background image
Prinsip Penatalaksanaan
Limfoma Non Hodgkin
A. Harryanto Reksodiputro
Subbagian Hematologi-Onkologi Medik Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Limfoma malignum merupakan salah satu di antara 10 jenis
kanker yang tersering ditemukan di Indonesia. Kanker dibagi
atas dua kelompok besar yaitu a) penyak:it Hodgkin, b) limfoma
non-Hodgk in. Penyakit Hodgkin jarang ditemukan di Indonesia
karena itu pada kesempatan ini akan dibahas limfoma non-
Hodgkin saja.
Karena termasuk salah satu di antara sekitar 10 jenis kanker
yang dapat disembuhkan maka limfoma non-Hodgkin perlu
dikenali oleh dokter yang bertugas di fasilitas kesehatan terdepan
agar dapat dirujuk pada stadium yang dini ke rumah sakit dengan
fasilitas yang memungkinkan penatalaksanaan penderita.
Limfoma non-Hodgkin adalah kanker dari kelenjar getah
bening karena itu mudah menjalar ke tempat-tempat lain di-
sebabkan kelenjar getah bening dihubungkan satu dengan yang
lain oleh saluran-saluran getah bening.
Menurut golongan histologisnya limfoma dibagi atas 3 ke-
lompok besar yaitu :
LNH derajat keganasan rendah
LNH derajat keganasan menengah
LNH derajat keganasan tinggi
LNH derajat keganasan rendah tidak harus diobati sedangkan
LNH derajat keganasan mencngah dan tinggi harus segera diobati
karena dapat menimbulkan kematian dalam beberapa bulan saja.
Karena itu pcncntuan golongan histologis dan stadium pe-
nyakit merupakan hal yang tcrpcnting dalam penatalaksanaan
penderita limfoma non-Hodgkin.
GEJALA KLINIK LIMFOMA NON-HODGKIN DEWASA
Sekitar 50% pcndcrita LNH yang berobat di Subbagian
Hematologi-Onkotogi Medik Bagian Itmu Penyakit Dalam FKUI-
Dibacakan pada: Simposium Lekemia dan Limfoma Malignum, Padang, 25 Juli
1992
RSCM berusia antara 40 sampai 60 tahun. Tidak ada perbedaan
berarti antara jumlah penderita yang berusia an tara 40 sampai 50
tahun dan yang berusia antara 50 sampai 60 tahun. Pria lebih
sering dijangkiti penyakit ini bila dibandingkan dengan wanita,
yaitu 1,7 kali lebih sering. Perbandingan antara pria dan wanita
yang terlihat di Jakarta sesuai dengan apa yang terlihat pada
orang Barat.
Tempat jangkitan pertama penyakit ini adalah seperti ter-
lihat dari namanya, tentu saja kelenjar getah bening, yaitu pada
sekitar 73%. Pada 53% penderita yang berobat di FKUI-RSCM,
penyakit ini mulai pada kelenjar Idler, pada 16% mulai pada
kelen jar getah bening inguinal, dan 4% mulai pada kelenjar getah
baling aksila. Pada 19,0% penderita penyakit ini mulai pada
jaringan limfoid di luar kelenjar getah bcning yaitu 9% pada
cincin Waldeyer, 10% pada traktus gastrointestinal (jejas
Peycri). Hanya pada 8% penyakit ini mulai pada jaringan non-
limfoid (jaringan orbita, tulang dan lain-lain).
Dalam perjalanan penyakit penderita, metastasis pada daerah
intratorakal timbul pada 12,6% penderita, pembcsaran limpa
tcrjadi pada 10,7%, metastasis tulang terjadi pada 8%. Pada
26,5% penderita, ukuran diameter sudah melebihi 10 cm. Lima
puluh dclapan pencil (58%) pendcrita tidak dapat lagi mengerja-
kan pckerjaan schari-harinya dan harus berada di tempat tidur
selama 50% dari waktunya atau lebih.
Gejala klinis, yaitu demam (38°C tanpa gejala infeksi) dan
penurunan ber
g
badan (10% dalam waktu 6 bulan), ditemukan
pada 35% penderita.
CIRI KELENJAR GETAH BENING PADA LIMFOMA
Ciri kelenjar getah bening dapat membantu untuk menen-
tukan penyebab pembesaran kelenjar getah bening. Ciri kelenjar
getah bening pada limfoma dapat dibedakan dari penyebab
lainnya (Tabel 1).
