TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Regresi Aterosklerosis
Dr. Sunoto Pratanu
Lab-UPF Ilmu Penyakit Jantung Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
RSUD Dr. Sutomo, Surabaya
PENDAHULUAN
Aterosklerosis adalah penyakit yang pada saat ini merupa-
kan masalah kesehatan paling besar, terutama untuk negara-
negara yang sudah maju dan negara-negara yang sedang menuju
ke arah negara industri. Cara hidup modern membawa akibat
timbulnya faktor-faktor risiko Aterosklerosis, yang manifestasi-
nya terutama ialah penyakitjantung koroner dan penyakit pem-
buluh darah otak. Klimaks perjalanan penyakit Aterosklerosis
ialah serangan jantung dan serangan otak yang berakhir fatal
atau hidup dengan morbiditas yang tinggi.
Hingga beberapa tahun terakhir ini para ahli masih me-
ragukan apakah suatu proses aterosklerosis bisa mengalami
penyembuhan atau regresi. Pada umumnya dianggap bahwa
Aterosklerosis ialah suatu penyakit yang ireversibel dan pada
umumnya progresif.
Akhir-akhir ini, penelitian menunjukkan bahwa proses
aterosklerosis dalam banyak hal bisa dihentikan dan bahkan
dibuktikan bahwa aterosklerosis bisa mengalami regresi, suatu
impian di masa lalu yang kini bisa menjadi kenyataan.
PROSES ATEROSKLEROSIS
Proses aterosklerosis diawali pada masa kanak-kanak dan
manifes secara klinis pada usia menengah dan lanjut. Proses ini
terutama mengenai arteri-arteri berukuran sedang, yaitu arteri
koronaria, karotis, basilar, vertebral, iliaka, femoralis, dan se-
bagainya. Arteri-arteri yang besar, seperti aorta biasanya meng-
alami aneurisma sebagai penyulit. Pada umumnya arteri yang
paling berat terkena ialah arteri koronaria.
1) Bentuk lesi pada aterosklerosis
Proses aterosklerosis terbentuk dalam intima arteri. Ateroma
yang tumbuh cukup besar akan menonjol ke dalam lumen arteri
dan menyebabkan stenosis pada arteri tersebut.
Dalam fase pertumbuhannya, lesi-lesi Aterosklerosis dibagi
menjadi:
a) Fatty streak
Lesi ini mulai tumbuh pada masa kanak-kanak,
makroskopik berbentuk bercak berwarna kekuningan, yang
terdiri dari sel-sel yang disebut foam cells. Sel-sel ini ialah sel-
sel otot polos dan makrofag yang mengandung lipid, terutama
dalam bentuk ester cholesterol.
b) Fibrous plaque
Lesi ini berwarna keputihan dan sudah menonjol ke dalam
lumen arteri. Fibrous plaque berisi sejumlah besar sel-sel otot
polos dan makrofag yang berisi cholesterol dan ester cholesterol,
di sampingjaringan kolagen danjaringan fibrotik, proteoglikan,
dan timbunan lipid dalam sel-sel jaringan ikat.
Fibrous plaque biasariya mempunyai fibrous cap yang ter-
diri dari otot-otot polos dan sel-sel kotagen. Di bagian bawah
fibrous plaque terdapat daerah nekrosis dengan debris dan tim-
bunan ester cholesterol.
c) Complicated lesion
Lesi ini merupakan bentuk lanjut dari ateroma, yang
disertai kalsifikasi, nekrosis, trombosis, dan ulserasi.
Dengan membesarnya ateroma, dinding arteri menjadi
lemah, sehingga menyebabkan okiusi arteri.
2) Sel-sel yang terlibat dalam proses aterosklerosis
Sel-sel yang terlibat langsung dalam proses aterosklerosis
ialah:
a) Sel-sel otot polos
Disajikan pada Simposium Prevention and Intervention in Atherosclerosis Issues
and Benefits, Surabaya 30 September 1993.
