HASIL PENELITIAN
Produk Bahan Alami
di Lima Apotik di Jakarta :
Suatu Tinjauan Eksploratif
Nani Sukasediati, B. Dzulkarnaen, Vincent HS Gan
Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Telah dilakukan analisis deskriptif sederhana terhadap informasi produk bahan
alami (PBA) dari 24 nama dagang PBA yang tersedia di 5 apotik di 5 wilayah DKI.
Dalam tinjauan eksploratif ini, yang dimaksud dengan PBA adalah produk sediaan jadi
(tablet, kapsul, elixir, salep, dan lain-lain) yang mengandung satu atau lebih bahan
alami, umumnya berasal dari tumbuhan.
Berdasarkan inisial nomor registrasi dari 24 jenis PBA terungkap bahwa produk
tersebut 42% terdaftar sebagai obat (D/DBL),1 produk sebagai ML dan sekitar 54%
terdaftar sebagai TR dan TL. Formula atau ramuan PBA umumnya merupakan
kombinasi dari beberapa tumbuhan dan ada pula zat kimia (1-6 jenis). Dari 24 prouk
tersebut dicatat sejumlah 45 simplisia. Sekitar 46% (11/24) PBA diserahkan kepada
konsumen berdasarkan preskripsi, di antaranya PBA dengan inisial pendaftaran TL.
Informasi yang tercantum dalam penandaan ditelaah terfokus pada maksud
pemanfaatan (claim indikasi) dan dilakukan analisis deskriptif sederhana. Analisis
tersebut mengungkapkan claim indikasi dengan ketidakjelasan manfaat empirik.
Informasi keamanan PBA pun tidak banyak diungkapkan.
Dalam kaitan dengan beberapa ketidakjelasan yang telah diungkapkan di atas,
meski produk tersebut telah beredar, disarankan agar tetap berhati-hati dalam
penggunaan dan waspada akan timbulnya hal-hal yang merugikan khususnya efek
samping jangka panjang, dan lain-lain. Di samping itu kiranya diperlukan konfirmasi
manfaat PBA dalam bentuk formula/ramuan terutama yang diserahkan berdasarkan
preskripsi.
PENDAHULUAN
Akhir-akhir ini masalah kesehatan terutama di kota-kota
besar, mulai mengarah pada penyakit bukan infeksi antara lain
akibat lingkungan pekerjaan, gizi lebih, usia lanjut, dan lain-
lain
(1)
. Selain itu muncul gejala baru dalam mengatasi masalah
kesehatan tersebut antara lain : upaya back to nature, meng-
gunakan berbagai bahan alam. Kecenderungan tersebut rupa-
nya cepat ditangkap oleh kalangan pengusaha untuk mening-
katkan pemasaran produk bahan alami antara lain obat
tradisional, suplemen makanan, berbagai sari buah atau sayuran
bentuk kapsul, bahkan di negara maju pun telah menjadi
booming business
(2)
. Berbagai klaim produk-produk tersebut
umumnya ditujukan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan
mental, meningkatkan penampilan, kebugaran usia lanjut, dan
lain-lain. Ada pula beberapa produk bahan alam yang ditujukan
untuk penyakit kronik atau degeneratif lain yang makin me-
ningkat sejalan dengan semakin tingginya harapan hidup.
Masyarakat kota metropolitan yang terpajan informasi
lebih intensif, selalu ingin fit karena persaingan keras, di lain
pihak hidup dengan gaya modern, dan mudah tergiur barang
baru, mudah menjadi korban ketidakbenaran informasi apa
saja. Mengingat hal-hal di atas, tulisan ini bermaksud me-
ngemukakan beberapa masalah berkaitan dengan informasi
produk alami guna memberi perlindungan kepada masyarakat.
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999
9
Dipresentasikan pada Simposium Perhipba IX, 12-13 Nopember 1997, UGM
Yogyakarta
Analisis dalam tinjauan ini bersifat deskriptif sederhana dimak-
sudkan guna mengungkapkan beberapa aspek yang perlu men-
dapat perhatian baik dari kalangan pengawasan dan pengaturan
maupun dari kalangan produsen dan pengguna.