Tabel 1. Ciri kelenjar getah boning pada limfoma dibandingkan dengan
pada
penyakit
Iainnya
background image
Limfoma Karsinoma Infoksi
Respon
imun
Perabaan
Inflamasi
Fluktuasi
Perlekatan
dengan jaringan/
organ sekitar
Bebas & mudah
digerakkan
Kenyal-keras
seperti karet
­
­
­
+
Keras
+
­
Nyeri
+
+/­
Nyeri
Biasanya ­
­
PENDEKATAN DIAGNOSTIK PADA LIMFADENOPATI
Pendekatan diagnostik penderita limfadenopati umumnya
sama dengan pendekatan penderita splenomegali dan/atau ke-
.
lainan leukosit/imunoglobulin. Penderita dengan pembesaran
kelenjar getah bening dapat disebabkanoleh (1) infeksi mikro-
organisme (piogenik dan granulomatosa/parasit), (2) respon
imun terhadap infeksi atau terhadap bahan noninfeksius, (3) neo-
plasma (primer atau sekunder), dan (4) penyebab yang tidak jelas
(penyakit autoimin, reaksi obat, dan lain-lain).
Penderita limfadenopati mungkin tanpa keluhan, atau
mungkin pula dengan gejala infeksi. Umumnya penderita
mengeluh demam tanpa terbukti adanya infeksi, lemah, pem-
besaran kelenjar atau teraba massa tumor, perdarahan abnormal,
berat badan menurun, nyeri tulang dan sendi, serta gatal-gatal
seluruh tubuh. Pada penderita dengan gejala di atas perlu di-
lakukan pemeriksaan fisik yang teliti, terutama pemeriksaan
kelenjar getah bening dan limpa. Selanjutnya dilakukan pe-
meriksaan foto Rb toraks, analisis air seni, pemeriksaan darah
tepi, biopsi kelenjar getah bening, aspirasi sumsum tulang dan
pemeriksaan Iainnya alas indikasi (Gambar 1).
PENATALAKSANAAN PENDERITA LIMFOMA NON-
HODGKIN
Penatalaksanaan penderita LNH bergantung pada golongan
histologisnya. Karenapengobatannya bersifat simptomatis maka
penderita LNH derajat keganasan rendah tidak perlu ditentukan
tingkat penyakitnya. Pengobatan hanya diberikan untuk menghi-
langkan gejala klinis akibat tumornya.
Penderita LNH derajat keganasan tinggi harus diobati de-
ngan kemoterapi apabila penyakitnya telah mencapai stadium 2
atau lebih, karena itu prosedur diagnostik hanya dilakukan pada
mereka yang setelah pemeriksaan fisik dan laboratorium mem-
beri kesan masih mungkin berada pada stadium 1.
Prosedur diagnostik lengkap dilakukan pada penderita LNH
derajat keganasan menengah yang setelah pemeriksaan fisik dan
laboratorium memberi kesan masih mungkin berada pada sta-
dium 2.
PENGOBATAN LIMFOMA NON-HODGKIN
Pengobatan penderita LNH bergantung pads jenis histolo-
Gambar 1. Skema pendekatan diagnostik pada limfadenopati
Tabel 2. Prosedur penetapan tingkat penyakit LNH
Tahap I
a. Riwayat penyakit yang terinci
b. Pemeriksaan fisik yang lengkap dengan perhatian khusus
pada cincin Waldeyer (diteliti kembali oleh Bag. THT)
c. Pemeriksaan laboratorium lengkap :
­ hemogram lengkap
­ sediaan hapus darah tepi
­ uji fungsi hati/ginjal rutin
d. Pemeriksaan radiologis toraks dengan proyeksi posterior/
anterior dan survei radiologis kerangka.
e. Biopsi jarum dengan cara aspirasi pada kelenjar getah be-
ning yang berada pada pihak diafragma lain yang dicurigai.
f. Uji kulit tuberkulin.
Tahap II
Pada semua penderita yang seolah-olah berada pada tingkat
penyakit ke I LNH derajat keganasan tinggi atau tingkat
penyakit ke I dan II LNH derajat keganasan menengah, di-
lakukan biopsi sumsum tulang bilateral pada krista iliaka
posterior superior.
