background image
Seleksi Donor Darah terhadap
Infeksi Hepatitis C
Dr. Suwarso, PhD
Bagian Virologi-Immunologi, Laboratorium Patologi-Klinik, Fakultas Kedokteran,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
LATAR BELAKANG
Pada kasus-kasus hepatitis posttransfusi (HPT) peranan
agent atau virus blood-borne hepatitis Non-A, Non-B (HNANB)
sangat penting. Kurang lebih 90% (range 89­94%) dari semua
kasus HPT akut di Amerika disebabkan oleh virus HNANB
(1)
.
Materi yang memiliki potensi untuk menyebarkan penyakit
HNANB adalah darah dan produk darah seperti serum, plasma,
fibrinogen, platelet,faktor-faktor koagulasi (Faktor-VIII, Faktor-
IX) bahkan immunoglobulin-immunoglobulin yang diberikan
secaraintra venapadakasus-kasus immunisasi pasip atau vaksin-
vaksin plasma (vaksin-vaksin generasi pertama) yang digunakan
untuk tujuan-tujuan immunisasi aktip
(2,6)
. Material atau produk-
produk darah tersebut umumnya diperoleh atau dibuat dari
ratusan hingga ribuan donor darah/plasma
(7)
. Dengan demikian
individu-individu yang karena berbagai penyebab butuh ditrans-
fusi darah/plasma, penderita-penderita thalasemia, hemophilia
dan individu-individu yang memperoleh immunisasi baik pasip
maupun aktip dengan produk-produk tersebut di atas,
merupakan individu-individu yang memiliki risiko tinggi untuk
terinfeksi oleh virus HNANB.
Risiko untuk mendapatkan infeksi virus HNANB ini ter-
gantung pertama pada jumlah unit darah yang diberikan, kedua
pada macamnya donor darah yang digunakan. Tiap unit darah
sukarela (darah yang diperoleh dari dinas-dinas Palang Merah)
akan memberikan risiko untuk terinfeksi HNANB sebesar
1,6%, dan ini akan 4x lebih besar seandainya darah yang
digunakan adalah darah dari donor bayaran
(8,9)
.
Donor-donor darah bayaran ini umumnya berasal dari kelom-
pok masyarakat yang keadaan sosial-ekonominya rendah dan
status kesehatannya sukar untuk dipertanggung jawabkan. Efek-
tivitas tidak digunakannya donor-donor darah bayaran di dalam
program-program pencegahan penyebaran HPT-NANB, tampak
dengan turunnya angka kejadian HPT-NANB tahun 1970-an di
Amerika Serikat sebesar kurang lebih 50%
(1,10,11)
.
Jika dibanding dengan darah-darah yang tidak menyebarkan
HPT-NANB, maka darah-darah yang menyebarkan HPT-NANB
signifikan memiliki anti-Hepatitis B core (anti-HBc Antibodi)
yang positip dan level aktivitas ensim Alanine aminotransferase
(ALT) atau Glutamate pyruvate transaminase (GPT) yang
meningkat. Kedua petanda serologik dan kemik ini disebut
Surrogate Marker HPT-NANB dan tampak bahwa penyeleksian
atau shining donor darah terhadap adanya kedua Surrogate
marker ini mampu mencegah HPT-NANB sebesar 50%
(12-15)
.
Agen atau virus penyebab HPT-NANB (blood-borne
HNANB) kini telah diketahui dan dinamakan sebagai Virus
hepatitis-C (VHC)
oo
. Cara diagnostik spesifiknya telah pula
dikembangkan dan tersedia secara komersial
(17)
.
Sesuai dengan rekomendasi dari Center for Disease Control
(CDC 1991), maka dalam upaya menekan atau mencegah penye-
baran hepatitis-C perlu dipertimbangkan adanya penyeleksian
atau skrining darah ataupun donor darahnya terhadap
kemungkinan penyebaran hepatitis-C. Untuk ini dapat dikelom-
pokkan ke dalam dua bahasan yakni penyeleksian atau skrining
darah dan produk darah terhadap adanya petanda-petanda
spesifik/non-spesifik Hepatitis virus-C (HVC). Lainnya adalah
pemantauan atau monitoring dan konseling medis terhadap
individu-individu yang mempunyai anti-VHC (anti-HCV)
antibodi positip.
Secara skematik prosedur ini dapat dilihat pada Bagan 1.
PENYELEKSIAN ATAU SKRINING DARAH DAN
PRODUK DARAH TERHADAP VHC
1. Darah atau komponennya sebelum diberikan kepada resi-
pien hams diuji atau ditest terlebih dahulu dengan EIA-anti-HCV
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994
10
background image
Bagan 1.
Tata Laksana Penyeieksian Darah & Komponennya Terhadap Virus
Hepatitis-C (HCV)
(Ensim immuno-assay anti-Hepatitis-C virus). Hasil negatip
dapat diberikan pada resipien.
2.