METODOLOGI
Studi ini berupa eksplorasi dan kajian terhadap package
insert beberapa PBA yang dijual di beberapa apotik di Jakarta
Pemilihan apotik dilakukan secara purposif yang berlokasi di 5
wilayah DKI. Data yang dikumpulkan adalah informasi pe-
nandaan (komposisi PBA, inisial pendaftaran, indikasi, cara
penggunaan, dan lain-lain), ketersediaan PBA di apotik,
kondisi penjualan kepada pasien, pemaparan kepada penulis
preskripsi. Data dikumpulkan menggunakan formulir isian dan
melalui package insert dan penandaan (untuk PBA yang tidak
ada package insert). Analisis deskriptif sederhana terutama
ditujukan untuk mencari kesesuaian antara komposisi simplisia,
dengan indikasi, cara penggunaan dan dukungan informasi baik
empirik maupun secara eksperimental, aspek pengawasan dan
pengaturan. Informasi yang diperoleh disusun dalam tabel.
Dalam tulisan ini produk bahan alami (PBA) adalah:
sediaan jadi berbentuk padat (kapsul, tablet), setengah padat
(salep, krim) atau cair (elixir/solutio) dengan komposisi
simplisia (dan/atau ekstraknya) atau campuran simplisia (atau
ekstraknya) dengan dan tanpa bahan kimia, diberi perlakuan
seperti obat modern. Jamu berbungkus yang dikonsumsi seperti
cara empirik tidak disertakan dalam studi ini.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil analisis terhadap 24 jenis PBA dengan berbagai
bentuk sediaan, yang tersedia di 5 apotik di 5 wilayah DKI
disajikan dalam 2 bagian informasi, (a) infonmasi aspek teknik
(bentuk sediaan, simplisia, dan lain-lain) dan (b) informasi
terkait penggunaan (manfaat dan risiko).
Jumlah apotik dalam studi ini meski tidak banyak, mem-
berikan gambaran peredaran PBA di Jakarta. Daerah sekitar
apotik tersebut dihuni segmen masyarakat kelas menengah kota
metropolitan. Model masyarakat ini mungkin berbeda dengan
masyarakat di luar Jakarta. Sehingga studi ini lingkup studi ini
pun terbatas pada model masyarakat tersebut dengan berbagai
faktor yang mempengaruhi.
A. INFORMASI ASPEK TEKNIS
1) Bentuk sediaan
PBA tersedia dalam berbagai bentuk sediaan, umumnya
dikonsumsi secara oral seperti halnya obat modern. Rincian
bentuk sediaan PBA dijabarkan dalam Tabel 1. Selain bentuk
oral ada pula bentuk sediaan topikal.
Tabel 1. Rincian bentuk sediaan PBA
Bentuk sediaan
Jumlah (%) *
1. Tablet
4
(16)
2. Kapsul
10
(41)
3. Salep/krim
2
(8)
4. Larutan (sirup, gargle, drop, elixir)
8 (33)
5. Serbuk/powder
1
(4)
* Jumlah dalam kolom lebih 24, karena ada PBA tersedia lebih dari 1 bentuk
sediaan.
2) Pendaftaran dan peredaran
Selain diamati ketersediaannya di apotik, peredaran PBA
dilihat juga dari IIMS edisi 1995 dan ijin peredaran melalui
pendaftaran sediaan jadi (Tabel 2). Tabel inipun menjabarkan
sejumlah 11 PBA yang tercantum dalam EMS, berarti memiliki
akses terhadap penulis resep. EMS selama ini diasumsikan
sebagai pemberi informasi kepada penulis preskripsi tentang
jenis obat yang beredar di pasaran. Tercantumnya suatu produk
dalam IIMS dapat pula menjadi ukuran ketersediaan produk
tersebut di pasaran, meski tidak selalu demikian. Sirup I (Tabel
2) tidak tercantum dalam EMS meski terdaftar sebagai obat.
Data IIMS memang dipasok oleh produsen, sehingga dapat
dikatakan IIMS adalah ajang promosi obat kepada penulis
preskripsi.