Tahap III
Pada penderita-penderita dengan jangkitan pada cincin Wal-
deyer yang seolah-olah masih berada pada tingkat penyakit ke
I pada LNH derajat keganasan tinggi atau tingkat penyakit ke
I dan II pada LNH derajat keganasan menengah setelah biopsi
sumsum tulang, dilakukan penelitian radiologis traktus gastro-
intestinal.
background image
Tahap IV
Pada penderita yang seolah-olah masih berada pada tingkat
penyakit ke I pada LNH derajat keganasan tinggi atau tingkat
penyakit ke I dan II LNH derajat keganasan menengah setelah
prosedur-prosedur di alas dilakukan limfangiografi.
gisnya. Perlu diketahui bahwa berdasarkan gambaran histologis
tumor LNH dibagi menjadi 3 kelompok besar yaitu :
­
LNH derajat keganasan rendah
­
LNH derajat keganasan menengah
­
LNH derajat keganasan tinggi
Penelitian di Jakarta menunjukkan bahwa 10% penderita
LNH yang berobat di FKUI-RSCM menderita LNH derajat
keganasan rendah, 59% menderita LNH derajat keganasan
menengah, 28% menderita LNH derajat keganasan tinggi, 3%
menderita LNH yang tidal( dapat digolongkan dalam ketiga
kelompok di atas.
1) LNH derajat keganasan rendah
LNH follicular limfosit kecil berlekuk (small cleaved cells)
adalah jenis yang paling umum pada LNH derajat keganasan
rendah. Lebih kurang 90% penderita LNH-R berada pada tingkat
penyakit III atau IV, dengan harapan hidup rata-rata 7 tahun.
Pada kelompok ini bila tidak diberikan pengobatan, ternyata
hanya separuhnya (50%) yang memerlukan pengobatan dalam
waktu 3 tahun. Sisanya tidak memerlukan pengobatan sampai 10
tahun. Pengobatan radiasi lokal dan kemoterapi non agresif
(klorambusil, siklofosfamida, vinkristin, prednison atau, inter-
feron) hanyalah bersifat paliatif.
Sebaliknya LNH folikular sentrositik-sentroblastik, yang
merupakan LNH derajat keganasan menengah, memerlukan
pengobatan yang lebih cepat, karena harapan hidup dapat ber-
tambah dengan pengobatan iradiasi tubuh total atau oleh kemo-
terapi (CVP, C-MOPP dan sebagainya).
2) LNH derajat keganasan menengah
LNH difusa sel besar (diffuse large cells) merupakan jenis
yang paling sering ditemukan pada LNH derajat keganasan
menengah, 30-45% di antaranya berada pada tingkat penyakitke
I dan ke II, tetapi prognosisnya lebih buruk daripadaLNH derajat
keganasan rendah. Program pengobatan yang aktif diberikan
tanpa memandang tingkat pcnyakitnya.
Penderita LNH menengah tingkat penyakit ke I dapat disem-
buhkan dengan radioterapi. Penderita dengan tingkat penyakit ke
II, I11, dan IV harus diobati dengan kmoterapi kombinasi, seperti
CHOP, BACOP, C-MOPP dan sebagainya. Pengobatan dengan
regimen tersebut menghasilkan angka remisi sempurna berkisar
antara 40 sampai 60%, 30-50% di antara yang mengalami remisi
sempurna bertahan hidup dalam jangka waktu yang lebih lama.
Akhir-akhir ini telah dikembangkan regimen kemoterapi
yang lebih agresif, yang diperkirakan menghasilkan persentase
remisi sempurna yang lebih tinggi dan kenaikan angka harapan
hidup. Pada penggunaan regimen generasi ke dua, seperti COP-
BLAM, Pro Mace-MOPP dan M-BACOD, telah dicapai angka
kesembuhan antara 55-60%. Sedangkan dengan regimen kemo-
terapi generasi ke 3 seperti COPBLAM III, Pro MACE-Cyta
BOM, MACP-B dapat mencapai angka kesembuhan 70%.
Cara lain untuk mempertinggi harapan hidup adalah dengan
transplantasi sumsum tulang autologus atau alogenik pada pen-
derita LNH yang sudah mengalami remisi sempurna.