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995
14
Sel-sel otot polos merupakan unsur paling penting dalam
pembentukan ateroma. Sel-sel ini berasal dari media dan berpro-
liferasi ke dalam intima. Sel-sel ini mempunyai sifat mitogenik
dan proliferatif, dan sifat menumpuk lipid sehingga terbentuk
foam cells. Sifat-sifat sel-sel ini dipengaruhi oleh stimuli dari
luar melalui reseptor-reseptor khusus, misalnya terhadap LDL,
insulin, faktor-faktor pertumbuhan (misalnya PDGF =
PlateletDerived Growth Factor), dan sebagainya.
b) Endotel
Endotel arteri merupakan lapisan barrier dan pelindung
utama dinding pembuluh darah terhadap segala pengaruh buruk
yang terutama berasal dari darah. Sifat pelindung ini antara lain
dimiliki melalui sifat anti-trombogenik, membentuk prostaglan-
din PGI2, adanya lapisan heparin, mengeluarkan plasminogen,
mengeluarkan angiotensin converting enzyme, PDGF, dan se-
bagainya. Suatu injury terhadap endotel akan menyebabkan
macam-macam mekanisme yang memacu aterogenesis.
c) Makrofag
Sel-sel makrofag berasal dari monosit dan peredaran darah
yang menetap dalam intima, berfungsi sebagai pembersih terha-
dap benda asing. Dalam pembersihan lipid, sel-sel ini
menimbun lipid dan menjadi foam cells. Makrofag merupakan
penggerak awal dan aterosklerosis, terutamadengan sekresi
macam-macam faktor pertumbuhan, antara lain:
1) PDGF, yang memacu mitosis pada sel-sel otot polos dan
fibroblast.
2) Interleukin-1, mitogenik untuk fibroblast.
3) Fibroblast Growth Factor (FGF), mitogenik untuk endotel.
4) Epidermal Growth Factor (EGF), memacu pertumbuhan
sel-sel epitel.
5) Transforming Growth Factor beta (TGF beta), bersama
dengan faktor-faktorpertumbuhan yang lain memacu proliferasi
sel-sel dalam berbagai jaringan.
d) Trombosit
Trombosit sangat penting untuk terjadinya trombosis, se-
hingga sangat berperan dalam aterogenesis terutama pada sta-
dium complicated lesion. Trombositjuga penting dalam proses
aterogenesis karena dapat mensekresi faktor-faktor pertumbuh-
an seperti yang dikeluarkan oleh makrofag, bila trombosit
mengalami agregasi.
PATOGENESIS ATEROSKLEROSIS
Hingga kini patogenesis Aterosklerosis masih merupakan
teori. Ada dna buah teori yang kini banyak dianut:
1) Response-to-injury hypothesis
Dalam hipotesis ini peranan endotel dianggap yang ter-
penting, yaitu sebagai barrier dan pelindung dinding arteri.
Bila terjadi injury terhadap endotel, maka kerusakan fungsi
endotel menyebabkan terpacunya aterogenesis.
2) Monoclonal hypothesis
Dalam hipotesis ini diduga bahwa asal mula ateroma ialah
adanya satu set otot polos yang mengalami proliferasi seperti
halnya neoplasma.
PERANAN DISLIPIDEMIA DALAM ATEROGENESIS
Telah lama diketahui dari hasil-hasil studi epidemiologi
bahwa gangguan profil lemak darah mempunyai hubungan
yang kuat dengan aterosklerosis.. Sebagian besar cholesterol
dalam darah dibawa oleh LDL (Low Density Lipoprotein),
sehingga pada dasarnya LDL yang mempunyai peranan
mengantarkan dan menumpuk cholesterol dalam foam cells.
Sebagian besar trigliserid dalam darah dibawa oleh VLDL
(Very Low Density Lipoprotein) dari khilomikron. HDL (High
Density Lipoprotein) membawa Iebih kurang 20% cholesterol
dalam darah. Karena HDL dalam metabolismenya bersifat
membawa cholesterol dan perifer ke hati, untuk dimetabolisir
lebih lanjut, maka HDL bersifat anti-aterogenik.