Tabel 2. Kondisi ketersediaan, peredaran dan penjualan PBA
Kondisi PBA
Nama PBA
Tersedia
Dijual
dengan
R/
Dijual
tanpa R/
Tercantu
m di IIMS
1995
Inisial
pendaftar
an
1. A elixir
+
-
+
+
D
2. B sir
+
-
+
+
DBL
3. C cap
+
-
+
-
TR
4. D cap
+
+
-
+
TL
5. E gargle
+
-
+
+
D
6. F tab
?
?
?
-
TR
7. G pulv
+
-
+
-
TR
8. H elixir
+
+
-
+
D
9. I sir
+
-
+
-
D
10. J cap/sal/
powd
+ + - + D
11. K sir
+
-
+
+
DBL
12. L cap
+
+
+
+
D
13. M sol
+
-
+
+
DL
14. N tab
+
+
+
-
D
15. O pil
+
-
+
-
TR
16. P cap
+
-
+
-
TR
17. Q cap
+
+
+
+
TR
18. R sal
+
+
+
+
TL
19. S cap/drop
+
+
-
+
TL
20. T cap
+
+
-
+
TL
21. U cap
+
+
-
+
TL
22. V cap
+
-
+
-
TR
23. W tab
+
+
-
+
TR
24. X cap
+
-
+
-
ML
Keterangan :
TR = Obat Tradisional dalam negeri D = Obat sebelum reevaluasi
TL = Obat Tradisional luar negeri
DBL = Obat yang telah direevaluasi
Ml = Makanan luar negeri
Dl = Obat luar negeri
Tabel 3. Kondisi penjualan PBA berdasarkan pendaftaran.
Jumlah (%)
No.
Inisial pendaftaran
PBA
Dijual dengan R/ Dijual babas
1
D/DBL/DL
10* (42)
4 (16)
8 (33)
2
TR/TL
13* (54)
7 (29)
8 (33)
3
ML
1 (4)
-
1 (4)
* Jumlah tidak sesuai karena ada PBA yang dapat dijual dengan dan tanpa R/
Peredaran resmi produk dinyatakan oleh adanya nomor
pendaftaran produk bersangkutan. Semua PBA dalam Tabel 2
telah mendapat ijin resmi beredar, namun salah satu jenis di
antaranya belum tersedia di semua apotik. Dari pengamatan
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999
10
terhadap inisial pendaftaran (Tabel 3), PBA didaftarkan
dengan beberapa macam inisial nomor pendaftaran PBA. Se-
bagian PBA, sekitar 42% (10/24) terdaftar sebagai obat modern
(D/DBL/DL) terutama sebagai D yang berarti belum dire-
evaluasi. Selebihnya, sekitar
Tabel 4. Intormasi simplisia, klaim dan manfaat PBA
Nama PBA
Nama simplisia
Klaim produser
Manfaat
empirik/eksperimental
komponen simplisia
1. A elixir
Ext. Sonchus arvensis
ext. Strobilanthus crispus
obat sakit pinggang akibat
batu ginjal
diuretik, urolitiasis
2. B Sirup
Tct Cimicifugae, Tct.
Grindelia, Pimpinella, Tct
Quebracho, Tct Thymi, Saponin,
NaBr, Ephedrin, Mentol,
Eucalyptus
obat batuk
ekspektoran (ext. Thymi)
sakit tenggorokan (Tct.
Cimicifugae)
3. C kapsul
penghancur batu ginjal
diuretik, urolitiasis
4. D kapsul
Ext. Curcuma zanthorhiza,
hepatoprotektor
Ext.
Sylibum
Marianum
5. E gargle
Piper betle, Radix Liquiritiae
obat sariawan
adstringent
6. F tablet
Attapulgit, Psidii folii, Curcuma
domestica
antidiare adstringent
7. G pulv
Glyzirrhizae, Sophorae, Indigo
pulv, Calcitum
obat sakit tenggorok
(?)
8. H elixir
Ext. Berberis, Ext. Rubiae, Ext.