3) LNH derajat keganasan tinggi
Limfoma imunoblastik sangat resisten terhadap baik ira-
diasi maupun kemoterapi yang ada. Angka harapan hidup rata-
rata berkisar 4'/
Z
bulan pada penelitian terhadap 54 penderita.
Limfoma limfoblastik hanya merupakan 4% dari limfoma
pada orang dewasa. Kemoterapi konvensional pada jenis ini
kurang memuaskan. Dari 32 kasus yang diobati dengan regimen
CHOP, 34% mencapai remisi sempurna, tetapi lamanya remisi
sempurna rata-rata 9 bulan. Jangkitan ulang pada susunan saraf
pusat terjadi path 42% kasus. Pengobatan dengan CHOP ditam-
bah prednison kontinyu dan vinkristin pada fase induksi, mem-
berikan angka kesembuhan yang lebih tinggi. Penggunaan pro-
tokol pengobatan leukemia pada anak-anak pada penderita LNH
derajat keganasan tinggi meninggikan persentase dan lamanya
remisi, bahkan harapan hidupnya. Dengan menggunakan pro-
tokol tersebut pada limfoma limfoblastik, 94% di antaranya
mencapai remisi sempurna. Peneliti lain melaporkan bahwa
dengan regimen tersebut 61,5% kasus limfoma limfoblastik
bertahan hidup lebih dari 4 tahun.
Limfoma sel kecil tidak berlekuk (small non-cleaved cells);
termasuk limfoma Burkitt yang jarang pada orang dewasa tetapi
sering pada anak-anak, merupakan jenis limfoma yang paling
agresif dibandingkan dengan limfoma lainnya. Dengan peng-
obatan yang tepat dapat dicapai angka kesembuhan sebesar
40-50%. Kemoterapi kombinasi dianjurkan untuk semua tingkat
penyakit. Regimen yang paling efektif adalah vinkristin, meto-
treksat dan siklofosfamida dosis tinggi. Tindakan bedah dan
iradiasi sangat menolong pada penderita dengan tumor intra-
abdominal.
KEPUSTAKAAN
1. Chabner BA, Johnson RE, Young RC, Canellos GP, Hubbard SP et al.
Sequential non surgical and surgical staging of non-Hodgkin's Lymphoma.
Ann Intern Med 1977; 85 (2).
2. Coleman CN, Cohen JR, Rosenberg SA. Adult Lymphoblastic lymphoma.
Result of a pilot protocol. Blood 1981; 4: 679-84.
3. Lennert K, Mohri N. Histopathology and Diagnosis of non-Hodgkin Lym-
phomas. Dalam: Malignant Lymphoma other than Hodgkin
'
s Disease, eds.
Lennert K, H. Stein, N. Mohri, E. Kaiserling, UK Muller-Hemerlink. New
York: Springer-Verlag : 111-469.
4. Portlock CS, Rosenberg SA. Chemotherapy of the non-Hodgkin
'
s Lym-
phomas. The Stanford Experience. Cancer Treat Rep 1977; 61: 1049-55.
5. Reksodiputro AR. Limfoma non-Hodgkin dan saran mengenai altematif
penatalaksanaan di Indonesia. Tesis, Universitas Indonesia, Jakarta, 21 Juli
1984.
6. Voakes JB, Jones SE, Mc Kelvey EM. The Chemotherapy of
Lymphoblastic Lymphoma. Blood 1981; 57 (1).
7. Weinstein HJ, Vance ZB, Joffe N, Buck D, Sassady JR, Nathan DG.
Improved prognosis for patients with mediastinal lymphoblastic
lymphoma. Blood 1979; 53: 687-694.
8. Wintrobe MM, Lee GR, Boggs DR et al. Diagnostic steps in the evaluation
of the patient with abnormalities of leukocytes or immunoglobulin, or
lymphadenopathy, splenomegaly, fever of unknown origin, or recurrent
infection. Dalam: Clinical Hematology (ed. VII), ed. MM Wintrobe.
Tokyo: Igaku Shoin Ltd, 1974, hal. 1255-65.
9. Wollner N, Exelby PR, Lieberman PH. Non-Hodgkin's Lymphoma in
Children. A Progress report on the original patients treated with LSA2=L2
protocol. Cancer 1979: 44: 1992-99.