Semua lipoprotein yang beredar dalam darah, yaitu : chilo-
micron, VLDL, IDL (Intermediate Density Lipoprotein), LDL,
HDL, masing-masing terdiri dari lipid dan apolipoprotein. Masing-
masing lipoprotein mempunyai susunan lipid dan apolipoprotein
yang khusus. Sebagai contoh : Apo-B 100 adalah konstituen
penting dalam LDL, sehingga peranan LDL dan Apo-B100 ialah
sebanding. Apo-Al ialah apolipoprotein yang penting dalam
HDL, sehingga peranan Apo-A 1 dan HDL ialah sebanding.
Definisi dislipidemia bervariasi tergantung berbagai peneliti.
Batas-batas harga normal umum ialah:
Total cholesterol : kurang dari 200 mg%
Trigliserid : kurang dari 250 mg%
LDL-cho : kurang dari 140 mg%
HDL-cholesterol : lebih dari 40 mg%.
Banyak peneliti menganggap bahwa nilai perbandingan
antara LDL : HDL atau cholesterol total : HDL merupakan pre-
diktor yang lebih baik. Nilai yang dianggap risiko rendah untuk
aterosklerosis ialah LDL : HDL kurang dari 3.
MASALAH REGRESI ATEROSKLEROSIS
Studi-studi untuk mengikuti perkembangan proses atero-
skeloris mula-mula dilakukan pada binatang percobaan. Peneli-
tian pada manusia yang mendapatkan adanya regnesi
aterosklerosis sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 1960-an,
tetapi sangat terbatas dari dan sudut nilai penelitian kurang
memadai. Dengan adanya kemajuan teknologi terutama
angiografi, maka studi proses perkembangan aterosklenosis
pada manusia dapat dilakukan dengan lebih baik.
1) Regresi Aterosklerosis pada binatang
Studi-studi tentang regresi aterosklerosis telah lama dilaku-
kan pada binatang-binatang percobaan, biasanya babi atau kera.
Bila binatang percobaan diberi diet tinggi cholesterol, maka akan
timbul Aterosklerosis. Bila kemudian diet diubah menjadi diet
yang rendah cholesterol, maka proses Aterosklerosis menghi-
lang. Pada lesi-lesi yang lanjutpun, pengembalian diet menjadi
rendah cholesterol dapat menghilangkan ateroma. Dalam hal ini
yang dapat diserap bukan saja cholesterol dan ester cholesterol,
bahkan sel-sel otot polos dan jaringan fibrotik dan kolagen.
Wissler dkk mendapatkan bahwa proses atenosklerosis
dapat ditimbulkan dengan diet tinggi cholesterol selama 1
tahun dan dapat menghilang dalam waktu yang sama bila diet
dinormalkan kembali.
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995 15
2) Regresi Aterosklerosis pada manusia
Banyak penelitian yang secara bermakna menunjukkan
bahwa dengan mengubah gaya hidup dan menurunkan kadar
cholesterol dan LDL, kematian karena jantung dan serangan
infark miokard dapat diturunkan. Hasil-hasil ini memberikan
harapan bahwa berkurangnya kematian karena jantung dan se-
rangan infark miokard mungkin disebabkan karena terhentinya
proses Aterosklerosis atau bahkan terjadinya regresi pada
proses Aterosklerosis.
Untuk meneliti secara langsung apakah telah terjadi peng-
hentian atau bahkan regresi pada ateroma, diperlukan penelitian
terkontrol yang dapat mengikuti perubahan-perubahan lesi
aterosklerosis pada segmen-segmen arteri-arteri tertentu. Pada
mulanya pengukuran stenosis suatu arteri dilakukan dengan
arteriografi biasa. Kemudian dipakai cara arteriografi yang se-
cara kuantitatif dan objektif dapat mengukur stenosis, yaitu
CAAS (Computer Assisted Arteriographic System).