Saxifragae, Lithum, Mg
borosilikat, Na fosfat
penghancur batu ginjal mengatasi
radang
(Saxifragae)
9. I sirup
Hibiscus, Abrus prec., Mentha
arv., Piper betle, Zingiber off.,
Euphorb hirta, Eletaria cardam
Eugen. Car
obat batuk, asma, masuk
angin, dan lain-lain
antiradang, analgetik,
anestetik lokal, pendingin
tenggorokan (Menta arv.)
10. J sal/kap
Ext. Centella asistica
pencegah koloid
(?)
11. K sirup
Tct.
Grindelia,
Pimpinella,
Primulae, Rosae, Ext. Thymi
obat batuk
ekspektoran (Ext. Thymi)
12. L kapsul
Hexamin, Na salisilat, Strob
crispus Sonchus arvensis,
Orthosiph stam, Phyl. niruri
penghancur batu ginjal
diuretik, antiseptik saluran
kencing
13. M sol.
Ol. Cariophylli, Kreosot
obat sakit gigi
anestetik lokal
14. N tablet
Orthosiphon folia
diuretik melancarkan kencing
15. O kapsul
Fol.
Andrographis,
Cortex
Alstonia, Leuc. glauca, Phas.
Radiatus
obat kencing gula, tekanan
darah tinggi, rematik, dan
lain-lain
Obat kencing gula
16. P kapsul
Guazuma fol. Marraya panic,
Sonchus arvensis
antikolesterol
menurunkan bobot badan
mencit, diuretik
17. R kapsul
Kurkumin, Mi. A kurkuma
antirematik, met. lemak
18. Q salep
Rhus
toxidendron,
Ledum
ramulus, Symphitum herba, Ol.
Pini pumil
antirematik topikal
(?)
19. S kap/drop Frimulae flos cum Calycibus,
Gentianae radix, Sambuci flos,
Rumicis herba, Verbenae herba
radang akut dan menahun
di sekitar hidung,
pendukung antibakteri
analgetik antiinflamasi
(Sambuci flos. Primulae
radix), kongesti (Verbenae
herba) (Verbaaae
20-22 TUV
kapsul.
Eks. Ginkgo biloba
meredakan gejala akibat
gangguan peredaran darah
otak, meningkatkan daya
ingat, pendengaran,
penglihatan
mengatasi insufisiensi
serebral (Egb 761), anti
PAF (LI 760)
23. w kapsul
Tribulus terestris fructi
memperbaiki libido pria,
mada ereksi,
spermatogenesis
(?)
24. X kapsul
Ginger extract
Antirematik
Analgetik
54% (13/24) terdaftar sebagai Obat tradisional (TR/TL) dan 1
produk sebagai suplemen makanan (ML). Sebagian dari produk
tersebut dijual secara bebas, dan sebagian lain berdasarkan
preskripsi. Tabel 2 dan 3 juga menampilkan gambaran kondisi
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999 11
penjualan dan ijin peredaran melalui pendaftaran dan adanya
TR/ TL yang dipreskripsi 7 PBA (29%) dari 11 PBA (45%).
Apapun bentuk sediaan yang digunakan oleh pasien atau
disuruhgunakan oleh penulis preskripsi, sampai saat ini tetap
perlu memenuhi persyaratan keamanan dan khasiat
(4)
. Sedang-
kan PBA mengandung komponen tanaman obat, yang masih
sulit memenuhi persyaratan khasiat dan keamanan obat
modern.
3) Komposisi PBA
Komposisi PBA seringkali bukan hanya bahan alam
(Tabel 4). Sebagian PBA, 21% (5/24), juga mengandung zat
kimia dan terdaftar sebagai obat (D/DBL/DL). Jika PBA,
dalam wujud formula atau ramuan ini, belum jelas diungkap-
kan khasiat dan keamanannya, maka tidak etis digunakan pada
manusia, sekalipun merupakan obat tradisional
(3)
. Sejauh ini
bukti empirik maupun eksperimental umumnya berasal dari
tanaman tunggal dan sejauh ini konfirmasi efek simplisia
tanaman obat masih pada tahap eksperimental pada hewan per-
cobaan. Untuk itupun tetap perlu diingat adanya diskrepansi
antara efek pada hewan percobaan dan pada manusia. Tragedi
thalidomide merupakan akibat ketidaksamaan ramalan efek
pada spesies berbeda.
