TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Peranan Splin Permanen
dalam Perawatan Periodontal
Yuniarti Soeroso
Bagian Periodontologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Splin merupakan alat yang dibuat untuk menstabilkan atau
mengencangkan gigi-gigi yang goyang akibat suatu injuri atau
penyakit
(1,2)
. Pada perawatan periodontal splin digunakan pada
keadaan kegoyangan gigi akibat berkurangnya tinggi tulang
alveolar, sehingga kegoyangan tersebut mengganggu fungsi
penderita. Bila terdapat peningkatan kegoyangan gigi dengan
gambaran ligamentum periodontal normal, dan kegoyangan ter-
sebut tidak mengganggu fungsi pengunyahan atau kenyamanan
penderita maka keadaan ini tidak membutuhkan splin
(2)
. Sering-
kali splin dibuat tanpa melihat penyebab kegoyangan gigi ter-
sebut dan desain yang cocok untuk sisa gigi yang ada.
Splin periodontal dapat bersifat temporer atau sementara
dan permanen atau tetap. Bentuk splin dapat berupa splin cekat
atau lepasan, dan dapat diletakkan ekstrakoronal (eksternai)
maupun intrakoronal (internal). Splin permanen antara lain
berupa fixed bridge, protesa sebagian lepas, atau penggabungan
tambalan dengan komposit resin
(3)
.
Beberapa data klinis menunjukkan keberhasilan pemakaian
splin permanen pada penderita dengan penyakit periodontal
lanjut dan kehilangan gigi geligi, penggunaan splin permanen
yang dikombinasi dengan terapi pemeliharaan, akan menghasil-
kan jaringan periodonsium yang sehat. Dalam makalah ini akan
dibahas mengenai splin permanen dalam perawatan periodontal.
SPLINTING SEBAGAI PENUNJANG TERAPI PERIO-
DONTAL
Derajat pergerakan gigi ditentukan oleh 2 faktor, yaitu tinggi
jaringan pendukung dan lebarnya ligamentum periodontal. Ke-
goyangan gigi dapat terjadi akibat berkurangnya tinggi tulang
alveolar, atau karena pelebaran ligamentum periodontal, dapat
pula merupakan kombinasi keduanya. Kegoyangan juga terjadi
karena kerusakan tulang angular akibat keradangan atau pe-
nyakit periodontal lanjut. Trauma oklusi dapat memperberat
kehilangan perlekatan dan bertambahnya kerusakan tulang serta
meningkatkan kegoyangan gigi
(4)
. Setelah keberhasilan suatu
perawatan periodontal, kegoyangan gigi yang masih terjadi di-
anggap sebagai kegoyangan patologis.
Hipermobilitas pada gigi dengan jaringan periodonsium
sehat, terjadi akibat berkurangnya tinggi tulang alveolar dan
pelebaran ligamentum periodontal. Keadaan ini dianggap se-
bagai suatu kegoyangan fisiologis
(5)
. Kegoyangan ini dapat di-
kurangi dengan penyesuaian oklusi atau splinting.
Splinting merupakan perawatan pendukung yang dilakukan
bersama dengan perawatan periodontal lainnya. Splinting juga
dapat dilakukan pada fase pertama perawatan periodontal, se-
belum tindakan bedah. Dalam hal ini digunakan splin temporer
atau provisional splint. Pemakaian splin permanen berupa
restorasi, dilakukan sebagai bagian dan fase restorasi atau re-
konstruktif dari perawatan periodontal
(6)
.Splin periodontal bukan
merupakan satu-satunya metode untuk menstabilkan gigi geilgi.
Sebelum dilakukan splinting, perlu diketahui penyebab kego-
yangan gigi atau migrasi patologis yang terjadi. Bila kegoyangan
gigi disebabkan atau diperberat oleh tekanan oklusal yang abnor-
mal, maka splinting dilakukan setelah tindakan penyesuaian
oklusi
(2)
. Kadang-kadang setelahdilakukan penyesuaian tekanan
oklusal, kegoyangan gigi berkurang dan posisi gigi menjadi lebih
stabil sehingga splinting tidak diperlukan lagi. Pada gigi yang
displint tekanan oklusal akan dibagikan pada seluruh gigi. Ke-
kakuan alat splin kadang-kadang dapat memungkinkan terjadi-
nya gerakan mengungkit, sehingga tekanan yang jatuh pada
beberapa gigi lebih besar daripada sebelum pemakaian splin.
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996
10
Splinting pada gigi goyang yang diperberat trauma oklusi, tidak
akan memperbaiki kerusakan yang terjadi
(2)
.