Beberapa tahun akhir-akhir ini telah dilakukan studi-studi
terkontrol yang secara bermakna membuktikan bahwa proses
aterosklerosis bisa mengalami regresi. Dalam studi itu didapat-
kan bahwa regresi Aterosklerosis bisa diperoleh bila terutama
total cholesterol dan LDL diturunkan sedangkan HDL dinaik-
kan. Cara-cara yang dipakai biasanya ialah mengubah gaya
hidup dan pemberian obat-obatan, terutama obat-obat antilipid.
Dalam penelitian-penelitian itu, suatu proses aterosklerosis
bisa mengalami progresi, terhenti, atau regresi. Pada seorang
penderita bisa terjadi progresi, terhenti, dan regresi secara ber-
samaan.
Dari studi-studi yang secara bermakna menunjukkan
adanya regresi Aterosklerosis dapat disebutkan :
Studi Aterosklerosis dengan perubahan gaya hidup
a) Leiden Interventional Trial (1982)
Dalam studi ini diteliti hubungan diet, lipoprotein, dan
progresi Aterosklerosis pada 39 penderita angina pektoris yang
pada arteriografi koroner menunjukkan sedikitnya satu lesi de-
ngan stenosis 50% atau lebih. Intervensi yang dilakukan ialah
diet vegetarian yang mengandung cholesterol kurang dari 100
mg perhari, perbandingan lemak tak jenuh dengan lemak jenuh
lebih dari 2. Para penderita dilarang merokok dan dianjurkan
berolahraga. Evaluasi akhir dilakukan setelah 2 tahun.
Dari 39 penderita, 21 mengalami progresi lesi, sedangkan 18
tidak mengalami progresi lesi. Progresi lesi terdapat pada pen-
derita-penderita dengan rasio total cholesterol : HDL-cholesterol
lebih dari 6.9, sedangkan penderita-penderita dengan rasio
kurang dari 6.9, tidak terjadi progresi aterosklerosis.
b) Lifestyle Heart Trial (1990)
Dalam studi ini diteliti 28 penderita yang diberikan per-
lakuan perubahan gaya hidup yaitu : diet vegetarian rendah
lemak, pengendalian stres, latihan olahraga, dua kali seminggu
pertemuan sosial. Kadar lemak makanan 10%, terdiri dari 50%
lemak takjenuh. Tidak diberikan obat antilipid. Sebagai kelom-
pok kontrol ialah 20 orang penderita tanpa perlakuan khusus.
Setelah I tahun, evaluasi menunjukkan perbandingan ke-
lompok eksperimen dan kelompok kontrol untuk total choles-
terol, LDL, dan HDL ialah 19%, 3 1%, dan 0%. Berat badan
dan tekanan darah menurun pada kelompok eksperimen. Fre-
kuensi serangan angina menurun pada kelompok eksperimen
(90%) dan meningkat pada kelompok kontrol (160%).
Progresi aterosklerosis terjadi 42% pada kelompok eksperimen
dan 53% pada kelompok kontrol. Regresi terjadi 82% pada
kelompok eksperimen dan 18% pada kelompok kontrol.
Studi Aterosklerosis dengan obat-obat antilipid
a) Cholesterol-Lowering Atherosclerosis Study (CLAS, 1987)
CLAS ialah suatu studi besar tentang perkembangan
aterosklerosis dengan pemakaian obat antilipid kombinasi
colestipol dan niacin. Studi ini meliputi 162 penderita penyakit
jantung koroner yang telah mengalami bedah jantung pintas
koroner. Semua penderita ialah pria yang tidak merokok dan
berumur antara 40 hingga 59 tahun. Delapan puluh penderita
diberi diet rendah lemak/rendah cholesterol dan diberikan
colestipol dan niacin, sedangkan 82 penderita lainnya hanya
diberikan plasebo dan diet rendah lemak/rendah cholesterol.