Seluruh simplisia dalam studi berjumlah sekitar 45 simpli-
sia dan jumlah simplisia tiap PBA berkisar antara 1-8 item baik
sebagai simplisia atau ekstraknya. Ada 8 PBA yang me-
ngandung 1 jenis simplisia atau ekstrak (C, J, N, T, U, V, W,
X). Akan tetapi tidak berarti merupakan single component.
Kandungan ekstrak dari satu spesies tanaman dapat berbeda
baik jumlah dan jenisnya. Kandungan ekstrak ginseng (Panax
ginseng) misalnya, sangat bervariasi tergantung faktor usia,
iklim, musim waktu panen, habitat, bagian badan ginseng
(bagian di atas atau di bawah tanah) dan metode ekstraksi
(4,5)
.
Kandungan zat aktif paeoniflorin dari sekitar 12 sampel sim-
plisia (akar) peony yang banyak diperdagangkan di Hongkong,
bervariasi antara 0,01%-4,75%, dan 7 sampel di antaranya
tidak mencapai 2%, yang menjadi persyaratan Chinese
Pharmacopoeia
(6)
.
Pada Tabel 4 dapat pula diamati beberapa simplisia yang
hanya disebutkan sebagai nama genus tanpa nama spesies.
Guna keperluan kontrol kualitas dari aspek pengawasan, pem-
bakuan simplisia memerlukan nama lengkap simplisia yang
diramu. Informasi dalam package insert, perlu menyebut hal
tersebut secara jelas, meskipun belum menjamin apakah
simplisia tersebut memiliki spesifikasi yang sama dari batch ke
batch, seperti halnya ginseng dan peony.
B. INFORMASI RISIKO DAN PENGGUNAAN
Tabel 5 menunjukkan klaim indikasi PBA oleh produsen
berdasarkan penandaan antara lain package insert dan dikaji
terhadap ijin peredaran dan kondisi penjualan.
Klaim dalam tabel ini cukup bervariasi mulai dari penyakit
yang self diagnosed/self limiting, antara lain batuk, sariawan,
diare, sampai penyakit yang diketahui melalui diagnosis pro-
fesional, antara lain diabetes, insufisiensi serebral, kerusakan
hepar, hiperlipidemia, dan lain-lain. Dari kondisi penjualan
kepada konsumen, 11 PBA yang diserahkan dengan resep
memang ditujukan untuk penyakit yang tidak self diagnosed.
Tabel 5. Klaim indikasi PBA oleh produsen terhadap kondisi penjualan
dan pendaftaran.
Nama PBA
Klaim indikasi
Pen-
daftaran
Dengan
R/
Tanpa
R/
1. A elixir
Obat
sakit
pinggang
akibat batu ginjal
D - +
2. B sirup
Obat batuk
DBL
-
+
3. C cap
Penghancur batu ginjal
TR
-
+
4. D cap
Hepatoprotektor
TL
-
+
5. E sirup
Obat sariawan
D
-
+
6. F tab
Antidiare
TR
?
?
7. G powd.
Obat sakit tenggorok, dan
lain-lain
TR - +
8. H elixir
Penghancur batu ginjal
D
+
+
9. I sirup
Obat batuk, asma, masuk
angin, dll.
D - +
10. J cap/sal/powd Pencegah keloid
D
+
-
11. K sirup
Obat batuk
DBL
-
+
12. L cap
Penghancur batu ginjal
D
+
+
13.
M
sol
Obat sakit gigi, gusi
bengkak
DL - +
14. N tab
Diuretik
D
+
+
15. O cap
Obat
kencing
gula,
tekanan darah tinggi,
rematik dan lain-lain
TR - +
16. P cap
Antikolesterol
TR
-
+
17. Q cap
Antirematik,
metab.
