harus dijelaskan dahulu
sebelum kita melakukan pemberian obat yang akan ditest.
Pembahasan terperinci tentang titik lemah dalam disain dan
biostatistik percobaan klinik dicakup dalam makalah Dr. Arini
Setiawati.
Kualifikasi pelaksana Percobaan Klinik.
Kualitas dan kuantitas pengetahuan dan pengalaman pelaksana
percobaan klinik amat menentukan kualitas percobaan klinik -
dan hasilnya.
Untuk percobaan klinik fase I yang ingin ditentukan adalah
aktivitas biologik dan kinetika obat yang sedang diuji pada
manusia sehat.
24
Cermin Dunia Kedokteran No. 25, 1982
--
background image
Fase II awal bertujuan menentukan potensi kegunaan dan
batasan dosis obat tsb. pada penderita. Dalam fase ini juga dila-
kukan review perihal kemungkinan toksisitas lain obat itu pada
hewan dan melakukan percobaan khusus misalnya efeknya
terhadap sistim reproduksi, sebelum melangkah l
ebih lanjut
ke fase percobaan klinik selanjutnya. Fase II akhir bertujuan
menentukan bentuk dan besarnya dosis yang tepat untuk
tiap indikasi beserta penelitian yang lebih mendalam perihal
biotransformasi obat itu atau pengaruhnya terhadap metabo-
lisme tubuh.
Pengetahuan dan pengalaman yang dibutuhkan untuk me-
mimpin dan melakukan Fase I,11 awal dan II akhir adalah :
Fisiologi dan Farmakologi komparatif pada hewan percoba-
an.
-- Fisiologi dan Farmakologi pada manusia
Patologi, patofisiologi dan farmakologi klinik
-- Melakukan penelitian
yang baik pada manusia
Tugas itu biasanya dipikul oleh seorang ahli farmakologi
klinik
Fase III bertujuan mempelajari khasiat dan keamanan obat
itu pada jumlah populasi penderita yang lebih besar. Dalam
fase ini dicoba diketahui perkiraan kejadian efek samping
yang sering terjadi serta berapa tinggi efektifitas obat itu
terhadap indikasi-indikasi yang telah ditetapkan. Percobaan
klinik Fase III ini sebaiknya dilakukan oleh dokter spesialis
di klinik
yang berpengalaman dalam merencanakan, melaku-
kan dan menilai percobaan klinik yang baik.
Berikut ini adalah daftar bidang keahlian yang perlu diikut
sertakan dalam team percobaan klinik :
1. Ahli Farmakologi Klinik
2. Ahli Biostatistik
3. Ahli Patofisiologi
4. Ahli Patologi Klinik atau Kimia Klinik
5. Ahli Biokimia
6. Ahli Bidang-bidang Klinik
yang sesuai dengan arah
indikasi penggunaan obat yang akan dites (Kardiolog,
Neurolog, Psikiater, Opthahnolog, dsb.)
Mereka ini perlu duduk bersama merundingkan dan merenca-
nakan segala sesuatunya yang relevan dengan percobaan klinik
yang ingin dilakukan. Tentu saja kemampuan dan kesediaan
menyisihkan waktu yang tepat, sesuai jadwal yang disepakati
bersama merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi demi
suksesnya percobaan klinik itu.
yang pada akhirnya dapat menggagalkan percobaan klinik
itu sendiri.
Sebaiknya ketua team dipilih berdasarkan :
(a) Fase Percobaan Klinik yang akan digarap. Ini erat berhu-
bungan dengan titik berat permasalahan yang dihadapi.
Misalnya pada fase I titik berat masalahnya terletak pada
farmakologi dan ini masa peralihan dari fase percobaan
pada hewan ke percobaan pada manusia, manusia sehat
belum pada manusia sakit. Jadi sebaiknya fase ini dike-
tuai oleh seorang ahli farmakologi klinik.
Fase III, titik berat masalah lebih pada klinik, mengetahui
derajat efektivitas dan keamanan obat yang dites pada
populasi penderita yang lebih besar. Jadi fase ini sebaik-
nya dipimpin oleh seorang dokter spesialis tertentu dalam
bidang klinik yang relevan dengan indikasi penggunaan
obat tsb.