Penilaian akhir dilakukan setelah 2 tahun dengan meng-
gunakan arteriografi yang dibacakan secara visual oleh suatu
panel para ahli yang memberi skor untuk progresi, terhenti,
atau regresi. Arteri-arteri koroner ash dinilai terpisah dari
pembuluh pembuluh darah yang dicangkok (pintas).
Ternyata pada kelompok eksperimen terjadi penurunan total
cholesterol sebesar 26%, penurunan LDL 43%, dan peningkatan
HDL 37% bila dibandingkan dengan kelompok kontrol. Pada
kelompok eksperimen 16.2% mengalami regresi, dibandingkan
3.4% pada kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen 45%
tidak mengalami progresi, dibandingkan dengan 46.6% pada
kelompok kontrol. Lesi baru pada arteri koroner ash ditemukan
sebesan 10% pada kelompok eksperimen dibandingkan dengan
22% pada kelompok kontrol. Lesi baru pada pembuluh darab
pintas terdapat 24% pada kelompok eksperimen dibandingkan
dengan 39% pada kelompok kontrol.
b) Familial Atherosclerosis Treatment Study (FATS, 1990)
Studi ini meneliti masalah regresi aterosklerosis pada 146
laki-laki dengan umur kurang dari 62 tahun yang mempunyai
penyakit jantung koroner dan kadar apolipoprotein B yang tinggi,
yaitu lebih dari 125 mg%, dan riwayat keluarga yang kuat untuk
penyakit kardiovaskuler. Seratus duapuluh pendenta mengikuti
penelitian ini secara lengkap selama 2,5 tahun, yang dibagi men-
jadi 3 kelompok, yaitu kelompok pertama mendapat lovastatin (2
x 20mg sehari) dan colestipol (3 x l0g sehari); kelompok kedua
mendapat niacin (4 x 1g sehari) dan colestipol (3 x 10 g sehari);
dan kelompok ketiga mendapat plasebo (atau colestipol saja
bila LDL tinggi). Selain itu, semua penderita diberikan diet
rendah cholesterol dan rendah lemak, dan semua pengobatan
konvensionil untuk penyakitjantung koroner.
Sebagai hasil penelitian ini didapatkan :
Kadar LDL cholesterol berubah (dari awal) 7% pada kelompok
kontrol, 46% pada kelompok lovastatin-colestipol, dan 32%
pada kelompok niacin-colestipol.
Kadar HDL-cholesterol berubah +5% pada kelompok kontrol,
+15% pada kelompok lovastatin-colestipol, dan ÷43% pada ke-
lompok niacin-colestipol.
Progresi aterosklenosis terjadi 46% pada kelompok kontrol, 21%
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995
16
pada kelompok lovastatin-colestipol, dan 25% pada kelompok
niacin-colestipol.
Regresi terjadi 32% pada kelompok lovastatin-colestipol, 39%
pada kelompok niacin-colestipol, dan 11% pada kelompok
kontrol. Analisa multivarian menunjukkan bahwa : penurunan
kadar apolipoprotein B (LDL cholesterol), tekanan darah
sistolik, dan progresi Aterosklerosis.
Even klinik (kematian karenajantung, infark miokard,
keperluan mendesak untuk pembedahan pintas koroner) terjadi
pada 10 dari 52 penderita dari kelompok kontrol, pada 3 dan 46
penderita dari kelompok lovastatin-colestipol, dan pada 2 dan
48 penderita dari kelompok niacin-colestipol.