Lemak
TR + +
18. R salep
Antirematik topikal
TL
+
+
19. S cap/drop
Radang akut dan menahun
di sekitar hidung,
pendukung antibakteri
TL + -
20. T tab
Meredakan gejala akibat
gangguan peredaran darah
otak
TL + -
21. U cap
Meningkatkan daya ingat,
pendengaran penglihatan,
TL + -
22. V cap
Antirematik
TR
-
+
23. W cap
Memperbaiki libido,
TR
+
-
masa
ereksi,
spermatogenesis
24. X cap
Antirematik
ML
-
+
Pada Tabel 4 dapat diamati klaim indikasi yang disanding-
kan dengan manfaat empirik
(7,8)
dan/atau eksperimental. Seperti
umumnya tanaman obat, informasi khasiat empirik tidak
pernah untuk 1 jenis indikasi. Mengingat kandungan zat kimia
yang sangat banyak dan bervariasi, khasiat empirik pun selalu
lebih dari 1.
Sebagian besar PBA mengandung simplisia memiliki
informasi empirik yang diakui masyarakat dan tercantum
dalam pustaka. Klaim sebagai obat batuk misalnya temyata
mengandung Ekstr. Thymi yang sampai sekarang masih
digunakan. Sonchus, Strobilanthus, Phylanthus yang diklaim
sebagai diuretik juga memiliki dasar empirik dan telah banyak
dikonfinmasi dengan penelitian eksperimental. Hal yang serupa
terjadi pada Curcuma dan hasil isolasinya. Jahe sebagai
antirematik mungkin dilandasi dengan khasiat empirik sebagai
analgetik yang juga telah didukung oleh penelitian eks-
perimental. Hal yang sama berlaku pula pada sambiloto sebagai
penurun gula darah
(9)
. Kapsul ekstrak Ginkgo biloba (EGB
761) merupakan salah satu produk alam yang telah diteliti
secara ekstensif dan telah dibakukan untuk mengatasi in-
sufisiensi serebral (EGB 761) dan sebagai anti PAF -Platelet
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999
12
Aggregating Factor (LI 760, BN52063 dan BN52021)
(10,11,12)
;
meski sebegitu jauh tetap tidak diketahui substansi yang paling
berkhasiat dalam ekstrak tersebut, apakah ginkgo flavonoid
sendiri atau bersama dengan komponen lain. Mekanisme kerja
dan SAR belum dapat diterapkan pada PBA meski telah di-
lakukan puluhan uji klinik.
Sebaliknya, Tabel 4 pun mengungkapkan beberapa sedia-
an galenik dan simplisia yang masih memerlukan konfirmasi
klinik dan pembuktian lebih lanjut sebelum menjadi prescribed
drugs. Beberapa diantaranya Extr. Centella sebagai antikeloid,
Tribulus terestris sebagai aphrodisiac, Vervenae sebagai de-
kongestan, Sambuci dan Primulae sebagai antiinflamasi, dan
sebagainya.
Meski PBA terkesan aman, karena berasal dari bahan
alam, aspek keamanan perlu diwaspadai. Secara empirik suatu
tanaman obat atau simplisia tertentu umumnya telah melalui
seleksi alam, dan diasumsikan tidak menimbulkan toksisitas
akut. Toksisitas akut yang menjadi ukuran suatu tanaman obat
dinyatakan aman umumnya diperoleh dari bentuk sederhana
yang biasa digunakan secara empirik, baik cara makan maupun
cara menyiapkannya. Di lain pihak, sebagian dari PBA telah
diproduksi sebagai bentuk ekstrak/tingtur (Tabel 4). Efek
simplisia sebagai obat tradisional empirik, belum dilepaskan
dari komponen penyerta yang diolah secara empirik (rebusan,
perasan, seduhan) kemungkinan berbeda dengan efek ekstrak/
tingtur(
13)
. Ekstrak inipun perlu diketahui apakah menggunakan
pelarut polar atau non polar, dengan berbagai cara (maserasi,
sokletasi, fraksionasi). Kombinasi beberapa ekstrak dalam satu
produk (pada sebagian besar PBA, Tabel 4) bukan tidak
mungkin menimbulkan efek sinergisme atau aditif yang justru
merugikan. Mungkin lebih menguntungkan jika konfirmasi
khasiat PBA dilakukan dari ramuan/formula selain dari
masing-masing komponen secara terpisah.