(b) Kemampuan manajemen percobaan klinik yang baik, amat
dibutuhkan, mencakup seluruh aspek manajemen mulai
dari Planning, Organizing, Coordinating, Control dan
Evaluation.
(c) Memiliki ciri kepemimpinan yang baik, misalnya :
· Tidak selalu merasa bahwa dirinyalah yang paling
benar
· Tidak meremehkan peranan anggota team,bagaimanapun
sederhananya pekerjaan dia, dsb.
(d) Berpandangan luas meliputi bidang ldinik dan praklinik.
5. PENGENDALIAN PERCOBAAN KLINIK.
Dalam pengendalian selalu perlu diperiksa/dilihat lagi apakah
pelaksanaan percobaan klinik arahnya menyimpang dari tujuan
atau tidak. Apakah tiap anggota team benar-benar melaksana-
kan tugasnya sesuai jadwal waktu yang tercantum dalam
protokol; bila tidak, mengapa dan bagaimana mengatasi masa-
itu.
Peranan umpan balik amat penting dalam keseluruhan
manajemen percobaan klinik. Ini mencakup banyak aspek
yang menuntut kecepatan dan ketepatan informasi, baik aspek
manusia, manajemen, material, machine (alat) metode,
ataupun money (dana).
Sistem informasi timbal balik vertikal dan horizontal
harus
ditata dan direncanakan dengan baik agar percobaan klinik
tidak gagal.
4. ORGANISASI DAN KOORDINASI PERCOBAAN KLINIK
Seperti halnya dengan organisasi lain, team percobaan
klinik hanyalah merupakan sarana untuk mencapai tujuan.
Agar hasilnya dapat diperoleh secara optimal, cepat, dan
bermutu tinggi maka anggota organisasi itu terdiri dari spesi-
alis-spesialis yang memang ahli dan berpengalaman dalam
bidangnya masing-masing. Dalam organisasi percobaan klinik
kedudukan seseorang ahli, tidak lebih rendah ataupun leibh
tinggi dari ahli
.
yang lain. Jadi janganlah beranggapan bahwa
ketua team percobaan klinik itu dianggap lebih pandai dan
lebih penting dengan ahli yang lain. Anggapan semacam itu
dapat mengganggu kelancaran kerja team percobaan klinik,
6. PENILAIAN (EVALUASI) HASIL PERCOBAAN
KLINIK
Sebaiknya semua variabel yang ingin diukur dalam suatu
percobaan disusun dan dicantumkan
dalam suatu daftar
bersama dengan metoda pengamatan, alat yang akan diguna-
kan, jadwal waktu pengamatan variabel-variabel tsb.
Parameter hendaknya dipilih yang spesifik dan selektif
mengukur apa yang ingin diukur, merupakan akibat atau
hasil
langsung dari proses, keadaan atau penyakit yang sedang diuji.
Umumnya semakin jauh hubungan antara gejala dan kausa,
semakin tidak spesifik gejala itu dan semakin tidak teliti
percobaan klinik tsb. Sedapat mungkin harus diusahakan agar
parameter itu objektif, tidak subjektif. Bila perlu dilakukan
Cermin Dunia Kedokteran No. 25, 1982
25
--
--
background image
penilaian bertingkat tetapi kriterianya harus jelas dan semua-
nya harus tercantum dalam protokol. Usahakanlah pula agar
pengamatan dan penilaian hasil dilakukan oleh satu orang
untuk mengurangi variasi penilaian antara satu kelain penilai-
an.
Janganlah menggunakan metoda pengukuran yang belum
terbukti kebenarannya, atau belum memberikan hasil yang
konsisten untuk suatu hal yang tidak berubah.
Selalu harus
diuji apakah hasil akhir percobaan klinik
benar-benar sudah menjawab secara memuaskan pertanyaan-
pertanyaan yang sebelumnya telah disiapkan dalam penyusun-
an protokol. Bila belum, dimana kekurangannya.