c ) StThomas` Atherosclerosis Regression Study (STARS, 1992)
Untuk meneliti pengaruh penurunan kadar cholesterol darah
terhadap proses aterosklerosis, dilakukan penelitian terhadap 90
penderita laki-laki dengan angina pektoris atau infark miokard
lama, yang mempunyai kadar cholesterol plasma lebih dari 6.0
mMolIl dan berumur kurang dari 66 tahun. Evaluasi ukuran lesi
ateroma dilakukan dengan angiografi kuantitatif. Penderita-
penderita dibagi menjadi 3 kelompok yaitu : kelompok U (Usual
care) = tanpa perlakuan khusus, kelompok D (Dietary interven-
tion) diet khusus, kelompok DC (Diet + Cholestyramin) : diet
khusus ditambah cholestyramin 2 x 8 g sehari. Evaluasi di-
lakukan setelah 39 bulan, dengan hasil-hasil sebagai berikut:
Kadar cholesterol plasma rata-rata ialah 6.93 pada kelompok U,
6.17 pada kelompok D, dan 5.56 mMol/l pada kelompok DC.
Progresi Aterosklerosis terdapat 46% pada kelompok U, 15%
pada kelompok D, dan 12% pada kelompok DC.
Regresi Aterosklerosis terdapat 46% pada kelompok U, 38%
pada kelompok D, dan 33% pada kelompok DC.
Diameter lumen rata-rata (MAWS = Mean Absolute With of the
coronary Segments) menurun 0.201 mm pada kelompok U, me-
ningkat 0.003 mm pada kelompok D, dan meningkat 0.103 mm
pada kelompok DC.
Dari studi ini dapat disimpulkan bahwa intervensi diet saja
sudah menurunkan progresi dan meningkatkan regresi ateroskle-
rosis, menurunkan LDL cholesterol dan menurunkan rasio LDL/
I-IDL cholesterol, dan penambahan cholestyramin menambah
lagi regresi aterosklerosis, yang semuanya ini disertai berku-
rangnya even-even kardiovaskuler.
Studi Aterosklerosis dengan obat-obat penyekat kalsium
Beberapa penelitian tentang proses aterosklerosis dengan
pemberian penyekat kalsium telah dilakukan. Dua buah peneli-
tian yang perlu disebut ialah :
a)
International Nifedipine Trial on Antiatherosclerotic
Therapy (INTACT, 1990) oleh Lichtlen dkk yang meneliti 173
orang dengan nifedipin dibandingkan dengan 175 orang dengan
plasebo. Evaluasi dilakukan dengan angiografi kuantitatif.
Hasil untuk regresi aterosklerosis masih diperdebatkan.
b) Waters dkk (1990) meneliti 168 orang dengan nicardipine
dibandingkan dengan 167 orang dengan plasebo. Evaluasi
dilakukan dengan angiografi kuantitatif. Hasil untuk regresi
aterosklerosis masih diperdebatkan.
RINGKASAN
Telah dibahas secara singkat masalah Aterosklerosis sebagai
pendahuluan, bentuk-bentuk lesinya, mekanisme terjadinya, dan
peranan penting dari lipoprotein dalam proses Aterosklerosis.
Dikemukakan studi-studi beberapa tahun akhir-akhir ini yang
melaporkan secara bermakna terjadinya regresi Aterosklerosis
bila kadar LDL cholesterol diturunkan dan kadar HDL choles-
terol ditingkatkan, atau rasio LDL/HDL cholesterol diturunkan.
Cara merubah profil lemak darah ini bisa dilakukan dengan diet
dan perubahan gaya hidup lainnya. Hasilnya lebih jelas bila
ditambahkan obat-obat antilipid seperti niacin, colestipol, dan
obat-obat golongan HMG-CoA reductase inhibitor. Ternyata
juga bahwa regresi Aterosklerosis disertai dengan menurunnya
gejala klinik (angina) dan even-even kardiovaskuler seperti se-
rangan infark miokard dan kematian karena jantung.
KEPUSTAKAAN
1. Arntzenius AC, Kromhout D, Barth JD, et al. Diet, lipoproteins and the
progression of coronary atherosclerosis. The Leiden Intervention Trial.
New Engl J Med 985; 312: 80711.
2. Blankenhorn DH, Johnson RL, Nessim SA et al. The cholesterol lowering
atherosclerosis study (CLAS). Controlled Clin Trials 1987; 8: 35487.