Splin permanen sangat terbatas penggunaannya. Splin per-
manen ini hanya digunakan bila benar-benar diperlukan untuk
menambah stabilitas tekanan oklusal dan menggantikan gigi
yang hilang
(1)
. Selain menstabilkan gigi yang goyang, splin ini
juga harus mendistribusikan kekuatan oklusi, mengurangi serta
mencegah trauma oklusi, membantu penyembuhan jaringan
periodontal, dan memperbaiki estetika
(3,7)
. Splin permanen
dapat berupa splin lepasan eksternal atau splin cekat internal.
SPLIN PERMANEN TIPE LEPASAN EKSTERNAL
Gigi tiruan sebagian lepas dapat berfungsi sebagai splin
permanen. Untuk mencapai stabilitas yang maksimum diguna-
kan cengkram tipe continuous dan menyertakan seluruh gigi
yang ada (Gambar 1).
Gambar 1. Cengkram tipe continuous
Splin unilateral adalah splin yang menyertakan dua atau
lebih gigi geligi pada 1 sisi rahang. Splin ini terutama menahan
tekanan arah mesio distal. Sedang splin bilateral atau tipe cross
arch melibatkan dua sigmen atau lebih dari lengkung lawan,
sehingga dapat menahan tekanan dari segala arah
(2,6)
(Gambar
2,3).
Gambar 2. Therapeutic splinting of teeth, showing a unilateral splint that
has excellent resistance to mesiodistal displacement but less
resistance
to
buccolingual
movement;
a.
Forces
applied
meslo-
distally;
b.
forces applied buccolingually.
Gambar 3. Therapeutic splinting of teeth, showing a bilateral splint with
resistance to force in all directions, a. Forces applied bucco-
lingually;
b.transmission
of
forces
around
anterior
segment
of
arch; c. point of resistance to forces applied to opposite tide of
arch.
Ditinjau dan sudut kesehatan jaringanperiodonsium protesa
cekat merupakan pilihan utama untuk menggantikan gigi-gigi
yang hilang. Pada keadaan tertentu penggunaan protesa lepas
tidak dapat dihindari untuk menggantikan gigi yang hilang.
Splin permanen lepasan eksternal ini desainnya merupakan
bagian dan gigi tiruan kerangka logam. Splin lepasan tidak
boleh digunakan pada gigi-gigi goyang yang mempunyai ten-
densi besar untuk bermigrasi, apalagi splin tersebut hanya di-
gunakan pada malam hari
(3)
. Splin lepasan unilateral sebaiknya
digunakan pada keadaan kelainan periodontal ringan.
Pemakaian splin pennanen lepas pada keadaan tidak bergigi
dikombinasikan dengan gigi tiruan. Beberapa laporan menun-
jukkan keadaan gigi penjangkaran dan penderita yang meng-
gunakan gigi tiruan sebagian lepas, ternyata mengalami ke-
rusakan jaringan periodonsium lebih besar dibandingkan gigi
yang lain. Penderita yang memakai GTS lepas juga mempunyai
kesehatan jaringan periodonsium lebih buruk, dibanding pen-
derita tidak bergigi yang tidak menggunakan GTS lepas
(1)
.
Dengan mempertimbangkan keadaan-keadaan yang dapat
menunjang keberhasilan perawatan periodontal, pemakaian GTS
lepas tidak akan menambah kerusakan jaringan periodonsium.
Dalam hal ini penjagaan kebersihan mulut harus diperhatikan.
Klamer harus pasif dan tidak menekan gigi penjangkaran. Untuk
mengurangi tekanan dapat digunakan stress breakers, yang meng-
hubungkan retainer dan saddle dengan suatu alat seperti sendi
yang fleksibel. Occlusal rest mutlak diperlukan untuk
meneruskan tekanan vertikal
(3,8)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 11
Beberapa Contoh Splin Permanen Tipe Lepasan
Gambar 4. Removable cast splint with occiusal rests. These splints may be
constructed of either metal or clear acrylic. Appliance is rigid
and
does
not
irritate
lips,
cheek, or tongue. If aesthetics becomes
a
factor
and
metal
is
desirable because of its durability, one may
eliminate maxillary anterior portion. This type of extracoronal
splint
has
the
advantage
of
being removable, allowing patient to
cleanse thoroughly.
SPLIN PERMANEN CEKAT INTERNAL
Splin ini merupakan splin permanen yang paling efektif dan
tahan lama. Splin ini merupakan penggabungan dan restorasi
yang membentuk suatu kesatuan rigid dan direkatkan dengan
penyemenan. Splin cekat ini dapat berupa multiple crown, inlay
dan mahkota 3/4. Jumlah gigi yang diperlukan untuk menstabil-
kan gigi goyang bergantung kepada derajat kegoyangan dan arah
kegoyangan, se gigi yang goyang pada lengkung rahang.