Tabel 6. Informasi penggunaan dan risiko.
Ikwal Jumlah
PBA
1. Lama penggunaan
- jangka waktu tertentu
2
- jangka panjang (> 1 bulan)
6
- tidak disebut
11
2. Risiko
- menyebut gejala
2
- menyebut : "tidak diketahui"
3
- aman untuk jangka panjang
4
- tidak disebut
10
3. Penyebutan istilah indikasi
- teknik medik
-
- istilah awam
7
- campuran awam dan medik
12
Dari 19 package insert yang dianalisis, lebih dari separuh
tidak menyebut risiko, dan hanya 2 yang menyebut gejala,
itupun dengan catatan "sangat jarang". Akan tetapi hal ini tidak
dapat dikatakan bahwa PBA bebas dari risiko penggunaan
(14)
.
Beberapa kasus risiko penggunaan telah dilaporkan. Salah
satunya adalah kasus hematoma subdural pada orang yang
makan kapsul ekstrak Ginkgo biloba (EGB 761) selama 2
tahun(
16)
. Dinyatakan pula tidak diketahui adanya hubungan
antara obat lain yang dimakan dengan kejadian tersebut. Meski
masih dalam perdebatan, agaknya lama penggunaan ekstrak
tersebut mungkin merupakan salah satu kunci. Analisis uji
klinik EGB 761 (dari 40 uji klinik terkontrol) ternyata tidak
dilakukan dalam jangka panjang, hanya beberapa minggu
sampai beberapa bulan dengan pengukuran efek paling lama 12
bulan
(10)
. Pada Tabel 6 di atas 11 PBA tidak menyebut jangka
waktu penggunaan, bahkan 6 di antaranya menganjurkan pem-
berian jangka panjang dan disebut sebagai aman. Diskolorasi
gigi pada anak, akibat mengkonsumsi tetrasiklin adalah contoh
klasik efek samping yang terungkap belasan tahun kemudian.
Selain kapsul EGB 761, beberapa kasus risiko akibat peng-
gunaan tanaman obat, telah dilaporkan dan dikonfirmasi, antara
lain alkaloid pyrrolizidin dari comfrey yang bersifat hepato-
toksik, efek mineralokortikoid dari Glyzirrhiza glabra
(16)
. Pada
kejadian-kejadian ini, para ahli berkomentar, agar lebih
berhati-hati memanfaatkan PBA, terutama karena mekanisme
kerja atau analisis SAR belum sepenuhnya diketahui.
Dari analisis terhadap informasi PBA ini terkesan kuat
adanya informasi yang kurang memadai, seperti terlihat pada
Tabel 6. Istilah yang digunakan dalam informasi inipun tidak
seluruhnya menggunakan istilah awam. Pendaftaran sediaan
jadi menghendaki digunakannya istilah awam dalam package
insert, karena informasi ini ditujukan pada para pengguna
produk.
Produsen perlu membatasi promosi PBA terutama indikasi,
manfaat dan jangka penggunaan agar tidak terjadi salah penger-
tian,yang dalam jangka panjang berakibat buruk. Paling
kurang, untuk menghindarkan konsumen dari efek yang me-
rugikan, baik secara klinik dan jasmani, maupun ekonomi,
dalam arti konsumen tidak membeli produk yang tidak
bermanfaat.
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan dan
saran sebagai berikut
1) PBA yang resmi beredar terdaftar sebagai obat (D/DBL/
DL) sebagai obat tradisional (TR/TL) dan sebagai makanan
(ML).
2) Formula atau ramuan PBA umumnya terdiri dari beberapa
simplisia tanaman dan zat kimia berkisar antara 1 sampai
dengan 8 jenis.
3) Dari 11 PBA yang diserahkan dengan preskripsi, 7 di
antaranya terdaftar sebagai TR/TL. Sebagian PBA ini telah
menjalani studi ekstensi, namun apa pula yang masih mem-
butuhkan konfirmasi klinik dan belum diketahui komponen
yang bertanggung jawab menimbulkan efek seperti dalam
klaim. PBA yang dipreskripsi seyogyanya menjalani uji man-
faat dalam bentuk ramuan, baik secara eksperimen pada hewan
percobaan ataupun di klinik.