Jika hasilnya positip, maka serum sampel darah/komponen
darah yang sama diuji ulang dengan EIA-anti-HCV yang sama
dan dalam duplo. Jika keduanya (duplo) negatip, maka tes
dikatakan negatip dan darah aman diberikan pada resipien.
Sedang jika satu atau keduanya dari duplo positip, darah diuji
dengan tes konfirmasi RIBA (Recombinant Immunoblot
Assay), jika salah satu atau beberapa pita (band) spesifik RIBA
positip, unit darah harus tidak diberikan dan donor sebaiknya
tidak digunakan lagi hingga batas waktu (untuk saat ini) belum
dapat ditentukan.
3.
Seandainya tes konfinnasi tidak tersedia, sebaiknya di-
informasikan bahwa darah yang positip dengan tes ulangan
duplo EIA-anti-HCV tersebut (No. 2) tidak dikonfirmasikan
dengan RIBA. Kepositipan ini bisa saja benar atau bahkan
palsu. Untuk ini perlu dilihat adanya Surrogate-Marker, jika
salah satu atau kedua sorrogate-marker ini positip, maka donor
sebaiknya dievaluasi, dikonsultasikan dan dimonitor.
EVALUASI DAN KONSELING MEDIS PADAINDIVIDU-
INDIVIDU YANG MEMILIKI ANTI-HCV ANTIBODI
POSITIP
·
Jika donor darah "positip", ulangan EIA-anti-HCV duplo,
tetapkan apakah kasusnya akut atau kronik :
a.
Konfirmasikan kepositipan anti-HCV antibodi ini dengan
RIBA.
b. Lakukan pemeriksaan aktivitas ensim Transaminase (ALT,
AST), LFT dan Prothrombin
time (PT).
· Sehubungan dengan tes-tes HCV yang tersedia sampai saat
ini belum mampu membedakan antara akut dan kronik, maka
seri pemenksaan berikut sangat membantu :
a. Jika pada awalnya aktivitas
level
ALT meninggi, kemudian
turun ke level batas normal untuk kurun waktu kurang dari 6
bulan, maka kasus Hepatitis-C akut dapat ditegakkan. Sebalik-
nya jika tetap tinggi, sampai kurun waktu lebih dari 6 bulan,
maka kemungkinannya ke arah kronik.
b. Jika aktivitas level ALT pada awalnya dan selama peman
tauannya dalam batas normal berarti :
1.
Mungkin hasil "positip" ulangan EIA-anti-HCV duplo palsu.
2.
Pasien sembuh dari Hepatitis-C akut.
3.
Pasien mungkin hepatitis-C kronik, tapi lesi hati minimal.
·
Semua individu yang memiliki anti-HCV antibodi positip
dipandang infeksius, dan individu-individu ini sebaiknya tidak
mendonorkan darahnya, semennya, organ atau jaringan tubuh-
nya.
·
Seperti halnya hepatitis-B, maka alat-alat rumah tangga
yang potensial kontak dengan cairan tubuh (darah) seperti
sikatgigi, dan sebagainya sebaiknya tidak dipakai untuk
bersama, lesi-Iesi di kulit ditutup sehingga penyebaran melalui
cairan lesi atau darah infektif dapat dicegah.
·
Kepada dokter atau dokter-gigi yang merawat, sebaiknya
diberitahu bahwa penderita memiliki anti-HCV antibodi
psitip, sehingga dapat dilakukan penanganan yang cocok.
·
Kurang lebih 10% dari kasus hepatitis-C disebarkan dengan
hubungan seksual, dibanding dengan pasangan tunggal, maka
pasangan multipartner memiliki frekuensi yang lebih tinggi.
Perhatian perlu diambil terutama pada darah, semen, win, feces,
membran mukosa, sekret vagina dan serviks. Pemakaian kon-
dom akan mengurangi penyebaran dengan cara ini. Pengetesan
perlu dilakukan pada pasangan, jika hasilnya positip, evaluasi
terhadap kemungkinan berkembang ke arah kronik.
·
Penyebaran VHC dari ibu ke anak (transmisi vertikal)
telah didokumentasi oleh beberapa penelitian
(18-20)
. Untuk ini
pengetesan perlu dilakukan pada pasangan ibu dan bayinya.
Jika positip, evaluasi mereka terhadap kemungkinan ke arah
kronik. Diduga bahwa anak-anak yang dilahirkan oleh ibu yang
memiliki anti-HCV antibodi positip akan melahirkan anak yang
mempunyai hepatitis-C asimptomatik atau karier kronik.
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994 11
background image
·
Prognosis individu-individu yang memiliki anti-HCV anti-
bodi pdsitip (Carrier asimptomatik anti-HCV positip) masih
perlu pengamatan lebih lanjut. Sejauh ini diketahui bahwa se-
bagian dari mereka tidak menunjukkan adanya akibat-akibat
yang lebih Ian jut, sedang ~bagian yang lain berlanjut dengan
akibat-akibat yang serius perti hepatitis kronik aktip (HKA)
dan sirosis; Bahlcan untuk negara-negara maju infeksi HCV ini
bertanggung jawab untuk terjadinya kasus-kasus hepatoma,
sedang untuk negara-negara berkembang (endemik hepatitis-B)
selain infeksi HCV sendiri bertanggung jawab untuk timbulnya
hepatoma, juga adanya superinfeksi HCV pada individu-indi-
vidu yang terinfeksi virus hepatitis-B (VHB) akan memudahkan
terjadinya hepatoma.