Jumlah gigi tidak goyang yang diikutsertakan dalam splinting,
tergantung juga kepada masing-masing kondisi penderita. Bila
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996
12
terdapat kegoyangan lebih dari satu gigi, dapat digunakan bebe-
rapa gigi untuk stabilisasi.
Pemakaian bridge dapat sebagai splinting dan pengganti
gigi yang hilang. Jika gigi penjangkaran sebelah distal merupa-
kan gigi terakhir dan mengalami kegoyangan, dibutuhkan bebe-
rapa gigi di daerah anterior sebagai gigi penjangkaran. Sebelum
diputuskan pembuatan suatu splin permanen harus dilakukan
pemakaian splin sementara dahulu. Setelah itu dievaluasi 2 bulan
hingga 6 bulan apakah terdapat penurunan derajat kegoyangan.
Gigi-gigi dengan sisa jaringan periodonsium yang sedikit
tidak dapat dijadikan penyangga untuk splin bridge internal atau
gigi tiruan sebagian lepas. Bila gigi yang ada benar-benar akan
dipertahankan maka splinting tersebut dapat mengikutsertakan
gigi-gigi dan lengkung yang berlawanan (cross arch design).
Desain ini dibuat untuk mengatasi tekanan oklusi nonnal yang
datang dari berbagai arah
(4)
. Penelitian oleh Nyman & Ericsson
selama 8 hingga 11 tahun, mengamati gigi-gigi penyangga suatu
bridge dengan kehilangan jaringan penodonsium yang cukup
berat. Hasilnya memperlihatkan bahwa gigi-gigi penyangga
tersebut tidak mengalami kerusakan lebih lanjut. Keadaan ini
didukung dengan penjagaan kebersihan mulut secara sempurna
termasuk pembersihan secara profesional pada masa-masa ter-
tentu
(9)
.
Pada beberapa kasus kadang-kadang terlihat bahwa setelah
dilakukan pembuatan bridge, kegoyangan gigi penjangkaran
tetap sepert semula. Dalam hal ini sangatlah penting diperhati-
kan desain oklusinya agar tidak menambah kegoyangan. Untuk
igi anterior misalnya overbite gigi penjangkarannya dikurangi.
Stabilisasi gigi anterior dengan kerusakan jaringan periodon-
sium yang cukup berat tidak cukup dengan hanya mengikut
sertakan gigi depan saja. Untuk ini dibutuhkan splint dengan per-
luasan ke bagian posterior. Perluasan ini dapat mencegah
pergerakan gigi ke arah anterior
(4)
(Gambar 5).
Beberapa Contoh Splin Permanen Cekat
Gambar 5. A, Removable palatal bar bracing bilateral maxillary splints.
Notice
the
occlusal
anatomy
and
the
contour
of
the
casting
on
the right cuspid. B, Fixed splints without removable bar. C,
Palatal bar, copings and superstructure. D, Buccal aspect of
prosthesis with extension of palatal bar to provide catch for
removal
(Courtesy
of
Dr.
Morton
Amsterdam).
Gambar 5.
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 13
RANGKUMAN
Splin periodontal merupakan perawatan pendukung yang
dilakukan bersama dengan perawatan periodontal lainnya. Pe-
makaian splin permanen merupakan bagian dari fase restorasi
atau fase rekonstruktif dan perawatan periodontal. Splin per-
manen sangat terbatas penggunaannya. Hanya digunakan bila
benar-benar dipergunakan untuk menambah stabilitas tekanan
oklusal dan menggantikan gigi-gigi yang hilang. Splin perma-
nen dapat berupa splin lepasan eksternal atau splin cekat internal.
KEPUSTAKAAN
1. Carranza FA.Glickman's Clinical Periodontology. 7th ed.Philadelphia: WB
Saunders 1990 : 94354.
2. Lindhe J. Textbook of Periodontology. 1st ed. Munksgaard: WB Saunders
1985 45464.
3. (Hickman I. Clinical Periodontology. 4th ed. Philadelphia: WB Saunders
1972 : 91724.
4. Nyman SR, Lang NP. Tooth mobility and the biological rationale of
splinting teeth. Periodontology 2000. 1994; 4: 1522.
5. Ericsson J,Lindhe J. Effect of longstanding jiggling on experimental marginal
periodontitis in the beagle dog. J Clin Periodontol 1982; 9: 497533.
6. Grant DA, Stern 18, Everett FO. Othans Periodontics: a concept, theory
and practice. 4th ed. St Louis: Mosby, 1972 : 65772.
7. Ramfyord SP, Ash MM. Periodontology & Periodontics 1979 : 48997.
8. Goldman HM, Cohen DW. Periodontal Therapy. 6th ed. The CV Mosby
Company, 1980: 112154.
9. Nyman S, Ericsson I. The capacity of reduced periodontal tissues to
support fixed bridge work, J. Clin. Periodontol 1982; 9: 40914.
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996
14