4) Efek PBA berasal dari ekstrak belum tentu memiliki efek
yang sama dengan bentuk empirik, apalagi jika PBA me-
ngandung lebih dari satu simplisia dengan klaim efek serupa.
Komponen simplisia dalam PBA, sebagian tidak ditulis
lengkap, hanya mencamtunkam genus tanpa spesies. Kiranya
informasi ini kurang lengkap mengingat diperlukannya pem-
bakuan simplisia di masa mendatang dalam rangka peningkatan
pengawasan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999 13
5) Efek samping tidak hanya diungkap dalam penandaan
PBA. Sebagian tertulis : efek samping tidak diketahui. Per-
nyataan ini tidak berarti bahwa PBA aman digunakan secara
empirik, seperti obat tradisional. Efek samping jangka tetap
perlu diwaspadai.
6. Cai Y, Phillipson JD, Harper JI, Corne SJ. HPLC and IHNMR
spectroscopic methods for quality evaluation of Paeonia roots.
Phytochemical Analysis 1994; 5: 183-9, dikutip dari Phillipson JD.
Continuing education: Pharmacy and Herbal Medicines. Hongkong
Pharm J 1995; 4(2): 55-63.
7.
Perry L. Medicinal Plants of Southeast Asia. MIT Press.
8.
Aliandi Arif et al. Tanaman Obat Pilihan. Yayasan Sidowayah, 1996.
9. Nuratmi B, Adjirni, Paramina DI. Beberapa penelitian farmakologik
Sambiloto (Andrographis paniculata Nees) : kumpulan abstrak. Warta
TOI. 1996; 1: 23-4.
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekan apoteker
pengelola apotik yang terpilih dalam studi ini. Terimakasih pula kami
sampaikan kepada Kapuslitbang Farmasi atas kesediaan memberi ijin
penyusunan makalah dan keikutsertaan dalam presentasi ilmiah ini.
10. Kleinen J, Knipschild P. Ginkgo biloba for cerebral insufficiency. Br J
Clin Phammac. 1992; 34:352-38.
11. Roberts NM, Page COP, Chung KF, Barness PJ. Effect of anti PAF
antagonist BN52063 on antigen -induced acute, and late onset cutaneous
responses in atopic subjects. J Allergy Clin Immunol. 1988; 82: 236-41.
KEPUSTAKAAN
12. Kemeny I, Csato M, Braquet P, Dobozy. Effect of BN 52021, a platelet
activating factor antagonist, on dithranol-induced inflammation. Br J
Dermatol. 1990; 122: 539-44.
1.
Profil Kesehatan Indonesia 1995. Pusat Data Kesehatan. Depkes RI.
2.
Marwick C. The growing use of medicinal botanical forces assessment by
drug regulator. JAMA 1995; 273: 607-9.
13. Sukasediati N, Nurendah PS. Penelitian daya antipiretik dan keamanan
ekstrak Alstonia scholaris pada mencit. Laporan penelitian, BPPK, 1982.
3.
Principles for the clinical evaluation of drugs. WHO Techn Rep Ser 403,
1968.
14. Dzulkarnain B. Obat tradisional tidak tanpa bahaya. CDK.1989; 59: 7-10.
15. Rowin J, Lewis MD. Spontaneous bilateral subdural hematomas
associated with chronic Ginkgo biloba ingestion. Neurology 1996; 46:
1175-6.
4.
Hyo WB (ed). Korean Ginseng: Chemical components of ginseng (part
5). 2
nd
ed, 1978. Korean Ginseng Institute, Seoul Korea.
5.
Kim SK, Sakamoto I, Mormoto K et al. Chemical evaluation on ginseng
extract: Seasonal variation of saponins and sucrose in cultivated ginseng
roots. Proc. 3
rd
Internat Ginseng Symposium 1980: 5-8.
16. D'Arcy PF. Adverse reactions and interaction with herbal medicines.
Adverse Drug React Toxicol Rev. 1991; 10(4): 189-208.
He who is long in making up his mind does not always
choose the best
(Goethe)
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999
14