KEPUSTAKAAN
1.
Alter HJ, RH Purcell, PV Holland, SM Feinstone, AG Morrow, Y Morit-
sugu. Clinical and serological analysis of transfusion-associated hepatitis.
Lancet 1975; 2: 838-841.
2.
Yoshizawa H, Y Akahane, Y Itoh. Virus-like particles in plasma fraction
(fibrinogen) and in the circulation of apparently healthy blood donors
capable of inducing non-A, non-B hepatitis in human and chimpanzees.
Gastroenterol 1980; 79:512-520.
3.
Meyers JD, JL Dienstag, RH Purcell, ED Thomas, KK Holmes. Parana
.
-
ally transmitted non-A,non-B hepatitis : An epidemic reassesed. Ann
intern med 197; 87: 57-9.
4.
Craske J, N Dilling, D Stem. An outbreak of hepatitis associated with
intravenous injection of factor-VIII concentrate. Lancet 1975; 2: 221-223.
5.
Gerber AR, SJ Englander, D Selvey at aL An outbreak of non-A, non-B
hepatitis associated with the infusion of a commercial factor-DC complex
during cardiovascular surgery. Vox sang 1990; 58: 270-275.
6.
Williams PE, PL Yap, J Gillon, RJ Crawford, SJ Utbaniak, G Gales.
Transmission of non-A, non-B hepatitis by PH4-treated intravenous
immunoglobulin. Vox Sang 1989; 57: 15-8.
7.
Gerety RJ, M Elaine-Eyster. Hepatitis among hemophiliacs. In: RJ Gerety
ed. Non-A, non-B hepatitis. N York. Accad Press 1981 : 97-117.
8.
Stevens CE, PE Taylor, J Pindyck et al. Epidemiology of hepatitis C virus:
A preliminary study in volunteer blood donors. JAMA 1990; 263: 49-53.
9.
HollingerFB. Non-A, non-B hepatitis viruses. In: BN Field, DM Knipe 2
nd
ed. Virology, vol 2. N York: Ravens Press 2: 2239-2273.
10.
Seeff LB, EC Wright, HJZimmennan, RW McCollum, Members of the
VA Cooperative Studies Group. VA cooperative study of postransfusion
hepatitis,1969-1974: Incidence and characteristics of hepatitis and
responsible risk factors. Am J Med Sci 1975; 270: 355-362.
11.
Aach RD, JJ Lander, LA Sherman et al. Transfusion-transmitted viruses:
Interim analysis of hepatitis among transfused and nontransfused patients.
In: Vyas GN, SN Cohen and R Schmid, ed. Viral Hepatitis. Philadelphia:
Franklin Institute Press 1978 : 383-396.
12.
Stevens CE, RD Aach, FB Hollinger at al. Hepatitis B virus antibody in
blood donors and the occurence of non-A, non-B hepatitis in transfusion
recipients. Ann Intern Med 1984; 101: 733-8.
13.
Koziol DE, PV Holland, DW Ailing. Antibody to hepatitis B core antigen
as a paradoxical marker for non-A,non-B hepatitis agents in donated blood
Ann Intern Med 1986; 101: 733-8.
14.
Aach RD, W Szmuness, JW Mosley at al. Serum alanine aminotransferase
of donors in relation to the risk of non-A, non-B hepatitis in recipients: the
Transfusion-Transmitted Viruses Study. N EnglJMed 1981; 304:989-994.
15.
Alter HJ, RH Purcell, PV Holland, DW Ailing, DE Koziol.
Donortransaminase and recipient hepatitis: Impact on blood transfusion
services. JAMA 1981; 246: 630-4.
16.
Choo QL, G Kuo, AJ Weiner, LR Overby, DW Bradley, M Houghton.
Isolation of a cDNA clone derived from a blood-borne non-A, non-B viral
hepatitis genome. Sci 1989; 244: 359-362.
17.
Suwarso. Diagnosa Hepatitis-C. In Press; 1993.
18.
Giovanninni M, A Tagger, ML Ribero, G Zuccotti, L Pogliani, A Grassi, P
Ferroni, A Fiocchi. Maternal-infant transmission of hepatitis C virus and
HIV infections : A possible interaction [letter]. Lancet 1990; 335:1166-1166.
19.
Reesink 11W, VC Wong, HM Ip, CL Van-Der-Poel, PJ Van-Exel-Oehlers,
PNLeile. Mother-to-infant transmission and hepatitis C virus. Lancet 1990;
335: 1216-7.
20.
Thaler MM, CK Park, DV Landers at al. Vertical transmission of hepatitis
C virus. Lancet 1991; 338: 17-8.
Putting pen to paper lights more fires than matches ever will
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994
12