3. Blankenhorn DH, Nessim SA, Johnson RL et al. Beneficial effects of
combined colestipol-niacin therapy on coronary atherosclerosis and coro-
nary venous bypass grafts. JAMA 1987; 257: 3233340.
4. Blankenhorn DH. Atherosclerosis regression in humans. Atherosclerosis
Rev 1990; 21: 15157.
5. Brensike JF, Levy RI, Kelsey SF et al. Effects of therapy with cholestyra-
mine on the NHLBI Type II Coronary Intervention Study. Circulation
1984; 69: 31324.
6. Brown G, Albers JJ, Fischer LD et al. Regression of coronary artery disease
as a result of intensive lipid lowering therapy in men with high levels of
apolipoprotein B. New EngI J Med 1990; 323: 128998,
7. Brown BG, Adams WA, Albers JA et al. Quantitative arteriography in
coronary intervention trials : Rationale, study design, and lipid response in
the University of Washington Familial Atherosclerosis Study (FATS).
Pathobiology of the Human Atherosclerotic Plaque. London, Springer-
Verlag, 1990.
8. Davies MJ, Krikler DM, Katz D. Atherosclerotis: Inhibition or regression
as therapeutic possibilities. Br. Heart J 1991; 65: 30210.
9. de Feyter PJ, Serruys PW, Davies Ini et al. Quantitative coronary angio-
graphy to measure progression and regression of coronar atherosclerosis:
value, limitations, and implications for clinical trials. Circulation 1991; 84:
41223.
10. Frick MH, Elo C, Haapa K et al. Helsinki Heart Study Primary-prevention
trial with gemfibrozil in middle aged men with dyslipidemia. Safety of
treatment changes in risk factors, and incidence of coronary heart disease,
N Engl J Med 1987; 317: 23744.
11. Gould KL, Ornish D, Kikeeide R et al. Improved stenosis geometry by
quantitative coronary arteriography after vigorous risk factor modification.
Am J Cardiol 1992; 69: 84553.
12. Kane JP, Malloy MJ, Ports TA et al. Regression of coronary atherosclerosis
dunng treatment of familial hypercholesterolemia with combined drug
regimens. JAMA 1990= 264: 300712.
13. Levy RI, Brensike JF, Epstein SE et al. The influence of changes in lipid
values induced by cholestyramine and diet on progression of coronary
artery disease: Results of the NHLB I type II coronary intervention study.
Circulation 1984; 69: 32537.
14. Lichtlen PR, Hugenholtz PG, Rafflenbeul W et al. Retardation of angio-
graphic progression of coronary artery disease by nifedipine. Results of the
International Nifedipine Trial on Antiatherosclerotic Therapy (INTACT)
Lancet 1990; 335: 110913.
15. Mack WJ, Blankenhorn DH. Factors influencing the formation of new
human coronary lesions = Age, blood pressure and blood cholesterol. Am J
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995 17
Public Health 1991; 81: 118084.
16. Ornish D, Brown SE, Schwerwitz LW etal. Can lifestyle changes reverse
coronary heart disease ? Lancet 1990; 336: 12933.
17. Waters D, Lesperance J, Francetich M et al. A controlled clinical trial to
assess the effect of a calcium channel blocker on the progression of
coronary atherosclerosis. Circulation 1990; 82: 194053.
18. Watters D, Freedman D, Lesperance Jet al. Design features of a controlled
clinical trial to assess the effect of a calcium entry blocker upon the
progression of coronary artery disease. Controlled Clin Trials 1987; 8:
21642.
19. Watts GF, Lewis B, Brunt JNH et al. Effects on coronary artery disease of
lipid-lowering diet, or diet plus cholestyramine, in the St Thomas athero-
sclerosis regression study (STARS). Lancet 1992; 339: 563-69.
20. Wissler RW, Vesselinovitch D.Can atherosclerotic plaques regress, anatomic
and biochemical evidence from nonhuman animal models. Am J Cardiol
1990; 65: 33F40F.
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995
18