Peninjauan menyeluruh oleh semua anggota team perlu
diadakan
untuk
menyempurnakan
hasil, kadang-kadang
diperlukan orang dari luar team itu untuk memberikan kritik
tentang percobaan klinik tsb.
7. PENGERTIAN ISTILAH DAN PENYELESAIAN LAPOR-
AN.
Dari sejak awal sebelum percobaan klinik di
mulai, pengertian
setiap istilah penting yang menyangkut percobaan klinik itu
harus disamakan dahulu. Sulit dibayangkan betapa kacaunya
pembicaraan percobaan klinik itu bila masing-masing anggota
team mempunyai pengertian yang berbeda-beda tentang
istilah-istilah pokok dalam percobaan klinik itu sendiri.
Seandainya telah mulai berjalan dan informasi vertikal
ataupun horizontal antara bagian dalam organisasi percobaan
klinik itu telah mulai sibuk, maka akan terasa sekali kebutuh-
an pengisian kartu laporan yang benar. Kesalahan pengetikan
kata dan angka potential dapat mengacaukan evaluasi hasil.
Pengetikan laporan hendaknya dilakukan oleh orang yang
tepat,
yang tidak hanya mementingkan kecepatan, tetapi
juga kecermatan diutamakan. Demikian pula halnya dengan
pengetikan laporan akhir bila percobaan klinik telah selesai,
kejelasan ketelitian dan kecermatan tetap dibutuhkan; karena
memang percobaan klinik sendiri bertujuan menjelaskan hal
yang tidak jelas dan bukan mengaburkan hal yang sudah tidak
jelas itu.
PENUTUP
Sekalipun Indonesia pada saat ini belum mampu menciptakan
senyawa kimia baru yang dapat digunakan untuk pencegahan,
diagnosa, terapi ataupun rehabilitasi penyakit tetapi saatnya
telah tiba untuk kita mempelajari cara-cara melakukan perco-
baan klinik yang baik dan benar. Untuk itu maka pengalaman
negara-negara maju baik yang positif maupun yang ,negatif
patut dikaji agar kita dapat menghemat waktu dan biaya dalam
mencapai keadaan yang lebih baik.
KEPUSTAKAAN
1. Martin EW (Ed.) Hazards of Medication. Philadelphia -- Toronto :
JB Lippincott Co.
2. Mc Mahon FG (Ed.). Principles and Technique of Human Research
and Therapeutics. A series of Monographs -- Vol. IV. New York :
Futura Pub. Inc, 1974.
3. Cranberg L. Do retrospective controls make clinical trials inhe-
rently fallacious ? Brit Med J. 1979; 2 : 1265 -- 1266.
SEBAB -- SEBAB KEMATIAN PARA AHLI ANESTESI
Dengan makin sering dan makin banyak dipergunakanya gas-gas pembius yang
berunsur fluor, maka timbul dugaan bahwa gas-gas ini merupakan faktor pengganggu
kesehatan khususnya bagi para ahli anestesi.
Oleh Dr. Linde dkk. dari Northwestern University USA telah dibandingkan
sebab-sebab dan angka-angka kematian para ahli anestesi diantara tahun 1930 s/d 1946
dengan sebab-sebab dan angka-angka yang sama setelah tahun-tahun itu.
Angka kematian diantara tahun 1930 -- 1946 kurang lebih sama dengan angka
kematian diantara tahun 1947 -- 1956, akan tetapi lebih besar dari angka kematian
dari tahun 1957 -- 4971.
Sebab kematian utama para ahli anestesi ialah penyakit kardio-vaskuler dan
tumor ganas.
Dari jenis tumor ganas, tumor yang berasal dari traktus digestivus merupakan
yang paling sering ditemukan sedangkan tumor-tumor dari traktus respiratorius justru
paling sedikit !!.
Hasil-hasil penelitian ini memberi kesan bahwa gas-gas pembius berunsur fluor
yang mulai dipergunakan sejak tahun 1950--an mungkin tidak membahayakan kese-
hatan.
OLH
NTIS, Medicine Biology, Aug. 11, 1981
26
Cermin Dunia Kedokteran No. 25, 1982